Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Akreditasi No. 32a/E/KPT/2017 DOI: 10. 24034/j25485024. p-ISSN 2548 Ae 298X e-ISSN 2548 Ae 5024 FINANCIAL DISTRESS DI BUMN INDONESIA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Aries Widya Gunawan arieswidya71@gmail. Aminullah Assagaf Nur Sayidah Alvy Mulyaningtyas Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis. Universitas Dr. Soetomo ABSTRACT This study aims to examine the factors that influence financial distress in State-owned enterprises (SOE. The factors identified include managerial compensation, working capital, investment growth, and operating cash he researchers measure financial distress by Z-score. The researchers measure managerial compensation by calculating the amount of directors' salary and allowances. Working capital by ratio between the number of current assets and short-term liabilities. Investment growth by the ratio between the current year's investment and the previous year. Operating cash flow is the difference between cash inflows and outflows from operating Leverage as a control variable is a comparison between total debt and total equity. The researchers selected the sample with a purposive sampling method. The result is that researchers obtained a sample of 19 BUMN. Research data for the period 2014-2017 were analyzed using multiple linear regression analysis. The results show that the variable working capital and leverage influence financial distress. Managerial compensation, investment growth, and operating cash flow do not affect financial distress. Key words: managerial compensation. working capital. investment growth. cash flow operations. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji fakor-faktor yang mempengaruhi financial distress di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Faktor-faktor yang diidentifkasi mencakup kompensasi manajerial, modal kerja, pertumbuhan investasi, dan arus kas operasi. Pengukuran financial distress dilakukan dengan Z-score. Peneliti mengukur kompensasi manajerial dengan menghitung jumlah gaji dan tunjangan direksi. Modal kerja diukur melalui rasio antara jumlah asset lancar dengan liabilitas jangka pendek. Pertumbuhan investasi dihitung dari rasio antara investasi tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Arus kas operasi adalah selisih arus kas masuk dan keluar dari aktivitas operasi. Leverage sebagai variable control diperoleh dari perbandingan antara total hutang dan total ekuitas. Peneliti menyeleksi sampel dengan metode purposive sampling. Hasilnya peneliti memperoleh sampel sebanyak 19 BUMN. Data penelitian untuk periode tahun 2014-2017 dianalisis dengan menggunanakan analisis regresi linier berganda. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel modal kerja dan leverage mempunyai pengaruh terhadap financial distress. Kompensasi manajerial, pertumbuhan investasi, dan arus kas operasi tidak mempunyai pengaruh terhadap financial distress. Kata kunci: financial distress. kompensasi manajerial. modal kerja. pertumbuhan investasi. arus kas PENDAHULUAN Fenomena kesulitan keuangan atau financial distress yang terjadi pada BUMN sampai saat ini merupakan tema yang menarik untuk dikaji. Financial distress merupakan suatu keadaan yang dapat dialami Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas oleh berbagai perusahaan baik itu perusahaan dengan skala besar atau pun perusahaan dengan skala kecil dari berbagai sektor industri. Kesulitan keuangan yang mengancam operasional BUMN menjadi hal yang sangat penting karena perusahaan ini menyerap pendanaan pemerintah. BUMN seharusnya sehat dan memiliki kemampuan keuangan secara mandiri bahkan berpeluang membantu keuangan negara sebagaimana yang terjadi dinegara lain. Fenomena ini merupakan reasearch gap yang penting untuk dianalisa. Faktor-faktor yang terkait dengan kesulitan keuangan BUMN diuji dalam penelitian ini untuk memberi masukan kepada pemerintah dalam membuat kebijakan dalam mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi BUMN. Penelitian BUMN secara spesifik sektor ketenagalistrikan, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah dilakukan Assagaf . Hasil penelitian menunjukkan bah wa optimalisasi pengelolaan PLN perlu dilakukan serangkaian kebijakan yang didukung oleh pemerintah melalui kementerian terkait untuk melakukan kebijakan secara terpadu. Variabel yang digunakan pada penelitian fokus pada faktor kompensasi manajerial, modal kerja, dan pertumbuhan investasi, leverage, dan cash flow operation yang terkait dengan kesulitan keuangan BUMN atau financial distress yang perlu dikaji atau dianalisis secara komprehensip, sehingga dapat memberi masukan atau rekomendasi terhadap permasalahan yang dihadapi BUMN. Salah satu indikator keberhasilan bagi perusahaan dalam mencapai orientasinya ditentukan oleh kinerja dan profesionalisme karyawan atau pegawainya. Hal ini dikarenakan adanya motivasi dalam meningkatkan kinerja perusahaan dengan pemberian kompensasi yang cukup memuaskan. Studi yang mengkaji mengenai distress status terhadap kompensasi yaitu penelitian yang dilakukan oleh Abdullah . Perusahaan dalam keadaan financial distress akan membayar total remunerasi lebih rendah dibandingkan perusahaan dalam keadaan sehat. Pemberian kompensasi pada perusahaan yang mengalami keadaan keuangan tidak baik, atau dikatakan distress, akan berbeda dengan perusahaan dengan kondisi keuangan yang baik atau non-distress. Ketika perusahaan dalam keadaan financial distress, kondisi keuangan dalam perusahaan sedang mengalami penurunan serta perusahaan akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran Kondisi tersebut bertentangan dengan Njuguna . , yang menyebutkan bahwa pemberian kompensasi yang besar pada perusahaan yang sehat akan membuat kinerja direksi meningkat, ketika keadaan perusahaan dalam kondisi non-financial Kondisi keuangan perusahaan yang sedang dalam keadaan normal akan meningkat dari biasanya. Hal tersebut akan berdampak pula pada besarnya pemberian kompensasi direksi. Kondisi Financial distress dapat diukur dengan skor yang ditemukan oleh Altman yang dikenal dengan Z-Score. Analisis ZScore adalah metode untuk memprediksi keberlangsungan hidup suatu perusahaan dengan mengkombinasikan beberapa rasio keuangan yang umum dan pemberian bobot yang berbeda satu dengan lainnya (Rudianto, 2013. Sartono . Model Altman . telah dilengkapi titik cut off untuk menentukan klasifikasi kebangkrutan. Altman menggunakan lima rasio keuangan yang diperuntukkan bagi perusahaan go public salah satunya adalah Modal kerja terhadap Total Aktiva. Capital Expenditure atau pertumbuhan investasi juga diduga mempunyai pengaruh terhadap struktur modal karena berkaitan dengan adanya penggunaan dana perusahaan untuk membiayai keperluan perusahaan dalam jangka panjang. Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan size. Pertumbuhan . adalah seberapa jauh perusahaan menempatkan diri dalam sistem ekonomi secara keseluruhan atau sistem ekonomi Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 untuk industri yang sama. Machfoedz . Secara umum, semakin meningkat produktivitas perusahaan, maka pertumbuhan perusahaan juga diharapkan meningkat dari waktu ke waktu. Pertumbuhan karena pengaruh dari iklim dan situasi usaha local, jika infrastruktur dan iklim usaha mendukung usaha tersebut, maka pertubuhan perusahaan akan terlihat baik dari waktu ke Analisis leverage diperlukan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar utang . angka pendek dan jangka panjan. Apabila suatu perusahaan pembiayaannya lebih banyak menggunakan utang, hal ini beresiko akan terjadi kesulitan pembayaran di masa yang akan datang akibat utang lebih besar dari aset yang Jika keadaan ini tidak dapat diatasi dengan baik, potensi terjadinya financial distress pun semakin besar. Salah satu rasio yang dipakai dalam mengukur leverage adalah total liabilities to total asset. Almilia dan Kritijadi . Cash flow from operating juga diduga mempengaruhi variabel dependent financial Untuk menguji konsistensi hasil perhitungan koefisien regresi hubungan antara variabel tersebut, maka digunakan persamaan regresi yang menunjukkan pengaruh langsung variabel independent terhadap financial distress pada BUMN. Hasil analisis komprehensif yang melibatkan berbagai kelompok variabel yang disebutkan diatas, memotivasi peneliti untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi financial distress dengan menggunakan variabel independen kompensasi manajerial, modal kerja, pertumbuhan investasi, leverage dan cash flow operation. TINJAUAN TEORETIS Financial Distress Kondisi financial distress perusahaan didefinisikan sebagai kondisi dimana hasil operasi perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan (Insolvenc. Menurut Emery et al. insolvency dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu Technical Insolvency dan Bankruptcy Insolvency (Suroso, 2. Technical Insolvency, bersifat sementara dan munculnya karena perusahaan kekurangan kas untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek. Bankruptcy Insolvency, bersifat lebih serius dan munculnya ketika total nilai hutang melebihi nilai total aset perusahaan atau nilai ekuitas perusahaan negatif. Banyak faktor yang dapat menyebabkan perusahaan menghadapi financial distress yaitu antara lain kenaikan biaya operasi, ekspansi berlebihan, ketinggalan teknologi, kondisi persaingan, kondisi ekonomi, kelemahan manajemen perusahaan dan penurunan aktifitas perdagangan industri. Wruck . Pada umumnya kondisi financial distress yang ringan disebabkan akibat dari kelemahan manajemen dalam siklus operasional. Menurut Joseph dan Mensah . , ada dua jenis kebangkrutan. Economic distress, berarti perusahaan kehilangan uang atau pendapatan sehingga tidak mampu menutup biaya sendiri karena tingkat laba yang lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dan arus kas perusahaan lebih kecil dari Kegagalan terjadi bila arus kas perusahaan sebenarnya jauh dibawah arus kas yang diharapkan atau tingkat pendapatan atas biaya historis dan investasinya lebih kecil dari pada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah investasi. Financial distress, berarti kesulitan dana untuk menutup kewajiban perusahaan atau likuidasi yang diawali dengan kesulitan ringan sampai pada kesulitan yang lebih serius, yaitu jika hutang lebih besar dibandingkan dengan aset. Definisi dari financial distress tidak dapat dirumuskan dengan akurat akan tetapi merupakan suatu keadaan kesulitan dari tingkat ringan sampai berat. Indikator awal yang menunjukkan apakah suatu perusahaan mengalami financial Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas distress antara lain ditandai dengan adanya pemberhentian tenaga kerja atau hilangnya pembayaran deviden, serta arus kas yang lebih kecil daripada kewajiban jangka panjang, atau jika selama dua tahun mengalami laba bersih operasi negatif dan selama lebih dari satu tahun tidak melakukan pembayaran deviden. Penelitian financial distress sebelumnya telah dilakukan oleh Weston dan Copeland . dalam Mastuti. et al. , kebangkrutan adalah sebagai suatu kegagalan yang terjadi dalam perusahaan tersebut dapat dibedakan sebagai berikut: Kegagalan Ekonomi (Economic Distresse. Kegagalan dalam arti ekonomis bahwa pendapatan perusahaan tidak mampu lagi menutup biayanya, yang berarti bahwa tingkat labanya lebih kecil daripada biaya modalnya. Definisi yang berkaitan adalah bahwa nilai sekarang dari arus kas perusahaan itu lebih kecil dari kewajibannya. Kegagalan Keuangan (Financial Distresse. Insolvensi memiliki dua bentuk yakni Default teknis yang terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi didalam ketentuan hutangnya, seperti rasio aktiva lancar dengan hutang lancar yang ditetapkan, serta kegagalan keuangan atau ketidakmampuan teknik . echnical insolvenc. yang terjadi apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya pada waktu yang telah ditentukan walaupun harta totalnya melebihi hutangnya. Selanjutnya Altman Z-Score dalam Mastuti. et al. menggunakan metode prediksi kebangkrutan yang dikenal dengan metode Altman Z-Score yang telah dilengkapi titik cut off untuk menentukan klasifikasi kebangkrutan. Altman menggunakan lima rasio keuangan yang diperuntukkan bagi perusahaan go public yaitu Modal Kerja terhadap Total Aktiva. Laba Ditahan terhadap Total Aktiva. EBIT terhadap Total Aktiva. Nilai Pasar Ekuitas ter- hadap Total Hutang, dan Penjualan terhadap Total Aktiva. Financial distress yang diukur berdasarkan nilai Z-Score dari Altman . 3 dan pengembangannya tahun 1. Altman Model tahun 1983 menggunakan dasar perhitungan nilai Z-score: Zi = 1,2 X1 1,4X2 3,3X3 0,6X4 1,0X5 Dimana: X1: (Aktiva lancar Ae utang lanca. atau Total Aset. X2: Laba yang ditahan atau Total Aset. X3: Laba sebelum bunga dan pajak atau Total Aset. X4: Nilai pasar saham biasa da preferen/Nilai buku total utang. X5: Penjualan atau Total Aset. Kompensasi Manajerial dan Financial Distress Kebijakan Kompensasi eksekutif pada dasarnya merupakan bentuk kontrak keagenan antara pemegang saham . dengan manajemen perusahaan . Kebijakan penentuan kompensasi eksekutif merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka mendorong peningkatan kinerja. Manajemen bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik atau pemegang saham, dan sebagai imbalannya manajemen akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Pemilik perusahaan mengharapkan manajemen dapat meningkatkan kinerja dengan kebijakan pemberian kom- pensasi yang tepat. Santi dan Puji . Sistem kompensasi juga berpotensi sebagai salah satu sarana terpenting dalam membentuk perilaku dan mempengaruhi kinerja Sutrisno . Namun demikian banyak organisasi mengabaikan potensi tersebut dengan suatu persepsi bahwa Aukompensasi tidak lebih sekadar sebuah cost yang harus diminimisasiAy. Tanpa disadari beberapa organisasi yang mengabaikan potensi penting dan berpersepsi keliru telah menempatkan sistem tersebut justru sebagai sarana meningkatkan perilaku yang tidak produktif atau counter productive. Akibatnya muncul sejumlah persoalan-personal misalnya low employee motivation, poor job performance, high turn over, irresponsible beha- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 viour dan bahkan employee dishonestry yang diyakini berakar dari sistem kompensasi yang tidak proporsional. Pengaturan kompensasi merupakan faktor penting untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja. Kompensasi dapat berbentuk finansial maupun non-finansial. Menurut Kosnik . kinerja dewan direksi dalam perusahaan yang mengalami financial distress akan lebih tinggi daripada perusahaan yang sehat. Direksi cenderung menaikkan nilai perusahaan agar mereka tidak terkena dampak buruk dari penurunan nilai perusahaan. Akan tetapi, kompensasi manajerial yang diberikan pada perusahaan yang mengalami financial distress lebih kecil daripada perusahaan yang tidak mengalami financial distress atau perusahaan Abdullah . menyebutkan bahwa perusahaan dalam keadaan financial distress akan membayar kompensasi manajerial lebih rendah dibandingkan perusahaan dalam keadaan sehat. Kondisi tersebut bertentangan dengan Ruparelia dan Njuguna . yang menyebutkan bahwa pemberian kompensasi manajerial yang besar pada perusahaan yang sehat akan membuat kinerja direksi meningkat. Berlainan dengan penelitian Barkema dan Gomez-Mejia . menyatakan bahwa selama enam dekade melakukan penelitian, mereka gagal untuk membuktikan adanya hubungan antara kinerja perusahaan dengan kompensasi manajemen tingkat atas. Penelitian yang dilakukan oleh Cordeiro et al. dan Firth et al. juga membuktikan tidak terdapat hubungan antara penghargaan kepada direksi dan kinerja ekonomi perusahaan. Berdasarkan peranan kompensasi manajerial tersebut maka penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut: H1 : Kompensasi Manajerial (KM) berpengaruh terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah. Working Capital dan Financial Distress Working Capital digunakan untuk mengukur besarnya modal kerja yang diperlu- kan oleh perusahaan dalam menjalankan Working Capital merupakan selisih antara aktiva lancar dengan kewajiban jangka pendek. Perusahaan yang mempunyai jumlah Working Capital yang besar menunjukkan keuangan perusahaan sehat. Perusahaan mempunyai cukup aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang digunakan untuk biaya Indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat Working Capital perusahaan adalah indikator-indikator internal seperti ketidakcukupan kas, utang dagang membengkak, dan beberapa indiaktor lainnya. Besar kecilnya Working Capital menunjukkan perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tingkat financial distress yang terjadi. Hasil penelitian Minda . dan Irma . menunjukkan bahwa rasio WC atau TA berpengaruh terhadap tingkat kebangkrutan atau prediksi kondisi financial Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan semakin meningkatnya nilai WC atau TA menandakan makin besarnya tingkat proteksi kewajiban jangka pendek, dan semakin besar kepastian bahwa utang jangka pendek akan dilunasi dengan tepat waktu yang artinya perusahaan dapat mengelola kewajibannya dengan baik dan dampaknya perusahaan tidak mengalami financial distress. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menyusu hipotesis: H2 : Working Capital berpengaruh terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal Pertumbuhan Investasi (Pertumbuhan Capital Expenditur. dan Financial Distress Capital Expenditure erat kaitannya dengan agency theory yang berhubungan de ngan kepentingan pemegang saham sebagai principal dan tanggung jawab manajemen perusahaan sebagai agent. Tanggung jawab manajemen perusahaan terutama dalam keputusan investasi atau capital expenditure untuk meningkatnya kapasitas operasi yang dapat mempengaruhi kondisi arus kas Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas operasi dan berdampak terhadap financial distress BUMN. Bila variabel capital expenditure memerlukan dana investasi maka dampaknya terhadap kondisi keuangan untuk membiayai investasi dan mengembalikan dana tersebut sebagai cicilan utang ke pihak perbankan. Dan bila kemampuan menghasilkan cash flow from operating yang relatif kecil atau negatif karena masih memerlukan subsidi, maka kesulitan keuangan semakin menekan BUMN. Oleh sebab itu manajemen capital expenditure tidak hanya menonjolkan aspek externalitas . ocial benefit dan social cos. tetapi juga memperhatikan aspek finansial yang memperhitungkan keseimbangan cash flow operasi. Variabel capital expenditure telah digunakan pada penelitian sebelumnya oleh Kordestani dan Biglari . dalam menganalisis kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan peranan variabel capital expenditure tersebut yang dalam penelitian ini diproksikan dengan pertumbuhan aset, maka penelitian ini mengajukan hipotesis H3 berikut ini. H3 : Pertumbuhan Investasi berpengaruh terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah Cash Flow Operation dan Financial Distress Kas menggambarkan daya beli dan dapat ditransfer segera dalam perekonomian pasar kepada setiap individu dan organisasi dalam memperoleh barang dan jasa yang sangat diperlukan Wahyuningtyas . Informasi arus kas dibutuhkan pihak kreditor untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam pembayaran hutangnya. Apabila arus kas suatu perusahaan jumlahnya besar, maka pihak kreditur mendapatkan keyakinan pengembalian atas kredit yang diberikan, begitu juga sebaliknya apabila arus kas perusahaan tersebut bernilai kecil maka kreditur bisa kurang yakin atas kemampuan perusahaan dalam membayar Dengan demikian arus kas juga dapat digunakan sebagai indikator oleh pihak luar dalam menganalisa kondisi ke- uangan perusahaan tersebut. Laporan Arus kas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan laporan keuangan lainnya, maka penggunaannya secara bersama-sama akan memberikan hasil yang lebih tepat untuk mengevaluasi sumber dan penggunaan kas dalam kegiatan di perusahaan Salah satu penyebab financial distress adalah kesulitan arus kas. Kesulitan arus kas, disebabkan oleh tidak seimbangnya antara penerimaan yang bersumber dari penjualan dengan pengeluaran untuk pembelanjaan dan terjadinya kesalahan pengelolaan arus kas oleh manajemen dalam pembiayaan operasional perusahaan sehingga arus kas perusahaan berada pada kondisi defisit. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa jika perusahaan memiliki aliran penerimaan kas tinggi maka perusahaan tersebut dikatakan sehat, sebaliknya jika perusahaan memiliki aliran penerimaan kas yang rendah bahkan lebih rendah dari aliran kas keluarnya maka perusahaan tersebut tidak sehat atau sedang mengalami financial distress bahkan mengalami kebangkrutan. Dari penjelasan diatas hipotesis yang diajukan penelitian ini H4 : Cash Flow Operation berpengaruh terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah Terhadap Financial Distress. Leverage dan Financial Distress Rasio leverage menunjukkan kemampuan suatu entitas untuk melunasi hutang lancar maupun hutang jangka panjangnya atau rasio yang digunakan untuk menilai sejauh mana suatu entitas dibiayai dengan menggunakan hutang Wiagustini . Apabila suatu perusahaan pembiayaannya lebih banyak menggunakan hutang, hal ini berisiko akan terjadi kesulitan pembayaran di masa yang akan datang akibat hutang lebih besar dari aset yang dimiliki. Ketidak mampuan perusahaan dalam memenuhi hutangnya pada kreditur saat jatuh tempo dapat menyebabkan financial distress Sari Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 dan Putri . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristanti et , . Sari dan Putri . Antikasari . Dewi dan Dana . serta Kariani dan Budiasih . yang menyatakan bahwa rasio leverage berpengaruh pada financial Sementara itu, penelitian yang dilakukan Widhiari dan Merkusiwati . Sopian dan Putri . , dan Eminingtyas dan Nita . menunjukkan bahwa rasio leverage tidak berpengaruh terhadap financial distress. Berdasarkan uraian diatas hipotesis dalam penelitian ini: H5 : Leverage berpengaruh terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal METODE PENELITIAN Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan kriteria yaitu hanya BUMN yang menerima pendanaan dari pemerintah melalui anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN dalam bentuk subsidi dan atau tambahan penyertaan modal pemerintah dan laporan keuangannya sudah dipublikasikan pada tahun 2014-2017. Terdapat 19 BUMN yang menerima pendanaan dari APBN, dan menerima tambahan penyertaan modal pemerintah atau PMP dan laporan keuangannya sudah dipublikasikan pada tahun 20142017 yang ditetapkan sebagai sampel pada penelitian ini. Variabel dan Pengukurannya Variabel dependen yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah financial distress yang diukur dengan menggunakan metode multiple discriminant analysis (MDA) dari Altman yang sering disebut dengan Z-score. Skor ini adalah adalah nilai yang ditentukan dari lima rasio keuangan yang masingmasing dikalikan dengan bobot tertentu. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah, variabel kompensasi manajerial, modal kerja, dan pertumbuhan investasi. Variabel intervening yang digunakan adalah cash flow operating, dan variabel control leverage. Financial Distress Peneliti mengukur financial distress dengan Z-score yang ditemukan oleh Altman. Rumus adalah: Zi = 1,2 X1 1,4X2 3,3X3 0,6X4 1,0X5 Dimana: X1: (Aktiva lancarAeutang lanca. atau Total Aset X2: Laba yang ditahan atau Total Aset X3: Laba sebelum bunga dan pajak atau Total Aset X4: Nilai pasar saham biasa dan preferen atau Nilai buku total utang X5: Penjualan atau Total Aset. Kompensasi Manajerial Pengukuran variabel kompensasi manajerial diproksikan menggunakan kompen sasi yang diberikan oleh perusahaan kepada dewan direksi dengan jumlah dari gaji, insentif, tunjangan remunerasi. THR, dan bonus atau tantiem yang diformulasikan sebagai berikut: X1i KM = Kompensasi . Ae Kompensasi . Kompensasi . Modal kerja Modal kerja yaitu selisih antara asset lancar dengan utang lancar yang menggambarkan modal kerja bersih yang dimiliki Semakin nilai modal kerja ini, maka semakin terjamin kelancaran operasional perusahaan baik dalam membiayai kebutuhan usaha maupun menyelesaikan kewajiban utang yang jatuh tempo. Pengukuran Modal kerja (X. dilakukan berdasarkan perhitungan yang digunakan pada penelitian Altman . , yaitu: Pertumbuhan Investasi Sebagai variabel independent yang menunjukkan besarnya pengeluaran investasi Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas suatu periode tertentu atau dikenal dengan pengeluaran expenditure satu periode atau satu tahun. Variabel independent pertumbuhan investasi (X. , diukur dengan menggunakan formula sebagaimana pada penelitian Chen et al. , yaitu: Variabel Arus Kas Operasi Varibel arus kas operasi dihitung dari pertumbuhannya dan disimbolkan dengan X4iCFO. Arus kas operasi sebagai variabel independen menggambarkan jumlah aliran kas yang berasal dari kegiatan operasional perusahaan dalam suatu periode tertentu, misalnya satu tahun. Pengukurannya dilakukan berdasarkan hasil perhitungan yang dilaporkan melalui laporan keuangan pada akhir tahun sebagaimana digunakan pada penelitian Chen et al. , dengan Variabel Leverage Tingkat leverage (X5Le. , yaitu variabel kontrol yang menunjukkan perbandingan antara jumlah utang dengan jumlah aset yang dimiliki perusahaan, diukur dengan menggunakan formula sebagaimana digunakan pada penelitian Chen et al. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan yang diunduh dari websites masing-masing perusahaan yang secara resmi dipublikasi setelah diaudit oleh kantor akuntan publik. Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik yaitu regresi linear berganda, yang akan digunakan untuk menguji hipotesis. Sebelum pengujian regresi dilakukan, peneliti melakukan pengujian asumsi klasik yaitu uji normalitas data, autokorelasi, multikolinieritas dan heterokedastisitas. Model regresi tersebut akan menguji signifikansi pengaruh secara simultan melalui uji Rumus regresi linier dinyatakan sebagai rumus berikut: FD = a b1KM b2WC b3CAPEX b4CFO b5Lev e Dimana: KM: CAPEX CFO Lev = Financial Distress = Kompensasi Manajerial = Modal Kerja (Working Capita. = Pengeluaran Investasi (Capital Expenditur. = Arus Kas Operasi (Cash Flow Operatio. = Leverage ANALISIS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan sampel berupa 19 BUMN yang memperoleh dana subsidi atau Public Service Obligation (PSO) dan yang akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara atau PMN untuk data laporan keuangan yang diambil tahun 2014 Jumlah sampel yang diteliti diambil sebanyak 55 laporan keuangan dari 19 BUMN yang dipublikasikan dari tahun 2014 hingga tahun 2017, namun setelah dilakukan uji statistik klasik, terdapat data yang outlier sehingga tersisa sebanyak 43 laporan keuangan. Statistik Diskriptif Tabel 1 berikut menunjukkan statistik deskriptif dari data yang digunakan dalam penelitian ini. Statistik deskriptif yang digambarkan di Tabel 1 tersebut menunjukkan struktur data dari variable financial distress (FD), kinerja manajerial (KM), modal kerja (WC), pertumbuhan investasi (CAPEX), arus kas operasi (CFO) dan leverage. Data variable dependen financial distress mempunya distribusi data mulai nilai minimum 0,5802 sampai dengan nilai maksi- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 mum 2,6128 dengan nilai rata-rata 1,5809 dan standar penyimpangan dari nilai ratarata sebesar 0,5230. Skor maksimum financial distress sebesar 2,6128 menunjukkan bahwa semua BUMN yang menjadi sampel penelitian ini tidak satupun yang dapat diklasifikasn sebagai perusahaan sehat. Ber- dasarkan skor skor Z, perusahaan dikatakan sehat apabila nilai skor Z > 2,99 dan mempunyai potensi bangkrut jika skor Z < 1,81. Skor Z antara 1,81 sampai 2,99 diklasifikasikan sebagai perusahaan pada grey area, yaitu kurang sehat, tapi tidak berpotensi bangkrut. Tabel 1 Statistik Diskriptif Data Penelitian Range Minimum Maximum Mean Std. Deviation CAPEX CFO Lev Sumber: Output SPSS . Rata-rata skor financial distress sebesar 1,5809 menunjukkan bahwa BUMN yang menjadi sampel penelitian ini rata-rata mengalami kesulitan keuangan. Standard deviasi sebesar 0,5230 berarti fluktuasi penyimpangan dari nilai rata-rata yang relatif rendah. Selanjutnya, variabel independen Kompensasi Manajerial atau KM, mempunyai nilai minimum -0,8652 dan maksimum 2,3443. Kompensasi manajerial mengalami penurunan paling banyak sebesar 86,52% dan mengalami kenaikan yang terbesar sebanyak 234%. Rata-rata Kompensasi Manajerial mengalami kenaikan sebesar 30,57%. Kemudian variabel independen Working Capital atau WC mengalami penurunan paling banyak sebesar 10,58% dan mengalami kenaikan yang terbesar sebanyak 75,49%. Rata-rata working Capital mengalami kenaikan sebesar 20,52%. Variabel Capital Expenditure (Pengeluaran Investas. atau CAPEX mengalami penurunan paling banyak sebesar 79,65% dan mengalami kenaikan yang terbesar sebanyak 755%. Rata-rata Capital Expenditure mengalami kenaikan sebesar 74,27%. Variabel Cash Flow Operation atau CFO mengalami kenaikan paling kecil sebesar 25,4% dan mengalami kenaikan yang terbesar sebanyak 82,46%. Rata-rata Cash Flow Operation mengalami kenaikan sebesar 55,22%. Variabel Leverage atau Lev mengalami penurunan paling tinggi sebesar 59,68% dan mengalami kenaikan yang terbesar sebanyak 82,46%. Rata-rata Leverage mengalami kenaikan sebesar 308,9%. Hasil Pengujian Asumsi Klasik Sebelum melakukan uji hipotesis, peneliti menguji asumsi klasik dari data Pengujian Normalitas Data Salah satu cara yang digunakan untuk pengujian normalitas data adalah menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Tabel 2 yang menunjukkan bahwa distri- busi data adalah normal. Uji normalitas data dengan signifikansi Kolmogorov Smirnov menunjukkan hasil signifikansi 200%. Nilai ini diatas nilai batas kritis 5%, maka dapat dsimpulkan bahwa distribusi data berada dalam kondisi normal. Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas Tabel 2 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Unstandardized Residual Sumber: Output SPSS . Pengujian Autokorelasi Uji Autokorelasi untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya . Secara sederhana adalah bahwa analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Salah satu pengujian autokorelasi yang digunakan adalah model Durbin-Waston . Hasil pengujian Durbin-Waston dengan tingkat kepercayaan 95% . ingkat signifikansi 5%) dari data penelitian diperoleh: Tabel 3 Model Durbin-Watson Predictors: (Constan. LAG_YDIST. X3INV. X5CFO. X1COMP. X2WC. X4LEV Dependent Variable: YDIST Sumber: Output SPSS . Dengan K = 6. N = 43 dan d = 1,368, diperoleh nilai tabel dL=1. 2148, dU= 1. maka didapat 4-dU= 4-1,8413 = 2. 1587, 4-dL = 4-1,2148 = 2,7852, dan 4-dW = 4-1,368 = 2,632, sehingga dL . ,2. < d . < dU . ,8. atau 4-dU . ,1. < 4-dW . < 4-dL . ,7. Dari hasil perhitungan Durbin Waston tersebut menunjukkan hasil pada area yang tidak dapat diambil kesimpulan atau No Decision, namun penelti tetap melanjutkan pada uji regresi. Pengujian Multikolinieritas Uji Multikolinearitas adalah untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel- variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Uji statistik yang sering dipergunakan untuk menguji gangguan multikolinieritas adalah dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF), selain itu juga dengan korelasi pearson antara variabel-variabel bebas. Multikolinieritas dapat diuji dengan menghitung korelasi berpasangan antar variabel bebas. Jika korelasi antar variabel bebas nilai toleransi lebih kecil dari < 0,10 atau VIF > 10 menunjukkan adanya multikolinieritas. Hasil pengujian multikolinieritas dengan menghitung korelasi Pearson berpasangan antar variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 4 berikut. Nilai Tolerance dari Uji Multikolinieritas menunjukkan nilai Tolerance > 0,10 untuk semua variabel inde- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 penden, sedangkan nilai variance inflation factor (VIF) menunjukkan nilai < 10 dimana semua variabel independen menunjukkan nilai VIF < 10, sehingga hasil uji Multi- kolinieritas menunjukkan tidak adanya multikolinieritas pada masing masing variabel independen. Tabel 4 Pengujian Multikolinieritas dengan nilai Tolerance dan VIF Konstan CAPEX CFO Lev Unstandardized Coeff Std. Err Koefisien Standardized Coeff Beta Sig Collinearity Statistic Tolerance VIF Sumber: Output SPSS . Pengujian Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas. Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED . ilai prediks. dengan SRESID . ilai residualny. Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White. Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas. Uji statistik yang dipergunakan untuk menguji gangguan Heteroskedastisitas ada- lah dengan uji Glejser pada variabel independentnya. Uji Glejser Uji Glejser dilakukan dengan cara meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan absolut residual lebih dari 0,05 maka tidak terjadi masalah Hasil pengujian Heteroskedastisitas dengan metode uji Glejser dapat dilihat pada Tabel 5. Dari output dapat diketahui bahwa nilai signifikansi semua variabel independen adalah lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi yang akan dianalisis. Analisis Data dan Pembahasan Peneliti menggunakan SPSS untuk melakukan pengujian hipotesis. Hasil analisis data adalah sebagai berikut pada Tabel 6. Berdasarkan hasil uji F, diperoleh tingkat signifikansi model regresi sebesar 0,00. Artinya secara bersama-sama variabel dalam penelitian ini membentuk model linier berganda dengan variabel dependen Financial Distress. Semua variable independent yaitu Kompensasi Manajerial. Working Capital. Capital Expenditure. Cash Flow Operation dan Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas Leverage secara bersama-sama mempengaruhi variable Financial Distress. Pengaruh dan signifikansi masing-masing variable secara parsial ditunjukkan dengan Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7, maka pengujian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut. Tabel 5 Pengujian Heteroskedastisitas dengan Uji Glesjer Konstan CAPEX CFO Lev Unstandardized Coeff Std. Err Koefisien Standardized Coeff Beta Sig Sumber: Output SPSS . Tabel 6 Hasil Uji F (ANOVA) Model Sum of Squares df Mean Square Regression Residual Total Dependent Variable: FD Predictors: (Constan. KM,WC,CAPEX. CFO,Lev Sig. Sumber: Output SPSS . Tabel 7 Hasil Uji t Konstan CAPEX CFO Lev Koefisien Unstandardized Standardized Coeff Coeff Std. Err Beta Sig Sumber: Output SPSS . Pengujian Hipotesis Pengujian Hipotesis untuk Variabel Independen Kompensasi Manajerial Uji regersi dengan variabel dependen Financial Distress dan variabel independen Kompensasi Manajerial, menunjukkan ting- kat signifikansi yang lebih besar dari 5%, yaitu sebesar 0,812 atau 81,2%, artinya bahwa Variabel Kompensasi Manajemen secara partial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress. Jadi hipotesa 1 yang menyatakan bahwa Kom- Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 pensasi Manajerial (KM) berpengaruh langsung terhadap financial distress BUMN (Y) yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah ditolak. Hal ini juga didukung oleh penilitian terdahulu terkait pengaruh Variabel Kompensasi Manajerial terhadap Financial Distress, penelitian Butar Butar . menunjukkan bahwa kompensasi eksekutif tidak berpengaruh pada resiko kebangkrutan perusahaan manufaktur yang ada di BEI. Pada perusahaan di Indonesia kenaikan dan penurunan atau besar kecilnya Kompensasi Manajerial sangat dipengaruhi dari tingkat profitablitas perusahaan, bila tingkat profitabilitanya menurun maka Kompensasi Manajerial akan ikut menyesuaikan kondisinya, sehingga tidak mempengaruhi terjadinya tingkat kebangkrutan perusahaan. Kenaikan atau perubahan kompensasi bagi manajer terbukti tidak mempengaruhi financial distress, bila dilihat dari sisi tingkat kebutuhan bagi manajer, pencapaian posisi menjadi seorang manajer merupakan pencapaian pada tingkat kebutuhan tertentu, semakin tinggi seseorang menduduki jabatan, baginya merupakan kebanggaan dalam pencapaian daripada nilai uang tersebut (Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslo. Pengujian Hipotesis untuk Variabel Independen Working Capital (Modal Kerj. Uji regresi dengan variabel independen Working Capital terhadap variabel dependen Financial Distress, menunjukkan signifikansi secara statistik pada tingkat 5%, dimana Variabel Modal kerja memiliki derajat pengaruh secara partial dengan tingkat signifikansi yang rendah, yaitu sebesar 0,004 atau 0,4%, artinya bahwaVariabel Modal kerja secara partial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress. Jadi hipotesis 2 yang menyatakan Working Capital (WC) berpengaruh langsung terhadap financial distress BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah adalah diterima. Hal ini juga didukung oleh beberapa penilitian terdahu- lu terkait pengaruh Variabel Modal kerja terhadap Financial Distress, penelitian Vira Eneng Asia (Universitas Djuanda Bogor, 2. menunjukkan bahwa Modal kerja memiliki pengaruh signifikan pada resiko prediksi kebangkrutan pada perusahaan industri makanan yang ada di BEI tahun 2009-2011 dan penelitian Vina Novi Arsita dan Rivai Abdullah (Perbanas, 2. mengukur tingkat signifikansi Modal kerja yang memiliki pengaruh signifikan terhadap potensi kebangkrutan Bank Umum Swasta Nasional Devisa di BEI 2014-2017. Net modal kerja menurut konsep kualitatif adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, bilamana terdapat kekurangan dalam pemenuhan aktiva lancar, maka akan mengganggu perputaran operasional perusahaan sehingga timbul permasalahan finansialnya. Pengujian Hipotesis untuk Variabel Independen Capital Expenditure (Pertumbuhan Investas. Uji regresi dengancmenggunakan variabel independen Pertumbuhan Investasi dan variabel dependen Financial Distress, menunjukkan signifikansi secara statistik pada tingkat 5%, maka variabel Perumbuhan Investasi menunjukkan pengaruh signifikansi secara partial pada tingkat 0,472 atau 47,2% diatas level signifikansi 5%, artinya bahwa Variabel Pertumbuhan Investasi secara partial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress. Jadi hipotesis 3 yang menyatakan Pertumbuhan Investasi (PI) berpengaruh langsung terhadap financial distress BUMN (Y) yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah adalah ditolak. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Alfi Rista Nora . yang menganalisa ukuran perusahaan, yang merupakan jumlah aset yang dimiliki, tidak memiliki pengaruh terhadap Financial Distress. Perusahaan dalam melakukan investasi atau melakukan pengeluaran modal tentunya Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas akan melihat kondisi laba ditahan, apabila kondisi laba ditahan tinggi, maka perusahaan dapat melakukan investasi penambahan aset, namun bila terjadi kerugian atau penurunan laba ditahan, maka pengeluaran untuk investasi tidak akan dilakukan, sehingga dapat mengurangi resiko Financial Distress. Pengujian Hipotesis untuk Variabel Independen Cash Flow Operation Uji regersi dengan variabel dependen Financial Distress dan variabel independen Cash Flow Operations, tidak menunjukkan signifikansi secara statistik pada tingkat 5%, bahwa Variabel Cash Flow Operations memiliki derajat pengaruh secara partial dengan tingkat signifikansi yang tinggi yaitu sebesar 0,800 atau 80%, artinya bahwa Variabel Cash Flow Operations secara partial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress. Jadi pada hipotesa 5 yang menyatakan Cash Flow Operation berpengaruh langsung terhadap financial distress BUMN (Y) yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah Terhadap Financial Distress adalah ditolak. Hal ini sejalan dengan penelitian Bagus . , penelitian Puji Astuti dan Sugeng Pamudji . yang mengungkapkan bahwa Arus Kas Operasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Financial Distress dan penelitian Verani, et al. mengungkapkan bahwa Arus Kas Operasi tidak berpengaruh terhadap Financial Distress. Sesuai teori sinyal yang digunakan untuk memberikan sinyal positif maupun negatif kepada pegguna laporan keuangan salah satunya kreditor. Jumlah arus kas operasi yang baik menunjukkan bahwa perusahaan telah menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar deviden dan melakukan investasi baru tanpa bantuan sumber pendanaan dari luar, sehingga kreditor akan menerima sinyal positif tersebut yang menunjukkan bahwa perusahaan tidak berpontensi mengalami finan cial distress. Pengujian Hipotesis untuk Variabel Independen Leverage Pada uji regresi menggunakan variabel independen Leverage terhadap variabel dependen Financial Distress, menunjukkan signifikansi secara statistik pada tingkat 5%, maka variabel Leverage menunjukkan pengaruh signifikansi secara partial pada tingkat rendah, yaitu 0,003 atau 0,3% dibawah level signifikansi 5%, artinya bahwa Variabel Leverage secara partial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress. Jadi pada hipotesa 4 yang menyatakan Leverage (Le. berpengaruh langsung terhadap financial distress BUMN (Y) yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah adalah diterima. Sedangkan Leverage merupakan tingkat solvabilitas perusahaan tidak mempengaruhi terhadap financial distress. Penelitian Mesisti Utami . dan Roro Joffani et al. yang meneliti mengenai pengaruh leverage pada financial distress, menjelaskan bahwa variabel leverage berpengaruh signifikan terjadinya financial distress, hasil pengukuran leverage yang tinggi menunjukkan semakin banyaknya pendanaan dengan utang, semakin besar kegiatan perusahaan yang dibiayai oleh utang semakin besar pula kemungkinan terjadinya kondisi financial distress, akibat semakin besar kewajiban perusahaan untuk membayar utang tersebut. Koefisien Determinasi Hasil penghitungan terhadap nilai koefisien determinasi atau R2 diperoleh angka sebesar 0,614. Artinya variasi perubahan Variabel Financial Distress dapat dijelaskan oleh semua variabel independent (Kompensasi Manajerial. Modal kerja. Pertumbuhan Investasi. Leverage, dan Cash Flow Operatio. pada tingkat 61,4%, sisanya 38,6% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam model. Kemampuan menjelaskan variabel independen yang dimasukkan dalam model atas perubahan Financial Distress, lebih besar dari variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Ae Volume 3. Nomor 2. Juni 2019: 226 Ae 243 Tabel 8 Koefisien Determinasi Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. KM. WC. CAPEX. CFO. Lev Sumber: Output SPSS . SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis pengaruh kompensasi manajerial, modal kerja, pertumbuhan investasi, dan cash flow operation secara parsial dan bersama-sama terhadap financial distress pada perusahaan BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah tahun 2014-2017. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, peneliti dapat membuat beberapa kesimpulan. Pertama, variabel kompensasi manajerial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financial Distress di BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah tahun 20142017. Temuan ini menunjukkan bahwa kompensasi yang diterima oleh direksi baik itu gaji, tunjangan maupun bonus di BUMN tidak memperhitungkan kinerja keuangan Kedua, variable modal kerja mempunyai pengaruh positif terhadap Financial Distress. Di BUMN modal kerja sebagian diperoleh dari subsidi pemerintah. Semakin tinggi modal kerja menunjukkan subsidi yang semakin tinggi dan itu menandakan BUMN secara keuangan semakin tinggi kesulitan keuangannya. Ketiga, pertumbuhan investasi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap financial BUMN merupakan perusahaan yang menerima penugasan dari pemerintah untuk memberikan pelayanan public. Rencana investasinya didasarkan pada kebutuhan masyarakat dan bukan pada kondisi keuangan dan peluang investasi. Keempat, arus kas operasi tidak memiliki pengaruh terhadap financial distress. Di BUMN yang menerima subsidi pemerintah, arus kas operasi ditutupi oleh subsidi. Oleh karena itu arus kas operasi tidak mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kesulitan keuangan. Kelima. Leverage memiliki pengaruh terhadap Financial Distress pada perusahaan BUMN yang menerima dana subsidi dan tambahan modal pemerintah. BUMN yang memiliki hutang besar harus membayar bunga dalam jumlah besar, sehingga ini mempengaruhi kondisi keuangannya. Saran Berdasarkan simpulan tersebut, ma- ka penulis memberikan saran bagi manajemen dan pemerintah sebagai pemegang Manajemen perusahaan dapat mengantisipasi kondisi financial distress dengan mengontrol rasio likuiditas dan leverage perusahaan seperti dengan pengukuran debt Salah satu caranya dengan menghindari pengadaan aset yang di danai oleh Pemerintah sebagai pemegang saham, sebaiknya selalu melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan BUMN yang masih disubsidi dan yang masih dilakukan penyertaan modal, ketergantungan terhadap dana dari pemerintah dapat membuat perusahaan BUMN tersebut kurang bersaing dalam meningkatkan laba perusahaan dan cenderung berada dalam kondisi financial distress. Keterbatasan penelitian Penelitian ini menggunakan sampel yang terbatas yaitu BUMN yang menerima subsidi pemerintah atau penyertaan modal. Penelitian selanjutnya dapat memperluas sampel dengan memasukkan BUMN yang tidak menerima subsidi maupun penyertaan modal pemerintah serta melakukan uji Financial Distress Di BUMN Indonesia. Ae Gunawan. Assagaf. Sayidah. Mulyaningtyas beda untuk kedua kelompok sampel. Peneliti tidak memasukkan jumlah subsidi sebagai variabel independent. Penelitian selanjutnya dapat menggunanakan variabel subsidi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap financial distress. DAFTAR PUSTAKA