ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kearifan Lokal (Loyang Koro dan Putri Puke. Untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh Ega Anggraini1. Teuku Mahmud2. Syarfuni3 Universitas Bina Bangsa Getsempena1,2,3 egaanggraini2004@gmail. com1, mahmud@bbg. id2, syarfuni@bbg. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh. Bahan ajar yang digunakan berupa buku cerita bergambar yang mengangkat cerita rakyat Aceh, yaitu Loyang Koro dan Putri Pukes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain One Group Pre-test Post-test. Subjek penelitian terdiri dari 17 siswa. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan bercerita yang dilakukan sebelum . re-tes. dan sesudah perlakuan . ost-tes. Bahan ajar yang diterapkan dirancang dengan bahasa yang sederhana, alur cerita yang runtut, serta ilustrasi yang menarik untuk memudahkan siswa memahami isi cerita dan mengekspresikannya kembali secara lisan. Hasil analisis menggunakan paired sample t-test menunjukkan nilai t hitung sebesar -10,659 dengan derajat kebebasan 16 dan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan post-test. Temuan penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa sekaligus menanamkan nilai budaya. Oleh karena itu, guru disarankan untuk memanfaatkan bahan ajar berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran. Sekolah diharapkan mendukung pengembangan bahan ajar lokal, siswa didorong untuk lebih aktif dan percaya diri dalam bercerita, serta peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian serupa dengan cakupan yang lebih luas dan integrasi kearifan lokal lainnya. Kata kunci: Buku cerita bergambar, bahan ajar berbasis kearifan lokal, kemampuan bercerita, pembelajaran Bahasa Indonesia. Abstract This study aims to determine the effect of using local wisdomAebased teaching materials on the storytelling ability of sixth-grade students at SD Negeri 58 Banda Aceh. The teaching materials used were illustrated storybooks featuring Acehnese folktales, namely Loyang Koro and Putri Pukes. This study employed an experimental method with a One Group Pre-test Post-test The research subjects consisted of 17 students. Data were collected through storytelling ability tests conducted before . re-tes. and after the treatment . ost-tes. The implemented teaching materials were designed using simple language, a well-structured storyline, and engaging illustrations to help students understand the content and express it orally. The analysis results using a paired sample t-test showed a calculated t-value of -10. 659 with a degree of freedom of 16 and a significance value of 0. < 0. These results indicate a significant difference between pre-test and post-test scores. The findings of this study demonstrate that the use of local wisdomAebased teaching materials is effective in improving studentsAo storytelling ability while also instilling cultural values. Therefore, teachers are recommended to utilize local wisdomAebased teaching materials in the learning process. Schools are expected to support the development of local teaching materials, students are encouraged to ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 be more active and confident in storytelling, and future researchers may expand similar studies with broader scopes and integration of other forms of local wisdom. Keywords: Illustrated storybooks, local wisdomAebased teaching materials, storytelling ability. Indonesian language learning. PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter, keterampilan dasar, dan kebiasaan belajar peserta didik. Salah satu aspek fundamental dalam pendidikan dasar adalah kemampuan literasi, khususnya kemampuan membaca (Sriyati et al. , 2. Membaca merupakan jendela ilmu yang membuka cakrawala berpikir dan memperkaya pengalaman siswa (Umar et al. , 2. Kemampuan membaca yang baik tidak hanya penting untuk pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga berpengaruh terhadap penguasaan semua mata pelajaran. Oleh karena itu, membentuk minat membaca sejak dini menjadi salah satu prioritas dalam pembelajaran di sekolah dasar (Daryati et al. , 2. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama pada aspek literasi peserta didik. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Sebagian besar siswa juga belum mampu memahami teks panjang dan kompleks secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa masih perlu ditingkatkan secara Rendahnya kemampuan literasi berdampak pada keterbatasan wawasan, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan berbahasa siswa (Tulak et al. , 2. Siswa yang memiliki kebiasaan membaca cenderung lebih percaya diri dan mampu mengekspresikan gagasan dengan lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembelajaran yang inovatif dan kontekstual untuk meningkatkan keterampilan literasi, khususnya dalam kemampuan bercerita. Namun demikian, penelitian yang mengintegrasikan bahan ajar berbasis kearifan lokal, khususnya melalui buku cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, masih terbatas. Padahal, pemanfaatan cerita rakyat lokal tidak hanya berpotensi meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga menanamkan nilai budaya kepada siswa. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berfokus pada pengembangan dan penerapan bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa sekolah dasar. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, buku cerita bergambar dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melatih keterampilan membaca, menulis, dan berbicara, sekaligus mengenalkan nilai budaya dan Sejarah (Chadijah, 2. Teks yang sederhana serta ilustrasi yang menarik membantu siswa memahami bacaan dan menangkap nilai karakter dalam cerita. Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar berupa buku cerita atau komik menjadi upaya yang tepat untuk meningkatkan literasi sekaligus pendidikan karakter siswa sekolah dasar (Ramadhani et al. , 2. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan literasi sejak jenjang sekolah dasar, terutama pada kelas rendah (Zulaeha et al. , 2. Berbagai strategi telah diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca, seperti metode membaca bersama . hared readin. dan membaca nyaring . ead alou. yang terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa (Ampuni et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi awal pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI SD, khususnya materi cerita anak, diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah menunjukkan perhatian dan keterlibatan selama pembelajaran. Namun, masih ditemukan beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan. Sejumlah siswa terlihat pasif, kurang percaya diri, dan mengalami kesulitan ketika diminta bercerita di depan Hal ini terlihat dari rendahnya partisipasi siswa, kurangnya ekspresi dan intonasi saat bercerita, serta ketidakteraturan dalam menyusun alur cerita. Selain itu, keterbatasan kosakata dan kemampuan berbahasa juga menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan bercerita siswa (Amalia & Nurlina, 2. Permasalahan ini diperkuat oleh penggunaan bahan ajar yang masih bersifat monoton dan belum sesuai dengan kebutuhan siswa(Islami et al. , 2. Materi bacaan yang kurang dekat dengan pengalaman sehari-hari membuat pembelajaran menjadi kurang menarik, sehingga keterlibatan siswa belum optimal (Norlianti et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar yang lebih kontekstual dan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah bahan ajar berbasis kearifan lokal, seperti cerita Loyang Koro dan Putri Pukes. Bahan ajar ini diharapkan dapat menarik minat siswa sekaligus menumbuhkan kedekatan dengan budaya daerah, sehingga kemampuan bercerita siswa dapat meningkat. Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal (Loyang Koro dan Putri Puke. dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap kemampuan bercerita siswa kelas II Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai efektivitas bahan ajar tersebut serta menjadi acuan bagi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dan keterampilan berbahasa siswa sejak dini. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain yang digunakan adalah One Group Pre-test Post-test Design. Penelitian ini melibatkan satu kelompok, yaitu kelompok eksperimen tanpa adanya kelompok kontrol (Sugiono, 2. Dalam desain ini, pengukuran dilakukan melalui tes awal . re-tes. sebelum perlakuan dan tes akhir . ost-tes. setelah perlakuan diberikan. Perlakuan yang diterapkan berupa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal yang memuat cerita rakyat Loyang Korong dan Putri Pukes untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Sebelum perlakuan, siswa diberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal Selanjutnya, pembelajaran dilaksanakan menggunakan bahan ajar tersebut, di mana siswa membaca, memahami, dan berlatih menceritakan kembali isi cerita. Setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai, siswa diberikan post-test untuk mengetahui peningkatan kemampuan bercerita (Ramadhani et al. , 2. (Kanal Informasi, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri 58 Banda Aceh yang berjumlah 202 orang. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. (Sugiono, 2. purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan peneliti. Berdasarkan teknik tersebut, sampel penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh yang berjumlah 17 orang. Pemilihan kelas VI dilakukan karena sesuai dengan fokus penelitian, tujuan penelitian, serta ketersediaan subjek yang mendukung pelaksanaan penelitian. Oleh karena itu, teknik purposive sampling dinilai tepat digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen . adalah penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal berupa cerita rakyat Loyang Korong dan Putri Pukes dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Variabel dependen . adalah kemampuan bercerita siswa kelas VI SD. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar untuk mengukur kemampuan bercerita siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Tes digunakan untuk mengetahui efektivitas bahan ajar berbasis kearifan lokal berupa buku cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tes terdiri atas pre-test dan post-test. Pre-test diberikan sebelum penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal (Loyang Korong dan Putri Puke. untuk mengetahui kemampuan awal bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh. Post-test diberikan setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar tersebut untuk mengetahui peningkatan kemampuan bercerita siswa. Kemampuan bercerita dinilai menggunakan rubrik penilaian yang mencakup lima aspek, yaitu kelancaran berbicara, intonasi, ekspresi, struktur cerita, dan ketepatan Setiap aspek memiliki indikator penilaian sebagai berikut: . kelancaran berbicara diukur melalui kemampuan siswa menyampaikan cerita tanpa banyak jeda, pengulangan, atau keraguan. intonasi dinilai dari ketepatan tinggi rendah suara serta penekanan yang sesuai dengan alur cerita. ekspresi mencakup kesesuaian mimik wajah dan gerak tubuh dalam mendukung penyampaian cerita. struktur cerita dinilai berdasarkan kelengkapan unsur cerita yang meliputi awal, tengah, dan akhir secara serta . ketepatan bahasa diukur dari penggunaan kosakata, tata bahasa, dan kejelasan pengucapan yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Setiap aspek dinilai dengan skala 1Ae4, sehingga skor total berkisar antara 5Ae20. Penilaian dilakukan oleh dua penilai untuk menjaga objektivitas, dan instrumen telah diuji validitas serta ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan bantuan program SPSS versi Tahapan analisis data meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Pengujian dilakukan menggunakan uji ShapiroAeWilk karena jumlah sampel kurang dari 50 siswa. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui kesamaan varians data dan dilakukan menggunakan LeveneAos Test. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan nilai pre-test dan post-test dalam satu kelompok. Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal (Loyang Korong dan Putri Puke. terhadap kemampuan bercerita siswa. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Jika nilai signifikansi (Sig. ) < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal terhadap peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas VI SD. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 58 Banda Aceh pada tanggal 20Ae27 Desember 2025. SD Negeri 58 Banda Aceh terletak di Jalan Syech Abdurrauf. Alue Naga. Kecamatan Syiah Kuala. Kota Banda Aceh. Sekolah ini berada di lingkungan masyarakat yang masih kuat dengan nilai budaya lokal dan memiliki fasilitas penunjang pembelajaran yang memadai. Jumlah siswa SD Negeri 58 Banda Aceh sebanyak 202 orang yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI yang berjumlah 17 orang. Pemilihan sekolah dan subjek penelitian didasarkan pada relevansi dengan tujuan penelitian, yaitu pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa. Pihak sekolah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan penelitian. Hasil Pengembangan Bahan Ajar Buku Bergambar Berbasis Kearifan Lokal Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal Aceh yang memuat cerita rakyat Loyang Koro dan Putri Pukes. Pengembangan bahan ajar didasarkan pada kesesuaian materi dengan karakteristik siswa kelas VI serta kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek keterampilan bercerita. Buku cerita bergambar disusun menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, dengan alur cerita yang runtut meliputi pengenalan tokoh, permasalahan, dan penyelesaian cerita. Penyajian materi dirancang agar mudah dipahami dan dapat membantu siswa dalam menceritakan kembali isi cerita secara lisan. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang relevan dengan isi cerita untuk membantu pemahaman siswa dan meningkatkan minat belajar. Integrasi unsur kearifan lokal bertujuan untuk menumbuhkan kedekatan siswa dengan cerita, sehingga dapat meningkatkan kelancaran berbicara, ketepatan penyampaian isi, serta kepercayaan diri siswa dalam kegiatan bercerita. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Deskripsi Produk Buku Bergambar Produk yang dihasilkan berupa buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal Aceh. Salah satu judul buku yang dikembangkan adalah Cerita Rakyat Aceh (Putri Puke. Buku ini memuat teks cerita yang disertai ilustrasi visual sebagai pendukung pemahaman isi cerita dan digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran keterampilan bercerita siswa kelas VI. Gambar: Cerita Rakyat Aceh (Putri Puke. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Gambar: Cerita Rakyat Aceh (Loyang Kor. Analisis Hasil Kemampuan Bercerita Siswa Hasil kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh sebelum diberikan perlakuan berupa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal (Loyang Koro dan Putri Puke. disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. 1 Hasil Kemampuan Bercerita Pre-test dan Postes Siswa Nama Siswa Pre-Test Postest ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 Perbandingan hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh setelah diterapkannya bahan ajar berbasis kearifan lokal Loyang Koro dan Putri Pukes. Pada tahap pre-test, nilai kemampuan bercerita siswa berada pada rentang 9Ae18, dengan sebagian besar siswa berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa kemampuan awal bercerita siswa masih bervariasi dan belum optimal. Setelah diberikan perlakuan, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan nilai siswa berada pada rentang 16Ae20. Sebagian besar siswa memperoleh nilai pada kisaran 18Ae19, bahkan beberapa siswa mencapai nilai maksimal Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bercerita siswa setelah pembelajaran berada pada kategori cukup baik hingga baik. Secara keseluruhan, perbandingan hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan skor pada hampir seluruh siswa. Peningkatan ini mencerminkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa, baik dari segi kelancaran berbicara, ketepatan alur cerita, maupun kepercayaan diri dalam menyampaikan cerita. Pengujian Hipotesis Pair Pre Test Post Test Paired Samples Statistics Mean Std. Deviation Std. Error Mean. Tabel Paired Samples Statistics menyajikan data deskriptif nilai pre-test dan post-test sebelum dilakukan uji perbedaan. Rata-rata nilai pre-test sebesar 13,24 dengan jumlah responden sebanyak 17 siswa. Nilai tersebut memiliki standar deviasi sebesar 2,682 dan standard error mean sebesar 0,650, yang menunjukkan variasi kemampuan awal siswa masih relatif tinggi. Setelah diberikan perlakuan, rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 18,65 dengan jumlah responden yang sama. Standar deviasi post-test sebesar 1,222 dan standard error mean sebesar 0,296, yang menunjukkan variasi nilai siswa lebih kecil serta hasil yang lebih konsisten dibandingkan pre-test. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Tabel 4. 4 Hasil Uji Paired Sample Test Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Deviati Std. Error Mean Sig. 95% Confidence Interval of the Pair 1 Pre Test Post Test Lower Upper Difference Tabel Paired Samples Test menunjukkan hasil uji paired t-test antara nilai6pretest dan post-test. Selisih rata-rata . ean differenc. sebesar Oe5,412 menunjukkan bahwa nilai post-test lebih tinggi dibandingkan pre-test. Standar deviasi selisih sebesar 2,093 dengan standard error mean sebesar 0,508, yang menandakan penyebaran data relatif kecil. Interval kepercayaan 95% berada pada rentang Oe6,488 hingga Oe4,335 dan seluruhnya bernilai negatif, yang menunjukkan bahwa peningkatan nilai terjadi secara Nilai t hitung sebesar Oe10,659 dengan derajat kebebasan . 16 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal Loyang Koro dan Putri Pukes berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh. PEMBAHASAN Kemampuan Awal Bercerita Siswa Sebelum Perlakuan Hasil pre-test menunjukkan bahwa kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh sebelum penerapan bahan ajar berbasis kearifan lokal berada pada kategori sedang dan masih bervariasi. Nilai pre-test siswa berada pada rentang 9Ae 18 dengan rata-rata 13,24. Hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki kemampuan bercerita yang optimal. Rendahnya kemampuan awal siswa terlihat pada aspek penguasaan alur cerita, kelancaran berbicara, pemilihan kosakata, serta ekspresi saat bercerita. Hal ini sejalan dengan pendapat (Ampuni et al. , 2. yang menyatakan bahwa keterampilan berbicara, termasuk bercerita, memerlukan latihan yang berkelanjutan dan dukungan lingkungan belajar yang memadai. Selain itu, kurangnya penggunaan bahan ajar yang kontekstual juga dapat menghambat kemampuan siswa dalam memahami dan menyampaikan cerita secara runtut. Kemampuan Bercerita Siswa Setelah Perlakuan Setelah diterapkan bahan ajar berbasis kearifan lokal Loyang Koro dan Putri Pukes, hasil post-test menunjukkan peningkatan kemampuan bercerita yang signifikan. Nilai post-test siswa berada pada rentang 16Ae20 dengan rata-rata 18,65. Sebagian besar siswa memperoleh nilai tinggi, bahkan beberapa mencapai skor maksimal. Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa mengalami perkembangan dalam penguasaan isi cerita. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 kelancaran berbicara, penggunaan bahasa, serta kepercayaan diri saat bercerita. Hasil ini sejalan dengan teori pembelajaran kontekstual yang dikemukakan oleh (Azzahra & Febriani Sya, 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif apabila materi dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa. Cerita rakyat yang dekat dengan kehidupan siswa memudahkan pemahaman alur cerita dan mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan bercerita. Perbedaan Hasil Pre-Test dan Post-Test Hasil uji paired sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. Selisih rata-rata sebesar Oe5,412 menunjukkan peningkatan kemampuan bercerita siswa setelah perlakuan. Nilai t hitung sebesar Oe10,659 dengan signifikansi 0,000 . < 0,. menegaskan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, khususnya dalam aspek berbicara dan bercerita. Penelitian lain juga menyatakan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman siswa karena materi lebih relevan dengan lingkungan budaya mereka (Muzakkir, 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini konsisten dengan temuan-temuan terdahulu yang menegaskan pentingnya penggunaan media pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Efektivitas Bahan Ajar Berbasis Kearifan Lokal Efektivitas bahan ajar berbasis kearifan lokal terlihat dari kemampuannya menyajikan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Cerita rakyat yang digunakan mengandung nilai budaya dan alur cerita yang menarik, sehingga membantu siswa memahami dan menyampaikan kembali cerita secara lisan. Hal ini sejalan dengan pandangan (Salma Rozana & Ampun Bantali, 2. yang menekankan bahwa perkembangan bahasa dan kognitif dipengaruhi oleh interaksi sosial dan konteks Selain meningkatkan kemampuan bercerita, bahan ajar ini juga berdampak positif terhadap motivasi, kepercayaan diri, dan minat belajar siswa. Dengan demikian, bahan ajar berbasis kearifan lokal tidak hanya efektif meningkatkan keterampilan bercerita, tetapi juga berkontribusi dalam menanamkan nilai budaya lokal kepada siswa. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal Loyang Koro dan Putri Pukes terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VI SD Negeri 58 Banda Aceh, dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal bercerita siswa sebelum perlakuan berada pada kategori sedang dan bervariasi. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata sebesar 13,24 dengan rentang nilai 9Ae18, yang mengindikasikan bahwa keterampilan bercerita siswa belum optimal. Setelah diterapkan bahan ajar berbasis kearifan lokal, kemampuan bercerita siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil post-test menunjukkan nilai ratarata sebesar 18,65 dengan rentang nilai 16Ae20. Peningkatan ini menunjukkan adanya perkembangan kemampuan siswa dalam menyampaikan isi cerita, menyusun alur secara ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 runtut, serta meningkatnya kelancaran dan kepercayaan diri dalam bercerita. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. , yang menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Dengan demikian, hipotesis alternatif diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal Loyang Koro dan Putri Pukes berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan bercerita siswa. Secara keseluruhan, bahan ajar berbasis kearifan lokal terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa sekaligus menanamkan nilai budaya daerah. Penggunaan cerita rakyat yang kontekstual mampu meningkatkan motivasi belajar, minat, dan rasa percaya diri siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu jumlah sampel yang relatif kecil dan hanya melibatkan satu kelompok tanpa kelompok kontrol, sehingga generalisasi hasil penelitian masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melibatkan sampel yang lebih besar serta menggunakan desain eksperimen yang lebih kuat agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA