Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 Pengaruh Pemberian Massage. Mirror Exercise Dan Neuromuscular Tapping Pada Kasus BellAos Palsy: Case Report The Effect Of Giving Massage. Mirror Exercise And Neuromuscular Tapping On The Case BellAos Palsy: Case Report Trias Ayu Rahmadani1. Astrid Ika Izzahra2. Tsamara Bunga Maulida3. Siti Sardianti Dwi Tirta4 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Email Korespondensi: tryasayu1@gmail. Diterima : 24 April 2025 | Ditinjau: 29 April 2025 | Disetujui: 02 Mei 2025 | Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK BellAos palsy adalah kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara tiba-tiba akibat peradangan atau kompresi pada saraf fasialis, yang menyebabkan gangguan fungsi otot wajah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping terhadap pasien BellAos palsy. Metode penelitian menggunakan pendekatan case report dengan enam kali terapi selama tiga minggu. Evaluasi dilakukan menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan Skala Ugo Fisch untuk mengukur kekuatan otot dan kemampuan fungsional Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot pada beberapa otot seperti . Frontalis dari 3 menjadi 5, . Orbicularis occuli dari 1 menjadi 3, . Zygomaticus mayor dari 1 menjadi 3, . Obicularis oris dari 1 menjadi 3, . Depresor septi dari 3 menjadi 5, . Nasalis dari 0 menjadi 5, . Depresor labii inferior dari 3 menjadi 5. Serta peningkatan skor Skala Ugo Fisch dari 33 . erajat IV: kelumpuhan sedang bera. menjadi 78 . erajat II: kelumpuhan ringa. Pemberian terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot serta meningkatkan kemampuan fungsional wajah pasien BellAos palsy. Kata kunci: BellAos palsy. Massage. Mirror Exercise. Neuromuscular Tapping ABSTRACT BellAos palsy is a sudden facial nerve paralysis caused by inflammation or compression of the facial nerve, leading to impaired facial muscle function. This study aims to analyze the effects of massage, mirror exercise, and neuromuscular tapping on BellAos palsy patients. The research employed a case report approach with six therapy sessions over three Evaluation was conducted using Manual Muscle Testing (MMT) and the Ugo Fisch Scale to assess facial muscle strength and functional ability. The results showed an improvement in muscle strength in several muscles, including . Frontalis . rom 3 to . , . Orbicularis oculi . rom 1 to . , . Zygomaticus major . rom 1 to . , . Orbicularis oris . rom 1 to . , . Depressor septi . rom 3 to . , . Nasalis. rom 0 to . , and . Depressor labii inferior . rom 3 to . Additionally, the Ugo Fisch Scale score increased from 33 (Grade IV: moderatesevere paralysi. to 78 (Grade II: mild paralysi. This therapy has proven effective in enhancing both muscle strength and functional facial ability in BellAos palsy patients. Keywords: BellAos palsy. Massage. Mirror Exercise. Neuromuscular Tapping PENDAHULUAN Wajah merupakan bagian tubuh manusia yang sangat penting, bukan hanya sebagai faktor penunjang penampilan, tetapi juga untuk berbagai fungsi vital, seperti makan, minum, berbicara, serta mengekspresikan perasaan. Gangguan pada wajah, seperti yang terjadi pada penderita BellAos palsy, dapat memengaruhi berbagai fungsi tersebut. BellAos palsy yakni kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara mendadak pada satu sisi wajah akibat peradangan atau kompresi pada saraf fasialis yang mengontrol otot-otot wajah . Meskipun penyebab pasti dari BellAos palsy belum sepenuhnya dipahami, infeksi virus, terutama Virus Herpes Simplex (HSV), sering dikaitkan dengan timbulnya kondisi ini . Kelainan tingkat organ yang kompleks, seperti asimetri wajah, kekakuan, dan kontraktur, merupakan beberapa komplikasi yang dapat berkembang akibat Bell's palsy. Pada tingkat pribadi, hal ini mengakibatkan gangguan, yaitu masalah makan, minum, menutup mata, serta kesulitan berbicara dan berekspresi wajah. Di tingkat lingkungan, kecacatan ini dapat mengganggu profesi, pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 terutama di bidang hiburan. Selain itu, ada pula dampak psikologis yang mempengaruhi penderita . Siapa pun dapat terkena Bell's palsy. kondisi ini lebih umum pada orang lanjut usia, yang mempunyai kekebalan tubuh yang lemah, diabetes melitus, dan hipertensi, tetapi kondisi ini memengaruhi 75% dari mereka yang mengalami kelumpuhan saraf wajah. Di Indonesia, prevalensi BellAos palsy cukup tinggi, dengan kejadian terbanyak pada usia 21 hingga 30 tahun . Faktor-faktor seperti infeksi virus saluran napas atas dan perubahan musim turut mempengaruhi angka kejadian penyakit ini . Oleh karena itu. BellAos palsy menjadi perhatian utama dalam bidang rehabilitasi medis untuk mengembalikan fungsi wajah dan meningkatkan kualitas hidup Prognosisnya sering kali baik bagi pasien dengan Bell's palsy, namun tingkat keparahannya dapat berkisar dari sedang hingga berat. Hingga 71% pasien sembuh sepenuhnya tanpa AuSekitar 13% mengalami kelemahan sedang, sementara 4% mengalami kelemahan berat yang secara signifikan mengganggu fungsi wajah. Ay . Faktor klinis yang berkaitan dengan prognosis yang lebih buruk adalah usia lanjut, hipertensi, dan diabetes, yang berperan penting dalam patofisiologi kondisi ini. Melalui proses peradangan akut, kondisi ini menyebabkan gangguan fungsi saraf. Perjalanan penyakitnya bervariasi, dengan 70% kasus mengalami pemulihan total. Beberapa kasus yang tidak pulih disebabkan oleh proses re-innervasi yang abnormal, yang dapat menyebabkan sinkinesis, yaitu gerakan wajah yang tidak diinginkan dan tidak terkendali di area tertentu . Massage merupakan teknik yang menggunakan tekanan atau sentuhan untuk merangsang otot. Kondisi seperti Bell's palsy menyebabkan kekakuan pada satu sisi wajah dengan menarik otot-otot yang lemah ke sisi yang sehat. Bagi pasien dengan Bell's palsy, memijat area yang terkena dapat meredakan kekakuan wajah dan meningkatkan relaksasi dengan merangsang otot-otot dan jaringan . Mirror exercise dalam rehabilitasi otot wajah untuk memperbaiki asimetri, meningkatkan mobilitas, dan menormalkan aktivasi otot yang tidak normal melalui penggunaan umpan balik Sisi wajah yang tidak terpengaruh menerima isyarat visual dari sisi yang sehat, yang membantu memicu tindakan di sana. Metode ini bekerja dengan prinsip stimulus dan respons, memungkinkan pasien melihat dan menghargai kembalinya aktivitas otot mereka. Neuromuscular tapping merupakan teknik pemasangan pita elastis pada kulit untuk memberi stimulasi yang membantu mengurangi tekanan dan memperlebar area yang tertutup, dengan tujuan Dalam rehabilitasi. Neuromuscular tapping digunakan untuk melancarkan aliran cairan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah dan getah bening, mengurangi panas berlebih, serta meredakan peradangan dan rasa sakit. Dari latar belakang tersebut. Aupenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh gabungan dari pemberian Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping pada penderita BellAos palsy. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi baru dalam pengembangan terapi rehabilitasi yang lebih efektif dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan BellAos palsyAy. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah case report yang dilakukan di Sragi Kabupaten Pekalongan, terapi ini dilakukan sebanyak 6 kali terapi selama 3 minggu intervensi dengan evaluasi sebanyak 2 kali. Pasien Nn. N berusia 26 tahun mengalami kekakuan, kedutan pada mata, bengkak, dan penurunan kemampuan fungsional pada sisi wajah sinistra. Clinical finding dilakukan dengan informed consent kepada pasien, serta dilakukan pemeriksaan spesifik berupa pemeriksaan kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT) . , pemeriksaan gerak dan fungsional wajah dengan Skala Ugo Fisch . , dan pemeriksaan sensabilitas wajah . Hasil dari pemeriksaan fisik ditemukan wajah bagian kiri pasien tampak bengkak dan kaku ketika digerakan, serta penurunan kemampuan fungsional wajah seperti: tidak mampu pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 mengerutkan dahi, sebagian kelopak mata tidak mampu menutup ketika memejamkan mata bola mata terbalik ke sisi atas, hidung tidak mampu kembang-kempis secara sempurna, bibir tidak mampu mencucu serta pada sudut mulut tidak mampu diangkat ketika tersenyum dan mengalami kebocoran saat berkumur. Palpasi dilakukan dan ditemukan spasme pada otot zygomaricus mayor. Pengukuran kekuatan otot memakai Manual Muscle Testing (MMT) memperlihatkan adanya penurunan pada kekuatan otot didapatkan nilai 0 pada M. Nasalis. Nilai 1 pada M. Orbicularis occuli. Zygomaticus mayor, dan M. Obicularis oris. Nilai 3 pada M. Frontalis. Depresor septii, dan M. Depresor labii inferior. Nilai 5 pada M. Bucinator. Corrugator supercilli. Mentalis, dan M. Platysma. Untuk menilai fungsi motorik, dan megevaluasi kemampuan motorik otot wajah maka dilakukan pemeriksaan gerak dan kemampuan fungsional menggunakan Skala Ugo Fisch . pada 5 posisi berbeda yakni: Ausaat istirahat, mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum, dan mencucu atau bersiulAy. Terdapat empat presentase peniliaan untuk kelima posisi tersebut, yakni: Au0%: asimetris komplit, tidak ada gerakan volunteer, 30%: simetris ringan, kesembuhan cenderung asimetris, ada gerakan volunteer, 70%: simetris cukup, kesembuhan parsial ke arah simetris, 100%: normal, simetris komplitAy. Angka presentase tersebut selanjutnya diubah menjadi poin dengan kriteria: istirahat . , mengerutkan dahi . , menutup mata . , tersenyum . , dan mencucu/bersiul . Hasil penilaian dari presentase penilaian dikali masing-masing poin. AuNilai akhirnya adalah score keseluruhan lima aspek penilaian tersebut. Derajat I: normal . Derajat II : kelumpuhan ringan . -99 poin. Derajat i : kelumpuhan sedang . -74 poni. Derajat IV : kelumpuhan sedang berat . -25 poin. Derajat V : kelumpuhan berat . -24 poin. Derajat VI : kelumpuhan total . Pada pemeriksaan sensabilitas menggunakan benda . apat menggunakan ujung hamme. bertekstur tajam, tumpul, kasar, dan halus hasilnya sempurna karena tidak terdapat permasalahan pada sensabilitas. Tabel 1. Pemeriksaan Kekuatan Otot Menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) Nama otot Fungsi Nilai Mengerutkan dahi orbicularis occuli Menutup mata zygomaticus mayor Tersenyum obicularis oris Mencucu dan bersiul Merapatkan bibir depresor septi Menarik hidung ke bawah corrugator supercilli Menggerakan kedua alis Mengembang kempiskan hidung 0 depresor labii inferior Menarik bibir kebawah Menarik ke atas ujung dagu Merenggangkan kulit leher Pada pengukuran kekuatan otot menggunakan MMT ditemukan adanya penurunan kekuatan otot wajah pasien. Tabel 2. Pemeriksaan Gerak dan Fungsional Menggunakan Skala Ugo Fisch Posisi Wajah Presentase Poin Presentasi x Poin Saat diam 70% x 20 = 14 Mengerutkan dahi 70% 70% x 10 = 7 Menutup mata 30% x 30 = 9 Tersenyum 0% x 30 = 0 Mencucu/bersiul 70% x 10 = 7 Jumlah 33 . erjat IV: Kelumpuhan sedang bera. pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 Pada pemeriksaan gerak dan fungsional menggunakan Skala Ugo Fisch didapatkan hasil 33 , yang artinya masuk ke dalam derajat IV dengan kelumpuhan sedang berat. Ay Tabel 3. Pemeriksaan Sensabilitas Pemeriksaan Hasil Sentuhan ringan Utuh Sentuhan rasa kasar Utuh Sentuhan rasa halus Utuh Sentuhan rasa tumpul Utuh Sentuhan rasa tajam Utuh Sentuhan diskriminasi 2 titik Utuh Pada pemeriksaan sensabilitas menggunakan beberapa benda dengan tekstur kasar, halus, tumpul, dan tajam didapatkan hasil normal karena Nn. N dapat menebak semua tekstur yang berarti sensabilitasnya utuh dan tidak ada permasalahan. Pemberian intervensi pada BellAos Palsy meliputi Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping yang dilakukan 2 kali seminggu selama 3 minggu. Terapi massage membantu pasien rileks dan mengurangi kekencangan wajah dengan merangsang otot dan jaringan di bawah kulit. Wajah dan leher dipijat selama 10 menit di setiap sisi. Pada langkah pertama pemijatan wajah dan leher, gunakan tiga jari untuk bergerak dari satu sisi ke sisi lain dengan gerakan memutar . , selama dua menit. Selama dua menit, gunakan ibu jari dan tiga jari untuk memijat pipi yang sakit, tarik ke arah mulut. Sebagai langkah terakhir, selama dua menit. Anda akan menepuk-nepuk dengan lembut untuk menyebarkan metode tapotement secara merata. (Gambar . Mirror exercise membantu memperbaiki asimetri, meningkatkan mobilitas, dan mencegah ketidakseimbangan otot. Latihan otot wajah dengan umpan balik cermin-visual dikombinasikan dengan latihan melawan tahanan dengan bantuan terapis atau dengan bantuan mandiri. Semua latihan ditujukan kepada pasien dengan terapis memberikan instruksikan kepada pasien untuk rutin melakukan Mirror exercise ini 2 kali sehari selama 10-15 menit selama 6 minggu berturut-turut di luar sesi terapi . Untuk macam-macam gerakannya ada gerakan mengangkat alis, gerakan membuka tutup mata, gerakan mengerutkan dahi, gerakan tersenyum pada bibir, gerakan mencucu, gerakan mengembang kempiskan hidung, dan mengucapkan huruf vokal A. Lakukan gerakan di depan cermin dengan 8 kali pengulangan pada setiap gerakan. Jika pasien belum mampu mampu menggerakan otot-otot wajahnya maka berikan bantuan secara pasif oleh pasien sendiri atau dari terapis. (Gambar . Neuromuscular tapping teknik pemasangan pita elastis pada kulit untuk memberikan stimulasi yang membantu mengurangi tekanan dan memperlebar area yang tertutup, dengan tujuan Tape dipasang di titik motorik pada M. Occipitofrontalis. Temporalis. Masseter dengan beberapa ukuran. Pada M. Occipitofrontalis Tape I berbentuk kipas empat strips dengan panjang 5 cm dan lebar 2,5 ditempelkan pada atas alis tepat di bawah anak rambut (Gambar . Tape II berbentuk kipas empat strips panjang 4 cm, lebar 2,5 cm ditempelkan pada bagian bawah mata (Gambar . Pada M. Temporalis Tape i berbentuk kipas tiga strips panjang 5 cm, lebar 2,5 cm ditempelkan pada samping mata (Gambar . Pada M. Masseter Tape IV berbentuk kipas tiga strips panjang 10 cm, lebar 2,5 cm tempelkan di antara pipi dan rahang (Gambar . Tape V berbentuk kipas dua strips panjang 15 cm dan lebar 2,5 cm ditempelkan dari bawah telinga sampai dagu di bawah bibir (Gambar . pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 Gambar 1. Massage Gambar 2. Mirror Exercise Gambar 3. Taping Otot Occipitofrontalis pada bagian diatas alis Gambar 4. Taping Otot Occipitofrontalis pada bagian dibawah mata Gambar 5. Taping Otot Temporalis pada bagian samping mata Gambar 6. Taping Otot Masseter pada bagian pipi dan rahang Gambar 7. Taping Otot Masseter pada bagian bawah telingan sampai dagu pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 HASIL Hasil penenelitian selama 3 minggu dengan 6 kali sesi terapi menunjukan bahwa pemberian intervensi fisioterapi berupa Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping didapatkan hasil yang menunjukan adanya peningkatan kekuatan otot seperti tabel berikut: Tabel 4. Hasil Penilaian Kekuatan Otot Wajah Menggunakan Manual Muscle Testing Nama otot orbicularis occuli zygomaticus mayor obicularis oris depresor septi corrugator supercilli depresor labii inferior Hasil evaluasi selama 6 kali terapi pada kekuatan otot wajah dengan MMT terdapat peningkatan dari T0-T6. Pemberian intervensi fisioterapi berupa Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping dapat mengurangi spasme dan meningkatkan kekuatan otot wajah dapat dilihat dari perubahan nilai pada beberapa otot seperti: . Frontalis dari 3 menjadi 5, . Orbicularis occuli dari 1 menjadi 3, . Zygomaticus mayor dari 1 menjadi 3, . Obicularis oris dari 1 menjadi 3, . Depresor septi dari 3 menjadi 5, . Nasalis dari 0 menjadi 5, . Depresor labii inferior dari 3 menjadi 5. Tabel 5. Hasil Penilaian Kemampuan Fungsional Wajah Menggunakan Skala Ugo Fisch Posisi Wajah Saat diam Mengerutkan dahi Menutup mata Tersenyum Bersiul Jumlah 33 . erajat IV: erajat II: kelumpuhan sedang bera. kelumpuhan ringa. Hasil evaluasi selama 6 kali terapi pada kemampuan fungsional wajah dengan Skala Ugo Fisch terdapat peningkatan dari T0-T6. Pemberian intervensi fisioterapi berupa Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping dapat meningkatkan kemampuan fungsional wajah dilihat dari peningkatan nilai dari 33 yang masuk dalam kategori derajat IV . elumpuhan sedang bera. menjadi 78 yang masuk dalam kategori derajat II . elumpuhan ringa. Pada posisi diam dan mengerutkan dahi pasien mendapatkan nilai sempurna yang artinya pada kedua posisi tersebut sudah kembali seperti semula tanpa keluhan. PEMBAHASAN BellAos palsy adalah Ausuatu kondisi neurologis ditandai dengan kelemahan atau kelumpuhan otot wajah secara tiba-tiba pada satu sisi wajahAy. Kondisi ini terjadi akibat peradangan atau kompresi pada saraf kranial ketujuh . araf fasiali. , yang bertanggung jawab mengontrol otot-otot wajah . Namun ada berapa hal yang menjadi dugaan penyebab seseorang terkena BellAos palsy pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 seperti hamparan angin kencang dari kipas angin atau berkendara tanpa menggunakan pelindung diri seperti helm dan masker . Hasil Penelitian pemberian Massage. Mirror exercise, dan Neuromuscular tapping selama 6 kali terapi memberikan perubahan yang signifikan pada kekuatan otot dan kemampuan fungsional wajah pada pasien BellAos Palsy sinistra. Pada terapi pertama hasil pengukuran dengan Manual Muscel Testing (MMT) adanya penurunan pada kekuatan otot didapatkan nilai 0 pada M. Nasalis. Nilai 1 pada M. Orbicularis occuli. Zygomaticus mayor, dan M. Obicularis oris. Nilai 3 pada Frontalis. Depresor septii, dan M. Depresor labii inferior. Nilai 5 pada M. Bucinator. Corrugator supercilli. Mentalis, dan M. Platysm dan Skala Ugo Fisch menunjukan skor 33 point yang masuk dalam kategori derajat IV . elumpuhan sedang bera. Pada terapi ke 6 atau terakhir menunjukan adanya peningkatan kekuatan otot nilai 5 pada gerakan mengerutkan dahi, merapatkan bibir, menarik hidung ke bawah, menggerakan kedua alis, menggembang kempiskan hidung, menarik bibir ke bawah, menarik ke atas ujung dagu, meregangkan kulit leher. Nilai 3 pada gerakan menututup mata, tersenyum, mencucu dan bersiul dan skor menjadi 78 point masuk dalam kategori derajat II . elumpuhan ringa. Perubahan nilai Manual Musle Testing (MMT) dan point Skala Ugo Fisch menunjukan bahwa terdapat perbaikan fungsi motorik wajah. Pemberian Massage. Mirror Exercise, dan Neuromuscular Tapping ini efektif dalam mempercepat pemulihan Massage mengacu pada praktik pemberian tekanan pada area tubuh tertentu untuk mempercepat proses penyembuhan. Memberikan masaage pada kulit bertujuan untuk meningkatkan suhu kulit sehingga dapat menurunkan resistensi kulit, efek massage pada otot dan jaringan lunak adalah untu menjaga otot dalam kondisi terbaik dari segi nutrisi, fleksibilitas, dan vitalidas sehingga setelah mengalami trauma otot dalam kondisi maksimal . AuMassage yang diberikan pada kasus BellAos Palsy dapat membantu memperlancar aliran darah dan cairan tubuh, sehingga nutrisi dan oksigen dapat sampai ke sel-sel tubuh dengan baik, yang pada akhirnya memberi efek relaksasiAy . Hal ini sesuai dengan penelitian . bahwa Aupemberian Massage pada kasus BellAos Palsy bertujuan untuk merangsang otot dan jaringan bawah kulit, sehingga membantu memberikan rasa rileks dan mengurangi kekakuan pada wajahAy. Mirror exercise untuk mendorong pergerakan pada sisi wajah yang cedera dengan memberikan masukan visual dari sisi yang sehat. AuLatihan ini pasien diminta melakukan gerakan dari wajah di depan cermin seperti: mengangkat alis, buka tutup mata, mengerutkan dahi, tersenyum pada bibir, mencucu pada, mengembang kempiskan hidung, mengucap haruf vokal A I U E OAy . sesuai penelitian . Mirror exercise memperkuat otot, meningkatkan kemampuan gerakan, dan memperbaiki keseimbangan wajah agar terlihat lebih simetris. Neuromuscular Taping yaitu teknik pemasangan pita elastis pada kulit untuk memberikan stimulasi yang membantu mengurangi tekanan dan memperlebar area yang tertutup, dengan tujuan Dalam rehabilitasi. Neuromuscular tapping digunakan untuk melancarkan aliran cairan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah dan getah bening, mengurangi panas berlebih, serta meredakan peradangan dan rasa sakit . Sesuai penelitian . Neuromuscular tapping secara konsisten membantu meningkatkan fungsi otot wajah karena teknik ini bisa merangsang reseptor kulit, yang memicu gerakan mikro pada otot. SIMPULAN Berdasarkan observasi permasalahan dan disesuikan dengan keadaan pasien, maka Auintervensi fisioterapi pada BellAos Palsy Sinistra yaitu Massage. Mirror exercise. Neuromuscular tapping, serta edukasi yang dilakukan 6 kali terapi dengan evaluasi menggunakan MMT dan Skala Ugo Fisch didapatkan hasil adanya penurunan spasme otot sisi wajah sinistra, peningkatan kekuatan otot wajah sinistra, dan peningkatan kemampuan fungsional wajah. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan nilai kekuatan otot-otot wajah pada pengukuran Manual Muscle Testing (MMT), dan pengaruh pemberian massage, mirror exercise dan neuromuscular. | trias ayu rahmadani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 191 - 198 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/533 peningkatan nilai kemampuan fungsional wajah dengan Skala Ugo Fisch dari derajat IV . elumpuhan sedang bera. menjadi derajat II . elumpuhan ringa. DAFTAR PUSTAKA