Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) Salsabila Fajarwati Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Univeristas Muhammadiyah Surakarta a510210109@student. Khoirun Nisa, dan Minsih Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Univeristas Muhammadiyah Surakarta a510210133@student. id dan min139@ums. Abstrak Interaksi sosial merupakan salah satu keterampilan hidup manusia dengan sesamanya. Dalam pembelajaran inklusif interaksi sosial dapat ditemukan dalam model pembelajaran project based learning (PjBL). Artikel ini bertujuan . mendeskripsikan interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi, . mendeskripsikan peran model pembelajaran project based learning (PJBL) dalam menciptakan interaksi belajar siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Hasil penelitian didapat . interaksi sosial yang terjadi di sekolah dasar inklusif masih memerlukan perhatian khusus, dan perlu penyesuaian serta memupuk budaya saling menghargai di sekolah, . pembelajaran berbasis project memberikan peran dalam menciptakan interaksi sosial siswa regular dan berkebutuhan khusus dimana mereka saling membantu dalam pengerjaan project. Siswa berkbutuhan khusus yang sebelumnya jarang berinteraksi menjadi terdorong untuk bergabung bersama temannya. Kata Kunci: interaksi sosial, project based learning, siswa berkebutuhan khusus di mana pendidikan membantu mereka memahami diri dan lingkungan sekitarnya. Kehadiran merupakan karakteristik khas manusia dan menjadi elemen penting dalam pembentukan individu menjadi sumber daya manusia yang (Devy Wahyu Cindy Mulyani, 2. Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang mengalami gangguan dalam perkembangan dan memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Mereka mungkin menghadapi keterbatasan dalam kemampuan fisik, seperti tunanetra atau tunarungu, atau dalam aspek psikologis, seperti autisme atau ADHD. Anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam belajar dan perkembangan, sehingga membutuhkan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan PENDAHULUAN Interaksi sosial adalah fondasi dari hubungan manusia dengan sesama di mana mereka berkomunikasi, saling berhubungan, dan berbagi pengalaman. Hal tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia (Fahri & Qusyairi, 2. Anak-anak berkebutuhan khusus terkadang mengalami hambatan dalam berinteraksi karena berbagai alasan baik itu karena kondisi yang dimiliki sejak lahir atau karena faktor-faktor Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalin hubungan sosial, berkomunikasi dengan orang lain, atau bahkan memahami norma-norma sosial yang berlaku (Laras et al. , 2. Interaksi sosial salah satunya dapat ditemukan pada pendidikan Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) belajar individu mereka (Fakhiratunnisa et al. Semua anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus berhak mendapatkan pendidikan yang sama seperti anak-anak pada umumnya di sekolah reguler. Ini berarti memberikan kesempatan yang sama bagi mereka untuk belajar dan tumbuh bersama teman sebaya mereka. (Neela Afifah, 2. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Berbagai jenis kebutuhan khusus baik itu dalam hal fisik, kognitif, maupun emosional memerlukan strategi pembelajaran yang disesuaikan untuk membantu mereka mencapai potensi maksimal mereka. Jika siswa menunjukkan adanya perubahan tingkah laku, maka dapat dikatakan telah menyelesaikan proses belajar (Minsih et al. , 2. Peranan guru sebagai pengelola kelas menjadi lebih penting karena memerlukan pendekatan yang lebih individual dan disesuaikan. Aktivitas dan kreativitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran haruslah sangat memperhatikan kebutuhan dan karakteristik khusus dari setiap Variasi pengajaran yang dilakukan guru juga harus disesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Penggunaan media pengajaran yang sesuai dan model serta metode pembelajaran yang mendukung perkembangan kognitif, kreativitas, bahasa, sosial, dan emosional menjadi kunci keberhasilan dalam pembelajaran mereka (Amelia & Aisya, 2. Ada beragam model pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi guru, termasuk model konvensional yang sering kali berakhir dengan penilaian, meskipun belum pasti apakah pelatihan tersebut diaplikasikan di lapangan atau tidak (Soedjono et al. , 2. Salah satunya melalui pembelajaran berbasis proyek (Projct Based Learnin. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa terlibat dalam proyek nyata yang membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan aktif. Model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learnin. adalah salah satu opsi yang sesuai untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa (Sayekti et al. , 2. Karakteristik utama dari model ini adalah pembagian siswa ke dalam kelompok kerja yang dipilih baik oleh pendidik maupun siswa. Proyek yang dikerjakan dapat berupa produk fisik atau kegiatan yang memerlukan kemampuan analisis. PjBL bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang otentik dan relevan bagi siswa, dengan menyediakan tantangan dunia nyata yang membutuhkan pemecahan masalah dan kesimpulan yang dihasilkan oleh siswa sendiri. Dalam prosesnya, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dan sumber daya yang diperlukan siswa untuk melibatkan pengembangan keterampilan praktis siswa, sementara proyek dalam bentuk kegiatan menekankan pada kemampuan analisis dan Langkah-langkah penyelesaian proyek diikuti dengan pedoman yang telah ditentukan, yang membantu siswa dalam menjalankan proyek dengan sistematis. (Mones et al. , 2. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) memiliki implikasi yang signifikan dalam konteks pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dalam PjBL, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran mereka, dengan mendapatkan dukungan dan adaptasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Salah satu aspek penting dari PjBL adalah pengorganisasian kelompok kerja di mana anak-anak dikelompokkan secara strategis untuk mendukung kolaborasi dan pertumbuhan mereka. Penerapan PjBL dalam konteks anak berkebutuhan khusus juga memungkinkan pengembangan keterampilan sosial, komunikasi, dan keterampilan hidup, serta pengetahuan akademis. PjBL tidak hanya menjadi platform untuk pembelajaran yang Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. efektif, tetapi juga membantu anak-anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil di sekolah dan kehidupan sehari-hari termasuk dalam interaksi sosial (Siregar et al. , 2. Interaksi pembelajaran berbasis proyek dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi mereka. Melalui kolaborasi dalam proyek-proyek, mereka dapat belajar untuk bekerja sama, menghormati pendapat orang lain, dan mengatasi tantangan bersama-sama. Selain itu. PjBL memberi mereka kesempatan untuk merasakan tanggung jawab atas tugastugas mereka sendiri, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka. Dengan demikian, pembelajaran berbasis mengembangkan pengetahuan dan keterampilan akademis, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat interaksi sosial dan kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus(Mufidah. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut: . berkebutuhan khusus di sekolah inklusi, . mendeskripsikan peran model pembelajaran project based learning (PJBL) dalam berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. alam Prasanti, 2. penelitian kualitatif adalah metode riset yang fokus pada eksplorasi dan pemahaman mendalam tentang fenomena alamiah di lapangan, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui berbagai teknik yang beragam, kemudian dianalisis secara induktif untuk mengidentifikasi pola, tema, dan makna yang muncul. Hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan pada pemahaman mendalam dan interpretatif daripada generalisasi. Data dalam penelitian ini berupa informasi yang didapat melalui wawancara dengan para infroman yaitu guru kelas V. GPK, serta siswa A dan siswa regular . iswa R). Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti (Apriyanti et al. dan wawancara dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data atau informasi langsung dari narasumber yang bersangkutan dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran dikelas. Analisis ini akan dilakukan secara tematis, di mana tema-tema utama yang muncul dari data akan diidentifikasi dan dianalisis untuk memahami dampak pelatihan PjBL terhadap kinerja belajar siswa berkebutuhan khusus. Validasi data yang digunakan adalah triangulasi metode dengan membandingkan hasil observasi dan hasil Analisis ini akan dilakukan secara tematis, di mana tema-tema utama yang muncul dari data akan diidentifikasi dan dianalisis untuk memahami dampak pelatihan PjBL terhadap kinerja belajar siswa berkebutuhan Validasi data yang digunakan adalah triangulasi metode dengan membandingkan hasil observasi dan hasil wawancara. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendalami pengaruh pelatihan PjBL terhadap peningkatan kinerja belajar siswa berkebutuhan khusus. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti mendalam tentang pengalaman dan persepsi subjek penelitian, serta memungkinkan penggalian data yang kaya dan detail tentang fenomena yang diteliti. Menurut Sugiyono HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil wawancara dengan tiga narasumber diantaranya guru mapel, guru pendamping khusus . hadow Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) teache. , dan siswa regular. Wawancara dilakukan dengan dengan beberapa aspek berkebutuhan khusus, hambatan atau tantangan, strategi guru kelas bersama guru pendamping khusus, serta peran guru. Tabel 1. Hasil Wawancara Dengan Narasumber Mengenai Interaksi Sosial Siswa Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi Inisial Informa Ibu E Aspek yang Tantangan guru dalam khusus dalam IPA Hasil Tantangan utama yang dihadapi yaitu memastikan semua didukung, terutama berkomunikasi atau lingkungan yang aman dan inklusif. Cara guru Guru menggunakan individual Bersama dengan kebutuhan setiap anak, serta pelatihan kepada siswa regular agar teman sebaya yang mendukung dalam kegiatan proyek. Cara guru Wali siswa tidak teacher merupakan membedakan bagian dari tim Ibu A sehingga seluruh siswa menganggap memiliki 2 guru. Penedekatan kemandirian siswa Selain itu, komunikasi yang orang tua, sesama dalam mendukung tumbuh kembang Hambatan Tidak ada, karena tua guru n kepada orang tua dan ada rentang pembelajaran waktu alat dan bahan untuk dibawa ke sekolah, jadi itu penting komunikasi dengan orang tua. Interaksi Interaksi sosial siswa siswa berkebutuhan berkebutuhan khusus di kelas 5 hambatan fisik atau perhatian lebih dari Meskipun memerlukan masa adaptasi, hal ini pelajaran, termasuk IPA. Guru Kelas Bersama Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. Tantangan guru dalam khusus dalam IPA Cara Cara siswa tidak sama membangun dengan memberi mendorong mereka Dengan hambatan berarti. Sejauh ini belum maupun hambatan. Tetapi memang di awal butuh sekali lingkungan bahwa Ae khusus ini adalah teman kita dan kita Dengan Sesuai siswa perlu terus diingatkan untuk saling menghargai dan menyayangi, membeda-bedakan kelak mereka pun Strategi khusus dalam siswa ABK Kerjasama Cara Kerjasama dengan orang mampu membantu orang lain. Strateginya yaitu terus mengingatkan dan mengajak anak mengatasi trauma akibat pengalaman di sekolah noniklusi, menyediakan ruang aman bagi anak untuk berkembang. Kepala kolaborasi seluruh staf, dan komite dengan mengikuti pelatihan di PLDPI untuk memahami Hasil tersebut diterapkan di sekolah, dan menyesuaikan diri inklusif yang telah Selain di kelas, termasuk jika ada laporan dari orang Koordinasi dengan orang tua anak khusus sejak awal Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) Siswa Regular tahun ajaran 2022 karena hingga kini komunikasi antara guru dan orang tua keterbukaan serta dukungan terhadap bakat dan minat Contoh Pengalaman dari siswa A, yang sosial dengan berkebutuhan teman sebaya khusus. Ia ramah, suka bermain dan aktif dalam kerja Saat ia menghibur, serta meminta maaf dan Contoh interaksi sosial IPA bagi anak Strategi guru Ibu A Tabel 2. Peran Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL) Dalam Menciptakan Interaksi Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi Inisial Aspek yang Hasil Informan diwawancarai Ibu E Interaksi Kolaborasi sosial siswa dalam berkebutuhan tidak IPAS, tetapi juga kerja sama, dan terhadap orang Contoh interaksi sosial IPA bagi anak Strategi guru Siswa A yang pendiam menjadi IPA tentang system Ketertarikannya pada kegiatan ini siswa A untuk Guru percaya bahwa masing-masing, sehingga perlu refleksi bersama Siswa A kadang lupa membawa barang, sehingga ia tantrum atau Temantemannya misalnya dengan Hal serupa Siswa B . low learne. jika ia pelajaran, temantemannya mau Strategi Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. dan peran guru dalam pembelajaran IPA berbasis proyek. dua ABK di kelas 5 yang instruksi guru, diberikan guru di depan kelas. Peran guru Wali kelas sering membuat proyek interaksi sosial siswa dengan teman bekerja saling membantu dalam kelompok. Siswa Bentuk kerja Saya membantu Regular sama dalam siswa A dengan mengambil air project dikelas saat IPA karena ia tidak Hasil wawancara diatas didapat bahwa interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus selama pembelajaran proyek terjadi, hal tersebut dilihat dari siswa yang saling tolong menolong saat membuat proyek. Selain itu, guru juga menumbuhkan budaya untuk selalu memberikan arahan bahwa sesama teman harus saling menghargai dan membantu. Selain wawancara, observasi juga dilakukan dua kali selama pembelajaran proyek Observasi dilakukan dengan berdasarkan beberapa aspek yakni mulai dari keatifan siswa berkebutuhan khusus, bentuk interaksi sosial, kolaborasi atau kerja sama, perkembangan sosial, hambatan atau tantangan Tabel 3. Hasil Observasi Siswa Berkebutuhan Khusus Selama Kegiatan Pembelajaran Aspek yang Hasil Observasi keaktifan siswa A Siswa A menjawab salam dari guru A siswa mengenai perasaan hari A Dalam demonstrasi pernapasan A Siswa menjawab pertanyaan Bentuk interaksi A Siswa membantu siswa A dalam mengeluarkan alat dan bahan. A Siswa bahwa alat dan bahan A Dalam prosesnya siswa proyek masing-masing A Siswa memberitahu siswa A langkahlangkah yang harus A Pada satu meja siswa A Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) A Kolaborasi atau kerja sama A Perkembangan A Hambatan atau A Peran guru saling meminjamkan alat seperti gunting atau Siswa A meminta bantuan kepada guru mengenai proyeknya. Siswa membantu siswa A meminjamkan alat dan Sebelum pembelajaran proyek dimulai siswa A cenderung menyendiri, namun setelah mulai membuat proyek siswa A mulai membaur terlihat maksimal. Hambatan kesulitan komunikasi, meskipun siswa A bantuan, tetapi siswa A Guru yang hadir saat guru kelas 5 dan guru pendamping khusus. Dalam guru sangat responsif kepada siswa reguler berkebutuhan khusus. Guru terpusat pada siswa sehingga kelas selalu A Guru berperan sebagai membantu siswa dalam membuat proyek. A Guru berkebutuhan khusus pembelajaran dan siaga bila siswa berkbutuhan Dari hasil observasi ditemukan bahwa interaksi sosial siswa berkebutuhan khusus cukup terlihat dalam beberapa kegiatan seperti dalam membuat proyek dimana siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler saling berinteraksi dalam meminjamkan alat dan bahan, memberitahu langkah yang harus Tidak hanya itu, siswa berkebutuhan khusus juga ikut bertanya kepada guru ketika dia sudah bingung, seperti teman yang lain. Setelah pembelajaran IPA berbasis proyek materi pernapasan selesai terlihat adanya perkembangan sosial dari siswa berkbutuhan khusus yakni beberapakali ikut membaur dengan teman-teman sekelasnya. Interaksi Sosial Siswa Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan individu yang mengalami variasi atau perbedaan dari standar perkembangan anak pada umumnya, baik dalam aspek fisik, mental, intelektual, sosial, maupun emosional (Novitasari et al. , 2. Dalam aspek fisik. ABK dapat mencakup kondisi seperti kebutaan, ketulian, gangguan bicara. Sedangkan dalam aspek sosial beberapa karakteristik gangguan yang dapat dialami siswa diantaranya tingkah laku yang tidak Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. menurut, berkelahi, merusak, mengumpat, (Widiastuti, 2. Solusi untuk tantangan pendidikan yang didukung oleh bimbingan dan latihan dari para pendidik serta orang tua dengan tujuan memahami kebutuhan unik dan potensi anak tersebut, sehingga mereka dapat mencapai perkembangan optimal sesuai dengan kekhususannya (Sijabat, 2. Interaksi sosial tidak hanya mengacu pada hubungan antara anak dengan sesama anak, tetapi juga melibatkan interaksi dengan guru, asisten, dan sumber daya lainnya dalam lingkungan pembelajaran. Hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan inklusif di mana pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang merangkul semua siswa tanpa memandang kondisi fisik, sosial, mental, emosional, gender, status ekonomi, etnisitas, lokasi, budaya, atau bahasa mereka (Wulandari et , 2. Interaksi sosial memegang peran krusial bagi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus karena memberikan pertumbuhan mereka. Melalui interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa, anak-anak keterampilan komunikasi dan sosial, yang mencakup belajar berbicara, mendengarkan, memahami bahasa tubuh, serta mengenali dan mengelola emosi. Tidak hanya itu bahwa mereka juga mempelajari normanorma sosial, seperti cara bekerja sama dan menghormati perasaan orang lain. Interaksi sosial yang positif membantu meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri mereka, serta mendukung perkembangan emosional dan empati. (Alexando & Sendratari, 2. Interaksi sosial yang terjadi di luar pembelajaran antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler cukup namun masih memerlukan beberapa perhatian Hal tersebut dikarenakan terkadang siswa berkebutuhan khusus lebih suka Berdasarkan dengan siswa reguler, siswa berkebutuhan perubahan suasana hati dalam sekejap meskipun begitu beberapa siswa tetap memberikan bantuan seperti mengambilkan tisu ketika PDBK sedang menangis. Dalam hal ini sekolah memiliki budaya untuk selalu menumbuhkan budaya berinteraksi teman-teman. Hasil wawancara dengan guru menyatakan menumbuhkan interaksi sosial yakni selalu mengingatkan kepada siswa untuk selalu menghargai, saling tolong menolong, harus saling menyayangi bahwa teman-teman yang berkebutuhan khusus ini meskipun mereka meimiliki kebuthan khusus, tetapi dimasa depan bisa jadi kita yang akan dibantu oleh mereka. Sehingga, kita harus saling membantu dan tidak membedabedakan. Sebagai memberikan pemahaman kepada siswa lainnya pentingnya menghargai perbedaan tidak hanya berkaitan dengan aspek suku, ras, etnis, dan agama, tetapi juga mencakup perbedaan fisik dan psikis seperti antara anak normal dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pada hakikatnya setiap individu diciptakan dengan keunikannya dan dengan karakteristik masing-masing (Zagoto et al. , 2. Oleh karena itu, sikap toleransi perlu dipupuk di lingkungan sekolah (Mursyidah et al. Dijelaskan bahwa agar kelas tidak membuat perbedaan di antara siswa berkebutuhan khusus maka wali kelas 5 telah mengadopsi sebuah strategi dengan menyampaikan bahwa shadow teacher tersebut juga memiliki peran sebagai guru Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) kelas 5 sehingga kelas tersebut dihadiri oleh dua guru. Tujuan dari tindakan ini juga adalah untuk mencegah siswa berkebutuhan khusus merasa terlalu bergantung dengan menyatakan bahwa shadow teacher tidak hanya hadir untuk memberikan dukungan atau bantuan khusus kepada mereka. Selain itu, pentingnya berkomunikasi dengan kedua orang tua ditekankan untuk mengkoordinasikan perkembangan siswa. Shadow teacher adalah seorang pendamping yang memberikan dukungan individual kepada anak-anak dalam lingkungan Mereka kolaboratif dengan guru untuk menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan unik masing-masing anak (Qiftiyah & Calista. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab dalam memberikan pelatihan kepada siswa tanpa kebutuhan khusus untuk meningkatkan inklusi sosial dan membantu (Wilyanita et al. , 2. Seorang guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswanya, rekan guru, dan juga masyarakat secara umum. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Emerson et al. , 2. dimana konsep mindfulness banyak digunakan karena dikaitkan dengan peningkatan hasil emosional bagi guru dan partisipasi/interaksi sosial. Peran Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL) Dalam Menciptakan Interaksi Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Inklusi Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat dalam pembelajaran melalui eksplorasi, evaluasi, dan sintesis informasi untuk mencapai hasil belajar yang Dalam berkebutuhan khusus pada penerapan PjBL dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individu siswa. Dalam model PJBL ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi mereka juga aktif terlibat dalam mengevaluasi proyek-proyek yang relevan dengan materi pelajaran (Kamaruddin et , 2. Guru dapat mengadaptasi proyek atau kegiatan yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan keterampilan siswa, serta menyediakan dukungan tambahan seperti modifikasi tugas, bantuan visual, atau pendekatan pembelajaran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian maka PjBL dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan hasil belajar bagi siswa berkebutuhan khusus dalam mata pelajaran IPA (Djoko Suwito, 2. Penerapan memiliki peran besar dalam menumbuhkan interaksi sosial siswa reguler dan berkebutuhan khusus. Sebagai contoh dalam penerapan PJBL mata pelajaran IPA di kelas V SD yang diobservasi penulis memberikan manfaat besar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama dalam hal interaksi sosial. Dengan bekerja sama dalam proyek-proyek ini mereka tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang ilmu kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menghargai usaha teman-teman Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, kesempatan ini sangat penting untuk meningkatkan keterampilan sosial dalam suasana yang mendukung. Misalnya, dalam proyek pembelajaran IPA tentang sebelumnya cenderung menarik diri dari interaksi sosial menunjukkan partisipasi yang aktif dan antusiasme yang tinggi. Keterlibatannya yang mendalam dalam topik tersebut menghasilkan interaksi yang positif dengan teman-temannya yang Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. sebelumnya tidak terjadi. Dampaknya tidak pemahaman konsep-konsep IPA tetapi juga berdampak positif pada kepercayaan diri dan motivasi belajarnya. Melalui proyekproyek ini, siswa menghasilkan berbagai produk seperti karya tulis atau gambar. Model PjBL memberikan fleksibilitas bagi guru dalam mengelola pembelajaran di mereka (Maisyarah & Lena, 2. Dalam penerapan pembelajaran berbasis proyek membutuhkan waktu adaptasi dengan perlunya pengondisian lingkungan. Di mana guru juga perlu mengembangkan keterampilan fasilitasi dan kolaborasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proyek dan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Hal (Odescalchi et al. , 2. semakin tinggi guru menilai kemampuan intrapersonal mereka, semakin banyak strategi interaksi sosial langsung dan tidak langsung yang mereka terapkan. Dengan mengatasi tantangan ini secara efektif di mana guru pembelajaran yang merangsang dan memberdayakan siswa melalui pendekatan PjBL (Wardhan. Rukayah, 2. Hal tersebut juga bertujuan agar memastikan bahwa semua anak merasa diterima dan didukung di dalam kelompok kerja mereka. Beberapa anak mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi atau bekerja Namun, tentunya sebagai seorang tenaga pengajar bahwa peran guru dalam proses pembelajaran tetap menjadi kunci. Kesuksesan pembelajaran di kelas sangat bergantung pada kemampuan guru sebagai pemimpin untuk menyusun ide-ide yang dapat membangkitkan minat, semangat, dan gairah belajar siswa (Ariani, 2. Guru perlu memastikan bahwa proyek yang dipilih relevan dengan materi pembelajaran serta dapat menantang siswa secara Kedua, manajemen waktu menjadi hal penting dalam PjBL karena proyek cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama daripada pembelajaran konvensional (Yusriani et al. , 2. Guru perlu merencanakan dengan cermat agar proyek dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang ditetapkan tanpa mengorbankan materi pembelajaran lainnya. Selain itu, tantangan lain termasuk penilaian yang komprehensif terhadap hasil proyek pemantauan kemajuan setiap siswa, serta memberikan dukungan yang memadai kepada siswa yang menghadapi kesulitan Dalam pembelajaran IPA berbasis proyek (PJBL) bagi anak berkebutuhan khusus kehadiran shadow teacher sangatlah Shadow teacher bertindak sebagai pendamping yang memberikan dukungan individual kepada anak-anak tersebut, membantu mereka dalam memahami konsep-konsep IPA yang diajarkan, serta membimbing mereka dalam berpartisipasi aktif dalam proyek-proyek pembelajaran (Andani et al. , 2. Shadow teacher juga berperan dalam mengakomodasi kebutuhan khusus setiap anak, seperti memberikan bantuan tambahan dalam memahami instruksi, menyediakan modifikasi tugas atau materi, serta membantu anak-anak dalam berinteraksi sosial dengan temanteman sebayanya. Dengan adanya shadow teacher, diharapkan anak berkebutuhan khusus dapat merasa lebih terdukung dan dapat mengambil bagian secara maksimal dalam pembelajaran IPA berbasis proyek (Hastutik, 2. Dalam hal tersebut maka interaksi memegang peran penting misalnya saja dalam situasi di mana siswa berkebutuhan Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) khusus seperti siswa A yang memiliki autisme, tidak memiliki barang yang rekan-rekan seringkali memberikan dukungan dengan memberikan bantuan atau meminjamkan barang yang diperlukan. Begitu pula, jika ada siswa lain, seperti siswa B yang lambat belajar yang kesulitan memahami pelajaran, teman-temannya memberikan penjelasan tambahan untuk membantu pemahaman siswa tersebut. Dalam pendidikan inklusi bahwa hal terebt adalah contoh konkret dari solidaritas dan kerjasama di antara siswa, di mana dukungan dan bantuan diberikan tanpa memandang perbedaan (Wulandari et al. Penting bagi guru untuk memahami bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang unik sehingga mereka harus berusaha untuk menemukan dan mengembangkan bakatbakat tersebut. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, guru perlu melakukan refleksi bersama dengan siswa untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan dan mengeksplorasi cara untuk lebih mendukung perkembangan bakat dan kemampuan siswa secara individual (Sugiarto et al. , 2. Dalam berbasis proyek (PjBL) dalam mata pelajaran IPA, guru dihadapkan pada berbagai hambatan yang memerlukan strategi khusus untuk diatasi. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah menyusun suatu rencana pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa dalam serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan efektif dan efisien. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini terdiri dari berbagai komponen yang saling pembelajaran, pemilihan materi pelajaran, pengembangan kegiatan belajar mengajar, penerapan metode yang sesuai, penggunaan alat dan sumber pembelajaran, serta evaluasi hasil pembelajaran (Devy Wahyu Cindy Mulyani, 2. Dijelaskan bahwa strategi yang dilakukan yaitu dengan fokus pada dua anak berkebutuhan khusus di kelas 5 menjadi prioritas. Ketika mereka mempertahankan fokus, pendekatan yang sering digunakan adalah memanggil nama mereka atau mengulangi kata-kata yang disampaikan oleh guru. Kadang-kadang, demonstrasi langsung oleh guru di depan kelas juga dapat membantu mereka mempraktikkan apa yang telah diajarkan. Guru keterampilan fasilitasi dan kolaborasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proyek dan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dengan mengatasi tantangan ini secara efektif di mana guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang merangsang dan memberdayakan siswa melalui pendekatan PjBL (Wardhan. Rukayah, 2. Melalui partisipasi aktif dalam proyek-proyek ini, anak-anak pengetahuan tentang ilmu pengetahuan alam, tetapi juga memperluas kemampuan berkolaborasi, dan menghargai sumbangan rekan-rekan sejawat mereka bagi anak-anak berkebutuhan khusus, penguasaan konsepkonsep IPA juga merupakan hal yang Meskipun terdapat tantangan dalam proses pembelajaran mereka, pemahaman tentang alam semesta dan fenomena alam dapat sehingga mereka harus berusaha untuk menemukan dan mengembangkan bakat-bakat tersebut. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, guru perlu melakukan refleksi bersama dengan siswa untuk mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan dan mengeksplorasi cara untuk Jurnal Pendidikan Modern. Volume 10 Nomor 03 Tahun 2025 hal. lebih mendukung perkembangan bakat dan kemampuan siswa secara individual (Sugiarto et al. , 2. Misalnya, di mana guru mendengarkan apa yang menjadi keluhan siswa seperti ketidakhadiran sekolah ataupun adanya laporan oeang tua maka guru ikut serta untuk menangani. Komunikasi antara guru dan orang tua sangat penting dalam pembelajaran IPA berbasis proyek (PJBL) bagi anak berkebutuhan khusus. Orang tua memiliki peran yang vital dalam mendukung memberikan informasi tentang kebutuhan khusus anak, serta membantu menyediakan alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran di sekolah(Nuraini. Tidak hanya guru, orang tua juga memiliki peran andil dalam pemberlajaran IPA berbasi PjBL ini di mana Peran orang anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sangatlah penting karena mereka menjadi mitra utama dalam mendukung perkembangan anakanak mereka. Orang tua tidak hanya berperan sebagai penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran anak-anak mereka di rumah. Mereka perlu terlibat aktif dalam komunikasi dengan guru-guru anak mereka untuk memahami kebutuhan pembelajaran khusus anak dan mendukung implementasi strategi pembelajaran yang Orang tua juga dapat memberikan dukungan emosional yang stabil bagi anakanak mereka, membantu mereka mengatasi kepercayaan diri dan kemandirian. Melalui kolaborasi yang erat antara sekolah dan rumah, orang tua dapat membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan mendukung bagi anak-anak berkebutuhan khusus, memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan terbaik untuk berkembang(Khairunisa Rani et al. , 2. Dengan adanya komunikasi yang efektif antara guru dan orang tua, dapat memastikan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya (Nur Sabilla, 2. Dalam pertanyaan yang diajukan bukan hanya kepada guru melainkan juga kepada siswa Sebab dalam pendikan inklusi siswa reguler karena membuka peluang untuk mengembangkan empati, keterampilan sosial, dan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya melalui interaksi dengan teman sekelas yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini juga membantu siswa reguler untuk meningkatkan kemandirian, penerimaan, dan kesiapan menghadapi masyarakat yang beragam di masa depan khususnya dalam pembelajaran IPA berbasis PjBL(Devy Wahyu Cindy Mulyani, 2. Dalam wawanara yang dilakukan menurut salah satu siswa reguler. Siswa A adalah teman berkebutuhan khusus yang ramah dan mudah bergaul, senang bermain dan bercanda dengan teman-temannya. Ketika mereka bekerja sama dalam proyek kelas, saya selalu siap membantunya ketika dia membutuhkan bantuan, seperti memberikan tisu saat dia sedang sedih atau kesalahan sebelum menangis. Selain itu, dikatakan bahwa siswa reguler tersebut juga senang membantu dia dengan tugas-tugas kecil, seperti mengambil air atau meminjamkan peralatan yang diperlukannya saat kami melakukan proyek seperti membuat taplak atau model paru-paru. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa di sisi lain bagi siswa ABK, kerjasama dalam proyek PjBL memberikan kesempatan untuk merasakan inklusi. Salsabila Fajarwati. Khoirun Nisa, & Minsih: Eksplorasi Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pembelajaran IPA Berbasis Proyek (PJBL) dukungan, dan penerimaan dari temanteman sekelasnya. Mereka dapat merasakan rasa dihargai dan terlibat dalam proses belajar yang sama seperti teman-teman mereka yang lain. Selain itu, mereka juga akademik, keterampilan sosial, dan rasa percaya diri mereka melalui partisipasi aktif dalam proyek bersama. Secara keseluruhan, kerjasama pembelajaran antara siswa reguler dan ABK dalam konteks PjBL pembelajaran secara akademis, tetapi juga mempromosikan inklusi, dan membentuk lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung bagi semua siswa (Fitriana & Setyowati, 2. terjadi termasuk dalam kategori cukup. Dengan demikian, perlu dikembangkan lagi adanya interaksi sosial di dalam kelas dengan bimbingan dan arahan dari guru. Melalui pembelajaran berbasis project ini, dapat dilihat bahwa siswa berkebutuhan khusus terdorong untuk meminta bantuan pada gurunya dan siswa regular juga menunjukkan interaksi sosial dengan memberikan bantuan kepada siswa berkebutuhan khusus. Saran Disarankan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dengan meningkatkan bimbingan dan arahan untuk mendorong interaksi sosial yang lebih aktif antara siswa berkebutuhan khusus dan siswa Proyek kolaboratif yang dirancang secara inklusif dapat meningkatkan keterlibatan individual tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan khusus. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi cara meningkatkan efektivitas interaksi sosial dalam PjBL. PENUTUP Simpulan Anak-anak membutuhkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Peranan guru sebagai pengelola kelas memerlukan pendekatan yang lebih individual dan disesuaikan. Aktivitas dan kreativitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran haruslah karakteristik khusus dari setiap anak. Salah satunya melalui pembelajaran berbasis proyek (PjBL) adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa terlibat dalam proyek nyata yang membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan aktif. PjBL bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar otentik dan relevan bagi siswa, menyediakan tantangan dunia nyata yang membutuhkan pemecahan masalah dan kesimpulan yang dihasilkan oleh siswa sendiri. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan ditemukan bahwa interaksi sosial terjadi pada proses pembelajaran berbasis project pada mata pelajaran IPA. Namun, interaksi sosial yang DAFTAR PUSTAKA