Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik Vol. No. 3 September 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 09-14 Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Bertutur Kitab Suci Alfan Ghafar Sonya Kusuma Putri Abstract. This study aims to determine the interest in literacy in early childhood through Bible speaking activities. This study uses library research methods with the aim of determining the influence of Bible speaking activities to foster literacy interest in early childhood. The importance of the role of parents in forming the basis of spiritual The family is a place for children to go through their growth periods both in terms of spiritual, physical, emotional, and social. The Christian family is a family that makes Christ the foundation and solid foundation of its family. Keywords: Keywords: Early childhood. Literacy interest. Scripture Speaking. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat literasi pada anak usia dini melalui kegiatan bertutur Kitab Suci. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka (Library Researc. dengan bertujuan mengetahui pengaruh kegiatan bertutur Kitab Suci untuk menumbuhkan minat literasi pada anak usia dini. Pentingnya peran orangtua dalam membentuk dasar pengenalan rohani. Keluarga merupakan tempat anak dalam melewati masa-masa pertumbuhannya baik dari segi rohani, fisik, emosi, dan sosial. Keluarga Kristen merupakan sebuah keluarga yang menjadikan Kristus sebagai fondasi dan dasar yang kuat dalam keluarganya. Kata kunci: Anak usia dini. Bertutur Kitab Suci. Minat literasi. LATAR BELAKANG Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini adalah jenjang sebelum memasuki pendidikan dasar yang mengupayakan pembinaan untuk anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Pendidikan ini dilakukan melalui pemberian rangsangan demi membantu pertumbuhan memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselanggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Usia 0-6 tahun merupakan masa golden age, dimana pada masa tersebut otak anak dimana pada masa tersebut otak anak berkembang pesat. Seiring dengan pendapat Novitasari . Autherefore, the surrounding environment should be able to act as an adequate stimulant for early childhood. Anak membutuhkan stimulasi yang tepatyakni melalui bermain ataupun aktivitas yang menyenangkan. Sebagaimana dijelaskan Novitasari . bahwa Auhabits that exist in the environment around children will affect the pattern of behavior, mindsets and patterns of sense in childrenAy. Dalam mencapai perkembangan otak pada usia dini yang maksimal harus didukung oleh lingkungan dengan memberikan rangsangan yang tepat misalnya rangsangan terhadap perkembangan intelektual, rangsangan terhadap motorik, rangsangan terhadap sosial-emosional dan rangsangan perkembangan bahasa. Hasil penelitian otak manusia oleh professor pendidikan dari Universitas Chicago B. Bloom menunjukkan: Sampai usia 4 tahun, tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 80%. dan 20% sisanya diperoleh pada usia 8 tahun ke atas. Artinya, jika pendidikan beru dilakukan pada waktu anak berusia 8 tahun, stimulasi lingkungan terhadap fungsi otak sudah terlambat. Akibatnya, otak yang kurang difungsikan tidak hanya akan membuat anak kurang ceras, tetapi menghambat optimalisasi potensi otak yang Oleh karena itu, optimalisasi fungsi otak dengan stimulasi pendidikan harus dilaksanakan pada usia dini. Bangsa Israel sadar betul akan pentingnya dan manfaat pendidikan sejak usia dini. Maka, model pendidikan itupun masuk area religiositas mereka dengan bina iman anak. Alkitab sebagai sumber kehidupan beriman dan pedoman tata kemasyarakatan mereka mendapat tempat pertama dalam seluruh proses pendidikan. Oleh karena itu, sejak umur lima tahun anak-anak sudah diperkenalkan dengan Kitab Suci dan pewarisan iman dengan shema. Kemudian salah satu bentuk kegiatan pembelajaran pada anak usia dini ialah meningkatkan kemampuan literasi pada anak usia dini dimana literasi dalam sebuah kurikulum pembelajaran menjadi fokus utama dalam mengembangkan kemampuan numerasi, yang merujuk pada kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, menghitung dan memecahkan masalah, dalam bahasa latin istilah literasi disebut sebagai orang yang belajar. (Stanislaus. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Researc. dengan mengumpulkan data yang memiliki relevansi terhadap rumusan mengumpulkan permasalahan yang diteliti, baik bersumber dari buku maupun sumber tertulis lainnya (Affifudin dan Saebani 2009: 140-. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi buku-buku dan artikel yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Teknik penarikan kesimpulan dilakukan dengan content analysis yang dilakukan dengan objektif dan sistematis agar mendapatkan formulasi yang konkret sehingga mendapatkan kesimpulan sesuai rumusan masalah (Moleong 2001: . HASIL DAN PEMBAHASAN Menumbuhkan Minat Literasi Pada Anak Usia Dini Kemampuan literasi anak dapat dikembangkan melalui metode-metode pembelajaran yang dimana metode pembelajaran tersebut dapat mempermudah anak dalam meningkatkan kemampuan literasinya. Model atau metode mengajar dilakukan dengan salah satu cara, yang dimana metode pembelajaran tersebut berupa cara-cara atau teknik yang di gunakan dengan tujuan pembelajaran tersebut tercapai dengan baik. Literasi tidak hanya tentang menjauhkan anak-anak dari informasi yang tidak diinginkan seperti dengan cara mematikan TV, tetapi dengan membantu anak-anak menjadi terpelajar, kompeten dan kritis dalam berbagai variasi media sehingga apa yang dilihat dan didengar mampu diinterpretasikan. (Nurhidaya & Makassar, 2. Dibaca dari laman perpustakaan. id, berdasarkan hasil survey tahun 2019 indeks literasi Indonesia berada di level 62 dari 70 negara. Ini berarti Indonesia berada di urutan ke 8 dari bawah. Hal ini terjadi karena rendahnya literasi di Indonesia, yang salah satu faktornya adalah kurangnya minat baca sejak dini. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya literasi bagi anak dini ikut menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca anak usia dini. Budaya literasi merupakan kemampuan mengakses memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara (FAizah 2016. Imroatun 2. Dalam pengertian lain, budaya literasi disebutkan bahwa literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis teks saja, namun sudah meluas maknanya dalam bentuk visual, audiovisual dan dimensi-dimensi komputerisasi sehingga dapat memunculkan unsur kognitif, afektif dan intitutif (Iriantara 2009: . Dari pengertian tersebut jelas bahwa kemampuan literasi anak sangatlah penting dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi, baik secara tekstual, visual maupun audiovisual. (Nurhayati. Pengertian Literasi Pada Anak Usia Dini Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa indonesi. literasi adalah kemampuan individu dalam mengelolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Literasi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh anak, kemampuan literasi ini berupa kemampuan membaca, mengenalkan dan menulis. Kemampuan litersi dapat diperoleh di lingkungan orang tua, keluarga hingga prasekolah (PAUD dan Taman Kanak-Kanak, yang dimana anak usia dini diharapkan mendapat kemempuan literasi dasa. Literasi pada anak usia dini sangat erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan berbahasa anak usia 4-5 tahun anak harus mampu memanhami bahasa dan menyampaikan bahasa yang berkaitan dengan proses keaksaraan awal, pengembangan keterampilan literasi awal dapat dimulai sejak anak lahir melalui penataan lingkungan yang mendukung munculnya literasi pada anak serta kegiatan sehari-hari bersama keluarga atau di lingkungan sekolah. (Nurhidaya & Makassar, 2. Kegiatan Bertutur Kitab Suci Bercerita atau bertutur adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang dikemas dalam bentuk cerita yang dapat didengarkan dengan rasa menyenangkan. Bahasa merupakan alat komunikasi sebagai wujud dari kontak sosial dalam menyatakan gagasan atau ide-ide dan perasaan-perasaan oleh setiap individu sehingga dalam mengembangkan bahasa yang bersifat ekspresif, seorang anak memerlukan cara yang sesuai dengan tingkatan perkembangan usia Taman Kanak-kanak dengan memperlihatkan faktor-faktor yang memengaruhi pribadi anak Melalui bercerita dapat membantu mereka dalam mengembangkan dan melatih kemampuan bahasa yang anak-anak miliki dan dengan melalui cerita anak lebih dituntut aktif dalam mengembangkan bahasanya. (Hasim, 2. Bercerita merupakan aspek penting lainnya dari perkembangan literasi. Memindahkan kisah yang ada di kitab Suci akan lebih menarik bagi anak jika menggunakan media yangmengeluarkan bunyi-bunyi yang menarik perhatian anak. Kisah yang disampaikan melalui audio visual membuat antusias anak sangat tinggi dibandingkan hanya membaca kisah dari Kitab Suci. Dari hasil analisis berbagai sumber data berupa buku dan artikel ilmial, maka dapat diketahui berbagai kegiatan yang dapat dilakukan orang tua untuk membangun budaya Literasi serta menumbuhkan minat literasi bagi anak usia dini di rumah, diantaranya dengan mengajak dan mendukung anak untuk mengikuti kegiatan bertutur kitab suci. Kegiatan ini akan menumbuhkan rasa kecintaan anak terhadap Kitab Suci. Dengan kegiatan bertutur Kitab Suci , anak akan mendapatkan banyak manfaat antara lain: meningkatkan kemampuan kognitif, anak mendapatkan informasi-informasi baru mengenai tokoh-tokoh yang terdapat dalam Kitab Suci dan akan menambah rasa ingin tahu anak tentang informasi lainnya. Dari kisah Tokoh yang ada dalam Kitab Suci anak akan belajar bagaiman Sifat. Karakter tokoh cerita, hal-hal yang harus diteladani dari tokoh Kitab Suci, serta bagaimana tokoh mengatasi kesulitan dan sebagainya. Melihat film/video yang berisikan tentang tokoh-tokoh Kitab Suci . Sama halnya dengan membacakan cerita, menonton film atau video bersama-sama orang tua juga akan meningkatkan literasi anak usia dini. Saat melihat film bersama-sama , anak akan belajar tentang bagaimana hikmah dari cerita film tersebut, lalu menceritakan kembali menggunakan bahasa anak sendiri. Budaya literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis teks saja, namun berkaitan dengan kemampuan komunikasi, mendapatkan informasi dan menyampaikan informasi menggunakan bahasa mereka sendiri. Budaya membaca Kitab suci sangat penting ditanamkan sejak dini karena Kitab Suci memberikan tumpuan dan kekuatan bagi kehidupan Gereja. Bagi Putra-putri Gereja. Kitab Suci menjadi peneguhan iman, santapan, dan sumber rohani. Kitab Suci adalah jiwa teologi dan khotbah pastoral. Para pemazmur berkata: Kitab Suci adalah AuPelita bagi kakiku dan terang bagi jalankuAy (Mzm 119:. Karena itu. Gereja menganjurkan pembacaan Kitab Suci yang terus menerus, karena Autidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal kristusAy (Santo Hironimu. Melalui bercerita dapat membantu mereka dalam mengembangkan dan melatih kemampuan bahasa yang anak-anak miliki dan dengan melalui cerita anak lebih dituntut aktif dalam mengembangkan bahasanya. Menurut Risaldi . Metode bercerita sangat umum digunakan dalam pembelajaran usia dini, khususnya dalam menyampaikan pesan-pesan. Menurut Soetijoningsih . Bahasa adalah suatu sistem komunikasi yang digunakan dengan sukarela dan secara sosial disetujui bersama, dengan menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menyampaikan dan menerima pesan dari satu orang ke orang lain. Termasuk di dalamnya ada tulisan, bicara, bahasa simbol, ekspresi muka, isyarat, pantomime, dan seni. (Hasim, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mempelajari dan melatih disiplin Dengan demikian, orangtua mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak-anaknya untuk semakin dawasa baik secra jasmani maupun rohani. Sejak dini, anak harus dilatih dalam membangun disiplin rohani. Adapun jika orang tua, gereja atau guru melalaikan disiplin hidup rohani terhadap anak usia dini, maka pada masa yang akan datang akan menuai generasi yang tidak berada di jalan Tuhan, tidak mengenal Firman Tuhan serta jauh dari Tuhan. Karena itu berdasarkan Alkitab, maka setiap orang Kristen seharusnya memberi perhatian terhadap pelayanan anak usia dini, sehingga akan menuai generasi mendatang yang takut akan Tuhan serta memiliki karakter yang memuliakan Tuhan. Kemampuan literasi berperan penting dalam kehidupan pengetahuan yang diperoleh melalui Oleh karena itu, keterampilan ini harus ditumbuhkan mulai dari usia dini. Dengan demikian menurut peneliti hubungan antara menumbuhkan minat membaca pada anak dengan dorongan dari keluarga sangat erat, karena kebiasaan anak usia dini masih rentan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga perlu di awasi oleh orang tua dan didorong untuk meningkatkan minat literasi anak. Penelitian ini berupaya untuk mencari solusi dari permasalahan literasi dan membantu anak usia dini untuk menumbuhkan minat literasi. DAFTAR REFERENSI Hasim, . Perkembangan Bahasa Anak. https://doi. org/10. 37411/pedagogika. Pedagogika, 9. , 195Ae206. Nurhayati. Membangun Budaya Literasi Anak Usia Dini dalam Keluarga. Jurnal Pembangunan Masyarakat, 4. , 79Ae88. Nurhidaya. , & Makassar. 1,2,3 1. 1(Septembe. , 1006Ae1016. Stanislaus. bimbingan anak cinta Alkitab.