AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 Pelatihan Manajemen Karir Dalam Industri Musik Bagi Musisi Lokal Di Kota Tegal Febri Yoga Sapta Raharjo1*. Faiz Irsyad Prasetyo2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen. Universitas Pancasakti Tegal. Tegal. Indonesia Email: 1*febriyoga@upstegal. id, 2faizirsyadprasetyo@upstegal. (* : coressponding autho. Abstrak Ae Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi musisi lokal di Kota Tegal dalam mengelola karir dan talenta mereka di industri musik yang semakin kompetitif. Program ini dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi oleh musisi lokal, seperti kurangnya pemahaman tentang manajemen karir, personal branding, dan kurangnya pemahanan tentang bagaimana memaksimalkan nilai ekonomi suatu karya musik. Program ini dirancang dalam bentuk pelatihan yang terdiri dari 4 sesi intensif selama 2 pertemuan dan diikuti oleh 20 pelaku musik di Kota Tegal, dengan materi yang mencakup manajemen karir, peran manajer band, publisher musik, distribusi karya musik, monetisasi karya musik, serta strategi pemasaran digital dalam industri musik. Program ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis bagi peserta untuk mengembangkan karir mereka secara lebih profesional dan terstruktur. Luaran utama dari program ini adalah peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam manajemen karir, yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan karir musisi lokal di Kota Tegal. Selain itu, diharapkan program ini juga dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem kreatif di Kota Tegal melalui penguatan kapasitas musisi lokal dalam menghadapi tantangan di industri musik. Kata Kunci: Manajemen Karir. Musisi Lokal. Industri Musik Abstract - This program aims to enhance the competencies of local musicians in Kota Tegal in managing their careers and talents within the increasingly competitive music industry. The program is motivated by the challenges faced by local musicians, such as a lack of understanding of career management, personal branding, and how to maximize the economic value of their musical works. The program is designed as a training course consisting of four intensive sessions over two meetings, involving 20 music practitioners in Kota Tegal. The material covers career management, the role of band managers, music publishers, music distribution, music monetization, and digital marketing strategies in the music industry. The program is expected to provide participants with practical knowledge and skills to develop their careers in a more professional and structured The main output of the program is the increased understanding and skills of participants in career management, which is expected to support the sustainability of local musicians' careers in Kota Tegal. Additionally, this program is anticipated to contribute to building a creative ecosystem in Kota Tegal by strengthening the capacity of local musicians to face challenges in the music industry. Keywords: Career Management. Local Musician. Music Industry PENDAHULUAN Industri musik di Indonesia terus berkembang dengan pesat, memberikan peluang besar bagi para musisi untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan mencapai kesuksesan. Dalam beberapa tahun terakhir, industri musik global mengalami transformasi signifikan dengan pesatnya kemajuan teknologi digital, perubahan dalam distribusi musik melalui platform streaming, serta perubahan dalam pola konsumsi musik. Perubahan ini menciptakan tantangan dan peluang baru bagi musisi. Di tingkat lokal, banyak musisi menghadapi kesulitan dalam mengakses pelatihan profesional yang relevan, serta keterampilan yang diperlukan untuk bersaing dalam pasar musik yang semakin kompetitif (Dewantara & Agustin, 2. Industri musik merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi, para musisi lokal di berbagai daerah, termasuk Kota Tegal, dihadapkan pada tantangan untuk dapat bersaing dan berkembang dalam industri musik yang semakin dinamis. Meski demikian, banyak musisi lokal yang masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan dalam manajemen diri dan karir, hingga kurangnya pengetahuan tentang hak kekayaan intelektual yang dapat melindungi karya merek (Kemenparekraf, 2023. Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 552 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 Kondisi ini diperkuat dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menegaskan pentingnya pemajuan budaya, termasuk seni musik, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Undang-undang ini menekankan perlunya pengembangan, pemanfaatan, dan perlindungan terhadap aset-aset budaya, termasuk musik. Musisi lokal perlu diberikan pembinaan dan pelatihan yang komprehensif agar mampu mengelola karir dan talenta mereka dengan lebih baik, sehingga mereka tidak hanya dapat mempertahankan eksistensi mereka, tetapi juga mengembangkan potensi yang dimiliki untuk bersaing di kancah yang lebih luas (Kemenparekraf, 2023. Lebih lanjut. Peraturan Presiden Nomor 142 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional Tahun 2018-2025 juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif, termasuk subsektor musik. Rencana induk ini menggarisbawahi perlunya penguatan sumber daya manusia dan dukungan infrastruktur yang memadai bagi para pelaku industri kreatif, termasuk musisi. Di Kota Tegal, masih banyak musisi lokal yang belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pelatihan dan bimbingan yang dibutuhkan untuk mengembangkan karir mereka secara profesional (Bintang, 2. Jika mengacu pada teori yang dikemukakan menurut Schein . , manajemen karir merupakan proses di mana individu dan organisasi bekerja sama untuk mencapai tujuan pribadi dan organisasi melalui pengembangan jalur karir yang sesuai. Manajemen karir melibatkan pengenalan diri, perencanaan karir, dan pelaksanaan rencana. Manajemen karir adalah proses yang berkesinambungan di mana individu mengelola perkembangan karir mereka sendiri, dengan organisasi memberikan dukungan melalui pelatihan, bimbingan, dan pengembangan jalur karir (Hall, 2. Hall menekankan pentingnya individu dalam memegang kendali atas perjalanan karir mereka, dengan organisasi berperan sebagai fasilitator. Seorang musisi perlu menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang, seperti merilis album, mengadakan konser, atau memperoleh penghargaan musik. Dengan manajemen karir, seorang musisi dapat merencanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Seorang musisi yang profesional harus terus mengembangkan keterampilan mereka, baik dalam bidang teknis seperti bermain instrumen atau bernyanyi, maupun dalam aspek lain seperti pemasaran diri, manajemen waktu, dan negosiasi Manajemen karir yang baik memungkinkan musisi untuk merencanakan, mengembangkan, dan mengelola perjalanan karir mereka secara efektif, sehingga dapat mencapai kesuksesan yang berkelanjutan dalam industri musik (Borg, 2. Kota Tegal sebagai salah satu pusat budaya di Jawa Tengah, memiliki potensi besar dalam melahirkan musisi-musisi berbakat. Namun, banyak dari mereka menghadapi tantangan dalam mengelola karir mereka secara efektif. Faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan tentang manajemen diri, branding, strategi pemasaran digital serta pengelolaan keuangan sering kali menjadi penghambat utama dalam mencapai kesuksesan jangka panjang (CNN, 2. Manajemen karir yang efektif sangat penting bagi musisi untuk dapat bertahan dan berkembang di industri yang kompetitif ini. Sebuah studi menunjukkan bahwa musisi yang mampu mengelola karir mereka dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kesuksesan yang berkelanjutan (Kee et , 2. Hal ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan diri, perencanaan karir, hingga pemasaran dan branding. Pemasaran diri melalui media sosial, misalnya, telah terbukti menjadi alat yang sangat efektif dalam membangun citra dan menjangkau audiens yang lebih luas (Forbes, 2. Dalam rangka mendukung pengembangan industri kreatif di Kota Tegal, khususnya dalam bidang musik. Spasi Creative Space (SCS) sebagai mitra telah berperan sebagai ruang alternatif yang berfungsi untuk menampung, mengaktualisasikan, dan mengembangkan potensi kreatif para seniman, termasuk musisi lokal. Namun, seiring dengan semakin berkembangnya industri musik dan dinamika pasar, mitra menghadapi beberapa tantangan yaitu . kurangnya keterampilan manajemen karir di kalangan musisi lokal, . keterbatasan akses jaringan dan kolaborasi, . kendala dalam menciptakan nilai ekonomi dari aktivitas kreatif khususnya karya musik. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh mitra, dan rumusan masalah yang telah disusun, berikut adalah solusi yang diusulkan dalam program pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Program Pelatihan Manajemen Karir dalam Industri Musik bagi Musisi Lokal di Kota Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 553 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 TegalAy, antara lain: . Meningkatan keterampilan manajemen karir, . Mengembangkan jaringan dan kolaborasi serta strategi pemasaran melalui media sosial, dan . Pendampingan dalam penciptaan nilai ekonomi dari karya musik. Program pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan luaran yang nyata dan memberikan dampak positif bagi musisi lokal meliputi keterampilan manajemen karir yang lebih baik, jaringan dan peluang kolaborasi yang lebih luas serta pemanfaatan sosial media sebagai strategi pemarasan digital, dan peningkatan nilai ekonomi dari karya musik. METODE PELAKSANAAN Program ini dirancang dalam bentuk pelatihan yang terdiri dari 4 sesi intensif selama 2 pertemuan dan diikuti oleh 20 pelaku musik di Kota Tegal, dengan materi yang mencakup manajemen karir, peran manajer band, publisher musik, distribusi karya musik, monetisasi karya musik, serta strategi pemasaran digital dalam industri musik. Rangkaian kegiatan tersebut dimulai pada bulan Mei Ae Agustus 2024 dalam beberapa tahap yaitu tahap persiapan meliputi identifikasi dan rekrutmen peserta, penyusunan materi pelatihan, persiapan logistik dan fasilitas, serta tahap Tabel 1. Tahap Persiapan Kegiatan Bulan keNo. Kegiatan Tahap persiapan. Identifikasi, dan Sosialisasi program Pendataan Peserta Penyusunan materi, narasumber, dan fasilitator Persiapan logistik Pelatihan / Workshop Evaluasi Kegiatan Penyusunan Laporan Penyerahan Laporan (Me. (Jun. (Jul. (Ags. Pada tahap persiapan tim dan mitra melakukan identifikasi permasalahan yang terjadi kemudian mengidentifikasi peserta yang kemudian terdaftar sebanyak 20 peserta yang mewakili musisi lokal di Kota Tegal. Langkah berikutnya adalah menyusun materi pelatihan dan mengundang narasumber yang ahli dalam bidang manajemen, personal branding dan pemasaran digital, manajerial sebuah band, dan publishing musik. Tahapan pelatihan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab serta bimbingan. Adapun materi pelatihan dan waktu pelaksanaan diuraikan dalam tabel berikut ini: Tabel 2. Materi Pelatihan Pemateri Profesi Waktu Pelaksanaan Konsep Manajemen Karir Bagi Pelaku Musik Febri Yoga Sapta Raharjo Dosen. Musisi 3x50Ao Manajer. Publisher Musik, dan Distribusi Digital Eric Kirun Manajer Band. Event Organizer 3x50Ao Materi Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 554 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 Memperluas Jaringan. Personal Branding dan Pemasaran Menggunakan Media Sosial Faiz Irsyad Dosen. Enterpreneur 3x50Ao Publishing dan Monetisasi Karya Musik Fardan Fazayubdina Musisi. Songwriter Enterpreneur 3x50Ao Tahap evaluasi dilakukan terhadap seluruh rangkaian kegiatan pelatihan dan workshop dengan mengumpulkan umpan balik dari peserta untuk mengetahui efektivitas program. Tahapan evaluasi dilakukan dengan metode survey kepada para peserta pelatihan. Metode survey yang digunakan terdiri dari 2 tipe survey. Survey yang pertama untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dilakukan dengan pretest-postest. Pre-test dilakukan sebelum pemberian materi, begitupun setelah materi selesai disajikan akan dilakukan Post-test. Hal tersebut dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman dan keberhasilan pelatihan. Survey yang kedua untuk menilai keberhasilan pelatihan secara umum menggunakan kuesioner atau angket. Metode analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara memberikan gambaran atau deskripsi mengenai data yang telah terkumpul sesuai dengan keadaan. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan rentang nilai 1-5. Perhitungan indeks dilakukan dengan menggunakan rumus indeks (Ferdinand. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Program pelatihan manajemen karir dalam industri musik bagi musisi lokal di Kota Tegal berhasil dilaksanakan dengan diikuti oleh 20 pelaku musik yang terdiri dari musisi, produser, dan pengelola ruang kreatif yang bertempat di Spasi Creative Space Kota Tegal. Program ini dilaksanakan dalam 4 sesi selama 2 pertemuan dengan materi yang mencakup pengembangan keterampilan manajemen karir, pengembangan jaringan profesional, dan strategi monetisasi karya 1 Sesi Pengembangan Keterampilan Manajemen Karir Pada sesi ini peserta diberikan pemahaman tentang pentingnya perencanaan karir jangka panjang, personal branding, dan pengelolaan diri. Kegiatan ini juga melibatkan simulasi pembuatan rencana karir yang disesuaikan dengan aspirasi masing-masing peserta. Hasil dari sesi ini adalah peserta mampu menyusun rencana karir yang realistis dan terukur, serta memahami konsep personal branding sebagai bagian integral dari pengembangan karir di industri musik. Gambar 1. Sesi Pengembangan Keterampilan Manajemen Karir Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 555 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 2 Sesi Manajer. Publisher Musik, dan Distribusi Digital Pada sesi ini para peserta diberikan pemaparan tentang apa saja peran manajer dalam sebuah band, bagaimana memilih publisher musik yang baik dan bagaimana cara mendistribusikan karya musik secara digital. Dari sesi tersebut menghasilkan luaran bahwa peserta memperoleh pemahaman mendalam tentang peran seorang manajer dalam sebuah band dan pentingnya pendaftaran hak cipta, serta cara mendaftarkan karya musik ke lembaga terkait. Gambar 2. Sesi Pemaparan tentang Peran Manajer dan Publisher Musik 3 Sesi Networking. Personal Branding dan Pemasaran Menggunakan Media Sosial Sesi berikutnya adalah presentasi dan forum diskusi yang melibatkan pelaku industri musik lainnya untuk bertukar ide dan memperluas jaringan profesional. Acara networking juga diadakan untuk memperkenalkan musisi lokal dengan produser dan agen musik. Tiap peserta juga diberikan pemahaman dan studi kasus terkait dengan pemanfaatan media sosial sebagai alat promosi dan alat pemasaran digital. 4 Sesi Publishing dan Monetisasi Karya Musik Pada sesi ini adalah workshop tentang monetisasi karya musik, termasuk distribusi digital dan pemasaran online. Peserta diajari cara mengelola hak royalti dan memanfaatkan platform distribusi digital. Pemateri menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan sebuah rilisan karya musik melalui distribusi digital. Peserta memahami strategi monetisasi karya musik dan mulai mengimplementasikannya melalui platform distribusi digital. Beberapa musisi juga mulai merancang kampanye pemasaran online untuk karya mereka. Untuk mengukur tingkat persepsi peserta sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan, tim melakukan survey menggunakan kuesioner dengan skala Likert 1-5. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui sejauh mana tingkat pemahaman peserta terhadap materi pelatihan sebelum dan sesudah pelatihan dilaksanakan. Tabel 3. Analisis Deskripsi Peserta Berdasarkan Pre-Test Distribusi Jawaban Peserta Item Pernyataan Pre-Test Saya memahami konsep manajemen karir dalam industri musik Saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang pentingnya pengembangan keterampilan bagi seorang STS . TS . N . S . SS . Nilai Indeks Kriteria Sedang Sedang Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 556 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 Distribusi Jawaban Peserta Item Pernyataan Pre-Test STS . TS . N . S . SS . Saya percaya bahwa kemampuan manajerial adalah elemen penting dalam kesuksesan karir seorang Saya merasa percaya diri dengan keterampilan nonteknis yang saya miliki untuk mendukung karir musik saya. Saya memiliki pemahaman yang baik tentang cara mengembangkan jaringan dan peluang karir sebagai musisi Rata-Rata Indeks Nilai Indeks Kriteria Sedang Sedang Sedang 48,6% Sedang Pada tabel 3 menjelaskan bahwa tingkat persepsi peserta terhadap pengetahuan dan kemampuan manajemen karir sebelum dilakukan pelatihan . re-tes. menunjukkan indeks rata-rata sebesar 48,6% yang masuk dalam kategori sedang. Artinya pemahaman peserta terhadap materi sebelum pelatihan dimulai masih berada pada level yang cukup, tetapi belum optimal. Terdapat kebutuhan yang signifikan untuk meningkatkan pemahaman tersebut melalui pelatihan. Tabel 4. Analisis Deskripsi Peserta Berdasarkan Post-Test Distribusi Jawaban Peserta Item Pernyataan Post-Test Saya memahami konsep manajemen karir dalam industri musik Saya memahami lebih baik konsep manajemen karir dalam industri musik setelah mengikuti pelatihan ini Saya merasa lebih percaya diri dengan kemampuan manajerial saya setelah mengikuti pelatihan ini Saya telah keterampilan non-teknis yang dapat mendukung karir musik saya selama pelatihan ini Saya merasa lebih siap untuk mengembangkan jaringan dan peluang karir sebagai musisi setelah mengikuti pelatihan ini STS . TS . N . S . SS . Nilai Indeks Kriteria Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Sedang Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 557 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 Item Pernyataan Post-Test Distribusi Jawaban Peserta STS . TS . Rata-Rata Indeks N . S . SS . Nilai Indeks Kriteria 77,4% Tinggi Pada tabel 4 menunjukkan indeks rata-rata post-test sebesar 77,4% yang masuk dalam kategori tinggi. Artinya bahwa pelatihan yang diberikan berhasil meningkatkan pemahaman dan persepsi peserta secara signifikan. Hasil ini mencerminkan bahwa peserta tidak hanya lebih memahami materi yang disampaikan, tetapi juga merasa lebih percaya diri dan siap untuk menerapkan pengetahuan baru tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang diberikan efektif dalam mengatasi kesenjangan pengetahuan awal yang teridentifikasi pada pre-test, dan peserta berhasil mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, yang sesuai dengan harapan dari diselenggarakannya pelatihan tersebut. 2 Pembahasan Berdasarkan hasil pre-test, indeks rata-rata pemahaman peserta berada pada angka 48,6%, yang termasuk dalam kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, pemahaman peserta mengenai manajemen talenta dalam industri musik, keterampilan non-teknis, dan pentingnya kemampuan manajerial masih berada pada tingkat yang cukup tetapi belum memadai untuk menghadapi tantangan dalam karir mereka sebagai musisi. Pemahaman peserta sebelum pelatihan dapat dikategorikan pada tingkat pemahaman dasar, di mana mereka hanya memiliki pengetahuan awal tanpa mampu mengaplikasikannya secara efektif. Pemahaman ini dapat dilihat sebagai tahap awal di mana peserta masih memerlukan peningkatan pemahaman dan aplikasi yang lebih dalam (Bloom, 1. Tingkat pemahaman yang berada pada kategori sedang sering ditemukan dalam populasi peserta yang baru pertama kali diperkenalkan dengan konsep-konsep kompleks atau spesifik, seperti manajemen karir dalam industri musik. Penelitian ini menunjukkan bahwa tanpa pelatihan khusus, peserta umumnya memiliki pemahaman dasar yang belum mendalam (Wang et al. , 2. Setelah pelatihan, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan indeks rata-rata mencapai 77,4%, yang termasuk dalam kategori tinggi. Hasil tersebut juga sejalan dengan temuan Sitzmann et al. yang menemukan bahwa pelatihan yang interaktif dan relevan dengan pekerjaan peserta dalam hal ini adalah musisi secara signifikan meningkatkan tingkat pemahaman dan aplikasi pengetahuan yang diperoleh. Efektivitas pelatihan yang tercermin dalam perbedaan hasil pre-test dan post-test dapat dikaitkan dengan metode pembelajaran yang digunakan. Pendekatan pelatihan yang menggunakan simulasi, studi kasus, dan diskusi interaktif sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta, karena metode ini mendorong keterlibatan aktif dan refleksi mendalam (Salas et al. , 2. Hal ini mendukung peningkatan pemahaman peserta yang tercermin dalam hasil post-test yang lebih tinggi. Pengembangan kompetensi non-teknis seperti yang dilakukan dalam pelatihan ini penting untuk kesuksesan karir jangka panjang. Keterampilan manajerial dan pemasaran diri dalam industri kreatif, termasuk musik, untuk mempertahankan dan mengembangkan karir (DeFillippi & Arthur. Sejalan dengan peningkatan yang dihasilkan dalam post-test, di mana peserta merasa lebih siap untuk mengelola karir mereka secara mandiri. Pelatihan yang fokus pada pengembangan keterampilan manajemen karir dapat secara signifikan meningkatkan keberhasilan individu dalam industri kreatif. Pelatihan ini tidak hanya membantu peserta dalam penguasaan keterampilan teknis tetapi juga dalam pengembangan soft skills yang esensial untuk keberhasilan karir (Thompson et al. Peningkatan pemahaman dan keterampilan yang signifikan setelah pelatihan menunjukkan bahwa peserta kini lebih siap untuk mengelola karir mereka secara efektif dalam industri musik yang Pengembangan kompetensi non-teknis seperti manajemen diri, keterampilan komunikasi, dan pemasaran diri yang ditekankan dalam pelatihan ini sangat penting untuk kesuksesan karir jangka panjang bagi Musisi lokal di Kota Tegal. Febri Yoga Sapta Raharjo | https://journal. id/index. php/amma | Page 558 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3. No. 7 Agustus . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 552-560 KESIMPULAN Program "Pelatihan Manajemen Karir dalam Industri Musik bagi Musisi Lokal di Kota Tegal" berhasil dilaksanakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi musisi lokal dalam mengelola karir mereka secara profesional. Melalui serangkaian sesi pelatihan yang meliputi manajemen karir, personal branding, dan monetisasi karya musik, para peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan praktis yang sangat relevan dengan kebutuhan mereka dalam menghadapi tantangan di industri musik. Meskipun dihadapkan pada beberapa kendala seperti variasi latar belakang peserta, keterbatasan waktu dan pendanaan, serta infrastruktur teknologi, program ini tetap mampu mencapai target luaran yang diharapkan. Para peserta menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan kemampuan mereka dalam manajemen karir. Hal ini menunjukkan bahwa program ini berhasil memenuhi tujuan utamanya dalam memberikan manfaat nyata bagi musisi lokal di Kota Tegal. Selain itu, kolaborasi dengan Spasi Creative Space (SCS) juga memberikan dampak positif dalam pengembangan ekosistem kreatif di kota Tegal. Untuk memastikan dampak jangka panjang, disarankan agar program pelatihan ini dikembangkan menjadi inisiatif berkelanjutan. Kemitraan dengan berbagai pihak, seperti pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas musik, dapat membantu dalam membangun program yang terus mendukung pengembangan karir musisi lokal di Kota Tegal. REFERENCES