JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 2 No. : 454-463 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v2i5. STRATEGI PEMBINAAN AKHLAK SANTRI DALAM MENYELESAIKAN PROBLEMATIKA PERGAULAN DI ASRAMA AL-MUSTHAFA MAAoHAD AL-ZAYTUN Silmi Aulia1A. Sobirin2. Muhammad N. Abdurrazaq3 Manajemen Dakwah. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia E-mail: silau0192@gmail. com1 A, sobirin@iaialzaytun. id2, kholis@iai-alzaytun. 1,2,3 Abstrak Setiap santri di pondok pesantren pasti menghadapi tantangan dalam akhlak dan pergaulan, termasuk santri MaAohad Al-Zaytun di Asrama Al-Musthafa. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembinaan akhlak yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran pengurus asrama Al-Musthafa dalam menyelesaikan problematika pergaulan santri serta strategi pembinaan akhlak yang diterapkan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas data diuji melalui verifikasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurus asrama berperan aktif dalam pembinaan informal yang berjalan sesuai fungsi manajemen, khususnya pengorganisasian. Pengurus dibagi menjadi beberapa bagian: pelayanan umum bertanggung jawab atas kebutuhan santri, bagian kesiswaan mengawasi kedisiplinan dan memberikan sanksi, sementara wali kelas dan wali kamar membimbing serta mengontrol santri dengan dukungan tim Bimbingan Konseling. Strategi pembinaan akhlak yang diterapkan sudah sistematis dan sesuai dengan visi, misi, serta tujuan pesantren. Strategi ini disebut unsyithoh yaumiyah, menggunakan metode keteladanan, pembiasaan, diskusi, motivasi, sanksi, penghargaan, nasihat, pengawasan, serta pendekatan langsung, tidak langsung, dan komprehensif. Kata kunci: strategi, pembinaan akhlak, problematika pergaulan. Abstract Every student in an Islamic boarding school faces challenges in morals and social interactions, including the students of MaAohad Al-Zaytun in Asrama Al-Musthafa. Therefore, an appropriate moral development strategy is needed to address these issues. This study aims to understand the role of Asrama Al-Musthafa administrators in resolving studentsAo social problems and to examine the moral development strategies implemented. The research employs a qualitative method using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. Data validity is ensured through field The findings indicate that dormitory administrators play an active role in informal moral development, which aligns with management functions, particularly in organization. The administration is divided into several sections: the general service team is responsible for students' needs, the student affairs division monitors discipline and enforces rules, while class and room supervisors guide and oversee students with support from the Counseling Team. The implemented moral development strategy is systematic and aligned with the pesantrenAos vision, mission, and This strategy, known as unsyithoh yaumiyah, utilizes methods such as role modeling, habituation, discussion, motivation, sanctions, rewards, advice, supervision, and direct, indirect, and comprehensive approaches. Keywords: strategy, moral development, social interaction issues. 454 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 PENDAHULUAN Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam membentuk keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia bagi santri (Fitri et al. , 2. Dalam Islam, akhlak memiliki kedudukan istimewa, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak (Tsalitsah, 2. Pembinaan akhlak mencakup seluruh aspek kehidupan santri, termasuk interaksi dengan sesama penghuni Hakikat dari pembinaan adalah membimbing santri agar memiliki perilaku sesuai nilai-nilai Islam, sehingga diperlukan strategi yang tepat dalam implementasinya (Andi et , 2. Strategi pembinaan menjadi krusial karena berkaitan dengan proses yang kompleks dan dinamis, bertujuan membantu santri memahami serta menerapkan prinsip moral dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak erat kaitannya dengan etika pergaulan, di mana kurangnya pemahaman terhadap keduanya dapat memicu konflik sosial, sebagaimana Islam telah menetapkan pedoman interaksi untuk menjaga keharmonisan masyarakat (Rohman & Hafizul, 2. Penelitian ini mengkaji peran pengurus Asrama Al-Musthafa dalam membina akhlak santri di MaAohad Al-Zaytun serta strategi yang diterapkan untuk mengatasi problematika Berdasarkan data yang dikumpulkan, banyak santri mengalami kendala dalam berperilaku dan berinteraksi, seperti melanggar aturan, kurang menghormati guru, serta kesulitan menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini mengindikasikan bahwa perhatian dari berbagai pihak, seperti pengurus asrama, sesama santri, dan keluarga, sangat diperlukan, mengingat santri memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa (Sriyatun, 2. Pesantren sebagai lembaga pembinaan dianggap ideal untuk membentuk individu yang bertakwa, beriman, serta berakhlak mulia. Mahad Al-Zaytun, dengan fasilitasnya yang memadai, telah menjalankan pembinaan akhlak secara efektif (Anggranti, 2. Namun, masih ditemukan santri yang menunjukkan perilaku negatif. Oleh karena itu, penelitian ini membahas strategi pembinaan akhlak santri di Asrama Al-Musthafa untuk mengatasi problematika pergaulan dan mencapai tujuan pembentukan individu berakhlakul karimah. Strategi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani strategos, yang berarti "seni para jenderal" dan berkaitan dengan kepemimpinan militer. Dalam konteks yang lebih luas, strategi merupakan pedoman untuk mencapai tujuan dengan mengelola potensi secara Dalam organisasi, strategi mencakup penetapan visi dan misi, perumusan kebijakan yang mempertimbangkan faktor internal dan eksternal, serta implementasi langkah-langkah yang terstruktur (Alimni, 2. Perencanaan strategi melibatkan pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, serta penetapan sasaran dan metode pencapaiannya. Dalam proses perumusannya, informasi dari dalam dan luar organisasi menjadi aspek penting yang harus diperhatikan (Almuarif, 2. Pembinaan akhlak merupakan upaya sistematis untuk membentuk karakter individu melalui pendidikan dan program pembinaan yang sesuai dengan ajaran Islam. Proses ini bertujuan mengoptimalkan potensi spiritual manusia dengan menerapkan metode dan 455 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 pendekatan yang tepat (Alimni, 2. Keberhasilan pembinaan akhlak sangat bergantung pada pemahaman terhadap kondisi psikologis peserta didik, seperti kecenderungan bermain pada anak-anak, agar metode yang diterapkan lebih efektif (Wahyudi, 2. Oleh karena itu, pengurus perlu memahami karakter, usia, dan kondisi fisik peserta didik agar strategi yang diterapkan dapat mendukung perkembangan mereka secara optimal (Ira Suryani et al. , 2. Beberapa metode pembinaan yang digunakan meliputi pembiasaan dan keteladanan, diskusi dan motivasi, hukuman dan penghargaan, nasihat dan pengawasan, serta pendekatan langsung dan tidak langsung. METODE Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang bersifat deskriptif dan analitis, bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam dengan menggambarkan dan menganalisisnya secara komprehensif. Pendekatan deskriptif berfokus pada penyajian gambaran menyeluruh mengenai suatu peristiwa atau situasi, sedangkan analisis melibatkan upaya peneliti dalam menafsirkan, menjelaskan, serta membandingkan data yang dikumpulkan selama proses penelitian (Waruwu, 2. Metode ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam terhadap fenomena yang terjadi di Asrama Al-Musthafa. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, peneliti dapat menyajikan gambaran utuh mengenai dinamika yang berlangsung di lingkungan tersebut serta mengidentifikasi strategi pembinaan akhlak yang diterapkan oleh pengurus asrama dalam menghadapi berbagai permasalahan santri. Penelitian ini dilakukan di MaAohad Al-Zaytun, sebuah pesantren modern yang berlokasi di Desa Mekar Jaya. Kecamatan Gantar. Kabupaten Indramayu. Jawa Barat. Pesantren ini memiliki berbagai fasilitas pendukung, termasuk asrama tempat santri tinggal. Fokus penelitian diarahkan pada Asrama Al-Musthafa, yang dipilih karena relevan dengan topik skripsi serta telah melalui tahap pra-survei guna memperoleh pemahaman awal terkait kondisi dan dinamika lingkungan tersebut. Dalam penelitian ini, sampel dipilih dengan mempertimbangkan representasi karakteristik populasi yang ada. Sampel merujuk pada sekelompok individu yang dipilih dari populasi untuk mewakili keseluruhan karakteristik yang diteliti (Amin, 2. Populasi yang dijadikan subjek penelitian mencakup seluruh penghuni Asrama Al-Musthafa, yaitu 42 pengurus asrama, 24 wali kelas/wali kamar, serta 665 santri. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu agar data yang diperoleh lebih relevan dan representatif dalam menggambarkan fenomena yang diteliti (Lenaini, 2. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini mencakup individu yang aktif dalam kegiatan pembinaan, mereka yang berkontribusi dalam proses pembinaan, serta pihakpihak yang memiliki pemahaman mendalam mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 4 pengurus asrama, 2 wali kelas/wali kamar, serta 6 456 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 santri yang terlibat dalam kegiatan pembinaan akhlak. Para responden ini akan diwawancarai untuk memperoleh informasi serta gambaran yang lebih jelas mengenai proses pembinaan akhlak yang berlangsung. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan secara langsung dari lapangan dan mencakup berbagai informasi mengenai strategi pembinaan akhlak santri dalam Asrama Al-Musthafa MaAohad Al-Zaytun. Pengumpulan data melibatkan pengurus asrama, wali kelas/wali kamar, serta santri yang terlibat dalam kegiatan pembinaan akhlak. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai sumber, termasuk Al-QurAoan, hadis, jurnal, skripsi, sumber daring, serta literatur lain yang relevan dengan penelitian ini. Selain itu, peneliti juga mengakses dokumen-dokumen internal asrama, seperti struktur kepengurusan dan laporan kegiatan santri di Asrama Al-Musthafa, yang menjadi bagian dari data pendukung dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Pengurus Asrama Al-Mustofa dalam Menyelesaikan Problematika Pergaulan Santri Pengurus asrama Al-Musthafa berperan penting dalam membina akhlak santri tsanawiyah, yang sedang mengalami transisi dari anak-anak ke remaja. Pada tahap ini, santri cenderung mencoba hal-hal baru, sehingga diperlukan pengawasan dan bimbingan melalui kegiatan positif yang dirancang oleh pengurus. Pembinaan akhlak yang dilakukan umumnya bersifat informal. Menurut Ustadzah Dinna Fi Sabilla, selaku pengurus asrama yang menjadi salah satu informan penelitian ini ia mengatakan bahwa: "Pembinaan informal yang dilakukan pengurus asrama melalui kunjungan kamar. Aktivitas ini dilakukan oleh walikelas/walikamar kelasnya/anak kamarnya, termasuk memahami perilakunya, cara berinteraksinya, hingga respons emosional mereka dalam berbagai situasiAy. Berdasarkan hasil wawancara bersama pengurus asrama menurut Ustadzah Mardiana: AuPeran yang dilakukan oleh pengurus asrama Al-Musthafa dalam pembinaan akhlak santri Madrasah Tsanawiyah (MT. adalah pengurus memberikan pembinaan berupa kegiatan bimbingan konseling yang dilakukan di malam hari dan dibantu oleh tim bk, mendukung, memfasilitasi, mengawasi semua kegiatan yang dilakukan santri termasuk kegiatan kebahasaan yaitu kegiatan yang dilakukan santri untuk belajar bahasa-bahasa asing seperti bahasa arab, bahasa inggris, kegiatan kebahasaan ini biasanya dilakukan setelah sholat shubuh berjamaah, dan kegiatan tahfidz yaitu kegiatan membaca Al-QuAoan dan menghafal Al-QurAoan yang dilakukan santri. Santri juga melaksanakan salat berjamaah setiap hari di selasar asrama Al-Musthofa, dan pengurus asrama juga berperan dalam mengajarkan santri untuk peduli terhadap kebersihan baik lingkungan asrama, kamar pribadi maupun kebersihan diri masing-masing individuAy. 457 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Untuk menciptakan lingkungan asrama yang mendukung perkembangan sosial, karakter, menciptakan hubungan sosial dan interaksi yang sehat, serta agar bisa memahami kebutuhan bagi santri di Asrama Al-Musthafa. Maka dari itu, hal pertama yang dilakukan oleh pengurus asrama dan walikelas/walikamar, menurut Ustadzah Sepriyati yang merupakan salah satu informan dalam penelitian ini, adalah mengungkapkan bahwa: AuSebelum melakukan pendekatan kepada santri, walikamar/walikelas berusaha mengenal karakter setiap santri secara individu. Proses pengenalan dilakukan melalui interaksi langsung, pengamatan, dan mencari informasi ke teman-teman terdekat santri. Ay Menjalin dan mempererat hubungan yang erat antara santri dan pengurus asrama merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Selain itu, memastikan kesejahteraan santri dari aspek fisik, psikologis, dan sosial menjadi bagian utama dari pembinaan. Proses ini juga mencakup penanaman nilai-nilai kehidupan, kebersamaan, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Pengaruh pembinaan akhlak, sebagaimana diungkapkan oleh para santri, termasuk dalam model pembinaan akhlak yang diterapkan. Pendekatan ini berdampak signifikan terhadap perkembangan santri, membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik, lebih nyaman dalam berbagi cerita dan keluh kesah, serta meningkatkan kemandirian dan Selain meningkatkan keterampilan manajemen waktu, sehingga santri dapat memanfaatkan waktu mereka secara lebih efektif dan produktif. Menurut Miza yang merupakan santri kelas 7 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Ausaya menganggap pengurus asrama sebagai keluarga karna tabungannya dengan baikAy Menurut Quinza yang merupakan santri kelas 7 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Ausaya menganggap pengurus asrama sebagai keluarga karna semua pengurus asrama baik, suka mendidik, membina dan membuat saya jadi lebih baikAy Menurut Nadia yang merupakan santri kelas 8 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Audia menganggap pengurus asrama sebagai keluarga jika pengurus asrama itu dekat dengannyaAy Najma yang merupakan santri kelas 8 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Aupengurus asrama sebagai Ustadzah dan ada beberapa pengurus asrama yang belum dianggap sebagai keluarganyaAy Sofia yang merupakan santri kelas 9 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Ausaya menganggap pengurus asrama Al-Musthafa sebagai keluarga karna pengurus asrama membimbing jadi lebih baik dan selalu mengingatkan agar disiplin dan bisa menjaga kebersihan lingkunganAy Nadin yang merupakan santri kelas 9 salah satu informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Audia menganggap pengurus asrama sebagai keluarga karna kalo dirumah keluarga dia ibu ayah sedangkan di pesantren ini pengurus asrama yang menjadi keluarganyaAy 458 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Peran yang diterapkan oleh pengurus asrama dalam menangani permasalahan pergaulan melalui pembinaan informal yang dimana itu telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan fungsi manajemen, khususnya dalam aspek pengorganisasian. Adapun peran pengurus asrama dibagi ke dalam beberapa bagian. Bagian pelayanan umum, yang terdiri dari mudabir asrama, wakil asrama, sekretaris, dan pengurus asrama, bertanggung jawab atas memenuhi kebutuhan santri. Bagian kesiswaan bertugas mengawasi kedisiplinan santri, menertibkan mereka, mengawasi santri dalam kegiatan piket lingkungan, serta memberikan sanksi/hukuman jika santri tidak menaati peraturan. Selain itu, terdapat bagian walikelas sekaligus walikamar yang bertugas mengontrol dan mengawasi seluruh aktivitas santri, menangani permasalahan yang muncul, serta membina akhlak mereka dengan bantuan tim Bimbingan Konseling (BK). Strategi Pembinaan Akhlak yang Diterapkan di Asrama Al-Musthafa Setiap pengurus asrama Al-Musthafa memiliki strategi berbeda dalam membina akhlak santri. Mereka mencatat perkembangan santri dalam buku khusus untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan melakukan evaluasi. Penelitian menunjukkan bahwa strategi pembinaan akhlak di Asrama sudah baik dan sistematis, sesuai dengan visi dan misi yang ingin dicapai. Strategi pembinaan akhlak yang diterapkan oleh pengurus asrama sudah terstruktur dan sistematis, sesuai dengan pembahasan dalam kajian pustaka serta selaras dengan visi, misi, dan tujuan yang ingin dicapai. Strategi ini dikenal dengan istilah unsyithoh yaumiyah, yang melibatkan berbagai metode pembinaan yang efektif. Salah satu metode yang digunakan adalah keteladanan dan pembiasaan, di mana santri dibimbing dengan contoh nyata dari pengurus asrama agar terbiasa melakukan perilaku positif. Kemudian, metode diskusi dan motivasi juga diterapkan untuk membangun pemahaman santri terhadap aturan yang ada serta memberikan dorongan agar mereka lebih semangat dalam mengembangkan diri. Selain itu, strategi pemberian sanksi dan penghargaan digunakan untuk menegakkan disiplin. Sanksi diberikan kepada santri yang melanggar aturan agar mereka menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya, menunjukkan sikap disiplin dan akhlak yang baik. Selain strategi di atas, pengurus asrama juga menerapkan metode nasihat dan Nasihat diberikan kepada santri secara rutin sebagai bentuk bimbingan agar mereka dapat memahami nilai-nilai kebaikan dan menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Pengawasan juga dilakukan secara ketat untuk memastikan bahwa santri mematuhi peraturan dan menjalankan aktivitas sesuai dengan aturan yang berlaku. Metode lain yang digunakan dalam pembinaan akhlak adalah pendekatan langsung dan tidak langsung. Pendekatan langsung dilakukan dengan berinteraksi secara pribadi dengan santri, memberikan arahan, serta membangun hubungan yang lebih dekat agar santri merasa nyaman untuk menyampaikan masalahnya. Sementara itu, pendekatan tidak langsung diterapkan melalui aturan yang telah disepakati dan konsekuensi yang diberikan kepada santri yang melanggar komitmen yang telah ditetapkan. 459 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Pendekatan komprehensif juga diterapkan dalam pembinaan akhlak santri. Pendekatan ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan dalam jangka waktu tertentu dengan koordinasi yang baik antara pengurus asrama, guru, dan tim Bimbingan Konseling. Dengan adanya strategi yang sistematis dan terarah ini, pembinaan akhlak santri dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Santri tidak hanya dibentuk menjadi individu yang disiplin dan berakhlak baik, tetapi juga memiliki jiwa mandiri, kompetitif, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan di lingkungan asrama maupun di masa depan. Berdasarkan hasil wawancara bersama Ustadzah Sri Lestari selaku pengurus asrama mengungkapkan bahwa: AuMetode pembinaan yang dipakai oleh pengurus asrama, dan walikelas/walikamar dalam membentuk karakter santri serta menyelesaikan permasalahan santri ialah buku data masalah dan pengurus akan melakukan evaluasi setiap seminggu sekaliAy Setiap wali kelas/wali kamar serta pengurus asrama memiliki buku khusus yang berfungsi untuk mendata, mencatat, dan mengevaluasi setiap kegiatan santri. Buku ini digunakan secara sistematis untuk memantau kondisi santri, mengawasi perkembangan individu mereka, serta menangani permasalahan santri secara lebih efektif. Dalam situasi tertentu, pengurus asrama bersama wali kelas/wali kamar dapat mengundang orang tua santri untuk berdiskusi mengenai kondisi anak mereka, dengan tujuan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi. Selain itu, wali kelas/wali kamar juga menerapkan pendekatan langsung dengan mengunjungi kamar santri guna melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Hasil pemantauan ini kemudian dicatat dan dilaporkan secara sistematis. Menurut Ustadzah Ersy, salah satu informan dalam penelitian ini, beliau mengungkapkan bahwa: AuMetode pembinaan berfokus pada pendekatan komprehensif, pembiasaan seperti piket lingkungan, kegiatan harian (Unsyithoh Yaumiyah Santr. , dan pembentukan karakter, pendekatan tidak langsung pemberian dukungan moral, pemberian motivasi melalui kata-kata positif, mengadakan kegiatan bersama untuk membangun kedekatan antara santri dengan pengurus seperti senam bersamaAy. Sanksi diberikan kepada santri yang terbukti melakukan pelanggaran, namun tetap disertai dengan bimbingan, pemahaman, dan nasihat agar mereka dapat belajar dari Pengurus asrama serta wali kelas/wali kamar berperan sebagai teladan dengan permasalahan santri, serta menghindari pendekatan yang bersifat menghakimi. Selain itu, pengawasan dilakukan secara rutin 2Ae3 kali dalam seminggu guna memastikan perkembangan santri. Sebagai bentuk apresiasi, penghargaan sederhana seperti pujian, acara makan bersama, atau bentuk penghargaan lainnya diberikan kepada santri yang menunjukkan perilaku positif. Pengurus asrama dan wali kelas/wali kamar juga berfungsi sebagai tempat berbagi bagi santri, menciptakan lingkungan yang suportif dan nyaman bagi mereka. 460 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Dalam penelitian ini. Ustadzah Sepriyati mengungkapkan bahwa pola interaksi individu dengan orang lain serta tantangan dalam beradaptasi mencerminkan dinamika problematika pergaulan santri. Beragam karakter santri, baik yang ekstrovert maupun introvert, menuntut pengurus asrama untuk menerapkan pendekatan yang tepat dalam menangani permasalahan tersebut. Dalam upaya membimbing santri agar dapat menghadapi berbagai tantangan pergaulan dengan lebih baik, diterapkan beberapa strategi yang terstruktur dan sistematis. Salah satu strategi yang dilakukan adalah pengenalan karakter santri, yang bertujuan untuk memahami kepribadian mereka secara lebih mendalam. Proses ini dilakukan melalui observasi serta interaksi langsung, sehingga pengurus asrama dan wali kelas/wali kamar dapat menyesuaikan pendekatan yang paling efektif sesuai dengan karakter masing-masing Selain itu, diterapkan pula pendekatan sosial, yang diwujudkan dalam bentuk diskusi pribadi serta pemberian wawasan kepada santri. Melalui pendekatan ini, santri diberikan ruang untuk menyampaikan permasalahan mereka, mendapatkan pemahaman yang lebih baik, serta menemukan solusi yang tepat dalam menghadapi berbagai dinamika sosial di lingkungan asrama. Tak hanya itu, pembinaan karakter positif juga menjadi bagian penting dalam strategi ini. Santri didorong untuk menanamkan rasa tanggung jawab serta membiasakan diri melakukan introspeksi agar mampu berkembang secara mandiri. Dengan pembinaan ini, mereka tidak hanya menjadi pribadi yang lebih disiplin, tetapi juga lebih matang dalam bersikap dan mengambil keputusan. Sebagai langkah lanjutan, dilakukan pendampingan berkelanjutan, yaitu pemantauan rutin terhadap perkembangan santri. Pendampingan ini memastikan bahwa setiap santri mendapatkan bimbingan sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka merasa didukung dan diarahkan dalam perjalanan pengembangan diri mereka. Ustadzah Mardiana pernyataan ini mencerminkan model problematika pergaulan karna perubahan dan perkembangan santri memiliki proses perubahan akhlak yang membuat santri itu mulai memahami batasan pergaulan dan menutup aurat serta meningkatnya kesadaran diri untuk berubah. Hal ini juga memerlukan dukungan keluarga karna peran keluarga yaitu hubungan anak dengan orang tua sangat mempengaruhi perkembangan santri, komunikasi antar santri dengan walikelas/walikamar membantu proses perubahan dan perubahan itu bisa dilihat dalam kedisiplinan santri dan tanggung jawab santri. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi dengan pihak terkait, peneliti menyimpulkan bahwa pengurus asrama memiliki peran penting dalam pembinaan akhlak dan menangani permasalahan pergaulan santri. Pembinaan dilakukan secara informal dan telah berjalan dengan baik, sesuai dengan fungsi manajemen, terutama dalam aspek pengorganisasian. Peran pengurus asrama terbagi dalam beberapa bagian yang memiliki tugas masing- 461 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Bagian pelayanan umum terdiri dari mudabir asrama, wakil asrama, sekretaris, dan pengurus asrama yang bertugas memenuhi kebutuhan santri, termasuk mengatur fasilitas serta memastikan kesejahteraan mereka. Selanjutnya, bagian kesiswaan bertanggung jawab dalam menjaga kedisiplinan santri, menertibkan mereka, serta mengawasi kegiatan piket Bagian ini juga berperan dalam memberikan sanksi atau hukuman jika santri melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Selain itu, terdapat peran walikelas dan walikamar yang bertugas mengawasi seluruh aktivitas santri, menangani permasalahan yang muncul di asrama, serta membina akhlak mereka dengan bantuan tim Bimbingan Konseling (BK). Strategi pembinaan akhlak yang diterapkan oleh pengurus asrama sudah terstruktur dengan baik dan tersistematis, sesuai dengan pembahasan dalam tinjauan pustaka serta sejalan dengan visi, misi, dan tujuan yang ingin dicapai. Strategi pembinaan akhlak ini bernama unsyithoh yaumiyah dengan memakai metode. Beberapa pola pembinaan yang diterapkan meliputi: Tauladan dan Pembiasaan: Memberikan contoh baik dan membiasakan santri dengan perilaku positif melalui kegiatan berulang. Diskusi dan Motivasi: Mengajak santri berdiskusi untuk memahami aturan dan memberikan motivasi agar lebih semangat. Hukuman dan Penghargaan: Memberikan teguran dan konsekuensi untuk kesalahan, serta apresiasi untuk mendorong semangat. Nasihat dan Pengawasan: Mengarahkan santri dengan nasihat serta mengawasi kegiatan mereka agar tetap dalam jalur pembinaan. Pendekatan Langsung dan Tidak Langsung: Berinteraksi langsung untuk membimbing santri, serta menerapkan aturan dan konsekuensi secara tidak langsung. Pendekatan Komprehensif: Menggunakan strategi menyeluruh dalam bimbingan akhlak, mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara terkoordinasi DAFTAR RUJUKAN Alimni. , et al. Strategi pembinaan akhlak santri di Pondok Pesantren AlQuraniyah Manna Bengkulu Selatan. Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam, 6. , 342Ae350. Amin. Konsep umum populasi dan sampel dalam penelitian. Pilar: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 14. , 15Ae31. Almuarif. Peran perencanaan strategis dalam organisasi. Manajemen Pendidikan Islam, 1. , 1Ae15. Andi. , et al. Peranan akhlak dalam pembentukan kepribadian Muslim. Jurnal Pendidikan Islam, 3. , 1Ae14. Anggranti. Pembinaan keagamaan dalam peningkatan kesadaran beragama warga binaan Lapas Perempuan dan Anak Kelas II Tenggarong. Jurnal Pendidikan Islam, 1, 14Ae22. (Catatan: periksa kembali nama jurnal dan volumenya, karena kurang jelas. 462 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Silmi Aulia. Sobirin. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 454-463 Fitri. , et al. Pesantren di Indonesia: Lembaga pembentukan karakter. Al-Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 2. , 42Ae54. https://journal. id/index. php/alurwatul Suryani. , et al. Karakteristik akhlak Islam dan metode pembinaan akhlak dalam pemikiran Al-Ghazali. Islam dan Contemporary Issues, 1. , 31Ae38. Lenaini. Teknik pengambilan sampel purposive dan snowball sampling. Historis: Jurnal Kajian. Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah, 6. , 33Ae39. Rohman. , & Hafizul. Akhlak dan etika pergaulan dalam Surat Al-Hujurat. AlHikmah: Jurnal Studi Keislaman dan Pendidikan, 11. , 20Ae27. Sriyatun. , et al. Strategi pembinaan akhlak santri di pondok pesantren. Social Humaniora, 4. , 91Ae98. Tsalitsah. Akhlak dalam perspektif Islam. Al-Hikmah: Jurnal Studi Agama-Agama, 6. , 110Ae128. Wahyudi. Strategi pendidikan akhlak bagi generasi muda di era disrupsi. TaAolim: Jurnal Studi Pendidikan Islam, 3. , 141Ae161. Waruwu. Pendekatan penelitian pendidikan: Metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif, dan metode penelitian kombinasi . ixed metho. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7. , 2896Ae2910. 463 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S