Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 454-460 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . PENINGKATAN KAPASITAS PETANI MELALUI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DI KABUPATEN BONE Increasing Farmer Capacity Through Agricultural Extension Worker Performance in Bone Regency Salman1*. Helda Ibrahim2. Musdalipa3 Program Studi Agribisnis. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Makassar *Correspondence Author: Salman Email: salmananca@gmail. 1*,2,3 ABSTRACT The agricultural sector is vital to the national economy, but its development is often constrained by the limitations of farmers' human resources, characterized by restricted access and a tendency to adhere to traditional farming methods. This study aims to analyze the improvement of farmers' human resource capacity through the performance of agricultural extension workers in Corawalie Village. Bone Regency, an area with significant potential but low technology adoption. Employing a mixed-methods approach . escriptivequalitative supported by a simple quantitative design using a Likert scal. , this research involved 45 respondents from 15 farmer groups selected through random sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that efforts to enhance farmer capacity through extension worker performance are in the high category, with an average achievement of 78. Social Capacity was the most prominent aspect . 21%), followed by Technical Ability . 15%) and Managerial Ability . 85%). These findings indicate that the presence of extension workers through intensive training and mentoring is effective in building partnership networks and transforming farmers' insights toward independence. This study contributes to the literature by providing empirical evidence on the specific mechanisms through which extension services impact different dimensions of farmer capacity in a local context. Keywords: Capacity Building. Performance. Extension Worker. Farmer. Bone Regency. ABSTRAK Sektor pertanian memegang peranan vital dalam perekonomian nasional, namun sering terkendala oleh kondisi sumber daya manusia petani yang memiliki keterbatasan akses dan cenderung bertahan pada pola bertani tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani melalui kinerja penyuluh pertanian di Desa Corawalie. Kabupaten Bone, yang memiliki potensi besar namun masih rendah dalam adopsi teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran . deskriptif-kualitatif yang didukung pendekatan kuantitatif sederhana dengan Skala Likert. Pengambilan sampel dilakukan secara acak . andom samplin. terhadap 45 responden dari 15 kelompok tani pada periode Juli hingga September 2025. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya peningkatan kapasitas petani melalui kinerja penyuluh pertanian tergolong dalam kategori tinggi dengan rata-rata capaian 78,74%. Rincian capaian indikator menunjukkan Kapasitas Sosial menjadi aspek paling menonjol . ,21%), diikuti Kemampuan Teknis . ,15%), dan Kemampuan Manajerial . ,85%). Temuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran penyuluh melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan intensif efektif dalam membangun jejaring kemitraan serta mengubah wawasan petani menuju kemandirian. Studi ini memberikan kontribusi empiris tentang mekanisme spesifik layanan penyuluhan dalam memengaruhi berbagai dimensi kapasitas petani di tingkat lokal. Kata kunci: Pengembangan Kapasitas. Kinerja. Penyuluh. Petani. Kabupaten Bone. Salman, dkk Ae Peningkatan Kapasitas Petani Melalui Kinerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten . PENDAHULUAN Sektor pertanian merupakan pilar strategis perekonomian Indonesia, berperan dalam penyediaan pangan, serat, energi, dan penyerapan tenaga kerja. Peningkatan produktivitas sektor ini sangat bergantung pada pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) petani agar mampu mandiri dalam mengelola usaha taninya (Indraningsih et al. , 2. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi SDM petani yang sering kali memiliki akses terbatas terhadap informasi, tingkat pendidikan yang beragam, dan kecenderungan untuk mempertahankan pola pertanian tradisional (Abdullah & Jayadisastra, 2. Kondisi ini menghambat adopsi inovasi dan teknologi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Tantangan penyuluhan pertanian bersifat kontekstual, dipengaruhi oleh karakteristik agroekosistem setempat. Sebagai contoh, penyuluhan di lahan kering menghadapi kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan di lahan basah akibat keterbatasan air dan kesuburan tanah yang beragam (Astari et al. , 2. Oleh karena itu, pendampingan intensif dari penyuluh pertanian menjadi kebutuhan mendesak untuk membantu petani beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan dinamika pasar (Rivera & Sulaiman, 2. Penyuluh pertanian berperan sebagai agent of change yang menjembatani ilmu pengetahuan dan teknologi dengan praktik di lapangan. Peran mereka mencakup fasilitator, motivator, komunikator, dan inovator (Baeng et al. , 2. Khususnya, fungsi motivator dinilai sangat berpengaruh dalam mendorong perubahan perilaku dan partisipasi aktif petani. Kinerja penyuluh, yang diukur dari kualitas dan kuantitas pelaksanaan tugas pokoknya, menjadi determinan utama keberhasilan program penyuluhan dan kepuasan petani (Rizki et al. , 2. Kepuasan petani terhadap kinerja penyuluh merupakan indikator kesesuaian antara harapan dengan layanan yang diterima, yang pada gilirannya menentukan keberlanjutan adopsi inovasi (Anderson & Feder, 2. Secara teoritis, peningkatan kapasitas . apacity buildin. petani didefinisikan sebagai proses sistematis untuk meningkatkan kemampuan individu atau kelompok dalam melaksanakan fungsi dan mencapai tujuan secara efektif (Eade, 1. Dalam konteks pertanian, kapasitas petani dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi utama yang saling terkait: . Kapasitas Sosial, yaitu kemampuan membangun jaringan, berkomunikasi, dan bekerja sama. Kemampuan Manajerial, yaitu keterampilan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan sumber daya usaha tani. Kemampuan Teknis, yaitu kompetensi dalam penerapan teknologi budidaya, efisiensi produksi, dan penanganan pascapanen (Chambers, 2004. Pretty. Kabupaten Bone, khususnya Desa Corawalie di Kecamatan Barebbo, merupakan wilayah agraris dengan potensi pertanian yang besar, namun masih dihadapkan pada masalah rendahnya adopsi teknologi dan ketergantungan pada pola lama. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan dengan tujuan utama untuk menganalisis peningkatan kapasitas SDM petani melalui kinerja penyuluh pertanian. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk: . Mengukur tingkat peningkatan kapasitas petani . osial, manajerial, dan tekni. di lokasi . Menganalisis kontribusi kinerja penyuluh terhadap peningkatan masing-masing dimensi kapasitas tersebut. Mengidentifikasi mekanisme atau proses intervensi penyuluh yang paling efektif dalam membangun kapasitas petani. Studi ini diharapkan dapat melengkapi khazanah penelitian serupa dengan fokus pada konteks lokal dan pendekatan metodologi yang mengintegrasikan perspektif kualitatif dan kuantitatif. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain metode campuran . ixed-method. dengan pendekatan dominan kualitatif deskriptif dan dukungan kuantitatif sederhana (Creswell & Clark, 2. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan mendalam . hick descriptio. mengenai fenomena peningkatan kapasitas petani, sekaligus mengukur persepsi dan kecenderungannya secara numerik melalui skala Likert. Ruang lingkup penelitian terfokus pada JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 454-460 analisis tiga dimensi kapasitas petani dan kaitannya dengan kinerja penyuluh di tingkat kelompok Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Corawalie. Kecamatan Barebbo. Kabupaten Bone. Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif dengan pertimbangan bahwa desa tersebut merupakan wilayah sentra pertanian dengan mayoritas penduduk sebagai petani, namun memiliki indikasi rendahnya adopsi teknologi berdasarkan laporan dinas setempat. Penelitian berlangsung selama tiga bulan, dari Juli hingga September 2025. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh anggota 15 kelompok tani aktif di Desa Corawalie, dengan perkiraan rata-rata 25 anggota per kelompok . otal populasi A375 oran. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling. Tahap pertama, 15 kelompok tani dipilih sebagai cluster. Tahap kedua, dari setiap kelompok diambil 3 orang anggota secara acak sederhana . imple random samplin. menggunakan tabel angka random. Dengan demikian, total sampel berjumlah 45 orang petani. Ukuran sampel ini dianggap memadai untuk penelitian eksploratori-deskriptif dan analisis persentase (Isaac & Michael, 1. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan secara triangulasi dengan empat teknik: Observasi Partisipatif: Peneliti terlibat dalam kegiatan penyuluhan, pertemuan kelompok, dan kunjungan lapangan untuk mencatat interaksi, partisipasi, dan dinamika yang terjadi. Wawancara Mendalam Semi-Terstruktur: Dilakukan terhadap petani sampel . dan 5 orang penyuluh pertanian. Panduan wawancara berisi pertanyaan terbuka terkait pengalaman, persepsi, dan perubahan yang dialami setelah intervensi penyuluh. Kuesioner: Menggunakan skala Likert 5 poin . =Sangat Tidak Setuju hingga 5=Sangat Setuj. untuk mengukur persepsi petani terhadap peningkatan kapasitas . butir pertanyaa. dan kinerja penyuluh . butir pertanyaa. Instrumen kuesioner diuji validitas isi . ontent validit. oleh dua ahli penyuluhan pertanian dan diuji reliabilitas dengan Cronbach's Alpha, menghasilkan koefisien 0,87 . dan 0,82 . , yang menunjukkan reliabilitas baik ( > 0,. (Nunnally, 1. Studi Dokumentasi: Meliputi data sekunder dari dinas pertanian, catatan kelompok tani, dan dokumen kegiatan penyuluhan. Definisi Operasional Variabel Variabel utama penelitian adalah Peningkatan Kapasitas Petani, yang didefinisikan sebagai proses peningkatan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani secara mandiri dan Variabel ini dioperasionalkan melalui tiga indikator dengan kriteria sebagai Tabel 1. Indikator dan Kriteria Kapasitas Petani No. Indikator Kapasitas Sosial Kemampuan Manajerial Kemampuan Teknis Kriteria Kemampuan membangun jaringan kemitraan, berkomunikasi efektif, dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan . enyuluh, sesama petani, pedagang, penyedia saprod. Keterampilan dalam perencanaan usaha . enentuan komoditas, jadwal tana. , pengambilan keputusan strategis, pengelolaan keuangan, dan pemahaman dinamika pasar. Kompetensi dalam penerapan teknologi budidaya spesifik lokasi, efisiensi penggunaan input . enih, pupuk, ai. , identifikasi dan pengendalian OPT, serta penanganan pascapanen. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Salman, dkk Ae Peningkatan Kapasitas Petani Melalui Kinerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten . Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan dua pendekatan: A Analisis Data Kualitatif: Mengikuti model interaktif Miles et al. yang meliputi reduksi data, penyajian data . atriks, narati. , dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Data dari wawancara dan observasi dianalisis secara tematik . hematic analysi. untuk mengidentifikasi pola dan mekanisme peningkatan kapasitas. A Analisis Data Kuantitatif: Data kuesioner dianalisis secara deskriptif. Skor setiap indikator dihitung menggunakan rumus indeks persentase: ycNycuycycayco ycIycoycuyc ycIyceycycyycuycuyccyceycu y 100% ycIycoycuyc yayccyceycayco ycAycaycoycycnycoycayco Skor ideal maksimal = Skor tertinggi . x Jumlah responden . x Jumlah butir pertanyaan per indikator. Kategori penilaian mengacu pada interval berikut: yaycuyccyceycu(%) = Tabel 2. Kategori Penilaian Skala Likert No. Pencapaian % 70,00-100,00 40,00-60,99 0,00-30,99 Total Kategori Tinggi Sedang Rendah Untuk memperkaya analisis, dilakukan juga uji korelasi Rank Spearman non-parametrik . engan bantuan software SPSS . untuk melihat hubungan antara penilaian kinerja penyuluh dengan peningkatan setiap dimensi kapasitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Sebagian besar responden . ,33%) berada pada usia produktif . -60 tahu. , yang umumnya lebih terbuka terhadap inovasi. Tingkat pendidikan didominasi lulusan SMA/sederajat . ,33%), memberikan modal dasar yang memadai untuk memahami informasi baru. Sebanyak 88,89% responden memiliki tanggungan keluarga 1-5 orang, menciptakan motivasi ekonomi untuk meningkatkan produktivitas. Pengalaman bertani mayoritas panjang . -40 tahun, 68,89%), yang memberikan basis pengetahuan empiris namun juga potensi resistensi terhadap Peningkatan Kapasitas Petani Melalui Kinerja Penyuluh Pertanian Hasil perhitungan indeks persentase menunjukkan bahwa upaya peningkatan kapasitas petani melalui kinerja penyuluh secara keseluruhan berada pada kategori tinggi . ,74%). Tabel 3. Peningkatan Kapasitas Petani Berdasarkan Indikator No. Uraian Persentase Kapasitas Sosial 83,21 Kemampuan Manajerial 76,85 Kemampuan Teknis 78,15 Rata-Rata 78,74 Sumber: Data primer setelah diolah, 2025 Keterangan Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan dan kuat antara penilaian kinerja penyuluh dengan peningkatan ketiga dimensi kapasitas, dengan kekuatan hubungan tertinggi pada kapasitas sosial. Kapasitas Sosial sebagai Dimensi Paling Menonjol Pencapaian tertinggi pada kapasitas sosial . ,21%) mengindikasikan bahwa intervensi penyuluh sangat efektif dalam memperkuat modal sosial . ocial capita. petani, khususnya jaringan . , kepercayaan . , dan norma timbal balik . (Putnam, 2. Kegiatan seperti sekolah lapang (Farmer Field School/FFS) dan temu lapang tidak hanya menjadi media transfer teknologi, tetapi lebih penting lagi sebagai ruang untuk membangun interaksi dan JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 454-460 solidaritas kelompok (Van den Berg & Jiggins, 2. Melalui pendekatan partisipatif ini, penyuluh berperan sebagai fasilitator yang mempertemukan petani dengan berbagai aktor seperti pedagang, perbankan, dan penyedia alat mesin pertanian . , sehingga memperluas jaringan kemitraan mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Davis et al. yang menyatakan bahwa peningkatan kapasitas sosial sering kali menjadi pintu masuk dan fondasi untuk peningkatan kemampuan teknis dan manajerial yang lebih berkelanjutan. Kemampuan Teknis dan Manajerial Mengalami Peningkatan yang Signifikan Peningkatan kemampuan teknis . ,15%) menunjukkan keberhasilan penyuluh dalam mendiseminasikan inovasi spesifik lokasi, seperti penggunaan varietas unggul baru (VUB), pengelolaan tanaman terpadu (PTT), dan teknologi irigasi hemat air. Pendampingan intensif membantu petani mengatasi knowledge gap dan melakukan adaptasi sesuai kondisi lahannya (Rogers, 2003. Sementara itu, peningkatan kemampuan manajerial . ,85%) meski tertinggi ketiga, menunjukkan perkembangan penting. Penyuluh telah membantu petani bergeser dari orientasi produksi semata menuju orientasi usaha . arming as a busines. Petani mulai terbiasa dengan perencanaan sederhana, pencatatan biaya, dan analisis kelayakan usaha berdasarkan informasi harga pasar. Hal ini merupakan langkah kritis menuju pertanian komersial yang berdaya saing (Anderson & Feder, 2004. Bank, 2. Namun, tantangan utama masih terletak pada akses permodalan dan penguasaan teknologi informasi untuk market intelligence, yang memerlukan intervensi lebih lanjut dari berbagai pihak. Mekanisme dan Peran Penyuluh sebagai Agen Perubahan Analisis kualitatif mengungkap mekanisme kunci keberhasilan: Pendekatan Komunikasi Interpersonal dan Kelompok: Penyuluh membangun hubungan yang egaliter dan berdasarkan kepercayaan dengan petani, sehingga informasi lebih mudah Metode Belajar Melakukan (Learning by Doin. : Melalui demonstrasi plot . dan FFS, petani terlibat aktif dalam proses belajar, yang lebih efektif daripada metode ceramah satu arah (Trendov et al. , n. Peran Ganda Penyuluh: Penyuluh tidak hanya sebagai penyampai teknologi . echnical exper. , tetapi juga sebagai motivator yang membangkitkan kepercayaan diri dan sebagai penghubung . dengan sumber daya eksternal. Temuan ini memperkuat teori difusi inovasi Rogers . yang menekankan peran agen perubahan dalam mempercepat proses adopsi, serta konsep empowerment dari Chambers . yang menempatkan petani sebagai subjek pembangunan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: Kinerja penyuluh pertanian memiliki kontribusi yang signifikan dan efektif dalam meningkatkan kapasitas petani di Desa Corawalie. Kabupaten Bone, dengan pencapaian rata-rata kategori tinggi . ,74%). Peningkatan kapasitas paling menonjol pada dimensi sosial . ,21%), diikuti oleh teknis . ,15%) dan manajerial . ,85%). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi penyuluh berhasil membangun fondasi modal sosial yang kuat sebagai pengungkit peningkatan kemampuan lain. Mekanisme efektif yang diidentifikasi meliputi pendekatan partisipatif, metode belajar sambil melakukan, komunikasi interpersonal yang intensif, dan pemanfaatan teknologi komunikasi digital untuk pendampingan berkelanjutan. Saran Berdasarkan kesimpulan, diajukan saran berikut: Bagi Penyuluh dan Institusi Penyuluhan: Disarankan untuk memformalkan dan mensistematisasikan metode pendampingan berbasis kelompok partisipatif (Farmer Field JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Salman, dkk Ae Peningkatan Kapasitas Petani Melalui Kinerja Penyuluh Pertanian di Kabupaten . Schoo. dan menggiatkan pendekatan blended extension . atap muka dan digita. Peningkatan kapasitas penyuluh di bidang manajemen usaha tani dan analisis pasar juga perlu Bagi Pemerintah Daerah: Perlunya sinergi kebijakan yang tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pada penguatan kelembagaan petani dan akses terhadap pasar serta permodalan. Dukungan konkret dapat berupa fasilitasi market linkage, akses kredit usaha rakyat (KUR) yang mudah, dan penyediaan alat mesin pertanian . modern melalui pola sewa atau bagi hasil. Bagi Petani: Untuk mempertahankan dan mengembangkan kapasitas yang telah terbangun, petani disarankan untuk lebih proaktif memanfaatkan kelembagaan kelompok tani sebagai wadah belajar dan bernegosiasi, serta mengadopsi teknologi digital sederhana untuk mengakses informasi harga dan prakiraan cuaca. Bagi Peneliti Selanjutnya: Penelitian ini terbatas pada satu lokasi dan belum mengukur dampak ekonomi langsung dari peningkatan kapasitas. Penelitian lanjutan disarankan untuk: memperluas cakupan wilayah dengan karakteristik berbeda. meneliti pengaruh faktor lain seperti kepemimpinan kelompok tani dan akses terhadap infrastruktur. melakukan studi longitudinal untuk mengukur dampak berkelanjutan . ustainability impac. dari program penyuluhan terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. DAFTAR PUSTAKA