JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 607-614 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah STRATEGI GURU DALAM MENGEMBANGKAN SELFREGULATION EMOSIONAL SISWA DI MADRASAH IBTIDAIYAH NURUL ITTIHAD KOTA JAMBI Syasqi Fadwina1. Sri Yulia2. Paujan Azim3 1,2,3 Universitas Islam Negri Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Indonesia Email: syasqifadwina1616@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Teacher Strategy Emotional Self-Regulation Emotional Intelligence Elementary School Character Education ABSTRAK Developing emotional self-regulation skills in elementary school students is a crucial aspect in shaping their character, discipline, and social skills. However, in practice, students still experience difficulties in controlling their emotions, such as irritability, difficulty controlling themselves, and a lack of ability to respond appropriately to This situation demonstrates the importance of teachers' roles and strategies in guiding students' emotional development. This study aims to analyze teachers' strategies in developing students' emotional self-regulation at Nurul Ittihad Elementary Madrasah in Jambi City. This study used a qualitative approach with a case study method. The research subjects consisted of fourth-grade teachers, students, and the madrasah principal. Data collection was conducted through observation, indepth interviews, and documentation. Data were analyzed using interactive analysis techniques that include data reduction, data presentation, and drawing conclusions by ensuring data validity through triangulation of sources and techniques. The results of the study indicate that teachers' strategies in developing students' emotional selfregulation are implemented through several main approaches, namely teacher role models in controlling emotions, habituating positive behavior in learning activities, providing motivation and positive reinforcement, and integrating religious values into madrasah activities. ABSTRAK Pengembangan kemampuan self-regulation emosional pada siswa sekolah dasar menjadi aspek penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan sosial peserta Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi seperti mudah marah, sulit menahan diri, serta kurang mampu merespons situasi secara tepat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran dan strategi guru dalam membimbing perkembangan emosional siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam mengembangkan self-regulation emosional siswa di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari guru kelas IV, siswa, dan kepala madrasah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan memastikan keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengembangkan self-regulation emosional siswa dilakukan melalui beberapa pendekatan utama, yaitu keteladanan guru dalam pengendalian emosi, pembiasaan perilaku positif dalam kegiatan pembelajaran, pemberian motivasi dan penguatan positif, serta integrasi nilai-nilai religius dalam aktivitas madrasah. Kata kunci: Strategi Guru. Self-Regulation Emosional. Kecerdasan Emosional. Madrasah Ibtidaiyah. Pendidikan Karakter. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Strategi Guru Dalam Mengembangkan Self-Regulation Emosional Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi PENDAHULUAN Pendidikan pada dasarnya tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kognitif peserta didik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter dan perkembangan emosional siswa. Dalam konteks pendidikan dasar, perkembangan emosional merupakan aspek penting karena pada tahap ini anak sedang mengalami proses pembentukan kemampuan memahami, mengelola, serta mengekspresikan emosi secara tepat dalam interaksi sosial. Kemampuan tersebut dikenal sebagai self-regulation atau regulasi emosi, yaitu kemampuan individu untuk mengelola dan mengendalikan emosi sehingga dapat berperilaku secara adaptif dalam berbagai situasi (Gross, 2. Kemampuan regulasi emosi terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan akademik, hubungan sosial, serta perkembangan kepribadian peserta didik di masa depan (McClelland et al. , 2. Dalam lingkungan sekolah, guru memiliki peran strategis dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan regulasi emosional. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu siswa memahami dan mengelola emosi mereka secara konstruktif. Interaksi antara guru dan siswa di kelas memberikan peluang besar bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai pengendalian diri, empati, serta sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari (Schonert-Reichl. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru memiliki kontribusi penting dalam membentuk kecerdasan emosional siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis socialemotional learning (SEL) mampu meningkatkan kemampuan regulasi emosi, keterampilan sosial, serta sikap empati pada peserta didik. Program pembelajaran yang mengintegrasikan aspek sosial dan emosional terbukti memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter dan perilaku siswa di sekolah (Durlak et al. , 2. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa dukungan guru, lingkungan kelas yang positif, serta pembiasaan nilainilai karakter dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan pengendalian emosi dan perilaku secara lebih efektif (Jones et al. , 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, pengendalian emosi merupakan bagian penting dari pembentukan akhlak dan karakter manusia. Pendidikan Islam menekankan pentingnya nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membentuk kepribadian peserta didik yang seimbang antara aspek intelektual, spiritual, dan emosional (Halstead, 2. Oleh karena itu, lembaga pendidikan seperti madrasah memiliki potensi besar dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa melalui integrasi nilai-nilai religius dalam proses pembelajaran. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji pengembangan kecerdasan emosional siswa di sekolah dasar. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Wibowo . menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan melalui pembiasaan positif di kelas dapat meningkatkan kemampuan pengendalian emosi siswa. Penelitian lain yang dilakukan oleh Nurhayati . juga menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan emosional siswa melalui pendekatan pembelajaran yang humanis dan reflektif. Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada pengembangan kecerdasan emosional secara umum dan belum secara spesifik mengkaji strategi guru dalam mengembangkan kemampuan self-regulation emosional siswa pada konteks madrasah ibtidaiyah. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan kemampuan regulasi emosional siswa merupakan aspek penting dalam proses pendidikan, khususnya Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Strategi Guru Dalam Mengembangkan Self-Regulation Emosional Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi pada jenjang sekolah dasar. Akan tetapi, kajian yang secara khusus membahas peran dan strategi guru dalam mengembangkan self-regulation emosional siswa pada konteks madrasah ibtidaiyah masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran guru dalam pengembangan kecerdasan emosional siswa kelas IV di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan kajian pendidikan, khususnya dalam bidang pendidikan karakter dan pendidikan sosial-emosional di lingkungan madrasah, serta menjadi referensi bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam membentuk karakter dan pengendalian emosi siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam melalui perspektif informan dalam konteks alamiah yang terjadi di lingkungan pendidikan (Creswell & Creswell, 2. Metode studi kasus memungkinkan peneliti untuk mengkaji suatu fenomena secara komprehensif dan mendalam dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara jelas (Yin, 2. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi. Subjek penelitian terdiri dari guru kelas IV, kepala madrasah, dan siswa kelas IV yang terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pemilihan informan yang didasarkan pada pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian sehingga informan yang dipilih dianggap mampu memberikan informasi yang relevan dengan fokus penelitian (Etikan & Bala, 2. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari informan melalui kegiatan observasi dan wawancara mendalam, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen sekolah, perangkat pembelajaran, serta literatur yang relevan dengan penelitian (Miles et al. , 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung aktivitas pembelajaran serta interaksi antara guru dan siswa dalam mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Wawancara mendalam dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih komprehensif mengenai strategi guru dalam membimbing perkembangan emosional siswa. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui berbagai dokumen yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran dan program pembinaan karakter di madrasah. Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sebagai human instrument yang berperan secara langsung dalam proses pengumpulan dan analisis data (Creswell & Creswell, 2. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan instrumen pendukung seperti pedoman wawancara, lembar observasi, serta catatan lapangan untuk membantu proses pengumpulan data secara sistematis dan terarah. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya yang meliputi tiga tahapan utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan memfokuskan data yang diperoleh dari lapangan agar sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk narasi deskriptif sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan interpretasi data. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara berkelanjutan selama proses Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Strategi Guru Dalam Mengembangkan Self-Regulation Emosional Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi penelitian berlangsung. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai informan seperti guru, siswa, dan kepala madrasah. Sementara triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga validitas data penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Denzin, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi, ditemukan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan self-regulation emosional siswa. Kemampuan regulasi emosi pada siswa tidak berkembang secara otomatis, tetapi dipengaruhi oleh proses interaksi sosial dan lingkungan belajar yang dibangun oleh guru di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengembangkan regulasi emosional siswa dilakukan melalui beberapa pendekatan utama, yaitu keteladanan guru dalam mengelola emosi, pembiasaan perilaku positif dalam kegiatan pembelajaran, pemberian motivasi dan penguatan positif kepada siswa, serta integrasi nilai-nilai religius dalam proses Pertama, keteladanan guru dalam pengelolaan emosi menjadi strategi utama dalam membentuk kemampuan regulasi emosional siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru berusaha menunjukkan sikap sabar, tenang, dan mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi perilaku siswa yang beragam. Sikap tersebut secara tidak langsung memberikan contoh kepada siswa mengenai cara merespons situasi yang memicu emosi negatif secara lebih konstruktif. Dalam beberapa situasi kelas, guru juga memberikan arahan kepada siswa tentang pentingnya mengendalikan kemarahan dan menyelesaikan konflik secara damai. Kedua, guru menerapkan pembiasaan perilaku positif melalui berbagai kegiatan pembelajaran di kelas. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui kegiatan refleksi sebelum pembelajaran dimulai, kegiatan diskusi kelompok yang menekankan sikap saling menghargai, serta pembiasaan sikap empati terhadap teman sebaya. Kegiatan tersebut membantu siswa belajar mengenali emosi mereka sendiri serta memahami perasaan orang Ketiga, guru juga memberikan motivasi dan penguatan positif kepada siswa yang menunjukkan perilaku pengendalian emosi yang baik. Penguatan positif ini diberikan dalam bentuk pujian, penghargaan sederhana, serta pengakuan terhadap perilaku positif siswa di depan kelas. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk mempertahankan perilaku positif serta membangun kesadaran diri dalam mengelola emosi. Keempat, integrasi nilai-nilai religius menjadi strategi yang juga cukup dominan dalam pembelajaran di madrasah. Guru sering mengaitkan pembelajaran dengan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, serta sikap saling menghormati yang merupakan bagian dari ajaran Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang pengendalian emosi secara sosial tetapi juga memahami bahwa pengendalian diri merupakan bagian dari pembentukan karakter dan akhlak. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru yang diterapkan secara konsisten mampu membantu siswa mengembangkan kemampuan mengenali emosi, mengendalikan reaksi emosional, serta membangun hubungan sosial yang lebih positif di lingkungan sekolah. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Strategi Guru Dalam Mengembangkan Self-Regulation Emosional Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan self-regulation emosional siswa. Regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk mengelola, mengontrol, dan menyesuaikan respons emosional terhadap berbagai situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan psikologis anak, khususnya pada usia sekolah dasar yang merupakan fase penting dalam pembentukan karakter (Hoffmann et al. , 2. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa keteladanan guru dalam mengelola emosi menjadi salah satu faktor utama dalam membantu siswa belajar mengendalikan emosi Dalam proses pembelajaran di kelas, guru sering menjadi model perilaku bagi siswa. Ketika guru mampu menunjukkan sikap tenang, sabar, dan mampu mengontrol emosi dalam situasi yang menantang, siswa cenderung meniru perilaku tersebut melalui proses pembelajaran sosial. Penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi guru memiliki pengaruh terhadap kualitas interaksi guru dan siswa serta dapat memengaruhi keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Ma, 2. Selain keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif di kelas juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan kemampuan regulasi emosi siswa. Lingkungan kelas yang positif dapat membantu siswa merasa aman secara emosional sehingga mereka mampu mengekspresikan perasaan secara lebih sehat dan konstruktif. Penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang menekankan pada social and emotional learning mampu meningkatkan kemampuan regulasi emosi, empati, serta keterampilan sosial siswa (Hoffmann et al. , 2. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian motivasi dan penguatan positif kepada siswa dapat meningkatkan kesadaran diri serta kemampuan pengendalian Dalam perspektif psikologi pendidikan, penguatan positif merupakan salah satu strategi yang efektif dalam membentuk perilaku yang diharapkan. Ketika siswa mendapatkan apresiasi terhadap perilaku positif yang mereka lakukan, mereka cenderung mempertahankan perilaku tersebut dalam situasi yang serupa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa regulasi emosi guru serta dukungan emosional di kelas dapat menciptakan iklim belajar yang lebih positif serta meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (BuriN et al. , 2. Selain itu, integrasi nilai-nilai religius dalam pembelajaran juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan kemampuan pengendalian emosi siswa di madrasah. Nilai-nilai seperti kesabaran, empati, dan pengendalian diri merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang diajarkan dalam pendidikan Islam. Integrasi nilainilai tersebut dalam pembelajaran dapat membantu siswa memahami bahwa pengendalian emosi tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial tetapi juga merupakan bagian dari pembentukan moral dan spiritual. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan berbagai kajian yang menunjukkan bahwa regulasi emosi guru memiliki pengaruh yang besar terhadap iklim kelas serta keberhasilan Guru yang mampu mengelola emosinya dengan baik cenderung menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan mendukung perkembangan emosional siswa (Taxer & Gross, 2. Dengan demikian, strategi guru dalam mengembangkan regulasi emosional siswa tidak hanya berdampak pada perkembangan sosial dan emosional siswa tetapi juga pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teori yang telah dipaparkan, dapat Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Strategi Guru Dalam Mengembangkan Self-Regulation Emosional Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi disimpulkan bahwa strategi guru yang melibatkan keteladanan, pembiasaan perilaku positif, pemberian motivasi, serta integrasi nilai religius memiliki kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan kemampuan self-regulation emosional siswa. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi praktik pendidikan, khususnya dalam pengembangan strategi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji lebih jauh mengenai model pembelajaran yang secara khusus dirancang untuk mengembangkan regulasi emosi siswa di lingkungan madrasah, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap pengembangan pendidikan karakter di sekolah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam mengembangkan selfregulation emosional siswa di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ittihad Kota Jambi, dapat disimpulkan bahwa peran guru memiliki kontribusi yang sangat penting dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan pengendalian emosi dalam proses pembelajaran. Kemampuan regulasi emosional siswa tidak hanya terbentuk melalui proses perkembangan alami, tetapi juga dipengaruhi oleh strategi pedagogis yang diterapkan guru dalam lingkungan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan guru dalam mengembangkan self-regulation emosional siswa meliputi beberapa pendekatan utama, yaitu keteladanan guru dalam mengelola emosi, pembiasaan perilaku positif dalam kegiatan pembelajaran, pemberian motivasi dan penguatan positif kepada siswa, serta integrasi nilainilai religius dalam proses pembelajaran di madrasah. Keteladanan guru dalam menunjukkan sikap sabar, tenang, dan mampu mengendalikan emosi menjadi contoh nyata bagi siswa dalam mengelola perasaan mereka ketika menghadapi berbagai situasi di kelas. Selain itu, pembiasaan perilaku positif seperti sikap saling menghargai, empati terhadap teman, serta kerja sama dalam kegiatan pembelajaran juga membantu siswa mengembangkan kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi secara lebih baik. Pemberian motivasi dan penguatan positif kepada siswa terbukti mampu meningkatkan kesadaran siswa untuk mempertahankan perilaku positif serta mengembangkan kemampuan pengendalian diri dalam berbagai situasi sosial di sekolah. sisi lain, integrasi nilai-nilai religius seperti kesabaran, empati, serta sikap saling menghormati juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk karakter serta kecerdasan emosional siswa di lingkungan madrasah. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru yang mengintegrasikan pendekatan pedagogis, pembiasaan perilaku positif, serta nilai-nilai religius dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan kemampuan self-regulation emosional siswa. Temuan penelitian ini memperkuat pentingnya peran guru tidak hanya sebagai fasilitator pembelajaran kognitif, tetapi juga sebagai pembimbing yang berperan dalam membentuk perkembangan sosial dan emosional siswa secara holistik. REFERENSI