JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. KAMPUS MENGAJAR DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK PENINGKATAN LITERASI NUMERASI DI SD NEGERI KALISALAM 1 DRINGU Malqa Dewi Royyana1. Ludfi Arya Wardana2. Didit Yulian Kasdriyanto3 Ribut Prastiwi Sriwijayanti4 1,2,3,4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Panca Marga. Probolinggo Email: malqadewiroyyana@gmail. Abstract Kampus Mengajar program is a government initiative aimed at improving the quality of basic education, particularly studentsAo literacy and numeracy skills. This study aims to describe the implementation of the eighth batch of the Kampus Mengajar program at SD Negeri Kalisalam 1 and analyze its impact on students' basic competencies through contextual learning. A descriptive qualitative approach was employed, using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. Thematic analysis was conducted through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the programAos implementation through five key activitiesAiRUJAK (Learning with Peer. Tutoring Math. Learning with Experts. The LitNum Fest, and Book FairAisuccessfully fostered enjoyable, practical, and adaptive learning experiences. These activities contributed to significant improvements in studentsAo reading, writing, and arithmetic skills, while also shaping positive learning habits. The program further established collaborative interactions among students, teachers, and university mentors, reinforcing a contextual learning environment. These results suggest that experiential learning strategies can effectively enhance studentsAo fundamental competencies, especially in schools with limited educational resources. Keywords: Kampus Mengajar, literacy, numeracy, contextual learning Abstrak Program Kampus Mengajar hadir sebagai salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, khususnya dalam keterampilan literasi dan numerasi siswa. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Kampus Mengajar angkatan 8 di SD Negeri Kalisalam 1 dan menganalisis dampaknya terhadap peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis secara tematik melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program melalui lima kegiatan utamaAiRUJAK. Tutoring Math. Belajar Bersama Si Ahli. The LitNum Fest, dan Pameran BukuAiberhasil menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aplikatif, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa. Kegiatan tersebut mendorong peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, serta membentuk kebiasaan belajar yang Program ini juga membangun interaksi kolaboratif antara mahasiswa, guru, dan komunitas sekolah yang memperkuat suasana belajar kontekstual. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman nyata dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kompetensi dasar siswa di sekolah dasar, terutama pada konteks sekolah dengan keterbatasan sumber daya. Kata kunci: Kampus Mengajar, literasi, numerasi, pembelajaran kontekstual JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan manusia sebagai salah satu unsur utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan bertujuan untuk melindungi dan membekali peserta didik dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Setiap individu berhak memperoleh pendidikan yang layak agar mampu menemukan jalan hidupnya dan berkontribusi dalam menciptakan peluang bagi orang lain (Kasdriyanto et al. , 2. Di Indonesia, sekolah dasar merupakan sektor strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan karena menjadi fondasi bagi perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak (Utami et al. , 2. Namun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, terutama terkait dengan kualitas tenaga pendidik, penggunaan media pembelajaran yang kurang interaktif, serta metode dan model pembelajaran yang monoton, sehingga kurang mampu menarik minat belajar Pembelajaran di sekolah tidak semata-mata berfokus pada peningkatan pengetahuan, melainkan juga harus menanamkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Keterampilan tersebut mencakup kerja sama, kejujuran, disiplin, kreativitas, dan kemandirian (Sriwijayanti, 2. Di samping itu, keterampilan berbahasa juga merupakan aspek penting yang terdiri atas membaca, menulis, berbicara, dan menyimak (Shabrina, 2. Sementara itu, kemampuan numerasi kerap disalahartikan sebagai semata-mata penguasaan matematika, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Numerasi lebih menekankan pada penerapan konsep dan kaidah matematika dalam konteks kehidupan nyata (Dantes & Handayani, 2. Literasi memiliki korelasi yang erat dengan pembelajaran tematik karena menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari (Setiawan, 2. Sementara itu, literasi numerasi mencakup kompetensi dalam menggunakan simbol dan angka untuk menyelesaikan masalah seharihari, berpikir kritis dalam mengevaluasi informasi, serta mengambil keputusan yang Sayangnya, budaya literasi di Indonesia masih rendah dan belum membudaya secara menyeluruh di masyarakat (Perdana & Suswandari, 2. Permasalahan ini telah mendorong pemerintah untuk menginisiasi berbagai program, salah satunya Kampus Mengajar, sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran dasar. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. SD Negeri Kalisalam 1 yang terletak di Kecamatan Dringu termasuk sekolah dengan tingkat literasi dan numerasi yang masih rendah. Pembelajaran di sekolah ini dinilai belum efektif karena metode, model, dan media yang digunakan masih konvensional dan berpusat pada guru. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya keterampilan literasi dan numerasi siswa. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah meluncurkan program Kampus Mengajar sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di sekolah dasar. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pelaksanaan program Kampus Mengajar memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar (Utami et al. , 2023. Shabrina, 2. Namun, hingga saat ini masih terbatas studi yang secara spesifik mengkaji implementasi Kampus Mengajar angkatan 8, khususnya di wilayah Dringu. Kabupaten Probolinggo. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan kajian yang lebih mendalam terhadap efektivitas program ini dalam konteks lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . Bagaimana pelaksanaan pembelajaran literasi dan numerasi dalam program Kampus Mengajar di SD Negeri Kalisalam 1? dan . Bagaimana peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran yang nyata?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran literasi dan numerasi dalam program Kampus Mengajar di SD Negeri Kalisalam 1, dan menjelaskan peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan model pelaksanaan Kampus Mengajar yang terintegrasi dengan pendekatan pembelajaran aktif dan kontekstual sebagai strategi peningkatan kompetensi dasar siswa. METODE Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Kalisalam 1. Kecamatan Dringu. Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kampus Mengajar angkatan 8 yang melibatkan mahasiswa dari Universitas Panca Marga dan Universitas Jember. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam proses pelaksanaan dan dampak program terhadap peningkatan literasi dan numerasi siswa. Penelitian kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengkaji fenomena dalam konteks alami, dengan pendekatan interpretatif dan partisipatif (Abdussamad. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis Pengambilan sumber data dilakukan secara purposive dan snowball sampling, menyesuaikan dengan pihak-pihak yang relevan dalam pelaksanaan program, seperti guru pamong, kepala sekolah, siswa, dan mahasiswa peserta Kampus Mengajar. Teknik pengumpulan data menggunakan metode triangulasi, yaitu kombinasi antara observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi awal pembelajaran serta proses pelaksanaan program. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru, siswa, dan peserta program untuk menggali persepsi, tantangan, serta dampak kegiatan yang dilaksanakan. Dokumentasi mencakup catatan kegiatan, foto, dan laporan pelaksanaan program sebagai data pendukung. Data yang terkumpul dianalisis secara induktif dengan pendekatan tematik. Proses analisis melibatkan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan secara berkelanjutan selama kegiatan berlangsung, untuk mengidentifikasi pola atau perubahan dalam keterampilan literasi dan numerasi siswa sebagai hasil dari intervensi program. Fokus dari penelitian ini adalah pada identifikasi bentuk implementasi program serta transformasi keterampilan siswa dalam hal membaca, menulis, berpikir kritis, serta kemampuan numerik kontekstual. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai efektivitas strategi Kampus Mengajar dalam konteks sekolah dasar yang memiliki tantangan dalam pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran Literasi dan Numerasi dalam Program Kampus Mengajar Pelaksanaan Program Kampus Mengajar Angkatan 8 di SD Negeri Kalisalam 1 dimulai dengan penyusunan Rencana Aksi Kolaborasi (RAK) yang melibatkan guru pamong, kepala sekolah, dan mahasiswa peserta program. Kegiatan ini didesain secara sistematis untuk menjawab tantangan rendahnya keterampilan literasi dan numerasi siswa melalui pendekatan yang lebih aplikatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan kontekstual sekolah. Kegiatan literasi dan numerasi dirancang dalam lima bentuk utama, yang setiap pelaksanaannya memperhatikan jenjang kelas dan fase perkembangan siswa. Berikut adalah uraian pelaksanaan dari masing-masing program: JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. RUJAK (Ruang Belajar Bersama Kaka. Program RUJAK (Ruang Belajar Bersama Kaka. merupakan salah satu kegiatan unggulan dalam Program Kampus Mengajar yang difokuskan pada peningkatan literasi siswa SD Negeri Kalisalam 1. Program ini dilaksanakan setiap hari setelah jam pelajaran selesai, dengan pembagian sesi per jenjang kelas agar setiap kelompok mendapat perhatian sesuai kebutuhan. Pembagian dilakukan dalam tiga fase, yaitu Fase A . elas IAe II). Fase B . elas iAeIV), dan Fase C . elas VAeVI). Pada Fase A, kegiatan berfokus pada pengenalan huruf, suku kata, dan pembentukan kata sederhana melalui media kartu huruf, gambar, dan nyanyian fonetik. Di Fase B, siswa mulai diperkenalkan pada teks pendek dengan kegiatan membaca pemahaman, membuat ringkasan, dan latihan menulis deskriptif sederhana. Sementara di Fase C, siswa membaca teks naratif atau eksplanatif lalu diminta menyusun cerita ulang dan mengevaluasi ejaan dan struktur kalimat. Sesi ini dirancang secara individual maupun kelompok kecil, disesuaikan dengan karakter siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa dalam waktu tiga minggu pelaksanaan, siswa Fase A mulai mengenal huruf dan dapat mengeja dua hingga tiga suku kata dengan baik. Siswa Fase B menunjukkan peningkatan kosakata dan mampu menuliskan kalimat sederhana yang koheren. Pada Fase C, siswa lebih percaya diri menulis cerita panjang dan menyampaikan isi cerita secara lisan dalam forum kelas. Mahasiswa mencatat peningkatan keaktifan dan minat siswa terhadap aktivitas membaca serta kepercayaan diri saat menyampaikan ide. Penting dicatat bahwa suasana belajar yang tidak formal dan bersifat kolaboratif menjadi faktor utama keberhasilan program. Siswa merasa lebih santai dan nyaman belajar dengan mahasiswa, yang berperan sebagai AukakakAy Ini menunjukkan bahwa pendekatan relasional dan empatik dapat mendorong kemajuan belajar, khususnya di lingkungan dengan dinamika sosial yang cenderung kaku antara guru dan siswa. Model pendampingan seperti RUJAK mendukung paradigma baru pembelajaran yang menekankan personalisasi dan pembelajaran sosial emosional. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembelajaran harus bersifat fleksibel, kontekstual, dan mendukung eksplorasi minat belajar siswa. Shabrina . menegaskan bahwa keterlibatan langsung mahasiswa dalam kegiatan literasi mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan mendalam. Dengan menggabungkan pendekatan berbasis fase dan media kontekstual. RUJAK berhasil menjawab tantangan rendahnya literasi yang selama ini JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. tidak teratasi hanya dengan pendekatan konvensional di kelas. Program ini juga menunjukkan efektivitas sinergi antara pendidikan tinggi dan sekolah dasar. Mahasiswa tidak hanya membantu siswa belajar, tetapi juga mengedukasi guru dalam menyusun kegiatan diferensiasi yang berkelanjutan. RUJAK menjadi bukti bahwa program penguatan literasi dapat dijalankan secara sistematis dan adaptif di sekolah yang memiliki keterbatasan sumber daya. Tutoring Math Program Tutoring Math disusun sebagai intervensi numerasi dalam Program Kampus Mengajar angkatan 8 di SD Negeri Kalisalam 1. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar berhitung dan memahami angka secara Program dilaksanakan setiap minggu, di luar jam pelajaran reguler, dan dibagi ke dalam tiga fase sesuai dengan jenjang kelas: Fase A . elas IAeII): Materi difokuskan pada pengenalan angka, operasi penjumlahan dan pengurangan, baik secara konkret . enggunakan benda nyat. maupun melalui soal cerita yang sederhana. Fase B . elas iAeIV): Siswa mulai dikenalkan dengan bilangan bulat, membandingkan bilangan, menyelesaikan soal cerita berbasis kehidupan seharihari, dan menggunakan operasi hitung dasar. Fase C . elas VAeVI): Fokus diberikan pada latihan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), menyelesaikan operasi hitung campuran, dan pengolahan data sederhana seperti membuat tabel frekuensi atau grafik batang. Salah satu keunggulan pelaksanaan program ini adalah penggunaan media berbasis teknologi seperti web game edukatif yang dapat diakses melalui gawai guru atau Media ini memberikan umpan balik instan terhadap jawaban siswa, sehingga siswa bisa langsung mengetahui dan memperbaiki kesalahan. Selain itu, visualisasi dalam web game membantu siswa memahami konsep numerik lebih cepat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dan interaktif dalam Tutoring Math berhasil meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika. Siswa Fase A yang awalnya kesulitan mengenali angka kini mulai mampu menyebutkan dan menuliskan angka hingga dua digit serta menyelesaikan penjumlahan sederhana dengan benda konkret. Pada Fase B, siswa dapat membandingkan bilangan dan menjelaskan langkah pengerjaan soal cerita secara lisan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Siswa Fase C menunjukkan peningkatan signifikan dalam mengerjakan soal-soal numerasi setara AKM. Mereka mampu menyelesaikan soal operasi campuran, serta menginterpretasi data dari tabel sederhana. Salah satu indikator keberhasilan yang teramati adalah kemampuan siswa menjelaskan alasan jawaban mereka dalam diskusi kelas kecil, menunjukkan bahwa pemahaman bukan sekadar hafalan, melainkan hasil pemrosesan kognitif yang lebih tinggi. Selain itu, penggabungan teknologi sebagai media pembelajaran mendorong keterlibatan siswa yang biasanya pasif. Mereka lebih antusias mengerjakan tugas saat disajikan dalam bentuk permainan digital, dibandingkan dalam format soal tertulis biasa. Guru juga mengakui bahwa metode ini memberikan suasana belajar yang lebih dinamis, dan beberapa dari mereka mulai mengadopsi pendekatan serupa dalam pembelajaran reguler. Hasil pelaksanaan Tutoring Math mendukung pandangan Dantes & Handayani . yang menyatakan bahwa numerasi bukan sekadar keterampilan berhitung, tetapi kemampuan berpikir logis dan menyelesaikan masalah dalam konteks nyata. Dalam konteks ini, numerasi melibatkan pemahaman konsep, penerapan prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan data dan informasi numerik. Pendekatan yang digunakan dalam Tutoring Math juga mencerminkan integrasi prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, dan pemanfaatan teknologi. Penekanan pada soal cerita yang kontekstual dan berbasis pengalaman siswa memperkuat fungsi matematika sebagai alat berpikir, bukan sekadar hafalan prosedur. Selain itu, keterlibatan aktif siswa dalam diskusi dan refleksi atas proses berpikir mereka menandakan terjadinya deep learning, bukan hanya surface learning. Lebih lanjut, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa kendala numerasi yang selama ini dihadapi siswa di sekolah dasar bisa diatasi melalui metode pembelajaran yang adaptif dan menyenangkan. Mahasiswa Kampus Mengajar telah berhasil merancang pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif, serta membangun pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna, khususnya dalam mata pelajaran yang kerap dianggap sulit seperti matematika. Belajar Bersama Si Ahli Program AuBelajar Bersama Si AhliAy merupakan bentuk pembelajaran luar kelas yang melibatkan interaksi langsung antara siswa dan para ahli di bidang tertentu. Tujuan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. dari kegiatan ini adalah untuk menghadirkan pengalaman belajar yang konkret, kontekstual, dan kolaboratif, agar siswa dapat memahami aplikasi nyata dari konsepkonsep yang dipelajari di sekolah. Kegiatan dilaksanakan secara tersegmentasi berdasarkan fase kelas: Fase A . elas IAeII): Kunjungan edukatif ke Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL), tempat siswa belajar tentang keanekaragaman hayati, perilaku hewan, dan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Fase B . elas iAeIV): Siswa berkunjung ke Pos Barat Damkar Dringu. Di sini mereka belajar tentang sistem keselamatan kebakaran, prosedur darurat, serta pentingnya kerja sama dan disiplin dalam tugas-tugas profesional. Fase C . elas VAeVI): Pelaksanaan kegiatan Market Day di sekolah dengan melibatkan wali murid. Siswa berperan sebagai penjual, menghitung harga, mengelola transaksi, serta membuat catatan keuangan sederhana. Mahasiswa Kampus Mengajar bertugas sebagai koordinator dan fasilitator kegiatan, sementara guru berperan dalam mengaitkan pengalaman di lapangan dengan materi pelajaran yang relevan. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap motivasi dan pemahaman siswa. Berdasarkan hasil observasi, siswa Fase A sangat antusias mengenali hewan dan menuliskan deskripsi singkat hasil pengamatannya. Fase B mencatat siswa yang sebelumnya pasif di kelas menjadi aktif bertanya tentang prosedur pemadaman kebakaran. Sedangkan pada Fase C, siswa tidak hanya memahami konsep jual beli dan uang kembalian, tetapi juga memperlihatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama dalam menyukseskan Market Day. Kegiatan ini juga memperkuat kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan Banyak siswa yang mencatat pengalaman mereka dalam jurnal harian atau bercerita kembali di depan kelas. Dokumentasi kegiatan menunjukkan adanya keterlibatan aktif tidak hanya dari siswa, tetapi juga orang tua dan komunitas sekitar Ini menciptakan sinergi antara pembelajaran formal dan pembelajaran berbasis pengalaman nyata. Program ini secara nyata mendukung pendekatan pembelajaran kontekstual yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka, yang menyarankan integrasi antara konten akademik dan pengalaman kehidupan nyata. Sesuai pandangan Setiawan . , literasi tidak hanya terjadi melalui teks tertulis, tetapi juga melalui interaksi sosial, pengalaman JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. lapangan, dan refleksi personal atas realitas yang dihadapi. AuBelajar Bersama Si AhliAy mencerminkan prinsip authentic learning, di mana siswa belajar dari sumber asli . hli di bidangny. , melakukan observasi langsung, dan menyusun makna dari pengalaman Ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam terhadap materi pelajaran, sekaligus membangun keterampilan abad 21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kemitraan antara sekolah dan lingkungan sekitar. Interaksi dengan lembaga non-pendidikan seperti Damkar dan perpustakaan keliling membentuk pola pembelajaran lintas sektor. Hal ini tidak hanya memperluas sumber belajar siswa, tetapi juga memperkuat peran sekolah sebagai pusat pembelajaran masyarakat. Dengan demikian, program ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak harus terbatas di ruang kelas, melainkan dapat berkembang melalui kolaborasi lintas komunitas. The LitNum Fest The LitNum Fest (Literasi dan Numerasi Festiva. merupakan kegiatan yang dirancang sebagai bentuk implementasi pembelajaran tematik dan penguatan karakter siswa melalui pendekatan kompetitif dan menyenangkan. Festival ini diadakan setiap akhir bulan selama periode program, dengan kegiatan yang mencakup berbagai bentuk lomba dan permainan edukatif berbasis literasi dan numerasi. Beberapa kegiatan unggulan yang dilaksanakan dalam LitNum Fest antara lain: Lomba membaca estafet: Siswa secara bergiliran membaca teks dengan penekanan lafal dan intonasi. Lomba puisi: Siswa menulis dan membacakan puisi bertema lingkungan atau A Permainan ular tangga matematika: Soal-soal numerasi disisipkan dalam setiap langkah permainan. Math Mystery: Permainan teka-teki angka yang memadukan logika dan cerita Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa dari kelas I hingga VI dan dirancang agar inklusif terhadap berbagai gaya belajar. Mahasiswa Kampus Mengajar menjadi fasilitator dan juri, sementara guru membantu dalam pendampingan teknis dan penguatan nilai-nilai kompetisi sehat. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Observasi lapangan menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dalam mengikuti LitNum Fest. Beberapa siswa yang selama pembelajaran di kelas cenderung pasif, dalam konteks festival ini justru tampil lebih percaya diri, terutama saat kegiatan membaca puisi atau menjawab teka-teki numerasi. Guru mencatat bahwa banyak siswa yang bersiap lebih awal dan secara sukarela berlatih dengan teman sebaya di luar jam sekolah. Kegiatan ini juga menunjukkan peningkatan dalam keterampilan literasi dan numerasi melalui format yang tidak konvensional. Misalnya, dalam lomba ular tangga matematika, siswa ditantang menjawab soal operasi hitung dalam konteks permainan, yang membuat mereka lebih tertantang dan fokus. Di sisi literasi, siswa tidak hanya membaca teks tetapi juga mengevaluasi isi puisi teman, yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis Pelaksanaan LitNum Fest mencerminkan pendekatan gamification dalam pendidikan, yaitu penggunaan elemen permainan dalam proses belajar untuk meningkatkan motivasi, partisipasi, dan hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan temuan Suryantika & Aliyyah . yang menekankan pentingnya pembelajaran luar kelas untuk meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Selain itu, festival ini juga menjadi bentuk pembelajaran berbasis proyek mini, di mana siswa diberi tanggung jawab atas proses dan hasil pembelajaran mereka. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pendekatan ini mendukung prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis kebutuhan Format lomba yang beragam juga menjangkau semua tipe kecerdasan siswa, dari verbal-linguistik, logika-matematis, hingga interpersonal. LitNum Fest bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga forum ekspresi, apresiasi, dan kolaborasi siswa lintas kelas. Interaksi yang tercipta antar siswa selama festival menciptakan iklim sosial yang mendukung pembelajaran kooperatif, sekaligus mengembangkan nilai karakter seperti sportivitas, empati, dan kerja sama. Pameran Buku (Bekerja Sama dengan Perpustakaan Kelilin. SD Negeri Kalisalam 1 merupakan salah satu sekolah dasar yang belum memiliki fasilitas perpustakaan. Kondisi ini menjadi hambatan dalam penyediaan bahan bacaan yang variatif bagi siswa, yang berdampak pada rendahnya minat baca dan terbatasnya eksplorasi literasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kampus Mengajar angkatan 8 berinisiatif menjalin kerja sama dengan layanan perpustakaan keliling milik pemerintah daerah. Pameran buku dilaksanakan beberapa kali selama masa program. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Dalam kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk menjelajahi beragam jenis buku, mulai dari cerita rakyat, buku pengetahuan, komik edukatif, hingga ensiklopedia anak. Pameran dilaksanakan di halaman sekolah dan dibuka secara terbuka untuk seluruh siswa. Kegiatan ini dikombinasikan dengan aktivitas membaca bersama, diskusi ringan, dan pemilihan Aubuku favoritAy. Dampak dari kegiatan ini terlihat dari meningkatnya antusiasme siswa terhadap aktivitas membaca. Guru dan mahasiswa mencatat bahwa setelah kegiatan pameran, banyak siswa mulai membawa buku dari rumah, meminta rekomendasi bacaan, dan menunjukkan ketertarikan terhadap genre yang sebelumnya belum mereka kenal. Beberapa siswa bahkan membuat ringkasan bacaan dan mempresentasikannya di kelas tanpa diminta. Kegiatan ini tidak hanya membuka akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga mengubah cara pandang siswa terhadap membaca Ai dari aktivitas yang dianggap tugas menjadi pengalaman yang menyenangkan. Mahasiswa juga mengamati adanya perubahan sikap siswa terhadap bacaan non-pelajaran, terutama pada siswa kelas rendah yang semula hanya mengenal buku pelajaran sebagai satu-satunya sumber informasi. Kegiatan ini secara nyata memperkuat semangat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang digagas oleh Kementerian Pendidikan. Keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang untuk membangun budaya baca di sekolah, selama ada kreativitas dan kolaborasi lintas sektor. Pendekatan ini sejalan dengan pendapat Perdana & Suswandari . , yang menekankan bahwa rendahnya budaya literasi di Indonesia bukan hanya soal metode, tetapi juga tentang akses dan keberlanjutan kebiasaan membaca. Melalui pameran buku, siswa mengalami literasi sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar tugas akademik. Selain itu, kegiatan ini menguatkan konsep literacy as social practice, di mana membaca dilihat sebagai praktik sosial yang memerlukan dukungan komunitas. Dengan melibatkan perpustakaan keliling, program ini memperluas ruang belajar dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pendidikan. Kerja sama ini juga dapat menjadi model replikasi bagi sekolah-sekolah lain yang menghadapi keterbatasan serupa. Dalam konteks Kampus Mengajar, kolaborasi seperti ini memperlihatkan bahwa mahasiswa bukan hanya agen pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga fasilitator perubahan budaya belajar yang lebih luas dan berkelanjutan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Peningkatan Keterampilan Literasi dan Numerasi Siswa Melalui Pembelajaran Nyata Seluruh kegiatan dalam Program Kampus Mengajar angkatan 8 di SD Negeri Kalisalam 1, baik yang bersifat kelas maupun luar kelas, dirancang dengan pendekatan kontekstual dan berbasis praktik langsung . xperiential learnin. Tujuannya bukan hanya memberikan tambahan materi, tetapi memfasilitasi pengalaman belajar yang konkret, menyenangkan, dan sesuai kebutuhan perkembangan anak. Dalam aspek literasi, peningkatan ditunjukkan melalui beberapa indikator berikut: Siswa Fase A mampu mengenali huruf, membaca suku kata, dan menyalin kata secara mandiri. Siswa Fase B menunjukkan peningkatan kosakata dan mampu menulis paragraf pendek berdasarkan gambar. Siswa Fase C menunjukkan kemampuan memahami teks naratif dan menulis cerita panjang dengan struktur logis. Sementara dalam aspek numerasi, ditemukan bahwa: Siswa Fase A dapat melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan benda konkret dan menjelaskan prosesnya. Siswa Fase B mampu memahami konsep perbandingan dan menyelesaikan soal cerita sederhana. Siswa Fase C dapat menginterpretasi grafik dan menyelesaikan soal hitungan bertahap seperti dalam asesmen AKM. Kegiatan seperti RUJAK. Tutoring Math, dan Market Day terbukti memberikan penguatan langsung terhadap kompetensi literasi dan numerasi. Selain itu, kegiatan seperti LitNum Fest dan pameran buku turut membentuk suasana belajar yang mendukung pertumbuhan minat dan partisipasi siswa dalam membaca, menulis, dan Peningkatan ini tidak muncul secara instan, melainkan hasil dari proses yang didukung oleh pembelajaran interaktif, pendekatan sosial-emosional, serta kehadiran peran fasilitator dari luar guru. Mahasiswa Kampus Mengajar menjadi pendamping yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan relasi belajar yang aman dan Hal ini menjadi penting, terutama di sekolah yang sebelumnya menggunakan pendekatan guru-sentris secara dominan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Kondisi siswa yang semula pasif dan enggan terlibat menjadi lebih antusias, karena kegiatan pembelajaran disusun berbasis minat dan kebutuhan. Siswa mulai menantikan sesi RUJAK atau Tutoring Math karena mereka merasa dihargai, dilibatkan, dan diberi ruang untuk bereksplorasi. Data ini diperoleh dari wawancara dengan guru dan observasi selama program berlangsung. Selain keterampilan teknis, program ini juga meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) seperti berpikir kritis, reflektif, dan menyelesaikan masalah. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa menjawab soal numerasi berbasis logika dan membuat simpulan dari Dalam literasi, kemampuan menganalisis isi cerita, mengevaluasi ide, dan menyusun pendapat tertulis mengalami peningkatan nyata. Peningkatan literasi dan numerasi melalui pembelajaran nyata mendukung pendekatan pendidikan kontekstual yang diusung dalam Kurikulum Merdeka. Seperti dikemukakan oleh Setiawan . , literasi yang dibangun melalui pengalaman seharihari lebih kuat tertanam dalam memori dan pemahaman siswa dibandingkan pendekatan tekstual semata. Demikian pula. Dantes & Handayani . menekankan pentingnya numerasi sebagai kompetensi fungsional, bukan hanya kognitif. Melalui kegiatan seperti Market Day dan soal cerita dalam game numerik, siswa tidak hanya menghitung, tetapi juga menerapkan prinsip matematika dalam pengambilan keputusan sederhana. Temuan ini juga memperkuat gagasan bahwa keterampilan dasar siswa lebih berkembang bila diberikan kebebasan belajar, dukungan sosial, dan suasana kolaboratif. Ini mendukung konsep Aumerdeka belajarAy sebagaimana dikembangkan oleh Kemendikbudristek, yang menjadikan siswa subjek aktif dan pembelajaran sebagai proses hidup yang kontekstual, interaktif, dan berkelanjutan. KESIMPULAN Pelaksanaan Program Kampus Mengajar angkatan 8 di SD Negeri Kalisalam 1 membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran yang kontekstual, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar. Melalui lima bentuk kegiatan utamaAiRUJAK. Tutoring Math. Belajar Bersama Si Ahli. The LitNum Fest, dan Pameran BukuAipembelajaran yang semula bersifat teacher-centered dapat dialihkan menjadi lebih kolaboratif dan berorientasi pada kebutuhan siswa. Setiap kegiatan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. dirancang berdasarkan fase perkembangan siswa dan dijalankan secara konsisten dengan dukungan dari guru, mahasiswa, serta lingkungan sekitar sekolah. Hasil dari program menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca, menulis, berhitung, serta dalam berpikir kritis dan reflektif. Tidak hanya dari sisi keterampilan teknis, tetapi juga dalam sikap dan motivasi belajar. Pembelajaran yang dilaksanakan di luar ruang kelasAibaik dalam bentuk kunjungan, praktik langsung, maupun festivalAimampu menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa. Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga membentuk kebiasaan belajar yang positif dan berkelanjutan. Program ini juga menunjukkan bahwa dengan dukungan metode yang tepat, media yang relevan, serta keterlibatan pihak luar seperti perpustakaan keliling dan instansi lokal, keterbatasan sarana tidak menjadi penghalang bagi terciptanya pembelajaran yang bermakna. Keberhasilan program ini menegaskan peran strategis mahasiswa Kampus Mengajar sebagai fasilitator perubahan, bukan sekadar pengganti Dengan demikian, pengalaman ini menjadi bukti bahwa intervensi pendidikan yang dilandasi kolaborasi, kreativitas, dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi persoalan literasi dan numerasi di sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA