Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum Universitas Wahid Hasyim Semarang1 . Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga2 . Universitas Negeri Yogyakarta3 anaqnada970@gmail. com, sumarni. suka05@gmail. com, faridahanum@uny. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Madrasah Ibtidaiyah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal di Indonesia melalui pendekatan Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan Islam dasar tidak hanya memberikan pendidikan akademis, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga identitas religius dan sosial siswa. Di tengah arus globalisasi yang kuat, madrasah ini menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisi keagamaan lokal seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan dzikir bersama yang semakin tergeser oleh budaya modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk mengeksplorasi berbagai strategi yang diterapkan oleh madrasah dalam mengintegrasikan nilai tradisi ke dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis tradisi di Madrasah Ibtidaiyah berkontribusi signifikan dalam membentuk identitas keagamaan siswa dan memperkuat kohesi sosial di komunitas. Studi ini menyoroti pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran yang relevan untuk menjaga kelangsungan tradisi keagamaan lokal di era modernisasi. Kata kunci : Madrasah Ibtidaiyah. Tradisi Keagamaan. Sosioantropologi PENDAHULUAN Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan Islam dasar memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter religius yang kuat. Peran ini semakin esensial di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa pengaruh sosial dan budaya yang semakin modern. Dalam konteks Indonesia, yang memiliki beragam tradisi dan budaya lokal erat kaitannya dengan nilai keagamaan. Madrasah Ibtidaiyah berfungsi sebagai garda terdepan dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal (Saleh, 2. Tradisi ini tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga bagian dari identitas sosial yang membentuk pola pikir dan perilaku individu dalam komunitas. Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 Sosioantropologi pendidikan melihat pendidikan sebagai media untuk mentransmisikan nilai budaya dan agama kepada generasi muda (Mansurnoor, 1. Melalui pengajaran yang berbasis nilai tradisi. Madrasah Ibtidaiyah membantu memperkuat identitas religius dan sosial siswa. Terkait dengan teori budaya dan transmisi nilai. Geertz . menekankan pentingnya lembaga pendidikan dalam memelihara keseimbangan antara pendidikan agama formal dan pelestarian nilai lokal di tengah Madrasah Ibtidaiyah menghadapi tantangan dalam menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan lokal di tengah pengaruh budaya global yang semakin kuat. Tradisi keagamaan lokal seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan dzikir bersama mulai mengalami pergeseran nilai akibat masuknya budaya luar (Abdullah, . Oleh karena itu, salah satu solusi yang diterapkan oleh Madrasah Ibtidaiyah adalah dengan memasukkan elemen tradisi ke dalam kurikulum pendidikan agama. Strategi ini tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman agama yang lebih mendalam kepada siswa, tetapi juga menjaga agar tradisi keagamaan lokal tetap relevan dan diteruskan kepada generasi berikutnya (Azhari. Putri, & Asbari, 2. Pendekatan yang diterapkan Madrasah Ibtidaiyah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal mencakup kegiatan ekstrakurikuler berbasis agama, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat dalam praktik ritual dan tradisi lokal (Kementerian Agama RI, 2. Guru di madrasah juga berperan sebagai agen budaya yang mengajarkan dan menghidupkan tradisi keagamaan melalui kegiatan seperti perayaan hari besar Islam atau dzikir bersama. Hal ini membantu memperkuat ikatan sosial dan religius di kalangan siswa dan komunitas madrasah (Luthfi, 2. Beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pelestarian tradisi budaya dan agama (Haryono, 2. Studi ini menunjukkan bahwa pengajaran agama berbasis tradisi lokal efektif dalam membentuk karakter religius siswa sekaligus menjaga keberlanjutan nilai budaya di tengah masyarakat yang semakin Namun, penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan dalam metode pembelajaran yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini, yang kemudian menjadi fokus kajian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Madrasah Ibtidaiyah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal melalui pendekatan pendidikan berbasis Studi ini menawarkan kontribusi baru dalam memahami bagaimana lembaga pendidikan Islam dasar dapat menghadapi tantangan globalisasi melalui integrasi nilai tradisi dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler. Cakupan studi meliputi analisis terhadap strategi yang digunakan oleh Madrasah Ibtidaiyah untuk menjaga relevansi tradisi keagamaan lokal di era modern, dengan mempertimbangkan Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 perspektif sosioantropologi dan transmisi budaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. yang bertujuan untuk memahami peran Madrasah Ibtidaiyah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi dan menganalisis literatur yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan dokumen resmi yang membahas hubungan antara pendidikan agama, tradisi keagamaan lokal, dan transmisi budaya. Dalam penelitian ini, berbagai sumber akademik yang membahas sosioantropologi pendidikan dan pelestarian budaya lokal melalui institusi pendidikan Islam menjadi bahan analisis utama. Metode ini relevan untuk menggali secara mendalam fenomena sosial budaya yang telah menjadi fokus berbagai penelitian akademis. Pengumpulan data dilakukan dengan menelaah berbagai sumber pustaka dari perpustakaan, jurnal bereputasi, dan laporan yang diterbitkan oleh lembaga resmi Teknik analisis isi digunakan untuk mengidentifikasi tema kunci, seperti peran Madrasah Ibtidaiyah dalam transmisi budaya dan strategi yang diterapkan untuk melestarikan tradisi keagamaan lokal di tengah modernisasi. Teknik ini memungkinkan peneliti menghubungkan data empiris dengan teori transmisi budaya yang relevan, seperti teori Clifford Geertz mengenai sistem makna budaya dan teori strukturalfungsionalisme Talcott Parsons terkait peran pendidikan dalam menjaga stabilitas sosial. Pendekatan ini diharapkan memberikan wawasan yang komprehensif tentang bagaimana madrasah memainkan peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan budaya di masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan Konsep Dasar Sosioantropologi Pendidikan Sosioantropologi pendidikan adalah kajian yang menempatkan pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi interaksi di dalam Melalui pendekatan sosioantropologi, pendidikan dipahami sebagai institusi yang tidak hanya memberikan pengetahuan formal, tetapi juga sebagai medium bagi masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai budaya, norma, dan identitas sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya (Geertz, 1. Pendidikan, dalam hal ini, tidak terlepas dari lingkungan sosial di mana ia beroperasi, sehingga setiap tindakan dan interaksi di dalamnya mencerminkan budaya dan struktur sosial yang ada di masyarakat. Dalam perspektif sosioantropologi, pendidikan diakui memiliki dua fungsi utama, yaitu Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 fungsi reproduksi sosial dan fungsi transformasi sosial. Fungsi reproduksi sosial merujuk pada bagaimana pendidikan berperan dalam mempertahankan struktur sosial yang sudah ada, dengan mentransmisikan norma, nilai, dan praktik budaya kepada generasi muda. Di sisi lain, fungsi transformasi sosial menjelaskan bagaimana pendidikan dapat menjadi agen perubahan, yang memungkinkan adanya pergeseran sosial melalui inovasi pendidikan dan pemahaman baru tentang budaya dan masyarakat (Adib & Nada, 2. Kedua fungsi ini menunjukkan pentingnya memahami pendidikan dari kacamata sosioantropologi karena pendidikan tidak sekadar menjadi tempat belajar-mengajar, tetapi juga tempat berlangsungnya proses sosial yang kompleks. Salah satu teori yang relevan dalam memahami sosioantropologi pendidikan adalah teori struktural-fungsionalisme yang dikemukakan oleh Talcott Parsons. Parsons memandang masyarakat sebagai sistem sosial yang terdiri dari berbagai bagian yang saling berhubungan, di mana setiap bagian memiliki fungsi tertentu untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan sistem sosial tersebut. Dalam konteks pendidikan, madrasah atau sekolah berfungsi sebagai agen sosialisasi yang membantu individu untuk memahami peran sosial mereka di dalam masyarakat. Pendidikan mengajarkan norma dan nilai yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial serta mempersiapkan siswa untuk menjalani peran sosial di masa depan (Abdullah, . Menurut Parsons, pendidikan memiliki peran penting dalam proses sosialisasi primer dan sekunder. Sosialisasi primer terjadi pada usia dini, di mana anak-anak belajar norma dan nilai dasar dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan dasar melanjutkan proses ini dengan mengajarkan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Sosialisasi sekunder, yang berlangsung di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, lebih berfokus pada spesialisasi peran sosial yang akan diambil oleh individu di masyarakat. Pendidikan di sini membantu siswa untuk memahami struktur sosial yang lebih kompleks dan mempersiapkan mereka untuk berperan dalam berbagai institusi sosial (Abdullah, 2. Fungsi pendidikan menurut Parsons adalah untuk memastikan bahwa setiap individu dapat memainkan perannya dengan baik dalam struktur masyarakat yang lebih Pendidikan membantu menginternalisasikan nilai-nilai seperti ketaatan, disiplin, dan kerja sama, yang diperlukan untuk menjaga kohesi sosial. Dalam konteks Madrasah Ibtidaiyah, nilai-nilai agama dan tradisi lokal yang diajarkan bertujuan untuk menciptakan harmoni sosial dan memperkuat identitas keagamaan siswa. Pendidikan agama menjadi salah satu alat utama untuk menjaga integritas sosial, terutama dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia (Geertz, 1. Clifford Geertz, seorang antropolog terkenal, menawarkan perspektif yang Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 sangat berpengaruh dalam memahami hubungan antara pendidikan dan transmisi Dalam karyanya The Interpretation of Cultures. Geertz menjelaskan bahwa budaya adalah sistem makna yang dibangun oleh manusia melalui simbol-simbol yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya tidak hanya terdiri dari praktik dan tradisi, tetapi juga dari simbol-simbol yang memberi makna pada tindakan manusia. Pendidikan dalam hal ini berfungsi sebagai sarana untuk mentransmisikan simbolsimbol budaya tersebut kepada generasi berikutnya (Geertz, 1. Geertz menekankan bahwa transmisi budaya melalui pendidikan adalah proses yang tidak hanya terjadi dalam kelas, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial yang diadakan di lingkungan pendidikan. Di Madrasah Ibtidaiyah, tradisi keagamaan lokal seperti Maulid Nabi, dzikir bersama, atau peringatan hari besar Islam menjadi salah satu cara utama untuk mentransmisikan budaya agama kepada siswa. Melalui kegiatankegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang ajaran agama secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik keagamaan yang merupakan bagian dari identitas budaya mereka (Geertz, 1. Pendidikan dalam perspektif Geertz adalah proses penciptaan makna, di mana simbol-simbol budaya dipelajari, dipahami, dan diinternalisasi oleh individu. Dalam konteks Madrasah Ibtidaiyah, simbol-simbol keagamaan seperti kitab suci, doa, dan ritual menjadi pusat dari proses pendidikan. Melalui pendidikan agama, madrasah membantu siswa untuk memahami simbol-simbol ini dan bagaimana mereka relevan dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini tidak hanya memperkuat identitas keagamaan siswa, tetapi juga menjaga kelangsungan tradisi keagamaan lokal. Selain itu. Geertz juga menekankan bahwa pendidikan berperan dalam membentuk identitas kolektif masyarakat. Identitas kolektif ini terbentuk melalui interaksi sosial yang terjadi di lembaga pendidikan, di mana siswa belajar untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Di Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan agama dan tradisi lokal yang diajarkan membantu siswa untuk merasa menjadi bagian dari komunitas keagamaan dan budaya tertentu. Identitas kolektif ini penting untuk menjaga kohesi sosial dan memastikan bahwa tradisi dan nilai-nilai budaya dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya. Dalam kajian sosioantropologi pendidikan, hubungan antara pendidikan dan budaya dipandang sebagai sesuatu yang saling terkait erat. Pendidikan bukan hanya media untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga sarana untuk melestarikan Proses ini terjadi melalui berbagai mekanisme, baik formal maupun informal. Di Madrasah Ibtidaiyah, pendidikan agama formal menjadi media utama untuk melestarikan tradisi keagamaan lokal. Melalui kurikulum yang dirancang untuk mengajarkan ajaran agama dan tradisi budaya, madrasah membantu menjaga agar Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 tradisi tersebut tetap hidup di tengah-tengah masyarakat (Haryono, 2. Tradisi Keagamaan Lokal Tradisi keagamaan lokal merupakan praktik-praktik keagamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas dan mencerminkan kepercayaan serta nilai-nilai agama yang diintegrasikan dengan budaya lokal. Tradisi ini bisa berupa ritual, upacara, perayaan hari besar keagamaan, atau praktik keagamaan sehari-hari yang khas dalam suatu kelompok masyarakat. Di Indonesia, tradisi keagamaan lokal sangat beragam, mencerminkan keragaman etnis, bahasa, dan kebudayaan yang berbaur dengan ajaran agama Islam. Tradisi-tradisi seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan kenduri adalah contoh dari bagaimana agama dan budaya lokal menyatu menjadi bagian penting dari identitas keagamaan masyarakat (Gafur. Rusli. Mardiyah. Anica, & Mungafif. Dalam konteks sosioantropologi, tradisi keagamaan lokal tidak hanya dilihat sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai simbol budaya yang membantu membentuk identitas sosial suatu kelompok. Clifford Geertz . menekankan bahwa tradisitradisi ini mencerminkan Auweb of meaningsAy . aring makn. yang memberi makna bagi tindakan sosial dan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi keagamaan lokal berfungsi untuk mempertahankan nilai-nilai moral, memperkuat ikatan sosial, serta menjadi sarana transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pewarisan tradisi keagamaan lokal biasanya dilakukan melalui proses sosialisasi yang berlangsung dalam keluarga, komunitas, dan lembaga-lembaga sosial keagamaan seperti masjid dan madrasah. Dalam keluarga, anak-anak belajar nilai-nilai dan praktik keagamaan melalui orang tua mereka. Tradisi seperti membaca doa, merayakan hari besar Islam, dan mengikuti upacara-upacara keagamaan mulai dikenalkan sejak usia Di tingkat komunitas, tradisi keagamaan lokal sering kali diwariskan melalui perayaan bersama seperti perayaan Maulid Nabi atau tahlilan, di mana seluruh anggota masyarakat terlibat (Saleh, 2. Pewarisan tradisi ini tidak terlepas dari konteks budaya di mana tradisi tersebut Sebagai contoh, di daerah Jawa, perayaan tradisi keagamaan lokal sering kali dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Hindu-Buddha yang masih tersisa. Dalam konteks ini, tradisi keagamaan lokal menjadi medium di mana budaya dan agama berinteraksi dan menciptakan identitas sosial yang unik. Pewarisan ini juga dilakukan secara kolektif melalui ritual dan upacara bersama yang melibatkan seluruh anggota komunitas, sehingga memastikan keberlanjutan tradisi tersebut di masa depan (Husain & Fathiyah, 2. Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 Peran Madrasah Ibtidaiyah dalam Melestarikan Tradisi Keagamaan Lokal Madrasah Ibtidaiyah memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal melalui integrasi tradisi tersebut ke dalam kurikulum pembelajaran Salah satu bentuk tradisi yang sering kali disesuaikan dalam pembelajaran agama di madrasah adalah perayaan Maulid Nabi. Perayaan ini, yang menghormati kelahiran Nabi Muhammad, telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Islam di banyak daerah di Indonesia. Di Madrasah Ibtidaiyah. Maulid Nabi diajarkan tidak hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai perayaan yang diikuti dengan kegiatankegiatan keagamaan seperti pembacaan shalawat dan ceramah yang mengingatkan siswa akan teladan Nabi Muhammad. Hal ini tidak hanya memperdalam pemahaman agama siswa, tetapi juga menanamkan rasa cinta kepada Nabi melalui praktik yang sudah menjadi tradisi di komunitas mereka (Azhari. Putri, & Asbari, 2. Selain Maulid Nabi, peringatan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha juga diajarkan dengan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai lokal. Madrasah Ibtidaiyah sering kali mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan siswa dalam pelaksanaan tradisi ini, seperti penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha atau kegiatan takbir bersama sebelum Idul Fitri. Dengan melibatkan siswa dalam tradisi ini, madrasah tidak hanya mengajarkan aspek ritual dari agama, tetapi juga memperkenalkan mereka pada pentingnya menjaga tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad (Abdullah, . Selain peringatan hari besar Islam, madrasah juga sering kali mengadakan dzikir bersama yang menjadi bagian dari praktik keagamaan di masyarakat setempat. Dzikir bersama biasanya diadakan pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah shalat berjamaah atau saat memperingati hari-hari penting dalam kalender Islam. Kegiatan ini mengajarkan siswa untuk membiasakan diri dengan ritual dzikir, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai ketenangan jiwa, penguatan spiritual, dan persatuan komunitas dalam kebersamaan beribadah. Keterlibatan komunitas madrasah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Komunitas madrasah, yang terdiri dari guru, siswa, dan orang tua, memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjalankan tradisi keagamaan. Guru, sebagai agen pendidikan, bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai agama yang berkaitan dengan tradisi tersebut. Guru juga menjadi pemimpin dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan oleh madrasah, seperti perayaan Maulid Nabi atau dzikir Melalui peran ini, guru tidak hanya mendidik siswa secara teoritis, tetapi juga secara praktis mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam tradisi yang berlangsung di masyarakat (Adib & Nada, 2. Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 Siswa, sebagai bagian utama dari komunitas madrasah, juga terlibat secara aktif dalam pelaksanaan tradisi keagamaan. Partisipasi siswa dalam kegiatan keagamaan yang diselenggarakan madrasah, seperti tahlilan atau peringatan hari besar Islam, tidak hanya memperkuat pemahaman agama mereka, tetapi juga mempererat ikatan sosial di antara mereka. Tradisi keagamaan lokal ini menjadi sarana untuk mengajarkan nilainilai seperti kerja sama, kebersamaan, dan penghormatan terhadap agama dan budaya (Direktorat Pendidikan Agama Islam, 2. Selain guru dan siswa, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung pelestarian tradisi keagamaan lokal melalui madrasah. Dalam banyak kasus, orang tua ikut serta dalam kegiatan yang diadakan oleh madrasah, seperti pengajian atau perayaan hari besar Islam. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan ini tidak hanya membantu memperkuat hubungan antara madrasah dan keluarga, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai tradisi yang diajarkan di madrasah sejalan dengan yang diterapkan di rumah. Dengan demikian, proses pendidikan agama menjadi lebih holistik, di mana siswa tidak hanya belajar di madrasah, tetapi juga mendapatkan dukungan dari keluarga mereka untuk terus melestarikan tradisi keagamaan lokal (Haryono, 2. Untuk menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan lokal, madrasah menggunakan berbagai strategi pendidikan yang memungkinkan tradisi tersebut tetap relevan di tengah perubahan zaman. Salah satu strategi utama adalah dengan mengintegrasikan tradisi keagamaan lokal ke dalam kurikulum pendidikan. Tradisi seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan kenduri tidak hanya diajarkan sebagai bagian dari sejarah agama, tetapi juga dipraktikkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di madrasah. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengetahui tradisi ini dari buku, tetapi juga mengalaminya secara langsung (Geertz, 1. Madrasah juga menggunakan pendekatan partisipatif dalam melibatkan siswa dalam pelaksanaan tradisi keagamaan lokal. Siswa diajak untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan yang diadakan oleh madrasah, seperti menjadi panitia dalam perayaan hari besar Islam atau memimpin dzikir bersama. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung, yang tidak hanya memperkuat pemahaman agama mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka (Kementerian Agama RI. Selain itu, madrasah juga berupaya untuk mengembangkan inovasi dalam pendidikan agama, agar tradisi keagamaan lokal tetap relevan bagi generasi muda di era Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan informasi tentang tradisi keagamaan lokal. Misalnya, madrasah dapat menggunakan media sosial atau platform digital lainnya untuk Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 membagikan video atau artikel yang menjelaskan tentang tradisi keagamaan lokal dan pentingnya melestarikannya. Dengan cara ini, siswa yang lebih terbiasa dengan teknologi modern dapat tetap terhubung dengan tradisi-tradisi keagamaan mereka, meskipun dalam format yang lebih sesuai dengan zaman (Adib & Nada, 2. Dampak Sosial Budaya Pelestarian tradisi keagamaan lokal melalui lembaga pendidikan seperti Madrasah Ibtidaiyah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan identitas sosial siswa. Tradisi keagamaan lokal seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan dzikir bersama tidak hanya menjadi sarana spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme sosialisasi yang membantu siswa memahami peran mereka dalam komunitas agama dan Ketika siswa terlibat dalam praktik-praktik tradisi keagamaan ini, mereka tidak hanya belajar tentang ajaran agama, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai sosial yang melekat pada tradisi tersebut. Hal ini membantu membentuk identitas mereka sebagai anggota komunitas yang menghargai tradisi dan budaya lokal (Abdullah, . Sebagai contoh, perayaan Maulid Nabi yang diadakan di madrasah tidak hanya mengajarkan siswa tentang pentingnya kelahiran Nabi Muhammad dalam konteks agama, tetapi juga memperkenalkan mereka pada simbol-simbol budaya yang terlibat dalam perayaan tersebut, seperti musik religi, pembacaan shalawat, dan kebersamaan komunitas dalam merayakan hari besar Islam. Identitas sosial siswa terbentuk melalui partisipasi dalam kegiatan ini, yang memperkuat rasa memiliki terhadap agama dan budaya mereka (Direktorat Pendidikan Agama Islam, 2. Melalui tradisi-tradisi keagamaan lokal, siswa belajar untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Identitas sosial yang terbentuk melalui pendidikan agama dan tradisi ini tidak hanya berbasis pada ajaran agama Islam, tetapi juga pada norma-norma sosial yang tercipta dari praktik-praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, madrasah berperan penting dalam membentuk identitas siswa yang tidak hanya religius, tetapi juga berakar pada budaya lokal mereka (Saleh, 2. Selain membentuk identitas sosial siswa, pelestarian tradisi keagamaan lokal melalui madrasah juga berperan dalam memperkuat kohesi sosial di lingkungan Madrasah berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial keagamaan yang melibatkan tidak hanya siswa, tetapi juga guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Dengan mengadakan perayaan hari besar Islam, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya, madrasah menciptakan ruang di mana anggota komunitas dapat berkumpul dan Kegiatan-kegiatan ini membantu memperkuat ikatan sosial di antara anggota komunitas, karena mereka bersama-sama melaksanakan tradisi yang telah Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 diwariskan oleh generasi sebelumnya (Geertz, 1. Kohesi sosial ini diperkuat melalui partisipasi kolektif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh madrasah. Sebagai contoh, saat perayaan Maulid Nabi atau kegiatan tahlilan, masyarakat sekitar sering kali ikut terlibat dengan memberikan sumbangan atau turut hadir dalam acara tersebut. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota komunitas, yang pada akhirnya memperkuat hubungan sosial mereka. Madrasah, dalam hal ini, berfungsi sebagai penghubung yang menjaga hubungan harmonis antara agama dan budaya, serta antara individu dan komunitas (Abdullah. Peran madrasah dalam memperkuat kohesi sosial juga terlihat dari keterlibatan orang tua dan guru dalam mendukung pendidikan agama dan tradisi. Guru tidak hanya mengajarkan materi ajaran agama di kelas, tetapi juga memimpin kegiatan keagamaan yang melibatkan siswa dan orang tua. Orang tua juga sering kali dilibatkan dalam berbagai kegiatan keagamaan yang diadakan oleh madrasah, seperti pengajian bersama atau perayaan hari besar Islam. Keterlibatan ini menciptakan sinergi antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah, yang pada akhirnya memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat. Meskipun peran madrasah dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal sangat penting, ada sejumlah tantangan yang dihadapi, terutama di era modernisasi dan Salah satu tantangan terbesar adalah adanya pergeseran nilai di kalangan generasi muda yang lebih tertarik pada budaya global daripada budaya lokal. Globalisasi telah membawa pengaruh besar terhadap cara pandang dan gaya hidup siswa, yang sering kali lebih cenderung mengikuti tren global dibandingkan dengan mempertahankan tradisi lokal yang diwariskan oleh generasi sebelumnya (Haryono. Dalam konteks ini, madrasah menghadapi tantangan untuk menjaga relevansi tradisi keagamaan lokal di tengah-tengah perubahan zaman. Siswa yang lebih terpapar pada teknologi dan media sosial mungkin merasa bahwa tradisi-tradisi keagamaan lokal kurang relevan dengan kehidupan modern mereka. Hal ini menimbulkan risiko bahwa tradisi keagamaan lokal dapat tergerus oleh pengaruh budaya global yang lebih Oleh karena itu, madrasah perlu menemukan cara-cara inovatif untuk memperkenalkan tradisi keagamaan lokal dengan cara yang lebih menarik dan relevan bagi generasi muda (Geertz, 1. Selain itu, modernisasi juga membawa tantangan dalam hal metode Dalam banyak kasus, metode tradisional yang digunakan untuk mengajarkan ajaran agama dan tradisi mungkin tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi siswa di era modern. Siswa yang terbiasa dengan teknologi mungkin merasa Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 kurang tertarik pada metode pembelajaran yang konvensional, yang berfokus pada ceramah dan hafalan. Oleh karena itu, madrasah perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menemukan cara-cara baru untuk mengajarkan tradisi keagamaan lokal melalui media yang lebih sesuai dengan gaya belajar siswa masa kini (Adib & Nada, 2. Untuk menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi, madrasah perlu mengadopsi strategi adaptasi yang memungkinkan tradisi keagamaan lokal tetap hidup dan relevan di era modern. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Misalnya, madrasah dapat menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi tentang tradisi keagamaan lokal, atau memanfaatkan video dan konten interaktif untuk mengajarkan siswa tentang sejarah dan makna dari tradisi-tradisi tersebut. Dengan cara ini, siswa yang lebih terbiasa dengan teknologi modern dapat tetap terhubung dengan tradisi mereka (Saleh, 2. SIMPULAN Madrasah Ibtidaiyah memainkan peran yang sangat penting dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal di Indonesia, melalui pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan ajaran agama Islam dengan nilai-nilai budaya setempat. Dengan mengajarkan tradisi seperti Maulid Nabi, tahlilan, dan dzikir bersama, madrasah tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan agama, tetapi juga membantu mereka memahami dan menghargai identitas sosial dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Proses ini memperkuat identitas religius siswa dan memastikan bahwa nilai-nilai tradisi keagamaan lokal tetap relevan dan dilestarikan di tengah masyarakat . Pelestarian tradisi keagamaan lokal yang dilakukan melalui madrasah juga berkontribusi dalam memperkuat kohesi sosial di lingkungan komunitas. Keterlibatan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan bersama menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat sosial yang memperkuat ikatan antara agama dan budaya di tengah masyarakat . Ana Quthratun Nada. Sri Sumarni. Farida Hanum/ Madrasah Ibtidaiyah sebagai Penjaga Tradisi: Telaah Sosioantropologis terhadap Warisan Keagamaan Lokal Vol. 3 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 3021-8497 Namun, tantangan modernisasi dan globalisasi memaksa madrasah untuk terus berinovasi dalam melestarikan tradisi keagamaan lokal. Madrasah perlu mengintegrasikan teknologi dan metode pembelajaran yang lebih relevan bagi generasi muda agar tradisi keagamaan tetap dapat diterima dan dipraktikkan. Kolaborasi antara madrasah, tokoh masyarakat, serta keluarga juga menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa tradisi-tradisi ini tetap hidup di era yang terus Dengan demikian, madrasah tetap menjadi penjaga nilai-nilai tradisi keagamaan lokal yang sangat berharga bagi identitas sosial dan budaya masyarakat . DAFTAR PUSTAKA