Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Analisis Perubahan Fungsi Lahan Terhadap Ruang Terbuka Hijau Dalam Kurun Waktu 2004-2022 di Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan Rahmat Purnayudhanto 1,*. Muhammad Sibly2. Quinanita Sharendra Nugraha3 11 Geografi. Universitas Negeri Jakarta 1. Jl. Mangun Muka Raya No. RT. 11/RW. Rawamangun Email Korespondensi: rpurnayudhanto@gmail. Abstract Sitasi: Purnayudhanto. Sibly. Nugraha. S, . Analisis Perubahan Fungsi Lahan Terhadap Ruang Terbuka Hijau Dalam Kurun Waktu 2004-2022 di Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan Jurnal Sains Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima: 16 Oktober 2023 Disetujui: 24 Oktober 2023 Publikasi: 25 November2023 Green Open Space (GOS) as an open space whose utilization is more in the nature of filling green plants or growing plants naturally or cultivating plants such as agricultural land, landscaping, plantations and so on (Pemendagri No. 1, 2007, Regarding Arragement of Green Open Spaces in Urban Area. Along with the development of the times, of course the function of the land wich was originally a green open space has changed its function of use. The Srengseng Sawah Village area is an example of an area that is experiencing a change in land use. The form of transition of land use from green open space to built-up land, of course, makes the environmental conditions of Srengseng Sawah change over time. Keyword: Change. GOS. Transfer of Land Function Abstrak Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai ruang terbuka yang pemanfaatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau tumbuh tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman seperti lahan pertanian, pertamanan, perkebunan dan sebagainya (Pemendagri No. 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaa. Seiring berkembangnya zaman, tentunya fungsi lahan yang semula ruang terbuka hijau beralih fungsi kegunaannya. Wilayah Kelurahan Srengseng Sawah menjadi salah satu contoh wilayah yang mengalami peralihan fungsi lahan. Bentuk peralihan fungsi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi lahan terbangun, tentunya membuat kondisi lingkungan Srengseng Sawah seiring berjalannya waktu berubah. Kata Kunci: Perubahan. RTH. Peralihan Fungsi Lahan Pendahuluan Kelurahan Srengseng Sawah adalah sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Jagakarsa. Jakarta Selatan. Indonesia. Kelurahan ini memiliki luas sekitar 1,83 kmA dan jumlah penduduk sekitar 35. 000 jiwa . erdasarkan data tahun 2. Sejarah kelurahan Srengseng Sawah dapat ditelusuri sejak masa penjajahan Belanda. Pada saat itu, wilayah ini masih berupa lahan pertanian dan Setelah Indonesia. Srengseng Sawah menjadi salah satu kawasan penghasil beras dan sayuran yang terkenal di Jakarta. Kelurahan Srengseng Sawah mengalami perubahan fungsi lahan yang cukup signifikan dalam beberapa Purnayudhanto dkk. Halaman 12 dekade terakhir. Sebelumnya, wilayah ini dikenal sebagai lahan pertanian dan perkebunan yang subur. Namun, dengan pesatnya perkembangan kota Jakarta, lahanlahan tersebut kemudian beralih fungsi menjadi kawasan perumahan dan komersial. Perubahan fungsi lahan merujuk pada pergeseran penggunaan lahan dari satu bentuk penggunaan ke bentuk penggunaan yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena beberapa alasan seperti urbanisasi, pertanian, industri, kehutanan, dan perubahan iklim. Urbanisasi adalah salah satu faktor utama dalam perubahan fungsi lahan. Dalam perkembangan kota, lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian, hutan, atau lahan terbuka hijau, beralih menjadi kawasan perumahan, kawasan komersial, atau Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. kawasan industri. Pertumbuhan populasi dan meningkatnya kebutuhan akan fasilitas umum, termasuk tempat tinggal dan pusat perbelanjaan, mendorong urbanisasi dan perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi lahan di kelurahan Srengseng Sawah dimulai pada tahun 1970-an ketika pemerintah mengembangkan kawasan tersebut sebagai kawasan perumahan. Pada awalnya, pembangunan perumahan masih terbatas dan lebih didominasi oleh hunian sederhana, namun seiring berjalannya waktu, kawasan ini semakin berkembang dan dihuni oleh masyarakat yang lebih berpenghasilan tinggi. Pembangunan perumahan yang semakin pesat ini kemudian memaksa pihak pengembang untuk merombak lahan-lahan pertanian yang ada di sekitarnya. Dalam beberapa dekade terakhir, kelurahan Srengseng Sawah juga menjadi tujuan para pengembang komersial. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai pusat perbelanjaan seperti mall, hotel, dan gedung perkantoran. Kehadiran pusat-pusat tersebut menjadikan kelurahan Srengseng Sawah sebagai salah satu kawasan bisnis yang strategis di Jakarta Selatan. Perubahan fungsi lahan di kelurahan Srengseng Sawah tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga Sebagai contoh, banyak petani yang sebelumnya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan, sekarang terpaksa mencari pekerjaan di sektor lain seperti jasa atau industri. Di sisi lain, dengan hadirnya kawasan bisnis dan perumahan yang berkualitas, kelurahan Srengseng Sawah juga menyediakan lapangan pekerjaan dan hunian yang nyaman bagi masyarakat. Perubahan fungsi lahan juga membawa dampak negatif bagi kelurahan Srengseng Sawah. Seperti kehilangan lahan terbuka hijau yang dapat mengurangi kualitas udara dan mengakibatkan perubahan suhu. Hal ini dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, pembangunan perumahan dan komersial juga dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas dan polusi suara. Dalam rangka mengelola perubahan fungsi lahan dengan baik, pemerintah dan masyarakat setempat perlu bekerja sama. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan keberlangsungan lahan. Selain itu, perlu adanya upaya untuk memastikan bahwa perubahan fungsi lahan tidak merugikan masyarakat setempat dan masyarakat luas secara keseluruhan. Metode Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Metode ini digunakan untuk menganalisis perubahan lahan yang terjadi terhadap ruang terbuka hijau di Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan memanfaatkan citra satelit landsat-7 dan kemudian diolah menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Dalam penelitian ini data yang disajikan berupa data spasial dan non spasial. mana data spasial akan ditampilkan berupa peta administrasi Kelurahan Srengseng Sawah. Peta Administrasi Kecamatan jagakarsa, serta Citra Perubahan Lahan yang diperoleh dari Citra Satelit Landsat-7. Serta data non spasial akan disajikan berupa data luas wilayah Kelurahan Srengseng Sawah dan Basis data nama jalan dan lainnya. Data data yang akan diperoleh tersebut, kemudian akan diolah lebih lanjut menggunakan software QGis 3. 30 untuk menghasilkan informasi yang lebih kompleks terkait perubahan lahan terhadap ruang terbuka hijau di Kelurahan Srengseng Sawah. Kota Jakarta Selatan. Citra Satelit Landsat-7 yang digunakan dalam penelitian ini diolah dengan sofware Qgis 3. 30 dengan menggunakan metode Supervised Classification. Yang mana hasil pengolahan ini merupakan contoh dari penerapan sistem informasi geografis. Metode Supervised Classification adalah teknik yang digunakan dalam pemrosesan citra untuk mengklasifikasikan piksel-piksel dalam citra menjadi kategori yang telah ditentukan sebelumnya. Pada QGIS Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. (Quantum Geographic Information Syste. , terdapat beberapa algoritma yang dapat digunakan untuk melakukan klasifikasi berdasarkan metode supervised, salah satunya adalah algoritma Random Forest Classifier. Metode Supervised Classification pada QGIS dengan plugin Semi-Automatic Classification Plugin (SCP) adalah teknik penggunaan data pelatihan yang sudah diketahui kelasnya . untuk mengklasifikasikan objek atau piksel pada citra atau peta tematik lainnya. Hasil dan Pembahasan Hasil Kelurahan Srengseng sawah merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Jagakarsa. Kota Jakarta Selatan yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1251 Tahun 1986 Kelurahan Srengseng Sawah memiliki luas wilayah 674,70 Ha. Serta Terdiri dari 19 Dusun serta 156 RT didalamnya. Dengan batas administrasi kelurahan Srengseng Sawah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kelurahan Lenteng Agung Sebelah Timur: Kali Ciliwung Sebelah Selatan: Kotamadya Depok Sebelah Barat : Kelurahan Ciganjur dan Kelurahan Cipedak Gambar 1. Peta Administrasi Kelurahan Srengseng Sawah (Sumber. Pemprov DKI Jakart. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa terjadi penutupan lahan besar besaran dalam kurun waktu 2005-2022 hal ini tentunya sangat amat merusak sebagian besar ruang terbuka hijau di kelurahan Srengseng Sawah. Dalam hal ini bangunan yang menutupi lahan resapan atau lahan hijau menggambarkan pertumbuhan penduduk Srengseng Sawah yang Kurang terkontrol. Hal yang menjadi perhatian utama dalam penelitian ini adalah bangunan . eliputi sekolah, gedung, tempat tinggal, lapangan, jalan. Ds. Lahan hijau / Vegetasi . eliputi pepohonan, hutan, kebun, taman. Ds. Serta permukaan air dan rupa lain. Penelitian ini meng-analisis citra landsat-7 dengan menggunakan software Qgis 3. dengan menggunakan metode Supervised Classification untuk melihat tutupan lahan yang ada pada tahun 2005, 2016, 2010, dan 2022 guna mengkaji peralihan fungsi lahan Kelurahan Srengseng Sawah dalam kurun waktu 2005-2022. Berikut adalah langkah-langkah umum untuk Supervised Classification menggunakan SCP di QGIS: Instalasi Plugin: Unduh dan instal plugin Semi-Automatic Classification Plugin (SCP) melalui plugin manager di QGIS. Persiapan Data Pelatihan: Siapkan data pelatihan yang terdiri dari piksel yang sudah diketahui kelasnya. Data ini dapat berupa poligon atau titik yang mewakili kelas-kelas yang ingin diklasterkan. Impor Citra atau Peta Tematik: Impor citra atau peta tematik yang ingin diklasifikasikan ke dalam proyek QGIS. Pelatihan Model: Buka SCP dan pilih menu "Supervised Classification". Pilih citra atau peta tematik yang akan diklasifikasikan. Selanjutnya, pilih data pelatihan yang sudah disiapkan sebelumnya. Pilih metode Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Maximum Likelihood atau Support Vector Machines (SVM). Atur juga parameterparameter yang sesuai, seperti jumlah kelas atau fitur yang akan digunakan. Klasifikasi: Setelah melatih model menerapkan model tersebut pada citra atau peta tematik yang ingin diklasifikasikan. Pilih menu "Classification" di SCP dan pilih citra atau peta tematik yang akan Setelah proses selesai, hasil klasifikasi akan ditampilkan dalam bentuk peta tematik baru. Evaluasi dan Pengolahan Hasil: Setelah klasifikasi selesai, kami dapat melakukan mengevaluasi akurasi klasifikasi. SCP menyediakan berbagai metrik evaluasi yang dapat digunakan. Selain itu, tahap ini juga dapat dilakukannya pengolahan lanjutan menggabungkan kelas-kelas yang serupa atau melakukan filterisasi Gambar 2. Perbandingan area Terbuka Hijau di tahun 2005, 2010, 2016 dan 2022 (Sumber. Citra Landsat-. Pembahasan Klasifikasi bagi bangunan, lahan hijau, air dan rupa lain ditentukan dengan formula Maximum Likelihood (ML): Lahan Hijau: ML == 1 Air: ML == 2 Bangunan: ML == 3 Support Vector Machines (SVM): Lahan Hijau: SVM == 1 Air: SVM == 2 Bangunan: SVM == 3 Random Forest (RF): Lahan Hijau: RF == 1 Air: RF == 2 Bangunan: RF == 3 Dari langkah tersebut, maka didapatkan dikomparasikan kembali untuk melihat Gambar 3. Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2005 (Sumber: Citra Landsat-. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Gambar 4. Grafik Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2005 (Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2. Tahun 2005. Sebagian besar wilayahnya masih di selimuti oleh lahan hijau/ vegetasi. Data menunjukkan lebih dari 50% dari total luas wilayah Kelurahan Srengseng Sawah ditutupi oleh lahan hijau dan vegetasi. Gambar 6. Grafik Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2010 (Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2. Tahun 2010, peningkatan pesat terjadi 24% pada lahan terbangun, tentunya ini memangkas luas lahan hijau/ vegetasi yang ada di Kelurahan Srengseng Sawah. hanya lahan terbangun, dalam citra terekam mulai bermunculan permukaan air baru . iduga kawasan limpasan air yang sudah menggenan. dan rupa lain. Gambar 5. Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2010 (Sumber: Citra Landsat-. Gambar 6. Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2016 (Sumber: Citra Landsat-. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Gambar 7. Grafik Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2016 (Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2. Tahun 2016, lahan terbangun terus mengalami perluasan lahan. Bahkan di luas lahan terbangun di presentasikan lebih dari 50 % dari luas wilayah Kelurahan Srengseng Sawah. Ditahun 2016 ini terjadi penyusutan luas lahan air . ang diduga limpasa. dan Rupa lain. Namun. Penyusutan yang terjadi bukan karena lahan hijau/vegetasi yang Gambar 8. Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2022 (Sumber: Citra Landsat-. TUTUPAN LAHAN KELURAHAN SRENGSENG SAWAH (Km. Tahun Air Hijau Bangunan Jumlah 0,67282 3,13982 1,79418 5,60682 0,44855 2,01846 3,13982 5,60683 0,59182 1,59552 3,41948 5,60682 0,37503 1,03525 4,19654 5,60682 meluas, melainkan efek dari perluasan lahan Gambar 9. Grafik Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2022 (Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2. Tahun 2022, penyusutan lahan hijau/vegetasi terlihat semakin memprihatinkan. Di tahun 2022, penyusutan terhadap lahan hijau. vegetasi terjadi lebih dari 25% dari luas lahan hijau yang ada pada tahun 2005. di tahun ini tentunya dampak negatif lingkungan sudah semakin terasa. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Tabel 1. Tabel Tutupan Lahan Srengseng Sawah Dalam Kilometer Persegi Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2005, 2010, 2016, dan Dalam dinamika penyusutan lahan hijau/ terbagun dapat digambarkan dalam grafik Bahkan tak hanya luas lahan hijau/vegetasi yang terdampak secara tak langsung oleh peningkatan jumlah penduduk ini. Manusia sebagai penduduk Kelurahan Srengseng Sawah dan sekitarnya pun ikut merasakan dampak dari penyusutan lahan hijau ini. Alih fungsi lahan yang terjadi di Kelurahan Srengseng Sawah ini berdampak pada peningkatan suhu di wilayahnya, polusi udara, berkurangnya daerah resapan air, dan semakin tinggi sampah yang dihasilkan di lingkungan tersebut. Kesimpulan Dalam kurun waktu 2005-2022 ruang terbuka hijau di Kelurahan Srengseng Sawah sudah banyak terpangkas untuk bangunan, memprihatinkan, dimana suatu kawasan kini sudah berkurang lebih dari 25% pasokan oksigen dan resapan air alami. Gambar 10. Grafik Penyusutan Lahan Hijau/Vegetasi Dalam Kurun Waktu 20052022 (Sumber: Peta Tutupan Lahan Srengseng Sawah 2005, 2010, 2016, dan Dalam grafik tersebut, terlihat penyusutan yang terjadi sangat signifikan pada luas lahan hijau/ vegetasi dalam kurun waktu 20052022. Tak tanggung tanggung penyusutan yang terjadi dalam 17 tahun terakhir sebesar 2,10457 Km2. Hal ini tentunya patut jadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah untuk mempertahankan dan melestarikan luas lahan hijau/vegetasi demi kondisi lingkungan yang lebih baik. Penyusutan yang terjadi terhadap lahan hijau/ vegetasi secara langsung disebabkan oleh perluasan lahan terbangun. Luasnya lahan terbagun yang meningkat secara terus terjadi karna aspek peningkatan penduduk di Kelurahan Srengseng Sawah, sebagaimana kita dapat pahami jika manusia perlu membuat atau mencari hal hal yang dapat memenuhi kebutuhan primer hidup. empat tinggal, mencari nafkah, ds. oleh karena hal tersebut, maka lahan yang tersedia dibangun secara terus menerus hingga akhirnya memangkas lahan hijau/vegetasi yang tersedia untuk kebutuhan lingkungan. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk lahan hijau, dan memicu terjadinya bencana bencana alam dan sosial di kemudian hari. Daftar Pustaka