Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal. isi-ska. id/index. php/ornamen/ Kreativitas Remaja Mengeksplorasi Tren Visual Generasi Z pada Desain Batik Cap Handmade Amin Sulistiyowati a. Intan RofiAoah a. Salim a. Warda Sachiyya Ai. M a. Program Studi Desain Produk Tekstil. Sekolah Vokasi. Universitas Tiga Serangkai aminsulistiyowati@tsu. id, 2 intanrofiah@tsu. id, 3 salim@tsu. id, 4 warda@tsu. ABSTRAK Kata Kunci Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara tren visual generasi Z yang cenderung dinamis, personal, dan berbasis budaya populer dengan desain batik konvensional yang sarat aturan simbolik dan pakem tradisi. Ketidaksinkronan ini berpengaruh pada minat remaja dalam menGenali dan mempraktikkan batik sebagai bagian dari identitas budaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakter visual Gen Z serta mengadaptasikannya ke dalam perancangan motif batik cap handmade di lingkungan pendidikan menengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi proses workshop, dan dokumentasi karya siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja lebih tertarik pada motif sederhana, repetitif, dan berbasis bentuk simbolik yang dekat dengan keseharian, dengan penggunaan warna cerah atau pastel yang mencerminkan ekspresi diri. Adaptasi karakter visual Gen Z dalam batik terbukti mampu meningkatkan partisipasi, kreativitas, dan pemaknaan budaya pada siswa. Temuan ini memberikan implikasi terhadap pengembangan model pembelajaran batik yang lebih eksploratif, kontekstual, dan inovatif dalam mendukung pelestarian batik di kalangan generasi muda. Batik cap. Generasi Z. Tren visual. Ekspresi kreatif Pembelajaran ABSTRACT Keywords This research is motivated by the gap between Generation Z's visual trends, which tend to be dynamic, personal, and based on popular culture, and conventional batik designs that are full of symbolic rules and traditional norms. This lack of synchronicity affects adolescents' interest in recognizing and practicing batik as part of their cultural identity. This study aims to identify Gen Z's visual characteristics and adapt them to the design of handmade stamped batik motifs in secondary education settings. The method used is descriptive qualitative through interviews, observations of workshop processes, and documentation of student work. The results show that adolescents are more interested in simple, repetitive, and symbolic motifs that are close to everyday life, with the use of bright or pastel colors that reflect self-expression. Adapting Gen Z's visual characteristics in batik has been proven to increase student participation, creativity, and cultural meaning. These findings have implications for the development of a more exploratory, contextual, and innovative batik learning model to support batik preservation among the younger Generation. Stamped batik. Generation Z. Visual trends. Teen creative Exploratory This is an open access article under the CCAe BY-SA license Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Pendahuluan Generasi Z (Gen Z) yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012 merupakan generasi yang tumbuh dalam budaya digital. Mereka hidup di lingkungan yang penuh dengan akses informasi global yang cepat luas dan mudah melalui internet dan teknologi digital. Paparan informasi yang konstan ini membentuk preferensi visual dan estetika mereka. Salah satu dampaknya adalah kecenderungan Gen Z lebih tertarik pada produk budaya asing seperti gaya busana kebarat-baratan atau budaya populer global lain yang dianggap lebih baru dan relevan (Samudro & Turhadi, 2. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi keberadaan budaya tradisional Indonesia terutama batik. Batik yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi sarat dengan nilai filosofis spiritual dan penanda status sosial (Suharson, 2. Namun dalam lanskap budaya visual Gen Z yang cepat dinamis dan ekspresif batik tradisional sering dianggap sebagai warisan yang kaku dan formal sehingga dianggap kurang relevan (N & Nirmala, 2. Beberapa studi mencatat Gen Z memandang batik sebagai sesuatu yang bersifat kuno dan membosankan (Wahyuni & Sungkono, n. Namun ketika kita lihat lebih jauh lagi. Gen Z sebetulnya masih menaruh kepedulian terhadap batik. Sekarang ini inovasi dan transformasi yang menarik justru sedang terjadi pada Gen Z. Alih-alih menggunakan batik dalam konteks kaku mereka mempopulerkan tren berkain, muncul sebuah gerakan yang didorong komunitas digital seperti Remaja Nusantara. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Gen Z mengintegrasikan kain tradisional termasuk batik ke dalam dunia fashion modern yang lebih casual edgy dan eksperimental (Adjani, 2. Gen Z aktif melakukan reinterpretasi dan memadukan batik sebagai bentuk ekspresi diri yang kuat menandai minat besar dengan bahasa visual berbeda dari generasi sebelumnya (N & Nirmala, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Kesenjangan penelitian terdahulu: Berbagai studi telah mengkaji fenomena ini dari sudut pandang. Sebuah penelitian menyatakan mayoritas Gen Z setuju memakai batik adalah bentuk pelestarian budaya dan memiliki minat besar pada tren berkain modern (Azizah, 2. Namun minat ini lebih didorong oleh aspek estetika dan tampilan visual sedangkan pemahaman makna dan simbol filosofis dibaliknya masih terbatas (Adjani, 2. Studi lain menemukan Gen Z menyukai visual Batik Belanda karena desain dan pewarnaannya yang sangat halus dan indah. Berbagai fokus dan bidang juga memiliki upaya untuk melestarikan batik, hal ini dilakukan agar fokus pada meningkatkan minat dan keterampilan Gen Z (Yunianto et al. , 2. Studi lain mencoba penggunaan teknologi seperti pencetakan 3D untuk alat batik cap. Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan cenderung menitikberatkan pada aspek pelestarian teknik-teknik tradisional, analisis makna dan simbol dalam motif batik secara semiotik, atau pemanfaatan batik sebagai media untuk mengajarkan keterampilan lain dalam bidang seni dan budaya. Fokus utama penelitian tersebut masih berkisar pada pelestarian warisan kearifan lokal, penggalian nilai filosofis dalam desain motif, dan pemanfaatan batik untuk edukasi lintas disiplin daripada upaya untuk mengintegrasikan inovasi desain batik dengan tren visual kontemporer yang sesuai preferensi generasi Kajian yang secara khusus membahas preferensi visual Gen Z dengan proses desain motif batik hingga kini masih tergolong jarang ditemukan. Hal ini menjadi tantangan tentang upaya mempertahankan simbolisme budaya tradisional batik tetap berjalan, sekaligus menyesuaikan desain agar menarik bagi pasar modern dan selaras dengan selera serta gaya hidup Gen Z yang lebih dinamis dan kreatif. Banyak penelitian atau program pelestarian masih terfokus pada metode teknik tradisional atau pemaknaan motif batik dari sisi Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 filosofis, sehingga integrasi antara warisan visual tradisi dan inovasi desain yang berorientasi generasi muda menjadi isu yang belum sepenuhnya terjawab dalam ranah kriya batik saat ini (Wesnina et al. , 2. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakter visual dominan dalam budaya digital Gen Z serta menganalisis potensi penerapan karakter visual tersebut dalam desain batik cap untuk pasar remaja. Penelitian ini sangat relevan untuk pendidikan seni kriya yang berfokus pada budaya generasi Pendidikan berbasis kearifan lokal yang dikenal dengan ethnopedagogy memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya di tengah tekanan globalisasi dan dominasi kurikulum Barat. Pendekatan ini bukan hanya mentransfer keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilainilai budaya dan filosofi tradisional dalam proses pembelajaran seni, sehingga generasi muda dapat mengembangkan kreativitas yang berakar pada identitas budaya lokal mereka. Demikian, ethnopedagogy menjadi jembatan strategis antara pelestarian budaya dan kebutuhan pembelajaran modern yang adaptif dan relevan dengan konteks zaman sekarang (Sugiarto et al. , 2. Penelitian ini menawarkan sebuah jembatan antara pedagogi pelestarian batik yang berfokus pada nilai-nilai tradisional dengan dunia visual Gen Z yang mengedepankan estetika dan komunikasi visual modern. Melalui pemahaman dan integrasi bahasa visual Gen Z ke dalam proses pendidikan seni kriya dan pelatihan membatik, metode pembelajaran membatik diharapkan menjadi lebih partisipatif, kontekstual, dan bermakna. Geni Z sebagai digital natives memiliki karakteristik unik dalam persepsi dan preferensi visual mereka yang dibentuk oleh paparan konstan media digital dan platform sosial. Mereka tumbuh dalam lingkungan dimana informasi visual menyebar dengan cepat melalui gambar dan video pendek (Adjani, 2. Preferensi visual Gen Z mencerminkan kebutuhan akan konten yang dinamis estetis dan mudah dikonsumsi dalam format digital modern. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Studi eye-tracking menunjukkan bahwa perhatian visual Gen Z cenderung pada elemen makhluk hidup dalam konteks fashion dan media visual (Liang et , 2. Fenomena ini menciptakan preferensi yang kuat terhadap visual yang personal dan emosional. Gen Z juga menunjukkan kecenderungan mengintegrasikan warisan budaya tradisional dengan tren kontemporer global menciptakan hybrid aesthetic yang mencerminkan identitas ganda mereka sebagai penerus budaya lokal dan konsumen global (Adjani, 2. Dalam konteks batik khususnya Gen Z cenderung memilih motif yang lebih abstrak geometris dan kontemporer. Perpaduan ini memungkinkan mereka mengekspresikan individualitas mereka sembari tetap terhubung dengan warisan budaya. Media-media kontemporer memiliki dampak kognitif dan koneksi emosional yang lebih kuat bagi generasi ini dibandingkan metode tradisional (Kolay, 2. Preferensi ini menciptakan kesempatan untuk menghadirkan kembali batik melalui bahasa visual yang resonan dengan pengalaman digital mereka sehari-hari. Prinsip desain dalam batik cap handmade melibatkan penggunaan cetakan yang dirancang dengan pola berulang yang simetris dan teratur untuk menghasilkan motif yang homogen dan konsisten pada kain. Motif batik cap biasanya berupa pola yang diulang secara terus-menerus sehingga membentuk komposisi visual yang harmonis. Ketebalan garis dan ukuran cetakan diatur untuk memastikan detail motif tetap jelas dan presisi, sementara komposisi pola harus dirancang agar setiap sisi cetakan dapat menyambung dengan baik ketika dicapkan pada kain. Proses pengecapan sendiri memerlukan ketelitian dan keterampilan supaya motif tercetak dengan rapi tanpa adanya garis yang terputus atau tumpang tindih, dengan tekanan rata dari cetakan agar malam batik melekat secara optimal. Pengembangan motif batik cap kini juga menggunakan konsep modular stamp untuk menghasilkan variasi visual yang lebih inovatif dan menarik, meskipun karakteristik utama batik cap masih Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 mengutamakan kemudahan produksi dan kestabilan pola (Masfufah & Fardhani, 2. Kreativitas kemampuan untuk menghasilkan karya yang bersifat baru dan sesuai dengan konteks tugas yang dihadapi. Definisi ini menekankan pada dua aspek utama, yaitu kebaruan . yang mencerminkan orisinalitas ide atau bentuk karya, serta kesesuaian . yang menunjukkan relevansi karya tersebut terhadap tujuan, fungsi, atau konteks pembelajaran seni yang dijalankan (Yunianto et al. , 2. Definisi ini mengakui bahwa kreativitas bukan hanya tentang kebaruan tetapi juga relevansi fungsi dan makna dari karya yang dihasilkan. Pada konteks pembelajaran menciptakan ruang aman yang memungkinkan remaja untuk bereksperimen berekspresi dan berpikir di luar konvensi yang sudah mapan (Yunianto et al. Proses pembelajaran seni kriya seperti membatik memberikan kesempatan unik bagi remaja untuk mengembangkan kreativitas melalui pengalaman langsung dan praktis. Pembelajaran ini melibatkan eksplorasi motif dan warna yang disesuaikan dengan preferensi personal mereka sambil tetap memahami prinsip-prinsip desain tradisional (Sugiarto et al. , 2. Program pelatihan kriya telah terbukti meningkatkan tidak hanya keterampilan teknis tetapi juga kreativitas peserta menghasilkan karya batik yang inovatif dan berkualitas (Yunianto et al. , 2. Ethnopedagogy atau pendidikan berbasis kearifan lokal menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan transmisi budaya dengan pengembangan kreativitas (Sugiarto et al. , 2. Pendekatan pembelajaran menyeluruh dalam konteks seni kriya, khususnya batik, mengajak remaja untuk mengeksplorasi preferensi estetika mereka sambil tetap menghormati nilai-nilai filosofis dan simbolik yang melekat pada pola batik tradisional. Pendekatan ini mencakup Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 aspek teknis, artistik, spiritual, dan sosial-budaya sehingga membangun pemahaman yang mendalam tentang batik bukan sekadar sebagai produk seni tetapi sebagai warisan budaya yang hidup dan terus berkembang. Dengan cara ini, pembelajaran batik menjadi lebih bermakna, inklusif, dan kontekstual bagi generasi muda, mendorong kreativitas mereka sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya yang kokoh (Sugiarto et al. , 2. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa kemunculan batik kontemporer sebagai kategori desain yang berhasil memadukan kekayaan unsur tradisional dengan ekspresi visual modern yang dinamis (Wesnina et al. , 2. Gaya ini menjadi sangat menarik bagi Gen Z karena karakternya yang bebas seringkali abstrak dapat terlepas dari batasan pakem tradisional yang kaku. Evolusi motif memposisikan batik sebagai medium kreatif yang adaptif dan responsif terhadap tuntutan estetika kontemporer. Selain itu, dimensi desain telah berevolusi melalui inovasi teknologi seperti Computer-Aided Design (CAD) dan pencetakan digital (Wesnina et al. , 2. Hal ini menawarkan solusi produksi lebih ramah lingkungan berkat pengurangan limbah air dan kimia, sekaligus memungkinkan kustomisasi Penggunaan teknologi emerging seperti AI. AR, dan VR dalam aplikasi virtual try-on juga memperluas penetrasi batik ke pasar global (Glogar et al. Pada tingkat sosial, fenomena "tren berkain" menandakan integrasi batik ke dalam fashion kasual Gen Z (Azizah, 2. Tren ini dipopulerkan melalui komunitas digital sebagai alat ekspresi identitas, bukan sekadar pakaian formal (Adjani, 2. Secara keseluruhan, transformasi ini menegaskan bahwa batik telah berevolusi menjadi praktik budaya yang sangat dinamis, responsif, dan terintegrasi penuh dengan kehidupan modern Gen Z. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Metode Penelitian menggambarkan dan menganalisis secara mendalam kreativitas remaja dalam mengeksplorasi tren visual Gen Z serta penerapannya pada desain batik cap. Fokus penelitian menitikberatkan pada proses kreatif dan hasil visual karya siswa, disertai pandangan para ahli sebagai penguat analisis. Penelitian ini dilakukan di SMA Islam Diponegoro Surakarta. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada adanya program ekstrakurikuler Tata Busana yang relevan dengan tujuan penelitian. Subjek ekstrakurikuler Tata Busana di sekolah tersebut. Partisipan tersebut dianggap mewakili karakteristik remaja Gen Z dalam mengkaji proses kreativitas pada konteks pembelajaran desain. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik untuk mendapatkan informasi yang komprehensif. Pada tahap awal mencakup studi literatur untuk menelaah tren visual Gen Z dan teori Setelah itu, angket disebarkan kepada 20 siswi untuk mengetahui pemahaman awal dan preferensi visual mereka. Tidak hanya itu, wawancara mendalam dilakukan dengan dua ahli untuk memperkuat landasan teoritis, yaitu Bagus Indrayana dan Nanang Yulianto. Melalui wawancara tersebut diperoleh pandangan tentang konsep motif, batasan kreativitas remaja, dan makna kreativitas sebagai ruang kebebasan yang digerakkan oleh hasrat. Selain itu, peneliti mengumpulkan data utama melalui observasi dalam kegiatan workshop. Dalam kegiatan tersebut, peneliti memberikan materi dasar tentang batik dan membimbing siswi membuat sketsa motif dari ide lingkungan sekitar. Selanjutnya, para siswi melaksanakan praktik batik cap dan menghasilkan karya sederhana. Selama kegiatan berlangsung, peneliti melakukan observasi dan wawancara singkat untuk mengetahui proses kreatif, tantangan teknis, dan ekspresi siswa saat berkarya. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Data penelitian dianalisis menggunakan dua teknik utama. Teknik pertama adalah analisis tematik, yang diterapkan pada data kualitatif berupa transkrip wawancara dengan ahli dan siswi serta catatan observasi lapangan. Proses analisis meliputi identifikasi, pengodean, dan pengelompokan data ke dalam tema-tema utama yang berkaitan dengan kreativitas, proses desain, dan tren visual Gen Z. Teknik kedua adalah analisis visual karya atau analisis formal, yang digunakan untuk menelaah data primer berupa sketsa dan hasil batik cap Analisis ini berfokus pada aspek visual dengan mengacu pada kerangka visioplastis dan analisis formal untuk menilai komposisi, harmoni warna, variasi motif, serta kesesuaian hasil karya dengan karakteristik tren visual Gen Z yang ditemukan sebelumnya. Hasil dan Pembahasan Analisis Trend Visual Gen Z . Bentuk Ciri yang dominan pada karya siswa terlihat pada pemilihan bentuk motif yang sederhana, mudah diidentifikasi, serta memiliki keterkaitan emosional dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Objek yang menjadi ide bisa berupa satu objek atau objek yang dapat menghasilkan bentuk tidak sama, tanpa adanya objek tidak ada Gen Z cenderung memilih bentuk simbolik, personal, dan mudah dikenali bukan bentuk tradisional yang kompleks. Bentuk yang dipilih Gen Z sebagai ide lebih minimalis dan clean look, mengikuti desain visual modern. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 1. Gambar kerang (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Gambar 2. Gambar bunga nada (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Warna Penggunaan warna cerah pada karya Gen Z mencerminkan preferensi visual yang dianggap lebih segar, muda, lembut, estetik dan Pilihan palet warna tersebut menunjukkan kecenderungan terhadap suasana yang ringan dan optimis, yang berbeda dari karakter batik klasik yang umumnya menampilkan kesan lebih formal dan makna simbolik. Gaya visual Batik yang dikembangkan oleh Gen Z cenderung bersifat ekspresif dibandingkan dengan batik normatif yang berpegang pada pakem Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Visual tradisional. Dinamika visual yang dihasilkan menunjukkan komposisi yang lebih bebas, spontan, dan tidak terikat oleh aturan motif proses kreatif siswa berlangsung tanpa tekanan atau batasan yang ketat, sehingga ruang ekspresi menjadi lebih luas dan dinamis. Dengan demikian, motif yang tercipta menampilkan karakter kebebasan atau sifat AumerdekaAy dan berekspresi, yang mencerminkan identitas remaja sebagai kelompok yang tengah membangun cara pandang dan bahasa visualnya sendiri. Gambar 3. Gambar urban butterfly (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Simbol Gen Z cenderung memanfaatkan simbol visual sebagai penyaluran ide untuk menyampaikan identitas, emosi, maupun pengalaman Pada konteks tersebut, batik bukan lagi dipandang semata sebagai kain bermotif, melainkan berfungsi sebagai ruang ekspresi diri yang memungkinkan perwujudan makna dan narasi individual. Melalui proses penciptaannya, batik menjadi media komunikasi personal yang merefleksikan nilai, perspektif, dan perjalanan batin pembuatnya. Salah satu contohnya adalah gambar daun dengan judul motif Leaf of Hope Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 dengan makna daun sebagai simbol kebebasan dan harapan setiap Ditinjau dari fauna maka lumba-lumba juga menjadi suatu simbol kecerdasan, keceriaan, dan kebersamaan. Motif yang dirancang sederhana dan mudah dikenali. Gambar 4. Gambar daun (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Gambar 5. Gambar lumba-lumba (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Proses Kreatif Remaja Tahapan proses yang paling disukai remaja, yaitu saat menentukan motif, mengecap kain, serta memahat atau membentuk pola pada media gabus/busa/spons, menunjukkan bahwa Gen Z lebih menikmati aktivitas yang memberikan ruang eksplorasi dan kebebasan berkreasi. Pada tahap pengecapan, ketebalan malam batik memegang peran penting dalam Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 keberhasilan cetakan. Malam yang terlalu cair umumnya terjadi karena suhu pemanasan terlalu tinggi sehingga malam menjadi terlalu panas dan mudah menyebar, mengakibatkan bentuk motif menjadi motif kurang Sebaliknya, malam yang terlalu kental terjadi ketika suhu masih rendah atau malam belum dimasak hingga tahap kematangan yang tepat, sehingga malam sulit menempel dan tidak meresap dengan baik pada permukaan kain. Meskipun aspek teknis tersebut membutuhkan ketelitian dan kontrol prosedural. Gen Z tetap menunjukkan ketertarikan yang lebih besar pada bagian proses yang bersifat kreatif dan ekploratif dibandingkan pekerjaan yang repetitif atau sangat teknis. Hal ini mengindikasikan bahwa Gen Z memiliki kecenderungan untuk menikmati proses berkarya yang dinamis, fleksibel, dan menunjukkan ekspresi personal secara lebih Analisis Visual Karya . Komposisi motif Sebagian sederhana dengan penataan motif yang berulang namun tetap menyisakan ruang kosong sebagai elemen pernapasan visual. Motif seperti pita, kerang, kupu-kupu, clover, dan daun tersusun dengan gaya yang berjarak dan natural sehingga memberikan kesan ringan dan tidak Sementara itu, penggunaan motif berbentuk diamond, persegi, dan lingkaran memperlihatkan kecenderungan pendekatan geometris yang lebih modern dan bersih. Pola-pola tersebut tidak sepenuhnya mengikuti kaidah isen-isen dalam batik tradisional, melainkan lebih menonjolkan kejelasan bentuk utama agar mudah dikenali dan nyaman Secara keseluruhan, komposisi karya cenderung minimalis. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 rapi dan tidak padat, sejalan dengan preferensi estetika Gen Z yang mengutamakan kesederhanaan namun tetap bermakna. Gambar 6. Gambar diamond (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Gambar 7. Gambar ruang dan bentuk (Foto: Amin Sulistiyowati, 2. Harmoni warna Penggunaan kecenderungan visual yang menekankan ekspresi keceriaan, energi, dan Warna ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media untuk membangun suasana emosional tertentu pada karya. Gen Z menampilkan warna cerah menjadi cara Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 untuk menampilkan identitas yang optimis dan komunikatif, sekaligus menciptakan tampilan visual yang ringan dan menarik. Relevansi dengan karakter visual Gen Z Setiap motif yang dipilih memiliki keterkaitan dengan pengalaman dan identitas personal, setiap pita yang melambangkan kasih sayang dan kehangatan, kerang yang mengingatkan pada kenangan bahagia dan kebebasan, kupu-kupu sebagai simbol proses pertumbuhan diri, clover sebagai representasi harapan dan keberuntungan, daun yang mencerminkan kebebasan dan prospek masa depan, serta diamond yang menunjukkan keteguhan nilai diri. Dengan demikian, motif tidak digunakan sekedar sebagai unsur dekoratif, tetapi berfungsi sebagai sarana komunikasi diri yang sejalan dengan dengan karakter Gen Z yang mengutamakan keaslian, memanfaatkan seni sebagai media ekspresi emosional, dan menjadikan simbol sebagai bagian pencarian Berdasarkan komposisi, warna, dan makna motif yang muncul, terlihat bahwa karya batik remaja memiliki relevansi yang kuat dengan preferensi visual dan nilai estetika Gen Z. Komposisi yang minimalis dan bersih menegaskan motif utama, penggunaan warna cerah menghadirkan nuansa optimis, sementara pemilihan simbol yang dekat dengan pengalaman pribadi memperlihatkan kecenderungan Batik bagi Gen Z tidak hanya berfungsi sebagai representasi modern,personal, dan tetap menghargai nilai budaya yang melatar Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Implikasi terhadap Pembelajaran Pendekatan batik remaja berbasis tren visual Gen Z dapat menjadi model pembelajaran yang efektif dan relevan pada tingkat pendidikan Pendekatan ini membuat batik terasa lebih dekat dengan kehidupan dan identitas siswa, karena motif, warna dan gaya visual yang digunakan sesuai dengan preferensi estetika mereka. Proses pembelajaran mendorong kreativitas serta eksplorasi visual melalui kegiatan merancang dan mengekspresikan gagasan secara langsung. Pada saat yang sama, pendekatan ini tetap menjaga kesinambungan nilai budaya dengan menghadirkan pemahaman mengenai batik sebagai warisan seni, namun pembuatannya melalui cara yang modern, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa karya batik yang dihasilkan oleh remaja menampilkan perpaduan antara nilai budaya tradisional dengan ekspresi visual modern yang mencerminkan identitas generasi muda. Motif yang dipilih bersifat lebih personal dan ekspresif, didukung oleh pemilihan warna dengan tren estetis Gen Z, seperti penggunaan palet cerah. Hal ini menunjukkan bahwa batik bagi remaja bukan sekedar produk budaya warisan, tetapi media ekspresi diri yang mampu mengartikulasikan pengalaman visual dan gaya hidup kontemporer. Eksplorasi batik di kalangan peserta didik berpotensi menjadi strategi pelestarian budaya yang adaptif, relevan, dan berorientasi pada perkembangan zaman. Pembelajaran batik di lingkungan eksploratif yang memberi ruang bagi peserta didik untuk merancang motif berdasarkan pengalaman visual. Pengembangan bahan ajar hendaknya mempertimbangkan tren visual generasi muda, seperti estetika media sosial. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 grafis digital, dan budaya populer, agar pembelajaran lebih kontekstual, dan Daftar Pustaka