Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Students' Understanding of Integrated Social Studies (IPAS) through Collaborative Learning at MI NW Tanak Mira Abidah1. Marianah2 1 MI NW Tanak Mira 2 MI MT Obel-Obel Correspondence: abyidah204@gmil. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Integrated Social Studies, collaborative learning, student engagement. MI NW Tanak Mira. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of Integrated Social Studies (IPAS) at MI NW Tanak Mira through collaborative learning strategies. The primary goal is to explore how cooperative activities, such as group discussions, project-based tasks, and peer teaching, can enhance students' comprehension and engagement with IPAS concepts, including geography, history, and culture. The study was conducted over two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection stages. In each cycle, students worked together in groups to solve problems, analyze social issues, and present their Data were collected through classroom observations, assessments, and student reflections. The findings indicate that collaborative learning significantly improved students' ability to understand and apply IPAS concepts, as it fostered active participation, critical thinking, and better communication skills. Students showed increased motivation and enthusiasm for the subject, demonstrating a deeper understanding of social This research suggests that implementing collaborative learning can create a more interactive and engaging learning environment, leading to improved academic performance in IPAS. It is recommended that MI NW Tanak Mira continue to adopt and refine these strategies to further enhance students' academic skills and social awareness. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang Integrated Social Studies (IPAS), memiliki tantangan besar dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap berbagai konsep sosial yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Mata pelajaran IPAS yang mencakup berbagai topik seperti geografi, sejarah, ekonomi, dan budaya, bertujuan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan alam. Namun, banyak siswa yang masih kesulitan dalam mengaitkan teori yang diajarkan dengan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari, sehingga pemahaman mereka terhadap konsep-konsep tersebut terbatas (Sutrisno, 2. Pembelajaran yang lebih menarik dan relevan diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Di MI NW Tanak Mira, pengajaran IPAS masih banyak menggunakan pendekatan tradisional, di mana siswa lebih sering mendengarkan ceramah dari guru dan menghafal informasi. Metode ini cenderung pasif dan tidak cukup memberi ruang bagi siswa untuk berpikir kritis atau mengembangkan pemahaman mendalam tentang materi. Penelitian oleh Kurniawan . menunjukkan bahwa penggunaan metode ceramah secara terus-menerus tidak dapat mendorong pemahaman yang lebih baik tentang topik-topik sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih interaktif agar siswa dapat lebih aktif dalam proses belajar dan mengaitkan materi dengan kehidupan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini adalah pembelajaran berbasis kolaborasi. Pembelajaran kolaboratif, yang melibatkan diskusi kelompok, proyek bersama, dan pemecahan masalah berbasis konteks, dapat membantu siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa akan lebih mudah memahami berbagai perspektif dan mengembangkan kemampuan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Rahmawati . , yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Selain itu, pembelajaran kolaboratif juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada. Ketika siswa bekerja dalam kelompok untuk menganalisis masalah sosial atau membahas isu-isu sosial, mereka tidak hanya belajar untuk memahami konsep-konsep IPAS, tetapi juga untuk menerapkannya dalam konteks kehidupan Penelitian oleh Silalahi et al. mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa, yang sangat diperlukan untuk memahami topik-topik yang lebih kompleks dalam mata pelajaran IPAS. Pembelajaran berbasis kolaborasi dapat diterapkan dalam berbagai bentuk, mulai dari diskusi kelompok kecil, proyek bersama, hingga simulasi atau role-playing. Dalam setiap bentuk tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka, mendengarkan pandangan teman sekelas, dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan IPAS. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan pemahaman yang lebih dalam tentang materi yang diajarkan (Sari & Nofriadi, 2. Hal ini sangat penting untuk membantu siswa melihat relevansi materi dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, tantangan utama dalam menerapkan pembelajaran berbasis kolaborasi adalah kesiapan guru dalam mengelola kelas dan memfasilitasi diskusi yang produktif. Guru harus mampu menciptakan suasana yang mendukung keterlibatan aktif semua siswa, terutama bagi siswa yang cenderung lebih pasif atau tidak percaya diri. Dalam hal ini, peran guru sebagai fasilitator sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi dalam diskusi kelompok. Hal ini didukung oleh penelitian oleh Desmirasari & Oktavia . , yang menunjukkan bahwa pengelolaan kelas yang baik dapat memperkuat hasil pembelajaran berbasis kolaborasi. Selain itu, penggunaan teknologi pendidikan juga dapat mendukung pembelajaran kolaboratif yang lebih interaktif. Platform online dan aplikasi pendidikan dapat digunakan untuk memfasilitasi diskusi, berbagi informasi, atau mengerjakan proyek secara daring. Hal ini tidak hanya memudahkan komunikasi antar siswa, tetapi juga memperkenalkan mereka pada alatalat teknologi yang berguna dalam dunia nyata. Penelitian oleh Putra & Hidayat . menyatakan bahwa teknologi dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Namun, meskipun teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung pembelajaran kolaboratif, keterbatasan sumber daya di beberapa sekolah, termasuk MI NW Tanak Mira, sering kali menjadi hambatan dalam penerapannya. Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap perangkat teknologi yang dibutuhkan untuk pembelajaran berbasis teknologi. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang ada di sekolah. Hal ini sesuai dengan temuan yang diungkapkan oleh Purwanto . , yang menekankan perlunya penyesuaian penggunaan teknologi dengan kondisi di lapangan. Selain itu, keberagaman gaya belajar siswa juga perlu diperhatikan dalam penerapan pembelajaran kolaboratif. Setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda, dan pendekatan yang digunakan harus dapat mengakomodasi perbedaan tersebut. Dalam hal ini, pembelajaran yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa akan lebih efektif Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi IPAS. Sutrisno . menyatakan bahwa keberagaman gaya belajar siswa dapat diakomodasi dengan menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran yang bervariasi. Pembelajaran IPAS yang berbasis kolaborasi juga dapat memperkenalkan siswa pada penilaian berbasis proyek. Dalam penilaian berbasis proyek, siswa tidak hanya diuji dengan tes tertulis, tetapi juga melalui presentasi proyek, laporan, atau karya lainnya yang dihasilkan selama Penilaian berbasis proyek ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi dalam konteks yang lebih praktis dan nyata. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dan memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang lebih beragam, seperti keterampilan berbicara, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah (Silalahi et al. , 2. Namun, penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi dalam IPAS juga harus memperhatikan keseimbangan antara kerja individu dan kerja kelompok. Setiap siswa tetap perlu memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mereka secara mandiri, terutama dalam memahami konsep dasar yang penting dalam IPAS. Oleh karena itu, pembelajaran kolaboratif harus tetap disertai dengan evaluasi yang memberikan perhatian pada perkembangan individu Penelitian oleh Mubarok . menunjukkan bahwa kombinasi antara kerja kelompok dan tugas individu dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis kolaborasi memberikan banyak keuntungan dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang relevan dengan kehidupan nyata mereka, mereka dapat lebih mudah mengaitkan konsep-konsep sosial dengan pengalaman yang mereka miliki. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan di MI NW Tanak Mira. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk terus mengembangkan metode ini di sekolah-sekolah lain, guna meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di tingkat dasar (Sutrisno, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Integrated Social Studies (IPAS) di MI NW Tanak Mira melalui pembelajaran berbasis kolaborasi. Pendekatan PTK dipilih karena memberikan kesempatan untuk merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan merefleksikan setiap tindakan pembelajaran dalam siklus yang dapat diperbaiki secara bertahap. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Siklus ini memungkinkan peneliti untuk menilai keberhasilan setiap tindakan yang diterapkan dan melakukan perbaikan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil observasi (Sutrisno, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang pembelajaran yang melibatkan siswa dalam aktivitas kolaboratif seperti diskusi kelompok, proyek bersama, dan pemecahan masalah berbasis kasus yang relevan dengan materi IPAS. Peneliti menyiapkan instrumen yang digunakan untuk mengamati keterlibatan siswa, seperti lembar observasi, serta instrumen penilaian yang digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa terhadap konsepkonsep yang diajarkan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif dan mendorong siswa untuk berperan aktif dalam memahami materi yang disampaikan (Desmirasari & Oktavia, 2. Pada tahap pelaksanaan, peneliti melaksanakan pembelajaran dengan metode kolaboratif yang melibatkan siswa secara langsung. Siswa dibagi dalam kelompok kecil dan diberi tugas yang berkaitan dengan topik IPAS, seperti mendiskusikan isu-isu sosial atau memecahkan masalah yang melibatkan geografi, sejarah, atau budaya. Selama kegiatan, peneliti bertindak sebagai Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 fasilitator, membimbing siswa untuk tetap fokus dan memberikan umpan balik yang konstruktif ketika diperlukan. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan membantu mereka mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari (Sari & Nofriadi, 2. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran untuk menilai sejauh mana siswa terlibat dalam aktivitas kolaboratif. Peneliti mengamati interaksi antara siswa dalam kelompok, bagaimana mereka menyelesaikan tugas, serta bagaimana mereka mengaplikasikan konsepkonsep IPAS dalam diskusi mereka. Selain observasi, data juga dikumpulkan melalui penilaian yang diberikan setelah setiap aktivitas, seperti kuis atau tugas tertulis, yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Data yang terkumpul ini memberikan gambaran tentang efektivitas penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap IPAS (Hendika & Musyadad, 2. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis hasil observasi dan penilaian untuk menilai keefektifan pembelajaran berbasis kolaborasi. Peneliti melakukan evaluasi terhadap kekuatan dan kelemahan dari metode yang diterapkan, serta merencanakan perbaikan untuk siklus Jika ditemukan bahwa beberapa siswa masih kesulitan dalam memahami materi atau berkolaborasi dengan teman sekelas, peneliti akan mengubah strategi atau aktivitas untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman mereka. Refleksi ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar dapat lebih efektif dan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik (Putra & Hidayat, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi dalam mata pelajaran Integrated Social Studies (IPAS) di MI NW Tanak Mira menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang kesulitan dalam memahami hubungan antara berbagai konsep IPAS, seperti geografi, sejarah, dan budaya. Mereka cenderung belajar secara terpisah dan tidak dapat menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Namun, setelah menggunakan metode pembelajaran kolaboratif, siswa mulai dapat melihat hubungan antara konsep-konsep tersebut secara lebih jelas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang menggabungkan diskusi dan kerja sama antar siswa dapat membantu mereka memahami materi dengan lebih baik (Sutrisno, 2. Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah meningkatnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sebelum menggunakan metode kolaboratif, banyak siswa yang pasif dan hanya mengikuti pembelajaran tanpa memberikan kontribusi yang berarti. Namun, dengan pembelajaran berbasis kolaborasi, siswa lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok, berbagi ide, dan memberikan pendapat. Hal ini meningkatkan motivasi mereka untuk belajar dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Kurniawan . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Peningkatan pemahaman siswa terhadap materi IPAS juga terlihat dari hasil tes dan evaluasi yang lebih baik. Setelah menerapkan pembelajaran berbasis kolaborasi, siswa menunjukkan peningkatan dalam menghubungkan berbagai konsep IPAS dan menjelaskan hubungan antara sejarah, budaya, dan geografi dalam kehidupan mereka. Misalnya, dalam diskusi kelompok mengenai perubahan sosial, siswa dapat mengidentifikasi peran penting sejarah dalam membentuk budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Penelitian oleh Putra & Hidayat . juga mendukung temuan ini, di mana pembelajaran berbasis kolaborasi dapat memperdalam pemahaman siswa terhadap topik yang kompleks. Selain itu, pembelajaran berbasis kolaborasi meningkatkan keterampilan sosial siswa, terutama dalam hal komunikasi dan kerjasama. Dalam setiap sesi pembelajaran, siswa bekerja dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kelompok kecil dan terlibat dalam diskusi untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan topik IPAS. Hal ini membantu siswa untuk belajar bagaimana mendengarkan pendapat orang lain, mengungkapkan ide mereka dengan jelas, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Silalahi et al. , yang menunjukkan bahwa kolaborasi dalam pembelajaran membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial yang penting. Penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi juga berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam kegiatan diskusi kelompok, siswa didorong untuk mengkritisi dan menganalisis isu-isu sosial yang mereka hadapi. Mereka tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga belajar untuk mengajukan pertanyaan kritis, memecahkan masalah, dan merumuskan solusi berdasarkan pemahaman mereka. Hal ini meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir secara logis dan sistematis, yang merupakan keterampilan penting dalam pembelajaran IPAS. Penelitian oleh Rahmawati . juga menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang mendorong berpikir kritis dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam analisis sosial. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berbicara mereka. Sebelumnya, banyak siswa yang canggung dan kurang percaya diri ketika diminta untuk berbicara di depan Namun, setelah terlibat dalam diskusi kelompok dan presentasi, mereka mulai lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat mereka. Siswa belajar untuk berbicara dengan jelas dan terstruktur, serta dapat menjelaskan ide dan solusi mereka kepada teman-teman Penelitian oleh Sari & Nofriadi . mendukung temuan ini, yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa melalui latihan berbicara yang sering dan terstruktur. Meski demikian, ada tantangan dalam hal pengelolaan waktu selama penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi. Karena pembelajaran ini melibatkan diskusi dan kerja kelompok, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas menjadi lebih lama. Siswa juga membutuhkan waktu lebih untuk berbagi pendapat dan mendiskusikan solusi. Oleh karena itu, pengelolaan waktu yang efektif sangat diperlukan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran. Penelitian oleh Mubarok . menyebutkan bahwa waktu yang terbatas dapat menjadi kendala dalam pembelajaran berbasis kolaborasi, sehingga guru perlu merencanakan kegiatan dengan lebih efisien. Pengelolaan kelas juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran berbasis Guru perlu mampu mengatur dinamika kelas dengan baik, agar semua siswa dapat berpartisipasi secara aktif. Guru harus mengawasi diskusi kelompok, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Penelitian oleh Hendika & Musyadad . menunjukkan bahwa pengelolaan kelas yang baik dapat meningkatkan hasil pembelajaran, terutama dalam pembelajaran berbasis kelompok. Selain itu, meskipun pembelajaran berbasis kolaborasi memberikan dampak positif terhadap pemahaman siswa, ada siswa yang masih kesulitan mengikuti proses diskusi atau bekerja dalam Beberapa siswa lebih memilih bekerja sendiri atau tidak berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih personal mungkin diperlukan untuk mengatasi perbedaan individual dalam kelas. Sutrisno . menyarankan bahwa untuk mengakomodasi keberagaman siswa, guru perlu memberikan perhatian khusus kepada siswa yang kesulitan dalam bekerja dalam kelompok. Teknologi juga memainkan peran penting dalam mendukung pembelajaran berbasis Penggunaan platform digital untuk berdiskusi, berbagi ide, atau menyelesaikan tugas secara daring dapat meningkatkan keterlibatan siswa. Aplikasi atau platform pembelajaran online dapat memungkinkan siswa untuk berkolaborasi meskipun berada di luar Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Silalahi et al. , yang menunjukkan bahwa teknologi pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis kolaborasi. Secara keseluruhan, penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi di MI NW Tanak Mira berhasil meningkatkan keterampilan siswa dalam memahami materi IPAS. Pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sosial, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Penerapan metode ini terbukti efektif dalam membuat pembelajaran IPAS lebih menarik dan relevan bagi siswa, serta memperkuat keterampilan sosial mereka. Penelitian ini mendukung pentingnya menerapkan pembelajaran berbasis kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah dasar. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi dalam mata pelajaran Integrated Social Studies (IPAS) di MI NW Tanak Mira efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPAS, seperti geografi, sejarah, dan budaya, tetapi juga memperkuat keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi siswa. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi kelompok dan proyek bersama, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan relevan bagi kehidupan mereka. Penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi juga berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran, namun setelah menggunakan metode kolaboratif, siswa lebih aktif berpartisipasi, berbagi ide, dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas. Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa kolaborasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Selain itu, meskipun metode ini memberikan banyak manfaat, terdapat tantangan dalam hal pengelolaan waktu dan keberagaman gaya belajar siswa. Beberapa siswa membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi atau kesulitan dalam bekerja dalam kelompok. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperhatikan kebutuhan individu siswa dan mengelola waktu dengan efektif agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis kolaborasi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap IPAS di MI NW Tanak Mira. Oleh karena itu, metode ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain, guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterampilan sosial siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES