ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 EFEKTIVITAS FISIOTERAPI (TENS DAN INFRARED) PADA PENANGANAN KASUS LOW BACK PAIN DITINJAU DARI FLEKSIBILITAS LUMBAL DI RSUD KOTA TANJUNGPINANG Luis Yulia1. Andi Ipaljri Saputra2. Elca Anastasia Ramadhani3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam. Email: luisyulia@univbatam. id, andiipalrji@univbatam. id, elcaanastasia01@gmail. Abstract Background: Low Back Pain (LBP) not only disrupts daily activities but can also negatively impact an individual's quality of life and productivity. Physiotherapy treatment has proven to be one of the effective non-pharmacological methods in managing LBP. Physiotherapy plays a role in increasing lumbar flexibility and reducing lower back pain. Various physiotherapy techniques can be applied, including TENS and Infrared. Methods: This study uses a pre-experimental design with a one-group pre-post test approach. The sampling technique used is accidental sampling with 31 physiotherapy patients experiencing Low Back Pain at RSUD Kota Tanjungpinang. Data were collected using Schober test observation sheets and Visual Analogue Scale (VAS). Data analysis was performed with paired t-test statistics. Results: The study results showed that after physiotherapy was performed, limited lumbar flexibility drastically decreased to 6. 5%, while patients with normal flexibility increased to There was a significant improvement in pain levels, with 64. 5% of patients experiencing mild pain, 35. 5% experiencing moderate pain, and no patients experiencing severe or very severe The paired sample t-test result obtained a p-value of 0. Conclusion: Physiotherapy (TENS and Infrare. is effective in managing Low Back Pain cases viewed from lumbar flexibility at RSUD Kota Tanjungpinang. Keywords: Low Back Pain. Physiotherapy. TENS. Infrared Abstrak Latar Belakang: Low Back Pain (LBP) tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat berdampak negatif pada kualitas hidup dan produktivitas individu. Treatment fisioterapi telah terbukti menjadi salah satu metode non-farmakologis yang efektif dalam penanganan LBP. Fisioterapi berperan dalam peningkatan fleksibiltas lumbal dan mengurangi nyeri LBP. Berbagai teknik fisioterapi dapat diterapkan, termasuk TENS, dan Infrared. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-post test. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling pada 31 pasien fisioterapi yang mengalami Low Back Pain di RSUD Kota Tanjungpinang. Data dikumpulkan dengan lembar observasi schober test dan VAS . isual analouge scal. Analisis data dilakukan dengan uji statistik paired t test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah fisioterapi dilakukan, fleksibilitas lumbal terbatas menurun drastis menjadi 6,5%, sementara pasien dengan fleksibilitas normal meningkat menjadi 93,5%. Dan terjadi perbaikan signifikan pada tingkat nyeri, di mana 64,5% pasien nyeri ringan, 35,5% mengalami nyeri sedang, dan tidak ada lagi pasien yang mengalami nyeri berat atau sangat berat. Hasil uji paired sample t-test memperoleh nilai p-value sebesar 0,000. Kesimpulan: Pemberian fisioterapi (TENS dan Infrare. efektif pada penanganan kasus Low Back Pain yang ditinjau dari fleksibilitas lumbal di RSUD Kota Tanjung pinang. Kata kunci: Low Back Pain. Fisioterapi. TENS. Infrared Universitas Batam Batam Batam Page 235 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 PENDAHULUAN Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan nyeri atau ketegangan otot di area punggung bawah yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Andi I et al, 2. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang mengalami nyeri punggung bawah akibat kebiasaan postur tubuh yang kurang baik, aktivitas fisik yang berlebihan, atau bahkan kurangnya olahraga. Banyak individu di berbagai kelompok usia mengeluhkan nyeri punggung bawah, terutama mereka yang memiliki pekerjaan dengan posisi statis dalam waktu lama atau aktivitas fisik yang berat (Jameson et al. Menurut World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2020 LBP memengaruhi 619 juta orang di seluruh dunia dan diperkirakan jumlah kasusnya akan meningkat menjadi 843 juta kasus pada tahun 2050, dimana sebelumnya terjadi peningkatkan signifikan sebanyak 60% dari tahun 1990, sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan. Hal ini menjadi penyebab utama kecacatan di seluruh dunia dan kondisi yang paling banyak membutuhkan rehabilitasi (WHO. Kebanyakan orang setidaknya pernah mengalaminya sekali dalam hidup mereka. Prevalensi jumlah kasus LBP tertinggi terjadi pada usia 50Ae55 tahun. LBP lebih umum terjadi pada wanita (GBD, 2. Berdasarkan data Riskesdas, . mengenai prevalensi penderita kejadian Low Back Pain di Indonesia sebanyak 12. orang atau setara dengan 3,71 % dari Low Back Pain di Indonesia ini menduduki peringkat ke 2 setelah influenza. Adapun muskuloskeletal di Kepulauan Riau mencapai 5,6% (Riskesdas, 2. , di RSUD Kota Tanjungpinang insidensi Low Back Pain menjadi penyakit keluhan dengan frekuensi terbanyak dalam treatment LBP tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat berdampak negatif pada kualitas hidup dan produktivitas Adapun tata laksana farmakologi Universitas Batam Batam Batam Low Back Pain meliputi pemberian Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID. , muscle relaxant, serta pada kondisi tertentu dapat diberikan opioid lemah seperti tramadol. Pemilihan obat disesuaikan dengan intensitas nyeri, durasi keluhan, dan kondisi pasien. Selain itu, treatment fisioterapi telah terbukti menjadi salah satu metode non-farmakologis yang efektif dalam penanganan LBP. Tujuan utama dari fisioterapi adalah untuk memulihkan gerakan serta fungsi tubuh. Dalam konteks LBP, fisioterapi bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan memperbaiki kapasitas fungsional pasien. Berbagai teknik fisioterapi dapat diterapkan, termasuk Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan Infra Red. Fleksibilitas merupakan kemampuan melakukan gerakan pada sendi tertentu atau sekelompok sendi dalam kombinasi Fleksibilitas pada wilayah lumbal diketahui memengaruhi sistem kerja manusia, terutama dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pembungkukan badan dalam mengangkat Penurunan Fleksibilitas lumbal dapat menimbulkan efek samping seperti Low Back Pain (LBP) atau Nyeri Punggung Bawah (Sibarani, 2. Fisioterapi berperan dalam mengurangi nyeri pada punggung bawah. Fisioterapi dapat menggunakan modalitas seperti: Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation. TENS adalah intervensi nonfarmakologis yang mengaktifkan jaringan saraf kompleks untuk mengurangi rasa sakit dengan desendens di sistem saraf pusat untuk mengurangi hiperalgesia, dan Infrared (IR). Selain fisioterapi, terapi latihan juga digunakan dalam penatalaksanaan LBP. Terapi latihan pada tatalaksana LBP mencakup. Hamstring stretch. Pelvic tilts. Knee to chest exercise. Phone hip extension. Alternate arm and leg . ird do. Half push-up. Knee rolls, dan Cat/camel stretch (Kemenkes, 2. Page 236 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Fisioterapi dilakukan pada layanan rehabilitasi medik. Salah satu tujuan utama fisioterapi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Ini dicapai dengan membantu pasien kembali ke aktivitas normal mereka, mengurangi ketergantungan pada obatobatan atau perawatan medis lainnya, serta memperbaiki kemampuan fisik dan mental (KMK RI, 2. Dengan peningkatan kualitas hidup, individu tidak hanya dapat merasa lebih baik secara fisik, tetapi juga memperoleh manfaat psikologis yang signifikan, seperti peningkatan rasa percaya diri, kenyamanan, dan kebebasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari (Phiri. B, et , 2. Mengingat tingginya prevalensi LBP dan dampaknya terhadap kehidupan seharihari, penting untuk mengeksplorasi lebih lanjut efektivitas penanganan fisioterapi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien khususnya pada lingkup gerak sendi. Lingkup gerak sendi pada LBP mencakup gerakan dari fleksibilitas lumbal yang mana pengukuran fleksibilitas lumbal tersebut dapat diukur menggunakan Schober Test kemampuan gerak tulang belakang dan mengidentifikasi penurunan fleksibilitas Berdasarkan dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul AuEfektivitas Fisioterapi Pada Penanganan Kasus Low Back Pain Ditinjau Dari Fleksibilitas Untuk Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Di RSUD Kota TanjungpinangAy. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui keefektif-an fisioterapi terhadap penanganan LBP. Hasil dari penelitian saya ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu tindakan preventif berupa pengendalian Low Back Pain. METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan rancangan pre-experimental dengan metode One Group Pretest-Posttest Design, di mana pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah Universitas Batam Batam Batam intervensi untuk mengetahui adanya Data dikumpulkan melalui lembar observasi Schober Test untuk mengukur fleksibilitas tulang belakang bagian lumbal serta Visual Analogue Scale (VAS) yang digunakan untuk menilai tingkat nyeri. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien fisioterapi yang mengalami Low Back Pain (LBP) di RSUD Kota Tanjungpinang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling, sehingga diperoleh sebanyak 31 orang sebagai sampel penelitian. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan uji statistik Paired T-Test untuk menguji perbedaan antara nilai pretest dan posttest. Uji ini dipilih untuk mengetahui efektivitas intervensi yang diberikan terhadap penurunan nyeri dan peningkatan fleksibilitas punggung bawah pada responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Distribusi Usia Responden Tabel 1. Distribusi Usia Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia <45 Tahun Ou 45 Tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Dari tabel 1, menunjukan data distribusi frekuensi jenis kelamin, didapatkan sebanyak 9 responden . ,0%) berjenis kelamin laki-laki dan didapatkan sebanyak 22 responden . ,0%) berjenis kelamin Pada data distribusi frekuensi usia responden . ,9%) pada kelompok usia < 45 tahun dan sebanyak 27 responden . ,1%) pada kelompok usia Ou45 tahun. Page 237 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Fleksibilitas Lumbal pada Pasien LBP di RSUD Kota Tanjungpinang Tabel 2. Distribusi Frekuensi Fleksibilitas Lumbal Pre dan Post-test Fleksibilitas Lumbal Terbatas (<5c. Normal (Ou5c. Total Pre-test frekuensi . persentase (%) Post-test frekuensi . persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian, distribusi frekuensi fleksibilitas lumbal sebelum dan sesudah fisioterapi dapat dilihat dalam tabel Pada tahap pretest, lebih dari setengah pasien . ,1%) memiliki fleksibilitas normal (Ou5 c. , sementara 41,9% lainnya mengalami keterbatasan fleksibilitas lumbal (<5 c. Setelah menjalani fisioterapi dengan TENS dan Infrared, jumlah pasien dengan fleksibilitas terbatas menurun drastis menjadi 6,5%, sedangkan pasien dengan fleksibilitas normal meningkat menjadi 93,5%. Fleksibilitas lumbal menggambarkan sejauh mana otot-otot di area tersebut mampu mendukung gerakan sendi dalam rentang Hal ini penting karena berkaitan langsung dengan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti membungkuk, mengangkat barang, dan memutar tubuh (Yacshie, 2023. Been & Bailey, 2. Sayangnya, banyak pekerja mengalami penurunan fleksibilitas lumbal akibat berbagai faktor, sehingga memerlukan terapi fisik yang dapat membantu menjaga stabilitas area tersebut (Saraswati et al. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa setelah menjalani terapi selama empat minggu dengan TENS dan Infrared, pasien mengalami peningkatan fleksibilitas lumbal yang signifikan. Selain meningkatkan aktivitas fungsional, terapi ini juga berkontribusi terhadap penurunan tingkat nyeri (Kurniani et al. , 2. TENS atau Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation bekerja dengan merangsang saraf melalui impuls listrik yang dihantarkan melalui kulit, sehingga dapat membantu mengurangi nyeri. Sementara itu, terapi Infrared menggunakan panas superfisial dengan panjang gelombang 000yI , yang memiliki efek merelaksasi otot, meningkatkan aliran darah, serta membantu menghilangkan sisa metabolisme dalam jaringan (Laswati et al. Penelitian ini selaras dengan studi oleh Yefi P. et al. , yang menunjukkan bahwa penggunaan TENS pada pasien dengan nyeri punggung bawah tipe myogenik meningkatkan range of motion (ROM) setelah terapi berulang. Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian Kusuma & Wulandari . , yang menyatakan bahwa terapi inframerah dapat meningkatkan rentang gerak pasien dengan LBP. Distribusi Frekuensi Tingkat Nyeri pada Pasien LBP di RSUD Kota Tanjungpinang Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat Nyeri Pre dan Post-test Fleksibilitas Lumbal Ringan . Pre-test persentase (%) Post-test persentase (%) Sedang . Berat . Sangat Berat . Total Universitas Batam Batam Batam Page 238 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Berdasarkan hasil penelitian yang ditampilkan dalam tabel 4. 4, distribusi tingkat nyeri sebelum dan sesudah fisioterapi menunjukkan perubahan yang Pada tahap pretest, mayoritas pasien mengalami nyeri sedang . ,4%) atau berat . ,6%), tanpa ada yang mengalami nyeri ringan atau sangat berat. Setelah menjalani fisioterapi dengan TENS dan Infrared, kondisi pasien membaik 64,5% mengalami nyeri ringan dan 35,5% mengalami nyeri sedang. Tidak ada pasien yang mengalami nyeri berat atau sangat berat setelah terapi. Secara umum, nyeri didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman yang muncul akibat rangsangan fisik maupun neurologis yang dikirim ke otak, sering kali disertai respons fisik, fisiologis, atau emosional. LBP dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk genetika, lingkungan, kondisi psikososial, serta biomekanik (Teraguchi et , 2. Aktivitas tertentu, seperti berdiri terlalu lama atau berjalan jauh, dapat memperburuk nyeri, sementara istirahat cenderung meredakannya (Hoy et al. LBP myogenik dapat terjadi akibat masalah otot langsung maupun tidak langsung, yang pada akhirnya dapat menyebabkan spasme. Jika dibiarkan, spasme otot berkepanjangan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah . , yang memperburuk nyeri. Selain itu, postur tubuh yang buruk dalam jangka waktu lama dapat memicu kontraktur otot, mengarah pada perubahan postural dan ketidakseimbangan otot, yang pada akhirnya mengganggu stabilitas area lumbal (Aulia, 2016. Pramita et al. , 2. Beberapa faktor risiko lain termasuk postur tubuh yang kurang baik, obesitas, kehamilan, serta kebiasaan mengangkat barang berat dengan cara yang tidak benar (Susanti et al. , 2. Dalam penelitian ini, intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analogue Score (VAS), yang menunjukkan bahwa sebelum terapi sebagian besar pasien mengalami nyeri tingkat sedang hingga Setelah terapi dengan TENS dan Universitas Batam Batam Batam Infrared, seluruh pasien mengalami penurunan intensitas nyeri menjadi kategori Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Dede et al. , yang menunjukkan bahwa intervensi dengan TENS dan Infrared pada pasien LBP di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah II Yogyakarta menghasilkan penurunan signifikan pada tingkat nyeri yang diukur dengan VAS. Pada tahap pretest, terdapat 13 pasien dengan derajat nyeri VAS tinggi (>. , sementara setelah terapi, seluruh pasien menunjukkan skor VAS di bawah 5, menandakan nyeri ringan hingga sedang. Analisis Bivariat Efektivitas Fisioterapi (TENS dan Infrare. Pada Penanganan Kasus Low Back Pain Ditinjau dari Fleksibilitas Lumbal di RSUD Kota Tanjungpinang Tabel 4. Efektivitas Fisioterapi (TENS dan Infrare. Terhadap Fleksibilitas Lumbal Fleksibilitas Lumbal Pre-Test Post-Test Mean 4,742 7,274 OI Mean PDifference Value -2,532 0,000 Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata fleksibilitas lumbal pasien dengan Low Back Pain (LBP) sebelum menjalani terapi . re-tes. adalah 4,742 cm, sedangkan setelah terapi . ost-tes. meningkat menjadi 7,274 cm. Uji statistik paired sample t-test menghasilkan nilai pvalue sebesar 0,000 . <0,. , yang menggunakan TENS dan Infrared efektif dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal pada pasien LBP. Selisih rata-rata fleksibilitas sebelum dan sesudah terapi adalah 2,532 cm, yang berarti terdapat peningkatan fleksibilitas sebesar 2,5 cm setelah pemberian fisioterapi ini. Penelitian ini mendukung temuan Kurniawan A. , yang menunjukkan bahwa setelah empat sesi terapi dengan Infrared (IR) Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), terdapat peningkatan Page 239 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 signifikan pada lingkup gerak sendi lumbal. Pasien mengalami peningkatan fleksibilitas pada berbagai gerakan, seperti fleksi dari 70 cm menjadi 80 cm, ekstensi dari 10 cm menjadi 15 cm, rotasi ke kanan dan kiri masing-masing meningkat dari 20 cm menjadi 30 cm, serta peningkatan side flexion kanan dari 20 cm menjadi 25 cm dan kiri dari 15 cm menjadi 20 cm. Ada beberapa faktor yang memengaruhi fleksibilitas lumbal, seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu tubuh, kondisi medis, dan komposisi tubuh. Dalam penelitian ini, mayoritas pasien LBP berusia 45 tahun ke atas dan berjenis kelamin perempuan. Sejalan dengan teori bertambahnya usia, elastisitas otot, tendon, dan jaringan ikat mengalami pemendekan, fleksibilitas lumbal (Dwyer, 2. Selain itu, perempuan lebih rentan mengalami nyeri punggung bawah, terutama saat menstruasi dan menopause. Penurunan kadar estrogen yang terjadi selama berkurangnya kepadatan tulang, yang pada akhirnya meningkatkan risiko nyeri punggung bawah. Fisioterapi menggunakan TENS dan Infrared peningkatan fleksibilitas lumbal dengan mengurangi ketegangan pada otot dan sendi, meningkatkan kemampuan pasien dalam sehari-hari. Fleksibilitas yang lebih baik juga membantu mencegah kekambuhan nyeri, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien dengan LBP. Hasil penelitian ini didukung oleh studi Penelitian Zulfikar et al. menemukan bahwa kombinasi terapi IR dan TENS secara signifikan meningkatkan kemampuan fungsional pasien LBP dibandingkan dengan kelompok kontrol. Studi Ojeniweh et al. juga menunjukkan bahwa terapi Infrared selama enam minggu dapat mengurangi intensitas nyeri pada pasien dengan LBP kronis. Sementara itu, penelitian Wahyono et al. mengonfirmasi bahwa TENS Universitas Batam Batam Batam merupakan metode non-invasif yang efektif dalam mengurangi nyeri punggung bawah Secara fisiologis. TENS bekerja dengan menghambat transmisi nyeri melalui aktivasi pain gate control serta merangsang pelepasan endorfin yang bertindak sebagai analgesik alami. Sementara itu. Infrared meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi kekakuan otot, dan mempercepat proses pemulihan jaringan. Kombinasi kedua terapi ini menghasilkan efek sinergis yang fleksibilitas dan mobilitas pasien dengan LBP. Efektivitas Fisioterapi (TENS dan Infrare. Pada Penanganan Kasus Low Back Pain Ditinjau dari Tingkat Nyeri di RSUD Kota Tanjungpinang Tabel 5. Efektivitas Fisioterapi (TENS dan Infrare. Terhadap Tingkat Nyeri Tingkat Nyeri Pre-Test Post-Test Mean 6,484 3,290 OI Mean PDifference Value 3,193 0,000 Penelitian ini juga meneliti efektivitas TENS dan Infrared dalam mengurangi nyeri pada pasien LBP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum terapi, ratarata tingkat nyeri pasien . re-tes. adalah 6,484. Setelah menjalani fisioterapi, angka ini menurun menjadi 3,290. Berdasarkan uji statistik paired sample t-test, diperoleh pvalue sebesar 0,000 . <0,. , yang menunjukkan bahwa terapi ini efektif dalam menurunkan nyeri. Selisih rata-rata tingkat nyeri sebelum dan sesudah terapi adalah 3,193, yang berarti terjadi penurunan nyeri sebesar 3,1 poin setelah pemberian TENS dan Infrared. Penelitian ini sejalan dengan temuan Kurniawan A. , yang menunjukkan bahwa terapi TENS secara signifikan menurunkan intensitas nyeri pada pasien LBP. Pada penelitian tersebut, rata-rata skor VAS sebelum terapi adalah 5, kemudian menurun menjadi 2,88 setelah terapi, dengan selisih penurunan sebesar 2,12 poin. Page 240 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Low Back Pain sendiri didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi di area antara batas kosta dan lipatan gluteal bawah, yang berlangsung lebih dari satu hari. Berdasarkan LBP . erlangsung kurang dari 12 mingg. atau kronis . ebih dari 12 mingg. (Anggara et , 2. Selain itu. LBP dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya. LBP vaskulogenik, dan psikogenik. Jenis nyeri yang dialami pasien juga dikategorikan sebagai nyeri lokal, nyeri somatis, nyeri viserosomatis, nyeri akibat iskemia, nyeri radikuler, dan nyeri psikogenik (Wijayanti, 2. Dalam penelitian ini, intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analogue Scale (VAS), yang dipilih karena sensitivitasnya dalam menilai tingkat nyeri dibandingkan metode lain. Sebagian besar pasien melaporkan nyeri sedang hingga berat sebelum terapi. Namun, setelah menerima fisioterapi dengan kombinasi TENS dan Infrared, mayoritas pasien mengalami penurunan nyeri ke tingkat Secara fisiologis, penurunan nyeri ini dapat dijelaskan oleh mekanisme kerja TENS dan Infrared. TENS mengirimkan impuls listrik ke area nyeri melalui kulit, yang mengganggu transmisi sinyal nyeri ke Selain itu, stimulasi ini juga meningkatkan produksi endorfin, yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami. Infrared, di sisi lain, menggunakan gelombang cahaya untuk memanaskan area kulit secara superfisial, yang membantu meningkatkan aliran darah ke area nyeri, mempercepat pemulihan jaringan, dan mengurangi kekakuan otot. Penelitian menunjukkan bahwa TENS memberikan efek analgesik melalui mekanisme pain gate theory dan opioid-mediated theory (Milne et al. , 2. Selain itu, penelitian oleh Gale et al. menemukan bahwa terapi Infrared selama enam minggu mampu menurunkan tingkat nyeri dari 6,9 menjadi 3,0 berdasarkan skala VAS. Universitas Batam Batam Batam Studi terbaru oleh Zulfikar et al. mengonfirmasi bahwa kombinasi terapi TENS dan Infrared secara signifikan meningkatkan kemampuan fungsional LBP kelompok kontrol. Olufemi & Isaac . juga melaporkan bahwa kombinasi terapi ini lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibandingkan penggunaan salah satu terapi secara terpisah. Kesimpulannya, fisioterapi dengan TENS dan Infrared terbukti efektif dalam sekaligus mengurangi intensitas nyeri pada pasien LBP. Kombinasi kedua terapi ini memberikan manfaat optimal bagi pasien dengan LBP, memungkinkan mereka untuk meningkatkan mobilitas dan menjalani kehidupan dengan lebih nyaman. KONTRIBUSI TEMUAN DALAM BIDANG KEILMUAN Kontribusi temuan dalam penelitian ini memberikan dampak yang signifikan dalam bidang keilmuan, khususnya di ranah fisioterapi, keperawatan, dan kedokteran rehabilitatif. Temuan bahwa terapi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Infrared secara lumbal serta mengurangi tingkat nyeri pada pasien Low Back Pain (LBP) memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk mendukung penerapan modalitas fisioterapi non-invasif dalam penanganan nyeri muskuloskeletal. Dalam penelitian ini memperkuat bukti bahwa kombinasi TENS dan Infrared dapat digunakan sebagai intervensi standar untuk meningkatkan mobilitas tulang belakang ketidaknyamanan pasien, terutama pada kasus LBP yang bersifat non-spesifik. Dari perspektif keperawatan, temuan ini dapat diterapkan dalam edukasi pasien mengenai manfaat terapi komplementer, sehingga pasien lebih termotivasi untuk menjalani program rehabilitasi secara teratur. SIMPULAN Hasil AuEfektivitas fisioterapi (TENS dan Page 241 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 Infrare. pada penanganan kasus Low Back Pain ditinjau dari fleksibilitas lumbal di RSUD Kota TanjungpinangAy menunjukkan bahwa sebelum diberikan fisioterapi berupa TENS dan Infrared . , lebih dari setengah pasien . ,1%) memiliki fleksibilitas lumbal normal (Ou5 c. , sementara 41,9% lainnya mengalami fleksibilitas terbatas (<5 c. Setelah intervensi . , jumlah pasien dengan fleksibilitas terbatas menurun drastis menjadi 6,5%, sedangkan pasien dengan fleksibilitas normal meningkat signifikan menjadi 93,5%. Dari segi tingkat nyeri, sebelum diberikan fisioterapi, mayoritas pasien mengalami nyeri dengan kategori sedang . ,4%) dan berat . ,6%), tanpa adanya pasien yang mengalami nyeri ringan atau sangat berat. Namun, setelah signifikan, di mana 64,5% pasien mengalami nyeri ringan, 35,5% mengalami nyeri sedang, dan tidak ada lagi pasien yang merasakan nyeri berat maupun sangat berat. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0,000, yang mengindikasikan bahwa pemberian fisioterapi TENS dan Infrared efektif dalam meningkatkan fleksibilitas lumbal dan mengurangi tingkat nyeri pada pasien Low Back Pain di RSUD Kota Tanjungpinang. UCAPAN TERIMAKASIH