Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Haqiqah dan Majaz dalam Kaitanya dengan TaAowil Abu Nasir Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 197801022009011001@uin-suka. ABSTRACT One of the problems in the study of haqiqah and majaz involves the field of language and In the field of Arabic language and literature studies, there is a branch of science, called Balaghoh Science, whose topic of study is haqiqah and majaz as written in this article. Balaghoh science is one of the tools to comprehensively understand the Qur'an. Al-Hadith. Arabic texts or expressions, both from the perspective of lafadz and its meaning. In addition, this science is also closely related to other sciences, including ushul fiqh, tafsir, hadith, tasawwuf, and so on. Understanding haqiqah and majaz is very important in understanding Arabic texts and expressions, especially understanding the Qur'an and Al-Hadith. In Quranic studies, the concepts of haqiqah and majaz are closely related to the issue of ta'wil. Basically, haqiqi expressions do not require ta'wil, while majazi expressions require ta'wil, which is the transfer of outer meaning to inner meaning, namely the meaning behind the apparent, based on rational justifications, taking into account the context and linguistic rules. The writing in this article uses qualitative research methods with a literature study approach. The sources of data for this paper are taken from books, books, and other sources related to the discussion. This article tries to discuss briefly about haqiqah and majaz in relation to ta'wil. Therefore, some of the discussions review: the concept of haqiqah, majaz, and ta'wil. classification of haqiqah. classification of majaz. and majaz in the problem of ta'wil. and haqiqah-majaz and ta'wil, between bayani and 'irfani. Keywords: Haqiqah. Majaz. Ta'wil. Quran. Bayani. BurhaniAo 'Irfani ABSTRAK Problematika dalam kajian haqiqah dan majaz salah satu bahasannya melibatkan bidang kajian bahasa dan sastra. Dalam ranah kajian bahasa dan sastra Arab, terdapat satu cabang ilmu, bernama Ilmu Balaghoh, yang topik kajiannya tentang haqiqah dan majaz sebagaimana yang ditulis dalam artikel ini. Ilmu Balaghoh merupakan salah satu alat untuk memahami Al-QurAoan. Al-Hadits, teks atau ungkapan berbahasa Arab secara komprehensif, baik perspektif lafadz, maupun maknanya. Selain itu, ilmu ini juga sangat terkait dengan ilmuilmu lain, di antaranya ushul fiqih, tafsir, hadits, tasawwuf, dan lain sebagainya. Pemahaman tentang haqiqah dan majaz sangat penting dalam memahami teks-teks dan ungkapan bahasa Arab, terlebih memahami Al-QurAoan dan Al-Hadist. Dalam studi Al-Quran, konsep haqiqah dan majaz berkaitan erat dengan masalah taAowil. Pada dasarnya ungkapan-ungkapan haqiqi tidak membutuhkan taAowil, sementara ungkapan-ungkapan majazi membutuhkan taAowil, yaitu pengalihan makna lahiriah ke makna batiniah, yaitu makna di balik yang zahir, berdasarkan pembenaran-pembenaran yang rasional, dengan mempertimbangkan konteks dan kaidah Tulisan dalam artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Sumber data tulisan ini diambil dari kitab, buku, dan sumber lainnya yang berkaitan dengan pembahasan. Artikel ini mencoba membahas secara ringkas tentang haqiqah dan majaz dalam kaitannya dengan taAowil. Oleh karena itu, beberapa 1655 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. pembahasan mengulas tentang: konsep haqiqah, majaz, dan taAowil. klasifikasi haqiqah. klasifikasi majaz. haqiqah dan majaz dalam masalah taAowil. dan haqiqah-majaz dan taAowil, antara bayani dan Aoirfani. Kata kunci: Haqiqah. Majaz. TaAowil. Al-Quran. Bayani. Burhani. AoIrfani PENDAHULUAN Haqiqah dan majaz adalah dua entitas berbeda, yang salah satunya tidak dapat dimasukkan ke dalam yang lain . Keduanya digambarkan sebagai realitas yang kontradiktif dan digunakan untuk menunjukkan sikap ganda dalam penggunaan pengucapan . Haqiqah adalah kata yang menunjuk pada makna aslinya atau makna sebenarnya, sedangkan majaz adalah kata yang tidak menunjuk pada makna aslinya atau makna sebenarnya. Dalam studi Al-Quran, konsep haqiqah dan majaz berkaitan erat dengan masalah taAowil. Sementara ungkapan-ungkapan haqiqi tidak memerlukan taAowil, sedangkan ungkapan-ungkapan majazi memerlukan taAowil, yaitu pengalihan makna lahiriah ke makna batiniah, yaitu makna di balik yang zahir, berdasarkan pembenaran-pembenaran yang rasional, dengan mempertimbangkan konteks kebahasaan dan kaidah-kaidah kebahasaan. TaAowil melibatkan argumentasi logis, disebabkan suatu lafal tidak menunjuk kepada maknanya dengan dirinya sendiri karena dijadikan sarana untuk berfikir sehingga ia mempunyai makna. Tujuan dari pendekatan haqiqi dan majazi adalah untuk memahami pesan universal Al-Qur'an. Pendekatan ini memperlakukan masalah makna tidak hanya sebagai gaya bahasa yang memperindah ekspresi, tetapi sebagai cara untuk mengekspresikan pemahaman konseptual yang abstrak dalam representasi fisik yang konkret, dalam bentuk kata-kata, kalimat atau wacana wacana. Ketika gagasan yang sangat kompleks diekspresikan dalam bentuk bahasa, maka keterbatasan bahasa muncul karena terbatasnya fungsi bahasa. Sebaliknya, gagasan . yang diungkapkan dalam bentuk bahasa, baik tertulis maupun lisan, dapat memiliki penafsiran dan pemahaman yang berbeda. Hal ini disebabkan karena pemahaman terhadap suatu teks dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar teks. Makna itu sendiri sebenarnya berada dalam gagasan pembicara . emberi pesa. dan lawan bicara . enerima pesa. Peran bahasa, baik dalam bentuk simbolsimbol seperti huruf maupun bunyi, hanyalah sebagai alat. Dengan kata lain, persoalan haqiqah-majaz dan taAowil adalah upaya untuk menemukan makna yang tersembunyi di balik lafal . Adapun makna kata dengan makna haqiqah, tidak ada perselisihan tentang keberadaannya dalam Al-Qur'an. Kata-kata seperti itu paling banyak ditemukan dalam Al-Qur'an. Adapun makna kata dengan makna majazi, keberadaannya dalam Al-Qur'an masih diperselisihkan di kalangan ulama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa kata tersebut dalam arti majazi ditemukan dalam Al-Qur'an. Namun, beberapa Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. , 8. 1656 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Mazhab Dzahiriyyah. Ibnu Qais dari SyafiAoiyyah. Ibnu Khuwaiz Mindad dari Malikiyyah, dan sebagainya tidak mengakui keberadaannya dalam Al-Quran. Perbedaan ini juga berpengaruh pada masalah taAowil. Ada juga yang menolak adanya majaz bayani . namun menerima adanya majaz irfani, yang berujung pada taAowil . erubahan makna lahir menjadi makna bati. Persoalan di atas dapat diperjelas secara lebih rinci dengan beberapa pertanyaan berikut: Pertama, apa sebenarnya konsep haqiqah, majaz, dan taAowil itu? Kedua, bagaimana peran konsep haqiqah dan majaz dalam persoalan taAowil? Ketiga, bagaimana konsep haqiqah-majaz dan taAowil antara bayani dan Aoirfani? Oleh karena itu, artikel ini akan mencoba membahas persoalan-persoalan di atas secara ringkas dan jelas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kepustakaan, melalui pencarian bahan penelitian dari beberapa sumber seperti artikel ilmiah, buku, serta kitab lainnya yang dapat dijadikan referensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Beberapa ulama telah mendefiniskan konsep di atas. Secara etimologis, haqiqah berasal dari kata A cnAyang berarti tetap. Kata ini bisa berarti subjek . a'i. yang berarti tetap atau objek . af'u. yang berarti 'tetap' (A ocon O = ueo cAatau = Acn OA A)uenA. Majaz secara bahasa berarti melewati suatu tempat, namun bentuk kata ini adalah masdar mim dari kata jaza-yajuzu (A)a Ae A. 2 Menurut Ahmad al-Hasyimi, majaz secara etimologis itu dari kata jaza-yajuzu (A )a Ae Ayang mempunyai arti Aumelewati sesuatuAy. Arti AumelewatiAy dari kata jaza itu menunjukkan bahwa majaz adalah makna yang melewati dari kata 3 Dalam studi gaya bahasa Arab modern, konsep majaz digunakan oleh para sarjana klasik sebagai lawan kata dari istilah haqiqah. Sebagai sebuah istilah, haqiqah adalah pengucapan yang digunakan sesuai dengan asalnya untuk tujuan tertentu. Sebagai contoh, kata "kursi" pada mulanya digunakan untuk tempat tertentu yang memiliki sandaran dan kaki, namun saat ini kata "kursi" juga bisa berarti kekuasaan, namun ini bukan tujuan awal dari kata kursi, melainkan tempat duduk. Majaz, di sisi lain, adalah pengucapan yang digunakan untuk menjelaskan pengucapan selain makna yang diungkapkan dalam teks atau nash karena mirip atau A AAU. 5 UA ua UIA:A )ccOAUA Aa UI eaiAUAUaEa oOaA2 A AAU(A Uuoei UiA:A eai UUa OeaI OeO )ccOAUA saA3 Akhmad Muzakki, dan Syuhadak. Bahasa Dan Sastra dalam al-QurAoan (Malang: UIN Malang Press, 2. , 72 Amir Syarifudin. Ushul Fiqih. Jilid 2, cet. V (Jakarta: Kencana, 2. , 363. 1657 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. terkait dengan maksud yang terkandung dalam teks. 6 Misalnya, kata "kursi" berarti kekuasaan, dan dalam ungkapan An Ea U eA, kata A Atidak memiliki arti umum . ejenis binatang buas, sejenis singa atau maca. , tetapi berarti orang yang Salah satu ahli teori sastra dan ahli bahasa adalah Ibnu Jinny yang juga memberikan definisi kata majaz. Sebagaimana penafsiran para ahli lainnya. Ibnu Jinny tidak jauh berbeda dalam hal ini, ia menghadirkan haqiqah sebagai kebalikan dari majaz. Ibnu Jinny menyatakan: "Makna veritatif . adalah makna dari setiap kata yang diletakkan atau dibawa pada kata tersebut, sedangkan majaz adalah kebalikannya, yaitu setiap kata yang maknanya berpindah dari satu hal ke hal lain". Menurutnya, majaz berarti ittisa' . erluasan makn. , ta'kid . dan tasybih . Ibnu Jinny berkata: A a uaI cAc o Oua oO aa OaeUaE u UA:Aooi a aac e oUaE U OU e ai Oa A O a Oou OoeA:Aooi UasI uuiA Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa haqiqah adalah kata yang merujuk pada makna aslinya atau makna sebenarnya, yaitu makna dari setiap kata yang dibawa atau yang melekat padanya, sedangkan majaz adalah kata yang tidak merujuk pada makna aslinya atau makna sebenarnya dan maknanya telah bergeser ke makna lain. Di sisi lain, secara etimologi kata ta'wil adalah A' OEAmembalikkan' atau AuaiA 'menyelidiki'. Dari definisi pertama ini, dapat dipahami bahwa ta'wil, yang berasal dari wazan taf'il, berarti 'melipatgandakan' dan ta'diyyah . enjadikan kata kerja Oleh karena itu, definisi ini mengembalikan makna suatu pernyataan kepada makna lain yang lebih tepat, atau makna ayat-ayat mutashabihat kepada makna yang terkandung dalam ayat-ayat muhkamat melalui perenungan dan evaluasi yang berulang-ulang . untuk memastikan bahwa makna yang dipilih adalah 8 Ibnu Manzur dalam kamusnya Lisanul Arab memberikan dua definisi untuk ta'wil. Yang pertama, taAowil adalah pemindahan dari satu makna ke makna lain dari makna asalnya, sebab terdapat dalil yang mengindikasikan bahwa makna-makna tersebut berbeda. Yang kedua, taAowil adalah sinonim dari tafsir. 9 Sementara Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya al-Mustasyfa min AoIlmil Ushul menyatakan taAowil adalah ungkapan yang mengambil makna lafaz muhtamal . engandung makna gand. yang didukung oleh dalil dan menjadikannya lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafaz lahir. Miftahul Arifin dan A. Faisal Haq. Ushul Fiqih: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, cet. Ke-I (Surabaya: Citra Media, 1. , 175. A AAU. 3 UA UaC uoaA:A )ccOAUA UaUAUA c io UuaI c aA7 Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. A AAU. AAoA AUA ccOAUA aI U ) aAUA a c uI c OA9 U. 8 UA ccOAUA Uoi U E ) uoa UiAUA c a a c a c a c acEA10 a 1658 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Berkenaan dengan sebutannya sebagai haqiqah, para ulama telah mengkategorikannya menjadi beberapa bentuk11: Haqiqah Lugawiyah (A)ooi aiA AiI oU ea OO e aiA Artinya: "lafadz yang digunakan di tempat aslinya dalam bahasa. Sebagai contoh, shalat yang pada dasarnya adalah doa dalam suatu bahasa, maka ia dimaknai seperti itu menurut pendapat ahli bahasa. Haqiqah Syar'iyah (A )ooi UiAadalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat . embuat huku. , yaitu: A iI oU e U UaA Artinya: AuLafadz yang digunakan dalam arti yang ditunjukkan oleh syara'Ay Sebagai contoh, kata shalat digunakan untuk tindakan tertentu yang terdiri dari tindakan dan kata yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan Arti shalat menurut asal bahasa adalah doAoa. Haqiqah 'Urfiyah Khashshah (A)ooi Uei aiA, yaitu yang ditentukan oleh tradisi lingkungan tertentu, yaitu: A iI oU e U Ue aA E U aUi Oaei A Artinya: "Lafazh yang digunakan dalam arti tertentu sesuai dengan tradisi penggunaan oleh suatu kelompok atau golongan darinya. " Seperti istilah lafaz ijmaAo yang berlaku di kalangan ahli fiqih. Haqiqah Urfiyah AoAmmah yang telah ditetapkan oleh kebiasaan dan adat secara umum (A)Uei Uai ooiA. A iI oU e U Ue UaIA Artinya: "lafaz tersebut digunakan dalam arti sesuai dengan kebiasaan Jika pergeseran makna tersebut disebabkan oleh 'urf, maka disebut dengan haqiqah Aourfiyah. Sebagai contoh, kata (A )ciApada mulanya digunakan untuk semua makhluk yang berkeliaran di bumi, termasuk manusia dan hewan. Namun, menurut tradisi ahli bahasa ('ur. , kata tersebut digunakan untuk hewan berkaki empat. Ini berarti bahwa makna pertama dihindari. Manfaat mengetahui bahwa haqiqah terbagi menjadi tiga jenis adalah setiap kata dapat didekatkan kepada makna aslinya pada tempat yang sesuai dengan Dengan kata lain, dalam penggunaan ahli bahasa, lafadz dapat diarahkan ke Haqiqah Lughawiyah, dalam penggunaan syariat diarahkan Haqiqah Syari'ah, dan dalam penggunaan ahli Aourf diarahkan ke Haqiqah AoUrfiyah. Mengenai kehujjahan Haqiqah, para ulama sepakat bahwa lafadz tersebut harus digunakan sesuai dengan makna yang sebenarnya, baik lafadz tersebut secara A AAU. 1:A aIAUA E U E )uuiAUA c a UuA11 1659 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. bahasa, syar'i maupun Aourf, selagi tidak ada indikasi yang menjauhkanya dari makna Jenis-jenis majaz yang disebutkan oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily adalah sebagai berikut12: Pertama. Majaz Lughawi (A)a aOA, yaitu penggunaan kata sebagai pengganti makna harfiah karena tuntutan bahasa. Sebagai contoh, kata AuasadAy yang berarti harimau digunakan dalam arti 'orang yang berani'. Menurut Utsaimin, jika majaz tersebut berupa gambaran, maka disebut majaz Isti'arah (A)oUaA. Isti'arah . eminjam kata lai. adalah bentuk majaz yang paling umum. Kedua. Majaz Sharih (A)a A, adalah penggunaan kata yang tidak sesuai dengan makna aslinya karena adanya dalil syar'i. Misalnya, penggunaan kata shalat . ang pada mulanya berarti do. dalam arti 'ibadah tertentu'. Ketiga. Majaz 'Urfi Khas (A)a Ue a, adalah Penggunaan lafaz bukan pada makna aslinya karena tuntutan tradisi tertentu. Misalnya, menggunakan lafal AaEA, yang berarti 'perubahan', untuk menilai apakah kondisi seseorang itu baik atau Keempat. Majaz 'Urfi 'Aam (A)a Ue UaIA, adalah penggunaan lafaz karena tuntutan adat kebiasaan yang berlaku secara umum . , bukan karena makna Hal ini seperti penggunaan lafaz A ciAyang berarti binatang dalam arti 'orang Di sisi lain. Profesor Amir Syarifuddin, dalam bukunya, menyatakan sebagai berikut tentang bentuk majaz. Pertama. Penambahan kata sesuai dengan bentuk aslinya. Misalnya, penambahan kata A EApada firman Allah surat Asy Syuro ayat 11 (A") uu A. Kedua. Pengurangan/penghilangan pada struktur kata aslinya. Sebagai contoh, firman Allah dalam surat Yusuf ayat 82 A( OU oiATanyakanlah kepada penduduk kampung it. Menghilangkan kata A( Apendudu. Ketiga. Dalam arti meletakkan di depan atau di belakang atau 'mengubah posisi kata'. Misalnya, firman Allah dalam surat an-Nisaa ayat 11. e A aca a Asi aA a Aa caeUa aOA AAu aeO aesASesudah mengeluarkan wasiatnya dan membayar hutangnyaAy. Maksud sebenarnya Ausesudah membayar hutang dan mengeluarkan wasiatnyaAy. Keempat. Meminjam kata lain atau istiAoarah. Misalnya, menamai sesuatu dengan meminjam kata lain, seperti menamai si A yang 'pemberani' dengan sebutan 'singa'. Sebagaimana contoh dalam ungkapan An Ea U eA. AuSaya melihat Sang Pemberani berorasi di atas mimbarAy Munculnya problematika taAowil sebenarnya terkait dengan problem bahasa . dan makna. Ketika ide yang sangat kompleks diungkapkan dalam bentuk bahasa, maka muncullah keterbatasan bahasa karena keterbatasan fungsi bahasa itu sendiri. Sebaliknya, gagasan . yang diungkapkan dalam bentuk bahasa, baik tertulis maupun lisan, dapat memiliki penafsiran dan pemahaman yang 293-294 . A AAU. 6 A iuuAUA E io )nAUA Oei A12 Amir Syarifudin. Ushul Fiqih. Jilid 2, cet. V (Jakarta: Kencana, 2. , 29. 1660 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Hal ini disebabkan karena pemahaman terhadap suatu teks dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar teks. Makna itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran pembicara . emberi pesa. dan lawan bicara . enerima pesa. Peran bahasa, baik dalam bentuk simbol-simbol seperti huruf maupun bunyi, hanyalah sebagai alat bantu. Dengan kata lain, persoalan haqiqah-majaz dan taAowil adalah upaya mencari makna yang tersembunyi di balik lafal . Secara historis, setidaknya ada tiga kelompok yang memposisikan majaz bertentangan dengan haqiqah. Ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, kelompok Mutazilah, yang secara dogmatis menekankan majaz. Kedua. Zahiriyyah, kelompok yang menafikan keberadaan majaz baik dalam bahasa secara keseluruhan maupun dalam al-Qur'an, dan karenanya kelompok ini menolak taAowil. Ketiga, kelompok yang menerima keberadaan majaz dengan syarat-syarat tertentu dan ketentuan yang ketat. Perbedaan pendapat mengenai keberadaan majaz dalam al-Qur'an adalah perbedaan analisis dan kesimpulan mengenai asal usul bahasa. Kelompok Mutazilah meyakini bahwa bahasa adalah ciptaan dan kekuatan manusia. Sedangkan kelompok Zahiriyyah percaya bahwa bahasa adalah karunia Allah. Aliran AsyAoariyyah, di sisi lain, berpendapat bahwa bahasa adalah ciptaan manusia, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Allah berperan dalam menganugerahkan bakat kepada manusia. 16 Perbedaan pandangan mengenai asal-usul bahasa ini berpengaruh pada wacana bahasa dalam Al-Qur'an, termasuk keberadaan majaz dan taAowil. Menurut ulama yang berpendapat bahwa tidak ada majaz dalam Al-Qur'an, majaz identik dengan dusta dan kebohongan, yaitu penyimpangan dari makna. Majaz digunakan karena ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa haqiqah, dan ketidakmampuan ini mustahil bagi Allah. Hal ini sebagaimana pernyataan Muhammad Hadi MaAorifah berikut ini. A Oca uaI u uAUA ci I o e uI a U ooiAUAui a oE c a e oIA A O oAUA OAa eOI ou UE ooi u a u u aC c aE eoUAUA u C oA AU eaA Al-Zarkasyi, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Hadi MaAorifah, menyatakan bahwa ada kelompok-kelompok yang mengingkari keberadaan Majaz dalam Al-Qur'an, yaitu Ibnu al-Qass . 335 H), salah seorang ulamaAo SyafiAoiyah. Dawud az-Zahiri . 270 H), salah satu imam sekte Zahiriyah, dan putranya. Amir Syarifudin. Ushul Fiqih. Jilid 2, cet. V (Jakarta: Kencana, 2. , 105. Nur Kholis Setiawan. Al-QurAoan Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2. Nur Kholis Setiawan. Al-QurAoan Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2. , 181-182. aoA yo U oaI OaA Ua cIOI oEO OUo Ioic OA:A oEO aoe Ua OAAUA a aO UeiA17 A AAU(A IA2006 UAO UaU ooa ci Ua iAoA A:A )EIAUAOsEoaA 1661 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Muhammad . 297 H). Abu Muslim al-Asfahani . 370 H), seorang Mu'tazilah, dan Ibnu Hurayiz Mindad . 400 H), seorang ulama Malikiyyah, dan sebagainya. Pandangan lain yang mengatakan bahwa tidak ada majaz dalam Al-Qur'an adalah sebagai berikut: Jika makna majaz adalah menggunakan kata yang diciptakan untuk makna yang tidak diciptakan, maka masalahnya adalah makna kata tersebut telah dikembangkan sedemikian rupa, misalnya makna kata A aaUCAadalah tempat yang sunyi, tetapi makna haqiqi adalah tempat buang air besar. Pembedaan pengucapan menjadi haqiqi dan majazi juga tidak dikenal pada masa para sahabat dan tabi'in, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim. Selain pandangan-pandangan di atas. Ibnu 'Arabi, salah satu sufi, menyangkal adanya majaz . dalam Al-Qur'an. Majaz di sini membutuhkan taAowil untuk mengetahui makna kebenarannya, namun ia menerima adanya makna eksternal dan internal, yang oleh Dr. Sukamta disebut sebagai majaz 'irfani. Berdasarkan berbagai pandangan di atas, dapat dikutip beberapa alasan para ulama yang menolak keberadaan majaz dalam Al-Qur'an sebagai berikut 21: Majaz identik dengan kebatilan, karena merupakan penyimpangan makna, yaitu penggunaan lafal untuk makna yang berbeda dengan makna yang dimaksudkan. Majaz identik dengan ketidakmampuan. Majaz digunakan karena ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa kebenaran, dan ketidakmampuan ini mustahil bagi Allah. Makna lafal berkembang sedemikian rupa, terkadang kata yang pada awalnya digunakan untuk makna majazi, lama kelamaan dianggap arti haqiqi, begitu juga Maka hal ini akan menyebabkan kerancuan antara majaz dan haqiqah. Pembagian pengucapan menjadi haqiqah dan majaz tidak dikenal pada masa sahabat dan tabi'in. Majaz dan haqiqah tidak ada dalam Al-Qur'an, tetapi Al-Qur'an mengakui adanya makna lahir dan batin. Oleh karena itu, kelompok ulama yang mengingkari adanya majaz dalam bahasa dan al-Qur'an secara keseluruhan mengingkari adanya taAowil, khususnya taAowil bayani . emindahan makna dari makna asal ke makna bar. Hal ini karena ada yang menolak adanya majaz bayani, namun menerima adanya majaz irfani, yang berujung pada taAowil irfani . emindahan makna dari makna lahir ke makna bati. Haqiqah, majaz dan taAowil antara bayani dan irfani akan dibahas pada bab selanjutnya. Mereka yang menerima keberadaan majaz dalam Al-Qur'an mengemukakan alasan-alasan berikut: Ibid. Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. , 1662 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pertama. Majaz merupakan salah satu unsur yang memperindah bahasa, dan jika tidak ada majaz dalam Al-Qur'an, maka bahasa Al-Qur'an kehilangan Gaya bahasa majaz dianggap lebih indah dari pada gaya bahasa Kedua. Majaz adalah sebuah keniscayaan dalam ekspresi, yaitu, seperti yang ditunjukkan oleh Jahiz, pengucapan terbatas, sedangkan pemikiran tidak terbatas dan oleh karena itu membutuhkan tawassuAo melalui deviasi . erluasan pengucapan dan kemampuan ekspresif terhadap makn. Gaya bahasa majaz, dengan penyimpangan maknanya, memberikan banyak kesempatan untuk fleksibilitas terhadap makna yang berbeda untuk situasi dan kondisi yang berbeda. Ketiga. Majaz tidak identik dengan kepalsuan atau kebohongan. Karena penyimpangan makna yang ada di dalamnya hanyalah sebuah metode, dan ungkapan majaz memiliki fungsi ta'kid . enguatan makn. dan tasybih . di samping tawassuAo/ittisaAo yang telah disebutkan di atas, yang membantu memudahkan Keempat. Jika Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab dan, seperti halnya bahasa-bahasa lain, ungkapan majaz pasti ada karena keterbatasan bahasa dan tidak ada kaitannya dengan masalah kepalsuan atau kebohongan, maka tentu saja akan ada majaz dalam Al-Qur'an. Hal ini tidak hanya diungkapkan oleh mayoritas ulama, tetapi juga oleh kaum Mu'tazilah. Akibatnya, sekelompok ulama yang meyakini adanya majaz baik dalam bahasa secara keseluruhan maupun dalam Al-Qur'an menggunakan kata ta'wil. Majaz dan ta'wil di sini adalah upaya untuk menemukan makna di balik pengucapan . atau untuk memahami kehendak Allah. Dalam pengertian tradisional, majaz dan haqiqah selalu berada dalam domain bayani . Di sisi lain, istilah taAowil digunakan dalam domain bayani dan Oleh karena itu, untuk mencapai keseimbangan, istilah majazi irfani digunakan untuk merujuk pada pengucapan atau ungkapan yang dianggap memiliki makna internal . akna lahiriya. yang berbeda dengan makna eksternalnya . akna Jika ada aturan tertentu untuk transisi dari makna lama ke makna baru, yaitu jika ada alasan rasional tertentu . yang menyebabkan transisi makna dan ada hubungan ('alaqa. antara makna baru dan makna lama, maka lafal tersebut dikatakan sebagai majaz bayani. Hal ini tidak ditemukan dalam majaz irfani. Satusatunya dasar untuk pemindahan makna lahiriah . akna lam. ke makna batiniah . akna bar. adalah apa yang oleh para sufi disebut kasyaf, 22 dan ini dihasilkan oleh Kasyaf adalah terbukanya hijab . yang menutupi antara dua AucerminAy, yakni cermin di hati dan cermin di lauh mahfudz. Jika cermin hati seseorang dijernihkan melalui mujahadah dan riyadah, maka akan terpantullah hakikat-hakikat yang ada di lauh mahfudz oleh hati seorang hamba yang jernih itu. Kasyaf juga sering disebut dengn ilham atau iAoyan. Sebagaimana dikatakan oleh alJabiri. 1663 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. mujahadah dan riyadhoh. TaAowil Irfani tidak tunduk pada batasan linguistik yang sama dengan taAowil Bayani. Pemikir islam kontemporer Muhammad Abid al-Jabiri menyatakan bahwa ta'wil sebenarnya berkembang dalam dua tradisi: epistemologi Bayani dan epistemologi AoIrfani. Pertama, ta'wil irfani dilakukan secara arbitrer, yakni ta'wil Aoirfani melibatkan prakonsepsi yang sudah ada sebelumnya dan mengarahkan teks kepada prakonsepsi tersebut tanpa memerlukan perantara, penanda, atau qarinah. sisi lain, ta'wil dalam tradisi Bayan selalu membutuhkan kehadiran qaid . al-Qur'ani. Selain itu, menurut Muhammad Abid Al Jabiri, taAowil irfani memiliki mumatsalah . , yang juga disebut qiyas irfani. Sebagai contoh, dalam penafsiran kalimat 25 A A O OUAyang dikutip oleh Dr Sukamta, al-Qusyairi mengatakan bahwa kesempurnaan haji dari sudut pandang syar'i berarti pemenuhannya sesuai dengan syarat, rukun, dan sunnahnya, tetapi dari sudut pandang isyarat ('irfan. , haji adalah menuju ke bait al-haqq . aAoba. dan menuju alhaqq (Alla. Yang pertama adalah haji orang awam dan yang kedua adalah haji kaum Jika haji tubuh adalah ihram, wakaf, tawaf, sa'i dan bercukur, maka haji hati . ang dilakukan oleh para suf. juga melakukan ihram dalam arti memiliki keyakinan yang benar, memiliki niat yang jelas, menjauhkan diri dari keinginan untuk memenuhi hasrat, menghiasi diri dengan kesabaran dan keimanan, menghindari keinginan untuk memenuhi kesenangan yang tidak perlu, dan mengurangi kekhusuAoan. Namun, hanya orang yang mengalaminya sendiri yang mengetahui apakah itu sebuah kasyaf atau bukan. Dengan kata lain, hal ini sangat subjektif dan hanya orang yang bersangkutan yang mengetahui. Oleh karena itu, ketika berhadapan dengan ta'wil irfani, bahkan juga taAowil bayani, kita harus selalu mempunyai sikap dan pemikiran kritis. Hal ini karena ta'wil yang berbeda dapat mengandung makna yang berbeda untuk lafal atau ungkapan yang sama, dan perbedaan ini bisa jadi disebabkan oleh perbedaan latar belakang pembicara, seperti mazhab, politik, kepercayaan, dan filsafat, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Abid al-Jabiri: A O a oa A OOa aAUAo Ua O ia OuE Ua OO EeI a a OIA A a aa uaI O Uoa O eia O Uea Sukamta. Majaz dan Pluralitas Makna dalam Al-QurAoan (Yogyakarta: Adam Press, 2. A u aA:A )ccOAUA EeUi uauiAUA a i O UUei uoaei UciAUA ci Uo UOAUA a Uac OacOA24 A AAU. 0 UA UciA Al-Baqarah: 196. Op. Cit. , hlm. A u aA:A )ccOAUA EeUi uauiAUA a i O UUei uoaei UciAUA ci Uo UOAUA a Uac OacOA27 A AAU. 0 UA UciA 1664 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pemahaman yang berbeda pada dasarnya adalah masalah taAowil irfani, karena dalam pengalihan makna lahir ke makna batin tidak melalui jembatan qarinah, sebagaimana yang ada dalam taAowil bayani, yang kemungkinan orang lain dapat Contoh taAowil Aoirfani yang bercorak politik adalah sebagaimana dalam surat Ar-Rohman ayat 19-22 berikut ini. A aeaa aea eIaaI aOeaeaIA. AO a a a a accauaa aau accaA c a A eaaeaA. A ca ceaU eeaIA. a eeaeaea eo aaoaIA Artinya: Dia memberikan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Dua lautan . ditafsirkan sebagai Ali bin Abi Thalib dan istrinya. Fatimah. Perbatasan . ditafsirkan sebagai 'jembatan', yaitu Nabi Muhammad. Beliau menjembatani keponakannya. Ali bin Abi Thalib dan putrinya Fatimah, sedangkan mutiara dan karang ditafsirkan sebagai putra-putra Ali dan Fatimah, yaitu Hasan dan Husain. Tujuan politis dari penafsiran ini sangat jelas: Untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an mengisyaratkan para khalifah dan imam setelah Nabi adalah Ali dan keturunannya. KESIMPULAN DAN SARAN Setelah membahas masalah Majaz-Haqiqah dan TaAowil di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Haqiqah adalah ungkapan yang merujuk kepada makna asli sebuah kata, yaitu makna setiap kata yang terkandung dalam kata tersebut atau yang melekat kepadanya, sedangkan majaz adalah ungkapan yang tidak merujuk kepada makna aslinya, yaitu maknanya diubah ke makna lain. Sedangkan ta'wil adalah pengembalian makna suatu ungkapan kepada makna lain yang lebih tepat sesuai dengan kaidah kebahasaan dan dalil yang menunjukkannya. Ada tiga kelompok berbeda yang memposisikan majaz sebagai lawan dari Ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, kelompok MuAotazilah yang secara dogmatis bersinggungan dengan majaz dan menerima keberadaannya dalam al-Qur'an dan menggunakan taAowil. Kedua, kelompok Zahiriyyah, yaitu kelompok yang menolak keberadaan majaz baik dalam bahasa secara keseluruhan maupun dalam Al-Qur'an, dan akibatnya menolak taAowil. Ketiga. AsyAoariyah, kelompok yang menerima keberadaan majaz dalam kondisi tertentu dan dengan persyaratan yang ketat. Dalam pengertian tradisional, majaz dan haqiqah selalu berada dalam ranah bayani . Di sisi lain, istilah taAowil digunakan dalam ranah bayani dan irfani. Maka untuk keseimbangan, muncul istilah majaz Aoirfani untuk menyebut lafal atau ungkapan yang dipandang mempunyai makna batin, yang berbeda dengan makna A AAU. A ciAUA a Uac OacOA28 1665 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1655 -1666 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dasar dari transformasi makna lahiriah . akna lam. ke dalam makna batiniah . akna bar. adalah apa yang disebut oleh para sufi sebagai kasyaf, yang dihasilkan oleh mujahadah dan riyadhoh. Ketika berurusan dengan taAowil Aoirfani, bahkan juga taAowil bayani, seseorang harus selalu berfikir dan bersikap kritis. Hal ini karena lafal yang sama bisa berarti hal yang berbeda dalam taAowil yang berbeda, dan perbedaan ini bisa jadi disebabkan oleh perbedaan latar belakang pembicara, seperti mazhab, politik, keyakinan, atau DAFTAR PUSTAKA