Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING MEDICATION ADHERENCE IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS Analisis Berbagai Faktor Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Marina Dwi Putri1. Nani Sari Murni2. Prima Cakra Rendana3. Arie Wahyudi4. Anif Budiyanto5 1,2,3,4,5 Program Studi Magiskter Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang *Corresponding Author: Marina Dwi Putri Program Studi Magiskter Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang Email: marinadwiputri522@gmail. Keyword: Diabetes Mellitus Type 2. Medication Adherence. Family Support. Healthcare Provider Support Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2. Kepatuhan Minum Obat. Dukungan Keluarga. Dukungan Tenaga Kesehatan A The Author. 2025 Abstract Diabetes mellitus type 2 is a chronic metabolic disease characterized by hyperglycemia due to impaired insulin secretion, insulin action, or both. Medication adherence is a crucial factor in achieving optimal glycemic control and preventing complications. This study aims to analyze various factors associated with medication adherence among type 2 diabetes mellitus patients at Peninjauan Health Center. Ogan Komering Ulu Regency, in 2025. cross-sectional analytical study was conducted involving 73 patients selected through quota sampling. Data were collected via interviews using structured questionnaires, including the Medication Adherence Rating Scale-10 (MARS-. Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS), and Diabetes Obstacles Questionnaire (DOQ). The variables studied included age, gender, education level, employment status, income, disease duration, family support, and healthcare provider support. Data analysis was performed using chisquare tests and multivariate logistic regression. The results showed that 53. 4% of respondents were adherent to medication. Bivariate analysis indicated significant associations between medication adherence and age . =0. , education level . =0. employment status . =0. , disease duration . =0. , family support . =0. , and healthcare provider support . =0. Multivariate analysis identified healthcare provider support as the dominant factor influencing medication adherence . =0. OR=5. 95% CI: 1. 929Ae14. These findings conclude that healthcare provider support plays a critical role in improving medication adherence among type 2 diabetes mellitus patients. is recommended that healthcare providers enhance their support and communication strategies to promote optimal adherence behavior. Abstrak Article Info: Received : July 12, 2025 Revised : August 26, 2025 Accepted : September 03, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Kepatuhan minum obat merupakan faktor penting dalam mencapai kontrol glikemik yang optimal serta mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang . terhadap 73 pasien yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, yaitu Medication Adherence Rating Scale-10 (MARS-. Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS), dan Diabetes Obstacles Questionnaire (DOQ). Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, penghasilan, durasi penyakit, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,4% responden tergolong patuh dalam minum obat. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan usia . =0,. , tingkat pendidikan . =0,. , status pekerjaan . =0,. , durasi penyakit . =0,. , dukungan keluarga . =0,. , dan dukungan tenaga kesehatan . =0,. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa dukungan tenaga kesehatan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat . =0,001. OR=5,289. 95% CI: 1,929Ae14,. Temuan ini menyimpulkan bahwa dukungan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus tipe 2. Oleh karena itu, disarankan agar tenaga kesehatan meningkatkan dukungan dan komunikasi secara efektif guna mendorong perilaku kepatuhan yang lebih optimal. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 PENDAHULUAN Diabetes mellitus tipe 2 adalah jenis penyakit metabolisme yang berlangsung secara lama dan memerlukan perawatan medis terus-menerus. Penyakit ini ditandai dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi, yang terjadi karena masalah dalam pelepasan insulin oleh pankreas, respons tubuh terhadap insulin, atau kombinasi dari dua hal tersebut. Hal ini juga memerlukan upaya untuk mengurangi faktor-faktor yang memicu risiko terjadinya penyakit . Diabetes melitus tipe 2 ini sendiri merupakan penyakit terbanyak yang diderita sekitar 90% dari semua jenis diabetes . Secara internasional, terdapat 537 juta orang dewasa di dunia yang menderita diabetes. Indonesia menempati urutan kelima dengan 19 juta penderita diabetes dan di urutan ketiga dengan 14 juta orang dewasa yang tidak terdiagnosis Penderita diabetes melitus di Indonesia yang berumur 20 Ae 79 tahun sebanyak 1 diantara 16 orang. Jumlah itu diprediksi akan terus naik sebesar 31% dalam waktu 15 tahun mendatang . Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan . jumlah penderita diabetes sebanyak 434. 296 jiwa, dibandingkan dengan tahun 2022 sejumlah 461 jiwa . Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu menunjukkan data bahwa jumlah penderita diabetes pada tahun 2022 026 penderita, dan pada tahun 2023 diabetes masuk dalam 10 penyakit terbanyak dengan jumlah penderita 8. Kabupaten Ogan Komering Ulu memiliki 18 Puskesmas, yang terdiri dari 11 Puskesmas non rawat inap dan 7 Puskesmas dengan Puskesmas Peninjauan merupakan salah satu Puskesmas rawat inap yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu . Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu termasuk dalam kategori Puskesmas dengan rujukan pasien diabetes yang tertinggi di wilayah kerja Kabupaten Ogan Komering Ulu. Data ini diperoleh dari Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2023. Total rujukan pasien diabetes mencapai 463 penderita. Berdasarkan data rekam medis di Puskesmas Peninjauan, jumlah kunjungan pasien diabetes melitus tipe 2 di poli rawat jalan tercatat 74 orang pada tahun 2022, meningkat menjadi 87 orang pada tahun 2023, dan meningkat kembali menjadi 112 orang pada tahun 2024. Peningkatan jumlah kunjungan pasien diabetes melitus tipe 2 dalam tiga tahun terakhir, namun masih rendah dibandingkan jumlah penderita di Puskesmas Peninjauan maka diperlukan upaya untuk meminimalisasi kondisi Penggunaan obat-obatan adalah salah satu pilar penatalaksanaan diabetes melitus, dan berkontribusi terhadap pengendalian kadar glukosa dalam darah. Kepatuhan minum obat menjadi salah satu komponen kunci dalam mencapai kontrol glikemik yang komplikasi serius, seperti penyakit kardiovaskular, neuropati, dan gagal ginjal . WHO mencatat bahwa lebih dari setengah . %) orang dewasa berusia 30 tahun ke atas yang hidup dengan diabetes tidak minum obat untuk diabetes. WHO juga memperkirakan bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tingkat kepatuhan mereka lebih rendah dibandingkan dengan di negara yang lebih maju . Kepatuhan minum obat pasien Diabetes Melitus sangatlah penting, karena bila pengobatan tidak dilakukan secara teratur dan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, akan berdampak pada ketidaseimbangan kadar insulin dalam tubuh penderita DM . Teori Lawrence Green mengenai perilaku kesehatan, yang dikenal sebagai PrecedeProceed Model menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Model ini mengelompokkan faktor-faktor tersebut ke dalam tiga kategori utama: https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Faktor predisposisi meliputi aspek individu seperti usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, dan keyakinan yang memengaruhi keputusan seseorang dalam menerapkan perilaku Faktor pendukung berkaitan dengan sumber daya atau fasilitas yang dapat membantu individu dalam berperilaku sehat, seperti ketersediaan layanan kesehatan dan dukungan sosial. Sementara itu, faktor pendorong mencakup elemen eksternal seperti peran tenaga medis, dukungan keluarga, serta kebijakan yang mengambil tindakan kesehatan. Model ini menekankan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak hanya ditentukan oleh faktor individu semata, tetapi juga oleh lingkungan dan sistem yang mendukungnya . Penelitian Riani . pada pasien diabetes melitus tipe 2 menemukan hasil bahwa 68,3% pasien lansia tidak patuh dalam mengkonsumsi obat diabetes, 65,5% pasien berjenis kelamin laki-laki patuh dalam mengkonsumsi obat, dan 70,1% pasien yang bekerja tidak patuh dalam mengkonsumsi obat . Hasil penelitian Pramudyatama . didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan minum obat antidiabetik pada pasien diabetes . value 0,. Hasil penelitian Yulianti dan Anggraini . mendapatkan hasil adanya hubungan yang signifikan antara penghasilan dengan kepatuhan berobat . value 0,. Sebuah studi di Puskesmas Kota Ngawi menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara lama menderita DM dengan kepatuhan minum obat . -value 0,. , dan antara status asuransi dengan kepatuhan pasien minum obat . -value 0,. Dukungan keluarga yang konsisten, baik secara emosional maupun praktis, terbukti meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes. Keterlibatan aktif keluarga dalam pengelolaan penyakit tidak hanya memberikan pengingat rutin, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung untuk perubahan gaya hidup positif . Penelitian di Poli Lansia Puskesmas Tanjung Enim pada tahun 2024 mengidentifikasi bahwa dukungan keluarga merupakan variabel dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes tipe 2 . Walaupun studi lain di Rumah Sakit Harapan Pematang Siantar signifikan secara statistik . ilai p 0,. , mendukung pengelolaan penyakit melalui kepatuhan pengobatan . Menurut pihak Puskesmas Peninjauan, rendahnya kunjungan pasien diabetes melitus di Puskesmas Peninjauan dapat disebabkan oleh banyaknya pasien yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar pasien datang dengan komplikasi atau membutuhkan penanganan medis yang lebih intensif, sehingga layanan yang tersedia di tingkat Puskesmas kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan perawatan mereka. Pihak Puskesmas Peninjauan mengatakan bahwa penyebab tingginya komplikasi pada pasien diabaetes melitus tipe 2 dikarenakan rendahnya kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus, karena bila pengobatan tidak dilakukan secara teratur dan tidak sesuai dengan waktu yang telah ketidaseimbangan kadar gula darah sehingga menyebabkan komplikasi. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang . ross-sectiona. Penelitian dilaksanakan pada bulan JanuariAeMei tahun Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 di Poli Rawat Jalan Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu pada bulan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Januari s. d Mei 2025 yang berjumlah 73 Teknik pengambilan sampel dengan quota sampling mengacu pada kunjungan Januari Ae Mei 2025 dan didapatkan sampel penelitian berjumlah 73 responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi untuk mengurangi resiko bias seleksi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Medication Adherence Rating Scale-10 (MARS-. kepatuhan obat terhadap pasien DM dan Kuesioner Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS) untuk menilai dukungan keluarga terhadap pasien DM, kuesioner Diabetes Obstacles Questionnaire (DOQ) dalam sub- skala (Relationships with Health-Care Professional. Semua kuesioner yang digunakan telah diuji validitas dan reabilitas dengan r hitung> r table tingkat kepercayaan 95%. Kuesioner MARS-10 Nilai r hitung > r tabel . 30, r tabel 0,. lebih besar dari r tabel, digunakan pada pasien DM tipe 2. Item 9 diperoleh nilai r hitung 0,355 lebih kecil dari r tabel tetapi pada hasil dengan kategori indeks Gregory Ou 0,8 sehingga digunakan, pada uji reliabilitas didapatkan CronbachAos Alpha 0,747 hasil tersebut menyatakan instrument MARS-10 reliable untuk mengukur Tingkat kepatuhan minum obat pasien DM Tipe 2. Hasil uji validitas kuesioner dukungan keluarga terdapat terdapat 25 pertanyaan yang telah diuji mendapatkan hasil r hitung > r tabel . yang artinya seluruh pertanyaan layak dijadikan kuesioner. Pada uji validitas instrument Hensarling Diabetes Family Support Scale ada 25 item pertanyaan dengan nilai validitas . 0,3950,. sehingga kuesioner tersebut dikatakan valid. Kuesioner Hensarling's Diabetes Family Support Scale (HDFSS) untuk dukungan keluarga dan dilakukan uji validitas yaitu diperoleh nilai korelasi yang lebih besar dari r-tabel . dan nilai signifikannya < 0,05 (Anggraeni, 2. Uji reablitias didaptkan CronbachAos Alpha 0,864 hasil tersebut menyatakan instrument Hensarling Diabetes Family Support Scale reliable untuk mengukur dukungan keluarga pasien DM Tipe 2. Uji Validitas Instrumen Diabetes Obstacles Questionnaire (DOQ) r hitung> r tabel dengan tingkat kepercayaan 95% dari tabel uji r maka soal tersebut sahih dalam hal ini r tabel dengan N= 30 dan = 5% adalah 0,361. Dari hasil uji kesahihan dapat diambil kesimpulan bahwa semua pernyataan yang terdapat dalam kuesioner adalah sahih. Uji Reliablitas CronbachAos Alpha 0,687 hasil tersebut menyatakan instrument Diabetes Obstacles Questionnaire (DOQ) reliabel untuk mengukur dukungan keluarga pasien DM Tipe 2. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat, bivariat dan multivariat uji regresi logistik berganda (Multiple Logistic Regressio. untuk menganalisis faktor dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025 Variabel Usia Dewasa Lanjut Lansia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi . Presentase (%) https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Tingkat Pendidikan Rendah-Menengah Tinggi Status Pekerjaan Tenaga kerja terjadwal Bukan tenaga kerja Penghasilan Rendah Tinggi Durasi Penyakit Pasien lama Pasien baru Dukungan Keluarga Rendah Tinggi Dukungan Tenaga Kesehatan Rendah Tinggi Kepatuhan Minum Obat Tidak Patuh Patuh Hasil pada tabel 1. menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah lansia yaitu 39 responden . ,4%), sebagian besar responden adalah perempuan yaitu 52 responden . ,2%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan rendah-menengah yaitu 59 responden . ,8%). Sebagian besar responden merupakan bukan tenaga kerja terjadwal yaitu 61 responden . ,6%). Lebih dari separuh responden berpenghasilan tinggi yaitu 37 responden . ,7%). Sebagian besar responden merupakan pasien lama yaitu 43 responden . ,9%). Lebih dari separuh responden memiliki dukungan keluarga yang tinggi yaitu 39 responden . ,4%). Sebagian besar responden memiliki dukungan tenaga kesehatan yang tinggi yaitu 52 responden . ,2%). Lebih dari separuh responden patuh minum obat yaitu 38 responden . ,1%). Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk menguji Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square, dengan tingkat kepercayaan 95%, dan tingkat kemaknaan 5% ( = 0,. Tabel 2 Analisis Factor Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025 Variabel Usia Dewasa lanjut Lansia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat pendidikan RendahMenengah Kepatuhan Minum Obat Tidak Patuh Patuh Jumlah Nilai p PR . %CI) 0,001 2,503 ,450-4,. 0,417 0,056 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Tinggi Status Pekerjaan Tenaga kerja Bukan tenaga kerja terjadwal Penghasilan Rendah Tinggi Durasi Penyakit Pasien baru Pasien lama Dukungan Keluarga Rendah Tinggi Dukungan Tenaga Kesehatan Rendah Tinggi 0,014 1,970 . ,164-3,. 0,050 1,702 . ,059-2,. 0,004 2,199 . ,301-3,. 0,001 2,622 ,710-4,. Tabel 2 di atas menunjukkan dari 34 responden yang berusia dewasa lanjut, terdapat 10 responden . ,4%) yang patuh. Sedangkan dari 39 responden yang lansia, terdapat 28 responden . ,8%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,001 nilai PR 95% CI adalah 2,503 . ,450-4,. Dari 21 responden yang jenis kelamin lakilaki, terdapat 13 responden . ,9%) yang Sedangkan dari 52 responden yang perempuan, terdapat 25 responden . ,1%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,417. dari 59 responden yang tingkat pendidikannya rendahmenengah, terdapat 27 responden . ,8%) yang patuh. Sedangkan dari 14 responden yang tingkat pendidikannya tinggi, terdapat 11 responden . ,6%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,056. responden yang merupakan tenaga kerja terjadwal, terdapat 8 responden . ,7%) yang patuh. Sedangkan dari 61 responden yang bukan tenaga kerja terjadwal, terdapat 30 responden . ,2%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,428. responden yang penghasilan rendah, terdapat 13 responden . ,1%) yang patuh. Sedangkan dari 37 responden yang penghasilan tinggi, terdapat 25 responden . ,6%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square 0,428 diperoleh nilai p 0,014 nilai PR 95% CI adalah 1,970 . ,164-3,. yang merupakan pasien baru, terdapat 11 responden . ,7%) yang patuh. Sedangkan dari 43 responden yang merupakan pasien lama, terdapat 27 responden . ,8%) yang Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,050 PR 95% CI adalah 1,702 . ,0592,. dukungan keluarga rendah, terdapat 11 responden . ,4%) yang patuh. Sedangkan dari 39 responden yang mendapat dukungan keluarga tinggi, terdapat 17 responden . ,2%) yang patuh. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,004 PR 95% CI adalah 2,199 . ,301-3,. yang mendapat dukungan tenaga kesehatan rendah, terdapat 3 responden . ,3%) yang Sedangkan dari 52 responden yang mendapat dukungan tenaga kesehatan tinggi, terdapat 35 responden . ,3%) yang Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,001 PR 95% CI adalah 2,622 . ,7104,. Analisa Multivariat Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda dilakukan untuk https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 berhubungan dengan kepatuhan minum obat setelah dikontrol dengan variabel lain. Tabel 3 Pelmoldel an Akhir Relgrelsi Lolgistik Belrganda Variabel Indelpelndeln delngan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025 Variabel Usia Penghasilan Dukungan tenaga kesehatan Kolnstanta Nilai p 95% CI 1,382 0,025 3,984 1,193-13,300 1,560 0,011 4,757 1,434-15,781 2,156 0,005 8,636 1,902-39,221 -3,051 Colx & Snel l R Squarel 0,339 . ,9%) Nagel kelrkel R Squarel 0,453 . ,3%) Hosmer & Lemeshow Test 0,094 Model regresi logistik yang di dapat adalah Z= -3,051 1,382 . 1,560 . 2,156 . ukungan tenaga kesehata. Z= -3,051 1,382 . 1,560 . 2,156 . Z = 2,047 Probabilitas kepatuhan minum obat: e^(-Z) ) 1/. An2,72A^(-. ) )=0,886 . ,6%) Artinya, jika pasien lansia, berpenghasilan tinggi, dan dukungan tenaga kesehatan yang tinggi maka kelmungkinan patuh minum obat adalah 88,6%. Model persamaan ini memiliki kalibrasi yang baik . >0,. Persamaan ini mampu memprediksi kepatuhan minum obat sebesar 45,3%, sisanya 54,7% lainnya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Hasil analisis relgrelsi lolgistik berganda kelselluruhan variabel yang belrhubungan delngan kepatuhan minum obat telrselbut, dukungan tenaga kesehatan melrupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat dibandingkan faktolr lainnya (OlR 8,. Hal ini dapat diartikan jika dukungan tenaga kesehatan tinggi maka responden berisiko 8,636 kali untuk patuh. Hubungan Usia dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Hasil penelitian ini diperoleh sebagian besar responden adalah lansia, ada hubungan usia dengan kepatuhan minum obat, dan usia merupakan faktor risiko dalam kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa pada umumnya manusia mengalami perubahan fisiologis yang menurun dengan cepat pada setelah usia 40 tahun. Diabetes sering sering terjadi terutama setelah usia 40 tahun. Hal ini terkait dengan penurunan aktivitas fisik berat badan berlebih, dan massa otot yang menurun seiring bertambahnya usia seseorang. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini, insiden diabetes melitus tipe 2 telah bertambah secara fantastis di kalangan anak-anak, remaja dan dewasa muda . Seiring mengakibatkan kondisi resistensi yang akan membuat level gula darah dalam tubuh menjadi tidak seimbang. Resistensi insulin adalah kondisi sel dimana ketika insulin mengirim sinyal untuk melepaskan glukosa https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dari aliran darah namun sel dalam otot tidak menerimanya . Hasil penelitian ini sejalan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Della pada tahun 2023 terhadap pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus . ilai p 0,. Penderita diabetes melitus tipe 2 yang berada pada rentang usia produktif . elum lanjut usi. cenderung menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih rendah terhadap pengobatan. Usia memiliki peran penting dalam menentukan sejauh mana seseorang mematuhi terapi farmakologis. Rendahnya kepatuhan pengobatan pada kelompok usia ini sering kali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang belum mapan serta kecenderungan untuk lebih mengutamakan kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, perhatian terhadap kondisi kesehatan, termasuk kepatuhan dalam menjalani terapi diabetes melitus tipe 2, menjadi Seiring bertambahnya usia, umumnya individu mulai membentuk kesadaran yang lebih tinggi untuk menjaga kesehatan, yang pada akhirnya mendorong . Berdasarkan hasil penelitian ini, teori yang mendukung, dan penelitian terkait maka kesadaran, serta motivasi seseorang yang sedang menjalani terapi tertentu. Pasien yang berusia lebih lanjut umumnya memiliki pengalaman lebih banyak terkait kondisi kesehatannya, sehingga cenderung lebih patuh terhadap pengobatan demi mencegah komplikasi. Sebaliknya, individu yang masih berada pada usia produktif mungkin memiliki mobilitas tinggi atau mengabaikan jadwal pengobatan. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Hasil penelitian ini diperoleh sebagian besar responden adalah perempuan, dan tidak ada hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Menurut penelitian Riani . , laki-laki ataupun perempuan berisiko untuk tidak patuh minum obat, namun pada umumnya perempuan lebih memperhatikan akan kondisi kesehatannya, sedangkan laki-laki sering tidak peduli dengan kesehatan dan meremehkan kondisi tubuh mereka, walaupun sudah terkena penyakit tertentu tetapi mereka masih enggan untuk memeriksakan kesehatannya secara teratur. Meskipun secara umum perempuan lebih menjaga dan lebih memperhatikan kesehatan dibandingkan dengan laki-laki, dalam perbedaan pola perilaku sakit, perempuan lebih sering pergi berobat dibandingkan laki- laki . Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Riani . terhadap pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang juga memperoleh hasil tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus . ilai p 0,. Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian terdahulu, peneliti berasumsi bahwa laki-laki maupun perempuan samasama berisiko untuk patuh atau tidak patuh dalam minum obat karena terdapat hal lain yang menjadi pertimbangan dalam kepatuhan minum obat, seperti perbedaan peran sosial, tanggung jawab, serta persepsi terhadap penyakit. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Hasil penelitian ini diperoleh sebagian pendidikan rendah-menengah, dan tidak ada hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Menurut Notoatmodjo . , seseorang yang berpendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Pendidikan merupakan dasar utama untuk keberhasilan pengobatan. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian terdahulu, yakni Triastuti . yang menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien DM dalam menjalani pengobatan salah satunya adalah pengetahuan . Begitu pula dengan penelitian Jasmine . yang membuktikan bahwa status pendidikan dan pengetahuan berhubungan dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien DM . Pengetahuan dan status pendidikan seseorang sangat berkaitan erat. Semakin tinggi status pendidikan seseorang, maka akan semakin banyak pengetahuan yang Status pendidikan tidak hanya dilihat dari pendidikan formal melainkan juga pendidikan non formal. Terdapat hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus . ilai p 0,. Berdasarkan hasil penelitian ini, teori, dan berasumsi bahwa tingkat pendidikan bukan semata-mata faktor yang menjadikan seseorang patuh minum obat. Pemahaman dideritanya, tidak serta merta didapatkan dari pendidikan saja. Kemampuan literasi kesehatan yang lebih baik pada seseorang akan menjadikannya lebih memahami instruksi medis dan lebih sadar akan pentingnya minum obat. Oleh karena itu, tingkat pendidikan menjadi salah satu variabel yang tidak bermakna dalam penelitian ini. Hubungan Status Pekerjaan dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Hasil penelitian ini diperoleh sebagian besar responden status pekerjaannya bukan tenaga kerja terjadwal, dan tidak ada hubungan status pekerjaan dengan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Sebagaimana teori menjelaskan bahwa kegiatan sehari-hari, seperti bekerja berperan besar dalam menentukan seperti apa seseorang itu. Pekerjaan mengurangi kesenjangan informasi dan praktik dalam kesehatan, mendorong orang untuk belajar lebih banyak dan mengambil tindakan untuk mencegah masalah kesehatan . Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Ningrum menjelaskan bahwa responden yang memiliki kesibukan terkait pekerjaannya mengabaikan jadwal minum obatnya . Dalam penelitian Mokolomban, dkk . diperoleh hasil penelitian bahwa mereka yang bekerja sebagai IRT dan wiraswasta, 44,44% lebih patuh dalam meminum Jenis pekerjaan lain tidak sebanding karena memiliki dispersi yang relatif rendah . Menurut penelitiannya, orang yang menganggur lebih patuh minum https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 obat karena mereka memiliki lebih banyak waktu luang untuk pergi mendapatkan obat dan ingat kapan harus meminumnya. Penelitian Riani pada tahun 2024 terhadap pasien Diabetes Melitus Tipe 2 didapatkan bahwa terdapat hubungan antara status pekerjaan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus . ilai p 0,. Berdasarkan hasil penelitian ini, teori, serta sebelumnya, peneliti berasumsi bahwa pekerjaan sering dikaitkan dengan tingkat kesibukan atau akses terhadap fasilitas pengobatan penyakit kronis seperti diabetes, kepatuhan lebih dipengaruhi oleh faktor internal seperti kesadaran, motivasi pribadi, dan dukungan keluarga. Pasien yang bekerja maupun tidak bekerja samasama memiliki peluang untuk memahami pentingnya konsumsi obat secara teratur, tergantung pada sejauh mana mereka memperoleh edukasi kesehatan. Dengan demikian, status pekerjaan tidak selalu menjadi faktor penentu dalam perilaku kepatuhan terhadap pengobatan. Hubungan Penghasilan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Hasil penelitian ini diperoleh sebagian besar responden berpenghasilan tinggi, ada hubungan penghasilan dengan kepatuhan minum obat, dan penghasilan merupakan faktor risiko dalam kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2025. Pendapatan pasien memiliki hubungan Umumnya, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin baik pula status kesehatannya. Penghasilan yang lebih tinggi dapat meningkatkan kesadaran pasien untuk menjalani pengobatan, sehingga risiko terjadinya komplikasi kronis pada diabetes melitus tipe 2 dapat Selain itu, pendapatan juga berpengaruh terhadap kemampuan pasien dalam melakukan pemeriksaan rutin, menyediakan makanan yang sesuai dengan diet diabetes, serta menjalani pengobatan. Sebaliknya, pendapatan yang rendah dapat berdampak negatif terhadap kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan finansial yang sering dialami pasien, seperti tingginya biaya obat dan transportasi ke fasilitas kesehatan . Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yulianti tahun 2020 yang memperoleh hasil terdapat hubungan antara penghasilan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus . ilai p 0,. Penelitian Julaiha . menunjukkan bahwa