Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 IDENTIFIKASI JENIS-JENIS POHON BERGETAH PUTIH DI ARBORETUM UNIVERSITAS LANCANG Imam Khoiri. Emy Sadjati. Ika Lestari* Program Studi Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Universitas Lancang Kuning. Pekanbaru, 28261. Indonesia. e-mail: lestariika32@gmail. ABSTRAK Arboretum merupakan tempat berbagai koleksi pohon-pohon dengan luasan Universitas Lancang Kuning (UNILAK) saat ini memiliki arboretum dengan luas 9,2 ha dikelola oleh Fakultas Kehutanan Unilak dan lokasi Arboretum terletak di kawasan kampus. Penelitian inventarisasi jenis pohon begetah putih di Arboretum Unilak sangat menarik mengingat baru sedikit dari tumbuhan jenis pohon bergetah putih yang telah dilaporkan keseluruhan bagiannya. Belum adanya proses inventarisasi dan identifikasi terhadap pohon bergetah putih yang ada di Arboretum Unilak, maka untuk memperoleh dan mengetahui jenis-jenis pohon bergetah putih dilakukan penelitian di Arboretum Unilak. Penelitian ini bertujuan inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis pohon bergetah putih di Arboretum Universitas Lancang Kuning. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan September 2021. Pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling. Pada pra-survey yang telah dilakukan, diketahui dengan luas Arboretum 9,2 ha maka didapatkan 230 plot dengan ukuran plot ukur 20 m x 20 m. Dari 230 plot diambil Intensitas Sampling 10% yang berarti 23 plot. Hasil identifikasi yang diperoleh dari lapangan diperoleh famili pohon bergetah putih diantaranya Apocynacea. Euphorbiacea. Moraceae dan Sapotaceae. Diantara jenisnya adalah Sendok-sendok (Endospermum duodenu. Tempunik (Artocarpus rigidu. Pulai rawa (Alstonia pneumatophor. Terap (Artocarpus elesticu. Balam (Palauium hexandru. Karet (Havea brasiliensi. Pulai (Alstonia scholari. dan Tampui (Baccaurea macrocarp. Hasil idenfikasi jenis pohon bergetah putih ini akan dijadikan informasi dan data untuk mendukung dan melengkapi keanekaragaman hayati flora khususnya pohon di Arboretum Unilak, dan sebagai khazanah pembelajaran bagi mata kuliah yang membutuhkan. Kata kunci: Arboretum, identifikasi, pohon bergetah putih PENDAHULUAN Arboretum merupakan tempat berbagai koleksi pohon-pohon dengan luasan Jenis pohon yang tumbuh di arboretum sengaja ditanam dimaksudkan mengikuti habitat aslinya dan sebagai areal pelestarian keanekaragaman hayati, serta sedikitnya dapat memperbaiki/menjaga kondisi iklim di sekitarnya. Universitas Lancang Kuning (UNILAK) saat ini memiliki arboretum dengan luas 9,2 ha dikelola oleh Fakultas Kehutanan Unilak dan lokasi Arboretum terletak di kawasan kampus. Arboretum Unilak saat ini dimanfaatkan oleh Fakultas Kehutanan untuk lokasi praktikum mahasiswa dan Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Pemanfaatan Arboretum menjadi penting jika pengelola dan pengunjung memiliki persepsi dan pemahaman yang tinggi terhadap Arboretum (Nopolion et al. Jika dikaji sesuai fungsinya saat ini Arboretum Unilak telah dinikmati secara baik aspek ekologi, ekonomi, edukasi dan sosial. Pada aspek ekologi Arboretum memberikan manfaat bagi kampus Unilak sebagai ruang hijau menghasilkan oksigen, menyerapkan karbondioksida, menyimpan karbon dan lain sebagainya. Saat ini Arboretum Unilak juga dalam tahap pengembangan, khususnya pada arsitektur dan penataan landskap. Namun dalam pengembangan Arboretum tentu harus mempertimbangkan aspek lainnya seperti aspek lingkungan berkaitan dengan keberlanjutan, penghematan energi, aspek iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati. Pertimbangan ini bertujuan untuk memberi kesimbangan pada ekosistem alam dengan aktivitas manusia di dalamnya (Limenta. Arboretum Unilak memiliki koleksi pohon dari berbagai suku pohon, terdapat 31 suku pohon, diantaranya terdapat 31 suku pohon ini terdapat 4 suku yang bergetah putih diantara Moraceae. Sapotacea. Euporbiacea dan Apocynaceae. Pohon bergetah putih merupakan ciri khas dari batang pohon dan tipe kulit batang, bila digunakan sebagai penanda dalam pengenalan jenis pohon sering mengalami kesulitan karena banyak kemiripan antara satu jenis dengan jenis lainnya. Pencirian lebih khusus terhadap sifat kulit batang ke arah bagian dalam, dapat membantu dalam pengenalan beberapa kelompok pohon akan mengeluarkan getah atau cairan yang khas, baik warna, bau, maupun sifat lain saat kulit batangnya terluka (Partomihardjo et al. , 2. Getah adalah bahan yang bersifat cair dan kental yang keluar dari batang, kulit atau daun yang terluka. Tidak dibedakan apakah cairan itu merupakan cairan nutrisi dari pembuluh tapis, lateks, maupun getah. Getah sendiri terbagi menjadi 3 kelompok yaitu hidrokoloid/hidrogel, latex dan resin (Kuspradini, et. Getah dari suku pohon bergetah putih terkenal dengan sebutan lateks yang merupakan cairan ataupun larutan berwarna putih susu. Keberadaan pohon bergetah putih di Arboretum Unilak diharapkan menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut. Seperti penelitian meningkatkan produksi getah yang dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga sangat memungkinkan untuk memperoleh pohon-pohon dengan produksi getah yang tinggi (Wibowo et al. , 2. Penelitian inventarisasi jenis pohon begetah putih di Arboretum Unilak sangat menarik mengingat baru sedikit dari tumbuhan jenis pohon bergetah putih yang telah dilaporkan keseluruhan bagiannya. Dengan adanya beragam jenis, variasi struktur, komposisi pada jenis pohon bergetah putih dan potensi pohon menjadi pendukung keanekaragaman hayati di Arboretum Unilak. Mengingat bahwa ancaman kepunahan akibat aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab menghilangnya beberapa keanekaragaman hayati flora dalam jumlahnya yang sulit diukur (Gunawan, 2. Oleh sebab itu perlu dilakukan identifikasi pada jenis pohon bergetah putih di Arboretum untuk mengetahui jumlah jenis yang ada sebagai data dan informasi untuk pelestarian jenis pohon di Arboretum. Data dan informasi ini juga akan digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan dan pengembangan Arboretum Unilak, khususnya pengembangan dalam kegiatan penelitian lanjut pohon bergetah putih. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Arboretum Universitas Lancang Kuning pada bulan Agustus sampai dengan bulan September 2021. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Gambar 1. Peta Arboretum Universitas Lancang Kuning Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS (Global Positioning Syste. untuk menentukan koordinat pohon dan phiband untuk mengukur diameter pohon. Sedangkan, bahan yang digunakan adalah plastik sampel untuk dicantumkan di bagian batang pohon dan tally sheet untuk mencatat data dilapangan. Pengambilan Data Data yang diambil dalam penelitian terdiri dari data primer dan data skunder. Menurut Arikunto . , data primer adalah data-data asli yang dikumpulkan di lapangan seperti nama pohon, diameter, jenis, suku dan dan letak koordinat pohon di Arboretum Unilak. Menurut Sugiyono . , data sekunder adalah data yang diperoleh untuk mendukung penelitian, seperti artikel ilmiah, dokumen dan buku-buku tentang Prosedur Pengambilan data Berdasarkan hasil pra survey di lapangan, telah diketahui lokasi sebaran pohon bergetah putih, sehingga metode dalam penelitian ini menggunakan metode purposive Jumlah plot yang diambil adalah 25 plot dengan luas masing-masing plot 20x20 meter yang terbagi ke dalam 5 titik petak penelitian. Sebaran pohon bergetah putih berada di titik 1, titik 2, titik 3, titik 4, dan titik 5 yang dapat dilihat pada Gambar 2. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Gambar 2. Sebaran pohon bergetah putih dan titik pengambilan plot. Identifikasi Jenis Pohon-Pohon Bergetah Putih Untuk mengkonfirmasi jenis pohon termasuk dalam kelompok pohon bergetah putih dilakukan pelukaan pada batang pohon. Kegiatan yang dilakukan adalah membersihkan batang pohon terlebih dahulu, kemudian memberikan luka pada batang Setiap jenis pohon bergetah putih diambil 3 pohon sampel dalam pengamatan getah hingga mengering. Dalam setiap jenis pohon yang mewakili sampel terdapat tiga titik sampel yang dilukai yakni sisi kiri, kanan, belakang dan depan. Pengamatan dengan menghitung waktu kering getahnya setiap sisi. HASIL DAN PEMBAHASAN Terdapat empat suku pohon bergetah di Arboretum Unilak yakni Apocynaceae. Euphorbiaceae. Moracea dan Sapotacea. Pohon bergetah putih yang berada di Arboretum Universitas Lancang kuning telah memberikan peranan yang sangat penting dalam fungsi ekosistem di Arboretum. Beberapa jenis pohon bergetah putih yang memiliki buah menjadi sumber pangan bagi satwa di Arboretum seperti burung, primata, kelelewar dan lain sebagainya. Batang pohon suku bergetah putih yang tinggi dan memiliki tajuk yang lebar menjadi tempat tinggal beberapa satwa. Keberadaan keanekaragaman hayati pohon bergetah putih, diharapkan menjadikan faktor-faktor lingkungan yang saling mendukung untuk kelestarian suatu hutan (Randi et al. , 2. Jenis-jenis pohon bergetah putih di Arboretum Unilak dapat dilihat pada Tabel 1. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Tabel 1. Jenis pohon bergetah Putih di Arboretum Suku Apocynaceae Nama Jenis Pulai rawa (Alstonia pneumatophor. Pulai (Alstonia scholari. Euphorbiaceae Sendok-sendok (Endospermum duodenu. Karet (Hevea brasiliensi. Tampui (Baccaurea macrocarp. Moraceae Tempunik (Artocarpus rigidu. Terap (Artocarpus elesticu. Sapotaceae Balam (Palaquium hexandru. Apocynaceae Suku Apocynaceae adalah salah satu tanaman yang banyak mengandung metabolit sekunder jenis alkaloid. Suku ini tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis dan diketahui saat ini sedikitnya 1. 500 spesies dan terbagi menjadi 424 genus (Widiaingsih et al. , 2. Terdapat dua jenis pohon bergetah putih yang ditemukan di Arboretum yakni pulai dan pulai rawa. 1 Pulai (Alstonia scholari. Pulai yang berada di Arboretum Unilak (Gambar . merupakan kelompok pohon dengan rata-rata diameter 23,2 cm. Morfologi umum yang diidentifikasi di lapangan adalah batang yang lurus, bentuk batang silindris mulai dari atas banir hingga tinggi bebas cabang, memiliki komposisi daun tunggal, tata letak daun berkarang dan memiliki bunga dengan aroma khas. Keberadaan Pulai di Arboretum menjadi tempat singgah bagi beberapa jenis burung. Kegunaan pohon pulai bermanfaat sebagai komersil seperti bahan dasar pembuatan pensil, topeng dan kerajinan kayu lainnya. Gambar 3. Pohon Pulai (Alstonia scholari. di Arboretum Unilak Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 2 Pulai rawa (Alstonia pneumatophor. Pulai rawa yang berada di Arboretum Unilak ditemukan dalam kelompok pohon dan tiang dengan, rata-rata diameter pohon adalah 22,91 cm. Morfologi umum yang diidentifikasi di lapangan adalah batang lurus dengan akar berbanir hingga tinggi 10-15 cm, batang pohon pulai kulit bewarna abu-abu, ada bercak putih pada kulit batang pohon mengeluarkan getah bewarna putih susu, daun tunggal, tata letak daun berkarang, memiliki bunga dengan aroma khas. Keberadaan pulai rawa di Arboretum (Gambar . lebih mendominasi dari jenisnya karena habitatnya yang mendukung. Kegunaan pulai telah lama dimanfaatkan sebagai bahan furniture seperti untuk membuat kursi, meja dan Gambar 4. Pohon Pulai Rawa (Alstonia pneumatophor. di Arboretum Unilak Euphorbiaceae Euphorbiaceae mewadahi 91 marga dengan 1354 jenis di kawasan Malesia (Indonesia. Malaysia. Singapura. Brunei Darussalam. Filipina dan Papua Nugin. yang berdasarkan penelusuran pustaka belum banyak yang melaporkan tentang endemisitas jenis-jenis Euphorbiaceae di suatu pulau (Djarwaningsih, 2. Sama halnya di Arboretum Unilak keberadaan suku Euphorbiaceae merupakan campur tangan manusia yang sengaja ditanam. Pada Arboretum Unilak terdapat tiga jenis pohon yakni Sendoksendok (Endospermum duodenu. Karet (Hevea brasiliensi. dan Tampui (Baccaurea Jenis ini sangat familiar dan mudah dikenali di lapangan. 1 Sendok-sendok (Endospermum duodenu. Diameter rata-rata pohon Sendok-sendok yang ditemukan di Arbotum adalah 32,39 cm. Kelompok jenis yang ditemui adalah mulai dari tingkat semai, pancang, tiang dan pohon yang tersebar mengelompok. Morfologi umum yang diidentifikasi di lapangan dengan batang lurus silindris terdapat bercak-bercak putih di batang, daun tunggal dengan tangkai daun yang panjang mirip sendok. Manfaat pohon sendok-sendok telah lama dijadikan sebagai bahan komersil dan bahan bangunan lainnya. Gambar 5 menunjukkan pohon sendok-sendok. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Gambar 5. Pohon Sendok-Sendok (Endospermum duodenu. di Arboretum Unilak 2 Karet (Hevea brasiliensi. Diameter pohon karet yang ditemui di Arborerum dengan rata-rata 26,95 cm. Kelompok jenis ini paling mendominasi jumlahnya diantara suku Euphorbiacea lainnya. Struktur tanaman yang mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon yang tersebar mengelompok pada suatu wilayah. Adapun morfologi dari karet yang ditemui adalah batang lurus, daun majemuk dengan anak daun berbentuk eliptis dengan tangkai daun Biji karet memiliki tiga sampai enam biji sesuai dengan jumlah ruang. Yang terkenal dari pohon karet adalah lateks. Secara kimia kandungan dari lateks karet tersusun dari hidrokarbon dan mengandung sejumlah kecil bagian bukan karet, seperti lemak, glikolipid, fosfolipid, protein dan bahan organik lainnya (Usma et al. , 2. Hal inilah yang mendukung pemanfaatan getah karet banyak digunakan untuk bahan baku dalam berbagai produk. Beberapa barang yang memerlukan komponen-komponen yang terbuat dari bahan baku getah seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, sepatu dan sandal karet (Damanik, 2. Pohon karet ditunjukkan pada Gambar 6. Gambar 6. Pohon Karet (Havea brasiliensi. di Arboretum Unilak Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Tampui (Baccaurea macrocarp. Pohon tampui (Gambar . sudah termasuk pohon yang sudah jarang ditemukan dan di Arboretum dijadikan tempat pelesteriannya. Rata-rata diameter pohon ini adalah 30,64 cm. Adapun morfologi dari pohon ini adalah batang pohon berbentuk lingkaran hingga tinggi bebas cabang, daun tunggal dan tebal, memiliki buah yang tumbuh disekitar batang dengan rasa dominan asam, dan kulit buah yang tebal. Pohon ini dijadikan sumber pakan bagi beberapa satwa. Kegunaan pohon inu memiliki buah yang dapat ditemukan di pasar-pasaar lokal. Gambar 7. Pohon Tampui (Baccaurea macrocarp. di Arboretum Unilak Moraceae Suku moraceae merupakan salah suku yang memiliki marga dan jenis yang sangat Beberapa marga yang penting adalah Ficus dan Artocarpus. Ciri khas dari moraceae selain bergetah putih adalah memiliki buah semu dan buah agregat yang sangat digemari oleh manusia dan satwa. Seperti halnya buah ficus sebagai sumber makanan bagi beberapa satwa seperti kelelawar buah, monyet, lutung dan orangutan dan makanan pokok bagi spesies burung Merpati, burung Enggang. Ara-beo dan Kutilang (Rahmawati dan Dharmono, 2. Sama halnya dengan marga Artocarpus juga diminati oleh manusia dan satwa, salah jenis yang cukup terkenal adalah nangka, cempedak, sukun, tampunik, terap dan lain sebagainya. Ciri khas lainnya dari Moraceae dapat dilihat dari morfologi daunnya yang memiliki daun penumpu dan kunat cincin pada tangkai daun. Jenis yang ditemui di Arboretum adalah terap (Artocarpus Elestiku. dan tempunik (Artocarpus rigidu. 1 Tempunik (Artocarpus rigidu. Pohon tempunik (Gambar . yang ditemukan di Arboretum memiliki diameter rata-rata 38,78 cm. Morfologi umum pohon tempunik berbentuk pohon dengan ketinggian dapat mencapai 40 m dengan keliling batang hingga 30-100 cm, daun tunggal dan buah tempunik berbentuk bulat, warna buah bewarna hijau ketika bauh masak bewarna kuning. Kulit luar buah terdapat bulu-bulu halus. kulit batang bewarna abu-abu. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 jika dilukai pohon maka pohon akan mengeluarkan getah bewarna putih susu. Buah ini sangat disukai oleh primata di Arboretum seperti monyet ekor panjang dan siberuk. Gambar 8. Pohon Tempunik (Artocarpus rigidu. di Arboretum Unilak Terap (Artocarpus elesticu. Pohon terap (Gambar . yang ditemukan di Arboretum memiliki diameter ratarata 30,57 cm. Pohon Terap memiliki tinggi 40-65 m, ranting pohon tebal dengan daun bewarna hijau lebar. Kulit batang bewarna abu-abu gelap hingga kelabu kecoklatan sedangkan bagian dalamnya kekuningan hingga coklat pucat teksturnnya halus agak Saat dilukai pohon tersebut mengeluarkan getah bewarna putih, akar pohon berbanir papan jika pohon sudah berdiameter diatas 30 cm, buah terap berbuah raya di musim tertentu, buah berbentuk lingkaran. Bunga bongkol dengan warna kuning dan coklat sama persis dengan warna buahnya yang semu. Manfaat pohon terap, ketika pohon terap berbuah raya buahnya dijadikan sebagai makanan satwa seperti primata dan kelalawar di Arboretum, serta sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan seperti tas. Gambar 9. Pohon Terap (Artocarpus elesticu. di Arboretum Unilak Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Sapotacea Pohon bergetah putih berukuran kecil hingga besar dan bergetah putih lengket. Daun tunggal, spiral atau berseling, tepi daun rata, tulang daun skunder. Buah batu keras, berbiji 1 atau lebih, biji mengkilap berlampang lateral besar. Menurut Prihadini dan Wiyono . suku Sapotaceae atau jenis sawo manila dari hasil identifikasi fitokimia, ekstrak daun sawo positif mengandung alkaloid, flavonoid, tannin dan saponin. Keberadaan alkaloid dan flavonoid pada daun sawo tergolong sedikit, keberadaan tannin tergolong tinggi dan keberadaan sapononin tergolong sedangJenis pohon dari Suku Sapotaceae yang ditemui di Arboretum masih sangat sedikit, yakni masih satu balam (Palaqium hexandru. Balam (Palaqium hexandru. Pohon Balam (Gambar . yang ditemui di Arboretum memiliki diameter 32 cm. Pada umumnya pohon Balam memiliki tinggi pohon 5 sampai 30 meter bentuk batang pohon berbentuk silindris dari atas permukaan tanah hingga tinggi bebas cabang, akar pohon balam mempunyai bentuk akar tunggang, kulit batang pada pohon balam bewarna kecoklat-coklatan tekstur kulit pohon balam terasa kasar serta kulit batang sedikit Jika kulit batang dilukai maka pohon akan mengelurkan getah bewarna putih susu, bentuk daun tunggal dengan bentuk daun bundar telur sungsang sampai jorong. Bunga mengelopal pada ketiak daun. Manfaat pohon balam sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga serta alat musik tradisional (Mutiara dan Manurung, 2. Gambar 10. Pohon Balam (Palaqium hexandru. di Arboretum Unilak Ciri Fisik Getah Pada Pohon Bergetah Putih Berdasarkan hasil identifikasi secara langsung di Arboretum Unilak berbagai jenis pohon bergetah putih disajikan pada Tabel 2. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Tabel 2. Ciri-ciri Fisik Getah Putih Warna Getah Jenis Pohon Sebelum Aroma Tekstur Sesudah kering Lama Sendoksendok Bening Bening Kekuningan Berbau Agak 7 menit Karet Putih Kuning Berbau Kenyal 4 menit Tampui Bening Putih Berbau Kenyal 5 menit Tempuni Putih Putih Berbau Kenyal 5 menit Terap Putih kekuningan Putih Berbau Kenyal 4 menit Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Warna Getah Jenis Pohon Sebelum Aroma Tekstur Lama Sesudah kering Balam Putih Putih Berbau Kenyal 5 menit Pulai Putih Putih Berbau Agak 7 menit Pulai Putih Putih Berbau Kenyal 4 menit Berdasarkan Tabel 2, diperoleh hasil pengamatan fisik dari getah yang dikeluarkan oleh 8 pohon bergetah putih. Warna getah pada 8 jenis pohon akan berubah warna setelah keluar dari pohon. Aroma getah pada 8 jenis pohon juga memiliki aroma yang khas. Tekstur getah setelah mengering kenyal pada 6 pohon dan agak kenyal pada 2 pohon. Lama mengering getah pada 8 pohon juga berbeda-beda dengan rata waktu kering 4-7 menit setelah getah keluar dari batang. Secara umum, getah dihasilkan secara alamiah dalam sel tumbuhan apabila luka pada tumbuhan. Beberapa karakteristik getah yang mudah diamati anatara lain tidak larut dalam air, mengeras bila terpapar udara tidak memilki fungsi primer dalam tumbuhan umumnya diproduksi tumbuhan berkayu dan bersifat non-elastis (Kuspradini et al. , 2. Sebaran Pohon Bergetah Putih Gambar 11 menunjukkan pola sebaran suku Apocynaceae terlihat sangat sedikit dengan pola penyebarannya secara acak yang ditunjukkan titik berwarna biru. Hal ini disebabkan pohon dari suku Apocynaceae tidak memiliki banyak buah, sehingga pola sebarannya tidak luas. Selain itu, jenis ini juga tidak tumbuh secara alami melainkan bantuan dari manusia yang sengaja ditanam di Arboretum Unilak. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Gambar 11. Sebaran suku Apocynaceae Gambar 12. Sebaran suku Euphorbiaceae dan Sapotacea Sebaran suku Euphorbiaceae pada Gambar 12 dengan pola sebaran acak dan berkelompok yang ditunjukkan pada titik berwarna merah. Adapun suku Sapotaceae ditunjukkan pada titik berwarna kuning. Berdasarkan jumlahnya Suku Sapotaceae sangat diperlukan adanya campur tangan manusia untuk membantu pemencaran jenis suku Sapotaceae agar pohon ini dapat tumbuh tesebar di seluruh areal Arboretum Unilak. Pros Sem Nas S. Vol 1 No 1 . | 161-175 Gambar 13. Sebaran suku Moraceae Gambar 13 menunjukkan sebaran jenis suku Moraceae pada areal Arboretum Unilak dengan jumlah jenis pohonnya cukup banyak dan tersebar di seluruh areal arboretum Unilak yang ditunjukkan pada titik berwarna merah. Sebaran suku Moraceae menunjukan keberadaanya cukup banyak dan tumbuh dengan baik, serta mampu bersaing dengan tumbuhan lainnya sehingga pohon tersebut mudah beradaptasi di areal Arboretum dan tumbuh dengan baik. KESIMPULAN Hasil penelitian identifikasi pohon bergetaah putih di Arboretum, diperoleh empat suku mendominasi pohon yang bergetah putih diantaranya Euphorbiaceae. Moraceae. Apocynaceae dan Sapotaceae. Jenis pohon terdiri atas terap (Artocarpus Elesticu. , sendok-sendok (Endospermum duodenu. , tempunik (Artocarpus rigidu. , balam (Palaqium hexandru. dan pulai (Alstonia scholari. Ciri fisik getah pohon bergetah putih memiliki warna putih baik dan sesudah mengering, memiliki aroma menyengat dan tidak menyengat dengan tekstur yang kenyal. Berdasarkan peta sebaran pohon pada peta Arboretum Unilak terdapat beberapa suku yang menyebar secara berkelompok seperti Euphorbiacea dan menyebar secara acak suku Moraceae. Apocynaceae dan Sapotacea. DAFTAR PUSTAKA