Vol. No. Juni 2024, pp 86-95 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Efektivitas Edukasi Anemia terhadap Tingkat Pengetahuan Siswi The Effectiveness of Anemia Education on the Level of Knowledge Students Putri Rahma Nabila1*. Dora Samaria 2. Syafa Salsabila Meisya Rachmat 3. Nadiyyah Mauliya4. Esa Amalia Zahra5. Intan Prasetya Wulandari6 1,2,3,4,5,6 Program Studi Keperawatan. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta. Jakarta. Indonesia Abstract The problem of anemia among young people . in Indonesia is still a serious public health problem, because the prevalence of cases reaches 21,7%. The cause is a lack of This educational activity aims to increase youth knowledge about anemia and analyze the youth knowledge level by using a knowledge questionnaire. This activity was attended by 35 young female participants from SMA Negeri 9 Depok. Education participants were given a questionnaire sheet before being given education . and a questionnaire sheet after being given education . to determine the extent of changes in the level of participants' knowledge about anemia. Based on the results of the pretest and posttest that were carried out, the average pretest score was 80,00, while the average posttest was 95,71. This proves that the increase in knowledge scores is statistically significant. Through this educational activity, it is hoped that teenagers can increase their knowledge about anemia. Keywords: adolescent, anemia, knowledge, dietary habit Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 06 September 2023 Accepted 25 Juni 2024 Published 30 Juni 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Juni 2024 Abstrak Permasalahan anemia di kalangan muda . di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena prevalensi kasusnya mencapai 21,7% yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia dan menganalisis tingkat pengetahuan remaja dengan menggunakan kuesioner Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta remaja putri SMA Negeri 9 Depok. Peserta edukasi diberikan lembar kuesioner sebelum diberikan edukasi . dan lembar kuesioner setelah diberikan edukasi . untuk mengetahui sejauh mana perubahan tingkat pengetahuan peserta tentang anemia. Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang telah dilakukan, diperoleh rata-rata skor pretest adalah 80,00, sedang rata-rata posttest 95,71. Hal ini membuktikan bahwa peningkatan skor pengetahuan secara statistik bermakna signifikan. Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan para remaja dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai anemia. Kata Kunci: remaja, anemia, pengetahuan, pola makan *Penulis Korespondensi: Putri Rahma Nabila, email: 2110711071@mahasiswa. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Anemia adalah suatu keadaan dimana nilai hemoglobin . el darah mera. di dalam darah lebih rendah dari nilai normal. Penderita anemia seringkali terlihat pucat, mudah lelah, sakit kepala, dan pusing (Widaningsih, 2. Kasus anemia terbanyak ditemukan di Indonesia yaitu anemia gizi yang disebabkan oleh defisiensi besi. Penderita anemia diperkirakan mendekati angka dua miliar jiwa, atau sebesar 30% dari jumlah populasi Sedangkan kasus anemia di Indonesia juga terbilang cukup tinggi, yaitu sebesar 22,7% pada remaja putri (Rahayu et al. , 2. Kejadian anemia defisiensi besi lebih banyak terjadi pada remaja perempuan dibandingkan remaja pria karena zat besi yang dibutuhkan lebih banyak akibat kehilangan darah selama menstruasi. Menurut kebiasaan makan, remaja putri sering mengonsumsi makanan nabati dan mengurangi asupan makanan sehari-hari atau hewani, serta ditambah kebiasaan diet yang kurang tepat sehingga asupan harian zat besi tidak mencukupi yang dapat menyebabkan terjadinya anemia (Widaningsih, 2. Masa remaja adalah masa anak-anak berkembang menjadi dewasa. Remaja putri memasuki tahapan perkembangan dan pematangan organ reproduksi yang ditandai dengan menstruasi, yang mana remaja putri kehilangan 50-80 mL darah selama periode menstruasi bulanannya secara rutin yang menandakan bahwa organ rahim sudah mulai Hal tersebut menyebabkan remaja putri rentan mengalami anemia, terutama jika asupan zat besinya tidak mencukupi (Widaningsih, 2. Salah satu program yang diharapkan dapat menjadi prioritas pemerintah adalah program anemia remaja yang memiliki tujuan mengurangi kasus anemia pada remaja di Indonesia. Tanpa melakukan pencegahan dan memperbaiki status gizi, tentunya dapat menimbulkan dampak terhadap daya tahan tubuh pada remaja sehingga mudah sakit, konsentrasi belajar yang menurun, menghambat pertumbuhan sel tubuh dan sel otak yang mengakibatkan wajah pucat, lesu, letih, serta mudah lelah (Ngatu dan Rochmawati. Nabila1 et al. Vol. No. Juni 2024 Upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan edukasi maupun penyuluhan kesehatan yang komprehensif tentang anemia untuk memahami apa itu anemia, bagaimana cara pencegahannya, dan salah satu upaya pencegahannya adalah dengan minum tablet tambah darah (TTD). WHO (World health Organizatio. memberikan anjuran untuk melakukan pencegahan anemia bagi wanita usia subur dan remaja putri yang berfokus pada kegiatan promotif serta preventif, khususnya fortifikasi makanan tinggi akan zat besi, asam folat, dan suplemen (TTD). Suplementasi zat besi untuk wanita usia subur dan remaja perempuan adalah salah satu pencegahan dari pemerintah dalam mengatasi masalah penyerapan zat besi. Mengonsumsi tablet zat besi dengan mengikuti dosis yang telah ditentukan dapat meminimalisir kasus anemia dan menambah simpanan zat besi di dalam tubuh (Fathony et al. , 2. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif remaja tentang anemia, dengan harapan dapat mengurangi angka anemia di tingkat remaja secara tidak langsung. Program edukasi ini diharapkan meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia dan menganalisis tingkat pengetahuan remaja sehingga, terdapat perubahan dalam perilaku remaja dalam mencegah anemia dan memahami cara mengatasi anemia. Berdasarkan hal tersebut, kami berharap setelah dilaksanakannya pengabdian masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan remaja mengenai AuEfektivitas Edukasi Anemia terhadap Tingkat Pengetahuan Siswi di SMA Negeri 9 DepokAy. METODE Kegiatan edukasi ini dilaksanakan di SMA Negeri 9 Depok. Kecamatan Cinere. Kota Depok. Jawa Barat, pada tanggal 19 Mei 2023 dalam rangka memperingati International Nurses Day (IND). Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan remaja tentang anemia serta menganalisis tingkat pengetahuan remaja dengan menggunakan kuesioner pengetahuan. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 35 remaja putri dan dilakukan dengan metode penyuluhan. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Program Sarjana Studi Ilmu Keperawatan (HM PSIK) Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta dengan SMA Negeri 9 Depok. Gambar 1. Dokumentasi penyampaian materi kepada siswi SMA Negeri 9 Depok Langkah persiapan yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat meliputi tiga Tahap pertama yaitu persiapan. Pada tahap ini. Himpunan Mahasiswa Program Sarjana Studi Ilmu Keperawatan (HM PSIK) Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta melakukan koordinasi dengan SMA Negeri 9 Depok untuk mempersiapkan jadwal kegiatan, tempat kegiatan, metode kegiatan, serta materi edukasi Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Juni 2024 yang akan disampaikan. Berikutnya, tahap kedua yaitu pelaksanaan. Pada tahap ini sebelum dilakukannya penyampaian materi, tingkat pengetahuan peserta penyuluhan diidentifikasi dengan melakukan pengisian lembar kuesioner pretest sebelum diberikan intervensi berupa penyuluhan. Materi disampaikan oleh tim pelaksana dengan menggunakan metode ceramah yang meliputi pemberian edukasi terkait anemia, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Edukasi terkait anemia yang disampaikan di antaranya pengertian, tanda dan gejala, hingga cara pencegahannya. Peserta diberikan kesempatan untuk bertanya setelah dilakukannya penyampaian materi oleh tim pelaksana. Terakhir, yaitu, tahap evaluasi. Pada tahap ini, peserta kegiatan mengerjakan lembar posttest untuk mengevaluasi pengetahuan peserta terkait materi yang sudah disampaikan. Kemudian dilakukan uji Wilcoxon untuk menentukan signifikansinya. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman terkait anemia menjadi tolak ukur keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat ini, dengan harapan peserta penyuluhan dapat mengetahui dan mengaplikasikan pemahamannya pada kehidupan sehari-hari dalam mengatasi terjadinya anemia pada remaja. Gambar 2. Penyerahan plakat kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Depok Materi penyuluhan disampaikan dengan teknik ceramah menggunakan alat bantu slide presentasi. Pada setiap sub materi peserta diberikan waktu untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi. Peserta sangat antusias dengan materi yang disampaikan dan banyak pertanyaan yang diajukan terkait penatalaksanaan mengkonsumsi tablet tambah darah dan penanganan pada saat menstruasi. Penjelasan yang disampaikan tim pengabdian sangat membantu siswi dalam mengetahui penatalaksanaan mengkonsumsi tablet tambah darah dan penganan apa yang dapat dilakukan pada saat menstruasi. Dokumentasi kegiatan pengabdian dapat dilihat pada Gambar 1. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat berlangsung berlangsung lancar. Penyampaian materi pengabdian adalah metode ceramah interaktif. Metode ini sangat Nabila1 et al. Vol. No. Juni 2024 efektif dalam meningkatkan keaktifan peserta serta mendukung pencapaian materi (Hasanah dan Monica, 2. Edukasi mengenai anemia ini efektif meningkatkan pengetahuan remaja untuk pencegahan anemia pada remaja dan pentingnya menjaga perilaku kesehatan. Edukasi yang diberikan dapat mengacu pada berbagai buku pedoman mengenai anemia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2. maupun jurnal terkait dianosis dan tatalaksana anemia (Arya dan Pratama, 2. Setiap peserta mendapatkan media edukasi berupa leaflet yang dapat di akses melalui barcode yang tertera di poster edukasi (Gambar . HASIL DAN PEMBAHASAN Remaja adalah sasaran yang sangat strategis untuk dilakukan intervensi pencegahan anemia, dikarenakan prevalensi kasus anemia pada remaja cukup besar. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh siswi dianalisis secara deskriptif untuk melihat pemahaman siswi mengenai cara mengatasi terjadinya anemia pada remaja. Berikut ini merupakan karakteristik dari subjek pada penelitian ini (Tabel . Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 15 tahun 16 tahun 17 tahun Tabel 1. Karakteristik subjek Jumlah . = . Frekuensi Presentase (%) Sumber: Data primer, 2023 Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh subjek adalah perempuan dengan jumlah 35 Mayoritas dari mereka yang mengisi kuesioner berusia 16 tahun. Berdasarkan data dari (Kemenkes RI, 2. prevalensi anemia di seluruh kelompok umur di Indonesia mencapai 21,70%. Selain itu, prevalensi anemia lebih tinggi pada wanita . ,90%) dibandingkan pria . ,40%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Warastuti . yang menunjukkan bahwa persentase remaja wanita terkena anemia lebih tinggi yaitu sebesar 48,9%, dibandingkan remaja laki-laki yaitu sebesar 39,1%. Berikut ini gambaran penderita anemia di SMA Negeri 9 Depok (Gambar. Gambar 1. Gambaran penderita anemia di SMA Negeri 9 Depok Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Juni 2024 Gambar 1 menunjukkan bahwa sebanyak 7 siswi . %) menderita anemia. Hasil penelitian sebelumnya melaporkan hal yang serupa, dimana menunjukkan 58 remaja putri . ,4%) mengalami anemia dan 20 remaja putri . ,6%) tidak mengalami anemia (Dieniyah et al. , 2. Hal tersebut dapat terjadi karena remaja putri mempunyai periode menstruasi dan mempunyai keinginan agar selalu langsing. Oleh karena itu, saat remaja putri berdiet asupan makanan yang dikonsumsi berkurang yang berdampak pada kekurangan pemenuhan gizi (Rahayu et al. , 2. Sejalan dengan penelitian Nurjannah dan Putri . yang menunjukkan bahwa seluruh remaja putri dengan status gizi kurus mengalami anemia sedangkan remaja putri dengan status gizi normal yaitu hanya sebesar 58,7%. Adapun gambaran konsumsi tablet tambah darah ditampilkan pada Gambar 2. Gambar 2. Gambaran konsumsi tablet tambah darah Gambar 2 mengindikasikan bahwa sebanyak 35 siswi . ,9%) mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) yang menjadi salah satu cara mencegah anemia. Hal ini juga sesuai dengan penelitian terdahulu yang menemukan bahwa sebanyak 95,5% . remaja putri pada kelompok yang terus mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) tidak mengalami anemia. Adapun dalam kelompok remaja putri yang tidak taat meminum tablet tambah darah (TTD), kejadian anemia lebih banyak ditemukan yaitu sebesar 61. Hal ini dikarenakan tercukupinya kebutuhan Fe dan hemoglobin darah dapat ditunjang dengan meminum tablet tambah darah. Sebaliknya, kebutuhan zat besi (F. bisa tidak terpenuhi jika tidak mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran (Rianti et al. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. bahwa remaja putri yang tidak patuh mengonsumsi tablet tambah darah memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan remaja putri yang patuh mengonsumsi tablet tambah darah, maka terjadinya anemia akan terus meningkat dikalangan remaja putri apabila semakin banyak remaja putri yang tidak patuh mengonsumsi tablet tambah Pada penelitian ini juga melihat gambaran pola makan siswi di SMA Negeri 9 Depok (Gambar . Gambar 3. Gambaran menjaga pola makan pada siswi Nabila1 et al. Vol. No. Juni 2024 Gambar 3 menunjukkan bahwa sebanyak 17 siswi . ,6%) tidak menjaga pola makan yang bisa menyebabkan terjadinya anemia. Hal tersebut berkaitan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukan adanya korelasi antara pola makan dengan kejadian anemia remaja putri (Waluyo dan Daud, 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manila dan Amir . , menunjukkan nilai signifikan pada pola makan yang kurang baik sebanyak 71,7%. Pola makan seseorang dapat memengaruhi kondisi Hal ini terjadi dikarenakan asupan gizi seseorang dipengaruhi oleh kualitas serta kuantitas minuman atau makanan yang dikonsumsi yang bisa memengaruhi kesehatan seseorang baik individu maupun masyarakat (Hamzah et al. , 2. Hasil pretest dan posttest siswi di SMA Negeri 9 Depok disajikan pada Tabel 2 berikut ini. Variabel Nilai pretest Nilai posttest Tabel 2. Hasil pretest dan posttest Mean A SD Median 80,00 A 13,284 87,50 95,71 A 7,391 11,00 p-value* 0,000 Keterangan: *Uji Wilcoxon, signifikan jika p-value<0,05 Tabel 2 menunjukkan adanya perbedaan rata-rata antara pretest dan posttest . value=0,. ermakna pada p-value<0,. yang menandakan bahwa edukasi mengenai anemia efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswi mengenai cara mengatasi terjadinya anemia. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa terdapat 37 siswi . ,6%) yang pola makannya teratur dan mengalami anemia lebih rendah dibandingkan yang tidak mengalami anemia yaitu 52 partisipan . ,4%). Selain itu, ditemukan juga partisipan yang mempunyai pola makan tidak teratur memiliki prevalensi lebih tinggi mengalami anemia yaitu 63 partisipan . ,6%), dibandingkan 36 partisipan . ,4%) lainnya yang tidak mengalami anemia (Muhayati dan Ratnawati. Hasil pretest dan posttest edukasi anemia berdasarkan kategori baik dan cukup ditampilkan pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Hasil pretest dan posttest edukasi anemia di SMA Negeri 9 Depok Pretest Posttest 19 orang 33 orang Baik . 16 orang 2 orang Cukup . 35 orang 35 orang Total Sumber: Data primer, 2023 Tabel 3 menunjukkan bahwa sebanyak 33 subjek . 3%) sudah memiliki pemahaman yang baik setelah diberikan edukasi, meskipun sebelumnya hanya 19 subjek . ,3%) yang sudah memahami dengan baik mengenai cara mengatasi anemia. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan tingkat ketetapan post-test yaitu 96%, meningkat 12% dari hasil pre-test sebesar 84% di SMA Negeri 1 Depok (Pangestu et al. , 2. Akan tetapi, dalam penelitian lain menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman dengan tindakan pencegahan anemia di SMA Muhammadiyah 04 Kota Depok. Adapun dalam penelitian ini, hampir sebagian remaja yang tidak memahami pencegahan anemia sebanyak 22 orang . ,7%) Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Juni 2024 (Kasumawati et al. , 2. Pemahaman mengenai anemia meliputi pemahaman siswi akan penyebab atau faktor risiko, proses terjadinya, tanda dan gejala, serta pencegahan dan pengobatan anemia (Jaelani et al. , 2. Pemahaman dijadikan bentuk pencegahan anemia dalam Dampak yang timbul apabila siswi mengalami anemia antara lain sering merasa lelah, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, keluhan pusing, dan lesu. Penelitian lain menyebutkan bahwa ada korelasi antara tingkat pemahaman dengan prevalensi anemia pada remaja putri. Remaja putri yang mempunyai tingkat pemahaman yang baik mengenai anemia biasanya mengkonsumsi makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan terhindar dari masalah anemia (Rahayu et al. , 2. Menurut riset, pengetahuan dapat berdampak positif atau negatif. Pengetahuan individu memainkan peran penting dalam memengaruhi sikap dan perilaku mereka saat memilih makanan, serta memengaruhi kesehatan gizi mereka, termasuk risiko anemia. Masa remaja adalah masa di mana terjadi pertumbuhan fisik, mental, sosial, dan emosional yang signifikan. Selama masa ini, banyak perubahan terjadi, termasuk gaya hidup dan kebiasaan makan yang beragam. Generasi muda, terutama remaja putri yang sedang mencari jati diri, sering mudah tergoda oleh modernitas yang berpengaruh terkait komunikasi dan informasi yang begitu besar. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pengetahuan yang baik, terutama dalam hal gizi remaja, yang seringkali diabaikan. Kurangnya pengetahuan, akan pemahaman tentang memenuhi kebutuhan gizi yang baik, serta kurangnya pemahaman terkait dampak nutrisi dari berbagai jenis makanan dan cara memenuhi kebutuhan nutrisi yang seimbang, dapat menyebabkan masalah dan hambatan intelektual yang dapat menghambat generasi penerus yang berbakat dan memengaruhi kualitas hidup mereka (Ngatu dan Rochmawati, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang telah dilakukan, kegiatan edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai anemia di SMA Negeri 9 Depok. Hasil ini terbukti dari nilai posttest dengan rata-rata 95,71 yang mengalami peningkatan sebesar 15,71 dari rata-rata hasil pretest 80,00. Hal ini merupakan bukti bahwa edukasi mengenai anemia di SMA Negeri 9 Depok oleh tim pengabdian masyarakat berdampak baik untuk meningkatkan pengetahuan remaja di sekolah tersebut. Saran untuk pihak sekolah atau penulis lain yang akan melakukan kegiatan serupa adalah karena hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan bisa meningkatkan pengetahuan peserta, maka direkomendasikan kepada pihak sekolah untuk dapat menyelenggarakan kegiatan edukasi serupa untuk meningkatkan pengetahuan siswi mengenai anemia atau topik terkait lainnya, dapat melalui peran UKS atau bekerja sama dengan instansi lainnya. Hal ini dapat mendukung peningkatan pengetahuan siswi sehingga pada akhirnya diharapkan peningkatan perilaku kesehatan yang lebih baik. Rekomendasi untuk kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya bisa menggunakan metode yang lebih beragam, misalnya workshop sehingga bukan hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan tetapi menghasilkan perilaku yang terlatih. UCAPAN TERIMA KASIH Kami hantarkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya berkat bantuan yang telah diberikan oleh mitra kami. Kepala SMA Negeri 9 Depok dan jajarannya serta seluruh siswi yang terlibat, hingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat berlangsung Nabila1 et al. Vol. No. Juni 2024 dengan baik. Kami pun mengucapkan terima kasih berkat dukungan materi dan nonmateri yang disampaikan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan sehingga rangkaian acara kegiatan pengabdian masyarakat dalam rangka acara IND ini dapat berhasil dilaksanakan sesuai tujuan yang ditetapkan. DAFTAR PUSTAKA