P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 3 Mei 2024 UPAYA MEREDUKSI PERILAKU BULLYING MELALUI BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK ROLE PLAYING PADA SISWA MTS NEGERI 1 PADANGSIDIMPUAN Torang Siregar1*. Marsigit2. Atmini3. R Rosnawati4. Karyati5. Ahmad Nizar Rangkuti6. Lelya Hilda7 Pascasarjana Program Doktor (S. Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dosen Pascasarjana Program Doktor (S. Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dosen Pascasarjana Program Magister (S. Tadris Matematika UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan 2,3,4,5 Email: torangsiregar. 2024@student. Keywords : Group Guidance. Reduction. Bullying Behavior. Role Playing. Techniques. Efforts Abstract Bullying that occurs at MTsN 1 Padangsidimpuan does not only occur among male students, this also commonly occurs among female students. However, bullying that occurs between male students usually takes the form of physical and verbal bullying, while bullying that usually occurs between female students is verbal and/or via social media . yber bullyin. The high frequency of complaints in madrasas illustrates that bullying cases often occur. Sometimes cases of bullying occur intentionally or unintentionally. Role play is a mixture of conditioned reflex therapy from Salter, psychodrama techniques from Moreno, and fixed role therapy from Kelly. in most role plays the actor plays his own role, the role of another person, a situation surrounding a situation, or his own reactions. The person then receives feedback by a professional counselor or group members if the role play is carried out in the context of group work. This technique was chosen because it allows students to directly experience the role of perpetrator, victim or witness. So that positive emotions, feelings and assessments can be directly felt by students. Abstrak Kata Kunci : Bimbingan Kelompok. Mereduksi. Perilaku Bullying. Role Playing. Teknik. Upaya Bullying yang terjadi di MTsN 1 Padangsidimpuan tidak hanya terjadi antar siswa laki-laki saja, hal ini juga umum terjadi pada siswa perempuan. Namun bullying yang terjadi antar siswa laki-laki biasanya berupa bully fisik dan verbal sedangkan bullying yang biasanya terjadi antar siswa perempuan dengan verbal dan/atau melalu media sosial . yber bull. Frekuensi pengaduan yang tinggi di madrasah menggambarkan kasus bullying sering Terkadang kasus bully terjadi karena disengaja maupun tidak disengaja. Role play adalah campuran antara terapi conditioned refleks . eflek terkondis. dari salter, teknik psikodrama dari Moreno,dan fixed role terapy . erapi peran teta. dari Kelly. Pada kebanyakan role play pemeran memainkan peranannya sendiri, peran orang lain, sebuah keadaan di seputar situasi, atau rekasi-raksinya sendiri. Orang itu kemudian menerima umpan balik oleh konselor professional atau para anggota kelompok jika role play dilakukan dalam konteks kerja kelompok. Teknik ini di pilih karena membuat siswa dapat merasakan secara langsung berperan sebagai pelaku, korban maupun saksi. Sehingga emosi, perasaan dan penilaian yang positif dapat langsung dirasakan oleh siswa. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Vol 1 No 3 Mei 2024 PENDAHULUAN Dewasa ini banyak terjadi kasus pembullyan, baik secara verbal maupun non verbal, baik secara langsung maupun tidak langsung . Korban dan pelaku bulliying pun tidak pandang bulu dari anak-anak hingga dewasa, dari pria maupun wanita, dari sendiri maupun berkelompok. Objek bullynya pun bermacam-macam, ada bodyshaming, cyberbully, dan lain sebagainya. Kasus ini biasanya berawal dari bercanda yang terus menerus dan berulang sehinga meningkat kepada penghinaan. Bully sendiri adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris. Mungkin saat ini beberapa orang tidak begitu mengerti apa terjemahan kata bully dalam Bahasa Indonesia. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bully dalam Bahasa Indonesia adalah perundungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa arti kata bully adalah rundung, sedangkan bullying adalah perundungan. Menurut KBBI edisi ke5, kata rundung memiliki arti mengganggu, mengusik terus menerus dan menyusahkan. Dari sumber yang lain mendefinisikan bullying dengan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok suatu perilaku mengancam menindas dan membuat perasaan orang lain menjadi tidak nyaman. Generasi muda yang menjadi cikal bakal kemajuan negeri harusnya dapat mengendalikan diri agar tidak terlibat dalam perilaku bullying. Namun sayang, beberapa generasi muda malah menjadi pelaku bullying dengan tingkatan kasus yang beragam dari ringan hingga ke berat. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen pA), menyebutkan bullying atau perundungan terbagi menjadi 4 jenis. Di antaranya, bullying secara verbal, bullying secara sosial, bullying secara fisik dan bullying secara cyber. Korban bullying rentan mengalami masalah kesehatan fisik dan mental. Seperti : berkurangnya nafsu makan, muncul gangguan Kesehatan seperti kepala pusing,muncul rasa takut dan malas untuk sekolah, mengalami penurunan prestasi, motivasi hidup yang berkurang dan bahkan muncul pemikiran untuk membalas dendam. Bukan hanya berdampak buruk bagi korban, akan tetapi pelaku bullyingnya pun mendapatkan dampak buruk dari perilaku bullying. Dampak buruk yang terjadi pada pelaku, seperti : hilangnya rasa empati, agresif, tidak sabaran, mudah marah, hilangnya jati diri, kehilangan control diri dan di khawatirkan berpotensi melakukan tindak criminal yang memiliki resiko lebih berbahaya. Bullying yang terjadi di MTsN 1 Padangsidimpuan tidak hanya terjadi antar siswa laki-laki saja, hal ini juga umum terjadi pada siswa perempuan. Namun bullying yang terjadi antar siswa laki-laki biasanya berupa bully fisik dan verbal sedangkan bullying yang biasanya terjadi antar siswa perempuan dengan verbal dan/atau melalu media sosial . yber bull. Frekuensi pengaduan yang tinggi di madrasah menggambarkan kasus bullying sering terjadi. Terkadang kasus bully terjadi karena disengaja maupun tidak disengaja. Hal seperti ini tentunya tidak dapat di biarkan terus menerus. Oleh karena itu peneliti ingin menyajikan layanan bimbingan preventif untuk mengurangi perilaku bullying di madrasah. Berbagai macam teknik yang ada dalam pemberian layanan bimbingan konseling, penulis memilih teknik role playing dalam penelitian ini. Dalam teknik role playing siswa dengan mudah melatih dirinya agar dapat menentukan sikap positif Ketika melihat atau mengalami tindak bullying. Role play adalah campuran antara terapi conditioned refleks . eflek terkondis. dari salter, teknik psikodrama dari Moreno,dan fixed role terapy . erapi peran teta. dari Kelly. Pada kebanyakan role play pemeran memainkan peranannya sendiri, peran orang lain, sebuah keadaan di seputar situasi, atau rekasi-raksinya sendiri. Orang itu kemudian menerima umpan balik oleh konselor professional atau para anggota kelompok jika role play dilakukan dalam konteks kerja kelompok (Rahmi, 2021 :. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Vol 1 No 3 Mei 2024 METODE PELAKSANAAN Setting Pelaksanaan Lokasi kegiatan Kegiatan PKM ini akan di lakukan di kelas 7A MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. Waktu Kegiatan PKM akan menyesuaikan dengan jadwal pelayanan bimbingan konseling yakni 1 JP setiap Sehingga tidak mengganggu siswa dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya. Subjek penelitian Subjek dalam Kegiatan PKM ini adalah siswa kelas siswa kelas 7A MTs Negeri 1 Padangsidimpuan dengan jumlah 36 siswa dan siswa tersebut melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. Dari 36 orang siswa, pengabdimengambil sample 10 orang siswa. Metode kegiatan Dalam Kegiatan PKM ini menggunakan pendekatan Tindakan Kelas, yang terdiri dari perencanaan . Atindakan . , observasi . dan refleksi . dengan 2 siklus. Gambar 3. 1 Siklus Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling Berdasarkan gambar diatas. Langkah-langkah yang dirumuskan untuk melaksanakan PTK ini adalah sebagai berikut: Desain Kegiatan PKM Siklus I Kegiatan pelayanan pada siklus I dilaksanakan menyesuaikan kebutuhan Kegiatan PKM. Perencanaan Tindakan (Plannin. Perencanaan tindakan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dilakukan persiapan dan penyusunan instrumen pemlayanan serta instrument penelitian sebagai beritut: Menyiapkan RPL yang akan digunakan saat penelitian. Menyiapkan alat, bahan, sumber belajar yang diperlukan untuk pembelajaran siklus This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Vol 1 No 3 Mei 2024 . Menjelaskan scenario role playing pada siklus pertama pada seluruh anggota . Menyiapkan angket penyataan siswa tentang mereduksi bullying siklus I. Menyiapkan lembar observasi siklus I. Pelaksanaan Tindakan (Actio. Pada tahap ini pengabdi akan membentuk kelompok bimbingan. Kelompok terdiri dari 7 orang anggota dan 1 orang ketua kelompok. Ketua kelompok membagikan scenario yang ada juga membagi peran sesuai dengan scenario yang ada. Para anggota kelompok membaca dan mendalami scenario secara bersamaan. Setiap sesi pertemuan memiliki waktu 20 menit sesuai dengan jumlah jam pelajaran pada jadwal PTMT. Pembacaan dan pemahaman scenario dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan. Pertemuan selanjutkan pelaksanaan teknik role playing. Setelah pelaksanaan role playing, ketua kelompok memimpin kelompok untuk merefleksikan pelaksanaan role playing. Setelah itu setiap anggota kelompok di minta untuk memberi simpulan dan saran dalam pelaksanaan bimbingan kelompok kali ini. Setelah semua anggota bergiliran memberikan simpulan dan saran, peneliti membagikan angket penyataan siswa dan meminta siswa mengisi angket sesuai dengan keadaan diri. Observasi (Observin. Kegiatan observasi ini dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai observer. Kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah mengamati proses dalam kelompok, dari pembagian scenario oleh ketua kelompok hingga akhir tindakan yakni pemberian simpulan dan saran. Setelah itu peneliti melakukan observasi dari hasil angket penyataan siswa yang sudah diisi oleh siswa. Refleksi (Reflectio. Pada kegiatan refleksi, data yang diperoleh dari hasil angket siswa dan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer akan di analisis oleh peneliti. Kegiatan refleksi ini dilakukan dengan menganalisis data yang ada. Analisis data pada siklus I akan menjadi bahan pada pelaksanaan siklus kedua. Desain Kegiatan PKM Siklus II Kegiatan bimbingan konseling pada siklus II dilaksanakan menyesuaikan kebutuhan Kegiatan PKM. Pelaksanaan tahapan siklus II sama dengan siklus I yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus II dilaksanakan untuk meningkatkan reduksi perilaku Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data selama penelitian bersumber pada data angket pernyataan siswa, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Angket penyataan siswa Angket adalah kuesioner . merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung . eneliti tidak langsung bertanya-jawab dengan Instrument atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan atau pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden (Sukmadinata, 2005:. Angket ini berisi 10 bulir penyataan siswa tenang mereduksi perilaku bullying dan pelaksanaan teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok. Angket ini menggunakan penilaian dengan skla rating. Angkat yang digunakan pada skalanya adalah angka 4,3,2 dan 1 dengan artian angka : 4 mengartikan Aosangat setujuAo, 3 mengartikan Aosetuju sekaliAo, 2 mengartikan Aosedikit setujuAo dan 1 mengartikan Aotidak setujuAo. Lembar observasi. Observasi adalah upaya pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 3 Mei 2024 pengamatan secara langsung dilapangan. Lembar observasi merupakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dilapangan. Lembar observasi ini diisi oleh observer yakni wali kelas 7A. Wawancara Wawancara dilakukan untuk melengkapi data yang dibutuhkan untuk memperoleh kejelasan dari hasil observasi yang telah dilakukan. Jenis wawancara yang peneliti gunakan adalah wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Dalam wawncara terstruktur peneliti menggunakan pedoman wawancara sebagai kerangka konseptual untuk mengangkat permasalahan penelitian. Studi dokumentasi Studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa catatan kasus, lembar observasi, rekaman wawancara dan foto-foto pelaksanaan penilaian tindakan bimbingan konseling. Teknik Analisis Data Penelitian menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menganalisa hasil observasi juga hasil wawancara dan beberapa data tambahan. Kemudian ditambahkan pengolahan data persentase sebagai analisis kuantitatif agar data lebih mudah dibaca. Dalam mempersentasekan data penulis menggunakan rumus persentase yaitu : Keterangan : P : Persentase f : frekuensi n : Jumlah responden Tabel 3. 1 Pedoman penafsiran persentase Persentase Penafsiran (%) Seluruhnya 90 - 99 % Hampir seluruhnya 60 Ae 89 % Sebagian besar 51 Ae 59 % Lebih dari setengahnya Setengahnya 40 Ae 49 % Hampir setengahnya 10 - 39 % Sebagian kecil 1Ae9% Sedikit sekali Tidak ada sama sekali Setelah data dianalisa dengan menggunakan rumus persentase kemudian hasilnya dijabarkan dalam bentuk paragraph. Dengan begitu kita dapat melihat dengan jelas tentang penggunaan teknik role playing dalam pemberian layanan bimbingan konseling dapat mereduksi perilaku bullying siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. Indikator Keberhasilan Berdasar dari hipotesis tindakan, maka indikator keberhasilan yang dirumuskan adalah sebagai berikut. Siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan lebih tertarik dan antusias mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Vol 1 No 3 Mei 2024 Sebagian besar siswa atau 60% responden menyatakan Ausangat setujuAy dalam angket yang membahas tentang penggunaan teknik role playing. HASIL DAN PEMBAHASAN Bullying adalah salah satu gangguan yang muncul saat kita berinteraksi secara sosial. Karena interaksi sosial membutuhkan oranglain dalam berkomunikasi. Dalam pelayanan bimbingan konseling, layanan dasar bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan yang tepat untuk mengatasi gangguan interaksi sosial. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanti . yang menyatakan bahwa bimbingan kelompok dengan metode role playing dapat menurunkan tingkat bullying secara fisik, sosial maupun verbal. Serupa juga dengan jurnal yang ditulis oleh Popytasari dan Naqiyah . yang menyatakan bahwa pemberian perlakuan teknik role playing efektif dalam menekan intensitas tindakan agresif yaitu bullying. Kegiatan PKM ini mengangkat pencegahan kasus bullying merabak keseluruh sekolah. Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa pada siklus I hampir setengah dari responden sudah memahami tentang perilaku bullying disekolah. Masih banyak responden yang terpengaruh dengan dampak buruk dari perilaku bullying disekolah. Untuk self control disorder dan problem solving hanya sebagian kecil responden yang memilikinya. Juga hanya sebagian kecil responden yang menyetujui bahwa teknik role playing itu dapat mereduksi perilaku bullying di sekolah. Selama pelaksanaan layanan bimbingan kelompok responden terlihat antusias. Karena selama proses pengakhiran bimbingan kelompok, responden masih banyak yang ingin bertanya dan bertukar cerita tentang pengalamannya terlibat dalam perilaku bullying. Responden pun banyak yang ingin bermain peran lagi, tapi dengan peranan yang berbeda. Pada siklus I siswa memang sangat antusias dalam mengikuti layanan bimbingan kelompok. Keantusiasan siswa merupakan salah satu hipotesa tindakan penelitian ini. Namun, ada hipotesa lain yang digunakan pada penelitian ini, yakni penggunaan teknik role playing dalam bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku siswa. Hipotesa ini belum terjawab pada penelitian siklus I. Karena masih sebagian kecil atau 36,36% responden yang sedikit setuju dengan hipotesa ini. Penelitian siklus II dilaksanakan pada minggu berikutnya. Pada siklus II, lebih dari setengah responden sudah sangat mengetahui dan memahami tentang perilaku bullying disekolah. Hanya sebagian kecil responden yang mendapat dampak buruk yang timbul akibat terlibat dengan bullying di Responden yang memiliki kemampuan self control disorder dan problem solving pun meningkat menjadi 51% atau lebih dari setengahnya. Juga lebih dari setengah responden sangat setuju dengan penggunaan teknik role playing dapat mereduksi perilaku bullying disekolah. Respondenpun sangat antusias selama proses layanan bimbingan kelompok. Pada tahap pengakhiran proses layanan bimbingan kelompok, responden dengan semangat menceritakan perbedaan perasaan pada dirinya setelah memerankan peranan yang lain. Responden pula membuat janji pada dirinya sendiri, diantaranya adalah menjadi pelopor anti bullying disekolah, menggunakan media sosial untuk mengeshare ilmu dan langsung beristighfar jika keterlaluan dalam bercanda. Siswa sangat antusias dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok adalah salah satu hipotesa yang terjawab pada penelitian siklus II. Juga hipotesa tentang penggunaan teknik role playing dalam bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku siswa pun terjawab pada siklus II ini. Karena dari hasil persentase, 76,67% atau lebih dari setengahnya setuju bahwa penggunaan teknik role playing dalam bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku siswa. Hal ini pun memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Indikator pertama yakni antusias siswa terhadap layanan bimbingan kelompok. Indikator kedua yakni sebagian besar siswa atau 60 % responden menyatakan Ausangat setujuAy dalam angket yang membahas tentang penggunaan teknik role Pada siklus II kedua indikator ini sudah terpenuhi. Sehingga penggunaan teknik role playing dalam bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku bullying siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Vol 1 No 3 Mei 2024 KESIMPULAN Kegiatan PKM ini bertujuan berupaya mereduksi perilaku bullying siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. Terdapat peningkatan pada pemahaman siswa tentang perilaku bullying. Pada siklus I sebanyak 45% sedangkan pada siklus II sebanyak 51,66 % siswa memiliki pengetahuan yang kuat tentang bahaya, penyebab dan dampak buruk dari perilaku bullying. Siswa pun sangat setuju dengan penggunaan teknik role playing dalam pemberian layanan bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku bullying siswa. Karena sebanyak 76,67% siswa menyatakan teknik role playing dapat mereduksi perilaku bullying disekolah. Siswa sangat menyukai role play dalam pelaksanaan bimbingan Selama proses siswa sangat antusias dan saling menyemangati serta saling menguatkan. Self control disorder dan problem solving pun terbentuk dari bertukar cerita dan memerankan peranan. Banyak pengalaman yang di petik siswa dari bertukar cerita. Juga banyak pengalaman yang dirasakan siswa secara nyata ketika role play pada pelaksanaan bimbingan kelompok. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih atas doa, dukungan dan kepercayaan disampaikan kepada siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan dan berbagai pihak yang membantu dalam terlaksananya kegiatan ini. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak ada potensi konflik kepentingan yang relevan dengan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA