Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 ESTU UTOMO HEALTH SCIENCE JURNAL ILMIAH KESEHATAN http : //w. FAKTOR PENYEBAB STUNTING DI DESA KACANGAN KECAMATAN ANDONG BOYOLALI Allania Hanung Putri Sekar Ningrum. Novita Nurhidayati. Triani Yuliastanti. Samiwati. Siti Suryani. Sularmi. Sarwo Endah. , . , . Dosen Prodi Sarjana Kebidanan STIKES Estu Utomo . , . , . , . Mahasiswa Prodi Sarjana Kebidanan STIKES Estu Utomo Email : allaniahanung@stikeseub. novita1259@gmail. trianieub@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Tingginya angka stunting menjadi permasalahan nomer 3 dalam Renstra 20182023. Anak yang mengalami stunting pada masa awal kehidupan sampai lima tahun dikhawatirkan tidak akan mencapai potensi fisik dan mental/ kecerdasan yang maksimal pada masa dewasa. Studi pendahuluan yang dilakukan di Kecamatan Andong Boyolali pada tanggal 2 Januari 2022 di temukan bahwa desa yang memiliki jumlah balita Stunting terbanyak yaitu Desa Kacangan yaitu dari 288 balita dan terdapat 38 balita . %) yang mengalami stunting. Metode penelitian: Menggunakan metode analitik dengan pendekatan retrospektif case control. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Proportional sampling yang dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 23 kelompok balita dengan stunting dan kelompok kontrol yaitu 23 balita yang tidak stunting di Desa Kacangan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali. Dari hasil perhitungan statistik uji Chi Square dari faktor kekurangan gizi kronis (KEK) dan anemia pada kehamilan, kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) dan riwayat pemberian ASI Eksklusif ditemukan adanya hubungan dengan kejadian stunting. Dari hasil penelitian, diharapkan dapat dilakukan edukasi untuk pencegahan terjadinya stuntign sejak kehamilan. Kata Kunci: Boyolali. Penyebab. Stunting FACTORS CAUSING STUNTING IN KACANGAN VILLAGE. ANDONG BOYOLALI DISTRICT ABSTRACT This research focuses on stunting, which is identified as the third most significant issue in the 20182023 Strategic Plan. Stunting occurs when children experience malnutrition during the early stages of life up to the age of five, which can result in them not reaching their full physical and mental potential later in life. In a preliminary study conducted on January 2, 2022, in Andong Boyolali District, it was discovered that Kacangan Village had the highest number of stunted toddlers out of 288 toddlers, with 38 of them . %) being stunted. Additionally, only five out of 28 pregnant women exclusively breastfed their babies, which is a concerning statistic. The study utilized an analytic approach with a case-control retrospective design. Proportional sampling was employed, dividing the population into two groups: a group of 23 stunted toddlers and a control group of 23 non-stunted toddlers in Kacangan Village. Andong District. Boyolali Regency. Data analysis revealed that chronic malnutrition (KEK) and anemia during pregnancy, low birth weight (LBW), and a lack of exclusive breastfeeding were all related to stunting. The study recommends that education should be provided to prevent stunting during pregnancy. Health workers can use this research as a valuable resource in addressing stunting in children. Keyword: Boyolali, determinant, stunting ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan PENDAHULUAN Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak. Kondisi ini terjadi, karena anak tidak mendapatkan asupan bergizi dalam jumlah yang tepat, dalam waktu yang lama atau kronik. Secara nasional, stunting berkontribusi terhadap 15-17 persen dari total kematian anak. Anak yang mengalami stunting pada masa awal kehidupan sampai lima tahun dikhawatirkan tidak akan mencapai potensi fisik dan mental/ kecerdasan yang maksimal pada masa dewasa. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi pada 000 hari pertama kehidupan yang akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan linear dan sekaligus gangguan perkembangan sel-sel otak (Renstra 2018-2. Di Indonesia pada tahun 2019 sekitar 37% . ampir 9 Jut. anak balita mengalami Riset Kesehatan Dasar yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa persentase balita sangat pendek pada balita usia 0-59 bulan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2019 adalah 31,15%, sedangkan persentase balita pendek adalah 20,06%. (Kemenkes RI, 2. Hal ini masih jauh dari target yang ditetapkan oleh WHO bahwa batas toleransi stunting . ertubuh pende. maksimal 20% atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Pada tahun 2020 dilaporkan balita pendek (TB/U) di Kabupaten Boyolali sejumlah 4. 433 balita . ,4 % dari 58. 623 balit. (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2. Sedangkan wilayah Kecamatan Andong nomer 2 tertinggi di Boyolali yang mempunyai balita stunting yaitu 16%. Dari beberapa jurnal, ditemukan penyebab stunting dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu penyebab langsung dan tak langsung. Penyebab langsung berupa kurangnya asupan makanan balita. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah Riwayat ibu saat kehamilan, rendahnya akses air bersih, kejadian penyakit infeksi. Pendidikan orang tua dan tidak diberikannya ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan (Ruswati et al. , 2. (Sr & Sampe, 2. e Onis & Branca, 2. (Beal et al. Dampak stunting bayi anak dibedakan jadi dampak jangka pendek dan jangka Panjang. Dampak jangka pendeknya dapat menyebabkan kematian anak, gangguan perkembangan kognisi, gerak dan Bahasa pada anak serta biaya perawatan Kesehatan Sedangkan jangka panjangnya adalah postur tubuh Ketika menginjak usia dewasa lebih pendek dibandingkan dengan sebayanya, resiko terjadinya kegemukan dan penyakit lainnya meningkat. Kesehatan yang berkaitan dengan system reproduksi Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 menurun, dan kemampuan dalam melakukan kegiatan belajar dan bekerja kurang optimal karena adanya keterbatasan kapasitas produktif dan performa. (Anwar et al. METODE Jenis penelitian yang digunakan yakni observasional analitik dengan pendekatan case control. Pendekatan case control yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif. (Notoatmodjo, 2. Populasi pada penelitian ini adalah Balita di Desa Kacangan pada Bulan April 2022. Sampel penelitian ini sebanyak 23 sampel kasus dan 23 sampel Intrumen penelitian dalam penelitian ini adalah buku catatan ukuran Z score balita (SIMPUSGIZKIA) dan buku KIA untuk mengetahui riwayat KEK dan anemia pada kehamilan, riwayat berat badan lahir serta riwayat ASI Eksklusif. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah chi square. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini adalah karateristik dari ibu balita yang menjadi responden pada penelitian ini. Tabel 1. Karakteristik Responden Identitas Umur Paritas Pekerjaan Kategori <20 20-35 tahun >35 tahun Total Total IRT Pabrik Pelajar Guru/PNS Total Frekuensi . Presentase (%) 8,7% 78,3% 41,3% 58,7% 65,2% 28,3 % 2,2 % 4,3 % Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel 1 di atas diketahui bahwa umur ibu dalam penelitian ini sebagian besar pada usia 20-35 tahun yaitu 36 responden . ,3%). Paritas responden sebagian besar adalah paritas 2-4 yaitu 27 responden . ,7%). Pekerjaan sebagian besar merupakan IRT yaitu 30 responden . ,2%). Pada penelitian ini ditemukan 4 ibu . ,7%) memiliki umur dibawah standar untuk hamil dan 6 ibu hamil diumur lebih dari 35 tahun. Apabila semakin muda dan semakin tua umur ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan seseorang ibu saat hamil maka akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur ibu yang masih muda (<20 tahu. perlu tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan untuk dirinya sendiri, gizi tersebut juga harus berbagi dengan janin yang sedang dikandung. Tabel 2. Distribusi faktor-faktor penyebab Stunting Kategori KEK Tidak KEK TOTAL Anemia Tidak Anemia TOTAL Frekuensi BBLR Tidak BBLR TOTAL ASI ekslusif Tidak ASI ekslusif TOTAL Dari hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas responden adalah tidak KEK, tidak anemia, tidak BBLR dan ASI Eksklusif. Pada penelitian ini ditemukan 2 ibu yang KEK saat hamil masih berstatus sebagai pelajar. Pada kasus pada penelitian ini ibu hamil saat masih sekolah kemudian dinikahkan oleh keluarganya. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu mengenai bahaya kehamilan di usia muda. Pada Perempuan yang hamil < 20 tahun dimana pada usia tersebut diketahui bahwa organ dalam tubuhnya masih dalam proses pematangan dan perkembangan salah satunya sistem Untuk memenuhi perkembangan reproduksi tubuhnya masih butuh banyak suplai berbagai zat gizi, sehingga jika terjadi kehamilan di usia ini tentunya kebutuhan zat gizi akan meningkat dibanding wanita yang hamil di usia reproduksi. Zat gizi yang diperlukan tubuh jika tidak terpenuhi tentunya akan mengakibatkan anemia. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Sari dkk . dengan judul Hubungan Usia dengan Kejadian Anemia pada Ibu hamil di Kota Metro bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian anemia pada ibu hamil dimana ibu hamil diusia dibawah 20 tahun dan diatas usia 35 tahun berisiko 3,921 kali lebih besar kemungkinan anemia dalam kehamilannya diperbandingkan dengan ibu hamil pada usia antara 20 sampai dengan 35 tahun. (Sari et al. , 2. Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 Tabel 3. Hubungan Faktor-Faktor dengan kejadian Stunting di Desa Kacangan Kejadian Stunting Stunting KEK Riwayat KEK Tidak KEK TOTAL Riwayat Anemia Anemia Tidak anemia TOTAL Hamil BBLR Riwayat BBLR Tidak BBLR TOTAL Riwayat ASI ekslusif ASI Tidak ASI Ekslusif Total Total Tidak Stunting P Value Dengan Uji ChiSquare 0,018 0,015 0,039 0,039 Data Primer. Hasil analisa bivariate pada 2 variabel dengan uji Chi Square didapatkan hasil adanya hubungan antara Riwayat KEK dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali dengan nilai p value 0,018 yang mana 0,018 < 0,005 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga ada hubungan antara Riwayat KEK saat hamil dengan kejadian stunting di Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kejadian KEK pada ibu saat hamil dapat mengakibatkan stunting pada balita. Stunting pada balita dipengaruhi oleh riwayat gizi ibu seperti kekurangan energi kronis (KEK). Status gizi ibu pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang ada dikandungan. Apabila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal, dan pertumbuhan serta perkembangan bayi yang baik. pada bayi dapat diukur dengan TB/U. Apabila TB/U seorang anak usia di bawah lima tahun . memiliki panjang/tinggi badan lebih rendah jika dibandingkan dengan anak seusianya maka dapat disebut dengan stunting (WHO, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian serupa dari Ruaida . dengan Hubungan Status KEK Ibu Hamil BBLR ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Tawiri Kota Ambon dengan hasil analisis dengan uji Chi Square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara KEK pada ibu sewaktu hamil dengan kejadian BBLR yang dapat dilihat dari nilai p=0,00 dan OR=5,93 . % CI. 2,57 Ae 13,. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa ibu dengan KEK sewaktu hamil berpeluang 5,93 kali lebih besar mengakibatkan anak dengan kejadian Stunting dibandingkan dengan ibu yang tidak KEK(Ruaida & Soumokil. Hasil analisa bivariate pada 2 variabel dengan uji Chi Square didapatkan hasil adanya hubungan antara Riwayat Anemia Saat Hamil dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali dengan nilai p value 0,015 yang mana 0,015< 0,005 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga ada hubungan antara Riwayat Anemia Saat Hamil dengan kejadian stunting di Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali. Ibu hamil yang mengalami anemia mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke sel tubuh maupun otak terutama suplai ke plasenta. Hal ini akan menyebabkan kekurangan gizi pada janin yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya stunting. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian serupa dari Laila . AuHubungan Anemia Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting pada Balita di UPTD Puskesmas KamparAy yang mengatakan bahwa anemia ibu hamil memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada balita berdasarkan hasil uji statistik Chi Square diperoleh P Value 0,017 (P < 0,. , artinya terdapat hubungan anemia ibu hamil dengan kejadian stunting pada balita di UPTD Puskesmas Kampar. Kemudian hasil analisis diperoleh nilai signifikasi dari nilai OR bahwa ibu hamil yang mengalami anemia berisiko 3 kali lipat mengalami kejadian stunting pada balita dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami anemia. (Laila et al. , 2. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Kartini . dengan judul Hubungan Anemia dalam kehamilan dengan Panjang Badan Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Benyamin Guluh Kabupaten Kolaka bahwa ada hubungan yang signifikan riwayat anemia kehamilan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ketandan Dagangan Madiun. Ibu hamil yang menderita anemia memiliki risiko 4 kali terjadinya anak mengalami stunting dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia(Kartini, 2. Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 Hasil analisa bivariate pada 2 variabel dengan uji Chi Square didapatkan hasil adanya hubungan antara Riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali dengan nilai p value 0,039 yang mana 0,039 < 0,005 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga ada hubungan antara riwayat BBLR dengan kejadian stunting di Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Riwayat BBLR pada bayi akan meningkatkan kejadian stunting saat balita nanti. Kemudian dari Penghitungan Odd rasio di dapatkan Hasil angka 6. 600 yang artinya bayi yang mengalami BBLR saat lahir beresiko mengalami Stunting 6,6 kali dibandingkan bayi yang tidak BBLR. Berat badan bayi lahir yang kurang akan menyebabkan kurangnya energi gizi pada bayi tersebut. Apabila berlangsung lama maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila keadaan ini berlangsung lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya terjadi penurunan fungsi jaringan, rendahnya tingkat hemoglobin, serum vitamin A dan karoten, peningkatan asam laktat dan peningkatan asam piruvat, yang mana akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan pada balita. Apabila pertumbuhan balita terhambat maka salah satu indikatornya yaitu tinggi badan balita tidak sesuai dengan umur yang mana disebut dengan stunting. Pada penelitian ini ditemukan 2 balita yang mengalami BBLR saat lahir namun setelah diukur balita tersebut tidak mengalami stunting. Hal ini disebabkan karena ibu tidak bekerja dan bisa berfokus kepada bayinya untuk memberikan segala sesuatu yang diperlukan oleh balita untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita seperti ASI ekslusif, pola makan yang bergizi dan teratur serta ibu mampu mengawasi pemberian makanan bayinya. Sehingga apabila bayi mengalami BBLR ibu harus secara maksimal memberikan gizi kepada bayi agar tidak terjadi stunting di kemudian hari. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Nainggolan . yang berjudul Hubungan Berat Badan Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 1-3 Tahun Hasil hubungan Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian Stunting pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Bandung Barat, berdasarkan uji statistik Chi square diperoleh nilai Pvalue 0,005 artinya Pvalue > 0,05, sehingga disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara hubungan ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian Stunting pada anak. (Nainggolan & Sitompul, 2. Hasil analisa bivariat pada 2 variabel dengan uji Chi Square didapatkan hasil adanya hubungan antara Riwayat Pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Desa Kacangan Kec. Andong Kab. Boyolali dengan nilai p value 0,039, yang mana 0,039 < 0,005 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga ada hubungan antara riwayat pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting di Desa Kacangan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pada bayi dapat mencegah atau mengatasi kejadian stunting pada balita. Menurut Unicef . faktor penyebab stunting pada balita salah satunya yaitu asupan makanan yang tidak seimbang. Asupan makanan yang tidak seimbang termasuk dalam pemberian ASI eksklusif yang tidak diberikan selama 6 bulan. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Pramulya . yaitu hasil penelitian menggunakan uji chi-square. Didapatkan hasil uji chi-square p = 0. 000 < 0. hal ini menunjukkan ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. (Pramulya et al. , 2. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian SJRJ . yang menyatakan bahwa stunting lebih banyak ditemukan pada anak yang tidak diberi ASI eksklusif dibandingkan anak yang diberi ASI eksklusif. Hasil penelitian menemukan 8 responden sudah melakukan ASI ekslusif tapi balita masih mengalami stunting. Hal ini dapat disebabkan karena ada faktor lain yang menyebabkan bayi stunting seperti pola asuh pada bayi yang mana responden mengatakan bahwa bayi di asuh oleh nenek sehingga ibu tidak mengontrol pemberian makanan pada bayinya. (Sr & Sampe, 2. Dari keempat factor penyebab stunting yang diuji pada penelitian ini, semua didapatkan hubungan yang bermakna. PENUTUP Simpulan Stunting merupakan efek jangka Panjang dari kekurangan gizi kronis pada anak. Stunting dapat dicegah dengan pemberian gizi yanga dekuat pada 1000 hari pertama Dampak jangka panjang stunting adalah menurunnya kemampuan finansaial Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 pada anak dan rendahnya derajat Kesehatan anak. Dari keempat faktor yang diteliti diatas. Kejadian KEK dan Anemia pada kehamilan, kejadian BBLR saat hamil, dan riwayat pemberian ASI Eksklusif pada bayi didapatkan hasil yang signifikan berhubungan dengan kejadian stunting. KIE untuk mencegah kejadian stunting diharapkan dapat dilakukan sejak kehamilan DAFTAR PUSTAKA