Jurnal Mapaccing. Volume 1. Nomor 1. Okt 2023, pp. 30 Ae 39 EFEKTIVITAS KOMBINASI MIKROORGANISME LOKAL (MOL) NASI BASI DAN KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminat. SEBAGAI AKTIVATOR PEMBUATAN KOMPOS Indriani . Agus Erwin Ashari . Fahrul IslamA Ridhayani Adiningsih Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Mamuju ARTICLE INFO Article history Submitted : 2023-09-23 Revised : 2023-10-28 Accepted : 2023-10-29 Keywords: Local Microorganisms. MOL. Spoiled Rice. Banana Skin. Compost Kata Kunci: Mikroorganisme Lokal. MOL. Nasi Basi. Kulit Pisang. Kompos This is an open access article under the CC BY-SA ABSTRACT Indonesia produced 67. 8 million tons of waste in 2020. 3% of the waste in Indonesia originated from household activities. The waste production in Mamuju itself is approximately 1. 6 tons per day and is predominantly household waste. Objective: to determine the effectiveness of the combination of local microorganisms (MOL) from spoiled rice and the skin of kepok banana (Musa acuminat. as activators for compost production. Method: This research employed a pure experimental research design. The research was conducted in June 2023 at the Environmental Health Department workshop of Poltekkes Mamuju. Observations of temperature, pH, moisture content, color, and odor were carried out over a 7-day period. A 500gram sample of waste was used for each treatment. MOL concentrations tested were 250 ml, 500 ml, and 1000 ml with a 1:1 ratio of spoiled rice and banana skin. The control treatment was given EM4 as a bioactivator. Results: The treatment with 250ml MOL concentration showed a final pH of 7, black color resembling soil, 21% moisture content, a temperature of 30AC, and an odor resembling soil. The treatment with 500ml MOL concentration exhibited a final pH of 7, black color resembling soil, 23% moisture content, a temperature of 29AC, and an odor resembling soil. The treatment with 1000ml MOL concentration displayed a final pH of 7, black color resembling soil, 21% moisture content, a temperature of 30AC, and an odor resembling Meanwhile, the treatment using EM4 took 9 days to produce mature compost, with a final pH of 7, black color resembling soil, 22% moisture content, a temperature of 30AC, and an odor resembling soil. Conclusion: The use of a combination of MOL from spoiled rice and kepok banana skin is more effective in accelerating composting compared to EM4. It is recommended for further research to use a larger volume of waste and to measure the C/N ratio. ABSTRAK Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada tahun 2020. 37,3% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga. Produksi sampah di Mamuju sendiri sekitar 1,6 ton perhari dan didominasi oleh sampah rumah tangga. Tujuan: untuk mengetahui efektifitas kombinasi mikroorganisme lokal (MOL) nasi basi dan kulit pisang kepok (Musa acuminat. sebagai aktivator pembuatan kompos. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen murni. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2023 di workshop Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Mamuju. Pengamatan suhu, pH, kadar air, warna, dan bau dilaksanakan selama 7 hari. Berat sampah 500 gram untuk setiap perlakuan. Variasi konsentrasi MOL adalah 250 ml, 500 ml dan 1000 ml dengan perbandingan 1:1 antara nasi basi dan kulit pisang. Perlakuan terhadap kontrol diberi EM4 sebagai bioaktivator. Hasil: perlakuan dengan MOL konsentrasi 250ml menunjukkan pH akhir 7, warna hitam seperti tanah, kadar air 21%, suhu 30AC, dan bau seperti tanah. Perlakuan dengan konsentrasi MOL 500ml Menunjukkan pH akhir 7, warna hitam seperti tanah, kadar air 23%, suhu 29AC, dan bau seperti tanah. Perlakuan dengan Konsentrasi MOL 1000ml menunjukkan pH akhir 7, warna hitam seperti tanah, kadar air 21%, suhu 30AC, dan bau seperti tanah. Sedangkan perlakuan dengan menggunakan EM4 membutuhkan waktu 9 hari untuk pembentukan kompos matang, dengan hasil akhir menunjukkan pH akhir 7, warna hitam seperti tanah, kadar air 22%, suhu 30AC, dan bau seperti tanah. Kesimpulan: Penggunaan kombinasi MOL nasi basi dan kulit buah pisang kepok lebih efektif mempercepat pengomposan dibandingkan dengan EM4. Disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan volume sampah yang lebih banyak dan melakukan pengukuran C/N rasio. http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA A Corresponding Author: Fahrul Islam Poltekkes Kemenkes Mamuju Telp. Email: fahrulhasanuddin@gmail. PENDAHULUAN Sampah adalah komponen yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya diwilayah perkotaan. Jika tidak dikelola dengan baik dan benar mulai dari sumbernya, sampah dapat menimbulkan kesehatan, ekonomi, sosial, dan keindahan (Nurita et al. , 2. Data WHO menyebutkan sekitar 24% penyakit global dan lebih dari 13 juta kematian tiap tahun diakibatkan oleh lingkungan yang bisa dicegah. Beberapa penyakit utama yang disebabkan faktor lingkungan yang buruk, yaitu: ISPA, malaria dan sebagainnya (Axmalia & Mulasari, 2. Indonesia memproduksi sampah rumah tangga sekitar 37,3% dari 67,8 juta ton sampah yang dihasilkan pada tahun 2020. Kabupaten Mamuju menghasilkan rata-rata sampah 1,6 ton per hari yang sebagian besarnya adalah jenis sampah domestik (Mappau & Islam, 2. Sampah masih menjadi yang serius di Indonesia termasuk di Kabupaten Mamuju. Pada tahun 2022, sekitar 97. 000 Ton sampah dihasilkan di Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju berkontribusi sebanyak 51. 000 Ton. Sampah jika tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan dan mengakibatkan masalah kesehatan (Ashari & Islam, 2. Sampah dapat menyebabkan permasalahan kesehatan melalui penyakit yang dibawa oleh serangga vektor pembawa penyakit seperti nyamuk dan lalat. Penyakit yang seringkali ditularkan oleh kedua serangga vektor ini diantaranya adalah demam berdarah dengue dan diare (Utari et al. , 2. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya upaya untuk mengurangi timbulan sampah. Untuk mengurangi jumlah timbulan sampah salah satu caranya adalah dengan mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan adalah metode pengolahan sampah organik menjadi pupuk, pengomposan sampah organik merupakan salah satu solusi dalam mengatasi timbulan sampah, yang juga dapat berkontribusi pada pencegahan terjadinya pencemaran pada tanah (Sidabalok et al. , 2. Salah satu cara untuk pengolahan kompos adalah dengan menambahkan bioaktifator berupa Mikroorganisme Lokal (MOL). Larutan MOL merupakan hasil dari proses fermentasi dari bahan yang mudah didapatkan disekitar kita. Larutan MOL kaya akan unsur hara makro maupun mikro serta bakteri yang dapat merombak bahan organik, penyubur tanaman dan sebagai pengendali hama dan penyakit Sehingga selain digunakan sebagai pupuk MOL juga dapat digunakan sebagai pestisida organik khususnya sebagai pembasmi jamur (Kurniawan, 2. Salah satu bahan pembuatan MOL yang dapat digunakan yaitu nasi basi dan kulit buah pisang. Menurut (Arifan et al. , 2. Aspergillus sp dan Sachharomyces cerevicia adalah merupakan mikroba yang ada pada MOL nasi basi yang berperan penting pada proses pengomposan. Sedangkan menurut (Wakano et al. , 2. , kulit pisang bisa digunakan menjadi pupuk organik karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman dan bermanfaat pula sebagai starter dalam pembuatan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh (Yulinda, 2. bahwa MOL berbahan dasar daun kelor dan kulit pisang dapat mempercepat pengomposan yaitu 18-19 hari dengan konsentrasi 30ml. Menurut (Royaeni et al. , 2. penggunaan MOL berbahan nasi basi mempercepat pengomposan dengan rata-rata waktu 13 hari dengan waktu tercepat adalah 10 hari Banyaknya limbah kulit pisang yang dihasilkan oleh penjual gorengan di Mamuju yang hanya dibuang begitu saja dan juga banyaknya sisa makanan hasil rumah tangga seperti nasi yang basi sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat Efektifitas kombinasi nasi basi dan kulit buah pisang kepok (Musa acuminat. sebagai aktivator kompos. METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni. http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Workshop Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Mamuju. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni 2023 Obyek Penelitian Obyek penelitian adalah sampah rumah tangga Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan pada sampah rumah tangga yang akan diubah menjadi kompos dengan bantuan MOL nasi basi dan Kulit pisang kepok. Pembuatan MOL nasi basi dilakukan dengan membentuk 4 buah bulatan nasi seperti bola pimpong, kemudian didiamkan kurang lebih 3 hari sampai muncul jamur berwarna kuning, jingga dan abu-abu. Setelah itu, nasi yang sudah berjamur dimasukkan ke dalam botol kosong. Kemudian, tuangkan satu gayung air yang telah dicampur dengan empat sendok makan gula pasir ke dalam botol berisi nasi basi. Biarkan botol terbuka dan diamkan selama 1 minggu. Selama periode tersebut, campuran nasi dan air gula akan menghasilkan aroma asam mirip dengan tape. Selanjutnya pembuatan MOL kulit pisang kepok dilakukan dengan menumbuk kulit pisang sampai halus dan masukan ke wadah. Tambahkan 5 liter air yang telah dicampur dengan gula merah kemudian aduk merata. Tutup wadah menggunakan kertas dan diamkan kurang lebih 10 hari (Sadewa, 2. Cara kerja pembuatan kompos: Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan Untuk kombinasi 250ml . ,5%) dicampurkan dengan 1750 ml air, kombinasi 500ml . %) dicampurkan dengan 1500ml air, untuk kombinasi 1000ml . %) dicampurkan dengan 1000ml air. Sampah organik dipotong-potong sampai berukuran kira-kira 3-4 cm lalu dimasukkan ke dalam setiap ember masingmasing 500 gram. Wadah kelompok perlakuan diberi label dan ditambahkan aktivator MOL dengan konsentrasi 12,5%, 25%, dan 50%. Sedangkan untuk kontrol diberi aktivator EM4. Setelah diberi activator, sampah diaduk hingga homogen atau merata lalu didiamkan selama 3 hari. Setelah didiamkan 3 hari, kompos diaduk agar penguraian dapat merata. Pengukuran suhu menggunakan Thermometer dan pH menggunakan pH meter tanah dilakukan setiap hari. Sedangkan parameter warna diukur menggunakan organoleptik indra penglihatan dan bau diukur menggunakan organoleptik indra Proses pengamatan dilakukan untuk mencatat waktu yang diperlukan dalam setiap perlakuan guna memastikan terbentuknya kompos yang berkualitas baik (Ginting, 2. Pengolahan dan Analisis Data Hasil pengamatan dimasukkan ke dalam tabel kemudian dibandingkan antara pH. Suhu. Kadar air. Warna dan Bau untuk semua perlakuan. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan antara hasil penelitian dengan SNI 19-7030-2004 tentang spesifikasi kompos dari sampah organik HASIL PENELITIAN Hasil penelitian tentang efektifitas kombinasi mikroorganisme lokal . nasi basi dan kulit pisang kepok (Musa acuminat. sebagai aktivator pembuatan kompos adalah sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Pengamatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Nasi basi dan Kulit Pisang Kepok Jenis MOL Nasi Basi Kulit Pisang Kepok Warna Putih Coklat Bau Bau Tape Bau Tape Lama waktu Fermentasi 10 Hari 10 Hari Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa MOL nasi basi dan kulit buah pisang kepok membutuhkan waktu selama 10 hari untuk mencapai fermentasi sempurna. Dimana pada MOL nasi basi di tandai dengan perubahan warna menjadi putih dan bau seperti tape, sedangkan MOL kulit pisang kepok ditandai dengan warna merah bata dengan bau seperti tape. http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA Tabel 2. Hasil Pengamatan Kompos dengan Pemberian Bioaktivator MOL Nasi Basi dan Kulit Pisang Kepok Konsentrasi 12,5% Waktu Pengamatan Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Suhu Warna Bau Coklat bercampur hijau Coklat bercampur hijau Coklat Coklat Coklat Coklat kehitaman Hitam seperti tanah Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau tanah Bau tahan Bau tanah Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa suhu dan pH berfluktuatif dengan rentang suhu berkisar antara 29AC-33AC dan pH 6,5-7, warna kompos di hari pertama berwarna coklat bercampur hijau dan di hari terakhir berwarna hitam seperti tanah, dan bau pada kompos di hari pertama berbau daun kering dan hari terakhir berbau tanah. Tabel 3. Hasil Pengamatan Kompos dengan Pemberian Bioaktivator MOL Nasi Basi dan Kulit Pisang Kepok Konsentrasi 25% Waktu Pengamatan Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Suhu Warna Bau Coklat bercampur hijau Coklat bercampur hijau Coklat Coklat Coklat Coklat kehitaman Hitam seperti tanah Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau tanah Bau tanah Bau tanah Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa suhu dan pH berfluktuatif dengan rentang suhu berkisar antara 29AC-33AC dan pH 6,5-7, warna kompos di hari pertama berwarna coklat bercampur hijau dan di hari terakhir berwarna hitam seperti tanah, dan bau pada kompos di hari pertama berbau daun kering dan hari terakhir berbau tanah. Tabel 4. Hasil Pengamatan Kompos dengan Pemberian Bioaktivator MOL Nasi Basi dan Kulit Pisang Kepok Konsentrasi 50% Waktu Pengamatan Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Suhu Warna Bau Coklat bercampur hijau Coklat bercampur hijau Coklat Coklat Coklat Coklat kehitaman Hitam pekat seperti tanah Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau tanah Bau tanah Bau tanah Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa suhu dan pH berfluktuatif dengan rentang suhu berkisar antara 29AC-33AC dan pH 6,5-7, warna kompos di hari pertama berwarna coklat bercampur hijau dan di http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA hari terakhir berwarna hitam pekat seperti tanah, dan bau pada kompos di hari pertama berbau daun kering dan hari terakhir berbau tanah. Tabel 5. Hasil Pengamatan Kompos dengan Pemberian Bioaktivator EM4 Waktu Pengamatan Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8 Hari 9 Suhu Warna Bau Coklat bercampur hijau Coklat bercampur hijau Coklat Coklat Coklat Coklat Coklat kehitaman Coklat kehitaman Hitam seperti tanah Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau daun kering Bau tanah Bau tahan Bau tanah Bau tanah Bau tanah Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa suhu dan pH berfluktuatif dengan rentang suhu berkisar antara 29AC-33AC dan pH 6,8-7, warna kompos di hari pertama berwarna coklat bercampur hijau dan di hari terakhir berwarna hitam seperti tanah, dan bau pada kompos di hari pertama berbau daun kering dan hari terakhir berbau tanah. Tabel 6. Hasil Perbandingan Pengamatan Kompos dengan Pemberian Bioaktivator MOL Nasi Basi dengan Kulit Pisang Kepok dan EM4 Bioaktivator Suhu Warna Bau Kadar Air MOL 12,5 % MOL 25 % MOL 50 % EM4 Hitam seperti Hitam seperti Hitam seperti Hitam seperti Bau Bau Bau Bau Lama Pengomposan 7 hari Sisa MOL 95 ml 7 hari 70 ml 7 hari 50 ml 9 hari Berdasarkan Tabel 6. diketahui bahwa MOL dari Nasi Basi dan Kulit Pisang pada semua konsentrasi efektif dalam pembuatan kompos selama 7 hari. Sedangkan EM4 efektif dalam pembuatan kompos selama 9 hari. Yang paling efektif berdasarkan sisa MOLnya adalah MOL dengan Konsentrasi 12,5% . PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa MOL nasi basi dan kulit pisang kepok selama pengamatan 10 hari mengalami perubahan yang signifikan yaitu terjadi proses yang ditandai dengan perubahan bau, dari mulanya berbau busuk berubah menjadi bau tape, perubahan warna dari warna putih menjadi warna putih keruh untuk MOL Nasi Basi sedangkan sedangkan kulit pisang dari warna kuning menjadi coklat, hal ini menandakan bahwa telah terjadinya proses fermentasi secara sempurna oleh mikroorganisme . okodonpis, 2. Mikroorganisme yang dihasilkan dari pembentukan MOL memiliki kemampuan untuk mengurai partikel organik menjadi ukuran yang lebih kecil yang kemudian diubah menjadi nitrat (Arifan et al. , 2. http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA pH optimal dalam proses pembuatan kompos berkisar antara 6,5 hingga 7, 5 (Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 2. Hasil penelitian menunjukkan pH MOL konsentrasi 12,5%, 25%, 50% dan EM4 pada akhir pengamatan semuanya bernilai 7. Hal ini sejalan dengan penelitin yang di lakukan oleh (Nurita et al. , 2. di mana nilai ph akhir kompos yang didapat adalah 7. Pertumbuhan bakteri pada proses pembuatan kompos dipengaruhi oleh pH. Perubahan pH dalam kompos dimulai dengan tingkat keasaman yang agak rendah karena terjadi pembentukan asam-asam organik sederhana. Selanjutnya, pH meningkat selama proses inkubasi lebih lanjut karena protein terurai dan ammonia dilepaskan (Widarti et al. , 2. Proses pelepasan asam, baik sementara atau secara lokal, akan mengakibatkan penurunan pH . , sementara produksi ammonia dari senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada tahap-tahap awal pengomposan (Prasetyo, 2. pH yang terlalu rendah, dapat menyebabkan matinya sebagian besar mikroorganisme (Putro et al. , 2. Hasil pengamatan pH berfluktuatif dengan rentang pH berkisar antara 6,5-7. Hasil ini sejalan dengan temuan (Rahmadanti et al. , 2. bahwa pada saat proses pengomposan kisaran pH antara 5,5 Ae pH selama pengamatan dihari pertama bersifat netral kemudian dihari selanjutnya sedikit asam. kompos bersifat asam sebagai akibat penguraian bahan organik oleh mikroorganisme (Ratna et al. pH kompos diakhir pengamatan kembali menjadi netral. Kenaikkan pH disebabkan karena dekomposisi nitrogen oleh bakteri untuk menghasilkan ammonia. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral (Kusuma, 2. pH adalah hal yang penting untuk diperhatikan dalam pembuatan kompos. pH kompos biasanya berkisar antara 6-8. Jika tingkat pH terlalu tinggi, maka akan menghasilkan gas ammoniak, yang akan meningkatkan konsumsi oksigen dan berdampak buruk pada Sebaliknya, jika pH terlalu rendah, akan menyebabkan kematian mikroorganisme yang berperan dalam proses pengomposan (Hermawansyah et al. , 2. Kadar Air Kadar air pada kompos berdasarkan penelitian berkisar antara 21%-23%. Hal ini sejalan dengan penelitian (Muliarta, 2. dimana kadar air yang didapatkan berkisar 18-22%. Kandungan air dalam kompos memiliki dampak signifikan pada aktivitas mikroba dan secara tidak langsung memengaruhi pasokan oksigen. Idealnya, kandungan air dalam kompos seharusnya tidak melebihi 50% (Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 2. Jika kandungan air kurang dari 50%, aktivitas mikroba akan menurun sebesar 15%. Jika kandungan air melebihi 50%, nutrien mungkin terkunci, dan jika kandungan air melampaui 60%, volume udara berkurang, menghasilkan bau . arena kondisi anaerobi. , dan memperlambat dekomposisi (Kurnia et al. , 2. Hal ini terjadi karena kelebihan air akan mengisi rongga udara dalam tumpukan sampah. Kurangnya oksigen akan menyebabkan mikroorganisme aerobik mati dan digantikan oleh mikroorganisme anaerobik. Kandungan air dalam bahan kompos memengaruhi aktivitas mikroorganisme yang terlibat dalam proses pengomposan (Suwatanti & Widiyaningrum. Salah satu masalah yang sering muncul terkait kadar air pada proses pengomposan adalah penurunan kandungan air dalam tumpukan kompos selama proses pengomposan. Oleh karena itu, diperlukan penambahan air dan pengadukan untuk menjaga kandungan air yang sesuai. (Ratna et al. Kadar air juga memengaruhi laju dekomposisi kompos dan suhu dalam proses pengomposan karena mikroorganisme membutuhkan kadar air yang optimal untuk menguraikan material organik. penurunan kadar air selama proses pengomposan disebabkan karena terjadinya penguapan menjadi gas (Haq et al. , 2. Warna Warna kompos untuk seluruh perlakuan dari hari pertama pembuatan berwarna coklat bercampur hijau karena menggunakan daun kering sebagai bahan pembuatan kompos. Pada hari ke tiga sudah terlihat perubahan warna pada kompos yaitu mulai berwarna coklat semua dan pada hari ke tujuh kompos berubah menjadi warna hitaman seperti tanah yang menandakan bahwa kompos telah matang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Nurita et al. , 2. dimana hasil pada hari terakhir kompos mengalami perubahan warna hitam seperti tanah. Warna kompos mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, mulai dari warna yang mirip dengan sampah, kemudian berubah menjadi coklat http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA muda, dan akhirnya mencapai warna coklat kehitaman, yang merupakan indikasi kematangan kompos. (W & Widiyaningrum, 2. Pengukuran warna kompos dilakukan melalui pengamatan organoleptik menggunakan indra Selama pengamatan ini, warna kompos diamati dari awal hingga mencapai tingkat kematangan yang ditandai oleh warna coklat kehitaman. Perubahan warna pada akhir pengamatan adalah tanda bahwa kompos telah mencapai tingkat kematangan (Mokodompis et al. , 2. Kompos yang sudah matang memiliki sifat fisik yang mirip dengan tanah dan humus, yakni berwarna kehitaman dan memiliki tekstur yang remah. Perubahan warna ini mencerminkan bahwa proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroba dalam pengomposan telah berjalan dengan baik (Haq et al. , 2. Bau Menurut SNI 19-7030-2004, kompos yang sudah matang berbau tanah. Bau kompos akan mengalami perubahan dari awal pengamatan akan berbau seperti sampah aslinya dan hingga berubah menjadi bau seperti tanah (Rahmadanti et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bau dari kompos untuk semua perlakuan di awal pengamatan berbau daun kering dan untuk perlakukan MOL semua konsentrasi berbau tanah pada hari ke 7 sedangkan EM4 berbau tanah pada hari ke 9. Bau yang menyengat pada kompos menghilang ketika kompos telah mencapai tingkat Ini disebabkan oleh kemampuan mikroba dalam proses dekomposisi untuk memecah ikatan nitrogen, yang awalnya ada dalam bentuk amonia, menjadi nitrogen bebas (Simarmata, 2. Ketika kompos sudah matang, bau yang dikeluarkan mirip dengan bau tanah, karena kompos tersebut mengandung nutrien seperti tanah dan memiliki warna yang cenderung kehitaman. Hal ini terjadi karena bahan organik dalam kompos telah mengalami pemecahan dan stabilisasi (Prasetyo, 2. Bentuk fisik akhir kompos berbeda dari bentuk aslinya karena telah mengalami dekomposisi alami oleh mikroorganisme, sehingga menjadi lebih hancur dan mirip dengan tanah (Ismayana et al. , 2. Suhu Suhu memiliki peran sangat penting dalam proses pengomposan karena berkaitan erat dengan jenis mikroorganisme yang terlibat dalamnya. Suhu optimal untuk pengomposan biasanya berkisar antara 400C hingga 600C. Jika suhu terlalu tinggi, mikroorganisme dapat mati, sementara jika suhu terlalu rendah, mikroorganisme mungkin tidak akan aktif atau berada dalam keadaan dorman. (Jalaluddin et al. , 2. Saat memasuki fase pematangan, suhu kompos juga akan menjadi stabil (Putro et al. , 2. Suhu kompos pada semua perlakuan baik MOL maupun EM4 berkisar antara 29-330C dengan suhu di akhir pengamatan sebesar 300C untuk semua perlakuan kecuali pada perlakuan MOL 25% suhunya sebesar 290C. Hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan (Sadewa, 2. dimana suhu yang di hasilkan untuk membuat kompos berkisar 30-340C. Suhu maksimum pada kompos 300C (Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 2. Semakin tinggi suhu dalam proses pengomposan, dekomposisi bahan organik akan berlangsung lebih cepat (Prasetyo, 2. Menurut (Dewilda & Darfyolanda, 2. Suhu juga berfungsi sebagai indikator utama aktivitas mikrobiologi dalam proses pengomposan. Oleh karena itu, suhu diukur secara berkala selama periode pengomposan. Fluktuasi suhu yang terjadi selama proses ini disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam bahan baku kompos. Lama Waktu Pengomposan Waktu yang dibutuhkan agar kompos matang dengan penambahan MOL nasi basi dan kulit pisang untuk semua konsentrasi yaitu 7 hari sedangkan untuk EM4 membutuhkan waktu 9 hari. Hal ini menunjukkan penggunaan MOL nasi basi dan MOL kulit pisang kepok lebih efektif dalam mempercepat pengomposan dibandingkan EM4. Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh (Nurullita & Budiyono, 2. mengenai pengomposan menggunakan MOL nasi basi menunjukkan lama waktu pengomposan membutuhkan waktu selama 8 hari atau < 2 minggu. MOL nasi basi mengandung bakteri seperti Sacharomyces sp. dan Lactobacillus sp. Bakteribakteri ini memiliki peran penting dalam mempercepat proses pengomposan. Ketika digunakan dalam pembuatan kompos, larutan MOL nasi basi memiliki beberapa keuntungan, salah satunya adalah mempersingkat waktu yang diperlukan dalam proses pengomposan (Ramaditya et al. , 2. Berdasarkan penelitan (Sadewa, 2. menemukan bahwa MOL kulit pisang lebih efektif http://jurnal. id/index. php/mpc/index Volume 1. Nomor 1. Okt 2023 Efektivitas Kombinasi Mikroorganisme LokalA mempercepat pengomposan di bandingkan dengan EM4. Ada kecenderungan bahwa semakin banyak jumlah Kulit Pisang Kepok yang diberikan, waktu yang dibutuhkan untuk proses pengomposan menjadi semakin singkat atau cepat. KESIMPULAN DAN SARAN Penggunaan kombinasi MOL nasi basi dan kulit buah pisang kepok lebih efektif mempercepat pengomposan dibandingkan dengan EM4. Disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan volume sampah yang lebih banyak dan melakukan pengukuran C/N rasio DAFTAR PUSTAKA