Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 EVALUASI WORKSHOP PENINGKATAN KEMAMPUAN PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN BERMUATAN LITERASI KEAGAMAAN LINTAS BUDAYA (LKLB) MENGGUNAKAN MODEL KIRKPATRICK PADA GURU-GURU DI KOTA MALANG Ririn Eva Hidayati* Nine Adien Maulana** *MAN 1 Kota Malang. Jawa Timur. Indonesia **SMAN 2 Jombang. Jawa Timur. Indonesia *E-mail: ririneva@gmail. **E-mail: pakgurunine@gmail. Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of a workshop in enhancing teachersAo ability to develop learning plans that incorporate Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL) in Malang City, utilizing the robust Kirkpatrick evaluation model. The research method employed is evaluative, utilizing a mixedmethods approach that encompasses four levels of Kirkpatrick evaluation: reaction, learning, behaviour, and results. The data sources for this study consisted of 30 teachers from various schools and madrasahs in Malang City, who were selected through purposive sampling techniques based on a minimum of three years of teaching experience and involvement in diversity-based learning practices. Data were collected through pre-tests and post-tests, observations, interviews, daily reflections, and surveys from both students and principals. The results showed that at the reaction level, more than 90% of participants were satisfied with the implementation of the workshop. At the learning level, there was a significant increase in understanding the concept of CCRL, as evidenced by a post-test score that was significantly higher than the pre-test score . < 0. At the behavioural level, teachers began to implement inclusive learning based on CCRL in the classroom. At the outcome level, students reported a more inclusive classroom atmosphere, one that respects differences and is participatory. This positive impact on students should encourage educators, researchers, and policymakers about the potential of the workshop. Supporting factors for the workshopAos success included high participant motivation and a training design based on reflective practice. At the same time, the main obstacles were time constraints and variations in participantsAo initial abilities. These findings indicate that the cross-cultural religious literacy workshop, evaluated using the Kirkpatrick model, was effective in enhancing teachersAo overall professional competence while also having a positive impact on learning practices and fostering a more tolerant and inclusive classroom Keywords: Teacher professional competence. learning scenarios. cross-cultural religious Kirkpatrick evaluation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas workshop peningkatan kemampuan penyusunan perencanaan pembelajaran bermuatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bagi guru-guru di Kota Malang menggunakan model evaluasi Kirkpatrick. Metode penelitian yang digunakan adalah evaluatif dengan pendekatan mixed methods, mencakup empat level evaluasi Kirkpatrick: reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil. Sumber data penelitian ini adalah 30 guru dari beberapa sekolah dan madrasah di Kota Malang yang dipilih Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria pengalaman mengajar minimal tiga tahun dan keterlibatan dalam praktik pembelajaran berbasis keberagaman. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi, wawancara, refleksi harian, serta survei siswa dan kepala sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level reaksi, lebih dari 90% peserta merasa puas terhadap pelaksanaan workshop. Pada level pembelajaran, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep LKLB, dengan skor post-test yang jauh lebih tinggi dibandingkan pre-test . < 0,. Pada level perilaku, guru mulai mengimplementasikan pembelajaran inklusif berbasis LKLB di kelas. Sementara pada level hasil, siswa melaporkan suasana kelas yang lebih inklusif, menghargai perbedaan, dan partisipatif. Faktor pendukung keberhasilan workshop meliputi motivasi tinggi peserta dan desain pelatihan berbasis praktik reflektif, sedangkan kendala utamanya adalah keterbatasan waktu dan variasi kemampuan awal peserta. Temuan ini menunjukkan bahwa workshop berbasis literasi keagamaan lintas budaya yang dievaluasi dengan model Kirkpatrick efektif dalam meningkatkan kompetensi profesional guru secara menyeluruh, serta berdampak positif pada praktik pembelajaran dan iklim kelas yang lebih toleran dan inklusif. Kata Kunci: Kompetensi profesional guru. skenario pembelajaran. literasi keagamaan lintas evaluasi Kirkpatrick Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 tidak hanya bertujuan mengukur pencapaian kognitif peserta, tetapi juga menilai sejauh mana materi pelatihan diterapkan dalam konteks kelas nyata dan memberikan dampak positif terhadap siswa. Model evaluasi Kirkpatrick menawarkan pendekatan empat tingkat yang komprehensif dan relevan untuk mengevaluasi pelatihan semacam ini secara utuh, dari reaksi peserta hingga hasil jangka panjang. Pembelajaran di era abad ke-21 bukan sekedar mengharuskan siswa untuk menguasai aspek kognitif, tetapi juga untuk memiliki keterampilan menghargai keberagaman budaya dan agama (Redhana, 2. Dalam konteks globalisasi yang semakin kompleks, pendidikan yang berbasis inklusivitas dan toleransi menjadi sangat krusial (Nurhikmah, 2. Sebuah pendekatan pendidikan adalah literasi keagamaan (LKLB), kemampuan memahami, menghargai, dan berinteraksi dengan individu dari latar belakang agama yang berbeda secara kritis dan reflektif (Hidayati. Guru memiliki peran sentral pembelajaran yang inklusif dan toleran melalui integrasi LKLB dalam skenario Dalam kajian ini, kompetensi guru merujuk pada PENDAHULUAN Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) adalah kemampuan untuk berinteraksi secara reflektif dan konstruktif dengan individu atau kelompok dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. LKLB tidak hanya mencakup pengetahuan lintas agama, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, empati, dan kesadaran diri dalam merespons keberagaman. Dalam konteks pendidikan. LKLB menjadi bagian penting dari upaya membangun ruang kelas yang aman, inklusif, dan toleran di tengah kemajemukan Indonesia. Integrasi nilai-nilai LKLB dalam proses pembelajaran memiliki urgensi yang tinggi. Pembelajaran bermuatan LKLB membantu siswa memahami berbagai sudut pandang, meningkatkan mencegah sikap eksklusif atau intoleran sejak dini. Rencana pembelajaran yang dirancang dengan mempertimbangkan aspek LKLB memungkinkan guru menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati dalam setiap kegiatan belajar. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam bermuatan LKLB perlu menjadi pengembangan profesional. Evaluasi dilakukan untuk menjamin efektivitas workshop dalam membekali guru dengan kemampuan tersebut. Evaluasi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kebutuhan peserta didik keberagaman budaya dan agama. Kompetensi inilah yang menjadi titik pengembangan model workshop yang aplikatif dan berbasis kebutuhan nyata guru di lapangan. Namun, fakta empiris memperlihatkan bahwa banyak guru secara efektif (Afriyani, dkk. , 2. Model Kirkpatrick mengevaluasi pelatihan melalui empat tingkat bertahap: Level 1 Reaksi Ae kepuasan dan Level Pembelajaran Ae pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Level 3 Perilaku Ae penerapan keterampilan baru di tempat kerja. Level 4 Hasil Ae dampak terukur pada organisasi atau penerima manfaat (Nurhayati, 2. Dalam konteks workshop LKLB, level 4 difokuskan pada iklim belajar inklusif yang dialami Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman guru LKLB keterbatasan dalam menyusun skenario pembelajaran berbasis keberagaman budaya menjadi hambatan utama dalam integrasi konsep ini di dalam kelas (Latuwael, dkk. , 2. Studi oleh Masruroh, dkk. mengungkapkan jika mayoritas pendidik masih belum mempunyai keterampilan memadai mengakomodasi nilai-nilai pluralisme dan keberagaman budaya (Masruroh, , 2. Selain itu, penelitian oleh Hidayati . lebih menyoroti manfaat LKLB bagi peserta didik tanpa memberikan panduan praktis bagi guru Padahal, guru sebagai agen perubahan pelatihan yang sistematis dan aplikatif untuk meningkatkan kompetensinya dalam menerapkan LKLB dalam skenario pembelajaran (Inu, dkk. , 2. Workshop berbasis pengalaman terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi guru. Melalui model ini, guru belajar secara interaktif, berbagi pengalaman, dan mengembangkan keterampilan lewat refleksi dan praktik (Iqbal, dkk. , 2. Selain itu, pendekatan pedagogi reflektif juga pembelajaran, sehingga guru dapat pengajarannya (Wildan & Budiman. Studi oleh Ardiyani dkk. menunjukkan bahwa workshop berbasis keterampilan guru hingga 50% dalam merancang pembelajaran yang inovatif (Ardiyani, dkk. , 2. Namun, masih minim penelitian yang mengevaluasi workshop secara sistematis sesuai kebutuhan guru di lapangan. Penelitian ini berfokus pada evaluasi workshop literasi keagamaan lintas budaya. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Workshop tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi profesional guru, khususnya dalam merancang skenario pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai keberagaman budaya dan agama. Pelatihan yang dimaksud pengalaman yang menggabungkan pendekatan kolaboratif, reflektif, dan praktik langsung dalam penerapan literasi keagamaan lintas budaya di Kajian ini mengevaluasi pelatihan berbasis kebutuhan praktis dan bukti pembelajaran yang berorientasi pada Selain itu, hasil kajian ini dapat dijadikan referensi bagi pembuat regulasi pendidikan dalam merancang kegiatan pengembangan guru yang lebih inklusif dan responsif terhadap keberagaman budaya serta agama. Temuan riset ini diproyeksikan mampu menghadirkan perspektif baru dalam strategi perluasan kompetensi guru serta menjadi referensi bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berbasis keberagaman dan inklusivitas. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, kebaruan dari penelitian ini terletak pada penggunaan model evaluasi Kirkpatrick secara menyeluruh hingga level 4 untuk menilai efektivitas workshop LKLB, yang jarang dilakukan Indonesia. Penelitian ini juga menggabungkan pendekatan LKLB dalam perencanaan pembelajaran yang kontekstual dan Dampaknya dievaluasi, baik terhadap guru maupun iklim kelas dan persepsi siswa. Model evaluasi Kirkpatrick telah lama dikenal sebagai kerangka yang komprehensif dalam mengevaluasi Model ini terdiri dari empat tingkat, yaitu Reaksi. Pembelajaran. Perilaku, dan Hasil, yang masingmasing dampak pelatihan secara menyeluruh. Dalam konteks pelatihan guru, model ini mulai digunakan di beberapa studi sebelumnya, seperti oleh Sari & Prasetyo . Namun, penerapannya umumnya masih terbatas hingga level menjangkau evaluasi pada level hasil . yang menilai dampak jangka panjang terhadap lingkungan belajar. Dengan merujuk pada latar belakang tersebut, penelitian ini Bagaimana terhadap isi, proses, dan fasilitator workshop LKLB? Sejauh meningkatkan pengetahuan dan pembelajaran bermuatan LKLB? Apakah perilaku guru dalam menerapkan RPP LKLB di kelas setelah Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Apa indikasi awal hasil . pada iklim kelas dan keterlibatan Data melalui beberapa teknik. Pertama, wawancara mendalam dilakukan untuk mengeksplorasi pengalaman guru dan persepsi mereka terhadap workshop. Kedua, dikumpulkan sebagai bagian dari evaluasi model workshop. Ketiga, dokumentasi yang dikaji meliputi rencana pembelajaran, materi workshop, dan proses pelatihan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mencakup soal pre-test dan post-test, panduan wawancara, lembar observasi, dan panduan FGD. Soal pre-test dan post-test disusun untuk mengukur peningkatan pemahaman Sebelum digunakan, soal-soal tersebut diuji terlebih dahulu untuk memastikan validitasnya. Validasi dilakukan agar instrumen layak digunakan dalam pengumpulan data. METODE Penelitian penelitian evaluatif. Evaluasi dilakukan Kirkpatrick yang mencakup empat level: Reaction. Learning. Behavior, dan Results. Penelitian dilakukan di beberapa sekolah dan madrasah di Kota Malang, yang memiliki keragaman budaya dan agama sebagai konteks yang relevan. Subjek penelitian terdiri dari: . Guru: Sebanyak 30 orang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria pengalaman mengajar minimal 3 tahun dan keterlibatan dalam keagamaan lintas budaya. Fasilitator workshop: Sebagai pihak yang memandu pelaksanaan pelatihan. Stakeholder Untuk masukan dan evaluasi terhadap relevansi workshop. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data pre-test dan post-test. Teknik yang digunakan adalah uji-t Analisis ini bertujuan untuk menilai perubahan pemahaman guru sebelum dan setelah mengikuti Analisis terhadap data wawancara dan FGD. Teknik yang digunakan adalah analisis Tujuannya adalah untuk mengungkap tema-tema sentral yang muncul dari data tersebut. Triangulasi data dilakukan untuk memastikan validitas dan reliabilitas Teknik Pengumpulan Data Data Kuantitatif berdasarkan: . Pre-test dan Post-test untuk menilai tingkat pemahaman guru terhadap literasi keagamaan lintas budaya sebelum dan sesudah workshop. Instrumen berupa kuesioner dengan skala Likert. Observasi dilakukan untuk menilai implementasi skenario dirancang oleh guru. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Proses ini melibatkan analisis komparatif terhadap hasil pre-test dan post-test, wawancara, serta observasi. Cara ini membantu memastikan konsistensi dan kekuatan data. Untuk memastikan kesesuaian antara tujuan evaluasi dan teknik empat level dalam model evaluasi Kirkpatrick. Setiap level memiliki jenis data dan instrumen tersendiri yang telah divalidasi untuk menjamin keakuratan dan keterandalan hasil. Rincian data dan instrumen yang digunakan dalam masing-masing level evaluasi disajikan pada Tabel 1 berikut: Validasi penelitian yang meliputi validasi soal pre-test dan post-test, modul pelatihan, bahan ajar, lembar observasi, lembar wawancara, angket respons peserta dan Validasi diperiksa oleh dua dosen bersama satu Proses validasi menghasilkan analisis, evaluasi, dan rekomendasi dari para validator yang digunakan sebagai dasar dalam revisi perangkat yang Ringkasan validasi instrumen penelitian disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Rekap Hasil Validasi Instrumen Tabel 1. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Level Kirkpatrick Reaksi Pembelajaran Perilaku Hasil Data & Instrumen Kuesioner kepuasan 5 skala Likert. 25 item tes LKLB . aliditas > 0. RPP LKLB ( = 0. Observasi kelas. tindak lanjut Wawancara survei persepsi siswa mengenai iklim Data yang ditampilkan pada Tabel instrumen telah memenuhi kriteria validitas isi, yang berarti instrumen penelitian sesuai dengan tujuan dan konsep yang benar. Hal ini didukung HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini mencakup menjelaskan efektivitas workshop LKLB. Validitas Instrumen Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 oleh kesimpulan akhir dari para validator, di mana seluruh validator menyatakan bahwa instrumen tersebut "Layak Digunakan dengan Perbaikan". Pembelajaran. Perubahan Pemahaman Guru Sebelum dan Sesudah Workshop Hasil pre-test mengindikasikan jika sebagian besar guru yang mempunyai pemahaman terbatas terhadap literasi keagamaan lintas budaya (LKLB). Rerata skor pre-test sebesar 55,17, yang mengintegrasikan konsep LKLB dalam Namun, mengikuti workshop, rata-rata skor posttest meningkat secara signifikan 93,54. Analisis adanya perbedaan yang signifikan . < 0,. diantara pre-test dengan post-test, yang menegaskan bahwa workshop pemahaman guru tentang LKLB. Rekap nilai pre-test, post-test dan n-gain dituangkan dalam Tabel 3. Reaksi Berdasarkan kepuasan dan refleksi harian, lebih dari 90% peserta menyatakan sangat puas dengan pelaksanaan workshop. Aspek yang dinilai meliputi kesesuaian materi dengan kebutuhan guru, kualitas fasilitator, dan metode pelatihan yang Refleksi harian menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti sesi, serta kesadaran akan pentingnya integrasi nilai-nilai LKLB dalam Hasil ini sejalan dengan temuan Iqbal. Basri, & Zaiturrahmi . yang menunjukkan bahwa pelatihan yang dirancang secara partisipatif meningkatkan motivasi dan kenyamanan peserta. Namun demikian, antusiasme peserta dalam tahap reaksi belum menjamin keberlanjutan praktik di Redhana . menekankan bahwa keberhasilan pelatihan tidak cukup dinilai dari kepuasan jangka pengetahuan dalam konteks nyata oleh sebab itu, peranan fasilitator sangat penting untuk mendampingi dan memicu semangat dan pemahaman mereka di ruang kelas. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Tabel 3. Rekap nilai pre-test, post-test dan n-gain Hal serupa juga terlihat pada kemampuan mereka dalam membuat skenario pembelajaran terintegrasi. Setelah mengikuti workshop, terjadi Temuan ini mengonfirmasi teori pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential pembelajaran yang berbasis praktik langsung, refleksi, dan diskusi dapat meningkatkan pemahaman secara lebih Selain itu, penelitian Ardiyani dkk. menunjukkan bahwa pelatihan berbasis pengalaman dapat meningkatkan keterampilan guru hingga 50%, yang sejalan dengan hasil penelitian ini. Dengan demikian, peningkatan pemahaman yang diamati dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang diterapkan workshopAimelalui interaktif, pengembangan skenario, dan praktikAiberhasil meningkatkan kompetensi profesional guru secara signifikan. Penilaian dengan rubrik terstandar menunjukkan bahwa guru mampu menyusun RPP yang mengintegrasikan nilai keberagaman secara sistematis. Kemampuan pemahaman yang lebih mendalam Temuan ini diperkuat oleh Rais dan Aryani . yang menekankan bahwa siklus pengalaman, refleksi, dan meningkatkan penguasaan konsep pada guru. Berdasarkan hasil wawancara seluruh guru setuju diadakan kegiatan kompetensi profesional guru. Sebagian besar guru mengusulkan adanya keagamaan lintas budaya. Sebagian guru juga mendukung kegiatan workshop yang disertai dengan kegiatan peer teaching. Data dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang literasi keagamaan lintas budaya masih rendah sebelum mengikuti workshop. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Secara pengetahuan kognitif ini menunjukkan bahwa LKLB adalah konsep yang dapat pendekatan pembelajaran aktif dan Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pemahaman tersebut tidak bersifat teoritis semata, melainkan dapat diterapkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran yang kompleks dan dinamis. Hal ini sejalan dengan Masruroh et al. yang menyatakan bahwa pemahaman konseptual guru harus diimbangi dengan keterampilan pedagogis untuk menciptakan pembelajaran yang benarbenar responsif terhadap keberagaman. Workshop yang diselenggarakan Tujuannya adalah untuk memberikan wawasan dan pemahaman mengenai dengan literasi keagamaan lintas Proses diilustrasikan dalam Gambar 1. Gambar 1. Kegiatan workshop Workshop ini membekali guru dengan pemahaman tentang LKLB dan strategi pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai keberagaman. Desain workshop literasi keagamaan lintas budaya dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Model workshop keagamaan lintas budaya. Kegiatan skenario pembelajaran terintegrasi literasi keagamaan lintas budaya Mengidentifikasi Capaian Pembelajaran, materi pelajaran dan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 memiliki keterkaitan dengan literasi keagamaan lintas budaya. Merancang strategi pengajaran dengan memilih metode, model, dan media pembelajaran yang sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Menyiapkan skenario pengajaran yang menggambarkan integrasi antara materi pelajaran dengan literasi keagamaan lintas budaya. Melaksanakan Melaksanakan refleksi dan revisi terhadap rencana pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang sudah Hasil evaluasi terhadap peserta workshop menunjukkan data mengenai kemampuan guru dalam merancang mengintegrasikan literasi keagamaan lintas budaya. Data evaluasi ini disajikan dalam bentuk persentase yang menggambarkan tingkat kemampuan guru dalam perancangan pembelajaran Persentase tersebut diperoleh melalui observasi dan angket yang diisi oleh guru pada akhir workshop, sebagaimana ditampilkan dalam Tabel Indikator Pengetahuan guru mengenai LKLB Pengetahuan guru mengenai Kategori Baik 70,58 Baik 72,05 Baik 69,11 Baik 73,52 Baik Workshop pengembangan skenario keagamaan lintas budaya terbukti Kegiatan ini mencakup sesi interaktif, pengembangan skenario pembelajaran, dan simulasi praktik. Seluruh rangkaian tersebut secara langsung meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang terintegrasi. Perilaku Observasi lembar 15 indikator menunjukkan bahwa sebagian besar guru telah menerapkan pembelajaran berbasis LKLB secara aktif. Guru menciptakan menggunakan metode diskusi, studi Tabel 4. Persentase Kompetensi Guru dalam Mendesain Pembelajaran Terintegrasi LKLB LKLB Kemampuan LKLB Kemampuan LKLB Kemampuan LKLB Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kasus, dan refleksi kelompok Tindak lanjut enam minggu setelah pelatihan menunjukkan bahwa sebagian praktik tetap berlanjut. Namun, beberapa guru masih memerlukan pendampingan Hasil ini selaras dengan Wildan & Budiman . yang reflektif mendorong guru menerapkan pendekatan inklusif dan menyesuaikan strategi pengajaran dengan kebutuhan Analisis kritis terhadap level perilaku ini menunjukkan adanya indikasi positif terhadap perubahan praktik mengajar. Namun, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada dukungan lingkungan sekolah dan berlanjutnya komunitas belajar guru. Penelitian oleh Nurgas & Rasyid . perilaku pedagogis tidak akan bertahan lama jika tidak didukung oleh budaya kolaboratif dan sistem pengembangan profesional berkelanjutan di sekolah. bahwa workshop berdampak positif terhadap iklim pembelajaran di sekolah. Penelitian Harahap et al. turut keberagaman mendorong tumbuhnya nilai toleransi dan kolaborasi di lingkungan sekolah. Hasil pada level ini menunjukkan kontribusi pelatihan dalam membentuk budaya belajar yang lebih humanis dan Namun, hasil ini perlu longitudinal untuk menilai dampak jangka panjang terhadap perubahan nilai-nilai siswa dan dinamika kelas. Seperti disampaikan oleh Ardiyani et al. , perubahan sistemik dalam refleksi praktik, dan penguatan nilai secara konsisten. Hasil ini mendukung pentingnya pelatihan berbasis pengalaman dan refleksi sebagai pendekatan strategis dalam meningkatkan kompetensi guru pembelajaran berbasis keberagaman. Model Kirkpatrick keberhasilan pelatihan, mulai dari pembelajaran jangka pendek di sekolah. Dukungan pendekatan pelatihan yang interaktif, kolaboratif, dan kontekstual sangat Hasil Wawancara sekolah mengonfirmasi bahwa terdapat pembelajaran dan suasana kelas menjadi lebih terbuka terhadap Survei terhadap 180 siswa menunjukkan bahwa 84% siswa merasa lebih dihargai pendapatnya, 79% merasa suasana kelas lebih inklusif, menghargai perbedaan agama dan Temuan ini menunjukkan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 profesional guru di era pendidikan yang inklusif dan multikultural. berbasis keberagaman. Penelitian oleh Nurgas dan Rasyid . juga menegaskan bahwa evaluasi berbasis refleksi dalam komunitas pembelajaran guru dapat meningkatkan efektivitas penerapan strategi pedagogi inklusif. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bukan sekedar memperluas pengetahuan teoretis guru, tetapi juga memperkuat keterampilan praktis dalam merancang pembelajaran yang inklusif. Efektivitas Workshop dalam Pengembangan Kompetensi Guru Tabel 2 juga berisikan skor posttest. Hasil post-test menunjukkan perkembangan yang sangat berarti pada tingkat pemahaman guru setelah mengikuti workshop. Analisis uji-t berpasangan mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan . < 0,. diantara skor pre-test dengan post-test. Workshop pemahaman teoretis tentang LKLB dan memfasilitasi guru dalam merancang skenario pembelajaran terintegrasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam merancang LKLB mengalami peningkatan yang positif. Sebanyak 75% guru menunjukkan LKLB, sedangkan 70,58% menunjukkan merancang pembelajaran terintegrasi. Selain itu, 73,52% guru mampu mengembangkan potensi peserta didik dalam pembelajaran berbasis LKLB. Artinya, workshop berhasil membekali guru dengan keterampilan praktis untuk menerapkan LKLB di kelas. Hasil ini memperkuat penelitian Masruroh menyatakan bahwa pelatihan berbasis refleksi dan praktik kolaboratif dapat mengatasi keterbatasan guru dalam Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Workshop Keberhasilan workshop didukung oleh beberapa faktor penting. Pertama, guru menunjukkan motivasi tinggi dalam mengikuti workshop dan terlibat aktif dalam diskusi. Kedua, terdapat kesediaan dari para guru untuk berbagi pengalaman serta memberikan umpan balik dalam pengembangan skenario Ketiga, model workshop langsung dan refleksi pedagogis, sehingga relevan dengan kebutuhan praktis guru. Faktor beberapa hal. Pertama, keterbatasan waktu pelatihan membuat guru tidak mengembangkan lebih banyak skenario Kedua, perbedaan kemampuan awal antar peserta workshop. Sebagian guru masih Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 lanjut dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran berbasis LKLB. Hasil ini sejalan dengan temuan Latuwael, . menunjukkan bahwa pelatihan guru sering terkendala oleh keterbatasan waktu dan perbedaan kompetensi awal Kondisi ini dapat menurunkan efektivitas pelatihan dalam jangka Oleh mentoring dan coaching. Ke depan, penelitian ini mengevaluasi efek berkelanjutan dari pelatihan ini pada praktik mengajar pendidik di kelas. Selain itu, model workshop ini dapat diadaptasi dengan mata pelajaran lain untuk memperluas penerapan LKLB dalam berbagai disiplin ilmu. KESIMPULAN Berdasarkan workshop peningkatan kemampuan penyusunan perencanaan pembelajaran bermuatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) pada guru-guru di Kota Malang dengan menggunakan model Kirkpatrick, dapat disimpulkan bahwa meningkatkan kompetensi profesional guru pada keempat level evaluasi. Pada level reaksi, para peserta menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi partisipatif dan kontekstual sangat sesuai dengan kebutuhan guru. Pada level pembelajaran, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep LKLB dan kemampuan menyusun RPP nilai-nilai Pada level perilaku, guru pembelajaran inklusif berbasis LKLB di kelas secara aktif dan reflektif. Sedangkan pada level hasil, siswa merasakan manfaat pembelajaran yang lebih menghargai perbedaan, dengan Implikasi Hasil terhadap Praktik Pembelajaran Hasil penelitian ini memberikan peningkatan kompetensi guru serta perumusan kebijakan pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa workshop LKLB bisa menjadi model pelatihan guru yang lebih luas untuk mendukung pendidikan inklusif dan Selain itu, temuan ini menyoroti perlunya pendampingan berkelanjutan setelah workshop, agar guru dapat terus mengembangkan menerapkan LKLB dalam berbagai konteks pembelajaran. Harahap menyatakan bahwa interaksi sosial dan keberagaman dalam pembelajaran dapat menumbuhkan nilai toleransi dan kolaborasi di sekolah. Model workshop ini sejalan dengan pendekatan sosialkonstruktivis Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 iklim kelas yang lebih terbuka dan Pelatihan serupa perlu dilakukan pendampingan pasca-workshop, agar kompetensi guru terus berkembang dan diterapkan di kelas. Selain itu, pengembangan modul digital dan platform kolaboratif daring dapat menjadi alternatif pendukung untuk memperluas dampak pelatihan ini. Penelitian mengevaluasi dampak jangka panjang serta mengadaptasi modelnya untuk bidang studi lain. DAFTAR PUSTAKA