Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Optimalisasi Penggunaan Video Animasi untuk Meningkatkan Kemandirian Optimalisasi Penggunaan Video Animasi untuk Meningkatkan Menyikat Gigi Anak Tunagrahita Kemandirian Menyikat Gigi Anak Tunagrahita (The Optimizing the Use of Animated Videos to Improve Toothbrushing Skills of Children with Mental Disabilitie. Received: 02 Desember 2025 Revised: 10 Desember 2025 Accepted: 24 Desember 2025 Eva Oktaviani*1. Jawiah2. Rehana3. Sumitro Adi Putra4 1,2,3,4Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia *e-mail: evaoktaviani@poltekkespalembang. id1 , jawiah@poltekkespalembang. rehana@poltekkespalembang. Abstract Abstract Childrenwith with intellectual intellectual disabilities disabilities experience experience cognitive and adaptive limitations Children limitations that that affect affect their abilitytoto perform perform self-care self-care activities, activities, including including maintaining maintaining oral hygiene. This condition condition requires requires the the use that are are simple, simple, concrete, concrete, and and engaging to ensure that information information can can be be more more easily Animated Animated videos videos were were selected selected as the educational medium because because they they provide provide clear visuals,easy-to-follow easy-to-followsequences, sequences, and and behavioral behavioral examples examples that children can directly directly imitate. This This community program aimed aimed toto improve improve the the tooth-brushing tooth-brushing knowledge and skills of 20 20 students students with with intellectual disabilitiesatatSLB SLB Negeri Musi Rawas video viewing. Negeri Musi Rawas video viewing, and practical practical demonstrations. an increase in knowledge from. oor 40% categor. oor categor. The resultsThe in knowledge from 40% . ood categor. , an improvement in tooth-brushing 5%. to to 80% . ood as wellasaswell in ooth-brushing . ood These Thesefindings havea apositive is engaging, learning characteristics characteristics of of children with to to with intellectual Animated Animatedvideos also have have the the potential potential to serve as a sustainable sustainable learning learning model model to to enhance Keywords:Animated AnimatedVideo. Video,Children Childrenwith withSpecial SpecialNeeds. Needs,Intellectually IntellectuallyDisabled. Disabled,Tooth ToothBrushing Brushing Keywords: Abstrak Anak tunagrahita memiliki hambatan intelektual dan adaptif yang berdampak pada keterbatasan kemampuan perawatan diri, termasuk menjaga kebersihan gigi. Kondisi ini menuntut penggunaan metode edukasi yang sederhana, konkret, dan menarik agar informasi dapat dipahami serta diterapkan dengan lebih Video animasi dipilih sebagai media edukasi karena mampu menyajikan visual yang jelas, alur yang mudah diikuti, dan contoh perilaku yang dapat ditiru secara langsung oleh anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menyikat gigi pada 20 siswa tunagrahita di SLB Negeri Musi Rawas melalui penyuluhan, pemutaran video animasi, dan demonstrasi praktik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dari 40% . ategori kuran. menjadi 85,5% . ategori bai. , serta peningkatan keterampilan menyikat gigi dari 40,5% . ategori kuran. menjadi 80% . ategori bai. Temuan ini menunjukkan bahwa video animasi memberikan dampak positif sebagai media edukasi yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakteristik belajar anak tunagrahita. Video animasi berpotensi menjadi model pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan kemandirian perawatan diri pada anak Kata kunci: Anak Bekebutuhan Khusus. Menyikat Gigi. Tuna Grahita. Video animasi PENDAHULUAN Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam kemampuan intelektual dan adaptif, sering kali menghadapi tantangan dalam memahami serta menerapkan praktik perawatan diri, termasuk menjaga kebersihan gigi dan mulut (Ningrum & Bakar, 2. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, terutama bagi anak-anak yang berada dalam masa World Health Organization . melaporkan bahwa sekitar 450 juta anak di dunia mengalami retardasi mental, dengan 15% di antaranya tergolong tunagrahita pada tahun 2020. Indonesia, menurut Kemenkes . , penyandang disabilitas mencakup tunagrahita . ,14%). P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Eva Oktaviani. Jawiah. Rehana. Sumitro Adi Putra SN: 1978-1520 ,17%), tunawicara . ,14%), down syndrome . ,13%), tunadaksa . ,8%), dan tunarungu . ,7%). Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 45,3% penduduk mengalami masalah gigi seperti gigi rusak dan berlubang, serta 14% mengalami gangguan pada gusi. Pada anak tunagrahita, prevalensi karies gigi mencapai 82,6%, yang tergolong tinggi. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian fundamental dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh dan kualitas hidup seseorang. Bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK), khususnya anak tunagrahita, perawatan kesehatan gigi seringkali menjadi tantangan tersendiri (Dewi et al. , 2. Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam aspek kognitif, komunikasi, dan perilaku adaptif, yang berdampak pada kemampuan mereka dalam memahami dan menerapkan informasi terkait perawatan diri, termasuk menyikat gigi secara benar dan rutin (Shah et al. , 2. Keterbatasan dalam kemampuan intelektual dan adaptif ini menyebabkan kelompok ini rentan mengalami masalah kesehatan gigi serius seperti karies, radang gusi, dan bau mulut Mengingat tantangan ini, anak-anak tunagrahita memerlukan pendekatan edukasi yang berbeda dibanding anakanak pada umumnya (Choirunnisa et al. , 2. Salah satu metode yang efektif untuk menyederhanakan informasi dan membuatnya lebih mudah dipahami dan menarik adalah penggunaan media audio-visual, seperti video animasi (Nurjanah et al. , 2. Keterampilan menyikat gigi menjadi bagian penting dalam pembelajaran bina diri karena berkaitan erat dengan kebersihan dan fungsi sosial (Syahril, 2. Namun, metode pengajaran yang digunakan secara umum di sekolah ini masih konvensional. Anak tunagrahita seringkali mengalami hambatan dalam pembelajaran abstrak, sehingga metode konvensional belum optimal dalam menyampaikan konsep perawatan diri, yang menunjukkan pentingnya penyusunan strategi pembelajaran yang tepat. Berdasarkan kondisi tingginya jumlah anak tunagrahita, keterbatasan dalam keterampilan merawat diri, dan metode pengajaran konvensional yang belum optimal, maka perlu adanya suatu upaya untuk mengatasi permasalahan dalam memahami cara mengosok gigi. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran yang bersifat visual dan interaktif, seperti video animasi, menjadi alternatif yang relevan karena memiliki keunggulan dalam menyederhanakan pesan dan memvisualisasikan prosedur yang harus dilakukan (Jannah et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak tunagrahita dalam merawat kesehatan gigi melalui media edukatif berupa video animasi yang interaktif dan menyenangkan. Keberhasilan program edukasi sangat bergantung pada keterlibatan aktif dari orang tua dan lingkungan sekitar, mengingat pendidikan kesehatan gigi sebagai alat ukur pengetahuan dan kesadaran memengaruhi kebiasaan. Intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam merawat kebersihan gigi sejak dini. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlokasi di SLB Negeri Musi Rawas pada bulan Agustus Sasaran utama kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah anak dengan tunagrahita dengen level satu sekolah dasar berjumlah 20 orang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan, ceramah dan diskusi interaktif, serta praktik menyikat gigi dengan media video animasi menyikat gigi. Kegiatan PkM ini dilakukan dalam tiga tahapan utama: Persiapan. Pelaksanaan, dan Evaluasi. Tahap Persiapan Tahap ini bertujuan untuk memastikan kesiapan tim pelaksana dan mitra di SLB Negeri Musi Rawas. Kegiatan utama meliputi: A Koordinasi Mitra: Melakukan kunjungan awal dan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru guna menyamakan persepsi terkait tujuan dan bentuk kegiatan. A Identifikasi Kebutuhan: Mengumpulkan data awal mengenai jumlah dan karakteristik anak tunagrahita, khususnya yang memiliki hambatan dalam perawatan kebersihan diri. A Penyusunan Media Edukasi: o Membuat video animasi edukatif menyikat gigi yang disesuaikan dengan karakteristik siswa tunagrahita. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 uly201x : first_pageAeend_page Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Menyusun modul panduan sederhana bergambar untuk guru dan orang tua sebagai alat bantu pendampingan di sekolah dan rumah. o Menyiapkan lembar observasi dan evaluasi keterampilan menyikat gigi. Logistik: Menyediakan alat praktik . ikat gigi, pasta gigi, model mulu. dan peralatan multimedia (LCD, speake. untuk kegiatan pelatihan. Tahap Pelaksanaan (Int. Tahap inti ini dilaksanakan secara langsung di SLB Negeri Musi Rawas dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua: A Sosialisasi dan Latihan menyikat gigi: Tim memberikan pelatihan singkat kepada guru dan orang tua mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi anak tunagrahita, diikuti dengan simulasi menyikat gigi yang benar. Pelatihan juga mencakup cara efektif menggunakan video animasi dan panduan visual dalam pendampingan anak. A Intervensi Media: Melakukan pemutaran video animasi edukatif dan mengulangnya di dalam kelas bina diri dengan durasi dan frekuensi yang telah ditentukan. A Praktik Langsung: Siswa melakukan praktik menyikat gigi secara langsung setelah menonton video, menggunakan alat peraga dan perlengkapan pribadi. Pendekatan yang digunakan adalah task analysis, yaitu pembelajaran bertahap sesuai kemampuan siswa. Tahap Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk menilai kebermanfaatan intervensi dan dampaknya terhadap perubahan perilaku siswa: A Evaluasi Keterampilan: Guru melakukan observasi langsung dan mencatat perkembangan siswa dalam menyikat gigi menggunakan lembar penilaian sederhana. A Evaluasi Respons Mitra: Mengukur efektivitas media dan program melalui wawancara singkat atau kuesioner kepada guru dan orang tua untuk mengetahui persepsi mereka terhadap penggunaan video animasi dan panduan edukatif. A Refleksi dan Tindak Lanjut: Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar penyusunan laporan akhir kegiatan dan untuk memberikan rekomendasi guna pengembangan program di masa mendatang atau replikasi di kelas lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada optimalisasi penggunaan video animasi untuk mengatasi hambatan dalam peningkatan keterampilan menyikat gigi pada anak tunagrahita di SLB Negeri Musi Rawas. Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam kemampuan intelektual dan perilaku adaptif yang menyebabkan mereka rentan terhadap masalah kesehatan gigi serius, termasuk karies dan radang gusi (Agustin, 2. Keterampilan menyikat gigi sendiri merupakan bagian krusial dari pembelajaran bina diri yang berkaitan dengan kebersihan dan fungsi sosial. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa intervensi dengan media video animasi, dikombinasikan dengan praktik langsung, adalah pendekatan yang efektif. Proses kegiatan pengabdian masyarakat kelas pangan berbasis lokal dapat dilihat pada tabel 1 berikut: Tabel 1. Proses kegiatan latihan praktik menyikat gigi dengan bantuan video animasi Metode Materi (Konten Vide. Target Luaran Indikator Keberhasilan Audiovisual Demonstrasi Sederhana Mengenal Alat: Pengenalan sikat dan pasta gigi dengan visual yang kontras dan jelas. Target: Anak mampu kebersihan gigi. Anak dapat menunjukkan dan menyebutkan . tau menunju. sikat dan pasta gigi saat diminta. Pemodelan (Modelin. dan Pengulangan Langkah Praktis (Stepby-Ste. Visualisasi gerakan menyikat yang dipecah menjadi 3-4 Luaran: Peningkatan keterampilan motorik . menyikat gigi secara Penilaian Keterampilan Praktik (Pre-test dan Posttes. Anak menyelesaikan minimal 3 dari 4 langkah menyikat P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Eva Oktaviani. Jawiah. Rehana. Sumitro Adi Putra SN: 1978-1520 menggunakan irama dan tempo lambat. gigi yang diajarkan tanpa Reinforcement Positif Jingle Motivasi & Penutup: Penggunaan memberikan pujian dan jingle atau lagu pendek yang mudah diingat. Target: Meningkatkan minat dan motivasi internal anak untuk menyikat gigi secara Anak merespons positif terhadap waktu menyikat gigi . idak menola. dan menyanyikan/menggumam kan jingle video. Praktik Terpandu Durasi Waktu: Visualisasi durasi sikat yang tepat . isalnya 2 timer visua. dan waktu sikat . agi dan mala. Luaran: Terbentuknya gigi dua kali sehari sesuai durasi yang Laporan tua/pendamping: Anak menyikat gigi setidaknya 2 kali sehari selama 7 hari berturut-turut . emantauan Hasil kegiatan pada tabel 1 menunjukkan kegiatan proses pembelajaran menggunakan video animasi terlaksana dengan baik. Kegiatan intervensi yang menggunakan video animasi sebagai media edukasi utama dan disempurnakan dengan praktik langsung ini mendapatkan respons yang sangat positif dari siswa, guru, dan orang tua. Kegiatan best practice dalam Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan benar dan pola hidup sehat lainnya dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tabel. 2 Hasil Perolehan Nilai Pre dan Post Test Kelompok Pretest Pengetahuan Gosok Gigi 40,0% (Kuran. Posttest 85,5% (Bai. Ketrampilan Gosok Gigi 80% (Bai. 40,5% (Kuran. Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat terjadi peningkatan persentase nilai pengetahuan dan ketrampilan menggosok gigi ABK dari kategori kurang menjadi baik. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan ABK tentang menggosok gigi dari nilai 40% . meningkat 85,5% . dan ketrampilan menggosok gigi dari 40,5% . menjadi 80% . Peningkatan ini tercermin dari perubahan kemampuan siswa dalam mempraktikkan tahapan menyikat gigi secara benar didukung oleh penguatan perilaku dari guru dan orang tua. Anak berkebutuhan khusus mengalami kelambatan kemampuan, serta perkembangan fisik dan psikologisnya tidak mengikuti irama dan tempo perkembangan (Tarantino et al. , 2. Pada hakikatnya, anak juga memerlukan pendidikan dan bimbingan seperti anak normal lainnya karena anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi untuk dikembangkan. potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal apabila mereka mendapatkan pengaruh atau bimbingan. Constantika et al. yang melaporkan peningkatan keterampilan praktik yang signifikan melalui edukasi berbasis animasi. Penggunaan media visual, seperti animasi, sangat memfasilitasi proses peniruan perilaku kesehatan yang benar pada anak berkebutuhan khusus karena sifatnya yang konkret dan daya tariknya yang tinggi (Nurjanah et al. , 2. Keberhasilan pendekatan ini didukung kuat oleh kerangka teoretis, khususnya Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML) yang dikembangkan oleh Mayer. Teori ini menjelaskan bahwa video animasi efektif karena mengaktifkan dua saluran belajar utama yaitu visual dan auditori, sehingga memperkuat pemahaman dan keterampilan. Hasil studi ini juga selaras dengan teori pembelajaran multimedia oleh Mayer . yang menyoroti peran penting visual dan animasi dalam memperkuat pemahaman dan keterampilan. Ruslan et al. menegaskan bahwa pendekatan edukasi yang mengandalkan media visual-animasi lebih superior dibandingkan metode pengajaran konvensional bagi subjek dengan hambatan intelektual. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 uly201x : first_pageAeend_page Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Secara pedagogis, media animasi sangat membantu populasi anak tunagrahita karena mereka cenderung kesulitan memproses informasi abstrak dan lebih mudah menyerap konten yang konkret. Animasi memudahkan mereka dalam meniru gerakan motorik secara mandiri dan langkah-langkah menyikat gigi secara runtut dan sederhana. Selain itu, animasi meminimalkan beban kognitif . ognitive loa. karena informasi disajikan secara fokus dan ringkas, serta memungkinkan pengulangan materi dengan mudah. Faktor intrinsik daya tarik visual dari video animasi juga memegang peranan krusial karena mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan subjek, yang pada akhirnya mempercepat proses internalisasi keterampilan. Penggunaan media visual dan interaktif, seperti video animasi, terbukti mampu mengatasi kesulitan anak tunagrahita dalam memahami konsep perawatan diri yang bersifat abstrak. Video animasi memiliki keunggulan dalam memvisualisasikan prosedur menyikat gigi menjadi langkahlangkah konkret, menarik perhatian siswa melalui warna dan gerakan, sehingga meningkatkan fokus dan retensi memori (Marliana, 2. Peningkatan fokus ini sangat penting mengingat anak tunagrahita menghadapi hambatan perilaku dan komunikasi yang dapat memengaruhi proses belajar. Di samping itu, efektivitas media dimaksimalkan melalui pendekatan praktik langsung . earning by doin. menggunakan teknik task analysis yang memecah keterampilan kompleks menjadi tahapan Metode ini memastikan bahwa siswa dapat menguasai setiap langkah menyikat gigi secara berurutan dan terukur, sejalan dengan prinsip pembelajaran yang efektif untuk ABK. Keberhasilan peningkatan keterampilan ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem edukasi yang meliputi guru pendamping dan orang tua. Edukasi kesehatan gigi penting diberikan sejak dini untuk meningkatkan kemandirian anak-anak (Oktaviani et al. , 2023. Pelaksanaan sosialisasi dan distribusi modul bergambar kepada guru dan orang tua memastikan adanya konsistensi penguatan di luar waktu pembelajaran formal. Keterlibatan aktif orang tua sangat penting dalam transfer keterampilan kebiasaan hidup sehari-hari di rumah. Dengan adanya penguatan berkelanjutan dari lingkungan sekitar, kebiasaan menyikat gigi yang benar dapat diterapkan secara konsisten. Program ini berhasil menawarkan model intervensi yang relevan dan terukur, di mana pendidikan kesehatan gigi menjadi alat ukur pengetahuan dan kesadaran yang mampu memengaruhi sikap dan kebiasaan, sehingga pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan keterampilan bina diri dan kualitas hidup anak tunagrahita. Berikut disajikan dokumentasi kegiatan pengabdian masyarakat di SLB N Musi Rawas: Gambar 1. Foto bersama kepala sekolah dan guru orang tua . Dokumentasi peserta P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Eva Oktaviani. Jawiah. Rehana. Sumitro Adi Putra SN: 1978-1520 Gambar 2. Kegiatan Praktik Menyikat Gigi . Pengenalan peralatan . Mencontohkan urutan menyikat gigi . Latihan praktik mandiri KESIMPULAN DAN SARAN Penggunaan video animasi yang dipadukan dengan praktik langsung memiliki dampak positif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menyikat gigi anak tunagrahita di SLB Negeri Musi Rawas. Skor pengetahuan meningkat dari pretest ke posttest, dan siswa mampu mempraktikkan lebih banyak langkah menyikat gigi secara mandiri secara berurutan. Keberhasilan program didukung oleh keterlibatan guru dan orang tua, sehingga media animasi dapat menjadi metode edukasi yang tepat dan berkelanjutan untuk membangun kebiasaan perawatan diri pada anak tunagrahita. Pihak sekolah, guru, dan orang tua perlu bekerja sama menjaga rutinitas menyikat gigi melalui penggunaan video animasi dan pendampingan yang konsisten. Pemantauan keterampilan anak dilakukan secara berkala, sementara motivasi diperkuat dengan pujian dan dukungan berkelanjutan di rumah maupun di sekolah. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Program Studi Keperawatan Lubuklinggau Poltekkes Kemenkes Palembang. Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palembang. Kepala Sekolah SLB N Lubuklinggau, segenap dewan guru, orang tua siswa yang telah mendukung dalam proses penerapan Ipteks bagi Masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA