Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 Online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA DUKUNGAN TEMAN SEBAYA UNTUK MENGATASI KOPING TIDAK EFEKTIF PADA SANTRI KORBAN BULLYING Rike Amalia Putri1. Ratna Kurniawati2. Tri Suraning Wulandari3 1,2,3 Program Studi D-i Akademi Keperawatan Alkaursar Temanggung Email korespondensi: rikeamaliaputri332@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Bullying merupakan bentuk kekerasan yang berdampak pada kerusakan psikologis dan fisik. Korban, terutama pada santri di pesantren, sering kali mengembangkan mekanisme koping yang tidak efektif, seperti menarik diri, rendah diri, hingga menyakiti diri sendiri. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas dukungan teman sebaya dalam mengatasi koping tidak efektif pada santri korban bullying. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif terhadap dua santri perempuan berusia 14 dan 15 tahun yang menjadi korban bullying. Intervensi dukungan teman sebaya dilakukan selama tiga hari melalui sesi terstruktur menggunakan SOP kelompok dari PPNI dan pemantauan. Hasil: Evaluasi menunjukkan peningkatan status koping kedua subjek, termasuk peningkatan partisipasi sosial, ekspresi emosional, dan kepercayaan diri. Dukungan teman sebaya membantu mengurangi rasa kesepian dan menciptakan lingkungan yang aman bagi korban untuk mengekspresikan diri. Kesimpulan: Dukungan teman sebaya efektif dalam meningkatkan mekanisme koping pada korban bullying dan menciptakan lingkungan sosial yang suportif. Kata kunci: Dukungan teman sebaya, koping tidak efektif, bullying, santri. Peer Support in Overcoming Ineffective Coping among Boarding School Students Victimized by Bullying Abstract Background: Bullying is a form of violence that causes psychological and physical Victims, especially students in Islamic boarding schools, often develop ineffective coping mechanisms, leading to isolation, low self-esteem, and even self-harm. Objective: This study aims to analyze the effectiveness of peer support in overcoming ineffective coping mechanisms among bullying victims. Method: The research employed a qualitative case study method involving two female students aged 14 and 15, victims of bullying at a boarding school. Peer support intervention was provided for three days through structured sessions using SOP-based group support techniques. Results: Evaluation showed improved coping status in both subjects, with increased social participation, emotional expression, and self-confidence. Peer support helped reduce feelings of isolation and provided a safe environment for victims to express themselves. Conclusion: Peer support is effective in improving coping mechanisms in bullying victims. It helps reduce psychological stress and fosters a supportive social environment. Keywords: Peer support, ineffective coping, bullying, student. PENDAHULUAN Bullying memiliki kata dalam bahasa Inggris AybullyAy berarti melecehkan. Bullying atau perundungan secara umum yaitu seseorang yang diancam atau disakiti, mengalami perilaku negatif secara berulang kali (Purnaningtias dkk. Bullying adalah bentuk perilaku kekerasan yang dilakukan secara sadar dan berulang dengan niat untuk menyakiti Tindakan bullying termasuk mencemoAooh, memberi nama julukan, menyakiti secara verbal maupun non verbal, mengucilkan, mengintimidasi, hingga menyerang secara fisik (Sakdiyah, 2. Usia remaja merupakan masa perubahan dari anak-anak menuju Remaja biasanya memiliki energi yang besar dan perasaan yang tidak stabil, pengendalian diri yang baik (Erina dkk. Data UNICEF pada tahun 2021 sebanyak 50% remaja dengan usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami perilaku kekerasan berupa penyerangan fisik serta perundungan atau bullying dari teman sebaya (UNICEF, 2. Salah satu negara yang menghadapi masalah bullying anak di bawah umur adalah Indonesia. Sebanyak . %) pelaku menyebut korban dengan nama samaran, ejekan, yang merupakan jenis bullying secara verbal. Kurang dari . %) korban mengalami diasingkan, dipukul, dan ditendang (Muadi dkk, 2. Analisis data Komnas Perlindungan Anak menunjukkan bahwa bullying lebih sering terjadi di lingkungan pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2023, ada 2. 355 kasus pelanggaran perlindungan anak yang masuk ke KPAI, dengan rincian anak sebagai korban perundungan atau bullying, 27 kasus pemenuhan fasilitas pendidikan, 24 kasus pelanggaran kebijakan pendidikan, dan 24 kasus kekerasan fisik (KPAI, 2. Bullying bisa terjadi dimana saja, salah satunya adalah terjadi di Pondok Pesantren. Pondok Pesantren seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi santri, sehingga kekerasan tidak lagi Namun, masih banyak berita tentang kekerasan atau bullying yang terjadi di Pondok Pesantren. Dilihat dari dengan banyaknya jumlah santri dari latar belakang yang berbeda, koping setiap individu yang berbeda, dan santri yang tinggal di pesantren karena paksaan orang tua, hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya bullying (Khuluq, 2. Santri yang pendiam, suka menyendiri akan lebih sering di bullying oleh temantemannya, karena kurangnya perlawanan yang di berikan, sehingga aksi ini sekelompok atau seseorang yang lebih kuat, tidak bertanggug jawab, biasanya dengan perasaan senang (Wijaya, 2. Setiap santri memiliki mekanisme koping yang berbeda. Mekanisme koping yang ditimbulkan pada korban bullying yaitu dengan membalas, marah, dan Namun, pada sebagian anak mengatasi masalah perilaku bullying dengan diam karena tidak berani untuk melawan pelaku dan tidak mau membuat masalah lebih panjang (Azahra, 2. Santri yang kopingnya tidak efektif ketika mereka mendapatkan ancaman yang cukup besar, sehingga individu akan mengalami stres dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Sebaliknya, ketika kemampuan koping efektif, maka stres dapat diminimalkan dan masalah mampu teratasi dengan baik (Akasyah. Bullying berdampak buruk pada perkembangan dan memunculkan masalah dalam kehidupan pelaku maupun korban. Dampak bullying yang terjadi di pesantren akan menyebabkan kecemasan, rasa malu, mengurung diri, stress, depresi, merasa tidak suka terhadap lingkungan sosialnya, takut berinteraksi dengan orang lain, memiliki harga diri yang rendah, mengalami penurunan prestasi akademik akibat gangguan saat belajar dan mengaji, serta merasa dendam atau benci terhadap pelaku (Putri Hesti dkk, 2. Teman sebaya merupakan kelompok individu yang memiliki minat serta berinteraksi, memiliki tujuan bersama, dan menjalankan aturan yang Dengan adanya dukungan teman sebaya, setiap anggota kelompok dengan berbagai tingkat dukungan, interaksi, dan kualitas. Salah satu bukti bermanfaat adalah layanan yang saling membantu dan berpusat pada setiap anggota kelompok (Yunalia dan Etika. Seseorang yang bergabung dengan kelompok teman sebaya seringkali mengembangkan ikatan yang kuat dengan kelompoknya, dan setiap keputusan harus dibuat dengan dukungan atau persetujuan kelompok teman sebayanya. Dukungan teman sebaya yaitu dengan memberikan dukungan fisik, dukungan ego, dukungan informasi, dukungan emosional, dan penghargaan (Putri Hesti dkk. , 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat efektivitas dukungan teman sebaya untuk mengatasi koping tidak efektif pada santri korban METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan dua subjek yang merupakan santri perempuan berusia 14 dan 15 tahun yang mengalami Pemilihan subjek menggunakan kriteria inklusi: santri usia 13Ae15 tahun, mengalami bullying, mengalami koping tidak efektif, dan bersedia menjadi subjek Intervensi dilakukan selama tiga hari menggunakan format SOP Dukungan Kelompok dari PPNI, dengan durasi 10Ae 15 menit per sesi dan dilakukan Evaluasi berdasarkan format luaran status koping. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Berdasarkan identifikasi subjek studi kasus, peneliti memperoleh 2 subjek studi kasus untuk penelitian yaitu An. A . dan An. S . , yang menunjukkan tanda-tanda koping tidak efektif akibat menjadi korban bullying. Dilakukan pengkajian pada subjek studi kasus pertama yaitu An. A pada tanggal 19 Maret 2025 dan diperoleh hasil pengkajian sebagai berikut: An. sering menilai dirinya tidak berguna karena An. A mengatakan Ausulit dalam memahami pelajaran dan sulit dalam menghafalAy. An. A tampak terlihat menunduk dan sedih. An. A merasa tidak berarti karena ketika ada belajar kelompok An. A sering ditolak temannya untuk bergabung. An. A tampak murung dan sering menyendiri daripada bersama temannya. An. A terdengar pelan ketika berbicara dan lebih banyak diam. An. mengatakan Auketika ingin marah kepada orang lain, dirinya lebih memilih untuk memukuli dirinya sendiri daripada orang lainAy. Pengkajian pada subjek studi kasus kedua yaitu An. S dilakukan pada tanggal 19 Maret 2025 dan diperoleh hasil pengkajian sebagai berikut: An. S menilai dirinya tidak berguna karena An. mengatakan Ausering tertinggal pelajaran karena sering tidur, sehingga kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan dan menghafalAy. An. merasa tidak berarti karena An. mengatakan Aujarang diajak belajar bersama, dan ketika sedang diskusi, menyampaikan mengungkapkan perasaan dirinya sering diabaikanAy. An. S terdengar pelan ketika berbicara dan lebih banyak diam. Tabel 1. Karakteristik Korban Bullying No. Tanda dan Gejala Oo Oo Oo Oo Menilai dirinya tidak berguna Merasa tidak berarti Murung Bicara pelan dan lebih banyak Merusak diri Selain karakteristik, peneliti menilai kelayakan subjek studi kasus sebagai penelitian menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi studi kasus dengan hasil pengkajian An. A mengalami pengucilan karena kebiasaan bercerita berlebihan dan An. Tidak Oo Oo An. Tidak Oo Oo Oo Oo merasa tidak mampu dalam belajar, sedangkan An. S sering diejek karena kebiasaan tidur saat mengaji dan sekolah, serta merasa tidak diterima dalam kelompok belajar. Hasil pengkajian ditunjukkan dalam tabel 2. Tabel 2. Kriteria Inklusi Subjek Studi Kasus No. Kriteria Inklusi Santri yang menjadi korban bullying Remaja dengan usia 13-15 tahun, yang tinggal di pesantren Menunjukkan masalah dan gejala koping tidak efektif Bersedia menjadi subjek studi kasus Berdasarkan menggunakan format SDKI . , kedua subjek menunjukkan gejala mayor seperti mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah, tidak mampu memenuhi peran Oo Oo An. Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo An. Tidak mekanisme koping yang tidak sesuai. Gejala minor seperti kekhawatiran kronis, perilaku tidak asertif, dan partisipasi sosial kurang juga ditemukan. Tabel 3. Karakteristik Koping Tidak Efektif No. Tanda dan Gejala Mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah An. Tidak Oo An. Tidak Oo Tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan . esuai usi. Menggunakan koping yang tidak sesuai Tidak kebutuhan dasar Kekhawatiran kronis Penyalahgunaan zat Memanipulasi orang lain untuk memenuhi keinginannya sendiri Perilaku tidak asertif Partisipasi sosial kurang Intervensi membentuk kelompok dukungan teman sebaya berdasarkan SOP PPNI. Kedua subjek didampingi oleh teman sebaya pilihan yang mereka percaya dan memiliki pengaruh positif. Pelaksanaan intervensi dilakukan selama tiga hari, dengan sesi 10Ae15 menit per hari yang mencakup diskusi, refleksi perasaan, pemecahan masalah, serta dukungan Hasil evaluasi pada hari Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo pertama menunjukkan bahwa subjek mengungkapkan perasaan. Hari kedua menunjukkan perkembangan, dengan subjek mulai membuka diri, mulai berbicara, dan terlibat dalam percakapan. Pada hari ketiga, subjek mulai menunjukkan perilaku positif seperti ikut pendapat, serta menunjukkan penurunan emosi negatif seperti menyakiti diri. Tabel 5. Pencapaian Luaran Status Koping Kriteria Responden 1 Responden 2 Kemampuan memenuhi peran sesuai usia sia 13-15 tahu. Perilaku koping adaptif Verbalisasi kemampuan mengatasi masalah Perilaku asertif Kemampuan membina hubungan Skor : Menurun 1. Cukup Menurun 2. Sedang 3. Cukup Meningkat 4. Meningkat 5 PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dukungan teman sebaya untuk mengatasi masalah keperawatan koping tidak efektif pada santri korban bullying. Identifikasi subjek studi kasus Bullying tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan seseorang kepada orang lain baik berupa fisik maupun ucapan yang berdampak tidak baik bagi (BuAoulolo et al, 2. Tindakan juga dapat membuat korban merasa takut, malas belajar, cedera pada tubuh, merasa di asingkan di lingkungannya, sulit memahami diri, serta menderita masalah mental seperti depresi, rendah diri, cemas, gangguan tidur, ingin mencelakai diri sendiri, bahkan sampai ingin bunuh diri (Pakpahan, , 2. Salah satu santri yang menjadi sasaran bullying karena memiliki sifat penakut, sangat pemalu, dan tidak percaya diri. Keadaan itu membuatnya menjadi sasaran bullying dari santri lain, apalagi ia bukan tipe pelapor kepada pengasuh, kepada para ustadz, dan Ia juga merupakan santri yang memiliki tubuh paling kecil saat pertama kali masuk ke pesantren, serta jarang di kunjungi orang tuanya yang menurut informasi kedua orang (Nashiruddin, 2. Identifikasi subjek studi kasus menggunakan lembar pengkajian korban bullying, dengan tanda dan gejala: menilai dirinya tidak berguna, merasa tidak berarti, murung, bicara pelan dan lebih banyak diam, dan merusak diri. Hasil identifikasi tanda dan gejala pada subjek studi kasus yang menjadi korban bullying diperoleh data sebagai berikut: Menilai dirinya tidak berguna Tindakan pelecehan, intimidasi, atau penghinaan yang berulang dapat membuat mereka merasa tidak berguna dan merasa tidak dihargai oleh orang lain, merasa tidak memiliki kontribusi yang sekitarnya (Arfah, 2. Merasa tidak berarti Seseorang bullying cenderung merasa bahwa mereka tidak berarti atau rendah diri dan meragukan kemampuan serta nilai diri mereka, karena mereka merasa tidak dihargai atau diakui oleh orang lain (Arfah. Murung Korban bullying dapat merasa (Arfah. Bicara pelan dan lebih banyak Korban bullying dapat menjadi lebih pendiam dan berbicara pelan, karena mereka merasa tidak percaya diri atau takut diejek oleh orang lain (Arfah, 2. Merusak diri Korban bullying dapat melakukan perilaku merusak diri, seperti menyakiti diri sendiri atau berbahaya, sebagai cara untuk mengatasi perasaan sakit dan tidak berdaya (Arfah, 2. Masalah keperawatan koping tidak efektif pada santri korban bullying Koping tidak efektif merupakan tidak mampunya seseorang menilai dan/atau sumber yang ada untuk mengatasi masalah (SDKI PPNI, 2. Sesuai hasil pengkajian, kedua subjek studi kasus mengalami masalah koping tidak efektif. Hal tersebut dibuktikan dengan tanda dan gejala yang dialami subjek studi kasus adalah 80% sesuai Data yang ada menunjukkan keperawatan yang muncul pada An. dan An. S adalah koping tidak efektif ketidakadekuatan sistem pendukung yang ditandai dengan kurangnya partisipasi sosial dan lebih senang dengan teman karena sering tidak dihargai, tidak didengarkan dan Mekanisme faktor ini dapat meningkatkan terjadinya koping tidak efektif pada subjek studi kasus karena dapat mempengaruhi psikologis. Berdasarkan penelitian (Masruroh. Isroin, and Munawaroh 2. , dengan menggunakan analisis uji chi-squere P value<0,05, sebanyak 51 subjek studi kasus . ,7%) menunjukkan mekanisme koping stress yang di dapatkan data 53 . ,8%) subjek studi kasus memiliki mekanisme koping stres yang adaptif. Hasil analisis statistik menunjukkan p value sebesar . yang lebih kecil dari . sehingga hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. diterima, mengindikasikan adanya hubungan pada keeratan hubungan dengan nilai Contingency Coefficient sebesar 0,409 yang tergolong sedang. Temuan ini mengungkapkan bahwa tidak semua santri memperoleh dukungan sosial dari teman sebaya dan sebagian diantaranya menggunakan mekanisme koping yang maladaptif. Tindakan dukungan teman sebaya untuk meningkatkan koping tidak Dukungan teman sebaya adalah sebuah perhatian dan dukungan yang didapatkan oleh remaja dengan usia, minat dan cita-cita yang relatif sama. Dukungan sosial teman sebaya memiliki dampak positif bagi remaja, berupa kenyamanan secara fisik dan psikologis sehingga individu merasa dicintai, diperhatikan, dan dihargai sebagai bagian dari kelompok social (Syehifi, dkk. , 2. Kelebihan dukungan teman sebaya untuk mengatasi koping tidak Dibutuhkan dukungan sosial untuk mengatasi masalah yang dihadapi, terutama dari teman sebaya. Dukungan sosial menjadi tempat untuk bertanya, meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan, tempat bercerita, dan berbagai hal lainnya. Dukungan membantu individu mengatasi dan memecahkan masalah mereka serta mengurangi reaksi stres melalui penggunaan koping stres (Jayusman. Dukungan sosial dapat didefinisikan sebagai bantuan dalam bantuan, dan upaya orang lain yang dianggap dekat dengan orang tersebut. Dukungan sosial juga dapat berupa dukungan yang selalu ada untuk orang yang membutuhkannya dan memberikan manfaat emosional bagi orang yang menerimanya. Teman sebaya menjadi peran sebagai agen sosialisasi yang menjadi sumber identifikasi sosial bagi Melalui hubungan dengan Teman sebaya sering kali menjadi teladan perilaku yang membantu remaja menetapkan serta meraih tujuan pribadi dan akademik. Selain itu, teman sebaya memotivasi keterampilan sosial seperti bekerja sama, komunikasi yang efektif, dan empati terhadap sesama. Interaksi mendukung kematangan emosional dan membantu remaja dalam proses pencarian identitas diri. Remaja mengeksplorasi identitas mereka dalam konteks hubungan sosial yang Mereka sering bertukar informasi yang membuka peluang untuk memahami berbagai sudut pandang serta memperluas wawasan tentang berbagai masalah. Diskusi dengan teman sebaya memungkinkan remaja untuk dapat melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda dan memperkaya pemahaman mereka terhadap lingkungan sekitar. Dengan demikian, interaksi ini tidak hanya berpengaruh terhadap cara berpikir remaja, tetapi juga membentuk pandangan mereka tentang dunia. Pada dasarnya, pergaulan dengan teman sebaya sangat penting bagi perkembangan remaja. Melalui teman sebaya, remaja menerima umpan balik mengenai kemampuan mereka dan Mereka merumuskan dan mengungkapkan pendapat, menghargai pandangan orang lain, menegosiasikan solusi secara kooperatif, serta mengubah standar perilaku yang diterima Selain itu, remaja juga belajar menjadi pengamat yang cermat terhadap minat dan perspektif teman sebaya agar dapat berintegrasi dengan lancar dalam aktivitas Pergaulan dengan teman sebaya memiliki dampak yang Di satu sisi, interaksi ini sangat penting dalam pembentukan identitas remaja. Melalui eksplorasi dan pengalaman bersama, remaja mengembangkan keterampilan sosial penting seperti komunikasi, kerja sama, dan empati yang sangat mereka dalam hubungan interpersonal (Saida, 2. KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penulis dapat disimpulkan sebagai Bullying adalah suatu jenis perilaku negatif, agresif atau permusuhan secara konsisten yang menimbulkan kerugian fisik maupun psikologis bagi orang lain. Bullying tidak hanya terjadi di sekolah saja namun juga terjadi di Pondok Pesantren dan lebih sering terjadi pada santri yang pendiam, suka menyendiri, kurangnya perlawanan yang di berikan, sehingga aksi ini dilakukan secara langsung oleh sekelompok atau seseorang yang lebih kuat . , tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang. dengan usia, minat dan cita-cita yang relatif sama. Pemberian tindakan dukungan teman sebaya efektif untuk menurunkan masalah koping tidak efektif dengan hasil evaluasi luaran status koping yang sesuai dari skala . yaitu tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi menjadi skala . yaitu mulai mencoba mengatasi SARAN Penelitian selanjutnya dapat menambah subjek studi kasus dan membandingkan Koping tidak efektif merupakan merespon dan/atau ketidakmampuan menggunakan sumber-sumber yang ada untuk mengatasi masalah, ditandai dengan tidak mampu mengatasi masalah, tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan sesuai usia, menggunakan koping yang tidak efektif, tidak mampu kekhawatiran kronis, penyalahgunaan zat, memanipulasi orang lain untuk memenuhi keinginannya sendiri, perilaku tidak asertif, partisipasi sosial kurang. Koping tidak efektif bisa terjadi pada santri menjadi korban bullying karena sering mendapatkan ancaman yang cukup besar dari pelaku, maka individu akan mengalami stres dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Dukungan teman sebaya adalah sebuah perhatian dan dukungan kelompok yang mencakup berbagai tingkat dukungan, interaksi, dan kualitas pertemanan pada seseorang dengan Pondok Pesantren yang lain perbandingan yang signifikan. DAFTAR PUSTAKA