Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. BUILDING CHILDRENAoS INDEPENDENCE: THE INFLUENCE OF SIGLE PARENT PARENTING IN THE MODERN ERA ASalma Nur Azizah. AYani Achdiani. ASarah Nurulfatimah Department Of Family Welfare Education. Universitas Pendidikan Indonesia. Faculty Of Engineering And Industrial Education Asalmanurazizah@upi. Article info Abstract Article history Received date: 4 April 2025 Revised date: 15 April 2025 Accepted date: 28 Mei 2025 This article aims to explore the impact of single-parenting styles on children's independence development in the modern era. The increasing number of families headed by single parents provides a crucial backdrop for understanding parenting dynamics and their effects on children. Through a literature review involving various research and case studies, both in Indonesia and other countries, this article analyzes how parenting styles adopted by single parents, including the provision of responsibility, autonomy support, and communication, correlate with children's levels of The discussion also covers the challenges faced by single parents, such as time constraints and economic pressure, as well as the role of social support and parental psychological well-being in influencing parenting styles and child development. The conclusion of this review highlights that despite the unique challenges in single-parent families, supportive and child-empowerment-focused parenting can effectively foster independence. A supportive social and economic context also plays a crucial role in facilitating the positive development of children in singleparent families. Keywords: Child Independece. Parenting Style. Single Parent. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak pola asuh orang tua tunggal terhadap perkembangan kemandirian anak di era modern. Meningkatnya jumlah keluarga yang dipimpin oleh orang tua tunggal menjadi latar belakang penting untuk memahami dinamika pengasuhan dan dampaknya terhadap anak. Melalui kajian literatur yang melibatkan berbagai penelitian dan studi kasus, baik di Indonesia maupun negara lain, artikel ini menganalisis bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal, termasuk pemberian tanggung jawab, dukungan otonomi, dan komunikasi, berkorelasi dengan tingkat kemandirian anak. Pembahasan juga mencakup tantangan yang dihadapi orang tua tunggal, seperti keterbatasan waktu dan tekanan ekonomi, serta peran dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis orang tua dalam memengaruhi pola asuh dan perkembangan anak. Kesimpulan dari kajian ini menyoroti bahwa meskipun terdapat tantangan unik dalam keluarga orang tua tunggal, pola asuh yang suportif dan berfokus pada pemberdayaan anak dapat secara efektif menumbuhkan kemandirian. Konteks sosial dan ekonomi yang mendukung juga memainkan peran krusial dalam memfasilitasi perkembangan positif anak dalam keluarga orang tua tunggal. Kata Kunci Kemandirian Anak. Pola Asuh. Orang Tua Tunggal. salmanurazizah@upi. Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. PENDAHULUAN Di era modern yang ditandai dengan perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, tantangan dalam pengasuhan anak semakin Salah satu fenomena yang semakin umum adalah meningkatnya jumlah orang tua tunggal, baik karena perceraian, kematian pasangan, maupun keputusan untuk membesarkan anak secara mandiri. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah keluarga dengan orang tua tunggal terus meningkat dari data yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 mencatat bahwa Jumlah kasus perceraian di Indonesia telah mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2021, tercatat sebanyak 447. 743 kasus perceraian, namun angka ini Melonjak sebesar 15,3% menjadi 516. 334 kasus pada tahun 2022. Kenaikan yang Signifikan ini menunjukkan bahwa masalah perceraian semakin meluas dan menjadi isu Yang perlu diperhatikan secara serius. Provinsi Jawa Tengah, mencatatkan Angka perceraian yang cukup tinggi, menempati peringkat ketiga dengan 412 kasus Pada tahun 2022. Jumlah kasus perceraian di Indonesia telah mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2021, tercatat sebanyak 743 kasus perceraian, namun angka ini Melonjak sebesar 15,3% menjadi 516. kasus pada tahun 2022. Kenaikan yang Signifikan ini menunjukkan bahwa masalah perceraian semakin meluas dan menjadi isu Yang perlu diperhatikan secara serius. Provinsi Jawa Tengah, mencatatkan Angka perceraian yang cukup tinggi, menempati peringkat ketiga dengan 412 kasus pada tahun 2022. mengindikasikan perlunya perhatian lebih terhadap pola asuh yang diterapkan dalam konteks ini. Pola asuh orang tua tunggal sering kali menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan waktu, sumber daya, dan dukungan sosial. Namun, di sisi lain, salmanurazizah@upi. pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua tunggal juga dapat memberikan peluang unik untuk membangun kemandirian anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung kemandirian cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik, keterampilan sosial yang lebih kuat, dan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi (Baumrind, 1991. Maccoby & Martin. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal dapat mempengaruhi Beberapa studi menunjukkan bahwa anakanak yang diberi tanggung jawab lebih dalam pengambilan keputusan sehari-hari dan yang didorong untuk mandiri cenderung lebih siap menghadapi tantangan di masa Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak pola asuh orang tua tunggal terhadap kemandirian anak di era modern. Dengan mengkaji berbagai aspek pengasuhan dan tantangan yang dihadapi, diharapkan dapat ditemukan strategi yang efektif untuk mendukung perkembangan anak dalam konteks keluarga yang tidak konvensional. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara pola asuh dan kemandirian, diharapkan orang tua tunggal dapat lebih siap dalam membimbing anakanak mereka menuju masa depan yang lebih mandiri dan sukses. Relevansi Topik dan Kajian Ilmiah Fenomena keluarga dengan orang tua pengecualian, melainkan sebuah realitas sosial yang signifikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah keluarga orang tua tunggal ini membawa implikasi yang luas terhadap struktur sosial, ekonomi, dan terutama. Memahami bagaimana pola asuh dalam konteks keluarga orang tua tunggal memengaruhi Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. kemandirian anak menjadi semakin krusial mengingat kemandirian adalah bekal penting bagi anak untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Berbagai studi telah menyoroti bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga orang tua tunggal mungkin menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan dua orang tua. Tantangan ini dapat meliputi tekanan ekonomi, kurangnya dukungan sosial, dan potensi stres yang dialami oleh orang tua tunggal (Carlson, 2. Namun, penting untuk dicatat bahwa struktur keluarga itu sendiri tidak secara otomatis menentukan hasil perkembangan anak. Kualitas hubungan orang tua-anak, pola asuh yang diterapkan, dan dukungan lingkungan memainkan peran yang lebih signifikan (Hetherington & Kelly, 2. Kajian tentang pola asuh orang tua tunggal dan dampaknya terhadap kemandirian anak relevan dalam beberapa aspek. Pertama, secara akademis, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika keluarga nontradisional dan dampaknya terhadap perkembangan anak. Kedua, secara praktis, temuan dari kajian ini dapat memberikan wawasan berharga bagi orang tua tunggal, keluarga, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam merancang intervensi dan dukungan yang efektif untuk kemandirian anak-anak dalam keluarga orang tua tunggal. Ketiga, secara sosial, pemahaman yang lebih baik tentang isu ini dapat membantu mengurangi stigma terhadap keluarga orang tua tunggal dan mempromosikan pandangan yang lebih inklusif dan suportif terhadap beragam bentuk keluarga di masyarakat. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi secara spesifik elemenelemen dalam pola asuh orang tua tunggal Coresponden name and email yang secara signifikan memengaruhi Misalnya, bagaimana tingkat keterlibatan orang tua, pemberian tanggung jawab yang sesuai usia, dukungan terhadap eksplorasi dan pengambilan risiko, serta komunikasi yang terbuka berkontribusi pada pembentukan kemandirian anak dalam konteks keluarga orang tua tunggal. Dengan demikian, artikel ini akan menggali lebih dalam literatur yang ada untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang topik yang dikaji. METODE Penelitian ini mmenggunaka metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, yang bertujuan untuk berdasarkan berbagai sumber artikel jurnal yang relevan. Sebagaimana dijelaskan oleh Sugiyono . , metode penelitian kualitatif dengan desain analisis deskriptif dilakukan secara mendalam, dengan melakukan refleksi analitis terhadap berbagai jurnal yang ditemukan, serta Dalam kajian literatur ini, penulis menyadari bahwa pengetahuan perubahan zaman dan konteks sosial yang Tujuan dari kajian literatur ini adalah untuk memperluas pemahaman penulis mengenai topik yang diangkat, membantu penulis dalam merumuskan masalah penelitian, serta menentukan teori dan metode yang tepat untuk diterapkan dalam penelitian yang sedang dilakukan. Menurut Saputra . , penelitian studi literatur merupakan pencarian referensi teori yang relevan dengan isu atau permasalahan yang Referensi teori yang diperoleh melalui studi literatur ini akan menjadi dasar dan alat utama dalam praktik penelitian di Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah artikel-artikel ilmiah dari jurnal nasional. Dengan demikian, metode penelitian kualitatif studi literatur ini tidak hanya memberikan pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian anak dalam konteks pola asuh orang tua tunggal, tetapi juga menawarkan wawasan mengenai perkembangan kemandirian anak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi orang tua tunggal, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam merancang program dan intervensi yang mendukung perkembangan kemandirian anak-anak di era modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu temuan menarik dari studi kasus di Yogyakarta (Retnowati, 2. dan penelitian Weiss . di Amerika Serikat adalah adanya indikasi bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal seringkali mengembangkan kemandirian situasional lebih awal. Keterbatasan sumber daya, baik waktu maupun tenaga dari satu orang tua, dapat memaksa anak untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, anak mungkin belajar untuk mengurus diri sendiri, membantu pekerjaan rumah tangga, atau bahkan menjaga adikadiknya pada usia yang relatif muda. Hal ini sejalan dengan teori ekologis perkembangan anak dari Bronfenbrenner . , lingkungan mikro . dan meso . nteraksi keluarga dengan lingkungan lai. perkembangan anak. Dalam konteks keluarga orang tua tunggal, tuntutan lingkungan mikro dapat mendorong anak mandiri lebih cepat. Variasi Pola Asuh dan Dampaknya: Coresponden name and email Meskipun ada kecenderungan peningkatan tanggung jawab pada anak dalam keluarga orang tua tunggal, penelitian di Kabupaten Kepahiang (Repository IAIN Bengkulu, 2. dan studi kasus ibu bekerja di Pekanbaru (Jurnal Online Mahasiswa Universitas Riau, 2. menunjukkan adanya variasi yang signifikan dalam pola asuh yang diterapkan. Beberapa orang tua pemberian tugas yang sesuai usia, menetapkan aturan yang jelas, dan Pola asuh yang suportif dan memberikan otonomi ini, sebagaimana diungkapkan oleh Baumrind . dalam teorinya tentang gaya pengasuhan, cenderung menghasilkan anak yang lebih kompeten dan mandiri. Sebaliknya, penelitian juga mencatat adanya tantangan yang dihadapi orang tua tunggal, seperti keterbatasan waktu dan tekanan ekonomi, yang dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan anak. Dalam beberapa kasus, orang tua tunggal mungkin secara tidak sengaja menghambat kemandirian anak karena kelelahan atau kekhawatiran yang berlebihan, yang mengarah pada pola asuh yang lebih otoriter atau permisif yang kemandirian (Baumrind, 1. Peran Dukungan Sosial dan Ekonomi: Studi lintas negara oleh Bradshaw et al. menyoroti pentingnya konteks sosial kesejahteraan dan perkembangan anak dalam keluarga orang tua tunggal. Kesulitan ekonomi yang sering dihadapi oleh keluarga orang tua tunggal dapat membatasi akses anak terhadap sumber daya pendidikan, rekreasi, dan dukungan lainnya yang penting untuk perkembangan Namun, adanya dukungan sosial yang kuat dari keluarga besar, teman, atau komunitas, serta kebijakan Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. publik yang mendukung keluarga orang tua tunggal, dapat menjadi faktor pelindung yang signifikan. Dukungan ini dapat mengurangi stres pada orang tua tunggal memberikan pengasuhan yang lebih positif dan mendukung kemandirian anak. Perbandingan dengan Keluarga dengan Dua Orang Tua: Meskipun artikel ini berfokus pada pola asuh orang tua tunggal, penting untuk membandingkannya secara singkat dengan pola asuh dalam keluarga dengan dua orang tua. Penelitian secara umum menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan dua orang tua yang suportif dan terlibat cenderung memiliki hasil perkembangan yang lebih baik (Amato, 2000. McLanahan & Sandefur. Namun, struktur keluarga itu sendiri bukanlah penentu utama. Kualitas hubungan orang tua-anak, gaya pengasuhan yang diterapkan, dan tingkat stres dalam keluarga adalah faktor-faktor yang lebih Keluarga dengan dua orang tua yang mengalami konflik terus-menerus atau menerapkan pola asuh yang tidak efektif mungkin tidak menghasilkan anak yang lebih mandiri dibandingkan dengan keluarga orang tua tunggal yang memberikan pengasuhan yang suportif dan mendorong kemandirian. Implikasi di Era Modern: Di era modern dengan perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, orang tua tunggal Peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, kemajuan teknologi, dan perubahan norma sosial memengaruhi cara orang tua tunggal mengasuh anak dan bagaimana anak-anak belajar untuk Orang tua tunggal perlu secara pengasuhan yang efektif, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan Coresponden name and email membangun jaringan dukungan untuk membantu anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri dan resilien. Pola asuh orang tua tunggal memiliki pengaruh yang kompleks terhadap Meskipun keterbatasan sumber daya mengembangkan kemandirian situasional lebih awal, kualitas pengasuhan, dukungan sosial, dan konteks ekonomi memainkan peran yang krusial. Orang tua tunggal yang mampu memberikan pengasuhan yang suportif, mendorong tanggung jawab yang sesuai usia, dan membangun lingkungan yang mendukung dapat membantu anakanak mereka mengembangkan kemandirian yang kuat di era modern ini. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam mekanisme spesifik di mana pola asuh orang tua tunggal memengaruhi berbagai aspek kemandirian anak dan untuk mengembangkan intervensi yang efektif untuk mendukung keluarga orang tua Adaptasi dan Resiliensi Anak: Salah satu aspek yang seringkali muncul dalam studi tentang anak-anak dari keluarga orang tua tunggal adalah kemampuan mereka untuk beradaptasi dan menunjukkan resiliensi. Mengingat tuntutan yang mungkin lebih besar di rumah, anakanak ini seringkali belajar untuk mengatasi tantangan dan mengembangkan strategi koping yang efektif. Mereka mungkin menjadi lebih mandiri dalam memecahkan masalah sehari-hari dan lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan. Hal ini sejalan dengan konsep agency dalam psikologi perkembangan, di mana individu memiliki kemampuan untuk bertindak secara intensional dan memengaruhi lingkungan mereka (Bandura, 2. Dalam konteks keluarga orang tua tunggal, anak-anak mungkin merasa perlu untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam menjaga Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. keberfungsian keluarga, yang pada gilirannya dapat memperkuat rasa kompetensi dan kemandirian mereka. Penelitian lintas budaya dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi. Pengaruh Kesejahteraan Psikologis Orang Tua Tunggal: Pemanfaatan Sumber Daya dan Jaringan Dukungan: Kesejahteraan psikologis orang tua tunggal memiliki dampak yang signifikan terhadap pola asuh yang diterapkan dan, pada kemandirian anak. Orang tua tunggal yang merasa didukung, memiliki sumber daya yang memadai, dan mampu mengelola stres cenderung lebih mampu memberikan pengasuhan yang positif dan responsif (Conger & Elder, 1. Sebaliknya, orang tua tunggal yang mengalami stres kronis, depresi, atau isolasi sosial mungkin kesulitan untuk memberikan dukungan emosional dan bimbingan yang optimal bagi anak-anak perkembangan kemandirian anak. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis orang tua tunggal juga secara tidak langsung dapat berdampak positif pada perkembangan kemandirian anak. Di era modern, orang tua tunggal memiliki akses ke berbagai sumber daya dan jaringan dukungan yang dapat membantu mereka dalam membesarkan anak-anak yang mandiri. Ini termasuk dukungan dari keluarga besar, teman, kelompok dukungan sesama orang tua tunggal, layanan konseling, dan sumber daya online. Pemanfaatan sumber daya ini secara efektif dapat mengurangi rasa isolasi, memberikan informasi dan strategi pengasuhan yang berguna, serta membantu orang tua tunggal memenuhi kebutuhan emosional dan praktis anak-anak mereka. Kemampuan orang tua tunggal untuk membangun dan memanfaatkan jaringan dukungan yang kuat dapat menjadi faktor penting dalam mempromosikan kemandirian Peran Gender dan Budaya: Pemahaman tentang dampak pola asuh orang tua tunggal terhadap kemandirian anak memiliki implikasi penting bagi praktik pengasuhan dan pengembangan kebijakan. Program-program dukungan bagi keluarga orang tua tunggal perlu dirancang untuk mengatasi tantangan spesifik yang mereka hadapi, seperti tekanan ekonomi dan kurangnya dukungan sosial. Intervensi yang berfokus pada peningkatan keterampilan psikologis orang tua, dan penyediaan akses ke sumber daya pendidikan dan ekonomi dapat membantu orang tua tunggal dalam anak-anak Selain itu, upaya untuk mengurangi stigma terhadap keluarga orang tua tunggal dan mempromosikan pandangan yang lebih inklusif dalam masyarakat juga Penting untuk mempertimbangkan peran gender dan budaya dalam memahami dampak pola asuh orang tua tunggal terhadap kemandirian anak. Norma gender memengaruhi peran yang dimainkan oleh orang tua tunggal . aik ayah maupun ib. dan bagaimana kemandirian anak dihargai dan dipupuk dalam konteks keluarga Misalnya, dalam beberapa budaya, mungkin ada ekspektasi yang berbeda terhadap kemandirian anak lakilaki dan perempuan. Selain itu, dukungan sosial dan stigma yang terkait dengan keluarga orang tua tunggal juga dapat bervariasi antar budaya, yang pada pengasuhan dan perkembangan anak. Coresponden name and email Implikasi bagi Praktik dan Kebijakan: Jurnal Ibu dan Anak Vol. No. Mei 2025, pp. ISSN 2721-0499 (Onlin. ISSN 2338 Ae 1930 (Prin. penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan anak. Penelitian di masa depan perlu terus mengeksplorasi nuansa hubungan antara pola asuh orang tua tunggal dan kemandirian anak. Studi longitudinal yang mengikuti perkembangan anak dari waktu ke waktu akan sangat berharga dalam memahami dampak jangka panjang dari berbagai pola asuh. Selain itu, penelitian memberikan wawasan yang lebih kaya tentang pengalaman subjektif orang tua anak-anak Mengidentifikasi faktor-faktor spesifik dalam pola asuh yang paling berkontribusi terhadap berbagai aspek kemandirian anak . isalnya, kemandirian emosional, sosial, dan akademi. juga merupakan area penting untuk penelitian di masa depan. Membangun kemandirian anak dalam konteks keluarga orang tua tunggal di era modern adalah proses yang dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Meskipun tantangan yang dihadapi orang tua tunggal bisa signifikan, banyak anak-anak dari keluarga ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan resiliensi yang luar biasa. Pola asuh yang suportif, pemberian tanggung jawab yang sesuai usia, dukungan sosial yang kuat, dan kesejahteraan psikologis orang tua merupakan elemen-elemen kunci dalam mempromosikan kemandirian anak. Dengan pemahaman yang lebih mendalam dan dukungan yang tepat, orang tua tunggal dapat secara efektif membimbing anakanak mereka untuk tumbuh menjadi individu yang mandiri, kompeten, dan siap menghadapi tantangan di era modern. SIMPULAN Berdasarkan analisis terhadap berbagai studi kasus dan penelitian mengenai pengaruh pola asuh orang tua tunggal terhadap kemandirian anak di era modern, dapat disimpulkan bahwa dinamika Coresponden name and email keluarga dengan orang tua tunggal menghadirkan tantangan dan peluang unik dalam perkembangan kemandirian anak. Meskipun keterbatasan sumber daya seperti waktu dan dukungan dari pasangan penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal kemandirian situasional yang signifikan sebagai respons terhadap tuntutan lingkungan keluarga mereka. Kualitas pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal, yang ditandai dengan pemberian tanggung jawab yang sesuai usia, dukungan terhadap otonomi, dan komunikasi yang efektif, menjadi faktor penentu utama dalam menumbuhkan kemandirian anak. Selain itu, konteks sosial dan ekonomi, termasuk dukungan dari keluarga besar, memainkan peran penting dalam memitigasi potensi dampak negatif dan memfasilitasi Kesejahteraan psikologis orang tua tunggal juga terbukti memiliki korelasi yang signifikan terhadap kualitas pengasuhan dan kemampuan mereka dalam mendukung kemandirian anak. Dengan demikian, membangun kemandirian anak dalam keluarga orang tua tunggal di era modern memerlukan pendekatan yang holistik, yang tidak hanya berfokus pada pola asuh individual tetapi juga mempertimbangkan dukungan sosial, ekonomi, dan psikologis yang tersedia bagi orang tua tunggal dan anak-anak (Amato. Bradshaw et al. , 2010. Hetherington & Kelly, 2. DAFTAR PUSTAKA