e-ISSN:2715-6451 Vol 7. : 48 Ae 53. Des 2025 Doi: 10. 46918/eboni. Journal Eboni KOMPOSISI STRUKTUR DAN ESTIMASI CADANGAN KARBON DI PULAU BANGKO-BANGKOANG KABUPATEN PANGKEP Structure Composition and Carbon Stock Estimation on Bangko-Bangkoang Island. Pangkep Regency Herawaty1*. Anugrahandini Nasir1. Dea Ekaputri Andraini1. Ismail1 Affiliation Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Makassar Coresponding author: * herawatyhera70@gmail. Abstract Mangrove ecosystems are essential for climate change mitigation, particularly through their capacity to store carbon. Research was conducted on BangkoBangkoang Island. Pangkep District. South Sulawesi, to assess carbon stock and species composition within local mangrove communities. The objective was to analyze aboveground biomass and evaluate the potential for carbon sequestration in this ecosystem. Field data were collected using a systematic sampling technique with a random starting point, establishing 20 x 20-meter Biomass was estimated using allometric equations, and carbon stocks were quantified and converted to CO2 equivalents. Results indicated that Rhizophora mucronata contributed the highest carbon stock, with 592. 91 tons per hectare, equivalent to 2173. 99 tons per hectare CO2-eq. Rhizophora stylosa stored 118. 89 tons of carbon per hectare, equivalent to 435. 94 tons per hectare CO2-eq, while Sonneratia alba stored 14. 30 tons of carbon per hectare, equivalent to 52. 45 tons per hectare CO2-eq. These findings underscore the importance of mangrove conservation as a strategy for climate change mitigation, given their substantial carbon storage capacity and potential to reduce CO2 emissions. Submit: 2025-10-7 Accepted: 2025-02-10 COPYRIGHT A 2025 by Journal Eboni. This Work is licenced under a Creative Commons Atribution 4. 0 International License Keywords. Mangrove. Carbon Stock. Rhizophora mucronata. Biomass. Climate Change Pendahuluan Mangrove merupakan ekosistem pesisir tropis yang memiliki peran sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya sebagai penyerap dan penyimpan karbon (Suryono et al. Peningkatan kadar karbondioksida (CO. di atmosfer merupakan salah satu penyebab utama perubahan iklim global. Oleh karena itu, pengurangan emisi CO2 melalui berbagai jenis vegetasi hutan, termasuk hutan mangrove, sangat diperlukan. Keberadaan hutan mangrove di pesisir diyakini dapat membantu menurunkan konsentrasi gas CO2 di atmosfer dengan menyerap CO2 untuk fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa (Mutahharah et al. , 2. Mangrove juga memainkan peran krusial dalam mendukung keberagaman hayati pesisir, menyediakan habitat bagi berbagai spesies ikan, krustasea, dan burung, serta melindungi daerah pesisir dari abrasi dan bencana alam seperti tsunami dan banjir. Namun, luas dan kualitas mangrove mengalami penurunan akibat tekanan pembangunan, konversi lahan untuk tambak dan pertanian, serta eksploitasi tidak ramah lingkungan. Di Indonesia, laju kerusakan dan deforestasi mangrove masih tinggi sehingga menurunkan kapasitas penyimpanan karbon dan meningkatkan kerentanan masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim (Rahman et al. Kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya mengurangi kemampuan ekosistem untuk menyerap CO2, tetapi juga meningkatkan kerentanannya terhadap bencana alam (Fakhrurrozi et al. Mengingat frekuensi bencana alam seperti banjir dan gelombang tinggi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, penting untuk menjaga kelestarian mangrove. Oleh karena itu, konservasi dan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk mempertahankan fungsi ekologisnya dalam menyerap karbon dan melindungi pesisir (Kathiresan et al. , 2. Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Sepanjang pesisir dan beberapa pulau di Kabupaten Pangkep ditemui banyak ekosistem mangrove, salah satunya di Pulau Bangkobangkoang tumbuh Mangrove di pulau tersebut tumbuh subur, namun namun terancam oleh kerusakan ekosistem dan habitat spesies laut, serta abrasi pulau yang semakin parah (Arfan et al. , 2. Penurunan kualitas ekosistem mangrove di pulau ini memerlukan upaya yang lebih intensif untuk pemantauan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekosistem mangrove di Pulau Bangkobangkoang, dengan fokus pada cadangan karbon dan serapan karbon dioksida (CO2 equivalen. di atas permukaan tanah . boveground biomas. Analisis ini akan memberikan gambaran tentang peran mangrove dalam mitigasi perubahan iklim di daerah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis mangrove di Pulau Bangkobangkoang. Dengan informasi yang diperoleh dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang aplikatif bagi kebijakan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir akan pentingnya pelestarian mangrove untuk mitigasi perubahan iklim dan perlindungan terhadap kehidupan mereka. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menyediakan informasi komprehensif yang dapat mendukung pengelolaan mangrove secara lebih efisien dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi pada upaya global dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan ekosistem pesisir. Methode Tempat dan waktu penelitian Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Bangko-bangkoang. Desa Mattiro Uleng Kabupaten Pangkep. Provinsi Sulawesi Selatan (Gambar . Gambar 1 Peta lokasi penelitian Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi vegetasi pohon yang terdapat pada lokasi penelitian sebagai objek utama pengamatan. Alat yang digunakan terdiri atas GPS receiver untuk menentukan koordinat lokasi plot secara akurat, roll meter dan pita ukur untuk mengukur dimensi plot serta keliling batang pohon, kompas untuk menentukan arah orientasi plot, serta tally sheet sebagai media pencatatan data lapangan. Selain itu, alat tulis digunakan untuk mendukung proses pencatatan data selama pengambilan data di lapangan. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini terdiri atas beberapa langkah yang dilakukan secara sistematis, yaitu sebagai berikut: Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Penentuan Lokasi dan Plot Contoh Penelitian diawali dengan penentuan lokasi pengamatan. Selanjutnya dilakukan pembuatan plot contoh menggunakan metode systematic sampling with random start, yaitu dengan menentukan titik awal secara acak, kemudian plot berikutnya ditentukan secara sistematis dengan jarak tertentu. Plot berbentuk persegi dengan ukuran 20 y 20 meter. Pengukuran dan Pengumpulan Data Lapangan Pada setiap plot contoh, seluruh individu pohon yang berada di dalam plot diukur dan Parameter yang diamati meliputi: Keliling batang pohon . yang diukur pada posisi setinggi dada (DBH) dan Jenis atau spesies pohon. Pengukuran dilakukan menggunakan pita ukur, sedangkan identifikasi jenis pohon dilakukan berdasarkan ciri morfologi yang dikenali di lapangan. Seluruh data hasil pengukuran dicatat secara sistematis pada tally sheet. Pencatatan dan Pengolahan Data Data yang diperoleh dari lapangan kemudian direkapitulasi dan disusun dalam bentuk tabel. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk analisis struktur tegakan dan sebagai dasar dalam perhitungan cadangan karbon. Analisis Struktur dan Komposisi Mangrove Untuk mengetahui tingkat penguasaan suatu jenis dalam komunitas mangrove, digunakan Indeks Nilai Penting (INP). Nilai ini menggambarkan besarnya peranan ekologis suatu jenis di dalam ekosistem mangrove. Semakin tinggi nilai INP suatu jenis, maka semakin besar pula pengaruh dan dominasinya pada lokasi penelitian. Perhitungan INP dilakukan dengan rumus sebagai berikut: yaycAycE = yaycI yaycI yaycI Keterangan: INP = Indeks Nilai Penting (%) KR = Kerapatan Relatif (%) FR = Frekuensi Relatif (%) DR = Dominansi Relatif (%) Perhitungan Biomassa Atas Permukaan (Above Ground Biomass/AGB) Biomassa atas permukaan . bove ground biomass / AGB) mangrove dihitung menggunakan persamaan allometrik berdasarkan diameter batang setinggi dada atau diameter at breast height (DBH). Penggunaan persamaan allometrik dilakukan karena metode ini lebih praktis, efisien, dan umum digunakan untuk mengestimasi biomassa tanpa harus melakukan penebangan pohon. Dalam penelitian ini, persamaan allometrik yang digunakan disesuaikan dengan jenis mangrove yang ditemukan di lokasi penelitian . Tabel 1. Persamaan allometrik biomassa mangrove Jenis Persamaan allometrik Rhizophora mucronata yaA = 0,128. ayaAy. 2,60 Sonneratia alba yaA = 0,251 y 0,6. ayaAy. 2,46 Rhizophora stylosa yaA = 0,1579. ayaAy. 2,593 Sumber Kusmana et al. , 2005 Kusmana et al. , 2018 Kusmana et al. , 2020 Keterangan: B = biomassa atas permukaan . DBH = diameter batang setinggi dada . Perhitungan Cadangan Karbon Cadangan karbon dihitung berdasarkan nilai biomassa yang telah diperoleh. Mengacu pada SNI 7724:2019 tentang pengukuran dan penghitungan cadangan karbon pada ekosistem berbasis lahan, kandungan karbon vegetasi diperoleh dengan mengalikan biomassa dengan fraksi karbon organik sebesar 0,47. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ya = yaA y 0,47 Keterangan: C = kandungan karbon biomassa . B = total biomassa . 0,47 = fraksi karbon organik biomassa Konversi Cadangan Karbon ke COCC-ekuivalen Untuk mengetahui besarnya kemampuan vegetasi mangrove dalam menyerap karbon dioksida, nilai cadangan karbon selanjutnya dikonversi menjadi nilai COCC-ekuivalen. Konversi ini dilakukan dengan menggunakan rasio massa molekul relatif karbon dioksida terhadap massa atom karbon, yaitu 44/12 atau 3,67. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. yya yaycC2 -eq = 3,67 y ya yaycC2 -eq = Keterangan: A COCC-eq = karbon dioksida ekuivalen A 44 = massa molekul relatif COCC A 12 = massa atom relatif C A C = nilai cadangan karbon . A Hasil Dan Pembahasan Komposisi Mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang Berdasarkan hasil penelitian, jumlah spesies mangrove yang ditemukan di Pulau BangkoBangkoang. Kabupaten Pangkep, terdiri atas tiga spesies, yaitu Rhizophora mucronata. Rhizophora stylosa, dan Sonneratia alba. Keberadaan ketiga spesies tersebut menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di lokasi penelitian memiliki tingkat keanekaragaman jenis yang relatif rendah. Komposisi spesies mangrove di lokasi penelitian . dianalisis berdasarkan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR), serta Indeks Nilai Penting (INP) . Nilai INP digunakan untuk mengetahui tingkat dominansi dan peranan masing-masing spesies dalam komunitas Tabel 2. Komposisi Spesies Mangrove di Lokasi Penelitian Jenis KR (%) FR (%) Rhizophora mucronata 73,62 60,87 Rhizophora stylosa 23,10 26,09 Sonneratia alba 3,28 13,04 DR (%) 82,11 15,34 2,55 INP (%) 216,60 64,53 18,88 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif. FR = Frekuensi Relatif. DR = Dominansi Relatif. INP = Indeks Nilai Penting. Berdasarkan hasil identifikasi keanekaragaman jenis mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang. Kabupaten Pangkep, ditemukan tiga spesies utama, yaitu Rhizophora mucronata. Rhizophora stylosa, dan Sonneratia alba. Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa Rhizophora mucronata memiliki nilai kerapatan relatif (KR) sebesar 73,62%, frekuensi relatif (FR) 60,87%, dominansi relatif (DR) 82,11%, serta Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 216,60%, yang menunjukkan bahwa spesies ini merupakan jenis yang paling dominan di lokasi penelitian. Tingginya nilai INP tersebut mengindikasikan bahwa R. mucronata memiliki peran ekologis yang sangat besar dalam struktur komunitas mangrove, terutama dalam penguasaan ruang, jumlah individu, dan penyebaran pada area penelitian. Sebaliknya. Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba menunjukkan nilai yang lebih rendah, masing-masing dengan INP sebesar 64,53% dan 18,88%, yang mencerminkan peran yang lebih kecil dalam komunitas. Rendahnya nilai tersebut mengindikasikan bahwa kedua spesies ini memiliki keterbatasan dalam hal kerapatan, distribusi, maupun dominansi dibandingkan dengan R. Perbedaan tingkat dominansi antar spesies ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti salinitas, kondisi substrat, kedalaman genangan, serta dinamika pasang surut yang memengaruhi kesesuaian habitat bagi masingmasing spesies. Secara umum. stylosa cenderung berkembang pada zona peralihan dengan kondisi substrat yang masih dipengaruhi air laut, sedangkan S. alba lebih sering ditemukan pada area yang lebih terbuka di dekat garis pantai dengan karakteristik lingkungan tertentu. Oleh karena itu, dominansi mucronata menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di Pulau Bangko-Bangkoang lebih sesuai bagi pertumbuhan spesies tersebut. Dalam konteks pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem mangrove, hasil ini menunjukkan bahwa R. mucronata berpotensi menjadi spesies utama dalam upaya restorasi, namun keberadaan spesies lain tetap perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan dan keanekaragaman ekosistem mangrove secara berkelanjutan (Mappiasse et al. , 2. Biomassa diatas permukaan/Above ground biomass (AGB) Berdasarkan hasil perhitungan Tabel 3, diperoleh bahwa Rhizophora mucronata memiliki potensi cadangan karbon tertinggi dibandingkan spesies lainnya, dengan nilai sebesar 592,91 ton/ha dan nilai COCC-ekuivalen sebesar 2173,99 ton/ha. Tingginya nilai tersebut sejalan dengan dominansi spesies ini dalam struktur komunitas mangrove, yang ditunjukkan oleh nilai Indeks Nilai Penting (INP) yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran dan jumlah individu suatu spesies, maka semakin besar pula kontribusinya terhadap akumulasi biomassa dan cadangan Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tabel 3. Potensi Cadangan Karbon Mangrove Jenis Diameter Rata-rata . Rhizophora mucronata 8,74 Rhizophora stylosa 6,77 Sonneratia alba 7,30 Sumber: Hasil analisis, 2025 Karbon . on/h. 592,91 118,89 14,30 COCC-eq . on/h. 2173,99 435,94 52,45 Berdasarkan data pada Tabel 3. Rhizophora mucronata merupakan spesies mangrove yang memberikan kontribusi terbesar terhadap cadangan karbon di Pulau Bangko-Bangkoang. Dengan jumlah individu sebanyak 1. 077 pohon, diameter rata-rata (DBH) sebesar 8,74 cm, dan biomassa 261,5 ton/ha, spesies ini mampu menyimpan karbon sebesar 592,91 ton/ha serta setara dengan penyerapan COCC sebesar 2. 173,99 ton/ha. Tingginya nilai tersebut menunjukkan bahwa R. mucronata tidak hanya berperan sebagai pelindung pesisir, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kapasitas penyimpanan karbon yang tinggi (Hisyam et al. , 2. Sementara itu. Rhizophora stylosa memiliki jumlah individu yang lebih sedikit, yaitu 338 pohon, dengan diameter rata-rata 6,77 cm. Spesies ini menghasilkan biomassa sebesar 252,96 ton/ha dengan cadangan karbon sebesar 118,89 ton/ha dan nilai COCC-ekuivalen sebesar 435,94 ton/ha. Meskipun kontribusinya lebih rendah dibandingkan R. mucronata, keberadaan R. stylosa tetap penting dalam mendukung fungsi ekologis ekosistem mangrove secara keseluruhan, terutama dalam menjaga stabilitas struktur vegetasi. Sebaliknya. Sonneratia alba menunjukkan kontribusi terendah terhadap cadangan karbon, meskipun memiliki diameter rata-rata yang relatif cukup besar . ,30 c. Dengan jumlah individu hanya 48 pohon, biomassa yang dihasilkan sebesar 30,43 ton/ha, cadangan karbon sebesar 14,30 ton/ha, serta COCC-ekuivalen sebesar 52,45 ton/ha. Rendahnya kontribusi ini terutama dipengaruhi oleh jumlah individu yang terbatas, sehingga perannya dalam penyimpanan karbon relatif kecil dibandingkan dua spesies lainnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa Rhizophora mucronata merupakan salah satu spesies mangrove dengan potensi penyimpanan karbon tertinggi dibandingkan spesies mangrove lainnya (Karim et al. , 2019. Nedhisa & Tjahjaningrum, 2. Hal ini disebabkan oleh karakteristik morfologi dan laju pertumbuhan yang relatif lebih tinggi, serta kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan pesisir (Z. A et al. , 2. Selain itu, penelitian oleh Hilmi et al. menunjukkan bahwa kandungan karbon pada spesies Rhizophora berkisar antara 42,4853,34%, dengan R. mucronata memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan R. Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa faktor biotik, seperti jenis spesies dan ukuran diameter batang, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya cadangan karbon yang tersimpan dalam ekosistem Oleh karena itu, dalam upaya pengelolaan dan konservasi mangrove sebagai penyerap karbon . arbon sin. , perlu mempertimbangkan dominansi spesies serta struktur tegakan untuk mengoptimalkan fungsi ekosistem dalam mitigasi perubahan iklim (Ulqodry et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, komposisi spesies mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang. Kabupaten Pangkep, terdiri atas tiga spesies, yaitu Rhizophora mucronata. Rhizophora stylosa, dan Sonneratia Dari ketiga spesies tersebut. Rhizophora mucronata merupakan spesies yang paling dominan sekaligus memiliki kontribusi terbesar terhadap cadangan karbon, dengan nilai sebesar 592,91 ton/ha atau setara dengan 2. 173,99 ton/ha COCC-ekuivalen. Sementara itu. Rhizophora stylosa memiliki cadangan karbon sebesar 118,89 ton/ha . ,94 ton/ha COCC-ekuivale. , dan Sonneratia alba sebesar 14,30 ton/ha . ,45 ton/ha COCC-ekuivale. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur tegakan dan dominansi spesies berpengaruh signifikan terhadap besarnya cadangan karbon yang tersimpan, sehingga ekosistem mangrove di Pulau Bangko-Bangkoang memiliki peran penting dalam penyimpanan karbon dan mitigasi perubahan iklim. Daftar Pustaka