Akasia Program as an Environmentally Based Elderly Empowerment in the Anyelir 2 Harjamukti Farmers Group Fanny Shinta Junita1, Devy Puspasari Siswaningrum2, Nur Rahmi Fajri Yanti1, Wendi Gustira1 Article Info Abstract ¹Community Development Officer PT Perusahaan Gas Negara, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis ²Assistant, CSR Planning & Controlling PT Perusahaan Gas Negara, Tbk The increase in life expectancy in Indonesia has resulted in an increasing number of elderly people facing health, social, and quality of life challenges. On the other hand, environmental issues, particularly organic waste, are also a serious issue impacting society, including vulnerable groups such as the elderly. Given this complexity, interventions are needed that can address both issues in an integrated manner. This article discusses the AKASIA Program empowered elderly garden activity, a CSR initiative of PT Perusahaan Gas Negara Tbk - Cimanggis Station Offtake, implemented in collaboration with the Anyelir 2 Farmers Group in Harjamukti Village, Depok. How to Cite: This program uses a community empowerment approach through planning, implementation, and participatory monitoring and evaluation. Activities include urban farming training, organic waste processing, cultivation facilities, and ongoing mentoring. Results demonstrate that the program not only provides productive, social, and recreational space for seniors but also significantly improves their happiness, relaxation, and quality of life. Furthermore, the program contributes to reducing organic waste and opening up economic opportunities through the sale of agricultural products. *Correspondence Author Junita, F.S., Siswaningrum, D.P., Yanti, N.R.F., Gustira, W. (2025) Akasia Program as an Environmentally Based Elderly Empowerment in the Anyelir 2 Harjamukti Farmers Group. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3) 2025, 16-25 Article History Submitted: 19 September 2025 Received: 22 September 2025 Accepted: 1 October 2025 Thus, the AKASIA Program demonstrates that senior empowerment can go hand in hand with environmental solutions and serves as a model for holistic and sustainable CSR collaboration at the community level. Keywords: Elderly Empowerment; Farmer Groups; Organic Waste; Urban Agriculture Correspondence E-Mail: fannyshinta2014@gmail. com Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No.3 (2025) pp. 16-25 https://doi.org/10.55381/jpm.v4i3.524 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/bysa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Program Akasia sebagai Upaya Pemberdayaan Lansia Berbasis Lingkungan di Kelompok Tani Anyelir 2 Harjamukti Fanny Shinta Junita1, Devy Puspasari Siswaningrum2, Nur Rahmi Fajri Yanti1, Wendi Gustira1 Article Info Abstrak ¹Community Development Officer PT Perusahaan Gas Negara, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis ²Assistant, CSR Planning & Controlling PT Perusahaan Gas Negara, Tbk Peningkatan angka harapan hidup di Indonesia membawa konsekuensi pada bertambahnya jumlah lansia yang menghadapi tantangan kesehatan, sosial, dan kualitas hidup. Di sisi lain, persoalan lingkungan, khususnya sampah organik, juga menjadi isu serius yang berdampak pada masyarakat, termasuk kelompok rentan seperti lansia. Melihat kompleksitas tersebut, diperlukan intervensi yang mampu menjawab kedua persoalan secara terpadu. Artikel ini membahas Program AKASIA (Aktivitas Kebun Lansia Berdaya), inisiatif CSR PT Perusahaan Gas Negara Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis yang dilaksanakan bersama Kelompok Tani Anyelir 2 di Kelurahan Harjamukti, Depok. Program ini menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui tahapan perencanaan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi secara partisipatif. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pelatihan urban farming, pengolahan sampah organik, pemenuhan sarana budidaya, serta pendampingan berkelanjutan. Hasilnya, menunjukkan bahwa program tidak hanya memberikan ruang produktif, sosial, dan rekreatif bagi lansia, tetapi juga berdampak signifikan pada peningkatan kebahagiaan, relaksasi, dan kualitas hidup mereka. Selain itu, program berkontribusi pada pengurangan sampah organik serta membuka peluang ekonomi melalui penjualan hasil pertanian. Dengan demikian, Program AKASIA menunjukkan bahwa pemberdayaan lansia dapat berjalan seiring dengan solusi lingkungan, serta menjadi model kolaborasi CSR yang holistik dan berkelanjutan di tingkat komunitas. *Korespondensi Penulis Email Korespondensi: fannyshinta2014@gmail. com Kata Kunci: Pemberdayaan Lansia; Kelompok Tani; Sampah Organik; Pertanian Perkotaan 17 © Junita, et.al. Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup sebagai salah satu indikator kualitas kesehatan masyarakat berimplikasi pada bertambahnya jumlah penduduk lansia (Akbar, Nur, & Widya Nengsih, 2021). Berdasarkan survei United Nations International Children’s Fund (UNICEF) dalam (Kurniawan, 2024), Indonesia mencatat salah satu peningkatan populasi lansia tercepat di dunia dalam rentang tahun 1990–2025. Keberhasilan pembangunan yang mendorong naiknya angka harapan hidup membawa konsekuensi pada meningkatnya jumlah lansia, sehingga diperlukan perhatian lebih terhadap kesejahteraan mereka, terutama dalam aspek kesehatan dan kualitas hidup (Sutrisno, Wulandari & Fitria, 2018). Masa lansia merupakan periode akhir dalam kehidupan manusia yang ditandai oleh melemahnya fungsi tubuh, mental, maupun interaksi sosial. Dalam realitasnya, kelompok ini sering dilihat tidak lagi mampu berkontribusi secara optimal dan dianggap memiliki kedudukan sosial yang lebih rendah dibandingkan generasi produktif. Persepsi semacam itu dapat memicu lahirnya stigma negatif serta perasaan terisolasi pada lansia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998, kategori lansia mencakup individu berumur 60 tahun ke atas yang memiliki kebutuhan beragam, meliputi kesehatan, aspek emosional, hubungan sosial, hingga pemenuhan spiritual. Pada tahap ini, semakin bertambahnya umur seringkali membuat lansia menghadapi kerentanan berupa menurunnya peran sosial dan berkurangnya kualitas kehidupan. Fakta lapangan menunjukkan bahwa kondisi ini nyata dirasakan masyarakat Depok. Pada awal tahun 2024, ditemukan kasus seorang lansia yang meninggal dunia seorang diri di Kecamatan Cimanggis dengan kondisi rumah penuh sampah yang menggambarkan keterbatasan dukungan sosial. Berdasarkan data Puskesmas Kelurahan Harjamukti 2025, terdapat 266 orang dari 1.568 dewasa lansia yang mengalami gejala depresi dan sebanyak 47 orang dari 333 lansia mengalami gejala depresi. Hal ini menegaskan perlunya intervensi pemberdayaan dan dukungan sosial agar lansia tetap berdaya dan memiliki kualitas hidup yang layak. Selain menghadapi persoalan lansia, Kota Depok juga menghadapi tantangan serius dalam hal penanganan sampah. Data SIPSN tahun 2024 mencatat total produksi sampah mencapai 497.592,02 ton, dengan sekitar 900-1.000 ton per hari dibuang ke TPA Cipayung. Keterbatasan ruang membuat TPA ini mengalami kelebihan kapasitas sehingga beberapa kali terpaksa ditutup sementara oleh DLHK (Prayudha, 2024). Dari keseluruhan volume tersebut, sampah organik terutama sisa makanan menempati porsi terbesar yakni 65,11%. Fakta ini menunjukkan bahwa mayoritas permasalahan sampah di Depok berasal dari material organik yang sebetulnya masih memiliki potensi untuk diolah di level rumah tangga maupun komunitas. Dampak dari persoalan sampah tersebut juga langsung dirasakan oleh warga Kelurahan Harjamukti, karena jalur pembuangan sampah di wilayah ini bermuara ke TPA Cipayung. Ketika TPA mengalami penutupan sementara akibat kelebihan kapasitas, sampah menumpuk di lingkungan sekitar warga. Kondisi ini tidak hanya memunculkan bau menyengat dan menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Situasi semacam ini menjadi tantangan bagi kelompok rentan, khususnya lansia. Lingkungan yang kotor berpotensi mengganggu kesehatan fisik sekaligus menurunkan kenyamanan serta kesejahteraan psikologis lansia yang lebih mudah terpapar stres maupun kecemasan (Susanti, 2021). Kondisi tersebut menegaskan pentingnya menghadirkan ruang aktivitas yang mampu menjaga kesehatan, memberi dukungan sosial, sekaligus menghadirkan solusi lingkungan yang dapat dirasakan langsung oleh lansia. Melihat kompleksitas permasalahan lansia dan lingkungan di Harjamukti, diperlukan sebuah program pemberdayaan yang mampu 18 © Junita, et.al. menjawab kedua isu tersebut secara berkelanjutan. Salah satu bentuk intervensi yang hadir adalah kolaborasi antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis dengan komunitas lokal dalam menginisiasi Program AKASIA (Aktivitas Kebun Lansia Berdaya) yang dijalankan melalui Kelompok Tani Anyelir 2 Harjamukti. Program ini memanfaatkan kebun sebagai sarana aktivitas produktif, sosial, dan rekreatif bagi lansia, sekaligus menghadirkan solusi lingkungan melalui pengelolaan sampah organik menggunakan menjadi komposter dan media tanam. Melalui kegiatan berkebun, pelatihan, dan interaksi sosial, Program AKASIA diharapkan dapat mengurangi rasa keterasingan, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan sampah dan peningkatan ekonomi melalui hasil pertanian. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji penyelenggaraan Program AKASIA dengan melihat aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi di Kelompok Tani Anyelir 2 Harjamukti. Metode Pelaksanaan program AKASIA menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pengembangan. Prosesnya mencakup perencanaan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat sejak awal. Pendekatan ini diharapkan mampu menyesuaikan program dengan kebutuhan nyata masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan keberlanjutan dalam pelaksanaannya (Soetomo, 2011). Pada kajian ini menggambarkan pelaksanaan CSR Pemberdayaan Masyarakat PT Perusahaan Gas Negara, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis (PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis) di RW 10 Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, melalui mitra binaan Kelompok Tani Anyelir 2. Kegiatan pemberdayaan pada Kelompok Tani Anyelir 2 telah dimulai sejak tahun 2024 dan di tahun 2025 kegiatan pemberdayaan diawali dengan melakukan penyusunan perencanaan program bersama di RW 10 Harjamukti, peningkatan kapasitas, pemenuhan fasilitas, hingga pendampingan pada kegiatan rutin di Kelompok Tani Anyelir 2. Pembahasan Tahapan pemberdayaan masyarakat melalui perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi yang telah dijelaskan pada bagian metode kemudian menjadi dasar dalam melihat bagaimana Program AKASIA berjalan di lapangan. Bagian pembahasan berikut menguraikan hasil dari setiap tahapan tersebut serta relevansinya dengan kebutuhan dan kondisi lansia di Kelompok Tani Anyelir 2 Harjamukti. A. Perencanaan Program CSR pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis dimulai dengan kegiatan diskusi rencana kerja melalui focus group discussion (FGD). Forum yang dilaksanakan pada tahun 2025 ini menghadirkan perwakilan pemerintah daerah Harjamukti, dinas setempat, perusahaan mitra, masyarakat, serta kelompok masyarakat di Kelurahan Harjamukti. Dalam diskusi tersebut, isu sampah dan tingginya jumlah lansia menjadi topik utama. Kondisi RW 10 yang banyak dihuni lansia mendorong gagasan urban farming sebagai solusi yang relevan, mengingat keterbatasan lahan. Selain berfungsi sebagai upaya penghijauan, kegiatan ini juga memberi peluang bagi lansia untuk tetap aktif sekaligus menjalin interaksi sosial. 19 © Junita, et.al. Gambar 1. Kegiatan FGD Bersama Stakeholders Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Gagasan pemberdayaan lansia diwujudkan melalui pembentukan Kelompok Tani Anyelir 2. Kelompok ini berfungsi sebagai wadah aktivitas pertanian perkotaan yang memberikan ruang bagi lansia untuk tetap aktif, berinteraksi, dan memperoleh dukungan sosial. Keberadaannya tidak hanya menciptakan komunitas baru yang memperkuat ikatan antaranggota, tetapi juga membantu mengurangi rasa keterasingan yang kerap dialami oleh kelompok lanjut usia. Gambar 2. Struktur Organisasi Kelompok Tani Anyelir 2 Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Lebih jauh, Kelompok Tani Anyelir 2 berperan sebagai lembaga yang mengorganisir kegiatan urban farming dengan orientasi ganda, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan. Melalui pemanfaatan lahan terbatas, kegiatan pertanian perkotaan ini mampu menghadirkan penghijauan sekaligus mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Hasil pertanian dapat digunakan untuk konsumsi maupun bernilai ekonomi, sehingga mendukung kesejahteraan anggota. Untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan, kelompok ini membentuk struktur organisasi yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, serta seksi-seksi pendukung seperti produksi, pemasaran, dan pemeliharaan. Struktur yang jelas memungkinkan kegiatan terlaksana secara terarah, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun distribusi manfaatnya. Dengan demikian, Kelompok Tani Anyelir 2 menjadi wadah yang tidak hanya memberdayakan lansia, tetapi 20 © Junita, et.al. juga memberikan kontribusi nyata dalam penanganan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. B. Implementasi 1. Pelatihan Media Tanam Menggunakan Kohe Kambing Gambar 3. Kegiatan Pelatihan Media Tanam bersama Kelompok Tani Anyelir 2 Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Pelatihan merupakan suatu proses mengembangkan potensi individu yang ditujukan untuk peningkatan kompetensi dan keahlian tertentu (Syahputra & Tanjung, 2020). Dalam hal ini, pelatihan yang dilakukan di Kelompok Tani Anyelir 2 bertujuan untuk meningkatkan keahlian lansia dalam menerapkan urban farming di lahan terbatas. Upaya yang dilakukan untuk mendukung hal tersebut pada Juli 2025 dilakukan pelatihan pertama mengenai media tanam menggunakan kohe kambing yang biasanya hanya dibuang dan tidak terpakai, dialih fungsikan menjadi media tanam yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga merangsang produktivitas kualitas panen tanaman secara keseluruhan. Penyampaian materi dilakukan langsung oleh penyuluh dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3). Pelatihan ini dilaksanakan di greenhouse Kelompok Tani Anyelir 2. Pada pelatihan ini tidak hanya dilaksanakan dengan pemaparan materi tetapi diadakan juga praktik secara langsung agar Kelompok Tani Anyelir 2 dapat mengolah dan memanfaatkan limbah organik kohe kambing yang dijadikan untuk media tanam. Setelah praktik dilakukan, media tanam yang dihasilkan digunakan untuk kegiatan penanaman di greenhouse dan juga dibagikan kepada anggota Kelompok Tani Anyelir 2 untuk dapat digunakan pada tanaman yang dimiliki di rumah masing-masing. 2. Pelatihan Penanganan Hama pada Tanaman Gambar 4. Kegiatan Pelatihan Media Tanam bersama Kelompok Tani Anyelir 2 Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas peserta dalam mengenali dan 21 © Junita, et.al. mengendalikan hama pada tanaman yang dibudidayakan di greenhouse. Kegiatan pelatihan penanganan hama bersama Kelompok Tani Anyelir 2 ini mendapatkan penjelasan langsung oleh penyuluh DKP3. Dalam pelatihan ini, peserta diberikan penjelasan mengenai jenis-jenis hama yang umum ditemukan serta teknik penanganan yang tepat. Selain itu, peserta juga melakukan praktik lapangan sehingga dapat memahami penerapan pengendalian hama secara langsung. Melalui kegiatan ini, petani memperoleh keterampilan yang lebih aplikatif untuk diterapkan dalam pengelolaan tanaman, yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha pertanian kelompok. 3. Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik menjadi Komposter Gambar 5. Kegiatan Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik menjadi Komposter Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Pelatihan ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam mengelola sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi budidaya pertanian. Kegiatan ini memfokuskan pada pemanfaatan limbah rumah tangga dan pertanian sebagai bahan dasar pembuatan kompos, dengan pendampingan teknis mengenai proses pengolahan hingga menghasilkan pupuk organik yang siap digunakan. Pelatihan ini memiliki output tidak hanya untuk memberikan pemahaman praktis terkait pengelolaan sampah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus mendukung penerapan sistem pertanian berkelanjutan pada Kelompok Tani Anyelir 2. 4. Pemenuhan Fasilitas Teba Biowell Composter Kompos merupakan hasil pelapukan limbah organik dari daun-daun, jerami, alang-alang, sampah, rumput dan limbah sejenis (Dwiko Laksono, Hadisetyana, & Syarkini, 2022). Pupuk kompos organik sendiri memiliki manfaat pada peningkatan kesuburan tanah sumber hara bagi tanah dan tanaman, serta untuk peningkatan produktivitas lahan. Pada perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan untuk mengolah sampah, teba komposter dapat digunakan untuk mengolah pupuk kompos organik. Penerapan teba komposter yang tepat guna untuk pembuatan pupuk organik dapat memberikan pengalaman baru kepada Kelompok Tani Anyelir 2 mengenai pelestarian lingkungan dengan pengelolaan sampah organik yang tersedia untuk dijadikan sebagai pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Pupuk organik yang dapat diproduksi secara mandiri ini pun pada akhirnya menjadi opsi yang lebih ekonomis untuk operasional di Kelompok Tani Anyelir 2. 5. Pemenuhan Fasilitas Artificial Lighting Pemenuhan fasilitas artificial lighting menjadi salah satu langkah penguatan sarana pendukung budidaya di greenhouse Kelompok Tani Anyelir 2. Penyediaan fasilitas ini diarahkan untuk membantu optimalisasi pertumbuhan tanaman melalui pencahayaan 22 © Junita, et.al. tambahan, terutama ketika intensitas cahaya matahari berkurang akibat kondisi cuaca. Dengan adanya dukungan pencahayaan buatan, sistem budidaya diharapkan dapat lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan dan mampu menjaga konsistensi produktivitas pertanian kelompok secara berkelanjutan. C. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada Program Akasia merupakan langkah yang dilakukan untuk menelaah permasalahan maupun kendala yang terjadi di lapangan khususnya pada Kelompok Tani Anyelir 2. Hal ini ditujukan sebagai bahan pembelajaran dan mencari penyelesaian permasalahan bersama atas kendala yang dihadapi pada program berjalan. PT Perusahaan Gas Negara Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis aktif memberikan pendampingan rutin setiap kegiatan mingguan di Kelompok Tani Anyelir 2 sebagai komitmen perusahaan dalam menjalankan pembinaan kepada masyarakat. Gambar 6. Kegiatan Monitoring dan Evaluasi bersama Stakeholder Sumber: Dokumen PT PGN, Tbk – Offtake Stasiun Cimanggis, 2025 Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pada Program Akasia juga melibatkan stakeholder terkait baik dari pemerintah kecamatan, dinas terkait, hingga tokoh masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali dengan menekankan pada kolaborasi lintas pihak. Keterlibatan berbagai stakeholder tidak hanya memperkuat akuntabilitas program, tetapi juga memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan. Hasil evaluasi juga menunjukkan adanya dampak ekonomi positif, ditandai dengan kegiatan penjualan sayur mayur dan bibit hasil greenhouse oleh anggota Kelompok Tani Anyelir 2. Pemasaran dilakukan kepada warga sekitar maupun masyarakat luar Harjamukti, sehingga tidak hanya menambah pendapatan anggota tetapi juga memperluas jejaring sosial-ekonomi kelompok. Dengan demikian, monitoring dan evaluasi berfungsi sebagai wadah partisipatif untuk membangun komitmen bersama sekaligus mengukur kontribusi program dalam aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi. Selain aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi, keberhasilan Program AKASIA juga perlu dilihat dari sisi kesejahteraan psikologis lansia. Aktivitas berkebun memiliki manfaat terapeutik yang dapat mengurangi stres, meningkatkan relaksasi, serta memperkuat rasa percaya diri lansia (Syifak, 2024). Kebahagiaan lansia sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial dan keterlibatan dalam aktivitas komunitas (Dya & Oktora, 2023). Oleh karena itu, dalam tahap monitoring dan evaluasi Program AKASIA, digunakan pula instrumen kuesioner kebahagiaan lansia yang disusun berdasarkan indikator dari kedua penelitian tersebut dengan sasaran responden merupakan 17 anggota Kelompok Tani Anyelir 2 yang termasuk pada kategori dewasa lansia (45-59 tahun) sebanyak 7 orang dan lansia (60 tahun ke atas) sebanyak 10 orang. Hasil dari kuesioner Tingkat Kebahagiaan Lansia dalam 23 © Junita, et.al. Program AKASIA adalah sebagai berikut. Table 1. Tingkat Kebahagiaan Lansia Peserta Program AKASIA Sumber: Hasil Kuesioner Kebahagiaan Lansia Peserta Program AKASIA, 2025 Dari diagram diatas, menunjukkan bahwa seluruh anggota Kelompok Tani dalam Program AKASIA menunjukkan bahwa seluruh responden berada pada kategori bahagia. Rata-rata skor keseluruhan yang diperoleh adalah 4,42 dari skala 5, yang termasuk dalam kategori bahagia. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan berkebun yang dilakukan dalam program tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, tetapi juga berdampak signifikan terhadap peningkatan kebahagiaan lansia. Aktivitas berkebun memberi ruang bagi mereka untuk tetap aktif, merasa rileks, menjalin interaksi sosial, serta menemukan makna hidup yang lebih positif. Kesimpulan Program AKASIA hadir sebagai respon terhadap dua isu utama di Kelurahan Harjamukti, yakni meningkatnya jumlah lansia yang menghadapi kerentanan sosial maupun kesehatan, serta permasalahan lingkungan akibat tingginya timbulan sampah organik. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, program ini memberi ruang bagi lansia untuk tetap aktif, berdaya, dan memperoleh dukungan sosial melalui kegiatan urban farming yang dikembangkan bersama Kelompok Tani Anyelir 2. Keberadaan kegiatan berkebun, pelatihan teknis, serta dukungan fasilitas tidak hanya menjadi sarana produktif dan rekreatif, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kebahagiaan, relaksasi, serta kualitas hidup lansia. Selain berdampak pada aspek sosial, Program AKASIA juga memberikan kontribusi nyata pada lingkungan dan perekonomian anggota. Pengelolaan sampah organik yang diolah menjadi komposter dan pemanfaatan hasil pertanian tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menambah pemasukan melalui penjualan sayur mayur serta bibit yang dipasarkan ke warga sekitar maupun masyarakat luar Harjamukti. Kolaborasi lintas stakeholder, mulai dari perusahaan, pemerintah, hingga masyarakat, memastikan pelaksanaan program berjalan secara partisipatif dan akuntabel. Dengan demikian, Program AKASIA dapat dipandang sebagai model intervensi CSR yang holistik karena mampu menjawab tantangan sosial, lingkungan, ekonomi, sekaligus meningkatkan kebahagiaan lansia secara terpadu. 24 © Junita, et.al. Daftar Pustaka Akbar, Darmianti, Arfan & Andi Ainun Zanzadila Putri. (2021). Pelatihan dan Pendampingan Kader Posyandu Lansia di Kecamatan Wonomulyo. Jurnal Abdidas, 2(2), 392-397. Claresa Ayu Dya, & Oktora, S. I. (2023). Pengaruh modal sosial terhadap kebahagiaan penduduk lanjut usia di Indonesia. Jurnal Kependudukan Indonesia, 18(1), 75–92. Dwiko Laksono, H. S., Hadisetyana, S., & Syarkini, A. (2022). Pembuatan Komposter Pupuk Organik Di Kampung Kamurang, Desa Puspasari, Kecamatan Cieteureup, Kabupaten Bogor. Jurnal Pengabdian Masyarakat AKA, 2(1), 19-24. Kurniawan Y.T., Cornelis V.I., Astutik S. (2024). Perlindungan Hak Bagi Lanjut Usia sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial di Surabaya. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 33639- 33646. Nengsih, W., & Nur, H. (2021). Pemberdayaan Lanjut Usia denganAktivitas Rekreasi di Desa Sidorejo. Indonesian Journal of Community Dedication, 3(1), 21-25. Prayudha, R., & Ridwan, R. (2024). Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sampah di Kota Depok. Bappenas Working Papers, 8(1), 59-73. Shobihatus Syifak, Iis Noventi, & Moch. Dwikoryanto. (2024). Wujudkan Lansia Bahagia dengan Terapi Reminiscence dan Therapeutical Garden dalam Upaya Pencegahan Stress pada Lansia Di Komunitas LUNA MAYA Jemur Wonosari Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat, 4(1), 1–18. Soetomo (2011). Pemberdayaan Masyarakat Mungkinkah Muncul Antitesisnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Susanti Nurvi, Nofri Hasrianto. (2021). Kondisi Lingkungan Sosial dan Psikologi Lansia di Panti Jompo Husnul Khotimah Pekanbaru. PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1), 188–194. Sutrisno, W., Wulandari, S., & Fitria, D. (2018). Analisis Keterampilan Dan Kesiapan Kader Posyandu Dan Anggota Keluarga Dalam Melakukan Pendampingan Terhadap Lansia. Prosiding Seminar Dosen Hasil Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 114-121. Syahputra, M. D., & Tanjung, H. (2020). Pengaruh Kompensasi, Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Kinerja Karyawan. Maneggio: Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, 3(2), 273-282. SIPSN Kementerian LHK. 2024. https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/ 25