ORIGINAL ARTICLE AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 3 . Juli 2024, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Balita di Posyandu Factors Influencing Toddler Visits to Posyandu Aisyah Supri1*. Reni Zulfira2 Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Mega Buana Palopo 2Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Mega Buana Palopo *Correspondence: Aisyah Supri. Address: Jalan Andi Ahmad. No. 25 Kota Palopo Email: aisyah_supri@gmail. Responsible Editor: Safruddin. Kep. Ns. Kep Received: 24 Juni 2024 U Revised: 20 Juli 2024 U Accepted: 30 Juli 2024 ABSTRACT Introduction: Posyandu is a service organized by the community, by the community and for the community, while the government only facilitates. Not all mothers are obedient to visit the posyandu every month. Mothers' non-compliance is caused by factors that influence community behavior from internal factors, namely knowledge, attitudes, perceptions, beliefs/beliefs, work, desires, intentions, values, age, and gender. While from external factors, namely experience, facilities. The purpose of this study was to determine the factors that influence toddler visits to the posyandu in the Kana Maseha Batusuya Health Center work area. Methods: This research method uses an analytical design with a cross-sectional approach. The population in this study was the total number of mothers who had toddlers aged 0-24 months in the January-May 2024 period at the posyandu in the Kana Maseha Batusuya Health Center work area, totaling 626 people. Sampling was carried out using the Slovin formula calculation, obtaining 86 respondents. Data collection was carried out using a questionnaire sheet and an observation sheet. The data that had been collected was then processed and analyzed using the SPSS version 22 statistical program and analyzed using the chi square test. Results: The The results of the study showed that there was an influence of education, employment, knowledge, attitude of mothers of toddlers and the role of cadres on toddler visits to the integrated health post in the working area of the Kana Maseha Batusuya Health Center. The five variables studied were education . = ,. , employment . = ,. , knowledge . = ,. , attitude . = ,. and the role of cadres . = ,. Conclusions: So that toddler visits to the integrated health post were influenced by factors of education, employment, knowledge, attitude and the role of cadres. ABSTRAK Pendahuluan:Posyandu merupakan pelayanan yang diselenggarakan dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat sedangkan pemerintah hanya menfasilitasi. Tidak semua ibu patuh untuk berkunjung keposyandu setiap Ketidakpatuhan ibu di sebabkan oleh faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dari faktor internal yaitu pengetahuan, sikap, persepsi, kepercayaan/keyakinan, pekerjaan, keinginan, niat, nilai, umur, dan jenis kelamin. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu pengalaman, fasilitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. Metode:Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh ibu yang memiliki balita 0-24 bulan priode Januari-Mei 2024 di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya yang berjumlah 626 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan perhitungan rumus slovin, didapatkan 86 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis menggunakan program statistik SPSS versi 22 dan dianalisis dengan uji chi square. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap ibu balita dan peran kader dengan kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya kelima variabel yang diteliti pendidikan . =,. , pekerjaan . =,. , pengetahuan . =,. , sikap . =,. dan peran kader . =,. Kesimpulan: Sehingga kunjungan balita di posyandu dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, pengetuan, sikap dan peran kader. Keywords: knowledge, family support, medication adherence, hypertension 5 | E-ISSN: 2963-6434 A 2024 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Aisyah Supri & Reni Zulfira . AACENDIKIA: Journal of Nursing Pendahuluan Posyandu diselenggarakan dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat sedangkan pemerintah hanya menfasilitasi. Posyandu telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai suatu strategi untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Posyandu yang meliputi program prioritas (KB. KIA. Gizi. Imunisasi dan Penanggulangan Diar. dan terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu (Kemenkes RI, 2. Pelaksana teknis kegiatan posyandu yaitu posyandu yaitu masyarakat yang bersedia secara sukarela menjadi kader di kegiatan posyandu. Keberlangsungan kegiatan ini sangat bergantung pada partisipasi aktif dari kader posyandu Keaktifan kader Posyandu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor dari luar kader Posyandu maupun faktor dari dalam kader Persentase kader aktif secara nasional adalah 69,2% dan angka drop-out kader sekitar 30,8% (Adisasmito, 2. Keberhasilan posyandu tidak lepas dari kerja keras kader yang dengan sukarela mengelola posyandu di wilayahnya masing-masing. Kurangnya pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan keterampilan yang memadai bagi kader menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap tugas kader, lemahnya informasi serta kurangnya koordinasi antara petugas dengan kader dalam pelaksanaan kegiatanan posyandu dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kehadiran anak Bawah Lima Tahun . ke posyandu. Hal ini juga akan menyebabkan rendahnya cakupan deteksi dini tumbuh kembang balita (Harisman dan Nuryani. Tahun 2023 Posyandu tercatat sebanyak 000 Posyandu. Sedangkan pada tahun 2024 meningkat menjadi 238. 699 Posyandu. Namun bila ditinjau dari aspek kualitas masih ditemukan banyak masalah, antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai. Hasil analisis dari Profil Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Posyandu pada tahun 2001 sebagian besar . ,2%) tergolong strata Pratama. Posyandu Madya sebesar 34,7%. Posyandu Purnama 18,0%, dan sedangkan Posyandu yang tergolong Mandiri baru mencapai 3,1%. Pada tahun 2007. Posyandu Pratama 37,7%. Posyandu Madya 36,6%. Posyandu Purnama 21,6%, dan Posyandu Mandiri sebesar 4,82% (Kemenkes RI, 2. Di Sulawesi Tengah jumlah Posyandu pada tahun 2023 tercatat 2. 841 Posyandu, yang terbagi berdasarkan strata yaitu Posyandu Pratama 139 Posyandu . ,09%). Posyandu Madya sebanyak 1. 070 Posyandu . ,66%). Posyandu purnama sebanyak 580 Posyandu . ,42%), dan Posyandu mandiri sebanyak 52 Posyandu . ,83%). Jumlah Kader Posyandu di Sulawesi Tengah secara keseluruhan sebanyak 2976 orang (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2. Sesuai data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala tahun 2023, jumlah dan persentase Posyandu menurut strata dari 216 Posyandu yaitu terdiri dari 76 Posyandu Pratama . ,18%), 72 Posyandu Madya . ,33%), 64 Posyandu Purnama . ,63 %) dan 5 Posyandu Mandiri . ,31%). Adapun jumlah Kader Posyandu yang aktif sebanyak 777 orang dan yang tidakaktif sebanyak 171 orang (Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, 2. Cakupan kunjungan balita diposyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya pada tahun 2021 yaitu 100%. Pada tahun 2022, cakupan kunjungan balita keposyandu menurun ke angka 75. Adapun kunjungan balita pada tahun 2023 yaitu 51. Kunjungan balita pada Januari 2024 yaitu 61. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 6 Aisyah Supri & Reni Zulfira . Februari 2024 yaitu 82. 33% (Puskesmas Kana Maseha Batusuya, 2. Peranan kader sangat penting karena kader bertanggung jawab dalam pelaksanaan program Bila kader tidak aktif maka pelaksanaan posyandu juga akan menjadi tidak lancar dan akibatnya status gizi bayi atau balita (Bawah Lima Tahu. tidak dapat dideteksi secara dini dengan jelas. Hal ini secara langsung akan mempengaruhi tingkat keberhasilan program posyandu khususnya dalam pemantauan tumbuh kembang balita (Martinah, 2. Meningkatkan kualitas pelayanan posyandu merupakan tujuan khusus dari revitalisasi posyandu yang salah satunya yaitu meningkatkan pengelolaan dalam pelayanan posyandu. Tujuan dari revitalisasi kemampuan/pengetahuan dan keterampilan teknis serta dedikasi kader di posyandu, memperluas sistem posyandu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan di hari buka dan kunjungan rumah, menciptakan iklim kondusif untuk pelayanan dengan pemenuhan sarana dan prasarana kerja posyandu, meningkatkan peran serta masyarakat dan kemitraan dalam penyelenggaraan dan pembiayaan kegiatan posyandu dan memperkuat dukungan pembinaan dan pendampingan teknis dari tenaga profesional dan tokoh masyarakat, termasuk unsur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Nain dan Umar. Perawat memiliki peran penting di Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. dalam mendukung kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak. Berikut adalah beberapa peran yang dijalankan oleh perawat di posyandu yaitu Perawat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, dan pencegahan penyakit menular, penyuluhan kesehatan, melaksanakan program imunisasi untuk bayi dan balita sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah, mengukur berat badan dan tinggi badan anak untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan mereka, memberikan saran gizi dan pola makan 7 | E-ISSN: 2963-6434 yang tepat untuk anak, melakukan pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan suhu, tekanan darah, dan tanda-tanda vital lainnya untuk mendeteksi dini masalah kesehatan, bekerja sama dengan kader Posyandu dalam menjalankan berbagai kegiatan dan program kesehatan di Posyandu, mengedukasi masyarakat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit. Peran perawat di Posyandu sangat krusial dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan pada ibu dan anak (Wahyuni, 2. Hasil penelitian Murwati dan Lestari . menyatakan bahwa ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi, sering menimbangkan balitanya ke Hal ini disebabkan oleh faktor kebutuhan para pasien atau pengguna pelayanan kesehatan terhadap pentingnya pelayanan kesehatan bagi dirinya atau bagi keluarganya (Murwati dan Lestari, 2. Hasil ini sesuai dengan penelitian dari Reihana dan Duarsa . bahwa pendidikan ibu yang tinggi mempunyai peluang 2,7 kali untuk berpartisipasi aktif menimbang balitanya ke Posyandu dibanding ibu yang berpendidikan rendah. Semakin tinggi pendidikan, tentunya seseorang akan semakin berkemampuan atau kompeten. Dengan demikian, kemasyarakatan akan semakin tinggi (Reihana dan Duarsa, 2. Menurut Handayani . , tidak semua ibu patuh untuk berkunjung keposyandu setiap Ketidakpatuhan ibu di sebabkan oleh faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dari faktor internal yaitu pengetahuan, sikap, kepercayaan/keyakinan, keinginan, niat, nilai, umur, dan jenis kelamin. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu pengalaman. Sehingga tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. Aisyah Supri & Reni Zulfira . AACENDIKIA: Journal of Nursing Metode Jenis Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya pada Juni 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh ibu yang memiliki balita 0-24 bulan priode Januari-Mei 2024 di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya, yang berjumlah 626 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 86 orang. Analisis data menggunakan uji statistika chi square . Hasil Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan. Sikap. Peran Kader, dan Kunjungan Posyandu . Variabel Pengetahuan Baik Kurang Sikap Positif Negatif Peran Kader Aktif Tidak Aktif Kunjungan Posyandu Aktif Tidak Aktif Berdasarkan tabel 1 menunjukkan dari 86 responden yang pengetahuannya baik sebanyak 54 responden . ,8%), dan kurang baik sebanyak 32 responden . ,2%). Sikapnya positif sebanyak 50 responden . ,1%), dan negatif sebanyak 36 Responden yang menyatakan peran kader aktif sebanyak 49 responden . %), dan tidak aktif sebanyak 37 responden . %). Sedangkan kunjungan balita aktif sebanyak 54 responden . ,8%), dan tidak aktif sebanyak 32 responden . ,2%). Tabel 2. Pengaruh Pengetahuan Ibu Balita dengan Kunjungan Balita di Posyandu . =86 oran. Kunjungan Balita Pengetahuan Baik Kurang Jumlah Aktif Tidak Aktif Tabel 2 menunjukkan bahwa pengetahuan baik sebanyak 54 responden dimana sebanyak 50 responden . ,6%) yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 4 responden . ,4%) yang tidak aktif. Pengetahuannya kurang baik sebanyak 32 responden dimana sebanyak 4 responden . ,5%) Total P-Value yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 28 responden . ,5%) yang tidak aktif. Sehingga ada pengaruh pengetahuan ibu balita dengan kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 8 Aisyah Supri & Reni Zulfira . Tabel 3. Pengaruh Sikap Ibu Balita dengan Kunjungan Balita di Posyandu Kunjungan Balita Sikap Aktif Tidak Aktif Positif Negatif Jumlah Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa sikap positif sebanyak 50 responden dimana sebanyak 44 responden . %) yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 6 responden . %) yang tidak aktif. Responden yang sikapnya negatif sebanyak 36 responden dimana sebanyak 10 Pembahasan Pengetahuan ibu mengenai kesehatan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan balita ke posyandu. Posyandu, atau Pos Pelayanan Terpadu, adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan 9 | E-ISSN: 2963-6434 P-Value responden . ,8%) yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 26 responden . ,2%) yang tidak Berdasarkan hasil uji Auchi squareAy nilai p= 0,000 sehingga ada pengaruh sikap ibu balita dengan kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. Tabel 4. Pengaruh Peran Kader dengan Kunjungan Balita di Posyandu Kunjungan Balita Peran Kader Aktif Tidak Aktif Aktif Tidak Aktif Jumlah Tabel 4 menunjukkan bahwa peran kader yang aktif sebanyak 49 responden dimana sebanyak 43 responden . ,8%) yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 6 responden . ,2%) yang tidak aktif. Responden yang menyatakan peran kader tidak aktif sebanyak 37 responden dimana sebanyak 11 responden . ,7%) yang kunjungan balitanya aktif dan sebanyak 26 responden . ,3%) yang tidak aktif. Berdasarkan hasil uji Auchi squareAy nilai p= 0,000 sehingga ada pengaruh peran kader dengan kunjungan balita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. Total Total P-Value untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita, memberikan imunisasi, serta mendeteksi dini masalah kesehatan. Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan anak cenderung lebih rutin membawa balita mereka ke Penelitian oleh Azizah . menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan mendalam tentang manfaat posyandu lebih sering mengunjungi posyandu dibandingkan dengan ibu yang kurang berpengetahuan. Pengetahuan yang baik mencakup pemahaman tentang pentingnya imunisasi, pemantauan pertumbuhan, dan deteksi dini berbagai penyakit. Pengetahuan ibu tentang kesehatan anak biasanya diperoleh melalui berbagai sumber seperti pendidikan formal, program penyuluhan, media massa, dan pengalaman pribadi. Ibu yang memiliki pendidikan formal lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan anak. Sebuah studi oleh Aisyah Supri & Reni Zulfira . AACENDIKIA: Journal of Nursing Kurniawan . menunjukkan bahwa ibu memanfaatkan layanan posyandu dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal sering kali lebih sistematis dan mendalam, sehingga ibu dengan pendidikan tinggi lebih memahami pentingnya kunjungan rutin ke Program penyuluhan juga memainkan peran penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang kesehatan anak. Penyuluhan yang efektif tidak hanya memberikan informasi tentang pentingnya posyandu, tetapi juga mengajarkan ibu cara merawat kesehatan anak secara umum. Penelitian oleh Rahayu dan Setyowati . menunjukkan bahwa program penyuluhan yang teratur dan terstruktur dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan mendorong mereka untuk lebih sering mengunjungi posyandu. Penyuluhan yang melibatkan tenaga kesehatan dan kader posyandu dapat memberikan pengetahuan yang lebih komprehensif dan praktis kepada ibu. Media massa juga merupakan sumber pengetahuan yang signifikan bagi ibu tentang kesehatan anak. Informasi yang disampaikan melalui televisi, radio, internet, dan media sosial dapat menjangkau ibu di berbagai lapisan Penelitian oleh Pratiwi . menemukan bahwa ibu yang sering mengakses informasi kesehatan melalui media massa memiliki frekuensi kunjungan posyandu yang lebih tinggi. Media massa dapat menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan informasi tentang manfaat posyandu dan pentingnya pemantauan kesehatan anak. Pengalaman pribadi juga berkontribusi pada pengetahuan ibu tentang kesehatan anak. Ibu yang telah memiliki pengalaman merawat anak sebelumnya biasanya memiliki pengetahuan yang lebih baik dan lebih percaya diri dalam mengakses layanan kesehatan seperti posyandu. Studi oleh Sukartini . menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak lebih dari satu cenderung lebih rutin mengunjungi posyandu, karena mereka telah memahami pentingnya layanan tersebut dari pengalaman sebelumnya. Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan juga mempengaruhi pengetahuan ibu tentang kesehatan anak. Dukungan dari suami, keluarga, dan masyarakat sekitar dapat membantu ibu untuk lebih memahami pentingnya layanan Penelitian oleh Dewi dan Wardani . mendapatkan dukungan dari keluarga cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan anak dan lebih sering mengunjungi Dukungan ini bisa berupa bantuan dalam mengurus anak, informasi tentang jadwal posyandu, atau motivasi untuk menghadiri Untuk meningkatkan frekuensi kunjungan balita ke posyandu, beberapa rekomendasi dapat diberikan. Pertama, program penyuluhan dan pendidikan kesehatan harus lebih digencarkan, terutama di daerah-daerah dengan tingkat pendidikan rendah. Penyuluhan yang efektif dan terstruktur dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya posyandu. Kedua, media massa harus dimanfaatkan dengan lebih optimal untuk menyampaikan informasi kesehatan yang tepat dan mudah dipahami oleh Ketiga, dukungan keluarga dan masyarakat harus ditingkatkan melalui program-program yang kesehatan ibu dan anak. Secara keseluruhan, pengetahuan ibu tentang kesehatan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan balita ke Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang manfaat posyandu cenderung lebih rutin membawa balita mereka ke posyandu. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui pendidikan formal, program penyuluhan, media massa, dan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang kesehatan anak sangat penting untuk meningkatkan frekuensi kunjungan posyandu dan, pada gilirannya, meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan. Sikap ibu terhadap kesehatan anak, khususnya terhadap layanan posyandu, memiliki https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 10 Aisyah Supri & Reni Zulfira . pengaruh signifikan terhadap frekuensi kunjungan balita ke posyandu. Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. adalah salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui pemantauan tumbuh kembang balita, imunisasi, serta deteksi dini berbagai penyakit. Sikap positif ibu terhadap posyandu sangat menentukan apakah mereka akan rutin membawa balita mereka ke posyandu atau tidak. Penelitian oleh Azizah . menunjukkan bahwa ibu yang memiliki sikap positif cenderung lebih sering mengunjungi posyandu dibandingkan dengan ibu yang memiliki sikap negatif atau acuh tak acuh. Sikap ibu terhadap posyandu dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengetahuan mereka tentang pentingnya layanan ini, pengalaman sebelumnya dengan posyandu, serta dukungan yang mereka terima dari keluarga dan Pengetahuan yang baik tentang manfaat posyandu sering kali membentuk sikap positif terhadap layanan ini. Studi oleh Kurniawan . menemukan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan mendalam tentang posyandu cenderung memiliki sikap yang lebih positif dan lebih sering melakukan kunjungan rutin ke Pengetahuan ini dapat diperoleh penyuluhan, serta informasi dari media massa. Pengalaman pribadi ibu juga sangat mempengaruhi sikap mereka terhadap posyandu. Ibu yang memiliki pengalaman positif dengan layanan posyandu, seperti menerima pelayanan yang baik dan melihat manfaat nyata bagi kesehatan anak mereka, cenderung memiliki sikap yang lebih positif. Penelitian oleh Rahayu dan Setyowati . menunjukkan bahwa ibu yang merasa puas dengan layanan posyandu dan melihat peningkatan kesehatan anak mereka cenderung lebih termotivasi untuk melakukan kunjungan rutin. Sebaliknya, pengalaman negatif seperti pelayanan yang tidak memadai atau kurangnya fasilitas dapat membentuk sikap negatif dan mengurangi frekuensi kunjungan. Dukungan dari keluarga dan komunitas juga memainkan peran penting dalam membentuk 11 | E-ISSN: 2963-6434 sikap ibu terhadap posyandu. Ibu yang mendapatkan dukungan dari suami, keluarga, dan lingkungan sekitar cenderung memiliki sikap yang lebih positif. Dukungan ini dapat berupa bantuan dalam mengurus anak, informasi tentang pentingnya posyandu, serta motivasi untuk menghadiri posyandu. Studi oleh Dewi dan Wardani . menunjukkan bahwa ibu yang menerima dukungan keluarga lebih sering mengunjungi posyandu karena mereka merasa didorong dan tidak sendirian dalam menjaga kesehatan anak mereka. Selain itu, sikap ibu terhadap posyandu juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi. Ibu dengan kondisi ekonomi yang lebih baik cenderung memiliki akses yang lebih mudah ke informasi dan layanan kesehatan, yang bisa membentuk sikap positif terhadap posyandu. Namun, ada juga paradoks di mana ibu dengan kondisi ekonomi baik tetapi memiliki kesibukan tinggi mungkin kurang sering mengunjungi Penelitian oleh Pratiwi . menunjukkan bahwa ibu dari latar belakang ekonomi yang baik tetapi dengan tingkat kunjungan ke posyandu sebagai kegiatan yang kurang prioritas. Untuk meningkatkan sikap positif ibu terhadap posyandu, beberapa rekomendasi dapat Pertama, program penyuluhan dan pendidikan kesehatan harus diperluas dan ditingkatkan kualitasnya. Penyuluhan yang efektif dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang manfaat posyandu dan membentuk sikap positif. Kedua, peningkatan kualitas layanan posyandu sangat penting untuk menciptakan pengalaman positif bagi ibu. Pelayanan yang ramah, fasilitas yang memadai, dan tenaga kesehatan yang kompeten dapat meningkatkan kepuasan ibu dan mendorong mereka untuk lebih rutin mengunjungi Ketiga, dukungan dari keluarga dan komunitas harus ditingkatkan melalui kampanye kesehatan dan program yang melibatkan komunitas dalam mendukung kesehatan ibu dan Aisyah Supri & Reni Zulfira . AACENDIKIA: Journal of Nursing Secara keseluruhan, sikap ibu terhadap posyandu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan balita ke posyandu. Sikap yang positif dapat mendorong ibu untuk lebih rutin membawa balita mereka ke posyandu, sementara sikap negatif atau acuh tak acuh dapat mengurangi frekuensi kunjungan. Faktor-faktor pengetahuan, pengalaman pribadi, dukungan keluarga, serta kondisi sosial dan ekonomi memainkan peran penting dalam membentuk sikap ibu. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan sikap positif ibu terhadap posyandu sangat penting untuk meningkatkan frekuensi kunjungan posyandu dan, pada akhirnya, meningkatkan kesehatan anak secara Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan bimbingan tenaga kesehatan. Tujuan utama posyandu adalah meningkatkan derajat kesehatan dan gizi masyarakat, terutama ibu dan anak balita . nak di bawah lima tahu. Keberhasilan posyandu sangat bergantung pada peran aktif kader posyandu, yang biasanya adalah anggota masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan khusus dalam bidang kesehatan ibu dan Peran kader posyandu sangat krusial dalam meningkatkan kunjungan balita ke posyandu, yang pada gilirannya mempengaruhi status kesehatan dan gizi balita. Kader posyandu memiliki berbagai peran penting, termasuk sebagai penggerak masyarakat, edukator, dan pelaksana berbagai kegiatan kesehatan di posyandu. Mereka berfungsi sebagai jembatan antara tenaga kesehatan profesional dan Kader posyandu biasanya melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya kunjungan rutin ke posyandu, memberikan informasi tentang gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan Mereka juga berperan dalam mengorganisir dan melaksanakan kegiatan posyandu, seperti penyuluhan kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa peran aktif kader posyandu berkorelasi positif dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Sari . menemukan bahwa daerah dengan kader posyandu yang aktif dan terlatih dengan baik menunjukkan tingkat kunjungan balita yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang kadernya kurang aktif. Dalam penelitian tersebut, faktorfaktor seperti tingkat pendidikan kader, pengalaman, dan dukungan dari tenaga kesehatan profesional sangat mempengaruhi efektivitas kader dalam mendorong kunjungan balita ke Selain itu, kemampuan komunikasi kader dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan juga sangat penting. Kader yang mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat dan menyampaikan informasi dengan jelas dan menarik cenderung lebih berhasil dalam meningkatkan partisipasi ibu-ibu untuk membawa balita mereka ke posyandu secara rutin. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Widjaja . , yang menyebutkan bahwa kader dengan keterampilan komunikasi yang baik dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap posyandu dan layanan yang diberikan, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan balita. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat berbagai tantangan yang dihadapi kader Keterbatasan sumber daya, baik dalam hal fasilitas maupun dukungan finansial, seringkali menjadi Selain itu, kader juga sering menghadapi tantangan berupa kurangnya motivasi dan apresiasi dari masyarakat maupun pihak Penelitian oleh Mulyani . menunjukkan bahwa kader yang mendapatkan dukungan dan penghargaan yang memadai dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, cenderung lebih termotivasi dan efektif dalam menjalankan perannya. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pemerintah perlu memastikan bahwa kader posyandu https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 12 Aisyah Supri & Reni Zulfira . mendapatkan pelatihan yang memadai dan berkelanjutan, serta memberikan insentif yang layak sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras mereka. Di sisi lain, tenaga kesehatan profesional perlu terus memberikan bimbingan dan dukungan kepada kader, serta menjalin kerjasama yang baik dengan mereka. Masyarakat juga perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya peran kader posyandu dan didorong untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan Secara keseluruhan, peran kader posyandu sangat penting dalam meningkatkan kunjungan balita ke posyandu. Kader yang aktif, terlatih, dan didukung dengan baik mampu meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam berbagai program kesehatan ibu dan anak. Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas dan kuantitas kader posyandu harus menjadi salah satu prioritas dalam program kesehatan masyarakat, guna meningkatkan derajat kesehatan dan gizi balita di Indonesia. Kesimpulan Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat pengaruh pengetahuan, sikap ibu balita, dan peran kader dengan kunjunganbalita di posyandu wilayah kerja Puskesmas Kana Maseha Batusuya. Sehingga penting melakukan kampanye edukasi kesehatan anak yang rutin di tingkat desa, daerah, dan kecamatan. Serta melibatkan tokoh masyarakat, kader posyandu, dan organisasi lokal untuk menyampaikan pentingnya pemantauan Referensi