Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. IMPLEMENTASI WAYANG KULIT SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI SMKN 3 BANYUMAS PADA ERA MASA KINI Muhyi Majid Alatas. Sudadi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Kebumen E-mail: muhyimajidalatas16@gmail. Abstract This study aims to examine the implementation of wayang kulit as a learning medium for Islamic Religious Education (PAI) at SMK Negeri 3 Banyumas. Based on preliminary observations, the use of wayang kulit in PAI learning at the school has, in fact, never been applied. The research employed a qualitative method with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The results indicate that the implementation of wayang kulit as a PAI learning medium is still at the trial stage and has not yet been carried out optimally. Supporting factors include the potential of Banyumas local wisdom, studentsAo interest in arts and creativity, support from art teachers and PAI teachers, as well as the availability of supporting facilities. Meanwhile, inhibiting factors involve the limited experience of PAI teachers in utilizing wayang kulit as a medium, limited planning time, management obstacles in the use of facilities, the mediaAos focus on certain students, and the lack of adequate infrastructure in general schools. This study concludes that local culture-based media such as wayang kulit hold great potential as an innovative medium for PAI learning while simultaneously preserving culture. However, it requires well-prepared planning strategies, teacher training, and sufficient facility support. Keywords: Wayang Kulit. Learning Media. Islamic Religious Education. Local Wisdom. SMK Negeri 3 Banyumas Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Negeri 3 Banyumas. Berdasarkan hasil observasi awal, penggunaan wayang kulit dalam pembelajaran PAI di sekolah tersebut pada kenyataannya belum pernah diterapkan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI masih dalam tahap uji coba dan belum terlaksana secara optimal. Faktor pendukung implementasi meliputi ada potensi kearifan lokal Banyumas, minat siswa terhadap seni dan kreativitas, dukungan guru seni dan guru PAI, serta ketersediaan fasilitas pendukung. Sementara itu, faktor penghambat mencakup keterbatasan pengalaman guru PAI dalam memanfaatkan media wayang, keterbatasan waktu perencanaan, kendala manajemen sarana, keterfokusan media pada siswa tertentu, serta keterbatasan sarana Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. prasarana pada sekolah umum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media berbasis budaya lokal seperti wayang kulit memiliki potensi besar, sebagai inovasi media pembelajaran PAI sekaligus melestarikan budaya, namun diperlukanya strategi perencanaan yang matang, pelatihan guru, dan dukungan fasilitas yang memadai. Kata kunci: Wayang Kulit. Media Pembelajaran. Pendidikan Agama Islam. Kearifan Lokal. SMK Negeri 3 Banyumas PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) di era globalisasi menghadapi tantangan serius, khususnya dalam hal menarik minat dan perhatian peserta didik yang hidup di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan perubahan gaya hidup. Banyak siswa merasa bahwa pelajaran agama disampaikan dengan cara yang monoton, normatif, dan kurang menyentuh kehidupan nyata mereka, sehingga mengurangi efektivitas dalam penanaman nilai-nilai keislaman. Dalam hal ini, diperlukanya metode pembelajaran yang tidak hanya informatif, akan tetapi juga inovatif dan dapat menarik minat serta perhatian peserta didik. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran berbasis budaya lokal, seperti wayang kulit. Wayang kulit sebagai warisan budaya bangsa Indonesia bukan hanya sekadar pertunjukan seni, melainkan juga sarana penyampaian pesan moral dan religius yang kuat. Wayang adalah salah satu jenis kebudayaan Jawa yang telah ada dan dikenal oleh masyarakat Jawa sejak A1500 tahun yang lalu. Kebudayaan Hindu masuk ke Jawa membawa pengaruh pada pertunjukan bayangbayang, yang kemudian dikenal dengan pertunjukan wayang. 1 Proses penyebaran Islam di Pulau Jawa tidak terlepas dari adanya unsur kebudayaan salah satunya yaitu wayang yang di pelopori oleh walisongo. Wayang digunakan sebagai sarana penyebaran agama melalui cerita Mahabrata dan Ramayana. Seiring dengan berjalanya waktu wayang diadaptasi dengan kebudayaan lokal Jawa sehingga menciptakan kesenian yang unik. 2 Sejak zaman Walisongo, terutama Sunan Kalijaga. Fitria Nungki Anjani dan Fahruddin. AuKesenian Wayang Kulit sebagai Sarana Publikasi Sejarah dalam Penyebaran Islam di Jawa,Ay (Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta, 2. , diakses melalui email: nungkianjani8@gmail. Putri Rahmawati dan Sumiati. AuWayang sebagai Media Pendidikan dan Pembentukan Karakter dalam Budaya Jawa,Ay Jurnal Budaya dan Pendidikan. (Maret 2. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. wayang digunakan sebagai media dakwah Islam yang efektif. 3 Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia, ia merupakan seorang Wali Songo yang dikenal sebagai ulama . aAo. , sufi, dan juga seniman. Beliau bisa dikatakan ulama yang inovatif dan kreatif dalam berdakwah. Metode dakwah yang digunakan oleh Sunan Kalijaga adalah melalui pendekatan budaya dan kesenian yaitu wayang. Melalui pendidikan dan seni budaya maka dirasa peserta didik akan menjadi pribadi mandiri dan percaya diri, dikarenakan kesenian berperan bagi pertumbuhan pemikiran dan membantu meningkatkan kepercayaan diri peserta didik. 5 Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media berbasis budaya kesenian berpotensi mampu meningkatkan partisipasi aktif dan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran PAI. Permasalahan tersebut semakin kompleks dengan adanya pengaruh media digital dan lingkungan sosial yang semakin terbuka. Anak-anak usia 6Ae12 tahun berada dalam masa kritis perkembangan kognitif dan afektif, sehingga sangat mudah terpengaruh oleh nilai-nilai luar yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam kondisi ini, peran orang tua sebagai filter utama dalam membentuk pemahaman dan sikap religius anak menjadi sangat urgen. Menurut Uzmal Himmah dan Wahidah Fitriani, karakter religius anak sangat dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua dalam proses pembiasaan, motivasi, dan keteladanan, terutama dalam menghadapi era digital yang penuh tantangan moral. SMK Negeri 3 Banyumas sebagai sekolah menengah kejuruan di daerah Jawa Tengah memiliki beberapa program keahlian di bidang seni dan industri kreatif, serta program Seni Broadcasting dan Film. Peneliti melihat potensi besar dalam mengintegrasikan seni pewayangan ke dalam pembelajaran agama Islam. 7 Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dapat menghasilkan kerja sama antara guru PAI dan seniman lokal, sehingga menghasilkan metode pembelajaran yang lebih hidup, inspiratif, dan relevan dengan latar belakang budaya Deni Irawan. AuDakwah Kultural Sunan Kalijaga di Tanah Jawa,Ay Jurnal SAMBAS: Studi Agama. Masyarakat. Budaya. Adat. Sejarah 6, no. 2 (Oktober 2023AeMaret 2. Ibid. Muhammad Rianda. AuPerbandingan Efektivitas Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Tradisional dan Modern di Kabupaten Langkat,Ay Jurnal Edukatif 2, no. : 352Ae360, https://ejournal. com/index. php/edukat Uzmal Himmah & Wahidah Fitriani. AuPeran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Religius Anak di Era Digital,Ay Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 15 No. , hlm. 45Ae46. Dokumentasi internal SMK Negeri 3 Banyumas. Wawancara dengan Guru PAI, 2025. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. 8 Namun demikian, pemanfaatan wayang kulit sebagai media pembelajaran tentu tidak lepas dari tantangan, seperti keterbatasan sumber daya, waktu, dan kompetensi guru dalam memahami pewayangan serta implementasinya ke dalam Pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan untuk menggali lebih dalam bagaimana implementasi, kelebihan, serta kendala penggunaan wayang kulit sebagai media pembelajaran agama Islam di SMK Negeri 3 Banyumas pada era masa kini METODE PENELITIAN Penelitian ini berlangsung di SMKN 3 BANYUMAS, beralamat di Jl. Jendral Gatot Soebroto No. 1 Sudagaran Banyumas. Sudagaran. Kec. Banyumas. Kab. Banyumas. Jawa Tengah. SMK N 3 Banyumas merupakan salah satu sekolah seni kejuruan di Jawa Tengah dengan potensi kultural dan inovasi dalam pembelajaran berbasis budaya lokal. Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan selama kurang lebih dari bulan Juli sampai Agustus 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana wayang kulit diimplementasikan sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK N 3 Banyumas pada era masa kini. Subjek dan informan penelitian meliputi guru PAI, guru seni Pedalangan, peserta didik, dan kepala Sekolah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Sedangkan untuk analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interaktif, yakni melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, sebagaimana dikemukakan oleh Miles & Huberman. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, memungkinkan peneliti untuk memahami makna di balik data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI di SMK N 3 Banyumas, dapat diketahui bahwa wayang kulit belum pernah digunakan sebagai media Ibid. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. pembelajaran di SMK Negeri 3 Banyumas, dikarenakan kurangnya waktu, kurangnya persiapan dan terkait sarana prasarana yang belum memadai. Pada saat penelitian masih berlangsung, proses kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam masih memanfaatkan media pembelajaran konvensional seperti buku teks, papan tulis, slide presentasi, video pembelajaran, dan diskusi kelas. Hasil wawancara dengan Bapak Aminudin Al Falih. Pd. I selaku guru PAI menunjukkan bahwa media pembelajaran yang sering digunakan adalah media cetak, terutama buku paket. Hal ini disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana sekolah yang belum mendukung penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi maupun inovasi berbasis budaya lokal. Sebagaimana disampaikan beliau bahwa media cetak masih menjadi pilihan utama dalam kegiatan belajar Sementara itu, wawancara dengan Bapak Nur SaAoid. Pd menjelaskan bahwa adanya kendala dalam melakukan inovasi media pembelajaran PAI. Menurut beliau, keterbatasan waktu, padatnya agenda sekolah, serta banyaknya beban administrasi menjadi faktor yang menghambat guru untuk merancang media pembelajaran yang kreatif. Walaupun demikian, beliau sudah berusaha memanfaatkan media berbasis digital seperti Google Classroom. Google Slides. Microsoft 365, dan Canva untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Media digital ini dipandang lebih praktis dan mudah diakses oleh peserta didik. Wawancara dengan salah satu peserta didik kelas X Pedalangan. Bibit Mulyo, memperkuat temuan peneliti sebelumnya. Menurutnya, pembelajaran PAI di sekolah masih sering menggunakan media cetak seperti buku pelajaran, serta mencari materi melalui Google untuk kemudian didiskusikan bersama di kelas. Peserta didik juga menegaskan bahwa media wayang kulit belum pernah digunakan dalam pembelajaran PAI. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran masih terbatas pada buku teks, papan tulis, slide presentasi, video pembelajaran, dan diskusi kelas. Hal ini selaras dengan hasil wawancara, bahwa faktor keterbatasan sarana prasarana, minimnya waktu persiapan guru, serta belum adanya perencanaan inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal menyebabkan wayang kulit belum digunakan sebagai media pembelajaran di SMK Negeri 3 Banyumas. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Implementasi Wayang Kulit sebagai Media Pembelajaran PAI di SMK Negeri 3 Banyumas Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI), guru seni pedalangan, dan kepala sekolah, diketahui bahwa implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI belum pernah dilakukan secara langsung di dalam kelas. Faktor penghambat implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI ialah keterbatasan waktu, padatnya kurikulum, dan belum adanya modul atau naskah wayang yang sesuai dengan materi PAI. Meskipun demikian, para narasumber sepakat bahwa wayang kulit memiliki potensi yang signifikan sebagai media pembelajaran PAI. Hal ini sejalan dengan teori Contextual Teaching and Learning (CTL), yang menekankan bahwa kedekatan media dengan pengalaman nyata siswa dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman materi. Hasil uji coba implementasi terbatas yang dilakukan peneliti pada tanggal 12 Agustus 2025 menunjukkan beberapa dampak positif: . peserta didik lebih antusias mengikuti pembelajaran karena media wayang belum pernah digunakan sebelumnya, . nilai-nilai Islam dapat ditanamkan lebih konkret melalui cerita wayang, dan . terdapat integrasi antara pendidikan agama dan pelestarian budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa inovasi pembelajaran berbasis budaya dapat memperkuat relevansi pendidikan agama di sekolah kejuruan berbasis seni. Nilai-nilai Keislaman dalam Wayang Kulit Berdasarkan Analisis data lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dapat disampaikan melalui wayang kulit peneliti membagi kedalam tiga dimensi: Bentuk/ simbol wayang Wayang kulit kaya akan makna dan atau simbol filosofis. Misalnya, tokoh Semar menggambarkan tauhid . engan satu jari yang menunju. , sedangkan gunungan . yang tergambar ekosistem alam didalamnya seperti hewanhewan dan tumbuh-tumhuhan yang merepresentasikan sifat-sifat alami manusia, termasuk sifat negatif seperti kesombongan, amarah, dan keserakahan. Guru dapat memanfaatkan simbol ini untuk menanamkan akhlak Islam, seperti kerendahan Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. hati, kesabaran, dan kontrol diri. Cerita atau lakon Wayang Lakon Bima Suci atau Bima Ngaji sarat dengan ajaran tasawuf Islam Jawa. Dalam cerita tersebut, ketaatan Bima pada gurunya mencerminkan adab terhadap guru, pencariannya melambangkan perjuangan spiritual, dan pertemuannya dengan Dewa Ruci menggambarkan pencapaian maAorifat kepada Allah. Narasi ini dapat dijadikan contoh konkret bagi siswa tentang ketekunan, keikhlasan, dan perjuangan melawan hawa nafsu. Wayang kulit sebagai seni pertunjukan Wayang tidak hanya tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan dan tatanan. Pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana penyampaian pesan moral, etika sosial, dan ajaran Islam dalam bentuk hiburan yang menarik. Hal ini relevan dengan konsep pendidikan karakter yang menekankan pentingnya media budaya dalam pembentukan identitas generasi muda. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Penelitian menunjukan bahwa implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI menjumpai faktor pendukung dan penghambat. Faktor Pendukung Faktor pendukung implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI Potensi kearifan lokal Banyumas yang kuat, dengan eksistensi seni pedalangan yang masih hidup. Minat siswa terhadap seni dan kreativitas, terutama di jurusan pedalangan. Dukungan guru seni dan guru PAI untuk kolaborasi pembelajaran. Fleksibilitas Kurikulum Merdeka yang membuka ruang bagi muatan lokal. Ketersediaan sarana pendukung . uang praktek pedalangan dan perangkat Faktor Penghambat Faktor penghambat implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran PAI Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. antara lain: Belum adanya pengalaman langsung guru PAI menggunakan wayang sebagai Keterbatasan waktu dan padatnya kurikulum. Tantangan manajemen waktu dan pemakaian sarana wayang kulit antar kelas. Konsen media yang lebih cocok bagi siswa seni pedalangan, sehingga butuh adaptasi dan penyesuaian jika diterapkan pada jurusan lain. Keterbatasan sarana di sekolah-sekolah umum/non-seni, yang membuat implementasi kurang praktis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai implementasi wayang kulit sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Negeri 3 Banyumas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan wayang kulit dalam proses kegiatan belajar mengajar PAI hingga saat ini belum pernah diterapkan secara langsung. Guru masih cenderung menggunakan media cetak, presentasi, serta media online sederhana karena terbatasnya waktu, sarana, dan beban administrasi yang cukup padat. Meskipun demikian, wayang kulit memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran karena mampu menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui simbol, tokoh, dan cerita yang dekat dengan kehidupan siswa serta berakar pada budaya lokal. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat sejumlah faktor pendukung, seperti adanya kearifan lokal, minat siswa pada seni pedalangan, dukungan guru, serta fleksibilitas Kurikulum Merdeka. Namun, terdapat pula berbagai hambatan, seperti kurangnya pengalaman guru dalam mengintegrasikan media budaya lokal, padatnya kurikulum, keterbatasan sarana prasarana, serta pandangan bahwa wayang kulit hanya relevan pada jurusan seni. Secara keseluruhan, integrasi wayang kulit dalam pembelajaran PAI memiliki keterkaitan penting, baik dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, melestarikan budaya lokal, maupun memperkuat pendidikan karakter peserta didik. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 4 . Tahun 2025: 429-437 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. DAFTAR PUSTAKA