ABDI MAHOSADA Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Januari 2026. Hal. 11 Ae 15 e-ISSN 2985-3036 Konseling Keluarga Berbasis Komunikasi Positif untuk Mencegah Masalah Kesehatan Mental dan Reproduksi pada Remaja Ni Ketut Devy Kaspirayanthi1*. Luh Putu Sukmayanti2 STIKES Advaita Medika Tabanan * Penulis Korespondensi: Devykaspira07@gmail. Abstract Adolescents are in a critical transitional phase and are highly vulnerable to mental health problems and risky behaviors, including substance abuse, premarital sexual activity, and early marriage. These issues are closely related to inadequate family support and ineffective communication between parents and adolescents. Recent evidence highlights the effectiveness of family counseling and positive parentAe adolescent communication in reducing anxiety, depression, digital addictive behaviors, and in promoting healthy reproductive behaviors among adolescents. This grant proposal aims to develop and implement a family counseling model based on positive communication to strengthen family capacity in preventing mental and reproductive health problems among adolescents. The program will be conducted as a communitybased intervention comprising reproductive health education, positive communication skills training for parents and adolescents, and structured family counseling sessions delivered periodically. The expected outcomes of this program include increased family knowledge of adolescent mental and reproductive health, improved quality of parentAe adolescent communication, reduced psychosocial risk factors, and enhanced protective behaviors among adolescents. This program is expected to contribute to sustainable family-based prevention efforts and support national adolescent health promotion Keywords: family counseling, adolescents, positive communication, mental health, reproductive health. Abstrak Remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap masalah kesehatan mental, perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat, seks pranikah, dan pernikahan dini, yang sangat dipengaruhi oleh kualitas dukungan dan komunikasi dalam keluarga. Berbagai studi terkini menunjukkan bahwa konseling keluarga dan komunikasi orang tuaAeremaja yang positif berperan penting dalam menurunkan kecemasan, depresi, perilaku adiktif digital, serta meningkatkan perilaku kesehatan reproduksi remaja. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan model konseling keluarga berbasis komunikasi positif untuk memperkuat peran keluarga dalam pencegahan masalah kesehatan mental dan reproduksi pada remaja. Metode yang diusulkan adalah pengabdian masyarakat berupa edukasi kesehatan, pelatihan komunikasi positif, dan sesi konseling keluarga berkala dengan melibatkan remaja dan orang tua. Diharapkan intervensi ini meningkatkan pengetahuan keluarga tentang kesehatan reproduksi remaja, memperbaiki kualitas komunikasi, dan menurunkan faktor risiko psikososial remaja. Kata kunci: konseling keluarga, remaja, komunikasi positif, kesehatan mental, kesehatan reproduksi ABDI MAHOSADA Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Januari 2026. Hal. 11 Ae 15 e-ISSN 2985-3036 PENDAHULUAN Remaja memiliki rasa ingin tahu tinggi, gemar tantangan, mudah terpengaruh lingkungan, dan banyak mencoba hal baru sehingga rentan terhadap masalah seperti gangguan kesehatan mental, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, serta pernikahan dini. Perubahan fisik dan psikososial di masa pubertas sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan pengetahuan, keterampilan koping, dan dukungan keluarga yang memadai (Agustine, 2. Penelitian lima tahun terakhir menunjukkan bahwa kualitas komunikasi orang tuaAeremaja berhubungan signifikan dengan depresi, kecemasan, dan berbagai masalah perilaku remaja, termasuk adiksi internet dan ide bunuh diri (Wang H, 2. Selain itu, peran keluarga sangat menentukan perilaku kesehatan reproduksi remaja, baik melalui pemberian informasi maupun teladan perilaku sehat. Namun, banyak keluarga belum merasa nyaman membicarakan isu kesehatan mental dan reproduksi, sehingga diperlukan model konseling keluarga yang sistematis, sensitif budaya, dan berfokus pada komunikasi positif (Hartanto dkk, 2. METODE PELAKSANAAN Kegiatan dirancang sebagai program pengabdian masyarakat di lingkungan Desa dengan anak usia remaja . Ae19 tahu. , melibatkan minimal satu orang tua/wali dan satu remaja dari setiap keluarga sasaran. Pendekatan yang digunakan adalah sosialisasi yang di selenggarakan dan bekerjasama dengan Dinas BKKBN , dan sesi diskusi terhadap permasalah remaja saat ini Tahapan kegiatan meliputi: . asesmen awal mengenai masalah remaja . ental dan reproduks. dan pola komunikasi keluarga. penyuluhan kesehatan tentang perkembangan remaja, kesehatan mental, dan kesehatan reproduksi. konseling keluarga berkala untuk menguatkan penerapan komunikasi positif di rumah. Tabel 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian Tahap Kegiatan Utama Assesnmen awal mengenai masalah remaja penyuluhan kesehatan tentang perkembangan remaja, kesehatan mental, dan kesehatan reproduksi konseling keluarga berkala untuk menguatkan penerapan komunikasi positif di Tujuan Menghimpun informasi dari sumber ilmiah dan lembaga Mengidentifikasi pola dan kebutuhan informasi edukatif Keluaran Kumpulan data tematik tentang kesehatan mental ibu Ringkasan temuan dalam bentuk poin-poin isu penting Menyusun materi edukasi berbasis data yang valid Draft konten berupa infografis, booklet, dan video skrip HASIL DAN PEMBAHASAN Secara teoritis, intervensi ini diharapkan meningkatkan kualitas komunikasi orang tuaAeremaja, memperkuat ikatan emosional, dan menurunkan risiko masalah kesehatan ABDI MAHOSADA Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Januari 2026. Hal. 11 Ae 15 e-ISSN 2985-3036 mental seperti kecemasan, depresi, serta adiksi digital (Rachmawati. Santoso. , & Purwanto. Selain itu, peningkatan pengetahuan dan sikap positif keluarga terhadap kesehatan reproduksi diyakini akan mendorong remaja menunda hubungan seksual, menghindari seks bebas, serta lebih mampu membuat keputusan sehat terkait tubuhnya (Joko Semedi & Dwi Retno Wulandari, 2. Temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dan komunikasi yang terbuka merupakan variabel kunci dalam pembentukan perilaku kesehatan reproduksi dan kesejahteraan psikologis remaja (Hawes. Scarpati, . Pindus. , & Goodman. Jika kegiatan ini diimplementasikan konsisten, penguatan fungsi kasih sayang, pendidikan, pengawasan, dan komunikasi dalam keluarga dapat membangun remaja yang sehat secara fisik, mental, dan sosial, sebagaimana ditekankan dalam materi AuKonseling Keluarga Remaja dan RemajaAy (Jeong. Park. , & Kim. J, 2. KESIMPULAN Konseling keluarga berbasis komunikasi positif menawarkan pendekatan komprehensif dan efektif untuk mencegah masalah kesehatan mental dan reproduksi pada remaja. Komunikasi yang terbuka, hangat, dan responsif dalam keluarga merupakan faktor perlindungan utama yang membantu remaja mengembangkan selfesteem, regulasi emosi, keterampilan problem-solving, dan pengambilan keputusan yang sehat. Melalui strategi-strategi seperti mendengarkan aktif, modeling perilaku positif, penguatan rasa percaya diri, penumbuhan kasih sayang, penetapan pengawasan yang konsisten, dan komunikasi terbuka tentang kesehatan reproduksi, konseling keluarga dapat memperkuat fungsi keluarga dan melindungi kesehatan remaja. Bukti penelitian 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa intervensi konseling keluarga yang terstruktur secara signifikan mengurangi gejala depresi dan kecemasan, meningkatkan kualitas hubungan keluarga, dan mendorong perilaku reproduksi yang aman dan bertanggung jawab pada remaja. Untuk mengoptimalkan dampak konseling keluarga, pendekatan tersebut perlu diintegrasikan secara sistematis dalam berbagai settingAisekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitasAidengan melibatkan kolaborasi antar-sektor dan dukungan dari pemerintah, organisasi masyarakat, dan keluarga itu sendiri. Dengan demikian, konseling keluarga dapat berkontribusi signifikan dalam membangun remaja yang sehat secara fisik dan mental, berperilaku positif, dan siap menghadapi tantangan masa depan dengan kuat dan percaya diri. UCAPAN TERIMA KASIH