Vol. No. Desember 2024, pp 234-246 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Penerapan Skrining PRISAT (Productivity Risk Self-Assessment Too. dalam Pendidikan Gizi di MTs Al Washliyah 19 Percut Implementation of PRISAT (Productivity Risk Self-Assessment Too. Screening in Nutrition Education at MTs Al Washliyah 19 Percut Risti Rosmiati1*. Kanaya Yori Damanik2. Wina Dyah Puspita Sari3. Wira Fimansyah4. Iza Ayu Saufani5. Hardi Firmansyah6 1,2,5,6 Program Studi Gizi. Universitas Negeri Medan. Medan. Indonesia Program Studi Pendidikan IPA. Universitas Negeri Medan. Medan. Indonesia Program Studi Pendidikan Antropologi. Universitas Negeri Medan. Medan. Indonesia Abstract Non-communicable diseases (NCD. are a leading global cause of mortality, necessitating effective prevention strategies through early detection and nutrition education. This study aimed to enhance nutritional knowledge among teachers and students at MTs Al Washliyah 19 Percutt while providing targeted training to improve teachers' skills in early detection of NCD risks using the Productivity Risk Self-Assessment Tool (PRISAT). Over five months, the program implemented sustainable school-based nutrition education through interactive sessions, pretestposttest evaluations, and the provision of health assessment tools. While both teachers and students demonstrated significant improvements in their knowledge of balanced nutrition . <0,. , the teacher-focused PRISAT training successfully equipped educators with the skills to perform early risk assessments and self-monitor health status. PRISAT proved to be an effective, scalable tool for identifying NCD risks and promoting healthier behaviors. The program offers a replicable model for integrating structured health education with practical training, emphasizing the importance of continuous support to sustain its long-term impact. Keywords: ncd prevention, non-communicable diseases, nutrition education, prisat Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 29 Agustus 2024 Accepted 14 Desember 2024 Published 28 Desember 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Abstrak Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab kematian global utama, sehingga memerlukan strategi pencegahan yang efektif melalui deteksi dini dan edukasi gizi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan gizi di kalangan guru dan siswa di MTs Al Washliyah 19 Percut sekaligus memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam deteksi dini risiko PTM menggunakan Productivity Risk Self-Assessment Tool (PRISAT). Selama lima bulan, program ini menerapkan edukasi gizi berbasis sekolah yang berkelanjutan melalui sesi interaktif, evaluasi pretest-posttest, dan penyediaan alat penilaian status gizi dan kesehatan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan guru dan siswa tentang gizi seimbang . <0,. Pelatihan PRISAT yang berfokus pada guru berhasil membekali guru dengan keterampilan untuk melakukan penilaian risiko dini serta pemantauan status gizi dan kesehatan secara mandiri. PRISAT terbukti menjadi alat yang efektif dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko PTM dan mempromosikan perilaku makan yang lebih sehat. Program ini menawarkan model yang dapat direplikasi untuk mengintegrasikan pendidikan gizi terstruktur dengan pelatihan praktis, dengan menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan untuk mempertahankan dampak jangka panjangnya. Kata Kunci: pencegahan ptm, penyakit tidak menular, pendidikan gizi, prisat *Penulis Korespondensi: Risti Rosmiati, email: ristirosmiati@unimed. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian di seluruh Secara global, seseorang yang berusia 30 tahun pada tahun 2000 memiliki peluang sebesar 22,7% untuk meninggal akibat salah satu dari empat PTM utama . enyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabete. sebelum usia 70 tahun. Risiko ini turun menjadi 18,2% pada tahun 2019 (WHO, 2. Pencegahan PTM, khususnya melalui deteksi dini risiko PTM dan edukasi, merupakan komponen penting dari strategi gizi dan kesehatan masyarakat. Sekolah berfungsi sebagai platform yang efektif untuk intervensi tersebut, yang memungkinkan program yang ditargetkan untuk menjangkau siswa dan guru, serta mendorong perubahan perilaku jangka panjang (Schwartz et al. , 2. Berdasarkan survei awal yang dilakukan pada guru dan siswa di MTs Al Washliyah 19 Percut menunjukkan bahwa pengetahuan terkait diet gizi seimbang dan aktivitas fisik untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) masih kurang, guru juga belum memiliki keterampilan untuk melakukan pemeriksaan status gizi dan kesehatan berkala secara mandiri untuk pencegahan PTM. Selain itu, fasilitas kesehatan seperti alat pemeriksaan gizi dan kesehatan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) masih terbatas. Solusi yang disusun untuk membantu menyelesaikan permasalahan mitra tersebut diantaranya pendidikan gizi tentang pedoman gizi seimbang untuk pencegahan PTM, pelatihan penggunaan PRISAT (Productivity Risk Self Assessment Too. dan pemeriksaan status gizi & kesehatan, serta pemberian alat penilaian status gizi & kesehatan. PRISAT (Productivity Risk Self-Assessment Too. merupakan form skrining yang dirancang untuk mendeteksi dini faktor risiko PTM, khususnya di kalangan pekerja urban, dengan menilai parameter yang terkait dengan hilangnya produktivitas (Rosmiati Rosmiati1 et al. Vol. No. 2 Desember 2024 dan Haryana, 2. Penerapan PRISAT dalam lingkungan pendidikan masih belum Memanfaatkan PRISAT di sekolah, dikombinasikan dengan pendidikan gizi terstruktur, dapat menawarkan alternatif metode baru untuk meningkatkan kesadaran dan pencegahan dini PTM. Prevalensi PTM meningkat di kalangan populasi yang lebih muda karena pola makan yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak banyak bergerak . , dan terbatasnya kesadaran tentang faktor risiko PTM (WHO, 2. Program pendidikan yang ada sering kali tidak memiliki alat untuk menilai dan menangani faktor risiko individu secara sistematis. Lebih jauh lagi, meskipun sekolah menerapkan kebijakan kesehatan umum, dampaknya terhadap pencegahan PTM masih terbatas karena tidak adanya intervensi yang disesuaikan dan berbasis bukti (Kazemitabar et al. , 2. Studi telah menunjukkan efektivitas alat skrining berbasis sekolah dalam menangani tantangan kesehatan tertentu. Misalnya, alat yang tervalidasi seperti penilaian risiko pola makan dan penilaian kesehatan mandiri sekolah telah secara signifikan meningkatkan identifikasi dan pengelolaan berbagai risiko kesehatan di antara guru dan siswa (Dyke et al. , 2023. Flynn et al. , 2. Selain itu, pendidikan multidisiplin telah meningkatkan kemampuan personel sekolah untuk mengelola tantangan terkait kesehatan, yang menunjukkan potensi manfaat dari program terpadu (Polloni et al. Meskipun alat kesehatan sekolah berhasil di domain tertentu, masih terdapat kesenjangan dalam penerapan alat skrining yang komprehensif dan terkait produktivitas seperti PRISAT untuk menilai dan mengurangi risiko PTM di lingkungan sekolah. Selain itu, meskipun program pendidikan gizi sudah ada, program tersebut sering kali tidak mengintegrasikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari hasil skrining, sehingga membatasi efektivitasnya secara keseluruhan (Joosten et al. , 2. Kegiatan ini menjembatani kesenjangan ini dengan menerapkan PRISAT bersamaan dengan pendidikan gizi yang disesuaikan dengan lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penerapan PRISAT yang dikombinasikan dengan pendidikan gizi berbasis sekolah dalam meningkatkan pengetahuan guru dan siswa di MTs Al-Washliyah 19 Percut mengenai pencegahan penyakit tidak menular serta membekali guru dengan keterampilan melakukan skrining risiko PTM, penilaian status gizi dan kesehatan. Integrasi PRISAT ke dalam program berbasis sekolah merupakan pendekatan inovatif untuk pencegahan PTM. Studi ini memelopori penerapan penilaian risiko yang berfokus pada produktivitas di lingkungan pendidikan, dengan menangani faktor individu dan sistemik yang mempengaruhi risiko PTM. Melalui penerapan PRISAT, guru dapat mengidentifikasi faktor risiko yang ada, memantau status kesehatan mereka secara lebih efektif, dan mengambil tindakan preventif yang diperlukan. Kegiatan ini berfokus pada gizi masyarakat, dengan menekankan deteksi dini dan pencegahan PTM melalui intervensi yang disesuaikan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini melibatkan pengembangan, implementasi, dan evaluasi program skrining dan pendidikan gizi yang menargetkan guru dan siswa. Implementasi PRISAT yang dikombinasikan dengan pendidikan gizi berbasis sekolah diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan guru dan siswa di MTs Al-Washliyah 19 tentang pencegahan penyakit tidak menular (PTM). Kerangka kerja ini memastikan eksplorasi yang komprehensif terhadap konteks, masalah, dan solusi yang diusulkan sambil menyelaraskan dengan tujuan kegiatan dan aspek inovatif. Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 METODE Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan pendidikan gizi berbasis sekolah yang berkelanjutan . ustainability school-based nutrition educatio. yang berlangsung selama lima bulan (Juli-November 2. dan melibatkan 15 orang guru serta 50 orang siswa kelas 8 dan 9 di MTs Al Washliyah 19 Percut. Kecamatan Percut Sei Tuan. Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi koordinasi dengan kepala madrasah, guru, dan mahasiswa dalam mempersiapkan instrumen penyuluhan, pelatihan, sarana prasarana, panduan, serta lembar evaluasi. Setelah itu, tim melaksanakan pendidikan gizi mengenai pedoman gizi seimbang untuk pencegahan penyakit tidak menular. Pendidikan gizi diberikan kepada guru dan siswa secara terpisah menggunakan metode ceramah dan diskusi menggunakan media slide Untuk mengukur peningkatan pengetahuan dilakukan pretest dan posttest. Rerata skor pengetahuan sebelum dan setelah pendidikan gizi dibandingkan menggunakan uji beda berpasangan Wilcoxon. Skor pengetahuan juga dikategorikan berdasarkan Khomsan . yaitu kurang (<. , sedang . , dan baik (>. Selanjutnya, guru dilatih dan didampingi dalam melakukan pemeriksaan status gizi dan kesehatan seperti penilaian status gizi secara antropometri, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan biokimia darah kapiler . emoglobin, kolesterol total, gula darah, dan asam ura. serta cara penggunaan alat skrining PRISAT. Semua guru peserta pelatihan melakukan skrining mandiri terkait risiko PTM menggunakan PRISAT. Skor PRISAT dikategorikan berdasarkan Rosmiati dan Haryana . menjadi dua yaitu risiko rendah . kor 0-. dan risiko tinggi . kor 6-. Selain itu, mitra juga diberikan alat penilaian status gizi dan kesehatan mandiri seperti microtoise untuk mengukur tinggi badan, bio impedance analyzer (BIA) untuk mengukur berat badan dan komposisi tubuh . ersen lemak tubu. , tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah, serta alat pemeriksaan darah kapiler yang dapat mengukur kadar hemoglobin, gula darah, kolesterol, dan asam Sepanjang proses kegiatan pengabdian ini, tim pelaksana melakukan pendampingan, monitoring, dan evaluasi berkala untuk memastikan tercapainya tujuan, sementara kepala madrasah mengkoordinasikan kegiatan dan memfasilitasi sarana yang diperlukan, serta mitra berperan aktif dalam seluruh tahapan kegiatan. Evaluasi dilakukan pada setiap sesi pelatihan dan keberlanjutan kegiatan didukung dengan komunikasi melalui WhatsApp Group yang memungkinkan tindak lanjut, pemantauan perkembangan, dan penanganan kendala secara efektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Inisiatif pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan pendidikan gizi berbasis sekolah berkelanjutan . ustainability school-based nutrition educatio. sebagai upaya integratif untuk mempromosikan gizi seimbang sebagai tindakan pencegahan terhadap penyakit tidak menular (PTM). Pendekatan ini mencerminkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan pendidikan inklusif, yang konsisten dengan kerangka kerja Sustainable Development Goal 4 (SDG. , yang menekankan pendidikan yang adil dan berkualitas sebagai pilar pembangunan berkelanjutan (Park et al. , 2. Kegiatan ini dimulai dengan tahapan persiapan meliputi koordinasi antara tim pengabdian, kepala sekolah, guru, dan mahasiswa untuk mempersiapkan sumber daya yang diperlukan. Beberapa hal yang dipersiapkan diantaranya media pendidikan gizi, panduan pelatihan, sarana dan prasarana serta instrumen evaluasi. Hal ini dilakukan untuk membentuk hubungan sinergis antara pendidikan dan pembangunan berkelanjutan, yang Rosmiati1 et al. Vol. No. 2 Desember 2024 memastikan kegiatan dirancang dengan dampak langsung dan jangka panjang (Sterling. Integrasi pemangku kepentingan dalam tahapan perencanaan menggarisbawahi sifat partisipatif program ini, yang mencerminkan penekanan Elamin . tentang jalur pendidikan kolaboratif yang selaras dengan konteks lokal dan tujuan pembangunan Gambar 1. Pendidikan gizi pada guru dan siswa MTs Al Washliyah 19 Percut Skor Pengetahuan Sesi pendidikan gizi disampaikan secara terpisah kepada guru dan siswa menggunakan metode ceramah dan diskusi yang didukung oleh presentasi PowerPoint (Gambar . Format interaktif ini mendorong partisipasi aktif yang merupakan faktor penting untuk mendorong pembelajaran yang lebih mendalam, sebagaimana ditekankan dalam pendekatan konstruktivis terhadap pendidikan (Sterling, 2. Efektivitas transfer pengetahuan dinilai menggunakan pertanyaan pretest dan posttest. Penggunaan metode berbasis bukti untuk mengevaluasi hasil program mencerminkan ketelitian yang dianjurkan oleh Younes dan Gomez . untuk inisiatif pendidikan berkelanjutan. Perbedaan skor pengetahuan guru dan siswa sebelum dan setelah pendidikan gizi disajikan pada Gambar 2. 60,44 37,36 Guru Pretest Siswa Postest Gambar 2. Skor pengetahuan sebelum dan setelah pendidikan gizi Skor pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang untuk pencegahan PTM meningkat secara signifikan antara sebelum dan setelah diberikan pendidikan gizi pada guru . =0,. dan siswa . =0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendidikan gizi dalam kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pengetahuan tentang pedoman gizi Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 seimbang untuk pencegahan PTM. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah mendokumentasikan dampak positif pendidikan gizi berbasis sekolah terhadap pengetahuan dan perilaku gizi siswa (Gemily et al. , 2020. Rector et al. , 2. Sebelum pendidikan gizi, rerata skor pengetahuan di antara guru dan siswa jauh lebih rendah, yang menunjukkan terbatasnya pemahaman sebelumnya tentang gizi Kurangnya pemahaman ini menggarisbawahi perlunya program pendidikan gizi yang komprehensif dalam kurikulum sekolah. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pendidikan gizi yang efektif dapat menghasilkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan praktik diet di kalangan siswa (Franciscato et al. , 2019. JovanoviN et al. , 2023. Karecka et al. , 2. Sebuah review menyimpulkan bahwa program gizi berbasis sekolah yang menggabungkan metode pengajaran yang interaktif dan menarik sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep gizi (Al-Jawaldeh et al. , 2. Setelah pendidikan gizi, data mengungkapkan bahwa guru menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan siswa. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan beberapa faktor seperti pengetahuan dasar guru yang ada atau keterlibatan guru yang lebih besar dengan konten pendidikan. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa guru yang menerima pendidikan gizi yang terarah lebih siap untuk memberikan pengetahuan kepada siswa mereka, sehingga meningkatkan efektivitas program gizi secara keseluruhan (Asakura et al. , 2021. Rachman et al. , 2021. Scherr et al. , 2. Selain itu, peran guru sebagai fasilitator pendidikan gizi sangat penting karena guru dapat menjadi panutan dan pendukung praktik kebiasaan makan sehat di lingkungan sekolah (Aries et al. , 2018. Hamid et al. , 2. Persentase (%) Kurang Sedang Baik Kurang Sedang Guru Pretest Baik Siswa Postest Gambar 3. Perubahan sebaran tingkat pengetahuan guru dan siswa sebelum dan setelah pendidikan gizi Data pada Gambar 3 menggambarkan perubahan dalam kategori tingkat pengetahuan guru dan siswa sebelum dan sesudah berpartisipasi dalam program pendidikan gizi. Hasilnya menyoroti peningkatan dalam tingkat pengetahuan, dengan pergeseran yang nyata dari kategori kurang ke kategori sedang. Sebelum pendidikan gizi, mayoritas peserta . uru dan sisw. dikategorikan dalam tingkat pengetahuan kurang, namun data setelah pendidikan gizi menunjukkan peningkatan substansial dalam kategori Rosmiati1 et al. Vol. No. 2 Desember 2024 pengetahuan sedang dan baik. Hal ini menunjukkan efektivitas sesi pendidikan gizi. Pergeseran ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan gizi yang menggabungkan ceramah dan diskusi yang didukung oleh perangkat multimedia, berhasil meningkatkan pemahaman peserta tentang gizi seimbang untuk mencegah penyakit tidak menular. Dampak yang berbeda dari kegiatan pendidikan gizi tersebut terhadap guru dan siswa menyoroti perlunya pendekatan yang disesuaikan dalam pendidikan gizi yang mempertimbangkan faktor demografi dan pendidikan. Misalnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam kurikulum yang ada dapat meningkatkan efektivitasnya, karena memungkinkan penguatan konsep gizi secara berkelanjutan (Melnick et al. , 2021. Rahmadina et al. , 2020. Serebrennikov et al. , 2. Selain itu, dukungan dan sumber daya yang berkelanjutan bagi guru sangat penting untuk memastikan bahwa guru merasa percaya diri dan kompeten dalam memberikan pendidikan gizi (Huda et al. , 2023. Wambo dan Otieno, 2. Temuan kegiatan pengabdian ini menggarisbawahi peran penting program pendidikan gizi dalam meningkatkan pengetahuan tentang gizi seimbang, khususnya di lingkungan sekolah. Peningkatan pengetahuan di kalangan guru menunjukkan bahwa program-program ini berpotensi untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum reguler, sehingga dapat meningkatkan peran guru sebagai agen perubahan utama dalam mempromosikan perilaku makan sehat di kalangan siswa (Haruto, 2023. Koch et al. Bagi siswa, dampak program ini menunjukkan perlunya penguatan berkelanjutan untuk memastikan retensi dan penerapan pengetahuan yang berkelanjutan dalam praktik sehari-hari. Penelitian telah menunjukkan bahwa tanpa penguatan berkelanjutan, pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan gizi dapat berkurang seiring waktu, yang menyebabkan kembalinya kebiasaan makan tidak sehat sebelumnya (Follong et al. , 2021. Perry et al. , 2. Gambar 4. Pelatihan penilaian status gizi & kesehatan serta cara pengisian form PRISAT pada guru Selain pendidikan gizi, guru menerima pelatihan tentang pelaksanaan penilaian status gizi dan kesehatan seperti pengukuran antropometri, pemantauan tekanan darah, dan pengujian biokimia darah . emoglobin, kolesterol, glukosa darah, dan asam ura. serta cara pengisian form skrining PRISAT (Gambar . Form skrining PRISAT dapat digunakan untuk melakukan skrining mandiri terhadap risiko PTM, dengan skor yang dikategorikan ke dalam kelompok risiko rendah dan tinggi (Rosmiati dan haryana, 2. Pelatihan ini merupakan contoh penerapan Open Educational Resources (OER) dalam mempromosikan keterampilan praktis, seperti yang disarankan oleh Ossiannilsson . , yang mendorong pengembangan kapasitas dan kemandirian di antara para Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Hasil skrining PRISAT guru dapat dilihat pada Gambar 5. 28,47 71,43 Risiko Rendah Risiko Tinggi Gambar 4. Hasil skrining PRISAT guru Hasil skrining PRISAT guru pada Gambar 4 memberikan penilaian mendalam tentang risiko guru terhadap PTM yang dapat mempengaruhi produktivitas mereka. Hasilnya mengungkapkan distribusi antara kategori risiko rendah dan risiko tinggi, dengan proporsi guru berisiko rendah lebih banyak dibandingkan guru yang berisiko Terdapat 28,47% guru yang berisiko tinggi mengalami PTM. Temuan ini menekankan prevalensi faktor risiko PTM, seperti hipertensi, obesitas, dan disregulasi glukosa dalam populasi guru. Form skrining PRISAT menawarkan wawasan penting tentang potensi tantangan produktivitas karena masalah kesehatan, sejalan dengan bukti dari Sudarko et al. , yang menyoroti meningkatnya beban PTM di antara kelompok usia kerja. Guru yang dikategorikan sebagai risiko rendah menunjukkan indikator fisiologis yang lebih sehat, yang menunjukkan perilaku gizi dan kesehatan proaktif serta keberlanjutan produktivitas yang berpotensi lebih besar. Sebaliknya, mereka yang berada dalam kategori risiko tinggi menunjukkan beberapa kondisi komorbiditas, seperti tekanan darah tinggi dan indeks massa tubuh yang lebih tinggi, yang konsisten dengan temuan oleh (Begum et al. , 2. , yang mencatat tantangan kesehatan yang dihadapi oleh individu yang berisiko. Hal ini menggarisbawahi kesenjangan dalam kelompok profesional yang tampaknya homogen, selaras dengan kesenjangan yang diamati oleh Chauhan et al. , yang mengidentifikasi ketidaksetaraan dalam beban PTM bahkan dalam subpopulasi profesional. Selain itu, kelompok berisiko tinggi mencerminkan kebutuhan terhadap intervensi yang ditargetkan untuk mengurangi kesenjangan kesehatan dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Hal ini didukung oleh Bhattacharya et al. , yang menganjurkan pengintegrasian pencegahan PTM ke dalam program manajemen kesehatan tempat kerja yang lebih luas untuk mengatasi tantangan sistemik ini secara efektif. Temuan ini menyoroti penerapan praktis PRISAT sebagai alat skrining berbiaya rendah dan terukur untuk deteksi risiko PTM dini di antara pekerja urban, yang menawarkan alternatif desain intervensi yang terinformasi. Proses pengidentifikasian individu yang berisiko dapat membantu organisasi, khususnya sekolah, dalam menerapkan strategi intervensi gizi dan kesehatan yang disesuaikan untuk mengatasi kebutuhan khusus, seperti modifikasi pola makan, aktivitas fisik, dan pemantauan status Rosmiati1 et al. Vol. No. 2 Desember 2024 gizi dan kesehatan rutin. Implikasi ini sejalan dengan Hadian et al. , yang menekankan pentingnya pendekatan sistematis dalam pencegahan PTM untuk mengurangi penurunan produktivitas. Selain itu, temuan tersebut menyerukan inisiasi kebijakan untuk menerapkan penilaian risiko PTM dalam program kesehatan kerja. Pendekatan ini sejalan dengan Dagadu dan Patterson . , yang merekomendasikan pengintegrasian kesetaraan kesehatan ke dalam kebijakan kesejahteraan di tempat kerja untuk memastikan intervensi kesehatan yang dapat diakses dan berkelanjutan. Inisiatif semacam itu dapat mengurangi beban sosial ekonomi PTM, mengurangi ketidakhadiran, dan meningkatkan ketahanan tenaga kerja, yang memperkuat peran penting deteksi dini dan strategi kesehatan Tim pengabdian juga memberikan seperangkat alat penilaian status gizi dan kesehatan yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan status gizi dan kesehatan mandiri secara berkala. Alat-alat tersebut diantaranya microtoise untuk mengukur tinggi badan, metline untuk mengukur lingkar pinggang dan panggul, bio impedance analyzer (BIA) untuk mengukur berat badan dan komposisi tubuh . ersen lemak tubu. , tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah, serta alat pemeriksaan darah kapiler yang dapat mengukur kadar hemoglobin, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Penyerahan alat dilakukan langsung oleh ketua kegiatan pengabdian yang diterima oleh kepala sekolah MTs Al Washliyah 19 Percut dan disaksikan oleh perwakilan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Medan. Dokumentasi proses serah terima disajikan pada Gambar 6. Gambar 6. Penyerahan alat penilaian status gizi dan kesehatan Pendampingan, pemantauan, dan evaluasi berkelanjutan memastikan tujuan program terpenuhi dan berkelanjutan. Kepala sekolah memfasilitasi program dengan mengkoordinasikan kegiatan dan menyediakan infrastruktur yang diperlukan, sementara guru dan siswa berpartisipasi secara aktif. Evaluasi rutin setelah setiap sesi memberikan umpan balik secara langsung untuk menyempurnakan program lebih lanjut. Penggunaan Grup WhatsApp untuk tindak lanjut merupakan contoh integrasi perangkat digital untuk mendukung kesinambungan dan kemampuan beradaptasi, yang sejalan dengan penekanan United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada pemanfaatan teknologi untuk ketahanan pendidikan (Park et al. , 2. Inisiatif ini menunjukkan pendekatan holistik terhadap pendidikan gizi berbasis Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 sekolah, yang mengintegrasikan transfer pengetahuan, pengembangan keterampilan praktis, dan praktik berkelanjutan. Dengan membina ekosistem yang mendukung perubahan perilaku, program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu tetapi juga berkontribusi pada budaya promosi kesehatan. Hal ini sejalan dengan visi Sterling . untuk mensinergikan pendidikan dengan pembangunan berkelanjutan untuk dampak sosial jangka panjang, yang menawarkan model yang dapat direplikasi untuk intervensi serupa di lingkungan sekolah lainnya. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pengetahuan guru dan siswa tentang pedoman gizi seimbang untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM). Selain itu para guru memiliki keterampilan untuk melakukan deteksi dini PTM menggunakan PRISAT (Productivity Risk-Self Assessment Tool. serta melakukan pemeriksaan status gizi dan kesehatan mandiri yang didukung dengan ketersediaan alat pemeriksaan status gizi dan kesehatan. Keberhasilan program ini menunjukkan potensi untuk diadopsi oleh sekolah lain dalam mengembangkan program kesehatan berbasis sekolah yang berkelanjutan, namun untuk mencapai dampak jangka panjang, diperlukan dukungan berkelanjutan dalam bentuk monitoring dan pendampingan agar guru dan siswa dapat terus menerapkan pola hidup sehat secara mandiri. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih untuk Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Medan yang telah mendanai kegiatan ini melalui Dana PNBP Universitas Negeri Medan dengan nomor kontrak 0157/UN33. 8/PPKM/PKM2024. DAFTAR PUSTAKA