Dwi Purwantini,Arie Widya Prasetya. Agung Kurniawan Saputra Prevalensi Malnutrisi Pada Lanjut Usia Berdasarkan Mini Nutrisional Assesment-Short Form (MNASF) PREVALENSI MALNUTRISI PADA LANJUT USIA BERDASARKAN MINI NUTRISIONAL ASSESMENT-SHORT FORM (MNA-SF) Dwi Purwantini1,Arie Widya Prasetya2. Agung Kurniawan Saputra3 STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya. Jl. Jambi No. 12 - 18. Darmo. Wonokromo. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia. Email: dwiphysio@gmail. STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya. Jl. Jambi No. 12 - 18. Darmo. Wonokromo. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia. Email:arief. stikesrkz@gmail. STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya. Jl. Jambi No. 12 - 18. Darmo. Wonokromo. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia. Email: arief. stikesrkz@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Malnutrisi menggambarkan keadaan keseluruhan status gizi yang buruk, termasuk kekurangan gizi dan kelebihan gizi makronutrien dan atau mikronutrien. Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi terkait malnutrisi, seperti peningkatan resiko jatuh, penurunan fungsi fisik, peningkatan resiko komplikasi yang mengancam jiwa, dan peningkatan mortalitas. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi malnutrisi pada lanjut usia berdasarkan Mini Nutritional Assesment-Short Form (MNA-SF) di posyandu Lansia Surabaya. Metode: Desain penelitian ini dengan study deskriptif yang menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Populasi target pada penelitian ini adalah lansia umur Ou60 tahun di Posyandu Lansia Surabaya yang berjumlah 61 lansia. Teknik sampling dengan total sampling. Data dikumpulkan dengan cara mengisi kuisioner Mini Nutritional Assesment-Short Form (MNA-SF). Hasil : Hasil penelitian didapatkan kondisi status gizi lansia berdasarkan MNA-SF sebanyak 46 lansia . ,4%) lansia status gizi normal, 14 lansia . %) berstatus gizi resiko malnutrisi dan 1 lansia . ,6%) lansia berstatus gizi malnutrisi. Karakteristik responden menunjukkan lansia perempuan . %) lebih banyak dibandingkan laki-laki . %). Indeks Massa Tubuh yang mengalami obesitas . ,7%), kurang . ,3%) dan sisanya normal . ,2%). Sebagian besar lansia . ,7%) masih mempunyai penghasilan sendiri, 44,3%. Simpulan: Prevalensi malnutrisi 1,6%, resiko malnutrisi 23%, dan 75,5% normal. Identifikasi dan penanganan dini terhadap masalah gizi lansia dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kata kunci: Lansia. Status Gizi. MNA-SF. Malnutrisi. ABSTRACT Backgorund: Malnutrition describes the overall state of poor nutritional status, including undernutrition and overnutrition of macronutrients and/or micronutrients. Older adults are particularly vulnerable to the consequences associated with malnutrition, such as increased risk of falls, decreased physical function, increased risk of life-threatening complications, and increased Purpose: The purpose of this study was to determine the prevalence of malnutrition in the elderly based on the Mini Nutritional Assessment-Short Form (MNA-SF) at the Surabaya Elderly Posyandu. Methods: The research design was a descriptive study using a questionnaire as a data collection tool. The target population in this study was the elderly aged Ou60 years at the Surabaya Elderly Posyandu, totaling 61 elderly. The sampling technique was total sampling. Data were collected by filling out the Mini Nutritional Assessment-Short Form (MNA-SF) questionnaire. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 Result: The results of the study showed that the nutritional status of the elderly based on the MNASF was 46 elderly . 4%) with normal nutritional status, 14 elderly . %) with nutritional status at risk of malnutrition and 1 elderly . 6%) with malnutrition nutritional status. Respondent characteristics show that elderly women . %) are more numerous than men . %). Body Mass Index is obese . 7%), lacking . 3%) and the rest are normal . 2%). Most elderly . 7%) still have their own income, 44. Conclusion: The prevalence of malnutrition is 1. 6%, the risk of malnutrition is 23%, and 75. 5% are Early identification and treatment of nutritional problems in the elderly can improve the quality of life. Keywords: Elderly. Nutritional Status. MNA-SF. Malnutrition. PENDAHULUAN Lanjut . hampir semua fungsi, organ dan atau sistem Malnutrisi tubuh manusia (Agarwal et al. , 2. berlangsung sejak individu memasuki usia Usia harapan hidup lansia di Indonesia 60 tahun (Kail & Cavanaugh, 2. mengalami peningkatan karena keberhasilan Menurut Peraturan Pemerintah Republik pembangunan di berbagai bidang terutama Indonesia Nomor 43 tahun 2014, lanjut usia kesehatan (Kemenkes. RI, 2. Kondisi ini adalah seseorang yang telah mencapai usia masalah kesehatan dan penyakit, banyak (Kemenkes. RI, 2. Namun, timbulnya diantaranya dapat dicegah, ditunda, atau masalah kesehatan pada lansia dapat dimulai ditingkatkan dengan menjaga pola makan pada awal usia 50 tahunan atau mungkin yang sehat (Corcoran et al. , 2. Lansia pada usia 40 tahunan. Banyak lansia yang sangat rentan terhadap konsekuensi terkait malnutrisi, seperti peningkatan resiko jatuh, mengalami malnutrisi, hal ini terjadi karena penurunan fungsi fisik, peningkatan resiko napsu makan dan asupan makanan yang komplikasi yang mengancam jiwa, dan menurun, gigi yang buruk, peningkatan peningkatan mortalitas (Agarwal et al. frekuensi keparahan kondisi medis akut dan . nam Penduduk lansia pada tahun 2045 penurunan kognitif (Cox, 2. Nutrisi diproyeksikan mencapai hampir seperlima faktor kunci dalam proses dari total penduduk Indonesia (BPS, 2. kontributor penting Karena harapan hidup rata-rata meningkat, kemampuan untuk menikmati gaya hidup mengurangi resiko penyakit (Corcoran et al. bergantung pada seberapa baik Dwi Purwantini,Arie Widya Prasetya. Agung Kurniawan Saputra Prevalensi Malnutrisi Pada Lanjut Usia Berdasarkan Mini Nutrisional Assesment-Short Form (MNASF) mempertahankan kebugaran fisik (Rikli & perubahan biologis, yang pada akhirnya Jones, 2. akan mempengaruhi status gizi. Masalah nutrisi juga menyebabkan Penelitian di Puskesmas Kota Matsum Medan tahun 2018, menunjukkan 59,2 kesehatan pada lanjut usia, dan banyak lansia dengan rentang usia 64-70 tahun lansia yang hidup mandiri menunjukkan beresiko malnutrisi (Boy, 2. Hasil defisiensi nutrisi (Mass et al. , 2. penelitian (Kucukerdonmez et al. , 2. Malnutrisi adalah suatu keadaan yang mana yang membandingkan status nutrisi lansia berdasarkan situasi hidupnya menunjukkan ketidakseimbangan energi, protein dan zat gisi lansia yang tinggal sendiri berbeda gizi lainnya yang menyebabkan dampak dengan gizi lansia yang tinggal bersama buruk pada tubuh, fungsi dan hasil klinis Tingkat malnutrisi lebih tinggi (Camilo, 2. Malnutrisi juga ditandai pada individu yang hidup sendiri. dengan penurunan berat badan termasuk permasalahan tersebut peneliti terdorong berdampak negatif pada kekuatan otot untuk mengetahui prevalensi malnutrisi pada (Miller & Wolfe, 2. Survey Nasional lanjut usia berdasarkan Mini Nutrisional Health and Nutrition (NHANES . yang Assesment-Short melibatkan individu yang berusia lebih dari posyandu lansia. MNA-SF merupakan tes 74 tahun ditemukan median asupan kalori skrining yang sederhana, andal, valid, dan dapat mendeteksi lansia yang kekurangan direkomendasikan dan asupan gizi menurun gizi atau beresiko mengalami malnutrisi seiring pertambahan usia (Wakefield, 2. (Harris & Haboubi, 2. Berdasarkan Form (MNA-SF) Kurang gizi merupakan penyebab mortalitas. Fenomena yang ada di posyandu lansia gangguan respon imun, gangguan kognitif Surabaya menunjukkan masih ada lansia dan penurunan kualitas hidup (Mass et al. yang mengalami masalah gizi, hal ini nampak dari lansia yang nampak kurus. Asupan makan sangat mempengaruhi lemah, dan mudah terserang sakit. proses menua karena seluruh aktivitas METODE PENELITIAN metabolisme dalam tubuh memerlukan zatzat gizi yang cukup. Faktor internal yang Penelitian penelitian deskriptif, yang menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi pengukuran antropometri (IMT, penurunan malnutrisi pada lansia. berat bada. , penilaian global . Variabel pada penelitian ini adalah dan kuisioner diet dan penilaian subyektif variabel tunggal yaitu prevalensi malnutrisi . supan makanan, masalah neuropsikologis, pada lanjut usia di Posyandu lansia. Subyek penyakit aku. Skor total MNA-SF 12-14 penelitian ini adalah lanjut usia di Posyandu . tatus lansia dengan kriteria inklusi, yaitu lanjut malnutris. , dan 0-7 . (Kaiser et , 2. Pengumpulan data dilakukan keadaan sehat berdasarkan informasi lansia, dengan cara peneliti dibantu oleh 5 asisten bersedia menjadi responden. Jumlah sampel peneliti memberikan kuisioner MNA-SF adalah 61 responden, dan teknik sampling yang harus dijawab oleh lansia. Data yang menggunakan total sampling. telah terkumpul kemudian dirumuskan untuk laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner Mini Nutritional . eresiko mendapatkan hasil prevalensi malnutrisi pada lanjut usia. Assesment-Short Form (MNA-SF). MNA- Analisis univariate skala data kategori SF merupakan metode sederhana dan cepat menggunakan proporsi dalam bentuk jumlah untuk mengidentifikasi lansia yang beresiko persentase seperti jenis kelamin, usia, status malnutrisi sebelum terjadi penurunan berat gizi, lansia tinggal sendiri atau dengan Skrining status gizi yang valid, keluarga, memiliki penghasilan atau tidak. sensitive dan reliable, direkomendasikan Data hasil pengukuran Mini Nutritional Assesment-Short Form (MNA-SF) dilakukan internasional serta didukung oleh lebih dari analisis data secara statistic deskriptif 450 penelitian yang sudah dipublikasikan proporsi prosentase. (Kaiser et al. , 2. MNS-SF terdiri dari 6 pertanyaan yang dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit yang terdiri dari HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Frekuensi Prosentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 60-74 tahun 75-90 tahun >90 tahun Indeks Massa Tubuh Kurang Normal Dwi Purwantini,Arie Widya Prasetya. Agung Kurniawan Saputra Prevalensi Malnutrisi Pada Lanjut Usia Berdasarkan Mini Nutrisional Assesment-Short Form (MNASF) Variabel Kelebihan berat badan Obesitas Tingkat Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Penghasilan Mempunyai Tidak mempunyai Tempat tinggal Sendiri Dengan keluarga Aktivitas Fisik (Sena. Sumber data: data primer Frekuensi Prosentase (%) Tabel 2. Distribusi Frekuensi Status Malnutrisi pada Lansia berdasarkan MNS-SF Status Malnutrisi Malnutrisi Resiko Malnutrisi Normal Frekuensi Prosentase (%) Sumber data: data primer Pada tabel 2 menunjukkan rata-rata tajam, produksi air liur berkurang dan lansia status malnutrisi berdasarkan MNA- SF pada kondisi normal . ,4%), 23% mempunyai resiko malnutrisi dan 1,6% menyebabkan gangguan fungsi mengunyah Mayoritas lansia beresiko atau mengalami malnutrisi (Santosh et al. , 2. makanan pada lanjut usia (Scanlon & Penelitian di Puskesmas Kota Matsum Sanders, 2. Perubahan lain pada otot Medan tahun 2018, menunjukkan 59,2 mulut dan selaput lendir, menyebabkan lansia dengan rentang usia 64-70 tahun kesulitan mengunyah makanan dengan baik, banyak lansia mengubah asupan makanan Karakteristik responden pada penelitian ini untuk mengimbangi berkurangnya efisiensi sebagian besar pada rentang 60-74 tahun mengunyah sehingga menempatkan lansia . %). Semakin bertambah usia akan terjadi pada resiko kekurangan gizi (Kaufmann et banyak perubahan pada sistem pencernaan, , 2. Pada lanjut usia kemampuan antara lain indra perasa menjadi kurang mempertahankan status gizi dipengaruhi (Boy. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 oleh kondisi kronis dan episode penyakit pemeliharaan status gizi yang baik (Amarya akut yang memerlukan cadangan gizi yang et al. , 2. Meningkatkan kesadaran lansia memadai (Kaufmann et al. , 2. dan keluarga tentang perlunya meningkatkan Tabel 1 menunjukkan, berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan hasil 16 (Kucukerdonmez et al. , 2. ,2%) memiliki tingkat pendidikan Malnutrisi SD, 14 orang . %) memiliki tingkat multifaktoral dan diusia lanjut banyak faktor ,8%) resiko yang dapat memburuk yang secara memiliki tingkat pendidikan SMA, dan 11 global tercermin oleh penurunan berat badan orang . %) memiliki tingkat pendidikan dan indeks massa tubuh (Donini et al. , 2. Perguruan Tinggi (PT). Lansia yang lebih Pada penelitian ini 49,2% lansia dengan terdidik dan memiliki posisi keuangan yang indeks massa tubuh normal. Hanya sebagian cukup baik, lebih sadar akan gizi (Bernstein kecil 3,3% mengalami Indeks massa tubuh & Munoz, 2. kurang, 37,3% kelebihan berat badan dan SMP. Status malnutrisi dipengaruhi apakah 9,8 mengalami obesitas. Indeks massa tubuh lansia tinggal sendiri atau tinggal dengan Perubahan status sosial ekonomi kebugaran jasmani pada lansia karena IMT juga memberikan pengaruh pada status mempunyai peranan dalam mempertahankan Tabel 1 menunjukkan, 82% mobilitas fungsional (Rikli & Jones, 2. lansia tinggal dengan keluarga baik dengan Usia lanjut juga merupakan salah satu faktor suami, anak dan saudaranya, serta 55,7% resiko malnutrisi yang dikaitkan dengan lansia masih mempunyai penghasilan sendiri. berat badan dan indeks massa tubuh yang Menurut penelitian Kucukerdonmez et al. lebih rendah (Cox, 2. , angka malnutrisi lebih tinggi pada SIMPULAN DAN SARAN individu yang tinggal sendiri. Malnutrisi Berdasarkan merupakan kondisi yang sangat sering terjadi pada kelompok populasi yang paling dilakukan di posyandu lansia di Surabaya lemah, data pada pada literatur Donini et al. dapat disimpulkan prevalensi malnutrisi . menunjukkan bahwa 15% lansia 1,6%, dan resiko malnutrisi 23%. Peran yang tinggal di komunitas, 23-62% subyek keluarga diharapkan untuk memperhatikan yang dirawat di RS dan 85% penghuni panti gizi lansia. Penguatan layanan Kesehatan jompo mengalami malnutrisi. Lansia sering primer untuk mengatasi dan mencegah malnutisi dan resiko malnutrisi dengan meningkatkan status gizi lansia sehingga Dwi Purwantini,Arie Widya Prasetya. Agung Kurniawan Saputra Prevalensi Malnutrisi Pada Lanjut Usia Berdasarkan Mini Nutrisional Assesment-Short Form (MNASF) meningkatkan kualitas hidup lansia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat prevalensi malnutrisi pada lanjut usia di posyandu lansia di Surabaya dan dapat menjadi dasar dalam membuat program di Puskesmas untuk meningkatkan kesadaran keluarga dalam meningkatkan status gizi pada lansia. DAFTAR PUSTAKA