http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian Exclusive Breastfeeding and Child Sleep Quality During and After the COVID-19 Pandemic in Samarinda: A Retrospective Study Ida Ayu Kade Sri Widiastuti1*. Rita Puspa Sari2 . Ruminem Ruminem3 Abstrak Pendahuluan: Pandemi COVID-19 mengubah banyak aspek kehidupan anak, termasuk pola tidur yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dipercaya memberikan dampak positif pada kualitas tidur anak melalui kandungan bioaktifnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap kualitas tidur anak selama dan setelah pandemi COVID-19 di Samarinda. Metode: Penelitian ini menggunakan desain retrospektif komparatif dengan sampel 372 anak usia 0-2 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan orang tua dan pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner ChildrenAos Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Analisis data menggunakan uji Chi-square dan odds ratio (OR) untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur antara anak yang menerima ASI eksklusif dan yang tidak, pada masa pandemi dan pasca Hasil: Selama pandemi, anak dengan ASI eksklusif memiliki peluang 7,22 kali lebih besar untuk memiliki kualitas tidur baik dibandingkan anak tanpa ASI eksklusif . =0,. Setelah pandemi, peluang ini menurun menjadi 1,45 dan tidak signifikan secara statistik . =0,. Hal ini menunjukkan pengaruh ASI eksklusif terhadap kualitas tidur anak lebih kuat pada masa pandemi dibandingkan pasca pandemi. Pemberian ASI eksklusif berperan penting dalam mendukung kualitas tidur anak pada masa krisis pandemi COVID-19, namun pengaruhnya berkurang seiring bertambahnya usia dan normalisasi pola hidup. Kesimpulan: Faktor lingkungan dan pola asuh menjadi penentu utama kualitas tidur anak setelah pandemi. Edukasi dan intervensi keperawatan perlu difokuskan pada pola pengasuhan dan manajemen rutinitas tidur anak pasca pandemi. Kata kunci: Exclusive Breastfeeding. Children. Sleep Quality. Pandemic Abstract Introduction: The COVID-19 pandemic has significantly affected children's lifestyles, including their sleep patterns, which are vital for growth and development. Exclusive breastfeeding (EBF) is believed to positively influence children's sleep quality through its bioactive components. Aim: This study aims to compare the effects of exclusive breastfeeding on children's sleep quality during and after the COVID-19 pandemic in Samarinda. Method: This retrospective comparative study involved 372 children aged 0-2 years. Data were collected through parent interviews and sleep quality assessment using ChildrenAos Sleep Habits Questionnaire (CSHQ). Chi-square tests and odds ratios (OR) were used to analyze differences in sleep quality between children who were exclusively breastfed and those who were not, during and after the pandemic. Result: During the pandemic, children with exclusive breastfeeding had 7. 22 times higher odds of good sleep quality compared to those without . =0. After the pandemic, this odds ratio decreased to 1. 45 and was not statistically significant . =0. This indicates that the impact of exclusive breastfeeding on sleep quality was stronger during the pandemic than after. Exclusive breastfeeding plays a crucial role in supporting children's sleep quality during the COVID-19 crisis, but its influence diminishes with age and normalization of daily routines. Conclusion: Environmental factors and parenting practices become the primary determinants of children's sleep quality postpandemic. Education and nursing interventions should focus on parenting patterns and managing children's sleep routines after the pandemic Keywords: Exclusive Breastfeeding. Children. Sleep Quality. Pandemic Submitted: 20 May 2025 Revised: 19 June 2025 Affiliasi penulis : 1 Program Studi Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, 2 Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, 3 Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Korespondensi : AuIda Ayu Kade Sri WidiastutiAy idaayukade@fk. id Telp: 628164517001 PENDAHULUAN Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak aspek kehidupan sehari-hari, termasuk kesehatan anak-anak. Salah satu Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 27 June 2025 aspek yang paling terdampak adalah kualitas tidur anak, yang merupakan komponen vital dalam pertumbuhan dan perkembangan Kualitas tidur yang buruk pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik, sistem imun, perilaku, hingga perkembangan kognitif . Selama pandemi, banyak anak mengalami gangguan tidur, seperti kesulitan untuk tidur, terbangun di malam hari, dan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 mimpi buruk. Gangguan tersebut dipicu oleh perubahan rutinitas harian, meningkatnya penggunaan gawai, berkurangnya aktivitas dan kecemasan pembatasan sosial . Selain faktor eksternal tersebut, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga diketahui memainkan peran penting dalam mendukung kualitas tidur anak. ASI tidak hanya memberikan nutrisi optimal, tetapi juga mengandung melatonin, triptofan, dan komponen bioaktif lainnya yang berperan dalam pengaturan ritme sirkadian dan . Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang menerima ASI eksklusif cenderung memiliki pola tidur yang lebih stabil dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. ASI menurunkan risiko infeksi, yang secara tidak langsung mendukung tidur yang lebih tenang dan berkualitas. Di Indonesia prevalensi pemberian ASI eksklusif masih berada pada angka sekitar 60%, meskipun terdapat disparitas antar daerah yang dipengaruhi oleh akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan ibu, serta dukungan sosial. Usia balita merupakan masa krusial di mana anak membutuhkan tidur berkualitas antara 10-13 jam per hari . Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 40% anak di seluruh dunia mengalami gangguan tidur selama pandemi COVID-19, khususnya di wilayah dengan tingkat infeksi yang tinggi . Kondisi ini dampak jangka panjang terhadap kesehatan Oleh karena itu, penting untuk membandingkan kualitas tidur berdasarkan status pemberian ASI eksklusif pada dua periode waktu yang sangat berbeda secara psikososial, yaitu saat pandemi dan lima tahun setelah pandemi, khususnya dengan mempertimbangkan faktor pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu determinan kesehatan anak yang dapat memberikan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman perlindungan tambahan terhadap gangguan Studi ini juga menambahkan dimensi pemahaman bahwa pengaruh ASI terhadap dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan usia anak. Dengan menggunakan alat ukur terstandar (CSHQ) dan analisis komparatif, penelitian ini memberikan kontribusi empiris penting dalam ranah keperawatan anak dan promosi kesehatan tidur anak usia dini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih dalam tentang pentingnya promosi ASI eksklusif dalam mendukung kualitas tidur anak, baik dalam situasi krisis kesehatan global seperti pandemi maupun pada masa pascapandemi. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi retrospektif komparatif, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kualitas tidur anak pada dua periode Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki anak usia 0-2 tahun. Sampel penelitian berjumlah 372 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria inklusi sebagai berikut . Berusia 20-45 tahun. Memberikan ASI eksklusif dan parsial. Anak sehat dan fisik normal. ibu bersedia menjadi responden penelitian dengan mengisi infomed consent. Kriteria eksklusi yaitu ibu atau anak mengalami sakit selama proses pengambilan data. Alat dan Prosedur Pengumpulan Data: menggunakan formulir data demografi dan riwayat mengenai durasi pemberian ASI eksklusif pada anak. Kualitas Tidur Anak diukur menggunakan ChildrenAos Sleep Habits Questionnaire (CSHQ), memiliki reliabilitas internal yang baik dengan nilai CronbachAos alpha berkisar antara 0. 68 hingga . , berdasarkan parameter seperti durasi tidur, frekuensi gangguan tidur, dan tingkat kesulitan tidur. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square untuk menguji perbedaan antara kualitas tidur anak yang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 diberi ASI eksklusif dan yang tidak, serta dengan menggunakan odds ratio (OR) untuk melihat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kualitas tidur anak. HASIL Teknik analisis data mengunakan analisis univariat untuk mengetahui distribusi masing masing variabel dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel. Uji normalitas data didapatkan perbandingan nilai skeweness dan standar errormya dihasilkan nilai 0,15 dengan keputusan uji 0,15 < 2, serta hasil uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai signifikansi . = 0,00 dan keputusan uji adalah p<0,00. Jadi dapat disimpulkan variable usia anak berdistribusi Distribusi Responden Berdasarkan Usia Ibu dan Usia Anak . Variabel Usia Ibu <20 Tahun Tahun >30 Tahun Usia Anak 0-1 bulan 6 bulan-1 Tahun <1 - 2 Tahun Jenis Kelamin Anak Laki-laki Perempuan Rerata 30,44 . ,8331,. 3,14 1,39 . ,00 Ae 3,. 51,1% 48,9% %CI) Tabel 1. 1 Mayoritas responden ibu berusia 20Ae30 tahun . dan responden ibu berusia < 20 tahun . ,1%). Dalam penelitian ini sebagian besar responden anak berusia 6 bulan Ae 1 tahun . ,6%). Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kualitas Tidur Anak . = . Kelompok Selama Pandemi ASI Eksklusif Kualitas Tidur Baik (%) Kualitas Tidur Tidak Baik (%) Ratio CI) Value . 7,22 0,00 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Tidak ASI Eksklusif Setelah Pandemi ASI Eksklusif Tidak ASI Ekslusif ,5711,. 1,45 ,91. 0,123 Tabel 2. 1 menunjukan bahwa saat pandemi, anak-anak dengan ASI eksklusif memiliki kemungkinan 7,22 kali lebih besar untuk memiliki kualitas tidur yang baik anak-anak mendapat ASI eksklusif. Nilai p menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan artinya terdapat hubungan kuat antara pemberian ASI eksklusif dan kualitas tidur anak selama Setelah pandemi, anak-anak dengan riwayat ASI eksklusif masih menunjukkan persentase kualitas tidur baik yang lebih tinggi. Anak-anak dengan ASI eksklusif memiliki kualitas tidur yang baik . menunjukkan peningkatan peluang yang lebih kecil dibandingkan masa pandemi. Nilai p menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat ASI eksklusif dan kualitas tidur anak setelah PEMBAHASAN Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan praktik yang sangat dianjurkan oleh badan kesehatan dunia, seperti WHO dan UNICEF, karena manfaatnya terhadap perkembangan imunologis, kognitif, serta psikologis anak. Usia 1 hingga 5 tahun merupakan periode penting dalam pekembangan anak yang dipengaruhi tidak hanya oleh faktor biologis, tetapi juga oleh lingkungan dan interaksi Kualitas tidur yang baik merupakan salah satu indikator penting karena berkaitan erat dengan fungsi kognitif, pertumbuhan fisik, serta keseimbangan emosi anak. Studi-studi awal telah mengaitkan kandungan bioaktif dalam ASI, seperti triptofan dan melatonin, dengan perbaikan ritme sirkadian dan peningkatan efisiensi tidur pada bayi . ASI juga dianggap menciptakan ikatan emosional yang aman, yang pada akhirnya Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 memperkuat rasa nyaman anak dan mendukung tidur yang berkualitas. Keterkaitan antara usia ibu dan usia anak dengan pemberian ASI eksklusif tampak dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini mayoritas responden ibu berusia 20-30 Karakteristik usia ibu memberikan menyusui eksklusif . Purnamasari menjelaskan bahwa ibu dengan usia rentang 20Ae35 tahun memiliki risiko 3,125 kali lebih ASI dibandingkan ibu usia lebih muda atau lebih dari 35 tahun. Ibu yang berusia <20 tahun umumnya berada dalam tahap awal kedewasaan psikososial yaitu ketidaksiapan emosional dalam menghadapi stres menjadi ibu baru, kestabilan dalam merawat anak dan ketidakmampuan membentuk pola rutinitas pengasuhaan anak. Selain itu kurangnya pengetahuan dan pengalaman ibu muda menyebabkan kurangnya dapat motivasi dalam memberikan ASI eksklusif . Ibu yang lebih muda . urang dari 20 tahu. cenderung lebih sedikit memberikan ASI eksklusif, mungkin karena kurangnya pemahaman tentang manfaatnya. Usia ibu berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan, kesiapan mental, dan kemampuan dalam merawat bayi . Ibu yang lebih muda sering kali belum memiliki kesiapan psikososial dan informasi yang memadai untuk menjalankan pemberian ASI eksklusif dengan konsisten. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ibu muda memiliki tingkat pemberian ASI eksklusif yang lebih rendah dibandingkan ibu yang lebih tua . Di sisi lain, ibu dengan usia 20-30 tahun lebih mungkin untuk memberikan ASI eksklusif karena mereka lebih mudah mengakses informasi terkait kesehatan dan gizi anak, serta lebih memahami manfaat ASI untuk tumbuh kembang anak mereka. Kelompok ibu dengan usia lebih dari 30 tahun . ,6%) juga cukup signifikan. Pada kelompok usia ini, banyak ibu yang sudah memiliki pengalaman dalam pola asuh anak, yang memungkinkan mereka untuk lebih memahami pentingnya pemberian ASI eksklusif. Selain itu, mereka Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman mungkin lebih terbuka terhadap pengetahuan baru yang dapat meningkatkan pola asuh mereka. Namun, ibu di atas 30 tahun mungkin juga menghadapi tantangan dalam pemberian ASI eksklusif dapat dikarenakan faktor pekerjaan atau tekanan sosial yang lebih tinggi. Sedangkan, usia ibu yang terlalu tua (>35 tahu. dilaporkan memiliki kemampuan lebih rendah dalam memulai menyusui di satu jam pertama dan keberhasilan ASI eksklusif dalam enam bulan dikarenakan faktor medis, faktor psikososial yang kompleks seperti stres dan beban kerja. Selain itu ibu berusia di atas 35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami gangguan hormonal, komplikasi obstetrik, serta keterlambatan inisiasi menyusui, yang semuanya dapat berdampak negatif terhadap produksi dan keberlanjutan pemberian ASI . Oleh karena itu dalam praktik keperawatan anak, pendekatan yang adaptif sesuai dengan latar belakang sosiodemografis keluarga, serta membentuk rutinitas yang mendukung keberhasilan ASI eksklusif dan pola pengasuhan untuk perkembangan anak Di sisi lain, ibu yang berusia kurang dari 20 tahun . ,1%) menghadapi tantangan yang lebih besar dalam memberikan ASI eksklusif, seperti keterbatasan pengetahuan tentang manfaat ASI dan kesiapan mental yang kurang untuk merawat anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa remaja ibu sering kali memiliki tingkat pengetahuan yang lebih rendah tentang pemberian ASI . , yang keputusan mereka dalam memberikan ASI Usia anak merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas tidur, terutama dalam konteks pemberian ASI eksklusif dan masa transisi ke makanan pendamping ASI (MP-ASI). Dalam penelitian ini, sebagian besar anak berada pada rentang usia 6 bulanAe1 tahun . ,6%), diikuti oleh usia 0Ae6 bulan . ,1%), dan >1Ae2 tahun . ,4%). Masing-masing kelompok usia ini memiliki karakteristik perkembangan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 neurofisiologis dan perilaku tidur yang berbeda, yang dapat berdampak pada kualitas tidur anak. Pada usia 0Ae6 bulan, bayi umumnya masih berada dalam fase perkembangan ritme sirkadian, sehingga pola tidur belum stabil dan lebih dipengaruhi oleh kebutuhan menyusu. ASI eksklusif pada usia ini kebutuhan nutrisi dan membantu regulasi tidur melalui kandungan melatonin dan triptofan yang berperan dalam pembentukan pola tidur alami bayi . Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang menerima ASI eksklusif memiliki latensi tidur yang lebih pendek dan frekuensi terbangun malam hari yang lebih rendah dibandingkan bayi yang diberi susu formula. Memasuki usia 6 bulan Ae 1 tahun, bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI. Periode ini merupakan fase transisi penting yang sering kali disertai dengan gangguan tidur. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pola makan, peningkatan aktivitas motorik, serta proses tumbuh gigi dan perkembangan kognitif yang signifikan . Transisi dari ASI eksklusif ke MP-ASI kenyamanan tidur anak karena perubahan ritme kenyang-lapar dan kemungkinan terjadinya gangguan pencernaan ringan seperti kolik atau kembung akibat jenis makanan baru . Selain itu, pada usia ini, anak mulai mengalami fase kecemasan perpisahan . eparation anxiet. yang dapat menyebabkan lebih sering terbangun di pendampingan untuk kembali tidur . Sementara itu, pada usia > 1Ae2 tahun, sebagian besar anak telah melalui masa penyapihan dan memiliki pola tidur yang cenderung lebih stabil. Anak pada usia ini kemampuan tidur mandiri serta mulai memiliki rutinitas tidur yang lebih konsisten . Meskipun ASI eksklusif telah dihentikan, dampak positif dari pemberian ASI di masa sebelumnya tetap berkontribusi terhadap regulasi tidur jangka panjang melalui pembentukan kebiasaan tidur yang sehat dan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman perkembangan sistem saraf pusat yang optimal . Namun, kualitas tidur anak pada usia ini tetap dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti stres lingkungan, screen time berlebihan, dan perubahan rutinitas . Hasil hubungan yang kuat antara pemberian ASI eksklusif dan kualitas tidur anak selama COVID-19. Hal mengindikasikan bahwa ASI eksklusif berperan sebagai faktor protektif yang sangat penting di tengah situasi krisis. Di masa pandemi, ketika stres lingkungan meningkat, kualitas tidur anak menjadi lebih rentan ASI eksklusif berperan tidak hanya sebagai nutrisi, tetapi juga sebagai mekanisme regulasi stres fisiologis dan Fenomena ini diperkuat oleh penelitian . yang menemukan bahwa bayi yang disusui memiliki tidur malam yang lebih dibandingkan yang diberikan susu formula. Studi serupa menyatakan bayi yang disusui lebih cepat kembali tidur setelah terbangun di malam hari . Situasi pandemi dapat memperkuat efek ini karena meningkatnya kebutuhan akan kenyamanan dan kestabilan emosional pada anak. ASI tidak hanya menawarkan manfaat biologis, tetapi juga membantu mengurangi gangguan tidur akibat kecemasan lingkungan yang meningkat. Namun, hasil setelah lima tahun pasca pandemi menunjukkan bahwa hubungan antara riwayat ASI eksklusif dan kualitas tidur anak mulai melemah. Dampak ASI eksklusif terhadap tidur lebih bersifat jangka pendek dan paling nyata pada fase awal kehidupan atau pada kondisi krisis, seperti pandemi. Penurunan kekuatan hubungan ASI terhadap kualitas tidur anak mengindikasikan bahwa seiring bertambahnya usia, kualitas tidur anak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan baru. Anak usia prasekolah umumnya anak sudah bersekolah taman kanan-kanan (TK) dengan rutinitas yang lebih terstruktur dan pola tidur yang relatif lebih Namun, anak-anak tetap berisiko mengalami gangguan tidur akibat perubahan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 rutinitas sekolah yang tiba-tiba atau stres akibat adaptasi di sekolah . Anak usia prasekolah sangat bergantung pada rutinitas dan kebiasaan tidur yang dibentuk oleh orang tua . Gangguan tidur pada anak-anak usia sekolah lebih dipengaruhi oleh pola hidup keluarga dan kebiasaan bermain gawai dibandingkan pola pemberian ASI saat bayi . Hal ini memperlihatkan bahwa walaupun ASI memberikan pondasi awal yang baik, konsistensi pola pengasuhan seperti ritme keluarga dan perilaku tidur yang dibentuk orang tua menjadi aspek krusial berkualitas . Dalam konteks ini. ASI eksklusif tidak lagi menjadi determinan tunggal lima tahun kemudian, melainkan menjadi salah satu dari banyak faktor yang membentuk kebiasaan tidur anak. Kondisi lima tahun pasca pandemi juga membawa dinamika baru dalam pola hidup keluarga. Pandemi mempengaruhi struktur waktu tidur dan aktivitas anak secara jangka panjang. Beberapa studi pasca pandemi mencatat perubahan perilaku tidur yang bertahan lama akibat pembelajaran daring dan peningkatan penggunaan gawai . Anak-anak pada pasca pandemi gawai yang lebih tinggi, yang mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur . Dalam situasi ini, walaupun anak dulunya mendapat ASI eksklusif, pengaruhnya bisa tereduksi oleh perubahan gaya hidup modern pasca Lingkungan rumah, stres keluarga, pola asuh, dan kualitas interaksi sosial sebagai faktor psikososial yang juga menjadi penentu utama pola tidur anak pada usia di atas 3 tahun . Oleh karena itu fokus intervensi perawataan anak perlu diperluas, tidak hanya berhenti pada promosi ASI eksklusif, tetapi juga mencakup edukasi berkaitan dengan pola pengasuhan orang tua, tentang rutinitas tidur, manajemen stress, manajemen penggunaan gawai bagi anak-anak yang sudah melewati masa menyusui, dan dukungan lingkungan rumah tangga yang stabil demi menjaga kualitas tidur anak dalam jangka panjang. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Kualitas tidur yang buruk pada anak usia sekolah telah dikaitkan dengan berbagai dampak negatif, antara lain masalah kognitif yaitu penurunan daya konsentrasi, ingatan, dan performa akademik, masalah emosional yaitu iritabilitas, gangguan suasana hati, dan gejala kecemasan, masalah perilaku yaitu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang semakin dan masalah Fisik yaitu penurunan imunitas, peningkatan risiko obesitas, dan gangguan metabolik . Meskipun mereka tidak lagi diberi ASI eksklusif, faktor lingkungan dan psikososial tetap berperan dalam kualitas tidur anak dan mencegah dampak negatif dari kualitas tidur yang buruk. peran orang tua dalam mengarahkan rutinitas tidur anak, mengatur penggunaan gawai, dan menyediakan lingkungan tidur yang kondusif sangatlah penting, terutama ketika anak beranjak besar dan mulai menghadapi tekanan sosial dan Dalam konteks ini. ASI eksklusif tidak lagi menjadi determinan tunggal lima tahun kemudian, melainkan menjadi salah satu dari banyak faktor yang membentuk kebiasaan tidur anak. Perlu diketahui lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas tidur anak di luar masa menyusui. Penelitian ini dapat menjadi landasan awal pendekatan dan instrumen yang lebih beragam di masa mendatang. SIMPULAN Pemberian ASI eksklusif terbukti berdampak positif terhadap kualitas tidur anak selama pandemi, namun pengaruhnya menurun setelah pandemi berakhir. Faktor lingkungan dan pola asuh menjadi penentu bertambahnya usia. Perlunya edukasi berkelanjutan kepada orang tua tentang pentingnya rutinitas tidur yang sehat, pengasuhan yang mendukung kualitas tidur Selain itu, intervensi keperawatan anak Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 perlu mencakup pendekatan holistik yang keluarga di periode emas anak dan usia UCAPAN TERIMA KASIH . ika ad. Kepada seluruh responden ibu dan anak yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan data dalam penelitian ini. Penghargaan juga disampaikan kepada tim enumerator dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman atas bantuan dalam proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada pihak Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman atas dukungan administratif dan fasilitas yang telah diberikan selama proses penelitian ini berlangsung DAFTAR PUSTAKA