Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. YOGYAKARTA GRAPHIC ART WEEK AS A PRODUCTION CULTURAL PRACTICE PEKAN SENI GRAFIS YOGYAKARTA SEBAGAI PRAKTIK BUDAYA PRODUKSI Damar Sasongko Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Suryodiningratan No. Yogyakarta 55143 Tlp. 0274-419791, 085729082332 ABSTRAK Graphic Arts Week Yogyakarta (PSGY), initiated by Grafis Minggiran, plays an important role in preserving and developing the art of graphic printing in Indonesia. Taking place every two years. PSGY is a place to introduce graphic arts to a wider audience through exhibitions, workshops, seminars, residencies, and competitions. PSGY can be said to produce a culture, namely graphic culture that can inspire artists and the wider community regarding graphic arts. This research seeks to reveal the values and articulation of a culture produced by PSGY. The research uses qualitative and ethnographic methods with DuGayAos culture of production approach and Stuart HallAos circuit of culture. Through the discussion, seven values are obtained in PSGY, namely informative, educative, collaborative, nationalism, history, competitive, consistent, innovative, and professionalism. Meanwhile. PSGY production articulates in regulation, consumption, and representation. Keywords: Graphic Arts Week Yogyakarta, printmaking, culture of production ABSTRAK Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY), diinisiasi oleh Grafis Minggiran, mempunyai peran penting dalam melestarikan dan mengembangkan seni cetak grafis di Indonesia. Berlangsung setiap dua tahun. PSGY menjadi ajang memperkenalkan seni grafis ke khalayak luas melalui pameran, workshop, seminar, residensi, dan perlombaan. PSGY dapat dikatakan turut memproduksi sebuah kebudayaan, yakni kebudayaan grafis yang dapat menginspirasi para seniman dan masyarakat luas terkait seni grafis. Penelitian ini berupaya mengungkap nilai-nilai serta artikulasi dari suatu budaya yang diproduksi oleh PSGY. Penelitian menggunakan metode kualitatif dan etnografi dengan pendekatan budaya produksi . ulture of productio. dari DuGay dan sirkuit budaya (Circuit of Cultur. dari Stuart Hall. Melalui pembahasan yang dilakukan, didapat sepuluh nilai dalam PSGY, yakni informatif, edukatif, kolaboratif, nasionalisme, sejarah, kompetitif, dokumentasi, konsisten, inovatif, dan profesionalitas. Sementara produksi PSGY berartikulasi pada regulasi, konsumsi, dan representasi. Kata kunci: Pekan Seni Grafis Yogyakarta, seni grafis, budaya produksi Volume 16 No. 2 Desember 2024 Damar Sasongko Pekan Seni Grafis Yogyakarta Sebagai Praktik Budaya Produksi Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Seni grafis adalah salah satu cabang seni rupa yang menggunakan teknik cetak pada Terdapat beragam teknik dan medium untuk menghadirkan karya seni ini, yakni cetak datar, cetak dalam, cetak tinggi, dan cetak saring. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang mengenal teknik-teknik tersebut. Bila masyarakat tidak mengenal, tentu tidak akan muncul apresiasi pada seni grafis. Itulah kiranya yang ditangkap oleh Grafis Minggiran, sebuah kelompok pegrafis yang berdomisili di Yogyakarta. Karena itu. Grafis Minggiran berinisiatif membuat acara Pekan Seni Grafis Yogyakarta . elanjutnya disebut PSGY). Hal ini tercatat dalam pengantar pada katalog pertama bahwa PSGY berupaya meluaskan pemahaman masyarakat mengenai apa dan bagaimana seni grafis . 7: . Dimulai sejak tahun 2017 hingga saat ini. PSGY telah berhasil terselenggara selama empat kali. PSGY merupakan ajang pameran seni cetak grafis yang berlangsung setiap dua tahun Menurut Simatupang, pameran merupakan peristiwa pembentukan pengalaman pemirsa melalui perjumpaannya dengan karya seni, tidak hanya menjadi medium, melainkan juga situs utama pertukaran ekonomi-politik-seni . 6, hlm. Dengan demikian, pameran grafis yang diadakan PSGY menjadi suatu situs perjumpaan seniman grafis seluruh Indonesia, baik perupa senior maupun pemula, dengan masyarakat umum sebagai pemirsa. Para seniman dapat mengirimkan karyanya tanpa dipungut biaya untuk dapat dipamerkan di sana. Dalam pelaksanaannya. PSGY tidak hanya menjadi pameran seni, tetapi juga menjadi situs pertukaran gagasan melalui workshop, seminar, dan lomba . ntuk umum dan pelaja. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para seniman untuk berbagi pengetahuan dan menginspirasi satu sama lain. Dengan demikian, dapat dikatakan. PSGY turut memproduksi sebuah kebudayaan, yakni kebudayaan grafis yang dapat menginspirasi para seniman dan masyarakat luas dalam mengenal lebih jauh apa itu seni grafis. Karena itu, sangat menarik melihat bagaimana Grafis Minggiran memproduksi PSGY sehingga menjadi suatu artefak budaya. Tidak banyak studi tentang wacana seni grafis Indonesia atau Yogyakarta dalam penelusuran yang dilakukan di Google Scholar. Sebagian besar studi menekankan pada penciptaan seni grafis (M. Ramadhan, 2018. Budiman, 2021. Ardhi, 2018. Lugis, 2014. Yusandi, 2. Terlebih, belum banyak studi yang memfokuskan pada wacana seni Yogyakarta, bahkan belum ada yang membahas PSGY (Pekan Seni Grafis Yogyakart. Studi yang ada cenderung menekankan pada persoalan seni grafis secara global di Indonesia (Amy Zahrawaan, 2022. Deni Rahman, 2. Sementara, perbincangan mengenai seni grafis Yogyakarta lebih kepada mempersoalkan monoprint sebagai suatu bentuk penyimpangan terhadap kaidah seni grafis konvensional (Bayu Aji Suseno, 2. Penelitian tentang wacana justru terkuak pada artikel yang mengupas pegrafis Tisna Sanjaya yang dalam kerja kreatifnya mengangkat isu-isu sosial (Anggiat Tornado, 2. Karena itu, tulisan ini bertujuan melengkapi studi terdahulu yang belum pernah membahas PSGY, terutama dalam PSGY 2023. Tulisan ini berupaya melihat bagaimana Grafis Minggiran memproduksi nilai-nilai dalam budaya produksi PSGY? Serta bagaimana nilai-nilai itu Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Landasan Teori Penelitian ini dilakukan untuk melihat budaya produksi . ulture of productio. Menurut Stuart Hall, budaya berkaitan dengan produksi dan pertukaran maknaAememberi dan menerima maknaAe antara anggota masyarakat atau kelompok . 1: xvi. Dalam pernyataan Hall kita dapat melihat AuproduksiAy dalam AubudayaAy. Paul Du Gay memperjelasnya dengan mendefinisikan budaya produksi sebagai cara-cara di mana praktik produksi diabadikan dengan makna-makna tertentu . Karena itu, budaya produksi merupakan segala budaya yang memiliki suatu makna, nilai, praktik sehari-hari yang melatarbelakangi sebuah produksi budaya (Paul Du Gay dalam Muhammad Taufiqurrohman, 2010: . Melalui pengertian inilah penelitian dilandaskan untuk melihat nilai-nilai yang melatarbelakangi produksi suatu budaya. Budaya produksi amat terkait dengan konsep sirkuit budaya (Circuit of Cultur. Konsep ini membahas elemen-elemen budaya, antara lain terdapat produksi . ang menjadi titik berat dalam penelitian in. , konsumsi, regulasi, representasi, dan identitas (Stuart Hall, 2011: xv. Kelima elemen sirkuit kebudayaan ini berhubungan antara satu dan lainnya dalam relasi dialogis, tidak memiliki pola-pola yang pasti. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing elemen . roduksi tidak perlu lagi didefinisikan agar tidak mengulang pendapat Du Gay di ata. Konsumsi berhadapan dengan produksi. Kegiatan memproduksi secara langsung memiliki dampak adanya kehadiran konsumen untuk mengonsumsi. Konsumsi menurut Denzin lebih dari sekadar tindakan perolehan, penggunaan, dan pelepasan barang dan jasa. Konsumsi objek budaya oleh konsumen dapat memberdayakan, membebaskan atau membuat stereotipe . alam Annabelle Leve, 2012: . Thompson berpendapat ada dua bentuk regulasi. Pertama, regulasi berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang diformalkan. Kedua, merupakan praktik penandaan tertentu yang berkaitan dengan industri sehingga tampak AubiasaAy atau AualamiAy ( dalam Annabelle M. Leve, 2012: Representasi dapat dikatakan sebagai cara untuk mendeskripsikan dan menggambarkan sesuatu, sebagai simbol atau pengganti untuk hal lain. Representasi adalah produksi makna, konsep, yang ada dalam pikiran melalui bahasa (Stuart Hall, 2011: . Bahasa yang dimaksudkan oleh Hall dalam hal ini merupakan tanda yang dapat berupa apa saja, seperti gambar, perilaku. Identitas dianggap sebagai bentuk asli diri. Namun, dalam Kajian Budaya (Cultural Studie. , identitas bukanlah sesuatu yang asli dan esensial, melainkan dibentuk secara budaya. Identitas bukanlah hal yang tunggal, melainkan dikonstruksi berkali-kali melalui wacana, praktik, dan posisi yang berbeda. Identitas dibentuk atau dikonstruksi di dalam, bukan di luar, wacana, karena itu perlu dipahami sebagai produk dalam lokasi dan sejarah tertentu (Stuart Hall 1996: . Kelima elemen ini dapat berhubungan dan berartikulasi. Artikulasi menurut Hall merupakan proses konektivitas antarberbagai momen dari elemen yang berbeda dalam lingkaran elemen sirkuit budaya . alam Muhammad Taufiqurrohman, 2010: . Artikulasi dapat membantu menjelaskan relasi berbagai elemen dengan budaya produksi PSGY. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Damar Sasongko Pekan Seni Grafis Yogyakarta Sebagai Praktik Budaya Produksi Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini berdasarkan pertimbangan logis yang bertujuan untuk memahami suatu peristiwa atau fenomena secara holistik, tidak hanya apa yang tampak tetapi juga menggali makna dibalik yang tampak. Metodologi ini melibatkan pemilihan pendekatan dan teknik yang sesuai untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Metodologi penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif-analisis dan induktif dengan peneliti sebagai instrumen utama perencana, pelaksana dan pengumpulan data sehingga menjadi lebih tepat terkait fokus studi dan tujuan penelitian (Anggito & Setiawan, 2. Pendekatan etnografi dipilih karena memiliki karakteristik yang khas antara lain keterlibatan penuh peneliti dalam mengeksplorasi budaya di masyarakat serta pengumpulan data tidak dapat dipisahkan dengan lokasinya sehingga lebih spesifik (Windiani & Rahmawati, 2. PSGY sebagai objek penelitian secara spesifik berlokasi di Yogyakarta. Secara etnografi, beberapa peneliti melibatkan diri dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut dan keseluruhan para peneliti berdomisili di Yogyakarta sehingga dapat mendalami penelitian dengan kacamata teori budaya produksi . ulture of productio. , mengingat PSGY telah berjalan selama 8 tahun . 7Ae2. Penelitian ini dimulai dengan mendatangi pameran PSGY keempat yang dilaksanakan di Kiniko Art Space pada 16Ae30 September tahun 2023. Di sana, para peneliti menyaksikan serta mengalami bagaimana pameran dilaksanakan. Selain pameran, berbagai kegiatan juga diselenggarakan oleh panitia antara lain workshop, seminar, dan perlombaan. Selama sepekan, peneliti mengikuti acara, baik sebagai sukarelawan, maupun peserta workshop. Langkah tersebut kemudian menjadi pijakan menuju tahap studi pustaka dan wawancara dengan para narasumber. Keterlibatan langsung para peneliti dalam kegiatan selama pameran kemudian dilanjutkan dengan kegiatan studi pustaka. Berdasarkan upaya penggalian data tekstual terkait PSGY yang telah diselenggarakan serta terkait budaya produksi di dalamnya, maka studi pustaka perlu dilakukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan dan menelusuri katalog PSGY dari tahun ke tahun, serta artikel-artikel penunjang yang menulis tentang PSGY. Selain melihat katalog, peneliti juga memperdalam teori melalui buku-buku serta penelitian sejenis untuk dapat menganalisis budaya produksi dalam PSGY. Wawancara adalah langkah selanjutnya yang perlu ditempuh guna mengumpulkan data dari para narasumber. Kegiatan ini dilakukan agar perspektif budaya produksi, serta nilai-nilai yang berusaha diproduksi oleh PSGY dapat kami temukan. Wawancara dilakukan secara langsung tanggal 5 OktoberAe15 November 2024. Pertama, kepada Grafis Minggiran sebagai pemrakarsa dan pelaksana PSGY, yakni Lulus Boli dan Rully Putra. Kedua, kepada Bambang Toko selaku kurator dan pemrakarsa PSGY. Agar mendapatkan hasil dari segala segi, wawancara pun dilakukan kepada seniman grafis yang karyanya pernah dipamerkan di PSGY, yakni Syahrizal Pahlevi. Setelah semua data terkumpul, analisis dan interpretasi terhadap PSGY pun dapat dilakukan. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. HASIL DAN PEMBAHASAN Grafis Minggiran: Sang Kreator PSGY Grafis Minggiran adalah sebuah kelompok seni rupa yang berdedikasi atas prinsip-prinsip kolektif dan berpusat pada pengembangan seni grafis di Indonesia. Kolektif ini pertama kali berdiri pada tahun 2001, dibentuk oleh sekelompok seniman yang memiliki latar belakang dalam seni grafis dan pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kehadiran Grafis Minggiran pada awalnya muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan seni rupa. Beberapa mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta merasa terbatas oleh keterbatasan studio kampus yang tidak dapat menampung pengerjaan tugas dan proyek-proyek seni mahasiswa. Dalam upaya untuk mencari solusi atas tantangan ini, mereka membentuk kelompok kolektif yang dikenal sebagai Grafis Minggiran. AuDulu ada kesulitan menggunakan mesin cetak di kampus yang terbatas. Karena itu kami mencari solusi dengan membuat studio yang bisa dipakai para seniman grafis sebagai alternatif mesin cetak dari kampus. Ay (Lulus Boli, 6 Oktober 2. Grafis Minggiran kemudian terbentuk menjadi organisasi yang rapi dengan susunan formasi awal sebagai berikut: Alexander Nawangseto Mahendrapati sebagai ketua dan bendahara. Theresia Agustina Sitompul sebagai sekretaris. Danang Hadi Phe dan Petrus Priya Wicaksana di divisi penelitian dan pengembang. Rully Putra Adi sebagai produksi. Deni Rahman dan Maryanto AuBebAy sebagai hubungan masyarakat. Selama berjalannya waktu, anggota Grafis Minggiran telah beberapa kali berganti. Pada 2023 saat dilaksanakannya PSGY, kelompok ini diketuai oleh Deni Rahman dengan anggota terdiri atas Alfin Agnuba. Arga Aditya. Rully Putra. Lulus Boli. Wiby dan Theresia Agustina Sitompul. Visi dan misi Grafis Minggiran adalah memberikan edukasi tentang teknik seni cetak grafis. Fokus utama mereka adalah mengajarkan berbagai teknik cetak grafis kepada individu yang Salah satu inisiatif yang mencerminkan komitmen mereka adalah program residensi yang mereka tawarkan kepada seniman dan individu yang ingin belajar lebih lanjut tentang seni cetak grafis. AuMemopulerkan dan mengedukasi seni grafis, seperti visi misi grafis minggiran untuk mengedukasi seni grafis kepada masyarakat melalui beragam program, seperti residensi di Print Parade. Pada Print Parade itu kami mengundang seniman di luar seni grafis, seperti seni lukis, patung, dll. Ay (Rully Putra, 6 Oktober 2. Kolektif Grafis Minggiran memiliki komitmen dalam mendokumentasikan perkembangan seni grafis di Indonesia. Grafis Minggiran memproduksi PSGY sebagai wadah untuk mempromosikan seni grafis, dalam bentuk pameran karya-karya seniman grafis, workshop yang membantu mengedukasi masyarakat tentang teknik dan proses seni grafis, serta diskusi dan forum yang memungkinkan pertukaran ide dan pandangan tentang seni grafis. Hal ini juga terangkum dalam wawancara dengan Syahrizal sebagai praktisi Seni Grafis. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Damar Sasongko Pekan Seni Grafis Yogyakarta Sebagai Praktik Budaya Produksi Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 AuPSGY itu penekanannya lebih kepada edukasi, pengenalan sejarah dan perkembangannyaAy . awancara dengan Syahrizal Pahlevi, 2 November 2. Fokus utama dari Kolektif Grafis Minggiran adalah memberikan edukasi dan mengembangkan seni grafis di Indonesia. Mereka menjadikan studio sebagai pusat aktivitas kreatif mereka, tempat seniman grafis dan non-grafis berkumpul, berkolaborasi, dan berkembang Nilai yang tecermin dalam kerja-kerja Kolektif Grafis Minggiran adalah edukatif, kolaboratif, historis, dokumentasi, dan inovatif. Ini mencerminkan semangat yang mendorong pertumbuhan seni grafis di Yogyakarta. Kolektif ini telah memberikan kontribusi dalam perkembangan seni rupa di Indonesia, terutama dalam konteks seni grafis. Karena itu, produksi dilakukan oleh Grafis Minggiran berartikulasi dengan konsumsi . ahasiswa dan senima. , regulasi . ampus ISI), dan representasi . ewakili seniman grafis Yogyakart. Arah Kuratorial PSGY Dalam empat event PSGY, proses kuratorial dilakukan oleh Bambang Toko. Beliau adalah seniman grafis yang telah lama berkecimpung di dunia kuratorial. Sebagai kurator PSGY. Bambang Toko mengaku bahwa pemilihan karya seni grafis didasarkan pada kesesuaian karya dengan tema teknik seni grafis, serta adanya aspek visual dan makna yang kuat, sebagaimana pernyataan Bambang Toko berikut ini. AuKebanyakan acara grafis itu tekniknya campur-campur, makanya sistem kuratorial PSGY itu temanya per teknik, supaya lebih fokus. Tapi yang pertama itu memang mengangkat semua teknik untuk pengenalan awal, lalu tahun-tahun selanjutnya lebih fokus ke teknikteknik tertentu. Strateginya adalah memamerkan karya-karya dari seniman ngetop A Dalam memilih karya, saya lebih condong pada melengkapi teknik, seperti saat intaglio (PSGY 2. itu mencakup subteknik seperti drypoint, etsa, aquatint, dll. Kalau yang undangan atau koleksi itu pada kurun waktu tertentu itu style-nya seperti apa. Jadi terlihat pada saat tertentu gaya dan tekniknya itu seperti apa. Pada karya yang diseleksi juga dipilih pada Ay . awancara dengan Bambang Toko, 30 Oktober 2. Bambang Toko menilai, saat pengumuman pembukaan open call, antusiasme para seniman begitu tinggi. Berdasarkan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Bambang Toko kemudian membuat presentasi pameran yang mengategorikan karya-karya seniman. Kategori itu dipisah berdasarkan seniman undangan dan seniman seleksi yang lolos melalui proses kuratorial (Bambang Toko, 30 Oktober 2. Bambang Toko juga menguratori karya koleksi dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang sesuai dengan tema PSGY. Tidak hanya itu. PSGY juga menghadirkan karya khusus, yang disebut special presentation. Di masing-masing PSGY, dihadirkan karya spesial sesuai dengan tema yang sedang diusung. Pada PSGY pertama adalah Salvador Dali. tahun kedua Mochtar Apin. ketiga Andy Warhol. Liu Ye, dan Decenta. sementara tahun keempat adalah Affandi dan Mujirun (Grafis Minggiran, 2017. Dalam memilih peserta seleksi. Bambang Toko menjelaskan bahwa jumlah seniman yang lolos merupakan kuota yang ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan DIY. Pihak Dinas meminta sebanyak Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. 60 karya yang dipamerkan setiap PSGY. Namun, dalam realisasinya karena antusiasme peserta, karya yang ditampilkan justru lebih banyak dari kuota. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Bambang Toko dan petikan dalam pengantar katalog PSGY berikut. AuUntuk laporan dinas jadi harus memenuhi kuota dari dinas . inas meminta . tetapi selama ini karya yang dipamerkan selalu lebih dari 60 karya dari keseluruhan . awancara dengan Bambang Toko, 30 Oktober 2. AuPameran ini menampilkan kurang lebih 80 karya grafis konvensional. Ay (Grafis Minggiran. Menurut Bambang Toko, kriteria kurasi karya dalam PSGY adalah lebih kepada teknik karena terkait juga kepada pengenalan kepada masyarakat. Sebab, lanjutnya, masyarakat banyak masih belum paham dengan karya seni grafis. Karena itu juga keputusan untuk menghadirkan special presentation bertujuan untuk menggaet publik yang lebih luas dan juga sebagai sarana mengedukasi para seniman untuk melihat dan mengalami langsung karya para masterpiece. Hal ini diungkapkan oleh Bambang Toko dalam pernyataan berikut. AuMasyarakat kebanyakan masih bingung seni grafis itu seperti apa, lalu dengan menampilkan karya Andy Warhol masyarakat langsung tahu. Juga gimmick untuk mendekatkan karya populer dari seni grafis, lalu untuk teman-teman pegrafis juga bisa melihat secara langsung karya populer terdahulu untuk bisa membandingkan serta belajar dari karya tersebut di dalam satu ruangan langsungA setting-nya untuk menggaet komunitas lain di luar seni Contohnya adalah karya uang oleh Pak Mujirun, itu, kan, ada komunitas dari kolektor uang yang datang untuk melihat secara langsungAy . awancara dengan Bambang Toko, 30 Oktober 2. Arah kuratorial yang ditempuh oleh Bambang Toko dalam menyelenggarakan PSGY berdasarkan pernyataannya di atas dapat dilihat sebagai berikut. Pertama, dalam mengurasi karya. Bambang Toko mendahulukan teknik yang sejalan dengan tema yang dipilih oleh PSGY. Hal ini bertujuan mengenalkan teknik-teknik yang beragam dan mendekatkannya kepada masyarakat. Kedua. Bambang Toko menampilkan karya special presentation dengan maksud mendekatkan karya yang terkenal kepada masyarakat, sekaligus menarik mereka untuk datang. Ketiga Bambang Toko berupaya menggaet komunitas-komunitas grafis lain dan komunitas di luar seni grafis agar terlibat di PSGY. Keempat Bambang Toko juga berupaya mengakomodasi permintaan dari Dinas Kebudayaan DIY. Dari kelima arah ini, kita dapat melihat suatu nilai histori, edukatif, dan informatif yang berupaya diciptakan melalui produksi kuratorialnya. Karena itu, produksi yang Bambang Toko lakukan terkait dengan kuratorial sangat berartikulasi dengan konsumsi . asyarakat umum dan senima. , regulasi (Dinas Kebudayaan DIY selaku pemangku kebijakan. ISI Yogyakart. , representasi . arya-karya seni grafis yang ditampilkan berdasarkan gaya dan tekni. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Damar Sasongko Pekan Seni Grafis Yogyakarta Sebagai Praktik Budaya Produksi Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Budaya Produksi dalam PSGY PSGY dimulai pada tahun 2017. Selama empat tahun pelaksanaannya. PSGY tidak hanya menampilkan pameran, tetapi juga rutin menggelar seminar, workshop, lomba, dan sesekali melakukan pemutaran film, serta residensi. Pembahasan di bawah ini akan melihat pelaksanaan PSGY secara keseluruhan dan dinamika yang muncul dari tahun ke tahun. PSGY 2017 diadakan di Jogja National Museum. Sebagai PSGY pertama, event ini memamerkan beragam teknik seni cetak grafis. Selain itu. PSGY menampilkan program-program pendukung, seperti workshop seni cetak grafis, seminar, dan pemutaran film yang bertujuan mengedukasi dan memperkenalkan pengunjung pada beragam aspek seni cetak grafis. Tahun tersebut menampilkan special presentation, yakni karya ikonik milik Salvador Dali yang berjudul AuEspanaAy. PSGY pertama ini dirancang untuk mengembangkan seni grafis dengan dukungan beragam stakeholders seperti dalam kutipan berikut. AuPekan Seni Grafis Jogja merupakan sebuah event yang digagas oleh Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu upaya dan bentuk dukungan terhadap perkembangan Seni Grafis di Yogyakarta yang akan melibatkan stakeholders . emerintah daerah, institusi pendidikan formal, pegrafis, komunitas dan kelompok pegrafis, dan masyaraka. Event ini menjadi penting karena Yogyakarta merupakan kota yang memiliki populasi pegrafis terbesar di Indonesia. Ay (Grafis Minggiran. AuPada 2016 itu saya rapat dengan Dinas Kebudayaan. Dinas ingin meneruskan acara acara yang sudah ada . da pameran dan worksho. , maka terbentuklah PSGY, karna Dinas tetap ingin ada edukasi, seperti seminar dan workshop, jadi programnya ada seperti pemutaran film, kuratorial tour. Ay . awancara dengan Lulus Boli, 30 Oktober 2. Tahun 2019. PSGY memilih tema teknik cetak tinggi atau cukil dalam pameran yang digelar di Museum Sonobudoyo. Selain menyelenggarakan workshop dan seminar. PSGY juga memperkenalkan AuCukil BattleAy sebagai program tetap dalam setiap edisi PSGY selanjutnya. Pada tahun ini. PSGY juga menampilkan karya special presentation milik Mochtar Apin, seorang seniman yang telah berperan besar dalam perkembangan seni cetak grafis di Indonesia. Dalam pengantar katalog, pemilihan Mochtar Apin sebagai seniman special presentation merupakan suatu penghargaan terhadap jasanya sekaligus juga menunjukkan suatu identitas nasionalisme. AuDengan adanya sekumpulan karya linolograps dari Baharudin Marasutan dan Mochtar Apin, maka kita tidak saja dapat menyaksikan bukti sejarah adanya artefak sarana ucapan terima kasih atas pengakuan kemerdekaan Indonesia, namun juga dapat mengamati dan mempelajarinya secara teknik, material dan makna dari masing-masing gambar yang ada. Ay (Grafis Minggiran, 2. Tahun 2021. PSGY mengambil tema teknik cetak saring atau sablon, dan melanjutkan program tambahan dari tahun sebelumnya. Perbedaannya adalah acara ini digelar di Kiniko Art, tempat yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Special presentation pada tahun 2021 Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. mencakup karya-karya dari seniman terkenal seperti Andy Warhol. Decenta, dan Liu Ye. PSGY ini cukup berbeda dengan dua PSGY sebelumnya karena dilaksanakan dalam kondisi pandemi Covid19. Namun. Grafis Minggiran menolak kalah oleh virus tersebut. Mereka tetap melaksanakan PSGY meski dengan keterbatasan. Untunglah, perkembangan teknologi mampu menjembatani masalah yang cukup pelik ini. Hali ini terdapat dalam kutipan berikut. AuSebagai penyelenggara, kesuksesan PGSY tahun 2021 lebih pada bagaimana kebermanfaatan seluruh program PGSY dapat dirasakan oleh para seniman yang terlibat dan masyarakat luas yang sedang mulai bangkit dari keterpurukan Covid 19. Selain itu, dilaksanakannya PGSY secara hybrid . ffline dan onlin. , juga membuktikan kegiatan seni budaya dan dapat digelar dengan penerapan protokol kesehatan yang dipatuhi. Ay (Grafis Minggiran, 2. Tahun 2023. PSGY mengusung tema teknik intaglio. PSGY ini dilaksanakan secara offline seratus persen dan diselenggarakan di Kiniko Art. PSGY ini menampilkan karya special presentation yang disusun dari karya seni cetak grafis milik Affandi dan Mujirun. Di PSGY kali ini, melalui karyakarya Mujirun, masyarakat dapat mengetahui bahwa uang yang semua orang miliki itu dibuat menggunakan teknik intaglio. Seminar yang diadakan pun memperbincangkan soal intaglio dan fungsinya sebagai seni terapan, contohnya uang, sertifikat, perangko dll. Melalui workshop. PSGY bertekad untuk terus memberikan edukasi yang mendalam tentang macam-macam teknik intaglio, mulai dari yang konvensional, seperti etsa, sampai yang kontemporer, seperti tetrapak. Melalui presentasi karya para peserta pameran PSGY 2023, kita dapat melihat betapa tingginya gairah para pegrafis untuk terus menggali kemungkinan-kemungkinan baru dalam dunia seni cetak grafis secara umum, maupun Intaglio secara khusus. Dengan mempresentasikan karya-karya dengan rentangan waktu yang panjang dari 1972 hingga yang paling mutakhir, barang tentu kita bisa menjadi saksi perkembangan Intaglio dalam khazanah seni cetak grafis Indonesia. (Grafis Minggiran, 2. Berdasarkan penyelenggaraan PSGY selama empat tahun ini. Grafis Minggiran berupaya menawarkan nilai edukatif dan informatif melalui pameran, workshop, seminar, dan pemutaran Sementara itu, pelaksanaannya yang mengundang para seniman grafis di seluruh Indonesia menunjukkan nilai kolaboratif. Nilai nasionalisme ditunjukkan dalam karya-karya Mochtar Apin dan Mujirun yang dipamerkan, sehingga masyarakat luas dapat merefleksikan keindonesiaan melalui karya-karya tersebut. Terkait dengan nasionalisme, karya-karya tersebut juga memberikan nilai sejarah kepada masyarakat, terutama sejarah seni grafis sebagai bagian seni rupa Indonesia melalui karya-karya Affandi. Decenta, dan Mochtar Apin. Melalui seleksi karya dan lomba cukil. PSGY juga menawarkan nilai kompetitif. Keberhasilan penyelenggaraan PSGY hingga empat kali juga menunjukkan nilai konsistensi dan profesionalitas. Terkait penyelenggaraan, keberhasilan PSGY terselenggara di tengah situasi yang tak menentu, seperti Covid, juga mencerminkan sebuah nilai inovasi. Setiap kali merampungkan pameran. PSGY memproduksi dan mencetak katalog yang bisa didapatkan dengan mudah di basecamp Grafis Minggiran dan juga dikirimkan ke pengarsip seni, contohnya IVAA. Katalog-katalog ini dapat dilihat sebagai upaya Grafis Minggiran untuk Volume 16 No. 2 Desember 2024 Damar Sasongko Pekan Seni Grafis Yogyakarta Sebagai Praktik Budaya Produksi Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 mendokumentasikan seni grafis dan peristiwa seni grafis. Selain itu, kerja sama dengan media massa . i antaranya gudeg. net, artopologi. com, harianjogja. com, harianmerapi. dan media sosial (Instagram @psgy_2. juga merupakan memiliki tujuan dokumentasi dan amplifikasi. Hal ini dapat membantu melestarikan sejarah seni grafis Indonesia. Dengan demikian, artikulasi produksi dengan elemen-elemen budaya dapat dilihat sebagai Produksi pameran, workshop, seminar, pemutaran film sangat erat kaitannya dengan konsumsi yang akan didapatkan oleh, tidak hanya penikmat seni, tetapi juga masyarakat umum. Program yang disusun, sedapat mungkin dapat dicerna oleh masyarakat yang awam dengan seni Lalu elemen selanjutnya adalah regulasi. Koordinasi dengan Dinas Kebudayaan DIY dan institusi pendidikan adalah pencerminan bagaimana produksi amat sangat berkaitan dengan regulasi, sebab tanpa adanya dana dan arahan dari Dinas, kemungkinan besar produksi PSGY yang muncul tidak akan seperti ini. Kerja sama dengan para jurnalis dari media massa sebagai bentuk dokumentasi dan amplifikasi juga merupakan artikulasi dari regulasi. Kemudian, produksi PSGY menampilkan suatu representasi seni grafis, seniman grafis, dan teknik grafis melalui program-program yang ada. SIMPULAN Pekan Seni Grafis Yogyakarta merupakan ajang seni yang digagas oleh Grafis Minggiran yang melibatkan banyak pihak. Melalui pameran seni, para pengunjung akan mendapatkan pemahaman mengenai seni cetak grafis. Melalui workshop, seminar, dan perlombaan, peserta dan pengunjung dapat lebih mendalami teknik-teknik seni cetak grafis yang menjadi bagian penting dalam pameran ini. Workshop-workshop yang diadakan menjadi wadah bagi masyarakat umum dan para seniman, baik yang berpengalaman maupun yang baru merintis untuk berbagi pengetahuan. Workshop ini juga menjadi tempat menginspirasi satu sama lain. Seminar yang diselenggarakan dalam Pekan Seni Grafis Yogyakarta menjadi tempat untuk mendalami seni cetak grafis. Pembicara terkemuka berbagi wawasan mereka tentang sejarah, perkembangan, dan relevansi seni cetak grafis dalam konteks budaya dan masyarakat. Pekan Seni Grafis Yogyakarta memberikan makna bahwa seni cetak grafis bukan hanya hiburan semata, melainkan juga pengalaman pendidikan yang menarik. Melalui pembahasan, didapat sepuluh nilai dalam PSGY, yakni informatif, edukatif, kolaboratif, nasionalisme, sejarah, kompetitif, dokumentasi, konsisten, inovatif, dan profesionalitas. Pada artikulasi, kita dapat melihat bahwa produksi PSGY berkaitan ke hampir semua elemen budaya, yakni konsumsi, regulasi, dan Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 26 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 15 Januari 2025 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. DAFTAR PUSTAKA