Analisis Faktor dan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Serta Upaya Prevenitif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya ANALISIS FAKTOR DAN DAMPAK PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA SERTA UPAYA PREVENTIF DAN KURATIF DI SMPN 44 SURABAYA Niswa Tirta Ageng Dzakiyah Universitas Negeri Surabaya 21074@mhs. Dr. Wiryo Nuryono. Pd. ,M. Universitas Negeri Surabaya wiryonuryono@unesa. Abstrak Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa SMPN 44 Surabaya, dengan menyoroti peran tingkat emosi positif dan negatif. Metode yang digunakan adalah observasi langsung terhadap interaksi sosial siswa, suasana kelas, dan aktivitas ekstrakurikuler terkait program pencegahan dan penanganan narkotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas tinggi antar siswa dapat berdampak negatif, seperti rasa "sungkan" menolak ajakan menggunakan narkotika. Mayoritas siswa berasal dari lingkungan padat karya dan keluarga disfungsional, yang mengakibatkan rendahnya prioritas terhadap pendidikan dan kurangnya perhatian orang tua. Pada usia 13-15 tahun, siswa berada dalam tahap perkembangan remaja awal dengan ketidakstabilan emosi akibat perubahan hormonal, pencarian identitas, dan tekanan sosial, menyebabkan respons berlebihan terhadap konflik kecil. Temuan terbaru mengindikasikan bahwa rendahnya tingkat emosi positif berkontribusi pada munculnya emosi negatif, yang menjadi faktor penyebab penyalahgunaan narkotika. Siswa dengan emosi positif rendah cenderung memiliki resiliensi rendah, sehingga lebih rentan terhadap tekanan lingkungan dan ajakan menggunakan narkotika. Disarankan agar pihak sekolah dan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) meningkatkan program pengembangan emosi positif melalui kegiatan ekstrakurikuler dan penguatan karakter. Pendekatan personal kepada siswa juga diperlukan untuk meningkatkan keterbukaan dan rasa percaya, sehingga dapat mencegah penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa. Kata Kunci: Faktor. Dampak. Penyalahgunaan Narkotika Abstract This study analyzes the factors influencing drug abuse among SMPN 44 Surabaya students, highlighting the role of positive and negative emotional levels. The method used was direct observation of students' social interactions, classroom atmosphere, and extracurricular activities related to drug prevention and treatment programs. The results showed that high solidarity among students can have a negative impact, such as a sense of AureluctanceAy to refuse invitations to use drugs. The majority of students come from labor-intensive environments and dysfunctional families, resulting in low prioritization of education and lack of parental attention. At 13-15 years old, students are in the early adolescent stage of development with emotional instability due to hormonal changes, identity seeking, and social pressures, leading to exaggerated responses to minor conflicts. Recent findings indicate that low levels of positive emotions contribute to the emergence of negative emotions, which are a contributing factor to drug abuse. Students with low positive emotions tend to have low resilience, making them more vulnerable to environmental pressures and invitations to use drugs. It is recommended that schools and Guidance and Counseling Teachers (BK) increase positive emotion development programs through extracurricular activities and character strengthening. A personal approach to students is also needed to increase openness and trust. Keywords: Factors. Impact. Drug Abuse mengurangi rasa nyeri serta dapat menimbulkan Narkotika terdiri atas beberapa golongan yang diklasifikasikan berdasarkan kekuatan daya adiktifnya, narkotika juga berpotensi tinggi untuk Penyalahgunaan narkotika adalah serangkaian penggunaan yang tidak sah dan tidak terkontrol terhadap zat-zat narkotika yang dapat merusak kesehatan dan kualitas hidup seseorang, serta berdampak negatif pada masyarakat dan lingkungan sekitar (S. PENDAHULUAN Penyalahgunaan narkotika telah menjadi masalah global yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, diantaranya aspek kesehatan, ekonomi dan Menurut Undang-Undang No. 22 tahun 1997, narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menurunkan, menghilangkan dan Analisis Faktor dan Dampak Penylahgunaan Narkotika Serta Upaya Preventif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya Nasution et al. , 2. Narkotika bekerja dengan cara mempengaruhi neurotransmiter di otak, seperti dopamin yang berperan dalam mengatur rasa senang atau euforia. Ketika seseorang mengonsumsi narkotika, ekskresi dopamin akan meningkat secara berlebihan. Konsumsi narkotika berulang kali akan mengubah cara otak merespons dopamin, sehingga individu membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama. Kondisi ini yang kemudian disebut sebagai toleransi zat. Efek jangka panjang yang ditimbulkan akan menyebabkan adiksi atau ketergantungan terhadap obatobatan tersebut. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN). Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengatasi jumlah penyalahgunaan narkotika yang prevalensinya semakin tinggi dari tahun ke tahun. Narkotika merambah ke berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Sasaran peredarannya bukan lagi di tempat hiburan malam, namun juga ke berbagai daerah pemukiman, kampus bahkan ke sekolah-sekolah. Hal ini dapat terjadi karena komoditi narkotika memiliki banyak jenis, dari harganya yang paling mahal sesuai untuk kantong kalangan elite sampai harga terjangkau yang dapat dibeli oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi, penyalahguna narkotika relatif lebih mudah dalam mencari alternatif pengganti apabila dalam kondisi Mengutip dari laman BNN. Pada tahun 2022 kasus penyalahgunaan narkotika meningkat setiap tahunnya dan kasus tersebut tersebar di kalangan remaja (A. Nasution et al. , 2. BNN mencatat bahwa jumlah kelompok usia 10 hingga 19 tahun mendominasi 4 % atau setara dengan 1 juta orang. Jumlah individu yang menyalahgunakan narkotika sepanjang tahun 2023 mencapai 3. 3 juta orang. Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 300. 000 orang. Meski mengkhawatirkan karena penyebarannya di setiap daerah yang bersifat cepat dan masif. Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Jember merilis jumlah penyalahguna narkotika dari kalangan pelajar dan mahasiswa kabupaten Jember sebanyak 200 orang (Saleh et al. , 2. Data yang dirilis Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat bahwa narkotika telah merambah ke berbagai kalangan. Berdasarkan survei BNN, penyalahguna narkotika 695 didominasi oleh kalangan pelajar dan (Priambada, 2. Terbaru, dikutip dari laman Polrestabes Surabaya mengungkap adanya peredaran narkotika senilai Rp10,9 miliar yang mengancam nyawa sekitar 61 ribu jiwa. Dari kasus ini, 113 pelaku merupakan residivis, menunjukkan ancaman serius peredaran narkotika di Surabaya. Jumlah ini pun diperkirakan akan terus bertambah, belum lagi wilayah yang tidak tersentuh oleh aparat terkait yang berpotensi sebagai jalur perdagangan dan penyebaran narkotika. Penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja, menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan. Masa remaja merupakan fase perkembangan yang rentan terhadap pengaruh lingkungan, pergaulan, serta tekanan Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya faktor-faktor melatarbelakanginya perlu dianalisis lebih dalam guna menemukan solusi yang tepat untuk pencegahan dan Faktor-faktor yang penyebab individu terjerumus dalam narkotika diklasifikasikan menjadi dua faktor yaitu . faktor internal dan faktor eksternal (Pramesti et al. , 2. Faktor internal antara lain: . Keinginan tinggi untuk mencapai emosi positif yakni euforia atau kebahagiaan, . Memiliki kecenderungan mengikuti gaya tertentu, . Keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu, . Menghilangkan rasa jenuh dan berbagai kesulitan hidup seperti stres, . Kesalahan gagasan atau persepsi, . Kegagalan menanggung tekanan eksternal dari lingkungan sekitar. Sedangkan faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar individu seperti . kondisi lingkungan keluarga yang tidak aman dan kondusif, . kondisi lingkungan sekolah, . faktor teman sebaya. Faktor-faktor di atas sangat mempengaruhi kerentanan individu untuk menyalahgunakan narkotika terutama pada siswa SMP. Hal ini dipicu karena siswa SMP yang umumnya berada pada rentang usia 12-15 tahun, dimana pada usia ini merupakan fase perkembangan yang penuh dengan pencarian identitas, rasa ingin tahu yang tinggi, serta ketidakstabilan emosi. Tekanan dari teman sebaya dan keinginan untuk diterima dalam kelompok sering kali membuat mereka mudah terpengaruh untuk mencoba narkotika. Selain itu, kurangnya perhatian orang tua, pola asuh yang tidak efektif, serta lingkungan keluarga yang disfungsional dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan zat terlarang. Faktor eksternal seperti akses mudah terhadap narkotika, kurangnya pengawasan di sekolah, dan pengaruh lingkungan yang negatif semakin memperbesar peluang siswa SMP untuk terjerumus dalam penyalahgunaan Pendapat ini didukung dengan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan survei yang menunjukkan bahwa pelajar tingkat SMP/ MTs sederajat merupakan kelompok yang paling rentan terpapar narkoba, dengan proporsi sebesar 21,4% (Mulyani, 2. Di Surabaya sendiri dalam rentang tahun 2015-2016 Yayasan Hotline Surabaya melaporkan 000 kasus narkoba yang melibatkan pelajar Analisis Faktor dan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Serta Upaya Prevenitif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya SMP di Surabaya. Dalam beberapa sekolah, ditemukan satu kelas yang seluruh siswanya menjadi penyalahguna narkotika (Hakim, 2. Pada tahun 2022 Sebanyak 21 pelajar SMP di Surabaya terindikasi menggunakan narkotika jenis sabu dan pil koplo (LL). Temuan ini didapat saat tim penyuluh melakukan sosialisasi di beberapa sekolah SMP (SMCC, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab penyalahgunaan narkotika, dampak yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkotika pada siswa SMP terkhusus di SMPN 44 Surabaya yang berada di wilayah dengan paparan narkotika tinggi serta upaya preventif maupun kuratif yang dilakukan oleh Guru BK SMPN 44 Surabaya. Dengan memahami faktor penyebab, dampak yang timbul dan upaya yang telah dilakukan diharapkan dapat ditemukan strategi pencegahan yang lebih efektif serta intervensi yang tepat guna membantu siswa agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika. HASIL Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika di SMPN 44 Berdasarkan data yang diperoleh peneliti di SMPN 44 Surabaya, faktor-faktor yang dapat menyebabkan siswa menyalahgunakan narkotika dapat dipetakan menjadi faktor internal dan Faktor Internal antara lain : Ketidakstabilan Emosi pada Masa Remaja Awal Siswa berusia 13Ae15 tahun berada dalam tahap perkembangan remaja awal yang ditandai dengan perubahan hormonal dan pencarian identitas, sehingga emosi mereka cenderung fluktuatif dan rentan terhadap pengaruh negatif. Rendahnya Tingkat Emosi Positif Tingkat emosi positif yang rendah mengacu pada kurangnya merasakan emosi seperti kebahagiaan, optimisme, harapan serta cinta dan kasih sayang. Dengan kata lain, siswa lebih sering merasakan emosi negatif dan tidak memiliki kemampuan untuk mengelola emosi negatif tersebut. Selain itu, kurangnya keterampilan dalam membentuk koping adaptif untuk mengatasi emosi negatif yang timbul. Hal ini kemudian mendorong siswa untuk mencari alternatif pengganti emosi positif atau euforia yang didapat dari penyalahgunaan Rasa Solidaritas yang Tinggi Solidaritas yang kuat antar siswa dapat menjadi pedang bermata dua. di satu sisi positif, namun di sisi lain dapat menimbulkan rasa "sungkan" untuk menolak ajakan negatif, termasuk penggunaan narkotika. Sedangkan faktor eksternal antara lain : Lingkungan Keluarga yang Tidak Kondusif Banyak siswa berasal dari keluarga disfungsional yang menyebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian, sehingga mereka mencari pelarian atau kompensasi di luar rumah, termasuk melalui narkotika. Lingkungan Sosial dan Ekonomi Mayoritas siswa tumbuh di lingkungan padat karya dengan mindset bahwa "uang dapat diperoleh dengan cara apa saja", yang dapat menurunkan prioritas terhadap pendidikan dan meningkatkan risiko terlibat dalam perilaku METODE Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2. Sesuai dengan judul penelitian ini Au Analisis Faktor dan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Serta Upaya Preventif dan Kuratif di SMPN 44 SurabayaAy, berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pos positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono. Dari pernyataan tersebut, penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi objek secara alamiah tanpa manipulasi atau intervensi. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama yang mengumpulkan dan menginterpretasikan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu menggunakan berbagai sumber atau metode untuk meningkatkan validitas temuan. Analisis data bersifat induktif, di mana kesimpulan diperoleh berdasarkan pola dan makna yang muncul dari data lapangan, bukan berdasarkan teori yang sudah ada. Hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi, sehingga penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam tanpa berusaha mencari kesimpulan yang berlaku secara universal. Analisis Faktor dan Dampak Penylahgunaan Narkotika Serta Upaya Preventif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya Lingkungan dengan Tingkat Penyebaran Narkotika Tinggi SMPN 44 Surabaya berada pada lingkungan dengan tingkat penyebaran narkotika tingkat tinggi. Dimana di lingkungan tersebut sering dijadikan tempat bertransaksi narkotika dan masuk ke dalam zona merah penyebaran Penggunaan narkotika di lingkungan tersebut juga terkesan di normalisasi oleh masyarakat sekitar. Pengaruh Teman Sebaya Solidaritas tinggi dan interaksi sosial yang kuat antar siswa dapat mempermudah penggunaan narkotika, terutama jika ada tekanan untuk diterima dalam kelompok. Dampak Penyalahgunaan Narkotika di SMPN 44 Surabaya Penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa SMPN 44 Surabaya dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Berikut adalah analisis dampak tersebut: Dampak Akademik Adanya penurunan kehadiran siswa, yakni sering absen mengikuti kegiatan akademik di sekolah. Guru sering kali harus mengunjungi rumah siswa yang absen untuk menjemputnya ke sekolah. Selain itu, penurunan konsentrasi dan kemampuan belajar dikarenakan efek samping dari zat adiktif yang dikonsumsi. Dampak Emosional Adanya ketidakstabilan emosi pada usia 13-15 tahun, dimana siswa berada dalam tahap perkembangan remaja awal yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi akibat perubahan hormonal, pencarian identitas, dan tekanan dari lingkungan keluarga, teman, dan Siswa sering kali mengalami emosi yang fluktuatif yang berpengaruh terhadap Bahkan terhadap hal-hal kecil, siswa dapat merespons secara berlebihan, seperti pertengkaran maupun kegaduhan antar Konsumsi narkotika akan semakin membuat emosi siswa sangat fluktuatif dan cenderung bersikap impulsif dan overreact. Dampak Sosial Adanya pengaruh solidaritas dalam konotasi negatif di antara siswa menciptakan rasa "sungkan" untuk menolak ketika diajak meningkatkan tingkat penggunaan narkotika antar siswa. Dampak Keluarga dan Lingkungan Dampak yang timbul di lingkungan keluarga siswa adalah semakin memperparah kerenggangan hubungan siswa penyalahguna kepercayaan orang tua terhadap siswa, dan mendapat label buruk dari orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar. Upaya Pencegahan Penanggulangan Narkotika di SMPN 44 Surabaya SMPN 44 Surabaya telah melakukan berbagai upaya preventif dan kuratif untuk menangani isu penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa. Berikut adalah analisis mengenai upaya-upaya tersebut: Upaya Preventif Sosialisasi dan Penyuluhan Sekolah secara rutin mengadakan sosialisasi bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian Resor (POLRES) mengenai pencegahan penggunaan narkotika. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang bahaya narkotika dan langkah-langkah pencegahannya. Pengembangan Emosi Positif Kegiatan Ekstrakurikuler dan Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Sekolah menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan program P5 yang dirancang untuk mengembangkan emosi positif siswa. Program ini didampingi langsung oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK), sehingga siswa dapat menyalurkan energi dan minat mereka ke arah yang positif, mengurangi kemungkinan perilaku negatif penyalahgunaan narkotika. Fasilitas dan Pola Pembelajaran yang Mendukung Sekolah menyediakan fasilitas kelas yang memadai dan menerapkan pola pembelajaran yang berpusat pada siswa, mendukung perkembangan akademik dan emosional mereka. Lingkungan belajar yang positif dapat menjadi faktor protektif terhadap perilaku berisiko. Upaya Kuratif Pendekatan Personal oleh Guru BK Guru BK menerapkan pendekatan yang menjunjung tinggi kejujuran dan keterbukaan. Jika siswa melakukan kesalahan, guru BK lebih fokus pada memahami alasan di balik tindakan tersebut dan memberikan solusi, daripada Pendekatan ini menciptakan rasa Analisis Faktor dan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Serta Upaya Prevenitif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya percaya dan nyaman bagi siswa untuk berbagi masalah mereka, termasuk isu terkait narkotika. Kunjungan Rumah bagi Siswa yang Sering Absen Guru melakukan kunjungan ke rumah siswa yang sering absen untuk menanyakan kabar atau bahkan menjemput mereka ke sekolah. Tindakan ini menunjukkan perhatian dan kepedulian sekolah terhadap kesejahteraan siswa, serta mencegah mereka terjerumus ke dalam perilaku negatif akibat kurangnya pengawasan. Kerja Sama untuk Rehabilitasi Sekolah bekerja sama dengan BNN dan POLRES untuk rehabilitasi lebih lanjut bagi siswa yang terlibat dalam penyalahgunaan narkotika. Kolaborasi ini memastikan siswa mendapatkan bantuan profesional yang diperlukan untuk pemulihan mereka. Melalui kombinasi upaya preventif dan kuratif tersebut. SMPN 44 Surabaya berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi siswa, serta menanggulangi masalah penyalahgunaan narkotika secara efektif. sosial menimbulkan keinginan untuk diterima sehingga sulit menolak ajakan negatif menggunakan narkotika. Selanjutnya, terkait temuan mengenai rendahnya emosi positif pada siswa, sehingga kecenderungan merasakan emosi negatif lebih tinggi mengindikasikan adanya safety needs dan social needs yang tidak terpenuhi. Akibatnya, siswa menjadikan narkotika sebagai coping untuk memenuhi safety needs dan social needs dengan cara yang Hal ini sejalan dengan teori kebutuhan Maslow, bahwa ketika ada salah satu kebutuhan yang tidak terpenuhi maka seseorang cenderung mencari pemenuhan kebutuhan dengan berbagai alternatif meski dengan cara yang kurang tepat sekalipun (Santrock & W, 2. Dari berbagai temuan ini, peneliti menyarankan program intervensi yang cocok dengan permasalahan narkotika siswa di SMPN 44 Surabaya adalah program intervensi yang sifatnya komprehensif dan menjangkau kebutuhan siswa secara holistik atau menyeluruh. Selanjutnya pihak sekolah dapat melakukan evaluasi berkala untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan Melibatkan orang tua secara lebih aktif dalam anti-narkotika, kolaborasi dengan komunitas dan lembaga eksternal, serta fokus pada pembentukan keterampilan koping siswa yang dapat membantu mengurangi penyalahgunaan narkotika. Selain itu, pendekatan holistik terhadap penyelesaian berbagai konflik psikologis siswa dengan menyediakan jam khusus untuk BK, sehingga dapat melakukan layanan konseling yang lebih komprehensif dan mendorong partisipasi siswa dalam pengambilan keputusan terkait program pencegahan narkotika. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di SMPN 44 Surabaya, ditemukan bahwa penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa disebabkan oleh kombinasi faktor internal seperti ketidakstabilan emosi remaja, rendahnya tingkat emosi positif dan rasa solidaritas yang tinggi, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga yang disfungsional, kondisi sosial ekonomi, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan tempat tinggal yang berada di zona merah peredaran narkotika. Temuan ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta divalidasi dengan triangulasi data. Interpretasi terhadap temuan merupakan bentuk koping mal adaptif terhadap tekanan emosional dan sosial yang tidak tersalurkan dengan baik, serta dipengaruhi oleh pola hubungan sosial yang memaksa konformitas. Temuan dapat dikaitkan dengan teori yang ada di Bimbingan dan Konseling seperti teori perkembangan remaja milik Erick Erickson yakni identity vs rule confusion yang merupakan tahapan kelima dalam teori perkembangan Erickson. Remaja di fase ini mengalami kebingungan terkait identitas dirinya dan cenderung mengeksplorasi hal tersebut melalui berbagai aspek, salah satunya melalui hubungan dengan teman sebaya dan lingkungan sosialnya (Santrock & W, 2. Pada proses perkembangannya remaja yang berada dalam pencarian jati diri cenderung rentan terhadap pengaruh teman Selain itu, solidaritas yang tinggi dan tekanan PENUTUP Simpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMPN 44 Surabaya, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Upaya preventif dan kuratif yang telah dilakukan oleh pihak sekolah, terutama Guru Bimbingan dan Konseling (BK), mencakup sosialisasi, pengembangan kegiatan positif, pendekatan personal, dan kerja sama dengan instansi terkait. Saran Berdasarkan hasil penelitian, berikut beberapa Saran untuk Guru BK : Peningkatan Layanan Informasi Secara rutin memberikan layanan informasi tentang bahaya narkotika kepada siswa melalui sesi bimbingan Analisis Faktor dan Dampak Penylahgunaan Narkotika Serta Upaya Preventif dan Kuratif di SMPN 44 Surabaya Pengembangan Program Khusus Menerapkan program khusus untuk mengatasi penyalahgunaan narkotika di kalangan siswa, seperti melakukan tes narkoba pada calon siswa baru. Kerja Sama dengan Orang Tua Meningkatkan komunikasi dan kerja sama dengan orang tua siswa untuk memantau dan membimbing perilaku siswa di luar sekolah. Peningkatan Kompetensi Mengikuti pelatihan dan workshop terkait pencegahan dan penanganan penyalahgunaan narkotika untuk meningkatkan kompetensi dalam memberikan layanan konseling yang efektif. Pencegahannya. Ilmiah Permas, 12. , 355Ae368. Priambada. Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja. 1Ae5. Saleh. Rokhmah. , & Nafikadini. Napza. Jurnal Pustaka Kesehatan, 2. , 468Ae475. Santrock, & W. Educational psychology. Boston : McGraw-Hill. Sugiyono. SMCC Surabaya, . Penyalahgunaan Peredaran Narkotika 2018. Survey Penyalahgunaan Dan Peredaran Narkotika. Nasution. Azzahra. Sari. , & Abdurrahman. PENYALAHGUNAAN KALANGAN REMAJA FENOMENA NARKOBA BERDASARKAN TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK DI KOTA MEDAN. Communnity Penelitian Pendekatan Mahasiswa P4GN UNESA SMPN Kolaborasi Surabaya: Wujudkan Generasi Muda Anti Narkoba. , . 000 Kasus Narkoba Kalangan Pelajar SMP di Survey Sosialisasi DAFTAR PUSTAKA