Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6. Issue 3. November 2025 Journal Homepage: http://pusdikrapublishing. com/index. php/jsr Strategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Akreditasi Melalui Manajemen Mutu Mustapid STAI Al-Ikhlas Sidikalang. Dairi. Sumatera Utara Corresponding Author: Mustapid. Email: subangkangmus@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 18 Sept. Revised 30 Sept 2025 Accepted 25 Oktober 2025 Kata Kunci Keywords How to cite ABSTRACT Akreditasi merupakan instrumen penting dalam menjamin mutu layanan pendidikan di madrasah sesuai standar nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi kepala madrasah dalam meningkatkan akreditasi melalui pendekatan manajemen mutu. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan . ibrary researc. dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan manajemen mutu pendidikan Islam, kepemimpinan kepala madrasah, dan standar Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan peningkatan akreditasi sangat bergantung pada efektivitas kepemimpinan kepala madrasah dalam menerapkan manajemen mutu secara sistematis dan berkelanjutan, khususnya melalui penguatan supervisi akademik, peningkatan kompetensi guru, penerapan budaya mutu, pemanfaatan teknologi digital, serta keterlibatan aktif seluruh warga madrasah dan pemangku kepentingan. Temuan ini menegaskan bahwa akreditasi tidak hanya menilai kelengkapan dokumen, tetapi juga mencerminkan kinerja riil madrasah dalam mencapai standar mutu pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi kepemimpinan yang integratif, berbasis nilai spiritual dan transformasional, serta selaras dengan prinsip Total Quality Management (TQM), memainkan peran signifikan dalam memastikan peningkatan akreditasi yang berkelanjutan. Kajian ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis dalam pengembangan model manajemen mutu bagi kepala madrasah untuk mewujudkan madrasah unggul dan berdaya saing. kepala madrasah, manajemen mutu, akreditasi. TQM https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr PENDAHULUAN Peningkatan mutu pendidikan pada satuan pendidikan Islam, khususnya madrasah, menjadi agenda strategis dalam menghadapi tuntutan era Revolusi Industri 0 dan Society 5. 0 yang menekankan kompetensi literasi baru, karakter, serta daya saing Madrasah tidak lagi hanya diposisikan sebagai lembaga transmisi ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga sebagai institusi yang harus mampu menjamin mutu layanan pendidikan secara akuntabel kepada publik melalui sistem penjaminan mutu internal Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 dan eksternal yang terintegrasi (Karimah: 2. Dalam konteks ini, akreditasi madrasah menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan sekaligus mencerminkan budaya mutu yang berkelanjutan. Secara regulatif, akreditasi sekolah/madrasah di Indonesia diatur melalui berbagai kebijakan, antara lain Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020 yang ditetapkan melalui keputusan menteri serta diperkuat oleh Permendikbudristek tentang kriteria dan perangkat akreditasi. Akreditasi dipahami sebagai proses evaluasi kelayakan satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), dengan tujuan utama memberikan jaminan mutu kepada pemangku kepentingan bahwa layanan pendidikan yang diberikan telah memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan (Kemendikbudristek: 2. Dengan demikian, capaian akreditasi tidak hanya sekadar Aunilai raporAy lembaga, tetapi juga cerminan kualitas tata kelola, proses pembelajaran, dan hasil belajar peserta didik. Dalam praktiknya, akreditasi madrasah sering dipersepsi sekadar sebagai kewajiban administratif yang harus dipenuhi setiap periode tertentu, sehingga fokus utama pengelola lembaga adalah melengkapi dokumen saat menjelang visitasi asesor. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa akreditasi seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari siklus penjaminan mutu pendidikan, yang menyediakan umpan balik untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program madrasah secara berkelanjutan (Sohiron: 2. Akreditasi yang dipahami sebagai kebutuhan, bukan sekadar kepentingan sesaat, akan mendorong madrasah menjadikan standar akreditasi sebagai rujukan utama dalam merancang program peningkatan mutu secara sistematis. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak madrasah yang mengalami kesulitan mencapai peringkat akreditasi unggul karena lemahnya pemahaman terhadap instrumen akreditasi baru, kurangnya kesiapan dokumen, dan belum terbangunnya budaya mutu di seluruh warga madrasah. Perubahan paradigma penilaian dari yang sangat berbasis dokumen menuju IASP 2020 yang menekankan aspek kinerja dan mutu riil satuan pendidikan juga menuntut kapasitas manajerial yang lebih tinggi dari pimpinan madrasah (Fauzi: 2. Sosialisasi yang belum merata, pemanfaatan aplikasi Sispena yang belum optimal, serta keterbatasan sumber daya manusia di bidang administrasi dan tata kelola menjadi faktor-faktor penghambat yang berdampak langsung terhadap capaian akreditasi. Dalam kerangka inilah manajemen mutu menjadi pendekatan yang sangat relevan untuk menjembatani tuntutan standar akreditasi dengan kondisi faktual madrasah. Konsep Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan menekankan pentingnya perbaikan berkelanjutan . ontinuous improvemen. , keterlibatan seluruh warga lembaga, fokus pada AupelangganAy pendidikan . eserta didik, orang tua, dan masyaraka. , serta kepemimpinan yang kuat dalam mengarahkan perubahan (Sallis: Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 Sofyan: 2. Penerapan TQM dalam program akreditasi terbukti mampu membantu satuan pendidikan menyusun sistem manajemen mutu yang terdokumentasi, terpantau, dan terukur sehingga berdampak pada peningkatan skor akreditasi dan efisiensi operasional lembaga. Berbagai studi menunjukkan bahwa penerapan manajemen mutu secara konsisten dalam konteks pendidikan Islam dapat meningkatkan mutu pembelajaran, tata kelola, dan hasil akreditasi lembaga. Penelitian Azizah misalnya mengungkap bahwa penerapan TQM dalam program akreditasi sekolah menjadi strategi efektif untuk memperbaiki mutu pendidikan secara simultan, karena standar akreditasi dijadikan fokus perbaikan berkelanjutan di semua komponen sekolah (Azizah: 2. Demikian pula, kajian terbaru menegaskan bahwa praktik TQM yang mencakup komitmen pimpinan, keterlibatan guru dan tenaga kependidikan, serta budaya evaluasi yang kuat memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai akreditasi dan kepercayaan Dalam konteks madrasah, manajemen mutu tidak hanya berhenti pada terpenuhinya indikator-indikator teknis akreditasi, tetapi juga harus selaras dengan visi keislaman lembaga untuk melahirkan lulusan yang berkarakter, religius, moderat, dan Oleh karena itu, sistem manajemen mutu di madrasah harus memasukkan nilai-nilai spiritual, etika, dan budaya organisasi Islami ke dalam kebijakan, prosedur, dan praktik keseharian, seperti pembiasaan ibadah, keteladanan guru, dan budaya musyawarah (Mulyasa: 2. Integrasi nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip TQM menjadikan manajemen mutu di madrasah memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan lembaga pendidikan umum, sehingga membutuhkan kepemimpinan yang memahami sekaligus dua ranah: manajemen modern dan tradisi keagamaan. Posisi kepala madrasah menjadi sangat strategis karena ia berperan sebagai pemimpin visioner, manajer, supervisor, dan sekaligus motor penggerak perubahan mutu lembaga. Berbagai penelitian dalam manajemen pendidikan Islam menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan mutu madrasah sangat ditentukan oleh kapasitas manajerial dan kepemimpinan kepala madrasah dalam menggerakkan guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik menuju visi bersama (Maryatin: 2015. Hasanah: 2. Kepala mengorganisasikan sumber daya, mengarahkan pelaksanaan program, serta melakukan evaluasi dan tindak lanjut secara sistematis sehingga seluruh indikator akreditasi dapat tercapai secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang visitasi asesor. Sejumlah studi empiris secara khusus menyoroti kontribusi kepemimpinan kepala madrasah terhadap peningkatan mutu dan akreditasi. Penelitian Latifah, misalnya, menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala madrasah yang partisipatif dan suportif mampu meningkatkan kinerja guru dan hasil belajar sehingga berdampak pada kenaikan status mutu lembaga (Latifah: 2. Studi lain menemukan bahwa gaya kepemimpinan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 transformasional dan spiritual kepala madrasah berpengaruh terhadap penguatan budaya religius, kedisiplinan, dan iklim kerja kolaboratif yang menjadi prasyarat penting untuk memenuhi standar akreditasi (Nurpadillah: 2024. Sujarwo: 2. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa manajemen mutu tanpa kepemimpinan yang efektif akan sulit menghasilkan lonjakan capaian akreditasi secara signifikan. Di sisi lain, muncul pula kajian-kajian yang secara spesifik membahas manajemen akreditasi di tingkat madrasah. Mantara, misalnya, mendeskripsikan bagaimana MTs Bunayya Islamic School mengelola proses akreditasi melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang terstruktur mulai dari pembentukan tim akreditasi, pemetaan data, hingga pendampingan intensif kepada guru dalam pemenuhan instrumen (Mantara: Penelitian terbaru di MIN 2 Kota Palangka Raya juga menunjukkan bahwa manajemen akreditasi yang baikAimeliputi penyusunan dokumen, penguatan program, dan monitoring tindak lanjut hasil akreditasiAimampu menjaga dan meningkatkan status akreditasi madrasah (Rahman: 2. Namun, kajian-kajian tersebut umumnya masih memotret manajemen akreditasi secara umum dan belum mengkaji secara mendalam strategi kepemimpinan kepala madrasah berbasis manajemen mutu sebagai faktor kunci peningkatan akreditasi. Keterbatasan lain yang tampak dari penelitian-penelitian sebelumnya adalah belum terumuskannya secara sistematis model strategi kepala madrasah dalam meningkatkan akreditasi melalui pendekatan manajemen mutu yang terintegrasi dengan kerangka IASP 2020. Sebagian besar studi menggambarkan peran kepala madrasah dalam meningkatkan mutu secara luas, seperti peningkatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum, atau penguatan budaya religius (Amri: 2022. Gusli: 2. Padahal, diperlukan pemetaan yang lebih spesifik tentang bagaimana kepala madrasah merancang strategi mutu yang langsung dikaitkan dengan empat dimensi utama IASP 2020 baik mutu lulusan, proses pembelajaran, manajemen sekolah/madrasah, dan penilaian, sehingga dapat menghasilkan lonjakan capaian akreditasi secara terencana. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian tentang AuStrategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Akreditasi Melalui Manajemen MutuAy menjadi sangat penting, baik dari sisi teoretis maupun praktis. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi memperkaya khazanah manajemen pendidikan Islam dengan mengintegrasikan konsep kepemimpinan kepala madrasah, manajemen mutu, dan kebijakan akreditasi dalam satu kerangka analisis. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi rujukan bagi para kepala madrasah dalam menyusun strategi peningkatan akreditasi yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan instrumen sesaat, tetapi juga membangun budaya mutu yang mengakar pada seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan. Integrasi kedua dimensi ini diharapkan mampu menghasilkan model strategis yang aplikatif dan mudah direplikasi di berbagai madrasah. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 Lebih jauh, fokus pada strategi kepala madrasah dalam mengelola manajemen mutu untuk peningkatan akreditasi juga relevan dengan agenda reformasi pendidikan nasional yang menekankan pentingnya otonomi, akuntabilitas, dan transparansi lembaga pendidikan. Kepala madrasah sebagai pemimpin puncak di tingkat satuan pendidikan dituntut tidak hanya memahami secara teknis instrumen akreditasi, tetapi juga memiliki kapasitas strategis untuk menerjemahkan standar akreditasi ke dalam program-program mutu yang terukur, berorientasi hasil, dan berkelanjutan (Irawansyah: Mulyasa: 2. Dengan demikian, kajian ini dapat memberikan gambaran konkret tentang profil kepemimpinan kepala madrasah yang ideal di era akreditasi berbasis kinerja dan mutu riil lembaga. Akhirnya, artikel ini akan mengkaji secara mendalam bagaimana kepala madrasah merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi strategi manajemen mutu dalam rangka meningkatkan akreditasi madrasah. Analisis akan diarahkan pada praktikpraktik kepemimpinan yang konkret, seperti pembentukan dan pemberdayaan tim mutu, penguatan supervisi akademik, pengelolaan data mutu dan dokumen akreditasi, kemitraan dengan pemangku kepentingan, serta pembudayaan evaluasi dan tindak lanjut di lingkungan madrasah. Diharapkan, hasil kajian ini tidak hanya mendeskripsikan strategi yang telah berhasil meningkatkan akreditasi, tetapi juga menyusun rekomendasi model strategis yang dapat dijadikan pedoman praktis bagi kepala madrasah lain yang sedang berupaya meningkatkan mutu dan status akreditasi METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep strategi kepala madrasah dalam meningkatkan akreditasi melalui penerapan manajemen mutu pendidikan. Library research dipilih karena penelitian berfokus pada penelaahan teori, konsep, hasil temuan ilmiah, serta kebijakan yang relevan tanpa melakukan pengumpulan data Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur ilmiah seperti buku-buku manajemen pendidikan Islam, jurnal nasional dan internasional terindeks Sinta maupun Scopus, prosiding ilmiah, hasil penelitian terdahulu, serta regulasi terkait akreditasi madrasah seperti IASP 2020. Permendikbudristek, dan pedoman BAN-S/M. Pemilihan sumber dilakukan secara selektif berdasarkan tingkat relevansi, kebaruan, dan kredibilitas penerbit. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi literatur, yaitu mengumpulkan berbagai bahan bacaan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Penelusuran literatur dilakukan melalui database daring seperti Google Scholar. Garuda. DOAJ, dan portal resmi Kementerian Agama, serta perpustakaan kampus. Literatur yang Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan topik-topik utama seperti manajemen mutu, kepemimpinan kepala madrasah, dan akreditasi. Analisis data dilakukan dengan teknik content analysis atau analisis isi, dengan cara membaca secara intensif setiap literatur untuk menemukan pola berpikir, konsep, strategi, dan temuan yang mendukung tujuan penelitian. Analisis isi membantu peneliti mengidentifikasi hubungan antarkonsep serta menyusun argumen ilmiah yang solid mengenai strategi peningkatan akreditasi berbasis manajemen mutu. Data yang telah dianalisis kemudian diorganisasikan ke dalam tema-tema utama seperti: . konsep manajemen mutu dalam pendidikan Islam, . peran strategis kepala madrasah dalam penjaminan mutu, . instrumen dan standar akreditasi IASP 2020, dan . model strategi kepala madrasah dalam meningkatkan akreditasi. Tahapan ini memungkinkan peneliti menyusun pembahasan yang sistematis dan mudah dipahami. Untuk memastikan keabsahan data, dilakukan cross-check antar sumber dengan membandingkan pendapat berbagai ahli, temuan penelitian terdahulu, serta kebijakan Selain itu, peneliti mengutamakan sumber terbaru agar kajian tetap aktual, sesuai dengan perkembangan manajemen mutu dan sistem akreditasi madrasah yang terus diperbarui oleh pemerintah. Hasil dari penelitian kepustakaan ini diharapkan mampu menyajikan kerangka pemikiran konseptual serta model strategi yang holistik mengenai bagaimana kepala madrasah dapat menerapkan manajemen mutu sebagai instrumen untuk meningkatkan capaian akreditasi secara berkelanjutan. Temuan ini dapat menjadi kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan Islam, serta menjadi rujukan praktis bagi kepala madrasah dalam merancang kebijakan peningkatan mutu berbasis standar HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan akreditasi madrasah melalui manajemen mutu menunjukkan bahwa peran kepala madrasah sangat menentukan keberhasilan implementasi standar Kajian Sallis menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak akan meningkat tanpa kepemimpinan yang visioner dan berbasis perbaikan berkelanjutan (Sallis: 2. lingkungan madrasah, kepemimpinan ini harus berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebutuhan stakeholders pendidikan Islam. Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP 2. mengharuskan kepala madrasah mengelola empat komponen utama, yaitu mutu lulusan, proses pembelajaran, manajemen satuan pendidikan, dan penilaian pendidikan (BAN-S/M: 2. Hasil literatur menunjukkan bahwa ketercapaian indikator pada setiap komponen sangat erat kaitannya dengan efektivitas manajemen mutu yang diterapkan oleh pimpinan (Fauzi: Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 Kepala madrasah yang menerapkan kepemimpinan transformasional cenderung mampu menggerakkan guru toward budaya mutu, meningkatkan motivasi kerja, dan komitmen akan standar pendidikan yang tinggi (Bass & Riggio: 2. Dampaknya, guru lebih terdorong untuk melengkapi bukti fisik akreditasi dan meningkatkan kinerja pembelajaran secara nyata (Hasanah: 2. Literatur juga membuktikan bahwa penguatan supervisi akademik merupakan strategi penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan akreditasi. Supervisi efektif membantu guru memperbaiki pelaksanaan pembelajaran sesuai kurikulum serta penilaian berbasis kompetensi (Mulyasa: 2. Supervisi yang terstruktur mendukung komponen standar proses IASP 2020. Dalam konteks manajemen mutu, penerapan siklus PlanAeDoAeCheckAeAct (PDCA) dinilai relevan untuk mendorong perbaikan berkelanjutan pada seluruh aspek akreditasi (Deming: 1. Kepala madrasah yang berhasil meningkatkan akreditasi umumnya menjalankan siklus ini pada manajemen kurikulum, bimbingan dan konseling, serta penguatan literasi keagamaan peserta didik (Sofyan: 2. Studi menunjukkan bahwa pemanfaatan data mutu melalui EDS (Evaluasi Diri Sekola. menjadi dasar bagi penyusunan program peningkatan akreditasi (Kemendikbud: 2. Kepala madrasah yang baik akan menindaklanjuti hasil EDS menjadi rencana aksi mutu yang terjadwal dan terukur (Karimah: 2. Selain itu, manajemen SDM menjadi bagian strategis dalam peningkatan akreditasi. Pembinaan kompetensi guru melalui pelatihan Kurikulum Merdeka, penguatan literasi digital, hingga sertifikasi profesi terbukti meningkatkan skor indikator mutu pendidik dan tenaga kependidikan (Maryatin: 2015. Amri: 2. Kajian literatur juga menemukan bahwa penerapan budaya mutu di madrasah memainkan peran penting dalam keberhasilan akreditasi. Budaya mutu yang kuat tercermin dalam disiplin administrasi, keteraturan pembelajaran, dan kepekaan warga madrasah terhadap pemenuhan standar mutu (Sohiron: 2. Dimensi ini sejalan dengan nilai-nilai karakter Islam. Kemitraan madrasah dengan komite, alumni, dan masyarakat memberikan dukungan finansial dan moral terhadap pemenuhan sarana prasarana serta program penguatan mutu lulusan. Strategi ini diakui berkontribusi signifikan dalam pemenuhan komponen standar pembiayaan dan sarpras dalam instrumen akreditasi (Azizah: 2. Digitalisasi tata kelola melalui penggunaan Sispena, aplikasi administrasi, dan platform pembelajaran daring juga menjadi temuan penting dalam literatur. Transformasi digital meningkatkan efektivitas dokumentasi dan pelaporan akreditasi serta mendukung mutu manajemen yang lebih akuntabel (Rahman: 2. Di sisi spiritual leadership, kepala madrasah dituntut menjadi teladan akhlak, profesionalisme, dan religiusitas yang kemudian membentuk budaya organisasi Islami Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 (Mulyasa: 2. Kepemimpinan spiritual terbukti memperkuat rasa tanggung jawab dan motivasi guru dalam memenuhi standar mutu pembelajaran (Sujarwo: 2. Kajian teoretis juga menyoroti bahwa keterlibatan seluruh warga madrasah dalam Tim Penjaminan Mutu Internal (TPMI) merupakan strategi pelibatan kolektif yang membuat standar akreditasi menjadi tujuan bersama, bukan hanya beban kepala madrasah (Latifah: 2. Hal ini menguatkan implementasi TQM dalam konteks pendidikan Islam. Keberhasilan akreditasi juga sangat dipengaruhi oleh konsistensi monitoring program mutu dan evaluasi tindak lanjut yang dilakukan secara periodik (Irawansyah: Kepala madrasah yang aktif melakukan pemantauan memperoleh data valid untuk mengatasi gap mutu dengan cepat dan tepat sasaran. Namun, beberapa literatur menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan berupa keterbatasan literasi akreditasi, kurangnya SDM administrasi, serta resistensi perubahan budaya kerja (Gusli: 2. Oleh karena itu, strategi peningkatan akreditasi perlu menekankan pembangunan kapasitas dan pembiasaan budaya mutu yang Dari seluruh hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa strategi kepala madrasah yang berbasis manajemen mutu memiliki pengaruh langsung terhadap capaian akreditasi. Integrasi antara kepemimpinan transformasional-spiritual. PDCA, budaya mutu, supervisi akademik, serta digitalisasi manajemen menjadi faktor kunci keberhasilan peningkatan akreditasi secara berkelanjutan dan relevan dengan standar IASP 2020. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian literatur yang dianalisis, dapat disimpulkan bahwa kepala madrasah memiliki posisi strategis dalam meningkatkan akreditasi melalui penerapan manajemen mutu pendidikan. Strategi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen akreditasi, tetapi lebih pada membangun budaya mutu yang mandiri dan berkelanjutan. Kepala madrasah harus mengintegrasikan prinsip Total Quality Management (TQM), nilai-nilai kepemimpinan spiritual dan transformasional, serta pendekatan PlanAeDoAeCheckAeAct (PDCA) dalam seluruh siklus peningkatan mutu. Keberhasilan peningkatan akreditasi sangat ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam menggerakkan seluruh warga madrasah untuk mencapai standar mutu yang ditetapkan pada IASP 2020. Hal ini diwujudkan melalui penguatan supervisi akademik, peningkatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital untuk tata kelola dan dokumentasi, optimalisasi peran Tim Penjaminan Mutu Internal (TPMI), serta memperluas kemitraan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan. Dengan strategi tersebut, akreditasi tidak lagi menjadi agenda administratif sesaat, melainkan alat transformasi mutu madrasah menuju lembaga pendidikan Islam yang unggul, akuntabel, dan kompetitif. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1002-1011 Oleh karena itu, upaya peningkatan akreditasi harus dipahami sebagai bagian integral dari implementasi manajemen mutu madrasah secara menyeluruh. Kajian ini merekomendasikan perlunya penyusunan model strategi peningkatan akreditasi berbasis manajemen mutu yang dapat menjadi rujukan praktis bagi kepala madrasah dalam merancang kebijakan peningkatan mutu yang aplikatif dan berorientasi hasil DAFTAR PUSTAKA