Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025, 131-147 ISSN 2686-1836 (Prin. ISSN 2716-0742 (Onlin. Available Online at http://ejournal. id/JPKP Department of Management of Public Security and Safety. Faculty of Community Safety and Protection. Institute of Home Affairs Governance (IPDN) DOI: https://doi. org/10. 33701/jpkp. Received: 2025-12-12. Accepted: 2025-12-28. Published: 2025-12-29 EVALUASI SISTEM DRAINASE DALAM MITIGASI BENCANA BANJIR DI KOTA PALANGKA RAYA Nadya Anggara Putri1,3. Dihan Rizka Nanda Saputri2 Institut Pemerintahan Dalam Negeri Sekretariat Daerah Kota Palangka Raya corresponding author: nadyaputri@ipdn. ABSTRAK Banjir merupakan salah satu bencana yang kerap terjadi dan memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas sosial, ekonomi, serta lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan sistem drainase yang berfungsi optimal menjadi elemen penting dalam pengendalian limpasan air hujan dan pengurangan risiko banjir di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas sistem drainase dalam mitigasi bencana banjir di Kota Palangka Raya. Provinsi Kalimantan Tengah dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan Model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan informan dari Dinas PUPR. BPBD, serta masyarakat, disertai observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek konteks belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan penanganan banjir, terutama terkait penentuan prioritas pembangunan drainase. Pada aspek input, keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia masih menjadi hambatan utama. Aspek proses memperlihatkan adanya tantangan dalam koordinasi lintas sektor serta minimnya evaluasi berkala terhadap kinerja drainase. Namun pada aspek produk, sistem drainase telah berkontribusi dalam mengurangi genangan dan risiko banjir meskipun efektivitasnya belum optimal. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan alokasi anggaran, penguatan kapasitas SDM, serta penyempurnaan koordinasi antarinstansi untuk meningkatkan efektivitas sistem drainase sebagai bagian dari strategi mitigasi banjir di Kota Palangka Raya. Kata Kunci: Evaluasi. Sistem Drainase. Model CIPP. Mitigasi Bencana Banjir. Copyright . Nadya Anggara Putri. Dihan Rizka Nanda Saputri This work is licensed under the Creative Commons Attribution-Non Commercial-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 131 ABSTRACT Flooding is one of the most common disasters and has a significant impact on social, economic, and environmental activities in communities. Therefore, an optimally functioning drainage system is an important element in controlling rainwater runoff and reducing the risk of flooding in urban areas. This study aims to evaluate the effectiveness of the drainage system in mitigating floods in Palangka Raya City. Central Kalimantan Province, using a descriptive qualitative method based on the CIPP (Context. Input. Process. Produc. Data were obtained through semi structured interviews with informants from the Public Works and Public Housing Agency, the Regional Disaster Management Agency, and the community, accompanied by field observations and The results of the study show that the context aspect does not fully describe the needs of flood management, especially regarding the determination of drainage construction priorities. In terms of input, budget and human resource constraints remain the main obstacles. The process aspect shows challenges in cross-sector coordination and a lack of periodic evaluation of drainage performance. However, in terms of products, the drainage system has contributed to reducing flooding and flood risk, although its effectiveness is not yet optimal. This study recommends increasing budget allocation, strengthening human resource capacity, and improving inter-agency coordination to enhance the effectiveness of the drainage system as part of the flood mitigation strategy in Palangka Raya City. Keywords: Evaluation. Drainage System. CIPP Model. Flood Disaster Mitigation. PENDAHULUAN Indonesia dari badan air seperti sungai, danau, laut, geografisnya yang berada di pertemuan dua benua dan dua samudra. Data BNPB . menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terjadi 3. 494 bencana, dengan banjir dominan, yaitu 1. 506 kejadian atau 43,1% dari total kejadian bencana nasional. Banjir kehidupan masyarakat, mulai dari korban kesehatan, hingga kerugian ekonomi. Banjir merupakan peristiwa alam yang membuat permukaan air lebih tinggi serta terjadinya fenomena meluapnya air waduk, dan atau saluran pembuangan air Beberapa terjadinya banjir ada yaitu curah hujan, rusaknya daerah aliran sungai (DAS), letak geografis ketika permukaan tanah lebih rendah daripada permukaan air laut, serta adanya limbah (WRI Indonesia. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang memiliki curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang rentan. Salah satu daerah yang memiliki risiko banjir cukup tinggi yaitu Provinsi Kalimantan Tengah (BNPB. Kondisi geografis berupa dataran rendah. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 132 keberadaan sungai-sungai besar, serta ketidaksesuaian peruntukan tata ruang, curah hujan tinggi menjadikan wilayah ini ketiadaan pola pengelolaan dataran banjir, rentan terhadap banjir. Kota Palangka Raya, terbatasnya upaya mitigasi, rendahnya Kalimantan Tengah berada di tepi Sungai kesadaran masyarakat di sepanjang aliran Kahayan, sungai, penggundulan hutan di daerah banjir dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Dokumen hulu, kurangnya pemeliharaan bangunan KRB pengendali banjir, serta sistem drainase Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2022- yang tidak memadai turut memperparah 2026 Kota Palangka Raya memiliki kondisi banjir. indeks risiko sedang untuk bencana banjir Peran (BNPB, 2. Meski begitu, bencana penanggulangan banjir sangat penting. banjir di Kota Palangka Raya terjadi Sebagai lembaga yang bertanggung jawab hampir setiap tahun dalam beberapa tahun atas kesejahteraan masyarakat, pemerintah Penyebab utama bencana ini diharapkan dapat menyusun kebijakan diantaranya perubahan iklim global, yang yang efektif untuk mitigasi bencana. Beberapa ekstrem serta aktivitas manusia seperti Pemerintah Kota Palangka Raya melalui deforestasi untuk pertanian, eksploitasi BPBD yaitu meningkatkan kapasitas regu sumber daya alam, dan urbanisasi yang petugas operasional BPBD, menyusun tidak terencana memperparah situasi ini. SOP penanggulangan bencana kebakaran Di sisi lain, aktivitas manusia hutan & lahan, banjir dan tanah longsor, menjadi faktor yang meningkatkan bahaya serta membentuk forum peduli bencana dan risiko banjir, yaitu penebangan hutan dan kebakaran tingkat kota (BPBD Kota yang mengurangi kemampuan tanah untuk Palangka Raya, 2. menyerap air (Kamaliah & Marlina, 2. Selain Penebangan hutan ini dapat menyebabkan khusus yang dibuat BPBD Kota Palangka bencana banjir menjadi semakin parah Raya karena sudah tidak ada akar-akar kuat anggota TRC (Tim Reaksi Cepa. yang menyerap air. Selain itu pemanfaatan dataran banjir untuk budidaya dan permukiman. KALTANA Tanggap Bencan. , (Kelurahan Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 133 penyusuran dan pembaharuan saluran drainase (Daniel, 2. Permasalahan menunjukkan bahwa saluran drainase Perancangan sistem drainase yang optimal merupakan unsur penting dalam kurangnya pemeliharaan yang memadai pengelolaan limpasan air hujan dan upaya sehingga mengalami penyumbatan serta Puspaningtyas, (Arofah perubahan penggunaan lahan yang tidak Sistem mencakup jaringan saluran, parit, serta perumahan dan infrastruktur lainnya yang mengubah aliran air alami. Sehingga dirancang untuk menyalurkan air secara ketika terjadi curah hujan yang tinggi, cepat dan efisien. saluran drainase menjadi tidak dapat Berdasarkan Daerah mengalirkan air hujan secara efektif yang Kota Palangka Raya Nomor 1 Tahun 2019, memicu terjadinya genangan air atau Peraturan diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama Berikut yaitu saluran primer, sekunder, dan tersier. keadaan sistem drainase yang ada di Kota Saluran Palangka Raya: mengalirkan air dari saluran sekunder menuju badan air utama, seperti sungai. Selanjutnya, sekunder menerima aliran dari saluran tersier dan menyalurkannya ke saluran primer, yang umumnya berbentuk parit gorong-gorong. Adapun berukuran kecil yang mengumpulkan air dari kawasan permukiman atau area Sumber: Tribun News . komersial skala kecil, biasanya berupa Gambar 1. Saluran Drainase di Kota Palangka Raya Penuh Sampah selokan atau parit terbuka. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 134 faktor, seperti kapasitas saluran drainase yang tidak memadai, adanya penyumbatan pada saluran, pertumbuhan vegetasi liar di sepanjang jaringan drainase, serta semakin berkurangnya area resapan air. Melihat Sumber : Dokumentasi Pribadi . Gambar 2. Saluran Drainase di Kota Palangka Raya Tersumbat Tanaman Liar perencanaan ulang sistem drainase di Kota Berdasarkan Palangka Raya menjadi langkah penting agar dapat efektif untuk meningkatkan efektivitas pengendalian genangan air dan terlihat saluran drainase di kota Palangka Raya yang masih sangat perlu untuk evaluasi sistem drainase dalam mitigasi bencana banjir di Kota Palangka Raya Rendahnya kesadaran masyarakat akan menggunakan pendekatan model evaluasi pentingnya menjaga kebersihan seperti CIPP (Context. Input. Proses. Outpu. yaitu evaluasi akan dinilai pada setiap Penelitian dalam saluran drainase, menyebabkan penyumbatan yang semakin memperburuk Selain itu, tumbuhnya tanaman liar merumuskan rekomendasi yang dapat di dalam saluran drainase menyebabkan memperkuat pengelolaan dan perencanaan penyumbatan aliran air. sistem drainase secara lebih optimal. CIPP. Evaluasi Hal ini memicu genangan air yang KAJIAN TEORI bencana banjir, karena beberapa drainase Banjir merupakan salah satu jenis di Kota Palangka Raya tidak mampu bencana yang sering terjadi di Indonesia. Gunawan . altengdaily, 2. Penelitian Putri, banjir merupakan suatu kondisi ketika Andawayanti, . wilayah daratan yang seharusnya kering mempertegas bahwa genangan air pada menjadi tergenang air yang dapat terjadi berbagai ruas jalan di Kota Palangka Raya akibat tingginya curah hujan maupun adanya limpasan air yang tidak dapat Suhartanto terjadi, karena dipengaruhi oleh sejumlah Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 135 dialirkan secara cepat oleh sistem drainase melalui identifikasi potensi atau risiko maupun permukaan tanah. bahaya yang mungkin muncul, kemudian Banjir dilanjutkan dengan perumusan strategi wilayah tertentu namun juga memiliki yang tepat untuk meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi di wilayah mengganggu aktivitas warga karena air Sistem drainase merupakan salah dapat masuk ke pemukiman (Sukamto, satu upaya mitigasi struktural yang dapat Maka dari itu, bencana perlu di dilakukan dalam mengurangi risiko banjir. atasi salah satunya dengan upaya mitigasi. Drainase merupakan sistem bagunan atau agar dapat di minimalisir dampak dan mengalirkan dan atau menghilangkan Mitigasi bencana menurut UU no kelebihan air dari suatu kawasan guna 24 Tahun 2007 merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana (Asmorowati, 2. Sistem drainase yang melalui berbagai cara baik fisik maupun non fisik dalam menghadapi ancaman meminimalkan potensi banjir. Oleh karena bencana yang mungkin akan terjadi. itu, evaluasi berkala terhadap sistem Mitigasi drainase perlu dilakukan agar manfaatnya dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu dalam mengatasi genangan dan menekan Mitigasi struktural yaitu langkah-langkah dampak bencana banjir dapat dirasakan untuk mengurangi risiko bencana melalui secara optimal oleh seluruh masyarakat. pembangunan infrastruktur fisik serta Evaluasi pendekatan teknis, serta mitigasi non- struktural, yaitu upaya untuk mengurangi informasi yang relevan mengenai suatu dampak bencana yang tidak melibatkan objek evaluasi, kemudian menilai objek menekankan pada kebijakam, pendidikan, dan peningkatan kesadaran masarakat menggunakan hasil penilaian tersebut (Nugroho. Haq, & Erwin, 2. Ariadi et al . menambahkan bahwa upaya mitigasi bencana umumnya keputusan terhadao objek yang akan di evaluasi (Wirawan, 2. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 136 Alkin manfaat secara efektfif kepada kelompok menggambarkan teori evaluasi melalui sasaran, sesuai dengan nilai dan standar konsep Evaluation Theory Tree yang yang telah ditetapkan sekaligus membantu menekankan bahwa teori evaluasi dapat proses peningkatan program tersebut. Christie Diantara berbagai model evaluasi, terhadap tiga aspek utama yaitu Methods model evaluasi CIPP milik Stufflebeam etode evaluas. Use . emanfataan hasil merupakan model yang paling banyak digunakan evaluator dalam melaksanakan Valuing . enilaian Melalui konsep ini, mereka menekankan bahwa evaluasi tidak hanya sekedar proses pengukuran namun juga Stufflebeam & Coryn yang digunakan merupakan kegiatan teoritis sekaligus sebagai pisau analisis dalam menjawab metode yang tepat, penilaian terhadap Penelitian Model CIPP Berikut disajikan gambar model CIPP: kualitas serta memastikan bahwa hasil evaluasi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh pengambil keputusan atau pihak Selanjutnya Stufflebeam & Coryn proses penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan nilai atau memperkenalkan teori evaluasi Model Sumber: Stufflebeam. , & Coryn. Gambar 3. Teori Evaluasi Model CIPP CIPP yang terdiri dari Context. Input. Berdasarkan gambar tersebut dapat Stufflebeam Process, dan Product. Model dilihat bahwa terdapat 4 bagian yaitu . CIPP Context Evaluation yang digunakan untuk komprehensif dan dapat digunakan baik menilai apakah tujuan dan prioritas dalam evaluasi formatif maupun sumatif. program telah tepat dan sesuai dengan Fokus utamanya yaitu untuk menilai kebutuhan tersebut. Input Evaluation yang bertujuan untuk menilai alterfantif Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 137 pengaturan sumber daya, serta anggaran pengumpulan data terdiri dalam dua jenis unruk menantukan kelayakan dan potensi yaitu pengumpulan data primer dan efektivitasi biaya dalam mencapai tujuan pengumpulan data sekunder (Sugiyono, yang telah di tetapkan. Process Pada penelitian ini data primer Evaluation didapatkan dari wawancara, observasi pelaksanaan program dan kesesuaiannya sekunder didapatkan dari buku, jurnal, implementasi, ideentifikasi kegiatan, serta Sedangkan pendukung lainnya. mencatat dan menilai berbagai peristiwa Dalam memenuhi data primer Product Evaluation Informan penelitian merupakan bertujuan untuk menilai hasil program individu yang digunakan sebagai sumber baik yang direncanakan maupun tidak terduga dalam jangka waktu yang pendek informasi yang dibutuhkan mengenai maupun panjang untuk membantu staf situasi dan kondisi yang sesuai dengan fokus pada pencapaian hasil utama dan latar belakang penelitian (Moleong, 2. mendukung pemangku kepentingan dalam menilai keberhasilan program. Pemilihan penelitian ini menggunakan purposive sampling yang terdiri dari Plt. Kepala METODE Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Penelitian pendekatan kualitatif deskriptif. Melalui peneliti berupaya untuk menghimpun keberhasilan sistem drainase yang ada di Kota Palangka Raya saat ini. Penelitian ini disusun berdasarkan Ruang. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya. Kepala Bidang Air Minum. PLP dan Bina Kontruksi. Kepala Pusat Pengendalian Operasi dan Penanggulangan Bencana, serta masyarakat. kerangka logika yang digunakan untuk memahami pernyataan umum, di mana setiap argumentasi harus didukung oleh penalaran yang tepat dan logis. Teknik Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 138 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada drainase merupakan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan ketahanan kota dan menekankan pentingnya pengelolaan penelitian terkait evaluasi sistem drainase di Kota Palangka Raya dalam upaya mitigasi tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Palangka Raya no 15 Tahun 2019. Hasil evaluasi CIPP . ontext, input, proses. BPBD Kota Palangka Raya didapatkan Upaya Kepala Pelaksana informasi bahwa pembangunan sistem berisiko tinggi. Dalam konteks banjir. Dinas drainase merupakan langkah penting untuk PUPR berperan dalam pengelolaan sarana mengurangi risiko banjir pada musim dan prasarana fisik seperti sistem drainase. penghujan karena banjir masih terjadi Adapun Badan Penanggulangan Bencana hampir setiap tahun pada beberapa wilayah Daerah (BPBD) berfungsi sebagai lembaga di Kota Palangka Raya. yang berkoordinasi dengan Dinas PUPR Selanjutnya, dalam penanganan banjir di Kota Palangka pembangunan dan pengembangan sistem Raya. Selanjutnya akan dijabarkan lebih drainase, meliputi penyesuaian terhadap lanjut evaluasi per dimensi mengenai evaluasi sistem drainase menggunakan keterpaduan jaringan serta pemeliharaan model evaluasi CIPP Stufflebeam dan Hal ini diperkuat melalui Coryn . wawancara dengan Kabid Air Minum. PLP Evaluasi Sistem Drainase ditinjau dan Bikon PUPR Kota Palangka Raya yang menegaskan bahwa pembangunan drainase dari Dimensi Context Evaluasi konteks bertujuan untuk harus dirancang secara menyeluruh dan mengidentifikasi dan memahami latar mempertimbangkan kondisi wilayah, curah belakang dan faktor-faktor diperlukannya hujan, keterhubungan sistem, kemudahan drainase di Kota Palangka Raya. Tiga pemeliharaan serta partisipasi masyarakat. indikator utama yang dianalisis yaitu latar Adapun tujuan dan sasaran sistem drainase yaitu untuk menurunkan risiko pembangunan dan pengembangan serta genangan dan banjir yang kerap terjadi di tujuan dan sasaran pembangunan sistem sejumlah wilayah Kota Palangka Raya. Kepala Dinas PUPR menegaskan bahwa Latar belakang pembangunan sistem peningkatan kualitas drainase diharapkan Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 139 dapat optimal karena pada kenyataannya bencana sekaligus menciptakan lingkungan yang banjir masih terjadi setiap tahunnya pada lebih bersih dan sehat. Sistem drainase sejumlah titik wilayah di Kota Palangka yang terencana memungkinkan aliran air Raya. hujan tertangani secara efektif sehingga Evaluasi Sistem Drainase ditinjau sosial-ekonomi dari Dimensi Input Masyarakat. Evaluasi Input dilakukan untuk Kepala Pelaksana BPBD menambahkan menilai kecukupan sumber daya yang bahwa sistem drainase juga berfungsi untuk mendukung penerapan sistem drainase. Evaluasi input mencakup 3 indikator menjadi sumber penyakit. Sejalan dengan penilaian yaitu ketersediaan anggaran. RPJMD Kota Palangka Raya 2025Ae2029, keterlibatan pemangku kepentingan serta pengembangan drainase diarahkan untuk mendukung keberlanjutan kota melalui (SDM) pengurangan risiko bencana, penurunan Ketersediaan anggaran/dana peningkatan kualitas infrastruktur. Dengan demikian, pembangunan sistem drainase di memastikan efektivitas dan keberlanjutan Kota Palangka Raya berorientasi pada pembangunan sistem drainase di Kota Palangka Raya. Berdasarkan Laporan infrastruktur, serta peningkatan kesehatan Kinerja Pemerintah (LAKIP) dan kualitas lingkungan perkotaan. PUPR pada tahun 2021-2023, alokasi dana Berdasarkan analisis latar belakang. Instansi berturut-turut prioritas, serta tujuan pembangunan, dapat 786. Rp. Rp. Alokasi dana mengalami pembagunan sistem drainase di Kota peningkatan tajam pada tahun Palangka Raya Namun, peningkatan ini tidak bersifat konsisten, karena pada tahun 2023 terjadi Pemerintah telah menetapkan kebijakan penurunan yang cukup drastis. Fluktuasi wilayah, curah hujan, dan keterlibatan Meski demikian implementasi di lapangan masih belum dapat berjalan program pembangunan drainase, terutama Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 140 pada aspek perencanaan jangka menengah. Selanjutnya, keterlibatan pemangku Hidup, menunjukkan lemahnya sinergi pengawasan pembangunan. Ketersediaan SDM juga menjadi Dinas PUPR berperan sebagai keterlibatan pemangku kepentingan. Saat perencanaan teknis, penyusunan anggran ini, berdasarkan informasi dari Kepala serta pelaksanaan konstruksi. Dinas PUPR Dinas PUPR, jumlah tenaga teknis yang juga memiliki kewajiban untuk menjalin terlibat dalam pengelolaan sistem drainase di Kota Palangka Raya masih sangat minim, yaitu sekitar 5-7 orang, jauh dibawah kebutuhan ideal sekitar 20-25 secara keseluruhan. Kepala pelaksana orang untuk wilayah Kota Palangka Raya. BPBD Kota Palangka Raya menyatakan Selain itu, frekuensi pelatihan masih bahwa BPBD menyediakan data wilayah terbatas yakni sekitar 2- 3 kali pelatihan rawan banjir sebagai penetapan lokasi yang dilaksanakan dalam setahun, dengan jumlah peserta sekitar 10-15 orang per masyarakat dalam menjaga kebersihan Untuk meningkatkan kapasitas lingkungan dan saluran drainase. Dinas teknis, idealnya diperlukan peningkatan Lingkungan Hidup dan Bappeda turut jumlah pelatihan dan cakupan peserta memastikan keselarasan program drainase dengan kebijakan tata ruang dan rencana Berdasarkan hasil evaluasi ketiga indikator pembangunan jangka menengah daerah. tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam Namun, koordinasi ini masih dianggap pembangunan dan pengelolaan sistem belum optimal. Salah satu kendala yang muncul adalah tidak dilibatkannya BPBD dalam proses perizinan pembangunan pemangku kepentingan, dan ketersediaan gedung atau pemukiman sehingga analisis SDM dikatakan belum optimal. Penguatan Kota Palangka Raya Selanjutnya Ketiadaan prosedur baku yang koordinasi lintas sektor, serta peningkatan PUPR, mewujudkan sistem drainase yang lebih Dinas DPMPTSP. BPBD, dan Dinas Lingkungan SDM efektif dan berkelanjutan. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 141 Evaluasi Sistem Drainase ditinjau dari Dimensi Proses Evaluasi penganggaran, proses konstruksi, hingga program dengan Perda Kota Palangka drainase berfokus pada bagaimana sistem Raya Nomor 15 Tahun 2019 tampak dari ini diimplementasikan dan dikelola di upaya integrasi sistem drainase mulai dari Evaluasi ini menjadi krusial saluran primer, sekunder, dan tersier agar karena keberhasilan sistem drainase tidak sistem berfungsi secara menyeluruh. Selain Selanjutnya, ketersediaan informasi pemeliharaan, perbaikan, dan penanganan masalah secara tepat waktu. Tiga indikator implementasi program drainase di Kota dalam menilai evaluasi proses yakni Palangka Raya. Data teknis disusun oleh kesesuaian pelaksanaan program drainase Dinas PUPR melalui survey lapangan dan dengan rencana dan prosedur, tersedianya informasi bagi pengambilan keputusan BPBD historis kejadian banjir sebagai dasar perencanaan dan respons. Disisi lain, evaluasi rutin. masyarakat turut memberikan laporan Implementasi program di Kota Palangka Raya LAKIP Dinas PUPR Berdasarkan mengenai kondisi saluran yang tersumbat atau mengalami kerusakan. Adanya sinergi mendukung perencanaan, pelaksanaan, dan pembangunan saluran baru pada kawasan rawan genangan, rehabilitasi saluran yang optimal akibat keterbatasan pembaruan data dan belum terintegrasinya sistem pemeliharaan rutin seperti pengerukan dan Pelaksanaan informasi antar instansi. Selanjutnya program juga telah mengikuti prosedur pelaksanaan evaluasi rutin merupakan komponen penting dalam implementasi penentuan lokasi prioritas berbasis data BPBD, survei teknis, penyusunan desain. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 142 rencama pengurangan risiko banjir. Berdasarkan Evaluasi Sistem Drainase ditinjau dari Dimensi Produk keterangan Kepala Dinas PUPR aktif Evaluasi produk dilakukan untuk memastikan apakah sistem drainase yang administratif dan visual mulai dari gambar teknis, laporan harian, hingga foto progres bencana banjir. Sistem drainase yang baik lapangan yang akan digunakan sebagai bahan pertanggungjawaban dan pelaporan dilakukan setelah terjadinya hujan besar melalui pemeriksaan kapasitas saluran. Dalam proses evaluasi ini, kelancaran aliran dan potensi genangan ada dua aspek utama yang dikaji yaitu oleh tim teknis PUPR serta melibatkan Dinas Sumber Daya Air dan Dinas keberhasilan dan kegagalan dari sistem Lingkungan Hidup Evaluasi kelayakan teknis dan dampak lingkungan. Capaian Masyarakat turut berperan melalui laporan drainase sebagai bagian dari mitigasi RT/RW, banjir di kota Palangka Raya menunjukkan sejumlah capaian penting meskipun masih DISKOMINFO. Berdasarkan menghadapi berbagai kendala. Capaian wawancara dan data di lapangan, evaluasi program pembangunan dan rehabilitasi proses belum berjalan optimal karena saluran, meningkatnya penggunaan data masih bersifat reaktif dan belum ditunjang sebagai dasar perencanaan, serta mulai oleh sistem informasi drainase terpadu. tumbuhnya laporan masyarakat mengenai Kondisi kondisi drainase. Kepala Dinas PUPR masalah teknis sering terlambat, sehingga menyampaikan bahwa dalam tiga tahun penguatan evaluasi berbasis data dan terakhir, pembangunan dan rehabilitasi koordinasi antarinstansi diperlukan untuk saluran telah dilakukan pada sejumlah memastikan pemeliharaan drainase yang kawasan prioritas, seperti Jalan RTA lebih preventif dan berkelanjutan. Milono Rajawali, mengurangi genangan di beberapa titik. Berikut Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 143 meningkatnya kualitas drainase di Kota primer, sekunder, dan tersier di beberapa Palangka Raya: titik telah menjadi sistem yang efektif Tabel 1. Capaian Kualitas Panjang dalam mengalirkan air menuju badan air Drainase penerima sehingga mengurangi potensi Tahun Target Capaian Realisasi 57,0% 59,5% 59,0% 61,1% 61,0% 61,25% terjadinya genangan. Selain drainase dalam memitigasi bencana banjir dapat dilihat dari jumlah kejadian banjir, pada gambar berikut: Sumber: LAKIP PUPR Tahun 2021-2023 Berdasarkan tampilkan, dari tahun ke tahun realisasi capaian kualitas drainase telah melebihi Hal melakukan perbaikan pada sistem drainase yang ada, yang terlihat dari realisasi Sumber: DIBI, 2024 Gambar 4. Jumlah Kejadian Banjir di Kota Palangka Raya persentase panjang drainase dalam kondisi Berdasarkan gambar diatas, dapat baik setiap tahunnya melebihi target diketahui bahwa jumlah kejadian banjir di Kota Palangka Raya menunjukkan angka Selanjutnya, faktor keberhasilan kejadian yang stabil, bahkan menurun sistem drainase di Kota palangka raya pada tahun 2024. Meskipun tidak menurun secara fisik, dapat dilihat dari beberapa secara signifikan, namun durasi genangan produk nyata yang dihasilkan. Menurut air pada saat banjir di beberapa titik Kapala Dinas PUPR. Adanya drainase oleh BPBD, seperti pembersihan pembangunan saluran baru di kawasan saluran telah membantu mempercepat Panarung, aliran air dan mengurangi genangan. Mendawai, dan Bukit Tunggal, serta Walaupun tidak dilakukan secara rutin tetapi hal ini terbukti membantu dalam sebelumnya rusak atau tidak berfungsi mengurangi durasi genangan di beberapa Selain itu terhubungnya saluran Menurut Kepala Dinas PUPR. Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 144 sejumlah langganan banjir kini lebih cepat surut. fitur pemeliharaan yang kurang memadai. Namun, meskipun terdapat faktor Menurut Kabid Air Minum. PLP, dan Bikon PUPR terdapat saluran yang tidak tersambung antar ruas karena keterbatasan maksimal dan menyebabkan genangan tetap terjadi. Selain itu, saluran yang tidak dilengkapi dengan fitur penting seperti sediment trap atau grill penahan sampah juga menjadi produk yang kurang efektif karena mudah tersumbat oleh material Bahkan, beberapa saluran tidak dilengkapi pemeliharaan, yang menyulitkan petugas untuk melakukan pembersihan rutin dan pemeliharaan preventif. Hal ini membuat drainase rentan terhadap kerusakan dan penurunan fungsionalitas seiring waktu. Berdasarkan disimpulkan bahwa implementasi sistem drainase di Kota Palangka Raya belum Meskipun masalah dalam keterhubungan saluran dan peningkatan panjang drainase yang terawat dan pembangunan saluran baru, terdapat Hal ini menghambat efektivitas sistem drainase secara keseluruhan. PENUTUP Implementasi menggunakan analisis evaluasi model CIPP di Kota Palangka Raya secara keseluruhan sudah berjalan cukup optimal Hal beberapa permasalahan dan hambatan drainase dalam mitigasi bencana banjir. Pada dimensi context ditemukan bahwa prioritas pembangunan drainase belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan aktual dilapangan. Selanjutnya pada dimensi input, keterbatasan anggaran dan kurangnya Sumber Daya Manusia Selanjutnya pada dimensi process, ditemukan adanya kendala teknis dan sitem informasi yang belum terintegrasi dalam pelaksanaan program dan terakhir dimensi product menunjukkan bahwa Jurnal Pemerintahan dan Keamanan Publik (JP dan KP) Vol. No. Agustus 2025 | 145 memberikan pengurangan genangan, tetapi dampaknya belum signifikan sehingga diperlukan upaya peningkatan dan perbaikan secara Berdasarkan hasil analisis tersebut, diberikan terkait sistem drainase dalam mitigasi bencana banjir di Kota Palangka Raya yaitu pemerintah diharapkan dapat pemeliharaan sistem drainase, mengingat alokasi yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum mampu menjangkau seluruh kawasan rawan banjir. Selain itu, kapasitas sumber daya manusia dalam aspek perencanaan teknis, pengawasan dan pemeliharaan perlu diperkuat agar sistem drainase dapat berfungsi secara Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sebagai bagian dari upaya mitigasi banjir berbasis masyarakat. DAFTAR PUSTAKA