DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Asesmen Kesiapan Penerapan Rekam Medis Elektronik di RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati Readiness Assessment for Implementing Electronic Medical Records in RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati Amelia Febriana1* Hosizah2 Arief Ichwani3 Tria Saras Pertiwi4 1,2,3,4Program Studi Terapan Manajemen Informasi Kesehatan. Universitas Esa Unggul Jakarta, alamat Jl. Arjuna Utara No. Duri Kepa. Kec. Kb. Jeruk. Kota Jakarta Barat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta E-mail : febrianaamelia262@gmail. Abstract Fastabiq Sehat Hospital PKU Muhammadiyah Pati has implemented RME since 2017 using SIMRS Khanza, but its use has not been optimal. SIMRS Khanza has complete features, but does not fully meet the hospitalAos needs. In order to adjust the RME needs, a readiness assessment is needed. This study aims to assess the readiness of RME in 4 aspects including workflow aspects, technology infrastructure (IT) aspects, human resources (HR) aspects, and organizational aspects. This study was conducted in September 2024 Ae January 2025. This type of qualitative research uses the Qualitative Content Analysis (QCA) Method. Data collection was carried out through in-depth interviews and observations with the head of the outpatient installation, the head of the IT team and IT staff, the head of HR who were directly involved in the implementation of RME in the outpatient installation. Data analysis used MAXQDA Software. The results of the study indicate that in the workflow aspect, the implementation of RME is not fully ready because the SOP is not accordance with the RME system. the IT aspect, the procurement of UPS (Uninterruptible Power Suppl. is still needed, some RME features do not meet the needs. The human resources aspect is deemed adequate in terms of quantity and competence, supported by intensive training and mentoring. The IT development team still requires two additional programmers. Organizationally, adhoc and development teams will be formed to coordinate challenges, provide solutions, dan develop system to ensure optimal RME Keywords: readiness assessment. electronic medical records. outpatient installation. MAXQDA software. Abstrak RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati mengimplementasikan RME sejak tahun 2017 menggunakan SIMRS Khanza, namun penggunaannya belum optimal. SIMRS Khanza memiliki fitur lengkap, tetapi tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Dalam rangka menyesuaikan kebutuhan RME diperlukan asesmen kesiapan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan RME dalam 4 aspek meliputi aspek alur kerja, aspek infrastruktur teknologi (IT), aspek sumber daya manusia (SDM), aspek organisasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2024 Ae Januari 2025. Jenis penelitian Kualitatif menggunakan Metode Qualitative Content Analysis (QCA). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi dengan kepala instalasi rawat jalan, kepala tim IT dan staf IT, kepala SDI yang terlibat langsung dalam implementasi RME di instalasi rawat jalan. Analisis data menggunakan MAXQDA Software. Hasil penelitian menunjukkan pada aspek alur kerja, implementasi RME belum sepenuhnya siap karena SOP belum sesuai dengan sistem RME. Pada aspek IT, masih diperlukan pengadaan UPS (Uninterruptible Power Suppl. , beberapa fitur RME belum sesuai dengan kebutuhan. Aspek SDM dinilai memadai dari sisi jumlah dan Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. kompetensi, didukung pelatihan serta pendampingan intensif. Untuk tim pengembangan dari IT masih membutuhkan dua programmer tambahan. Pada aspek organisasi, dibentuknya tim adhoc dan pengembangan yang bertugas mengkoordinasi kendala, menyediakan solusi, dan mengembangkan sistem guna memastikan implementasi RME berjalan optimal. Kata kunci : asesmen kesiapan. rekam medis elektroni. instalasi rawat jalan. MAXQDA software. Pendahuluan Era digitalisasi yang telah berkembang termasuk bidang kesehatan. Transformasi digital di fasilitas pelayanan kesehatan memiliki dampak yang signifikan untuk efektivitas pelayanan termasuk dalam pengelolaan data rekam medis pasien. Sejalan dengan penelitian oleh (Ikawati, 2. menyebutkan bahwa era digitalisasi telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu, efisiensi, dan efektivitas pelayanan kesehatan melalui adopsi RME yang memungkinkan pengelolaan data pasien lebih cepat, akurat, dan terintegrasi. Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan inovasi teknologi informasi menyimpan, dan mengakses informasi medis secara elektronik. sistem ini menggantikan model rekam medis konvensional berbasis kertas yang memiliki berbagai kelemahan, seperti ketidakkonsistenan,ketidaklengkapan, serta keterbatasan dalam akses data yang cepat dan akurat (Rosalinda et al. , 2. Penelitian oleh (Magda Iftitah Khusful Laila et al. , 2. menyebutkan bahwa RME menggantikan rekam medis kertas karena menyediakan akses data lebih kehilangan berkas, dan meningkatkan akurasi dokumentasi. Implementasi RME diyakini dapat kesehatan, efisiensi administrasi, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang berbasis data. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022, telah mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyelenggarakan RME paling lambat 31 Desember 2023. Kebijakan ini memberikan landasan hukum yang kuat untuk implementasi RME, mendorong rumah sakit dan pusat kesehatan manajemen rekam medis (Permenkes No. 24, 2. Tantangan yang digunakan untuk mengimplementasikan RME tidaklah Sebelum penerapan, perlu dilakukan penilaian kesiapan . eadiness berbagai aspek yang mempengaruhi keberhasilan implementasi RME. Proses ini penting untuk mengidentifikasi potensi tantangan dan memastikan semua keberhasilan penerapan RME telah siap. Sejalan dengan penelitian terdahulu oleh (Siswati et al. , 2. , bahwa implementasi RME memiliki tantangan yang kompleks sehingga perlu dilakukan penilaian kesiapan . eadiness assessmen. untuk aspek-aspek implementasi dan menentukan prioritas mitigasi sebelum peluncuran penuh Penilaian kesiapan ini meliputi aspek alur kerja, infrastruktur teknologi, sumber daya manusia, dan organisasi, yang semuanya berkontribusi pada efektivitas sistem RME di fasilitas pelayanan kesehatan. Asesmen kesiapan penerapan Rekam Medis Elektronik merupakan proses evaluasi dan analisis secara menyeluruh mempengaruhi kesiapan suatu organisasi kesehatan di rumah sakit untuk mengimplementasikan sebuah sistem rekam medis Penilaian kesiapan . eadiness assessmen. dilakukan Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. sebelum implementasi rekam medis elektronik bertujuan untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi potensi tantangan atau hambatan yang mungkin dihadapi selama proses implementasi dan untuk memastikan bahwa semua elemen yang dibutuhkan untuk suksesnya penerapan RME telah terpenuhi (Rajapaksha Wickramasinghe, 2. Penelitian (Hidayat, menunjukkan bahwa banyak fasilitas kesehatan masih bergantung pada sistem infrastruktur IT yang baik. Sebaliknya, studi oleh (Kusriyanti et al. , 2. menemukan bahwa beberapa rumah sakit telah memiliki SDM yang memahami RME, meskipun terdapat kendala pada jaringan dan software yang digunakan. Demikian kompleksnya tantangan untuk implementasi RME, maka perlu dilakukan kesiapan . eadiness assessmen. sebelum implementasi RME. Penilaian . eadiness implementasi RME harus dilakukan sebelum diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan karena dapat mendukung optimalisasi penerapan RME. Proses analisis terhadap kesiapan penerapan RME dapat dilakukan untuk mengetahui melanjutkan ke tahap implementasi penuh RME (Yelvita, 2. Penelitian empiris diberbagai negara . ermasuk beberapa studi Asia-Afrika dan perbedaan kesiapan antar fasilitas, sejumlah rumah sakit telah menunjukkan kesiapan SDM dan komitmen organisasi, tetapi masih menghadapi tantangan serius perangkat lunak yang sesuai dengan proses klinis lokal, dan sumber daya untuk pemeliharaan IT. Studi kuantitatif pelatihan, partisipasi pengguna akhi, serta penyesuaian alur kerja klinis adalah faktor kunci keberhasilan penerapan RME. Sehingga, menyeluruh perlu mencakup penilaian teknis, organisasi, dan faktor manusia (Derecho et al. RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui penerapan sistem RME. Rumah sakit ini telah menggunakan sistem RME sejak tahun 2017 pada instalasi rawat jalan dengan memanfaatkan aplikasi SIMRS Khanza. SIMRS Khanza merupakan sistem berbasis komunitas yang memiliki fitur relatif lengkap untuk mendukung kebutuhan dasar RME. Namun demikian, terdapat beberapa fitur yang belum sesuai dengan kebutuhan rumah sakit, seperti asesmen awal rehabilitasi medik, asesmen fisioterapi, pendataan hasil echo jantung, dan format laporan TB yang belum Oleh karena itu, rumah sakit dihadapkan pada beberapa opsi, yakni menunggu pembaruan dari pengembang SIMRS Khanza, melakukan modifikasi secara mandiri, atau membangun sistem SIMRS baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan internal. Penelitian oleh (Kamal et al. , 2. menunjukkan bahwa SIMRS gratis yang digunakan luas di Indonesia mempunyai kelebihan tetapi juga kendala atau ketidaksesuaian fitur di beberapa RS sehingga perlu dilakukan evaluasi lanjutan atau kustomisasi. Sejalan dengan penelitian (Kamal et al. , 2. SIMRS Khanza banyak diaplikasikan karena biaya rendah dan komunitas dukungan, namun beberapa rumah sakit melaporkan menimbulkan opsi tindak lanjut yaitu menunggu pembaruan pengembang, melakukan kustomisasi mandiri, atau membangun sistem internal baru. SIMRS Khanza RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati mengalami pengembangan, namun masih Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan penerapan RME instalasi rawat jalan dengan menggunakan empat aspek utama yaitu aspek alur kerja, aspek Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. infrastruktur teknologi (IT), aspek sumber daya manusia (SDM), aspek organisasi. Penelitian memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat kesiapan rumah sakit serta menjadi dasar dalam perencanaan strategi implementasi RME yang efektif dan berkelanjutan pasien menggunakan RME belum Saat ini alur kerja pelayanan manual dengan prosedur layanan sebagai berikut : Pendaftaran: pasien melakukan pendaftaran dan mendapatkan nomor rekam medis. Pelayanan rawat jalan: setelah terdaftar, pasien diarahkan ke mendapatkan pelayanan asesmen pemeriksaan tanda-tanda vital. Pencatatan: perawat mengisi hasil pemeriksaan ke dalam lembar catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT). Penanganan oleh Dokter: pasien kemudian dipanggil ke ruang dokter untuk dilakukan assesmen lebih lanjut. Resep assesmen, dokter memberikan resep obat secara manual, dan Pojok penetapan: pasien diarahkan membuat surat kontrol dan mengambil resep obat di instalasi Proses mengambil obat, pasien kembali ke billing dan mengambil surat kontrol sebelum pulang. Berdasarkan Observasi kegiatan Pelayanan Pasien Instalasi Rawat Jalan dengan menggunakan RME diperoleh alur kerja sesuai dengan Gambar 1 yang mencakup tiga tahapan utama yaitu: pendaftaran pasien, pelayanan di instalasi rawat jalan, dan administrasi. Gambar 1. Alur RME Instalasi Rawat Metode Penelitian Kualitatif menggunakan Metode Qualitative Content Analysis (QCA). Penelitian dilaksanakan di RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati September 2024 Ae Januari 2025. Informan pada penelitian ini berjumlah 4 orang yang terdiri dari Kepala Instalasi Rawat Jalan . Kepala Unit IT . dan Tim IT . Kepala Unit SDI . Objek pada penelitian ini adalah kesiapan penerapan RME. Pengumpulan wawancara mendalam . n-depth intervie. dan observasi dilakukan pada 4 aspek yang terdiri dari aspek alur kerja membahas tentang kesesuaian alur kerja manual saat ini dengan kesiapan SPO untuk mendukung transisi ke RME, aspek infrastruktur teknologi (IT) membahas tentang ketersediaan hardware dan software, aspek sumber daya manusia (SDM) membahas tentang kemampuan dan keterampilan komputer dan pelatihan dalam penggunaan RME, aspek organisasi membahas tentang komitmen manajemen implementasi RME. Analisis data dengan MAXQDA Software dengan tahapan membuat sistem kode dengan pendekatan induktif, melakukan pengkodean data induktif, membuat kategori kode berdasarkan data induktif, membuat visualisasi kode, dan menarik Hasil dan Pembahasan Aspek Alur Kerja Berdasarkan dengan Kepala Instalasi Rawat Jalan diketahui bahwa alur kerja pendaftaran Jalan RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Pada tahapan ini, pasien dapat melakukan pendaftaran melalui dua metode, yaitu secara online dan langsung . Pendaftaran dilakukan melalui aplikasi Mobile JKN Fastmu Healthcare, pendaftaran langsung dilakukan dengan datang ke rumah sakit (RS). Pendaftaran Pasien Secara Online Pendaftaran online hanya tersedia bagi pasien lama. Pasien peserta BPJS Kesehatan dapat melakukan pendaftaran melalui aplikasi Mobile JKN. Pasien umum maupun yang menggunakan Asuransi Swasta dapat melakukan pendaftaran melalui Fastmu Healthcare. Setelah pasien memilih jadwal praktek dokter dan menyelesaikan proses pendaftaran, data registrasi akan otomatis terintegrasi dan masuk ke dalam sistem RME. Pendaftaran Pasien Secara Langsung di RS Setibanya di rumah sakit, pasien akan diidentifikasi terlebih dahulu statusnya, apakah sebagai pasien baru atau pasien lama. Jika pasien baru, maka petugas melakukan input data melalui menu AuPasienAy pada RME . Jika pasien lama, maka point . Setelah data pasien tercatat, proses dilanjutkan dengan pendaftaran poliklinik melalui menu AuRegistrasiAy. Pada menu Registrasi RME, seluruh daftar pasien yang mendaftar baik secara online maupun langsung akan Petugas kemudian akan melakukan verifikasi jenis kepesertaan BPJS, pembuatan Surat Eligibilitas Peserta (SEP). Proses SEP dilakukan melalui menu AuSurat Eligibilitas PesertaAy. Sedangkan jika pasien non BPJS langsung ke tahap Tahap Pelayanan di Instalasi Rawat Jalan Setelah pelayanan dilanjutkan di instalasi rawat jalan dengan alur sebagai berikut: Asesmen Keperawatan Setibanya di instalasi rawat jalan. Perawat membuka menu AuAwal KeperawatanAy RME menginput asesmen keperawatan. Data yang diinput pada tahap ini meliputi : Skrining Awal untuk pengisian TTV (Tanda-Tanda Vita. meliputi : tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, laju Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. pernapasan, tinggi badan, dan berat Asesmen Medis Dokter Setelah asesmen keperawatan selesai, pasien akan menjalani asesmen medis oleh dokter. Dokter memilih menu AuAwal MedisAy untuk mulai mengisi data Permintaan Pemeriksaan Penunjang Jika laboratorium atau radiologi, dokter akan membuat permintaan melalui menu AuPermintaan LaboratoriumAy AuPermintaan RadiologiAy pada RME. Permintaan tersebut kemudian otomatis diteruskan ke unit penunjang terkait. Pemberian Resep Obat Untuk pasien yang memerlukan pengobatan, dokter akan membuat resep melalui menu AuResep DokterAy. Resep ini kemudian diteruskan ke Instalasi Farmasi untuk diproses oleh bagian Farmasi. Dokumentasi Tindakan Setelah seluruh asesmen dan tindakan mendokumentasikan semua tindakan yang diberikan baik oleh perawat maupun dokter melalui menu AuInput TindakanAy pada RME. Data tindakan ini akan digunakan pada tahap selanjutnya yaitu proses administrasi dan penagihan biaya layanan. Tahap Administrasi Pasien yang telah mendapatkan tindakan medis, pemeriksaan penunjang, maupun resep obat akan secara otomatis masuk dalam Menu Billing pada RME. Petugas melakukan validasi terhadap seluruh data tindakan, pemeriksaan penunjang, dan resep yang telah diinput sebelumnya. Setelah validasi dilakukan, seluruh layanan yang diterima pasien akan dihitung dan ditagihkan. Untuk pasien peserta BPJS Kesehatan, proses penagihan dilakukan melalui sistem Casemix sebagai bagian dari mekanisme klaim ke BPJS. Untuk pasien umum atau non-BPJS, langsung melalui sistem kasir rumah Setelah seluruh proses administrasi dinyatakan selesai menerima pelayanan dan diperbolehkan untuk pulang. Berdasarkan mendalam dengan informan 1, bahwa alur tersebut telah sesuai dengan alur pelayanan yang ada di instalasi rawat Aualur usulan yang dibuat tersebut telah sesuai mbak, dengan tahapan pelayanan yang ada di instalasi rawat jalan sekarang tidak ada perubahan signifikan dari alur manual . Ay, artinya proses tahapantahapan pelayanan pasien mulai dari tindakan medis, hingga penyelesaian administrasi secara substansial tidak mengalami perubahan secara signifikan ketika dialihkan ke sistem elektronik. Namun demikian, hingga saat ini belum tersedia standar operasional prosedur (SOP) khusus yang mengatur secara rinci alur kerja dalam penggunaan RME. Implementasi sistem ini cenderung bersifat spontan dan belum didahului oleh perencanaan yang matang, seperti pelatihan teknis maupun sosialisasi kepada tenaga medis dan staf pendukung. Hal ini dilatarbelakangi oleh dorongan untuk segera menyesuaikan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan, yang menargetkan penerapan RME secara penuh sebelum akhir tahun 2023. Dengan demikian, meskipun secara konsep alur RME telah sesuai dengan sistem pelayanan yang ada, masih diperlukan penguatan regulasi internal, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan, serta pembaruan prosedur teknis. Langkahlangkah ini penting untuk memastikan proses transisi ke sistem digital dapat berlangsung secara sistematis, seragam, dan terukur di seluruh unit pelayanan yang terkait. Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. bahwa keterbatasan fitur dalam SIMRS Keterbatasan ini menyebabkan beberapa proses pelayanan masih dilakukan secara manual atau tidak terdokumentasi dengan baik, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas data medis dan kontinuitas pelayanan kepada pasien. Maka dari itu, keberadaan fitur-fitur yang sesuai dengan kebutuhan lapangan tidak hanya penting dari sisi operasional, tetapi juga dalam rangka menjaga integritas informasi medis yang terekam. Dalam SIMRS tersebut. RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati menyediakan perangkat keras dengan spesifikasi yang memadai. Pada sisi server, digunakan perangkat HP dengan prosesor Intel Xeon. RAM 64GB, dan SSD 1TB. Sementara itu, perangkat client terdiri dari PC dan laptop dengan spesifikasi minimal prosesor Intel Core i5. RAM 8GB, dan HDD 256 GB. Spesifikasi perangkat keras tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memastikan kelancaran operasional SIMRS Khanza. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh (Fathoni Nugroho, 2. , bahwa perangkat keras . berpengaruh pada performa SIMRS . ecara eksplisit komponen dasar yang mempengaruhi kecepatan pemprosesan dan keberhasilan SIMRS). Sejalan dengan penelitian (Sherly Firsta Rahmi. Nur Husna Dewi & Hartono, 2. menunjukkan bahwa kualitas hardware dan software yang optimal dapat meningkatkan kecepatan layanan, akurasi data medis, dan kepuasan pengguna sistem informasi di rumah sakit. Untuk operasional sistem RME. RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati telah menerapkan sistem kelistrikan yang terintegrasi dengan cadangan daya ackup powe. melalui penggunaan Aspek Infrastruktur Teknologi (IT) RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati telah menggunakan SIMRS Khanza sebagai perangkat lunak Rekam Medis Elektronik (RME) sejak SIMRS Khanza merupakan aplikasi berbasis desktop yang diinstal pada sisi client, sedangkan sisi server berfungsi untuk mengelola basis data MySQL. Berdasarkan informasi dari salah satu informan . nforman ke-. , fitur-fitur yang tersedia dalam SIMRS Khanza sudah tergolong lengkap dan memungkinkan rumah sakit untuk mengoperasikan sistem secara langsung . eady to us. Namun demikian, masih terdapat beberapa fitur penting yang belum tersedia atau belum sesuai dengan kebutuhan operasional rumah sakit, seperti asesmen awal rehabilitasi medik, asesmen fisioterapi, pencatatan hasil pemeriksaan echo jantung, serta format laporan Tuberkulosis (TB). Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sistem telah digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama, kesenjangan antara kebutuhan fungsional dan kemampuan sistem masih menjadi kendala. SIMRS pelayanan medis secara menyeluruh. RME mengikuti alur pelayanan. Sistem yang kebutuhan operasional rumah sakit dapat menghambat efisiensi pelayanan serta informasi medis. Selain itu. Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2022 juga menekankan bahwa sistem elektronik menampilkan data secara lengkap, akurat, dan dapat diakses secara tepat waktu oleh tenaga kesehatan (Permenkes No. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan fitur yang sesuai sangat krusial dalam mendukung pemenuhan standar regulasi nasional. Penelitian (Ernawati et al. , 2. , juga memperkuat temuan tersebut, dengan menyatakan Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Namun, ketersediaan UPS saat ini belum mencakup seluruh unit kerja atau perangkat pendukung, sehingga masih terdapat area atau sistem yang rentan terhadap gangguan listrik yang dapat menyebabkan downtime pada sistem RME. Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh (R. Permanasari & Sanjaya, 2. , yang menyatakan bahwa penyediaan backup tenaga listrik melalui UPS merupakan bagian penting dari kesiapan teknis penerapan SIMRS. UPS memberi waktu cadangan saat terjadi listrik padam sehingga memungkinkan penyimpanan hasil pekerjaan yang sedang dilakukan dan proses shutdown sistem yang aman untuk mengurangi risiko kerusakan software maupun hardware. Penelitian lain oleh (Zenobia Putri Bhayza, 2. , menyatakan bahwa kelengkapan sistem kelistrikan termasuk penyediaan UPS merupakan indikator penting kesiapan infrastruktur teknologi rumah sakit dalam implementasi RME. Ketiadaan UPS pada beberapa unit dapat menimbulkan risiko kehilangan data dan kerusakan perangkat, terutama saat input data dilakukan secara realtime. Maka dari itu, rumah sakit perlu dilakukan perluasan cakupan UPS ke seluruh unit pelayanan agar sistem SIMRS tidak terganggu oleh gangguan daya dan dapat tetap berjalan stabil dalam situasi Dari segi jaringan, rumah sakit telah memanfaatkan jaringan lokal (LAN) yang terkoneksi antar unit layanan, didukung oleh router, switch, dan access Bandwidth juga disediakan secara memadai untuk mendukung konektivitas data antar unit secara simultan. Dalam penelitian (Faida & Ali, 2. jaringan komputer yang stabil dan merata sangat penting dalam mendukung kelancaran operasional SIMRS. Tanpa jaringan yang baik, proses sinkronisasi data dan pertukaran informasi antar unit akan terhambat sehingga berpotensi Penelitian (Octavian, 2. memperkuat hal tersebut, bahwa infrastruktur jaringan yang optimal sangat menentukan kinerja SIMRS, khususnya untuk pemprosesan data terpusat dan akses bersamaan oleh beberapa unit layanan sehingga jaringan sinkronisasi data dan berpotensi menunda pelayanan pasien. Hasil keseluruhan di atas, perlu dilakukan cakupan UPS ke seluruh unit layanan yang terlibat langsung dengan pengoperasian sistem SIMRS untuk mengurangi risiko kehilangan data dan downtime serta melakukan evaluasi dan perangkat keras secara berkala untuk memastikan performa sistem tetap Aspek Sumber Daya Manusia (SDM) Penerapan RME di RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati SDM memadai dalam mengoperasikan RME. Kesiapan SDM terdapat 30 dokter spesialis . , 19 perawat, 3 bidan, 4 fisioterapis, 1 terapi wicara, dan 2 menggunakan RME. Lulusan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan penugasan masing-masing. Persiapan SDM dilakukan melalui pelatihan secara bertahap yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan setiap kelompok profesi. Pelatihan ini mencakup pengenalan sistem, simulasi penggunaan hingga pendampingan selama masa Pelatihan dilakukan secara terstruktur selama 1 bulan, dengan 2-3 hari per unit untuk meningkatkan keterampilan teknis. Menurut (Puranegara & Sari, 2. pelatihan digitalisasi rekam medis secara berkala meningkatkan profesionalisme dan kemampuan teknis SDM dalam mengelola RME. Sejalan dengan hasil penelitian (Yolanda Dominic Eka & Umar Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. Zulkifli, 2. , menunjukkan bahwa pelatihan dan peningkatan kompetensi secara berkala efektif meningkatkan kemampuan teknis dan profesionalisme SDM dalam pengelolaan RME. Pendampingan diberikan kepada staf yang sudah terbiasa dengan sistem manual supaya staf dapat beradaptasi dengan sistem baru. Aukemarin sih kita ngecek ya ke bawah. Kalo di rawat jalan Alhamdulillah staf bisa adaptasi. Cuma perlu kita dampingi dulu jadi walaupun bagian SDI ya itu tetep mengevaluasi gimana sih pelatihan kemarin? Sudah pada bisa belum di lapangan gitu. Tapi Alhamdulilah dari pada unit lain, instalasi rawat jalan termasuk yang bisa adaptasi gitu . Ay. Evaluasi ini menilai sejauh mana staf mampu mengaplikasikan pengetahuan yang telah diberikan dan memastikan bahwa tugas-tugas terkait RME dapat dijalankan dengan baik. Kolaborasi antar memastikan staf terbiasa dengan sistem dan mampu mengatasi kendala secara Hasil penelitian oleh (Tania Erlin Juniata. Nunik Maya Hastuti, 2. , menunjukkan bahwa hambatan terbesar terkait SDM dapat diminimalkan melalui program pelatihan yang terstruktur dan partisipasi aktif staf pada pelatihan dapat meningkatkan kapabilitas penggunaan Untuk penanganan kendala teknis dalam pelaksanaan RME pada TIM IT terdapat 1 orang kepala IT, 1 orang menangani hardware dan 1 orang programmer menangani software. Ini dirasa kurang karena cakupan kerja yang terlalu luas untuk dapat menyokong RME. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara disebutkan juga AuSaat ini rekam medis elektronik ini diampu oleh 3 programmer dalam perkiraan kami, kami masih membutuhkan 2 programmer jadi total programmer yang kita inginkan itu ada 5. Dan 5 programmer yang akan bekerja di 3 area yaitu di area database, area back-end dan front-end sehingga harapannya masih ada menyelesaikan semuanya . Ay. Berdasarkan programmer yang disebutkan dalam wawancara meliputi 1 programmer internal RS sedangkan 2 lainnya adalah programmer dari vendor yang tugas utamanya adalah membangun SIMRS Sehingga untuk kebutuhan tenaga IT masih diperlukan guna mempercepat memastikan sistem berjalan dengan baik tanpa mengganggu pembuatan SIMRS profesi yang terlibat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan integrasi RME ke dalam alur kerja rumah sakit. Selain itu, pelatihan terstruktur dan pendampingan intensif terbukti efektif meningkatkan kesiapan SDM. Namun, sistem pendukung, seperti Tim IT yang memadai, masih diperlukan untuk menjaga keberlanjutan RME. Sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Cahayani et al. meningkatkan keterampilan teknis dan profesionalisme staf dalam pengelolaan RME, sementara kemauan, kesadaran, dan motivasi staf merupakan modal penting supaya output pelatihan terealisasi ke praktik pelayanan. Staf rumah sakit memanfaatkan grup WhatsApp sebagai media utama untuk melaporkan kendala teknis dan mendapatkan bantuan langsung dari Tim IT. Dukungan pimpinan SDM mendorong staf untuk berbagi keterampilan dan pengalaman, sehingga staff yang lebih Pendampingan berkelanjutan Aspek Organisasi Dari aspek organisasi RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati telah membentuk Tim IT yang berada langsung dibawah Direktur Utama. Struktur organisasi beranggotakan 22 orang antara lain terdiri dari Penanggung Jawab 1 orang. Pengarah 2 orang . Supervisor 1 Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. orang, tim Programmer dengan Anggota 3 orang. Anggota bidang IT 2 orang. Anggota bidang non IT level manajer 3 orang. Anggota bidang non IT level pimpinan 10 orang, seperti gambar di bawah ini : kebutuhan organisasi untuk merubah di pelayanan digitalisasi . Ay. Struktur ini mempermudah koordinasi serta mempercepat proses pengambilan partisipasi aktif tenaga kesehatan dalam Masukan dari tenaga kesehatan yang didasarkan pada temuan lapangan secara rutin dianalisis dan direspons oleh staf IT untuk mengoptimalkan implementasi RME Instalasi Rawat Jalan di masa depan. Untuk mempercepat implementasi RME tanpa menghambat pengembangan SIMRS maka Direktur utama RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati membentuk Tim adhoc yang tanggung jawab utamanya pelaksanaan SIMRS serta memberikan arahan kepada seluruh Tim keseluruhan ada 19 orang dan terbagi menjadi dua tim: 1 orang Penanggungjawab . 1 orang Pengarah . Tim materi dan jaringan SIMRS terdiri dari 1 orang ketua, 3 orang pemateri dan 1 orang jaringan . Anggota Tim implementasi terdiri dari 8 orang perawat dan bidan serta 4 orang penunjang. Sejalan dengan Penelitian (Chandra Syafira et al. , 2. bahwa struktur organisasi yang jelas dan dukungan keberhasilan implementasi SIMRS. Tim kelompok koordinasi utama untuk membahas pembaruan atau kendala terkait RME dan memastikan semua kepala unit memahami setiap perubahan atau kebutuhan baru sebelum diterapkan di lapangan. Tim adhoc juga memberikan penjelasan teknis mengenai alur Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) kepada kepala ruang/unit. Selanjutnya Kepala Ruang atau Unit akan SIMRS agar tetap berjalan sesuai dengan materi yang telah diajarkan dalam Menurut (Chandra Syafira et al. Gambar 2. Struktur Tim Pengembangan SIMRS di RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati Struktur ini bertanggung jawab atas SIMRS, memberikan arahan kepada seluruh SIMRS. SIMRS, memperhatikan masukan-masukan dan arahan dari segenap stakeholder internal RS dalam menentukan keputusan terkait SIMRS. AuDalam pengelolaan RME ini, tadi saya sebutkan sebelumnya tidak ada penyesuaian dari sisi struktur organisasi sehingga hanya membuat tim adhoc saja untuk mempercepat implementasi RME begitu . Ay. Salah satu faktor utama yang implementasi RME adalah posisi Tim IT berada langsung di bawah supervisi direktur utama. AuUntuk struktur organisasi yang saat ini sangat efektif sekali karena memang konsolidasi dan koordinasi kami cukup luwes saat ini karena tim IT berada langsung dibawah direktur umum dimana intervensi-intervensi yang cukup banyak dari pelaksana kami bisa terelakan, jadi ini adalah Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. menegaskan bahwa kolaborasi dan koordinasi lintas unit sangat krusial dalam proses digitalisasi layanan rumah sakit, karena keterlibatan berbagai pihak . IT, dan unit klini. meningkatkan adaptasi teknologi dan keberlanjutan implementasi SIMRS. Hal ini juga sejalan dengan penelitian oleh (Idryareza Augustyana. Denna Mulyani, koordinasi dan rendahnya adopsi antar unit dapat memperlambat manfaat SIMRS koordinasi lintas unit dan pelibatan stakeholder sebagai solusi. Selain itu, salah satu strategi yang diterapkan oleh rumah sakit untuk mendukung penerapan RME adalah melalui monitoring dan evaluasi . Rumah whatsapp, serta evaluasi bersifat sewaktuwaktu, permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh, apabila masalah hanya ada pada bug aplikasi maka hanya akan dievaluasi oleh tim IT. Namun, jika masalah ada pada prosedural maka akan diadakan pertemuan dengan seluruh anggota. Sebagai tindak lanjut, setiap pertemuan yang membahas perkembangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), termasuk implementasi RME dilaporkan oleh Tim Teknologi Informasi Strategi memungkinkan manajemen untuk terus memantau kemajuan implementasi RME, sekaligus menangani kendala yang muncul secara cepat dan tepat. aspek SDM dinilai memadai dari sisi Untuk memperkuat aspek SDM dilakukan kolaborasi, pelatihan terstruktur dan pendampingan intensif. Evaluasi berkala dilakukan oleh bagian SDI (Sumber Daya Insan. untuk memastikan seluruh staf mampu menerapkan keterampilan yang telah dilatihkan. Pada aspek organisasi implementasi RME ditunjukkan melalui mengkoordinasi kendala, menyediakan solusi, dan mengembangkan sistem guna memastikan implementasi RME berjalan Simpulan dan Saran Kesimpulan Pada aspek alur kerja. RME di RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati belum tersedia. Saat ini hanya tersedia alur rekam medis manual. Pada aspek Infrastruktur teknologi, hardware masih diperlukan adanya UPS (Uninterruptible Power Suppl. , software sudah memadai namun beberapa fitur RME belum sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. Pada Saran Aspek Alur Kerja Pada aspek alur kerja rumah sakit RME pertimbangan usulan pada gambar 1. Aspek Infrastruktur Teknologi (IT) Rumah sakit perlu melengkapi pengadaan UPS (Uninterruptible Power Suppl. guna menjaga kestabilan sistem saat terjadi gangguan listrik. Selain itu, pengembangan lebih lanjut pada fitur-fitur RME. Aspek Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah sakit perlu menambah mendukung pengembangan dan pemeliharaan sistem RME. Selain rekrutmen, perlu juga dilakukan peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan berkala agar seluruh tim teknologi dan kebijakan yang berlaku. Aspek Organisasi Manajemen diharapkan dapat mempertahankan memperkuat komitmen organisasi dengan menjadikan tim adhoc implementasi RME yang memiliki kewenangan jelas dalam koordinasi dengan tugas yang terstruktur dalam Copyright A2025 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 8 No 2 (Oktober 2. evaluasi dan kendala pengembangan sistem secara berkelanjutan. Quality-Information Technolog. Ay Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia 9. :67. 33560/jmiki. Fathoni Nugroho. Hapzi Ali. AuDeterminasi SIMRS: Hardware. Software Dan Brainware (Literature Review Executive Support Sistem (ESS) For Busines. Ay Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial 3. :254Ae65. Hidayat. Anas Rahmat, and Permata Indonesia Yogyakjarta. AuAnalisis Kesiapan (Readiness Assesment ) Penerapan Electronic Medical Record Di Klinik Raawat Inap PKU Muhammadiyah Pakem. Ay 4. :147Ae55. Idryareza Augustyana. Denna. Purwandhi, and Kahar Mulyani. AuEvaluasi Implementasi SIMRS Dan Hambatannya Di Instalasi Rawat Jalan Bhayangkara Balikpapan. Ay JMIAK: Jurnal Manajemen Informasi Dan Administrasi Kesehatan 8. :77Ae84. Ikawati. Fita Rusdian. AuEfektivitas Penggunaan Rekam Medis Elektronik Terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Pasien Di Rumah Sakit. Ay Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research Development 6. :282Ae92. 38035/rrj. Kamal. Syamsul. Yuli Mardi, and Regina Regina. AuEvaluasi Penerapan Sistem Informasi Khanza Menggunakan Metode HOT-FIT Di Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo Kota Padang. Ay Jurnal Ilmiah Perekam Dan Informasi Kesehatan Imelda (JIPIKI) :1Ae11. 52943/jipiki. Kusriyanti. Diana. Budi Matuwi, and . Supriyantoro. AuReadiness Analysis of Electronic Medical Record Implementation at Dinda Tangerang Hospital Using Correlational Method. Ay European Journal of Business and Management Research 6. :19Ae25. Daftar Pustaka