Jurnal: Elektrika Borneo (JEB) Vol. No. Oktober 2024, hlm. p-ISSN: 2443-0986 EVALUASI SISTEM PENANGKAL PETIR EKSTERNAL MENGGUNAKAN METODE SUDUT PROTEKSI DAN BOLA BERGULIR PADA GEDUNG FKIP UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN Sugeng Riyanto1. Fedroyanto Appulembang2 Universitas Borneo Tarakan. Tarakan. Kalimantan Utara. Indonesia sr@gmail. 2fedroyantoappulembang@gmail. AbstractAi Lightning is a natural phenomenon that occurs in the atmosphere. Lightning is a surge of charge in the form of an electrical discharge from a charged cloud. The discharge that occurs can hit an object such as the earth's surface. The existence of tall buildings on the earth's surface is the closest object that can be struck by lightning. The effects of lightning strikes are very dangerous for humans and can cause damage to buildings. To prevent the danger of lightning strikes, a lightning rod is installed. Lightning protection consists of two types, namely internal lightning and external lightning The research discussed external lightning External lightning protection consists of Air Termination. Down Conductor and Earth Termination (Groundin. Based on the results of field measurements, the grounding calculation result was 2. The analysis using the protection angle method resulted in an angle formed of 45A with a base radius of 38. 75 meters. Furthermore, employing the rolling sphere method produced a spherical radius of 60 meters and a lightning current of 234. 89 kA. pada bangunan-bangunan yang bertingkat. Sehinggah sangat diperlukan adanya proteksi dari sambaran petir terbsebut untuk melindungi bangunan dan peralatan di Untuk mencegah kerusakan dan kerugian akibat sambaran petir di gunakan sistem proteksi internal dan Proteksi eksternal berfungsi untuk menangkap dan menyalurkan arus listrik akibat petir langsung menuju ke grounding. Sehinggah arus listrik akibat petir dapat di netralkan ke bumi, tanpa menyebabkan kerusan dan bahaya pada bangunan yang di proteksi. Proteksi eksternal sangat di perlukan pada bangunan yang bertingkat karena merupakan daerah yang tinggi sehinggah dapat menjadi obejak terdekat yang bisa di sambar petir. Bangunan yang tinggi akan menjadi saluran bagi bagi petir untuk menyalurkan arus listrik ke bumi. Semakin tinggi dan besar suatu bangunan akan semakin besar kerusan dan gangguan yang ditimbulkan. Untuk melindungi bangunan yang bertingkat dari bahaya petir di perlukan instalasi proteksi eksternal yang handal dan memenuhi syarat. Evaluasi terhadap sistem proteksi eksternal yang terpasang perlu dilakukan untuk mengatuahui apakah radius proteksi atau daerah yang di lindungi oleh sistem proteksi, sudah mencakup seluruh bangunan, agar bisa mencegah terjadinya kegagalan sistem proteksi yang dapat merusak bangunan bahkan bisa membahayakan manusia. KeywordsAiGrounding. Protection Angle. Rolling Sphare. IntisariAi Petir adalah suatu fenomena alam yang terjadi di atmosfer. Petir merupakapan suatu lonjakan muatan berupa pelepasan listrik dari awan yang bermuatan. Pelepasan muatan yang terjadi bisa saja mengenai suatu objek, pelepasan muatan atau petir biasanya adalah permukaan bumi. Adanya bangunan tinggi pada permukaan bumi menjadi objek yang terdekat yang bisa tersambar petir. Efek sambaran petir sangat berbahaya bagi manusia dan dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan. Untuk mencegah bahaya samabaran petir maka dipasanglah penangkal petir. Penangkal petir terdiri dari dua jenis yaitu penangkal petir internal dan penangkal petir eksternal. Pada penelitian membahas mengenai penangkal petir ekternal. Penangkal petir ekternal terdiri dari Terminasi Udara. Konduktor Penyalur ( Down Conductor ) dan Terminasi Bumi ( Grounding ). Berdasarkan hasil pengukuran lapangan didapatkan hasil perhitungan grounding sebesar 2,11 E. Hasil analisa dengan metode sudut proteksi dengan sudut yang terbentuk sebsar 45o dengan jari-jari alas 38,75 meter. Berdasarkan hasil analisa dengan metode bola bergulir dengan radius bola sebesar 60 meter dan arus petir sebesar 234,89 kA. Kata kunci : Grounding. Sudut proteksi. Bola bergulir II. LANDASAN TEORI Sistem Penangkal Petir Sistem proteksi eksternal dipasang pada bangunan untuk melindungi bangunan dari sambaran petir langsung dengan menyalurkan energi petir langsung ke bumi. Terminasi udara atau air terminal adalah bagian dari proteksi eksternal yang berupa elektroda batang dengan bahan tembaga, yang terpasang pada suatu titik tertinggi bangunan secara tegak maupun mendatar. Terminasi udara ini yang akan menangkap petir dan menyalurkannya langsung ketanah . Konduktor penyalur arus petir adalah salah satuh bagian dari sistem proteksi eksternal yang berfungsi menyalurkan arus petir dari sistem terminasi udara kemudian diteruskan kegrounding. Pentanahan adalah bagian akhir dari dari sistem proteksi eksternal terhdap petir ini. Pentanahan (Groundin. adalah bagian yang tertanam didalam tanah yang akan melepas arus petir kedalam tanah. Grounding ini berupa elektroda yang akan PENDAHULUAN Indonesia merupakan wilayah terlatak pada garis kathulistiwa, yang berarti Indonesia merupakan daerah yang beriklim tropis sehinggah hari guruh pertahun/petir yang terjadi itu sangat tinggi. Tingginya sambaran petir di Indonesia memungkinkan banyak terjadinya kerusakan Sugeng Riyanto, dkk. Evaluasi Sistem Penangkal Petir A 54 tertancap kedalam tanah pada sekitar bangunan. Elektrodaelektroda ini telah dirancang khusus sedemikian rupa sehinggah pada saat terjadi pelepasan arus kedalam tanah tidak menimbulkan lompatan tegangan yang berbahaya. Untuk menghitung tanahan pentanahan dengan persamaan yang sudah ada dari sebelumnya berdasarkan standar yang ada yaitu . dengan nilai Nc berdasarkan tingakat efisiensi penangkal petir . E Ou 1- ycAyca ycAycc Tabel I Efisiensi Sistem Penangkal Petir (SPP) Tingkat proteksi yuU 4ya R=2yuUya . n ( ya ) Oe . i Keterangan : R = Tahanan pembumian elektroda (E) A = Tanahan jens tanah (E) l = panjang elektroda . A = Diameter elektroda . Untuk mencapai tahanan pembumian yang mendekati 0 maka dilakukan pemasangan grounding dibeberapa titik yang dikombinasikan dengan hubungan pararel berdasarkan PUIL Tahun 2000 yaitu = R R U Rn Besarnya kebutuhan bangunan akan system proteksi Berdasarkan tabel indeks-indeks menurut PUIPP yang telah dipilih menurut situasi dan kondisi bangunan maka indeks akan dijumlahkan sebagai acuan untuk perkiraan bahaya dan keperluan pengamanan. Adapun rumus yang digunakan berdasarkan ketentuan PUIPP yaitu . R=A B C D E Menurut SNI 03-7015 mneghitung rata-rata sambaran petir pertahun ketanah (N. dinyatakan sebagai . Ng =0,04. ycNycc1,25 /kmA/tahun . Menghitung jumlah sambaran petir langsung pertahun (N. berdasarkan SNI 03-7015 TAHUN 2004 yaitu dengan menlakukan perkalian kerapatan sambaran petir (N. dengan luas perlindungan pada gedung (A. Nd = Ng. Ae. 10Oe6 Efisiensi SPP Sedangkan untuk area cakupan berdasarkan SNI 037015 Tahun 2004 dengan persamaan sebagai berikut. Ae =ab 6h. 9AhA Keterangan : Nd = Jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir a = Panjang atap gedung . b = Lebar atap gedung . h = Tinggi atap gedung . Ng = Kerapatan sambaran petir ke tanah . ambaran/kmA/tahun. Ae = Luas daerah angka pada sambaran petir . mA) Menentukan tingkat proteksi pada suatu bangunan di perlukan hasil perhitungan dari Nd yang akan menjadi menjadi perbandingan dengan frekuensi tahunan setempat (N. Dengan berdasarkan SNI 03-7015 Tahun 2004 0,98 0,95 0,90 0,80 Metode yang digunakan Sudut Proteksi Metode sudut proteksi biasa juga disebut metode Franklin rod karena metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin Franklin. Metode ini berupa proteksi petir yang berbentuk kerucut tembaga dengan memiliki sudut proteksi berupa kerucut. Dimana daerah sudut lindung yang dibentuk berdasarkan tingkat proteksinya . Tabel II Besar sedut yang dibentuk beradasarkan tingkat proteksi Tingkat Proteksi Besar Sudut Terminasi Udara . Ketinggian Bangunan 25Ae 35Ae 25Ae i 45Ae 35Ae 55Ae 45Ae 35Ae 25Ae Berdasarkan tabel II maka dapat dihitung radius proteksi yang berupa alas kerucut berbentuk lingkaran dengan rumus sebagai berikut r = h. tan Keterangan : r = radius proteksi . h = tinggi bangunan ditambah terminasi udara . = derajat sudut perlindungan (A. Bola Bergulir Metode bola bergulir adalah metode yang menjadikan petir seumpama sebuah bola yang bergulir keatas tanah. Metode ini adalah metode yang cocok digunakan untuk bangunan dengan struktur yang rumit. Bola yang bergulir mmliki radius R yang akan jatuh menyentuh permukaan bumi atau bangunan yang berhubungan langsung sebagai suatu pengahantar. Pada titik yang terkena bola bergulir ini yang akan menjadi tempat pemasangan terminasi udara . Penempatan sistem terminasi udara menggunakan metode ini cukup memadai karena dengan menggunakan metode ini bola hanya boleh menyentuh tanah dan terminasi udara. Daerah yang diproteksi dengan bola dengan radius R di sekeliling dan di atas bangunan . Sugeng Riyanto, dkk. Evaluasi Sistem Penangkal Petir A 55 Tabel i Radius bola bergulir berdasarkan tingkat proteksi Tingkat Proteksi Radius bola bergulir (R) . i Nilai R ditentukan berdasarkan tabel i yang digunakan berdasarkan tingkat proteksinya, dimana radius bola bola bergulir berhubungan dengan nilai arus, dimana radius bola bergulir berhubungan dengan nilai arus . 0,75 OoycI Keterangan : I = Arus puncak petir . A) R = Radius . Metode deskriptif adalah metode yang dugunakan untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan mengenai keadaan dan kondisi langsung mengenai objek penelitian yang kegiatanya berupa pengumpulan data. Metode ini adalah metode dengan melakukan analisis, dimana analisis akan sampai pada tahap deskripsi. Metode ini akan menyajikan fakta dan menganalisi secara sistematik agar lebih mudah dipahami sehinggah dapat Berdasarkan simpulan yang dihasilkan jelas menurut dasar faktualnya sehingah data yang diperoleh langsung bisa dikembalikan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran Pentanahan Berdasarkan Hasil Pengukuran Tabel IV Hasil pengukuran grounding pada gedung FKIP i. METODE PENELITIAN Mulai Studi Literatur Lokasi Pengukuran Tahanan () Depan Samping kanan Samping Kiri Belakang Resistansi Tanah Tidak Data Terkumpul ? yuU 4ya ycI = 2yuUya . n ( ya ) Oe . = 2A6 . Oe . = 0,2 E Hitung efisiensi sistem Penangkal Petir dan perkiraan tingkat proteksi Ketika terdapat beberapa elektroda yang terpasang maka dilakukan perhitungan secara pararel Menghitung : Resistansi tanah Kerapatan sambaran Petir Cakupan Sambaran Petir Sambaran petir pertahun Tingkat proteksi bangunan Analisis penangkal petir menggunakan : Metode Sudut Proteksi Metode Bola Bergulir Standar SNI 037015 Tahun 2004 ? : 2,11 : 6000 mm = 6 meter : 50 mm =0,05 meter Resistansi Tanah Panjang Elektroda Diameter Elektroda Pengumpulan Data : Data Resistansi Tanah Data Hari Guruh Data Gedung FKIP = U ycIyc ycI ycI ycIycu ycI 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 = 0,028 Tidak Berdasarkan SNI Jenis Tanah Panjang Elektroda Diameter Elektroda Penyelesain analisis Evaluasi sistem Penangkal Petir ycI= Kesimpulan dan Saran : Tanah Liat . : 6000 mm = 6 meter : 50 mm =0,05 meter yuU 4ya . n ( ) Oe . 2yuUya ya = 2yuU6 . Oe . Gambar 1. Flowchart Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian in adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan = 13. Ketika terdapat beberapa elektroda yang terpasang maka dilakukan perhitungan secara pararel yaitu Sugeng Riyanto, dkk. Evaluasi Sistem Penangkal Petir A 56 = U ycIyc ycI ycI ycIycu = 13. 72 13,72 13,72 13,72 13,72 13,72 13,72 = 1,96 Perhitungan Penangkal Petir Berdasarkan perkiraan bahaya bangunan FKIP akibat sambaran petir didapatkan dengan menjumlahkan indeksindeks berdasakan kondisi bangunan dengan persaman R=A B C D E =3 1 5 1 5 = 14 Tabel V Data hari Guruh di Tarakan tahun 2023 Bulan Jumlah hari guruh Januari February Maret April Mei Juni Juli Agustus Semtember Oktober November Desember Jumlah total Ukuran gedung Panjang Gedung : 21,5 meter Lebar gedung : 11,5 meter Tinggi bangunan : 26 meter Tinggi Atap : 10 Meter Panjang atap : 13,7 meter Lebar atap : 8,5 meter Tinggi Atap Tinggi penangkal petir : 10 meter 2,75 meter =12,75 meter Tinggi bangunan Terminasi udara : 26 meter 12, 75 meter = 38,75 meter Perhitungan cakupan luas daerah yang memiliki angka sambaran petir (A. pada bangunan FKIP dapat di hitung menggunakan persamaan Ae = ab 6h . 9AhA =. ,7. 12,75 . 7 8,. 12,75A = 6411,09 kmA Perhitungan rata-rata sambaran petir pertahun ketanah (N. berdasarkan jumlah hari guruh pertahun dapat di hitung menggunakan persamaan rumus . Ng = 0,04. Td1,25 kmA/tahun = 0,04. 831,25 kmA/tahun = 10,02 kmA/tahun Perhitungan jumlah sambaran petir langsung pertahun (N. dengan melakukan perkalian kerapatan sambaran petir (N. dengan luas perlindungan pada gedung menggunakan persaman rumus Nd = Ng. Ae. 10Oe6 = 10,02 . 6411,09. 10Oe6 = 0,64 sambaran petir pertahun Menghitung tingkat proteksi pada bangunan yaitu hasil perhitungan dari Nd yang akan dibandingkan dengan frekuensi tahuanan setempat (N. dengan nilai 0,1 berdasarkan persamaan rumus . ycAyca E = 1 Oe ycAycc = 1- ycu,64 = 0,84 Berdasarkann hasil perhitungan maka tingkat proteksi bangunan gedung FKIP berada pada tingkat proteksi IV. Analisis Dengan Metode Sudut Proteksi Hasil perhitungan efisiensi sambaran petir menyatakan bahwa gedung FKIP berada pada tingkat proteksi IV. Berdasarkan tabel besar sudut yang dibentuk berdasarkan tingkat proteksi dengan tinggi bangunan ditambah tinggi atap dapat di lihat pada tabel sudut proteksi yang terbentuk sebesar 45o. Gambar 2. metode sudut proteksi pada bangunan FKIP tampak depan Area yang menjadi bagian dalam proteksi penangkal petir akan membentuk suatu kerucut, dengan puncak kerucut yaitu terminasi udaranya. Untuk mencari lebar alas dari sudut proteksi yang terbentuk, yaitu dengan menggunakan persamaan rumus r = h. tan = 38. tan 45o = 38,75 meter Jadi jari-jari alas yg terbentuk dari radius proteksi yang di hasilkan adalah jari-jari sebesar 38,75 atau dengan lebar 75,5 meter setiap terminasi udara yang terpasang. Sugeng Riyanto, dkk. Evaluasi Sistem Penangkal Petir A 57 Dengan radius yang diketahui sebesar 60 m maka besar arus sambaran petir dapat dihitung dengan persamaan rumus yaitu : 0,75 I = OoycI 0,75 = Oo60 =234,89 kA KESIMPULAN Gambar 3. metode sudut proteksi tampak samping Analisis dengan metode bola bergulir Untuk mengetahui radius petir yang berupa bola digunakan rumus berdasarkan tingkat proteksi pada bangunan gedung FKIP. Adapun tingkat proteksi bangunannya berada pada tingkat proteksi IV dengan radius proteksi berdasarkan tabel II maka radius proteksi dari bola yaitu sebesar 60 meter. Berdasarkan hasil pengukuran lapangan didapatkan hasil perhitungan grounding sebesar 0,028 E dan hasil perhitungan menurut SNI yaitu sebesar 1,96 E. Area cakupan luas yang memiliki angka sambaran petir sebsar 6411,69 kmAdan jumlah sambaran petir langsung pertahun yaitu 0,64 sambaran pertahun. Sehinggah tingkat proteksi berada pada tingkat proteksi IV. Berdasarkan hasil analisa dengan metode sudut proteksi dengan sudut yang terbentuk sebesar 45o dengan jari-jari alas 38,75 meter. Dapat dilihat bahwa area proteksi yang terbentuk dari sudut proteksi sudah mencakup seluruh bagian gedung. Berdasarkan hasil analisa dengan metode bola bergulir dengan rdius bola sebesar 60 meter dan arus petir sebesar 234,89 kA. Dapat dilihat bahwah bola yg bergeulir menyentuh terminasi udara terlebih dahulu sehingga bangunan tetap aman. REFERENSI