JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. 2 ,Desember 2023, pp. 394 - 404 p-ISSN : 1979-116X . e-ISSN : 2621-6248 . Doi : 10. 51903/kompak. n page 394 http://journal. id/index. php/kompak Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia Arief Fajar Aviyatno1. Muamar Nur Kholid2 Sarjana Program Studi Akuntansi. Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 0274-898444, e-mail: arieffajaravi@gmail. Magister Program Studi Akuntansi. Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 0274-898444, e-mail: muamar. nk@uii. ARTICLE INFO Article history: Received 30 September 2023 Received in revised form 2 November 2023 Accepted 10 November 2023 Available online 1 Desember 2023 ABSTRACT Financial performance analysis plays a crucial role in assessing the overall health and effectiveness of a company. This research focuses on analyzing the financial performance of a retail distribution network company in Indonesia, utilizing quantitative descriptive It employs financial ratio and common size analyses on primary data from financial statements to comprehend the company's financial position, profitability, liquidity, and Through a quantitative descriptive observational design, secondary data from literature and documents are collected. The analysis includes assessing liquidity via current and cash ratios, profitability through metrics like ROA. ROI, and ROE, as well as evaluating solvency using relevant ratios. The findings performance, revealing potential short-term issues due to decreasing current and cash ratios and fluctuations in profitability. These insights assist stakeholders in making informed underscoring the significance of financial analysis in evaluating a company's health. Keywords: Financial Performance Analysis. Financial Statements. Retail Industry. Financial Ratio. Common Size Received September 23, 2023. Revised Sep 2, 2023. Accepted Nov 22, 2023 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Introduction Secara umum laporan keuangan adalah suatu informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan oleh manajemen dari suatu perusahaan kepada pihak internal dan eksternal perusahaan, yang berisi seluruh kegiatan bisnis dari satu kesatuan usaha yang merupakan alat pertanggungjawaban dan komunikasi manajemen kepada pihak-pihak yang membutuhkannya. Berdasarkan Sujarweni . , laporan keuangan merupakan pencatatan mengenai data keuangan suatu organisasi pada suatu periode tertentu dan memiliki kapabilitas untuk memberikan informasi seputar prestasi finansial dari organisasi tersebut. Dalam laporan keuangan, faktor yang berkaitan langsung terhadap pengukuran posisi keuangan adalah aset, liabilitas dan ekuitas. Hal ini mencerminkan kondisi keuangan suatu entitas pada suatu titik waktu Di sisi lain, faktor yang berkaitan langsung dengan pengukuran kinerja dalam laporan laba rugi adalah pendapatan dan beban. Meskipun laporan posisi keuangan mencerminkan elemen-elemen dari laporan laba rugi dan perubahan dalam elemen-elemen neraca, informasi yang mendalam tentang kinerja perusahaan tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya dengan melihat laporan keuangan. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan dan analisis yang tepat terhadap laporan keuangan tersebut. Pembaca laporan keuangan harus memahami arti dari angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dan mampu menganalisis serta menafsirkan data secara sistematis dan logis. Dengan melakukan analisis yang lebih mendalam, pembaca akan memperoleh wawasan yang lebih lengkap tentang kinerja perusahaan dan faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja keuangan. Laporan keuangan yang sudah disusun oleh suatu perusahaan akan lebih berguna dalam pengambilan keputusan, jika data-data yang terdapat dalam laporan keuangan suatu perusahaan diubah menjadi informasi yang lebih memiliki nilai guna dalam pengambilan keputusan dengan cara melakukan analisis laporan keuangan. Menurut Harahap dalam Aprilia & Hidayat . , analisis laporan keuangan melibatkan pemecahan elemen-elemen laporan keuangan menjadi komponen informasi yang lebih terperinci dan penting. Melalui analisis ini, hubungan signifikan antara elemen-elemen tersebut, baik dalam bentuk data kuantitatif maupun non-kuantitatif dapat dieksplorasi dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi keuangan perusahaan. Proses ini sangat penting dalam mengambil keputusan yang tepat. Dalam rangka mengetahui kinerja keuangan suatu perusahaan agar para stakeholder dapat memiliki informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan, analisis laporan keuangan merupakan salah satu aspek penting untuk dilakukan. Melalui analisis ini, data keuangan dipecah menjadi elemen-elemen yang lebih mudah dipahami dengan maksud untuk memahami posisi keuangan, hasil operasi dan perkembangan suatu perusahaan. Dalam proses analisis tersebut, hubungan antara data keuangan dan tren yang terdapat dalam laporan keuangan dipelajari secara Hasil analisis laporan keuangan ini memberikan pemahaman lebih jelas tentang kondisi perusahaan dan menjadi dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan bagi Melakukan analisis terhadap laporan keuangan merupakan hal yang penting bagi semua perusahaan, salah satunya di sektor jaringan distribusi ritel minimarket karena sektor tersebut mengelola cukup banyak operasional minimarket dalam menjalankan bisnisnya. Pengelolaan perusahaan ini tentu membutuhkan analisis kinerja keuangan untuk mempermudah penggunaan akses informasi yang relevan dan applicable tentang kondisi perusahaan, sehingga dapat dihasilkan suatu keputusan yang dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang masif dan Berdasarkan konklusi laporan keuangan perusahaan, kondisi keuangan perusahaan sektor jaringan distribusi ritel dikatakan cukup baik pada masa pandemic hingga pasca pandemic, hal ini tentu masih menjadi sebuah informasi yang tidak mendalam dan belum menunjukkan kinerja sesungguhnya dari perusahaan sektor jaringan distribusi ritel tersebut. Maka dari itu, perlu dilakukannya analisis kinerja keuangan. Analisis keuangan merupakan proses pemeriksaan kinerja suatu perusahaan dalam konteks industri dan lingkungan ekonomi untuk mengambil keputusan atau rekomendasi, (Robinson et al. , 2. Umumnya, keputusan dan rekomendasi dari analisis keuangan berhubungan dengan penyediaan modal bagi perusahaan, terutama Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia (Arief Fajar Aviyatn. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 apakah akan berinvestasi dalam hutang atau ekuitas perusahaan dan pada harga berapa. Maka dari itu, melakukan analisis laporan keuangan atau mengolah data-data keuangan menjadi informasi yang lebih bernilai dan applicable, penting dan akan menunjang pengelolaan bisnis perusahaan lebih efektif dan efisien. Untuk mengoptimalkan hasil analisis laporan keuangan, penting untuk menggunakan metode dan teknik yang sesuai. Hal ini bertujuan agar analisis laporan keuangan menghasilkan informasi yang maksimal dan relevan, (Sujarweni, 2. Maka dari itu, dalam penelitian ini, peneliti akan meninjau kinerja sesungguhnya dari salah satu perusahaan di sektor jaringan distribusi ritel dengan melakukan analisis kinerja keuangan melalui analisis rasio keuangan dan common size. Analisis rasio keuangan ini bertujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa yang akan datang serta untuk mengevaluasi kinerja perusahaan berdasarkan laporan keuangannya. Sedangkan, analisis common size digunakan sebagai alat bantu untuk melihat dan mengevaluasi analisis dari berbagai aspek dalam laporan keuangan. Metode ini digunakan untuk menganalisis komponen yang terdapat dalam laporan laba rugi dan neraca. Sehingga, berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul AuAnalisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia. Research Method Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif observasional. Metode penelitian deskriptif kuantitatif adalah suatu metode yang bertujuan untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif yang menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan dan hasilnya (Arikunto, 2. Sumber dan data dalam penelitian ini didapatkan langsung dari salah satu perusahaan jaringan distribusi ritel di Indonesai. Data dan informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan dan literatur terkait, serta data yang diperoleh dari dokumen dan laporan yang berkaitan dengan analisis kinerja keuangan. Data sekunder yang didapatkan secara langsung oleh peneliti berupa laporan keuangan perusahaan periode 2019-2021. Dalam menganalisis data yang didapatkan, peneliti menggunakan dua teknik analisis, yaitu analisis rasio keuangan dan analisis common size. Analisis rasio keuangan dilakukan dengan menggunakan rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas. Analisis dalam penelitian ini membandingkan masing-masing rasio di setiap tahunnya secara horizontal sedangkan untuk analisis common size dilakukan dengan menganalisis komponen-komponen yang ada dalam laporan laba rugi dan neraca. Results and Analysis Kinerja Perusahaan Berdasarkan Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka yang lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara komponen satu dengan komponen lain dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan, kemudian angka yang dibandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode atau beberapa periode, (Kasmir, 2018:. Analisis rasio keuangan memainkan peranan penting dalam mengeksplorasi hubungan antar berbagai pos dalam laporan keuangan serta digunakan untuk sarana mengevaluasi kesehatan keuangan dan kinerja perusahaan. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya dalam jangka pendek, (Fahmi, 2. Rasio likuiditas yang baik menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cukup aset lancar atau kas untuk JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 394 - 404 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n membayar kewajiban jangka pendeknya. Pada analisis kali ini peneliti menggunakan current ratio dan cash ratio untuk menghitung likuiditas. Tabel 3. 1 Hasil Perhitungan Rasio Likuiditas Rasio Likuiditas Current Ratio Cash Ratio Current Ratio Current ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dapat diubah menjadi uang tunai dalam waktu satu tahun, seperti persediaan, piutang dan Berdasarkan tabel 3. 1, pada tahun 2019, nilai current ratio perusahaan sebesar 112%, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup likuid untuk membayar kewajibannya. Namun, pada tahun 2020 dan 2021, nilai current ratio menurun menjadi 88% dan 87% masing-masing, yang mengindikasikan bahwa likuiditas perusahaan menurun selama periode tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan penjualan atau kenaikan kewajiban jangka pendek. Cash Ratio Cash ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya hanya dengan kas dan setara kas. Semakin besar angka rasio ini, semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar Berdasarkan tabel 3. 1, pada tahun 2019, nilai cash ratio perusahaan sebesar 30%, yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cukup kas untuk membayar kewajiban jangka pendeknya. Namun pada tahun 2020 dan 2021, nilai cash ratio menurun menjadi 25% dan 20% masing-masing, yang menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek dengan kas dan setara kas menurun selama periode Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan berdasarkan tingkat penjualan atau aset yang dimilikinya, (Fahmi. Semakin besar angka rasio ini, semakin besar kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari aset yang dimilikinya. Pada analisis kali ini, peneliti menggunakan ROA. ROI dan ROE untuk menghitung profitabilitas. Tabel 3. 2 Hasil Perhitungan Rasio Profitabilitas Rasio Profitabilitas ROA 0,049 0,044 0,074 ROI 0,047 0,042 0,072 ROE 0,17 0,14 0,22 Return on Assets Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari setiap dolar aset yang dimilikinya. Berdasarkan hasil perhitungan dari tabel 3. 2, pada tahun 2019. ROA perusahaan sebesar 0,049 yang menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang baik dari aset yang dimilikinya. Namun pada tahun 2020. ROA menurun menjadi 0,044 yang kemudian meningkat menjadi 0,074 pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu meningkatkan kinerja keuanganya selama periode tersebut. Return on Investment Rasio ini mengukur tingkat pengembalian yang diperoleh oleh investor, atas investasi yang dilakukan pada perusahaan. Semakin tinggi rasio ROI, semakin baik kinerja keuangan Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia (Arief Fajar Aviyatn. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 perusahaan dalam menghasilkan keuntungan investasinya, karena menunjukkan bahwa investasi pada perusahaan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan dari tabel 3. 2, pada tahun 2019. ROI perusahaan sebesar 0,047, yang menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang baik dari investasi yang dilakukan. Namun pada tahun 2020. ROI menurun menjadi 0,042 yang kemudian meningkat menjadi 0,072 pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu meningkatkan kinerja keuanganya berdasarkan tingkat pengembalian investasi. Return on Equity Rasio pengembalian atas ekuitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap dollar ekuitas yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio ROE, semakin baik karena menunjukkan bahwa perusahaan lebih efektif dalam memanfaatkan modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham untuk menghasilkan Berdasarkan hasil perhitungan dari tabel 3. 2, rasio ROE perusahaan mengalami penurunan pada tahun 2020, namun meningkat secara signifikan pada tahun 2021, yang mengindikasikan bahwa perusahaan berhasil memberikan return yang lebih besar kepada pemegang sahamnya. Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dan jangka panjangnya, (Fahmi, 2. Rasio ini digunakan untuk mengevaluasi apakah perusahaan memiliki kewajiban finansial yang terlalu besar dibandingkan dengan kemampuannya untuk membayar utang. Pada analisis kali ini, peneliti menggunakan Debt to Asset Ratio. Debt to Equity Ratio dan Long Term Debt to Equity Ratio untuk menghitung solvabilitas. Tabel 3. 3 Hasil Perhitungan Rasio Solvabilitas Rasio Solvabilitas Debt to Assets Ratio 71,3% 70,6% Debt to Equity Ratio Long Term Debt to Equity Ratio 57% 67,3% Debt to Assets Ratio Debt to Assets Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar kewajiban perusahaan dibandingkan dengan total asetnya. Semakin kecil rasio ini, semakin baik karena menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset yang cukup besar untuk menutupi kewajiban Idealnya, rasio ini dikatakan baik jika nilainya dibawah 50%. Berdasarkan tabel 3, rasio ini masih dianggap sehat karena masih berada dibawah 100%, artinya aset perusahaan masih lebih besar daripada hutangnya dan perusahaan semakin mampu membiayai asetnya dengan modal sendiri. Penurunan rasio ini bisa disebabkan oleh perusahaan yang memperluas lini bisnisnya dengan mengambil hutang baru, namun tetap masih bisa memenuhi kewajiban hutangnya. Debt to Equity Ratio Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar bagian dari modal perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Semakin kecil rasio ini, semakin baik karena menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak modal sendiri daripada hutang. Sebaliknya, semakin tinggi rasio ini, semakin besar proporsi hutang dalam pembiayaan perusahaan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk membayar hutang dan membayar dividen kepada pemegang saham. Berdasarkan tabel 3. 3, rasio ini mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2019 hingga 2021. Ini menunjukkan bahwa perusahaan telah mengurangi ketergantungannya pada hutang dan mampu membiayai kegiatan usahanya lebih banyak dengan modal sendiri. Hal ini dapat dianggap positif karena menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar hutang dan memiliki kemandirian finansial yang baik. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 394 - 404 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Long Term Debt to Equity Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar proporsi hutang jangka panjang dalam pembiayaan perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, semakin besar proporsi hutang jangka panjang dalam pembiayaan peruahaan. Berdasarkan tabel 3. 3, rasio ini menurun secara signifikan dari tahun 2019 hingga tahun 2021. Hal ini dapat dianggap positif karena menunjukkan bahwa perusahaan telah mengurangi ketergantungannya pada hutang jangka panjang dalam pembiayaan kegiatan usahanya, yang dapat meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh pendanaan dengan suku bunga yang lebih rendah dan menurunkan risiko kebangkrutan. Rasio Aktivitas Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa efektif dan efisien perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan, (Fahmi, 2. Pada analisis kali ini, peneliti menggunakan Total Asset Turnover. Fixed Asset Turnover dan Capital Turnover untuk menghitung rasio aktivitas. Tabel 3. 4 Hasil Perhitungan Rasio Aktivitas Rasio Aktivitas Total Asset Turnover 3,04 2,92 Fixed Assets Turnover 13,38 12,45 Working Capital Turnover 45,16 -42,90 3,09 13,14 -39,23 Total Asset Turn Over Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa sering perusahaan menghasilkan pendapatan dari setiap dolar aset yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena menunjukkan bahwa perusahaan efektif dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Namun perlu diperhatikan bahwa perusahaan juga perlu mempertimbangkan keuntungan bersih yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Dari hasil perhitungan total asset turnover pada tahun 2019 adalah 3,04, tahun 2020 adalah 2,92 dan tahun 2021 adalah 3,09. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup efisien dalam menghasilkan pendapatan dari asetnya, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2020. Fixed Asset Turnover Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa sering perusahaan menghasilkan pendapatan dari setiap dolar aset tetapnya, seperti gedung, mesin, dan peralatan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik, karena menunjukkan bahwa perusahaan efektif dalam menggunakan aset tetapnya untuk menghasilkan pendapatan. Namun, harus diingat bahwa perusahaan juga perlu memperhatikan biaya perawatan dan penggantian aset tetapnya. Dari hasil perhitungan, fixed asset turnover pada tahun 2019 adalah 13,38, tahun 2020 adalah 12,45, dan tahun 2021 adalah 13,14. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup efisien dalam menggunakan aset tetapnya untuk menghasilkan pendapatan. Working Capital Turnover Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam menggunakan working capital . set lancar - kewajiban lanca. untuk menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik karena menunjukkan bahwa perusahaan efektif dalam menggunakan modal kerjanya untuk menghasilkan pendapatan. Namun, harus diperhatikan bahwa perusahaan juga perlu mempertimbangkan ketersediaan modal kerja yang cukup untuk menghadapi risiko likuiditas. Dari hasil perhitungan, working capital turnover pada tahun 2019 adalah 45,16 tahun 2020 adalah -42,90, dan tahun 2021 adalah -39,23. Hasil ini menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada rasio working capital turnover pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penurunan penjualan atau kenaikan jumlah modal kerja yang tidak seimbang dengan kenaikan Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia (Arief Fajar Aviyatn. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Kinerja Perusahaan Berdasarkan Analisis Common Size Analisis common size adalah ringkasan akun keuangan untuk periode tertentu dengan membandingkan satu akun dengan akun lainnya. Perbandingan dilakukan menggunakan presentase, dimana salah satu skor dipilih sebagai acuan dengan kriteria 100%. Setiap akun dalam laporan laba rugi dan neraca dievaluasi sebagai perbandingan terhadap total penjualan . alam laporan laba rug. atau total aktiva . alam nerac. Jusuf dalam (Setiawati & Sulistiyo, 2023:. Dari definisi tersebut, bisa dikatakan bahwa analisis common size memberikan informasi tentang perubahan dalam komposisi investasi dan struktur modal. Dengan menggunakan analisis common size, suatu perusahaan dapat melakukan evaluasi terkait kebijakan operasional, investasi, dan pendanaan yang telah diambil oleh perusahaan baik di masa lalu maupun yang mungkin akan datang. Dalam konteks ini, penyajian dalam bentuk common size memudahkan pembaca dalam menganalisis laporan keuangan dengan fokus pada perubahan yang terjadi dalam neraca dan laporan laba rugi. Analisis Common Size (Statement Profit or Los. Tabel 3. 5 Hasil Perhitungan Common Size (Statement Profit or Los. Keterangan Common Size Pendapatan Beban pokok penjualan Beban Penjualan Laba/rugi bruto Beban umum dan administrasi Pendapatan keuangan Beban keuangan Pendapatan lainnya Beban lainnya Jumlah laba/rugi sebelum pajak Beban pajak 16,8% 19,9% 1,9% 0,1% 0,5% 1,6% 0,3% -0,43% 79,7% 17,3% 20,3% 2,0% 0,2% 0,5% 1,3% 0,1% 1,8% -0,4% 79,2% 16,8% 20,8% 1,8% 0,1% 0,4% 1,2% 0,1% 2,9% -0,6% Jumlah laba/rugi 1,6% 1,4% 2,3% Pendapatan komprehensif lainnya -0,2% 0,6% -0,1% Laba/rugi komprehensif 1,3% 2,1% 2,2% Laba/rugi yang dapat diatribusikan 1,6% 1,4% 2,3% Laba/rugi dapat diatribusikan 1,3% 2,1% 2,2% Berdasarkan analisis common size dari laporan laba rugi perusahaan selama tahun 2019 Ae 2021, terdapat beberapa temuan yang menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan biaya dan peningkatan kinerja perusahaan. Pertama, terjadi penurunan beban pokok penjualan sebagai persentase dari pendapatan penjualan dari 80% pada tahun 2019 menjadi 79,2% pada tahun Hal ini menunjukkan adanya efisiensi dalam pengelolaan biaya produksi dan pengadaan bahan baku. Selanjutnya, beban penjualan mengalami kenaikan dari 16,8% pada tahun 2019 menjadi 17,3% pada tahun 2020, namun kembali menurun menjadi 16,8% pada tahun 2021. Kenaikan ini mungkin disebabkan oleh peningkatan biaya promosi dan pemasaran, sedangkan penurunan pada tahun 2021 kemungkinan disebabkan oleh penghematan biaya selama masa pandemi COVID-19. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 394 - 404 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n Laba/rugi bruto mengalami peningkatan sebesar 0,9% dalam tiga tahun terakhir, dari 19,9% pada tahun 2019 menjadi 20,8% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengelola biaya produksi dan bahan baku dengan lebih efisien. Selanjutnya, beban umum dan administrasi mengalami penurunan sebesar 0,1% dalam tiga tahun terakhir, dari 1,9% pada tahun 2019 menjadi 1,8% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengelola biaya-biaya operasionalnya dengan lebih efisien. Pendapatan keuangan dan beban keuangan perusahaan relatif stabil dalam tiga tahun terakhir, yaitu dibawah 1% dari pendapatan penjualan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengelola risiko keuangan dengan baik. Pendapatan lainnya dan beban lainnya mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu. Jumlah laba/rugi sebelum pajak mengalami fluktuasi dari 2% pada tahun 2019 menjadi 1,8% pada tahun 2020 dan meningkat kembali menjadi 2,9% pada tahun Peningkatan ini dapat disebabkan oleh peningkatan efisiensi biaya produksi dan pengelolaan biaya operasional. Beban pajak relatif stabil dalam tiga tahun terakhir, yaitu dibawah 1% dari pendapatan penjualan. Terakhir, laba/rugi komprehensif mengalami peningkatan dari 1,3% pada tahun 2019 menjadi 2,2% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berhasil mengelola risiko bisnis dengan baik dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Secara keseluruhan, hasil analisis common size menunjukkan adanya efisiensi dalam pengelolaan biaya produksi dan operasional, pengelolaan risiko keuangan yang baik, serta peningkatan laba/rugi komprehensif. Analisis Common Size (Statement of Financial Positio. Keterangan Common Size Aset Aset lancar Kas dan setara kas Piutang lancar Persediaan lancar Jumlah aset lancar Aset tidak lancar Investasi pada entitas anak, ventura bersama, dan entitas asosiasi Aset keuangan tidak lancar Aset tetap Jumlah aset tidak lancar Jumlah Aset Liabilitas dan Ekuitas Liabilitas Liabilitas jangka pendek Liabilitas jangka panjang Jumlah Liabilitas Ekuitas Ekuitas yang diatribusikan pemilik entitas induk Kepentingan non-pengendali 7,2% 31,6% 7,3% 52,2% 7,4% 31,8% 51,7% 0,8% 1,2% 1,3% 22,7% 20,4% 23,5% 47,8% 20,3% 48,3% 71,3% 70,6% 67,3% 0,78% 0,82% 0,72% Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia (Arief Fajar Aviyatn. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 28,7% 29,4% Jumlah Ekuitas Tabel 3. 6 Hasil Perhitungan Common Size (Statement of Financial Positio. Berdasarkan analisis common size dari laporan laba rugi perusahaan selama tahun 2019 Ae 2021, terdapat beberapa temuan yang mengindikasikan pergeseran alokasi aset dan kewajiban perusahaan dari tahun ke tahun. Pertama, terjadi penurunan kas dan setara kas perusahaan dari 16% pada tahun 2019 menjadi 12% pada tahun 2021. Sementara itu, persediaan lancar mengalami peningkatan dari 31,6% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami penurunan likuiditas namun mengalami peningkatan dalam persediaan Selanjutnya, jumlah aset lancar menurun dari 62% pada tahun 2019 menjadi 51,7% pada tahun 2021, sementara jumlah aset tidak lancar meningkat dari 38% pada tahun 2019 menjadi 48,3% pada tahun 2021. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan lebih banyak mengalokasikan asetnya pada investasi jangka panjang seperti aset tetap dan aset keuangan tidak lancar. Liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan dari 55% pada tahun 2019 menjadi 60% pada tahun 2021, sementara liabilitas jangka panjang menurun dari 16% pada tahun 2019 menjadi 8% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan lebih cenderung menggunakan sumber pendanaan jangka pendek. Terakhir, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami peningkatan dari 28% pada tahun 2019 menjadi 32% pada tahun 2021, sementara kepemilikan non pengendali menurun dari 0,78% pada tahun 2019 menjadi 0,72% pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah meningkatkan kepemilikan pemilik induk dan mengurangi kepemilikan non pengendali. Secara keseluruhan, analisis common size neraca perusahaan menunjukkan adanya pergeseran dalam alokasi aset dan kewajiban dari tahun ke tahun. Meskipun perusahaan mengalami penurunan likuiditas, mereka terlihat lebih beriorientasi pada investasi jengka panjang seperti JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 394 - 404 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 n aset tetap dan aset keuangan tidak lancar. Selain itu, perusahaan juga mengurangi penggunaan sumber pendanaan jangka panjang dan meningkatkan kepemilikan pemilik induk. Conclusion Berdasarkan penelitian yang dilakukan untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan dari tahun 2019 hingga 2021, ditemukan beberapa temuan penting. Dalam analisis rasio keuangan, terlihat adanya peningkatan yang signifikan pada rasio profitabilitas, terutama ROA, dari tahun 2020 menjadi 2021. Rasio likuiditas juga menunjukkan peningkatan yang baik, dengan current ratio dan quick ratio yang meningkat, menandakan perusahaan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Selain itu, terdapat penurunan pada rasio likuiditas yang mengindikasikan pengurangan ketergantungan perusahaan pada pinjaman. Rasio aktivitas juga menunjukkan peningkatan yang positif, menunjukkan bahwa perusahaan lebih efektif dalam mengelola persediaan dan menghasilkan pendapatan dari total aset yang dimiliki. Melalui analisis common size, ditemukan bahwa pendapatan dan laba kotor perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2020 hingga 2021, menunjukkan pertumbuhan yang positif. Biaya penjualan, biaya umum, dan administrasi juga mengalami penurunan sebagai persentase dari pendapatan, menunjukkan efisiensi yang lebih baik dalam pengelolaan biaya Meskipun total aset hanya meningkat sedikit sebagai persentase dari pendapatan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mungkin mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pertumbuhan di bidang lain. Dari perspektif makro, perusahaan berhasil bertahan dan bahkan tumbuh di tengah kondisi pandemi yang sulit pada tahun 2020. Dalam perspektif mikro, perusahaan menunjukkan peningkatan dalam efisiensi biaya, pengurangan ketergantungan pada pinjaman, serta peningkatan efektivitas dalam mengelola persediaan dan menghasilkan pendapatan dari total aset. Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa kinerja keuangan perusahaan mengalami perbaikan yang signifikan, yang dapat memperkuat posisi keuangan perusahaan dan meningkatkan kepercayaan investor. Analisis Kinerja Keuangan pada Perusahaan Jaringan Distribusi Ritel di Indonesia (Arief Fajar Aviyatn. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 References