Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA UPAYA MENGATASI DEFISIT PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERAWATAN STROKE MELALUI EDUKASI PERAWATAN DIRI Bella Robbiah Al Adaliyah1 Tri Suraning Wulandari2 Parmilah3 1,2,3 Akper Alkautsar Temanggung Email: bellasoraya15@gmail. com, woelancahya@yahoo. com mila25774@gmail. Email Korespondensi : bellasoraya15@gmail. ABSTRAK Stroke merupakan penyakit akut pada otak yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian kedua di dunia. Prevalensi stroke meningkat secara signifikan, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Defisit pengetahuan keluarga tentang perawatan stroke menjadi tantangan utama dalam manajemen penyakit ini. Tujuan Tindakan untuk mengatasi kurang pengetahuan adalah dengan edukasi perawatan diri. edukasi perawatan diri mengajarkan pemenuhan kebutuhan perawatan penelitian ini adalah mengeksplorasi upaya edukasi perawatan diri untuk mengatasi defisit pengetahuan keluarga dalam merawat penderita stroke. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan subjek studi kasus 2 keluarga yang merawat pasien stroke di rumah dan mengalami masalah defisit pengetahuan. Hasil penelitian setelah diberikan edukasi perawatan diri tentang stroke, luaran tingkat pengetahuan kedua responden meningkat dengan skala rata-rata antara 4 . ukup meningka. hingga 5 . , mengindikasikan terjadinya peningkatan pemahaman setelah pelaksanaan pendidikan kesehatan mengenai perawatan pasien penyakit stroke di rumah melalui pendekatan edukasi perawatan diri. Untuk itu, edukasi perawatan diri dapat menjadi upaya untuk mengatasi defisit pengetahuan keluarga tentang stroke. Kata Kunci: Defisit Pengetahuan Keluarga. Edukasi Perawatan Diri. Stroke ADDRESSING FAMILY KNOWLEDGE DEFICITS IN STROKE CARE THROUGH SELF-CARE EDUCATION ABSTRACT A stroke is an acute brain condition that is a leading cause of disability and the second leading cause of death worldwide. The prevalence of stroke is increasing significantly, especially in low and middle-income countries. Family caregivers' lack of knowledge about stroke care is a major challenge in managing this disease. The aim of this research is to explore self-care education efforts to address the family's deficit of knowledge in caring for stroke patients. The research method used a case study with two family respondents who were caring for stroke patients at home. The results of the study, after providing self-care education on stroke, showed that the knowledge levels of both respondents improved, with an average score ranging from 4 . oderate improvemen. to 5 . , indicating an increase in understanding after implementing health education on stroke patient care at home through a self-care education approach. Therefore, self-care education can be an effort to address the family's deficit of knowledge about stroke. Keywords: Family Knowledge Deficits. Self-Care Education. Stroke PENDAHULUAN Stroke menjadi penyakit yang seseorang selain itu secara global stroke juga merupakan penyakit utama yang mengakibatkan kecacatan. Tahun 2022 telah rilis The Global Stroke Factsheet yang menyatakan bahwa selama 17 tahun terakhir stroke telah menjadi penyakit yang beresiko menjangkit manusia dengan persentase peningkatan sebesar 50% dan menurut perkiraan dari 4 penyandang stroke terdapat 1 orang Terhitung sejak tahun 1990 sampai 2019 persentase peningkatan terjadinya stroke meningkat sebanyak 70%, sedangkan peningkatan kematian yang diakibatkan stroke sebesar 43%, peningkatan persentase stroke terjadi sebesar 102%, adapun DALYs atau Disability Adjusted Life Years juga meningkatkan persentasenya yakni Yang diperhatikan dari sejumlah data tersebut adalah diketahui bahwa adanya beban stroke global terbesar . ang mana kematian diakibatkan DALYs mencapai 89% dan yang disebabkan karna stroke ada sebanyak 86%) terjadi di negara yang penghasilannya menengah ke bawah atau rendah. Beban yang tidak proporsional yang dialami oleh negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah ini telah menimbulkan masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi keluarga dengan sumber daya yang lebih sedikit (World Health Organization, 2. stroke mengalami gangguan kebersihan diri, terlihat dari penampilan klien yang tidak rapi, pasien tampak tidak segar, bau, rambut terlihat berantakan, pakaian tampak kotor dan tidak pernah berganti pakaian, tidak menggosok gigi dan kuku terlihat kotor. Klien mengatakan tidak dibantu untuk melakukan kebersihan diri padahal keluarga pasien selama 24 jam berada di samping pasien. Keluarga hanya berfokus pada proses pengobatan pasien tanpa memperhatikan kebersihan diri pasien. kebutuhan pasien dalam perawatan di rumah, adapun yang merawat bisa berasal dari keluarganya atau pasien merawat dirinya sendiri jika mampu dan perawatan ini perlu menghasilkan hasil yang maksimal dan dilakukan hingga fisik pasien pulih kembali (Fadhilah dkk. , 2. Stroke perawatan dan penanganan yang cukup Penderita stroke tidak dapat Namun, jika ditangani dengan baik dan tepat maka dapat meringankan beban bagi penderita (Nurrohmah et al. , 2. Menurut teori Dorthea Orem kebutuhan dalam mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Model Orem diperluas dari perawatan individu menjadi perawatan keluarga dan keluarga dibutuhkan jika seorang dewasa tidak mampu melaksanakan perawatan diri memelihara kesehatan, atau penyakit ( Akbar, dalam Fadhilah et al. , 2. Perawatan anggota keluarga yang mengalami stroke meliputi perawatan mulut dan mata, pemberian makan, pengendalian Buang Air Besar (BAB), mencegah jatuh, pengendalian buang air kecil (BAK). (Robby, 2. Berdasarkan penjabaran masalah diatas peneliti tertarik melakukan penelitian studi kasus mengenai bagaimana upaya mengatasi defisit perawatan stroke melalui edukasi perawatan diri. METODE PENELITIAN MATERIAL Dalam menggunakan 2 responden dengan kasus diagnosis medis dan masalah keperawatan yang sama dengan Adapun kriteria inklusi dalam studi kasus ini: Keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang stroke. Keluarga yang mempunyai masalah keperawatan defisit pengetahuan tentang perawatan stroke. Keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang menderita stroke yang rentang usia 40 tahun keatas. Keluarga bersedia menjadi subjek studi HASIL DAN PEMBAHASAN Studi kasus ini menggunakan 2 responden dengan defisit pengetahuan perawatan diri dilakukan 3 hari pada setiap responden, yaitu pada Ny. D dan Tn. E dimulai tanggal 6-8 Juli 2023. Hasil pengkajian stroke pada Ny. D dan Tn. E dapat dilihat di tabel 4. Tabel 1. Hasil Pengkajian Stroke Karakteristik Apakah terdapat wajah atau anggota badan Apakah ada sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan/ Apakah terdapat mendadak status mental seperti latargi, stupor atau koma Apakah tanpak afasia atau berbicara tidak lancar dan Apakah Apakah pasien mengalami nyeri kepala hebat Ny. Tn. Ya Tidak Ya Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Pada tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa pada pengkajian stroke dari kedua pasien yaitu Ny. D 100% terdapat masalah, dan pada Tn. E terdapat Sehingga dikatakan bahwa Ny. D dan Tn. mengalami masalah tentang perawatan Hasil identifikasi masalah defisit pengetahuan dapat dilihat ditabel 2. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa pada pengkajian masalah defisit pengetahuan dari kedua pasien sebagian besar mengacu pada kriteria pasien defisit pengetahuan pada psien stroke. Pada Ny. D 85% terdapat masalah, dan pada Tn. E terdapat masalah 85%. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ny. D dan Tn. mengalami masalah defisit pengetahuan tentang perawatan Hasil pemantauan pencapaian tujuan . tingkat pengetahuan diuraikan pada tabel 3. Tabel 2 Hasil Identifikasi Defisit Pengetahuan Data Menanyakan masalah yang . erkaitan dengan penyakit stroke, perawatan diri stroke, praktik perawatan diri pasien strok. Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran . eluarga kurang perawatan diri dan Menunjukkan persepsi yang kliru terhadap masalah . engatakan tidak ada perawatan diri, tidak rutin perawatan dir. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat. ontrol tidak rutin,tidak rutin perawatan Menunjukkan berlebihan. agitasi, histeri. Tabel 3. Pencapaian Tujuan (Outcom. Ny. Tn. Ya Tidak Ya Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo (Tim Pokja SDKI PPNI, 2. Oo Data Perilaku Verbalisas i minat Kemampu an tentang Perilaku Pertanyaa n tentang Persepsi Ny. H H -2 -3 Tn. H H -2 -3 Sumber : (PPNI, 2. Keterangan : Pengisian menggunakan skala angka dengan indikator sebagai berikut 1: Menurun 2: Cukup Menurun 3: Sedang 4: Cukup Meningkat 5: Meningkat Evaluasi dilakukan pada hari terakhir interaksi dengan pasien. Evaluasi pada Ny. D dilakukan pada tanggal 8 Juli 2023 jam 10. 30 WIB sedangkan pada Tn. E dilakukan pada tanggal 8 Juli 2023 jam 11. 30 WIB setelah dilakukan tindakan edukasi perawatan diri pada pasien stroke selama 3 kali dan pengetahuan pada kedua responden PEMBAHASAN Gejala defisit pengetahuan pada keluarga tentang perawatan stroke melalui edukaasi perawatan diri. Peneliti menentukan keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan Secara pengetahuan yang diperoleh pada kedua responden sudah mencakup 85%, yang berhubungan dengan kurang terpapar menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah dan menjalani pemeriksaan yang tidak tepat (PPNI. Hal ini dialami oleh kedua responden, pada pengkajian yang peneliti lakukan pada kedua responden, didapatkan hasil keduanya menunjukan tanda dan gejala mayor defisit Setelah pendidikan kesehatan dengan media mendemonstrasikan tentang perawatan pasien stroke meliputi perawatan pasien di tempat tidur, memiringkan pasien, mengubah posisi miring ke posisi duduk dan memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi dihari kedua, kedua responden mampu mendemonstrasikan ulang prosedur-prosedur yang telah diajarkan peneliti. Ketika berhasil mengoptimalkan pengetahuan keluarga, hasilnya Keluarga menjadi lebih mampu mengatasi tantangan perawatan pasien stroke, mengurangi risiko komplikasi seperti luka tekan, serta memastikan bahwa tindakan perawatan sesuai dengan standar yang diperlukan. Oleh karena itu, edukasi perawatan stroke memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan kepada anggota keluarga yang mengalami stroke. Pada pasien atau keluarga dengan pengetahuan tentang perawatan diri terpenuhinya kebutuhan harian pasien, terutama kebersihan diri pasien (Bakri & Tim, 2. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah defisit pengetahuan yang utama adalah edukasi kesehatan, kemudian bimbingan sistem kesehatan, edukasi aktivitas/ istiharat, edukasi diet, edukasi edema, edukasi efek samping obat, edukasi fisioterapi dada (PPNI, 2. KESIMPULAN Tindakan edukasi perawatan diri kepada keluarga pasien stroke dapat mengatasi kurangnya informasi tentang perawatan stroke selama dirumah, dibuktikan dengan peningkatan tingkat pengetahuan pada menanyakan masalah yang dihadapi berkaitan dengan penyakit stroke, keluarga kurang mengetahui perawatan diri pasien stroke, menunjukkan persepsi yang kliru terhadap masalah, menjalani pemeriksaan tidak rutin, menunjukkan perilaku berlebihan DAFTAR PUSTAKA