e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 5 (No. : Halaman: 97-105 Pengaruh Kegiatan Menganyam Terhadap Motorik Halus Pada Anak Sekolah Paud Di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang The Effect of Weaving Activities on Fine Motor Skills in Preschool Children at KB Darul Falah. Karangbendo Village. Lumajang Herlin Yuniarti1* & Widia Shofa Ilmiah2 1*,2 Prodi Sarjana Kebidanan dan Pendifikan Profesi Bidan. ITSK RS dr. Soepraoen Malang. Indonesia Disubmit: 09 Juli 2025. Diproses: 09 Juli 2025. Diaccept: 30 Juli 2025. Dipublish: 30 Juli 2025 *Corresponding author: E-mail: yuniartiherlin12@gmail. Abstrak Perkembangan motorik halus pada anak usia dini sangat penting sebagai dasar keterampilan fungsional anak di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan menganyam terhadap motorik halus pada anak PAUD di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design two group pretest-posttest dengan pemberian intervensi kegiatan menganyam selama 10 hari. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 30 anak, dan seluruh populasi dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner tes Denver II, dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar anak berada pada kategori Belum Berkembang (BB) sebanyak 10 anak . ,3%). Mulai Berkembang (MB) 14 anak . ,7%), dan Sesuai Harapan (BSH) 6 anak . %). Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan dengan 66,7% anak mencapai kategori Sangat Baik (BSB). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z sebesar -5,108 dengan p = 0,000 . < 0,. , menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Kegiatan menganyam terbukti efektif sebagai metode stimulasi motorik halus pada anak PAUD. Kata Kunci: Menganyam. Motorik Halus. Anak PAUD Abstract Fine motor development in early childhood is very important as a foundation for children's functional skills in the future. This study aims to determine the effect of weaving activities on fine motor skills in PAUD children at KB Darul Falah. Karangbendo Village. Lumajang. The research design used was a preexperimental design, two groups pretest-posttest, with the provision of weaving activities intervention for 10 days. The population in this study was 30 children, and the entire population was sampled using a total sampling technique. The instrument used was the Denver II test questionnaire, and data analysis used the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results of the analysis showed that before the intervention, most children were in the Not Yet Developing (BB) category as many as 10 children . 3%). Beginning to Develop (MB) 14 children . 7%), and As Expected (BSH) 6 children . %). After the intervention, there was a significant increase with 66. 7% of children reaching the Very Good (BSB) category. The Wilcoxon test results showed a Z value of -5. 108 with p = 0. < 0. , indicating a significant difference before and after the intervention. Weaving activities have proven effective as a method of fine motor stimulation in early childhood education (PAUD) children. Keywords: Weaving. Fine Motor Skills. Preschool Children DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Yuniarti. H & Ilmiah. WS. Pengaruh Kegiatan Menganyam Terhadap Motorik Halus Pada Anak Sekolah Paud Di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES), 5 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Perkembangan motorik halus pada anak usia dini merupakan fondasi kritis kehidupan sehari-hari, seperti menulis, menggambar, dan aktivitas koordinasi tangan-mata (Nofianti et al. , 2. Studi prasekolah di negara berkembang mengalami keterlambatan motorik halus, yang berpotensi memengaruhi kesiapan sekolah (Muarifah & Rohmadheny, 2. Dalam konteks kebidanan, bidan memegang peran strategis melalui pendampingan tumbuh kembang anak, termasuk deteksi dini dan intervensi stimulasi (Daulay & Nurmainah, 2. Kegiatan menganyam, sebagai bentuk terapi okupasi tradisional, dilaporkan mampu meningkatkan ketepatan gerak . recision gri. dan koordinasi visualmotorik pada anak menjadikannya relevan untuk dikaji sebagai intervensi berbasis kearifan lokal. Secara global (Meriyati, 2. WHO . mencatat bahwa 18% anak usia 3Ae5 tahun mengalami developmental delay dalam domain motorik halus, dengan prevalensi tertinggi di wilayah dengan akses terbatas pada alat stimulasi modern. Di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2. menemukan 15,2% anak PAUD memiliki keterampilan motorik halus di bawah standar, terutama di daerah pedesaan dengan fasilitas terbatas. Data Dinas Kesehatan Jawa Timur menyebutkan Lumajang termasuk wilayah dengan cakupan stimulasi tumbuh kembang anak hanya 65%, di bawah ratarata provinsi . %), sehingga diperlukan solusi berbasis sumber daya lokal. Faktor lingkungan seperti minimnya sarana permainan edukatif di PAUD pedesaan berkontribusi pada rendahnya stimulasi motorik halus (Mukminin & Darlina. Di KB Darul Falah, observasi awal menunjukkan 40% anak kesulitan memegang pensil dengan benar, indikator klasik gangguan motorik halus (Anggraini. Dewi, & Maryamah, 2. Selain itu, orang tua cenderung fokus pada aspek kognitif ketimbang motorik, mengabaikan permainan tradisional seperti menganyam yang sebenarnya kaya manfaat (Imamah & Mufidah, 2. Intervensi berbasis aktivitas tangan, meningkatkan dexterity . elincahan jar. pada anak prasekolah melalui repetisi gerakan yang terstruktur (Damayanti & , 2. Studi oleh Anggraini, . PAUD peningkatan 30% kemampuan motorik halus setelah 8 sesih intervensi Dalam praktik kebidanan, pendekatan ini sejalan dengan model family-centered care yang melibatkan orang tua dalam terapi berbasis budaya (Haryati & Kusumaningrum, 2. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik meneliti "Pengaruh Kegiatan Menganyam Terhadap Motorik Halus pada Anak Sekolah PAUD di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang". METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kuantitatif dengan desain preeksperimental berupa two group pretestposttest design. Desain ini bertujuan untuk mengukur pengaruh kegiatan menganyam yang dilakukan selama 10 hari terhadap perkembangan motorik halus anak. Prosedur penelitian meliputi e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes pre-test, intervensi . egiatan menganya. , dan diakhiri dengan post-test untuk menilai perubahan yang terjadi. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh anak usia PAUD di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Kabupaten Lumajang, yang berjumlah 15 anak. Mengingat jumlah populasi yang relatif kecil, teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga seluruh populasi dilibatkan sebagai sampel penelitian. Instrumen pengumpulan data adalah kuesioner Denver II, yang berfungsi untuk menilai perkembangan motorik halus anak sebelum . re-tes. dan sesudah . Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan tes motorik halus dengan menggunakan Denver II. Observasi dilakukan dalam dua tahap, yaitu sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan menganyam selama 10 hari. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon untuk membandingkan skor perkembangan motorik halus anak antara pre-test dan post-test, dengan tingkat signifikansi () 0,05. Pengolahan menggunakan program SPSS versi 25. Usia (Tahu. 2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun Total Berdasarkan data yang diperoleh, distribusi usia anak di KB Darul Falah menunjukkan variasi yang seimbang dengan mayoritas anak berada pada rentang usia 3 tahun . ,0%). Kelompok usia termuda . dan tertua . masing-masing berjumlah 6 anak . ,0%) dan 7 anak . ,3%), sementara usia 4 tahun mencakup 8 anak . ,7%). Secara menggambarkan bahwa sebagian besar anak . ,7%) berada dalam rentang usia 3-4 tahun, yang merupakan fase kritis perkembangan motorik halus. Tabel 2. Distribusi jenis kelamin Anak di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Berdasarkan data yang diperoleh, komposisi jenis kelamin peserta didik di KB Darul Falah menunjukkan distribusi yang cukup seimbang dengan dominasi laki-laki. Secara rinci, jumlah anak lakilaki mencapai 16 orang atau 53,3% dari perempuan berjumlah 14 orang atau 46,7%. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden meliputi usia, tingkat pendidikan, dan paritas. Data ini penting untuk memberikan gambaran umum mengenai profil responden di kelompok intervensi di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Tabel 3. Distribusi keterampilan Anak di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Tabel 1. Distribusi Usia Anak di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Keterampilan Anak Baik Cukup Total e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Data keterampilan awal anak di KB Darul Falah mayoritas peserta didik telah memiliki dasar keterampilan yang baik sebelum mengikuti intervensi. Sebanyak 22 anak atau 73,3% dari total populasi masuk dalam kategori "baik", sementara 8 anak atau 26,7% berada pada kategori "cukup". Tidak terdapat anak yang masuk dalam Distribusi mengindikasikan bahwa sebagian besar anak telah memiliki modal dasar yang keterampilan motorik halus lebih lanjut melalui kegiatan menganyam. diberikan intervensi menganyam. Data mengungkapkan bahwa 80% anak . ombinasi kategori BB dan MB) belum mencapai tingkat perkembangan yang diharapkan, dengan rincian 10 anak . ,3%) berada dalam kategori Belum Berkembang (BB) dan 14 anak . ,7%) dalam kategori Mulai Berkembang (MB). Hanya 6 anak . %) yang telah mencapai tahap Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Tabel 5. Distribusi Kategori Motorik Halus setelah diberikan Kegiatan Menganyam di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Kategori Motorik Halus BSH (Sesuai Harapa. BSB (Sangat Bai. Total Tabel 4. Distribusi Kategori Motorik Halus sebelum diberikan Kegiatan Menganyam di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Kategori Motorik Halus BB (Belum Berkemban. MB (Mulai Berkemban. BSH (Sesuai Harapa. Total Hasil evaluasi pasca intervensi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perkembangan motorik halus peserta didik. Sebanyak 20 anak . ,7%) telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), sementara 10 anak . ,3%) berada pada level Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Hasil asesmen awal kemampuan motorik halus menunjukkan bahwa sebagian besar anak masih berada dalam tahap perkembangan awal sebelum Tabel 6. Tabel silang antara Motorik Halus sebelum dan setelah diberikan Kegiatan Menganyam di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Post Pre BB (Belum Berkemban. MB (Mulai Berkemban. BSH (Sesuai Harapa. Total BSH (Sesuai Harapa. 33,3% 0,0% 0,0% 33,3% Berdasarkan hasil analisis tabel diberikan kegiatan menganyam, sebagian besar anak berada pada kategori Belum Berkembang (BB) sebanyak 10 anak BSB (Sangat Bai. 0,0% 46,7% 20,0% 66,7% Total 33,3% 46,7% 20,0% 100,0% ,3%). Mulai Berkembang (MB) sebanyak 14 anak . ,7%), dan Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 6 anak . %). Setelah diberikan intervensi kegiatan e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes kemampuan motorik halus anak secara Seluruh anak yang sebelumnya berada pada kategori Mulai Berkembang (MB) dan Sesuai Harapan (BSH) mengalami peningkatan ke kategori Sangat Baik (BSB), masing-masing sebanyak 14 anak . ,7%) dan 6 anak . %). Sementara itu, anak-anak yang sebelumnya berada pada kategori Belum Berkembang (BB) tetap berada di kategori Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 10 anak . ,3%) tanpa ada yang langsung naik ke kategori Sangat Baik (BSB). Secara keseluruhan, setelah diberikan kegiatan persentase anak yang mencapai kategori perkembangan optimal yaitu Sangat Baik (BSB) 66,7%. Hasil menganyam memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan motorik halus anak di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Dengan kata lain, kegiatan menganyam secara statistik terbukti memberikan pengaruh yang bermakna motorik halus anak PAUD di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test, diperoleh nilai Z sebesar -5,108 dengan nilai signifikansi p = 0,000. Nilai signifikansi ini jauh di bawah tingkat signifikansi yang ditetapkan ( = 0,. , yang berarti bahwa hipotesis nol (HCA) ditolak, dan hipotesis alternatif (HCA) Artinya, ada perbedaan yang signifikan antara skor motorik halus sebelum dan sesudah diberikan intervensi kegiatan menganyam. Nilai Z yang negatif menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor setelah intervensi, di mana skor setelah diberikan kegiatan menganyam lebih tinggi dibandingkan sebelum Dengan kata lain, setelah anakanak mengikuti kegiatan menganyam secara rutin, kemampuan motorik halus mereka mengalami peningkatan yang Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan menganyam efektif dalam merangsang dan memperbaiki koordinasi motorik halus anak-anak usia dini. Hal ini sesuai dengan prinsip perkembangan motorik anak, di mana aktivitas yang melibatkan gerakan jari, koordinasi matatangan, dan keterampilan manipulatif secara berulang akan memperkuat kontrol keterampilan fungsional anak, seperti menggenggam, mencubit, menjepit, dan perkembangan anak PAUD. Tabel 7. Analisis Pengaruh Kegiatan Menganyam Terhadap Motorik Halus pada Anak Sekolah PAUD di KB Darul Falah. Desa Karangbendo. Lumajang Test Statisticsa post - pre -5,108b Asymp. Sig. ,000 Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test, diperoleh nilai Z sebesar -5,108 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. sebesar 0,000. Nilai signifikansi ini jauh lebih kecil dari batas = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran motorik halus sebelum e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Menganyam adalah aktivitas yang membutuhkan koordinasi antara mata dan tangan. Saat anak menganyam, mereka harus memperhatikan pola dan menggerakkan tangan secara tepat untuk memasukkan bahan anyaman, seperti kertas atau tali, ke tempat yang sesuai (Rohmah, 2. Hal ini melatih ketelitian serta meningkatkan kemampuan visualmotorik, yang sangat penting untuk perkembangan keterampilan menulis, menggambar, dan aktivitas halus lainnya. Kemampuan ini menjadi fondasi awal bagi anak sebelum melatih aspek motorik halus yang lebih kompleks, seperti menguatkan otot jari (Suryani, 2. Proses menganyam melibatkan mengatur anyaman dengan jari-jari Aktivitas memperkuat otot-otot kecil di tangan dan jari, yang merupakan komponen utama motorik halus (Hasnawati & Brantasari. Setelah koordinasi mata dan tangan terbentuk, penguatan otot jari melalui anyaman akan semakin optimal, sehingga anak memiliki kontrol yang lebih baik dalam melakukan tugas-tugas seperti memegang pensil, menggunting, atau mengancingkan baju. Kekuatan otot ini juga mendukung ketelitian anak dalam menyelesaikan anyaman dengan rapi (Wahyu, 2. Menganyam konsentrasi dan ketelitian karena anak harus mengikuti langkah-langkah tertentu agar hasil anyaman rapi. Kekuatan otot jari yang sudah terlatih memudahkan anak dalam mengontrol gerakan tangan secara presisi (Maulida, 2. Proses ini melatih kesabaran serta kemampuan anak untuk fokus pada detail-detail kecil. Keterampilan ini tidak hanya bermanfaat untuk motorik halus, tetapi juga Ketelitian ini kemudian dapat diaplikasikan dalam aktivitas kreatif seperti menciptakan pola anyaman yang unik (Winda & Nuraini, 2. Selain melatih motorik halus, menganyam juga merangsang kreativitas Dengan dasar ketelitian dan kontrol motorik yang baik, mereka dapat bereksperimen dengan berbagai warna, pola, dan bahan anyaman untuk menciptakan karya unik (Padilah & Rachmawati. Aktivitas mendorong ekspresi diri sekaligus melatih jari-jari memanipulasi bahan yang berbeda tekstur, seperti kertas, benang, atau daun Kreativitas ini akan semakin meningkatnya rasa percaya diri anak (Afandi, 2. Ketika menyelesaikan anyaman, mereka akan merasa bangga dengan pencapaiannya. Hasil kreativitas yang terwujud melalui anyaman memperkuat keyakinan mereka terhadap kemampuan motorik halus yang dimiliki (Andriyani & Indhra, 2. Hal ini meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi untuk mencoba keterampilan lain yang membutuhkan ketepatan motorik halus (Muarifah & Nurkhasanah. Selain itu, menganyam juga dapat menjadi media terapi untuk anak yang membutuhkan latihan khusus dalam seperti anak dengan disgrafia atau gangguan koordinasi motorik. Dengan demikian, proses menganyam menjadi sebuah siklus yang saling memperkuat e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes antara keterampilan motorik, kognitif, dan emosional anak (Yunita, 2. Berdasarkan peneliti berasumsi bahwa kegiatan menganyam merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Asumsi ini didukung oleh bukti statistik yang kuat melalui uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan nilai Z = -3,626 dan tingkat signifikansi 0,000, yang menunjukkan kemampuan motorik halus anak sebelum dan sesudah intervensi. Temuan ini diperkuat dengan konsistensi peningkatan pada hampir seluruh partisipan, dimana hasil post-test secara konsisten lebih baik dibanding pre-test. Lebih jauh, aktivitas menganyam tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan motorik halus melalui pelatihan koordinasi mata-tangan dan mendukung aspek kognitif seperti konsentrasi dan pemecahan masalah, peningkatan kreativitas dan kepercayaan Efektivitas intervensi yang tercapai dalam waktu relatif singkat . ini menunjukkan bahwa menganyam dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran yang praktis dan terstruktur dalam kurikulum pendidikan anak usia dini, sekaligus berpotensi sebagai terapi pendukung bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam pengembangan keterampilan motorik halus. Analisis statistik dengan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan hasil yang sangat signifikan (Z = - 5,108. p = 0,. , kemampuan motorik halus setelah intervensi menganyam bukanlah suatu DAFTAR PUSTAKA