Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Januari, 2023, pp. Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Melalui Budaya Sekolah Anisa Aprilia1. Effendi Nawawi2 Fkip Universitas Sriwijaya *Corresponding author E-mail: 1Anisaaprilia550@gmail. Article History: Received: Januari 2023 Revised: Januari 2023 Accepted: Januari 2023 Keywords: Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Melalui Budaya Sekolah Pendidikan di Indonesia saat ini menekankan pengetahuan dan tidak menekankan nilai karakter perlu nya ada pembiasaan serta keteladanan dalam membentuk karakter siswa. Suasana sekolah yang diciptakan akan berdampak terhadap karakter peserta didik. Oleh karena itu dengan adanya penguatan nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan dari Budaya Sekolah diharapkan mampu meningkatkan karakter peserta didik. Budaya sekolah tercipta sehingga mampu menimbulkan kebiasaankebiasaan baru dalam lingkungan sekolah. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tiga tahap . Observasi, . Wawancara, . Dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengimplementasian pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SMA Negeri 1 Palembang dilaksanakan dengan menerapkan 5 nilai karakter yaitu Religius. Integritas. Mandiri. Gotong royong dan Nasionalisme. Dari sebelum pembelajaran dimulai, ketika pembelajaran berlangsung dan ketika di luar jam pelajaran. Karakter. Budaya Sekolah. Pendidikan Karakter. Pancasila. Pendahuluan Pancasila adalah ideologi dan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ideologi dapat dimaknai sebagai kompleks pengetahuan dan nilai, yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau masyarakat, untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya, serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya (Siregar, 2. Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya itu, seseorang menangkap apa yang dilihat benar dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik. Pancasila mengandung nilai-nilai sosial yang bersifat fundamental. Menurut (Novalina, 2. Pancasila tumbuh dan berkembang sebagai nilai kultural nasional yang baru di atas nilai kultural primordial yang menjadi asalnya. Pancasila Vol. No. Januari, 2023, pp. memberikan keyakinan bahwa suatu bangsa adalah semua orang yang berkeinginan membentuk masa depan bersama di bawah lindungan suatu negara, tanpa membedakan suku, ras, agama ataupun golongan (Budijarto, 2. Tantangan utama dalam membangun bangsa adalah bagaimana negara memberikan identitas yang kuat agar dapat memberikan perasaan istimewa, lain dari pada yang lain (Prayitno. Dapat dikatakan bahwa prinsip-prinsip Pancasila, yang juga merupakan vision of state untuk mewujudkan masyarakat yang berdaulat, adil, dan makmur. Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, terlebih lagi mengingat kondisi saat ini yang ada kecenderungan mengabaikan Pancasila. Kurangnya pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila dan keterkaitannya satu sama lain (Wiratmaja et al. , 2. Budaya sekolah merupakan kegiatan siswa yang saling berinteraksi antar lingkungannya baik antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan teman sebayanya (Wardani, 2. Budaya sekolah adalah suatu pola yang memiliki dasar asumsi dari pengembangan suatu kelompok belajar saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang dianggap valid. Pendidikan karakter melalui budaya sekolah dapat melatih dan membentuk sikap anak ke arah yang lebih baik dan positif (Virgustina, 2. Pada saat yang sama, para pendidik merasa nyaman ini, sehingga manajemen meningkat pembelajaran (Agustini, 2. Budaya sekolah tidak hanya mempengaruhi seluruh tindakan civitas akademik, tetapi juga mempengaruhi jiwa dan semangat guru dan siswa (Ahmad Baedowi, 2. Pemandangan dari sebuah sekolah yang menunjukkan nilai, norma dan tradisi yang telah lama dibangun oleh sekolah tersebut. Budaya sekolah inilah yang menjadi spirit untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif (Shobirin, 2. Menurut (Samani & Hariyanto, 2. Tujuan budaya sekolah adalah untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dan siswa, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua siswa, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan karakter merupakan proses yang berkesinambungan dan tiada henti yang diwujudkan dalam peningkatan kualitas secara terus menerus yang terwujud dalam terwujudnya sosok manusia masa depan dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa (Mulyasa, 2. Pada dasarnya setiap kehidupan memiliki pijakan sebagai dasar bertingkah laku dan berinteraksi terhadap sesama manusia di dalam lingkungan berbangsa dan bernegara. Selayaknya negara lain. Indonesia juga memilik dasar negara yang dapat digunakan sebagai suatu pedoman kehidupan berbangsa. Pancasila juga sering disebut sebagai identitas nasional, makna dari identitas nasional Vol. No. Januari, 2023, pp. adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa . dengan ciri-ciri khas dan dengan ciriciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya (Suyitno, 2. Banyaknya prilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh kaum muda ini dirasa dapat melunturkan nilai-nilai kebhinnekaan bangsa Indonesia mendatang. Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menanamkan karakter yaitu melalui satuan pendidikan formal yang ada di sekolah seperti yang dikemukakan oleh (Suyitno, 2. bahwa pendidikan karakter dan budaya bangsa merupakan suatu keniscayaan untuk dikembangkan di sekolah. Penanaman pendidikan karakter dalam tataran pendidikan formal menurut (Rachmadyanti, 2. harus dimulai pada tingkat pendidikan dasar. Pendidikan Karakter penting untuk ditanamkan pada anak usia Sekolah Dasar karena untuk membentuk pribadi siswa agar memiliki nilai-nilai luhur bangsa dan dapat menjadi warga negara yang baik. Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila. keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila. bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa. ancaman disintegrasi dan melemahnya kemandirian bangsa (Sumber: Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sekolah sebagai pendidikan formal bertugas untuk membina kepribadian peserta didik dan mempersiapkan generasi muda menjadi manusia dewasa yang berkarakter dan berbudaya. Pedoman pelaksanaan pendidikan karakter (Surya, 2. pengembangan pengembangan diri yaitu: . kegiatan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman. kegiatan spontan, adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana. keteladanan, merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga pendidik dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga Vol. No. Januari, 2023, pp. diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin, kebersihan dan kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras mengkondisikan, yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang di pajang di lorong sekolah dan di dalam kelas. Oleh karenanya dalam penelitian ini akan mengkaji tentang tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah dan proses pembelajaran tentang penghargaan dan nilai-nilai pancasila melalui budaya sekolah serta penghayatan nilai-nilai pancasila yang ada di sekolah dalam menguatkan identitas manusia indonesia yang ada di SMAN 1 Palembang. Metode Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun tempat dan waktu penelitian ini di SMA Negeri 1 Jalan Srijaya Negara Bukit Besar. Palembang. Provinsi Sumatera Selatan. Menurut (Sukadari et al. , 2. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang sistematis dan subjektif untuk menjelaskan pengalaman hidup dan menjadikannya bermakna, penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian etnografi, etnografi adalah karya mendeskripsikan suatu budaya. Penelitian ini mengacu pada konsep penelitian dengan kegiatan analisis datanya yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Menurut Mukh (Chan et al. , 2. sumber data dalam penelitian dibagi dua yaitu, data primer dan data sekunder dimana jenis data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu dari data primer dimana data ini dikumpulkan langsung oleh peneliti. Sumber data dari penelitian ini adalah Kepala Sekolah. Guru dan Siswa. Lalu, data sekunder dari penelitian ini didukung dari dokumen sekolah yang berkaitan dengan budaya Instrumen pengumpulan data nya yaitu menggunakan 3 teknik pengumpulan data: . Observasi, . Wawancara, . Dokumentasi. Dimana observasi dilaksanakan di kelas yang berbeda yaitu di kelas X(Sepulu. serta di lingkungan sekolah, lalu wawancara dilaksanakan bersama Kepala Sekolah. Guru dan Siswa dan Dokumentasi berupa RPP dan Program jadwal pelajaran yang dimiliki Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur untuk mengetahui bagaimana penerapan nilai Pancasila bagi karakter siswa di sekolah yang dewasa nya saat ini mengalami krisis karakter. Teknik penelitian Vol. No. Januari, 2023, pp. dilakukan dengan cara menelaah satu per satu sumber dari jurnal-jurnal yang terkait beserta sumber lain yang sesuai disertai dengan tata fikir logika untuk mengkonstruksi kan sejumlah konsep. Data yang diperoleh kemudian dikaji sehingga dapat ditemukan konklusi dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil Hasil penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil observasi, wawancara dan Menurut pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa merumuskan 18 nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan akan tetapi peneliti hanya memfokuskan ke nilai 5 karakter saja. Menurut Robbins (Cahyaningrum et al. , 2. budaya dapat diukur berdasarkan karakteristik umum seperti: . Insiatif individual, . Toleransi terhadap tindakan beresiko, . Arah, . Integras, . Dukungan dari manajemen, . Kontrol, . Identitas, . Sistem imbalan, . Toleransi terhadap konflik dan, . Pola-pola komunikasi. Tujuan membangun budaya sekolah yaitu untuk penginspirasi siswa untuk belajar, mengembangkan dan memodelkan hubungan saling peduli, meningkatkan keterampilan sosial, mengurangi perilaku beresiko, mendorong pencapaian dalam akademik (Sahruli et al. , 2. Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi yang dimaksud seperti: keagamaan, gotong royong, kebersihan, kedisiplinan, kebersamaan, peduli lingkungan, kerja keras, dan sebagainya. Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama. Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: . Religius,. Jujur, . Toleransi, . Disiplin,. Kerja keras,. Kreatif,. Mandiri,. Demokratis, . Rasa Ingin Tahu, . Semangat Kebangsaan, . Cinta Tanah Air, . Menghargai Prestasi, . Bersahabat/Komunikatif, . Cinta Damai, . Gemar Membaca,. Peduli Lingkungan, . Peduli Sosial, . Tanggung Jawab (Sumber: Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009: 9-. Di SMA Negeri 1 Palembang sudah banyak terdapat tanda dan simbol yang ada di ekosistem sekolah serta proses pembelajaran tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekatunggalikaan yang melambangkan manusia Indonesia, hal ini dapat terlihat di setiap kelas adanya gambar Presiden dan Wakil Vol. No. Januari, 2023, pp. Presiden Republik Indonesia serta ornamen Pancasila. Hal ini dibuat sebagai sarana edukasi penerapan sila ke 4. Kita hidup dan tinggal di bawah kedaulatan NKRI. Maka betapa pentingnya suatu simbol/lambang negara untuk mengingatkan serta menghormati NKRI. Itulah sebabnya bukan hanya foto Presiden dan Wakil Presiden namun ada ornamen Pancasila yang dibuat lebih tinggi dari foto keduanya. Sebagai tanda bahwa Pancasila adalah ideologi negara Indonesia (Sianipar et al. , 2. Selain itu, simbol atau tanda yang juga saya temui sebagai perwujudan Indonesia kebhinekatunggalikaan yaitu dengan penerapan 5 S AuSenyum. Salam. Sapa. Sopan, dan Santu. Pendapat (Lickona, 2. bahwa pembentukan karakter yang baik perlu menekankan pada pembinaan perilaku secara berkelanjutan mulai dari proses moral knowing, moral feeling, dan moral action dari pendidikan karakter. Program 5S (Senyum. Salam. Sapa. Sopan. Santu. dilaksanakan sebagai bentuk moral action dari pendidikan karakter sebagai upaya mewujudkan Akhlak mulia berbasis Profil Pelajar Pancasila di SMAN 1 Palembang. Dengan cara gerak tindakan dan ucapan yang sopan dan santun kita akan membuat orang lain merasa di hargai dan dihormati. Hal ini sangatlah mencerminkan manusia Indonesia yang terkenal dengan sikap ramah, sopan dan santunnya. Tujuan program 5S (Senyum. Salam. Sapa. Sopan. Santu. adalah diharapkan internalisasi pembentukan karakter peserta didik mampu memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan. Kemudian nilainilai tersebut dapat terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat Dengan program 5S ini diharapkan mampu membentuk dan membuat peserta didik memiliki nilai-nilai karakter yang berbudi pekerti luhur dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat. Sehingga kelak akan terbentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan kognitif yang baik dan juga memiliki budi pekerti luhur, santun pada sesama. program 5S ini merupakan program yang relevan dengan Pendidikan karakter bangsa yang berbasis Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan lain yang menguatkan nilai persatuan adalah pelaksanaan upacara bendera pada hari Senin dan piket kelas pada tiap kelas. Upacara bendera mencerminkan persatuan antara siswa, guru, dan karyawan sekolah. Piket kelas mencerminkan persatuan antara siswa satu dengan yang lain untuk bersama-sama membersihkan kelas. Selain itu pada setiap hari Senin dan hari besar nasional dilakukan upacara bendera dan tidak lupa setiap pagi juga selalu dilaksanakan apel pagi oleh siswa dan guru yang merupakan kegiatan rutin yang dapat membentuk Vol. No. Januari, 2023, pp. karakter siswa. Menurut (Widayani, 2. Hal ini sesuai dengan tujuan pelaksanaan upacara bendera yaitu salah satunya untuk membiasakan siswa disiplin. Diskusi