PENGEMBANGAN PRODUK SAGU MELALUI PENDEKATAN KLASTER INOVASI SAGU PRODUCT DEVELOPMENT THROUGH APPROACHES INNOVATION CLUSTER Gevisioner. Ismon Zakia. Elnovarian Purnama. Heryudarini Harahap Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau Email : irgevisioner@gmail. ABSTRACT The low quality of sago flour is still low, until now it is still a major problem in the sago flour processing industry in Riau Province. This has an impact on the low value-added and competitiveness of sago products. To obtain a solution to this problem, collaboration/partnership between academics, business . , government, and community . sago (ABG C) partnerships are One effort to develop sago products is to formulate the development of sago products through an innovation cluster approach. The method used in this study is a field survey and Focus Group Discussion. The survey was conducted in 2 . districts of Indragiri Hilir and Meranti Islands. The results of the study indicate that the development of innovation-based industries must be implemented in a sustainable manner, through the main activities: . Development of Dry Sago Flour Refineries, . Training and Technology and Managerial Assistance, . Growth of Downstream Sago Flour Downstream Industry. Keywords : Sago Industry. Innovation Cluster. Competitiveness. Collaboration ABSTRAK Kualitas tepung sagu yang masih rendah, hingga saat ini masih menjadi permasalahan utama industri pengolahan tepung sagu di Provinsi Rau. Hal ini berdampak pada rendahnya nilai tambah dan daya saing produk sagu. Untuk kolaborasi/kemitraan antara akademisi, pelaku usaha . , pemerintah, dan masyarakat . sagu (ABG C). Salah satu upaya untuk pengembangan produk sagu yakni merumuskan pengembangan produk sagu melalui pendekatan klaster inovasi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyusun rencana implementasi model pengembangan klaster inovasi sagu. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah survei lapang dan Focus Group Discusion(FGD). Survei lapang dilakukan kepada petani sagu dan kilang sagu sebanyak 32 sampel , sedangkan FGD dilakukan terhadap kepada stakeholders ( instansi pemerintah, pengusaha sagu, petani/pemilik kilang sag. Survei dan FGD dilaksanakan di 2 . IPTEKIN VOL. 5 NO 2 DESEMBER 2019 | 76 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI MELALUI kabupaten kabupaten Indragiri Hilir dan Kepulauan Meranti. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis klaster inovasi harus diimplementasikan secara berkelanjutan, melalui kegiatan utama : . Pembangunan dan Pengembangan Kilang Tepung Sagu Kering, . Pelatihan dan Pendampingan Teknologi dan Manajerial, . Penumbuhan Industri Hilir Turunan Tepung Sagu. Kata kunci : Industri Sagu. Klaster Inovasi. Daya Saing. Kolaborasi PENDAHULUAN Sagu telah menjadi sumber karbohidrat penting bagi sebagian penduduk Indonesia termasuk di Provinsi Riau. Prospek pengelolaan sagu sebagai ketahanan pangan dan energi sangat menjanjikan untuk masa akan datang. Komoditi ini telah lama dikenal dan sangat masyarakat baik sebagai komoditi maupun sosial budaya. Secara nasional sagu termasuk tanaman unggulan namun budidayanya belum ditangani secara maksimal dan Sejalan dengan program ketahanan pangan pemerintah maka peningkatan potensi pengembangan tanaman sagu yang merupakan salah satu tanaman substitusi beras bergizi tinggi dan menjadi bahan makanan pokok di daerah-daerah tertentu, selain itu juga secara strategis potensi sagu dapat menjadi bahan cadangan pangan, energi serta bahan baku industri, baik skala usaha kecil menengah (UKM) maupun skala industri (Balitbang Riau, 2. Luas tanaman sagu di Provinsi Riau pada tahun 2017 mencapai 428 Ha, dibanding luas areal tahun 2016 mengalami penurunan, dimana luas tanaman sagu di provinsi Riau pada tahun 2016 762 ha, produksi mencapai 361. 146 ton. Tanaman sagu di Provinsi Riau tersebar pada 5 . kabupaten, yakni Kepulauan Meranti. Indragiri Hilir. Siak. Pelalawan Bengkalis. Namun luas tanam sagu terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti . 514 H. dan Indragiri Hilir seluas . 964 H. atau 80,76 % dari total areal sagu yang ada di Riau. Luas kebun sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti 74 % kebun rakyat dan 26 % kebun PT. Nasional Sagu Prima/NSP . 000 H. , sedangkan di Kabupaten Indragiri Hilir keseluruhannya adalah kebun Jumlah industri pengolahan sagu di Provinsi Riau terdapat 141 unit kilang sagu, yang terdiri dari 140 kilang sagu masyarakat dan 1 unit pabrik besar swasta PT. NSP (Balitbang Riau, 2. Masih terdapat kesenjangan produktivitas sagu antar daerah penghasil sagu di Provinsi Riau. Seperti produktivitas tepung sagu di Kepulauan Meranti relatif lebih besar berkembangnya kilang sagu yang IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 77 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI mengolah tepung sagu basah menjadi tepung sagu kering. Sedangkan di kabupaten Indragiri Hilir produknya baru mencapai tepung basah. Tepung basah selain dikirim ke Kabupaten Kepulauan Meranti juga dikirim dalam bentuk tepung basah ke Cirebon. Sehingga petani sagu di Indragiri Hilir masih menerima nilai tambah yang rendah dari usaha pengelolaan sagunya ((Balitbang Riau, 2. Agroindustri umumnya diusahakan rakyat dalam skala kecil, peralatan dan teknologi sederhana serta modal terbatas sehingga mutu, efisiensi dan Pengembangan agroindustri memiliki nilai strategis, karena ekonomi kerakyatan. Klaster inovasi merupakan salah satu bentuk fisik kemitraan antar aktor inovasi, serta pengetahuan, inovasi, difusi, dan Pengembangan klaster inovasi dapat bersifat luas . road bas. dan terfokus pada jenis-jenis produk unggulan daerah yang berpeluang memiliki daya saing internasional yang tinggi di pasar domestik dan 78 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 MELALUI global (Direktorat Sistem Inovasi. Permasalahan pengembangan industri pengolahan tepung sagu adalah kualitas tepung sagu yang masih rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya nilai tambah dan daya saing produk sagu, yang pada akhirnya pendapatan yang diperoleh oleh petani atau UMKM relatif rendah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh para pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas tepung sagu yang dihasilkan baik pengusaha kilang skala kecil maupun skala menengah dan besar (Kementerian Perindustrian, 2. Namun demikian, sampai dengan saat ini kualitas tepung sagu yang dihasilkan Untuk memperoleh solusi terhadap permasalahan ini kolaborasi/kemitraan akademisi, pelaku usaha . , . (ABG C). Sehingga rumusan masalah ini dari tulisan ini adalah bagaimana pengembangan industri sagu melalui pendekatan klaster inovasi di Provinsi Riau. Tujuan dari kajian ini pengembangan industri sagu berbasis klaster inovasi di provinsi Riau, dengan melakukan pemetaan peranan ABG C pengembangan produk sagu. METODE Kajian Kabupaten Kepulauan Meranti dan PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI Kabupaten Indragiri Hilir, pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan . urposive samplin. , yakni daerah penghasil sagu terbesar di provinsi Riau. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survei dan wawancara dengan responden . etani dan pemilik industri sag. sebanyak 32 orang serta Focus Grup Discussion dengan stake holders terkait seperti Dinas Pertanian/Perkebunan. Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Dinas Koperasi dan UKM. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Kadin. Produsen Sagu/Pemilik Kilang Sagu,dan lain-lain. FGD dilakukan di tingkat Provinsi dan Kabupaten Data dikumpulkan dari laporan hasil-hasil penelitian terkait pengembangan Salah satu literatur yang direview adalah Masterplan Model Pengembangan Klaster Inovasi Produk Unggulan Daerah Sagu Provinsi Riau (Balitbang Riau. Penelitian yang dilakukan dari bulan Juni hingga November Data dianalisis secara HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil survei dan FGD yang mengetahui kondisi dan potensi pengembangan produk turunan sagu, dan rumusan rantai nilai dan rantai pasok produk sagu selama ini, pengembangan klaster inovasi yang MELALUI dibutuhkan dan strategi implemantasi klaster inovasi. Rantai Nilai dan Rantai Pasok Rantai Pasok . upply chai. adalah jaringan produsen, agen, distributor dan pengecer yang memproduksi dan menyediakan barang jadi atau jasa kepada Rangkaian aliran bahan baku, informasi dan proses yang digunakan untuk mengirim produk atau jasa dari lokasi sumber . elanggan tergambarkan dalam Rantai Pasok . upply chai. Supply Chain (SC) adalah suatu jaringan dari organisasiorganisasi independen dan saling terhubung yang bekerjasama secara menguntungkan dalam mengontrol, mengatur dan memperbaiki aliran material dan informasi dari pemasok sampai pemakai. Mekanisme rantai pasok yang baik akan memberikan manfaat terhadap nilai produk yang akan dihasilkan. Beberapa tujuan mengimplementasikan rantai pasok yang terintegrasi yaitu mengurangi persediaan dan biaya, meningkatkan nilai produk, meningkatkan sumber daya, akselerasi time to market, dan mempertahankan konsumen (SimchiLevi et. Al, 2. Berdasarkan pasokan bahan di Kabupaten Kepulauan Meranti rata-rata petani sebagai sebagai pemasok bahan baku sagu (BBS) menjual hasil panennya kepada tengkulak, baik berupa IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 79 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI batang maupun yang sudah diolah menjadi pati sagu. Di Indonesia proses dengan sistem tengkulak ini akan menurunkan pendapatan petani dengan harga beli yang rendah dan harga jual yang tinggi memberatkan Mekanisme rantai pasok PUD sagu yang ada saat ini di Kabupaten Kepulauan Meranti (Gambar . Pada umumnya mekanisme rantai pasok agroindustri pangan lokal sagu berlangsung mulai dari petani sebagai pemasok bahan baku sagu (BBS). Petani mempersiapkan pohon sagu siap panen yaitu sudah MELALUI produktif atau masak tebang. Kemudian dilakukan proses ekstraksi untuk mendapatkan pati sagu sebagai bahan baku agroindustri. Pati sagu agroindustri untuk melakukan proses pengolahan bahan setengah jadi dan produk olahan jadi. Selanjutnya disalurkan ke pedagang lapak dan pengecer sebagai distributor produk olahan sagu dan dinikmati konsumen sebagai pengguna akhir. Mekanisme dan pola aliran rantai pasok agroindustri pangan lokal sagu ditampilkan pada Gambar 1. Sumber : Timisela, dkk . Gambar 1. Mekanisme Dan Pola Aliran Rantai Pasok Agroindustri Sagu Pada suatu rantai pasok terdapat tiga macam aliran yang harus dikelola. Pertama, aliran barang yang mengalir dari hulu . ke hilir . Kedua, aliran uang . yang mengalir dari hilir ke hulu. Ketiga, aliran informasi yang terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya 80 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 (Pujawan, 2005 dalam Timisela, dkk. Aktivitas aliran bahan baku lancar karena petani sanggup mencukupi permintaan bahan Namun hiegenitas, keamanan, kualitas dan performance masih sangat PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI tradisional untuk berproduksi. Aliran produk sagu dari pengrajin ke pedagang kemudian Proses diantara pengrajin dan pedagang cukup baik sehingga proses permintaan dan penawaran Pengrajin keamanan produk. Aliran finansial mulai dari konsumen, pedagang, pengrajin dan petani. Konsumen sebagai uangnya untuk produk-produk yang siap dikonsumsi. Semakin banyak konsumen yang setia dan berarti produksi dan keuntungan agroindustri meningkat. Sistem transaksi antara konsumen dan pedagang adalah tunai, karena pembelian berlangsung di pasar pusat-pusat Transaksi antara pedagang dan pengrajin adalah tunai dan Sistem kredit dengan ketentuan setelah produk habis terjual, pedagang membayar Proses tersebut terjadi berdasarkan azas saling percaya Transaksi antara petani dan pengrajin adalah membutuhkan uang tunai untuk memproduksi BBS. MELALUI Aliran informasi berhubungan dengan kapasitas home industry, status pengiriman dan jumlah pesanan bahan baku yang harus dikirim ke home industry dan jumlah pesanan produk olahan didistribusikan ke pasar. Untuk mendukung arus informasi yang transparan dari seluruh pelaku komitmen . apat dicapai melalui kemitraan dan kesepakata. disertai dengan ketersediaan Proses data berkaitan dengan kapasitas produksi yang disediakan pemasok BBS untuk menunjang agroindustri, proses pengiriman BBS ke agroindustri, menghasilkan produk sesuai pengiriman produk olahan ke kebutuhan konsumen terhadap Pemasaran Produk Saat ini kegiatan pemasaran hasil produksi sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir masih bersifat lokal dan nasional, belum ada kegiatan pemasaran yang bersifat ekspor karena adanya keterbatasan tentang kualitas hasil olah sagu yang masih kurang baik serta rendahnya kapasitas produksi sagu yang dihasilkan dari Kilang-Kilang Sagu. Tetapi pada tahun 2018 ini telah dilakukan ekspor tepung sagu kering oleh PT. NSP dengan tujuan Jepang. IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 81 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI pelabuhan di Jakarta. Sedangkan produk turunan sagu memiliki akses pasar lokal menjadi konsumsi lokal dan belum berkembang di pasaran nasional pada umumnya. Produk tersebut adalah sagu basah, tepung sagu, mie sagu, sohun import . , sohun cap ikan kembar, tepung hun kwee, sagu rendang, sagu bonai dan aneka olahan mie sagu yang sudah dimasak. Sedangkan untuk pemasaran produk luar daerah dominasi oleh permintaan Cirebon dan Jakarta untuk produk tepung sagu, dan Bengkalis. Siak dan Pekanbaru untuk produk mie sagu. Sistem Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini adalah adanya sistem ijon untuk penjualan bahan baku melalui pengumpul . , pemasaran melalui koperasi, unit kelompok usaha, pasar-pasar tradisional, toko grosir, pedagang informal . aki lim. , informasi pertemanan, pameran/expo, dan sudah menjajaki ranah IT melalui promosi via internet baik media sosial, iklan daerah, berita daerah maupun blogblog konsumen. Dalam sistem pemasaran sagu, dimana batang sagu dapat dijual langsung atau melalui pedagang perantara ke kilang sagu, kemudian kilang sagu menghasilkan sagu 82 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 MELALUI kering dan sagu basah yang harus diolah lagi menjadi produk jadi yang akan dijual ke konsumen. Alternatif saluran pemasaran sagu di Riau dapat dilihat pada Gambar 2. Dalam hal pemasaran mie sagu, para pengrajin mie sagu menjual mie sagu kepada para pedagang yang ada di Pasar Selatpanjang. Sebagian pengrajin ada yang langsung mengantarkan mie sagu kepada pedagang yang ada di Sebagian mengambil sendiri mie sagu ke tempat pembuatan mie sagu. Selain ke pasar Selatpanjang, mie sagu juga dijual sampai ke Bengkalis. Siak dan Pekanbaru. Pedagang yang berasal dari luar kota biasanya menjemput mie sagu di pelabuhan, kemudian pengrajin yang mengantarkan mie sagu tersebut ke pelabuhan dan pedagang membayar upah tambahan kepada pengrajin. Dari pemasaran produk mie maupun tepung sagu belum memiliki pasar yang luas karena hanya dikenal pada sebagian masyarakat dan rendahnya intensitas acara-acara expo/bazar di luar daerah. Dengan kondisi tersebut maka diperlukan . produk-produk sagu Kabupaten Kepulauan Meranti agar dapat dikenal oleh khalayak luas. PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI MELALUI Sumber : Kementerian Perindustrian ( 2. Gambar 2. Saluran Pemasaran Sagu di Riau Model Pengembangan Klaster Inovasi Berbasis PUD Model pengembangan klaster inovasi PUD Sagu Provinsi Riau secara lengkap dan terintegrasi berdasarkan tiga komponen utama klaster inovasi ditunjukkan pada Gambar 3. Tiga komponen utama klaster inovasi PUD Sagu Provinsi Riau yaitu : . pola relasi/kolaborasi, peran dan fungsi ABG C (Academic Ae Business Ae Government Communit. instrumen klaster berupa hasi analisis rantai pasok . upply chai. , rantai nilai . alue chai. , kelayakan usaha, model bisnis, difusi teknologi, desain industri dan alat ukur produk inovasi. Produk Unggulan Daerah sebagai klaster. IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 83 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI HULU PROSES HILIR Univ. Riau Lemb. Litbang Univ. Riau Lemb. Litbang Univ. Riau Lemb. Litbang Input Teknologi Input Teknologi Input Teknologi Difusi MELALUI Difusi Difusi Petani Sagu Output Output Budidaya Rumbia Bestari & Selat Panjang Tual Sagu Kilang Sagu Basah Output Kilang Tepung Sagu Kering Sagu Basah Rp 1400/kg Koperasi Tepung Sagu Output Industri Pengolahan Rp 4800/kg Koperasi Mie Sagu. Pasar Rp 7000/kg Koperasi Difusi Input Teknologi Univ. Riau Lemb. Litbang Konsumen Input Regulasi Infrastruktur Manajemen Usaha Kebijakan Insentif Riset & Pengembangan Pendampingan Pemerintah Kabupaten/Provinsi Riau/Pemerintah Sumber : Balitbang Riau . Gambar 3 . Model Pengembangan Industri Sagu berbasis Klaster Inovasi Provinsi Riau Pola relasi/kolaborasi ABG C secara ringkas ditunjukkan pada Academic Universitas Riau. Business dilakukan oleh Kadin. Lembaga Keuangan (Perbanka. PT NSP. Government Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir. Provinsi Riau (Bappeda. Disbun. Disperindag, 84 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 BKP. Diskop UKM. PU dan lainny. Pemerintah (Bappenas. Kemenristekdikti. Kementan. Kemenperin, kemendag dan lainny. Community diperankan oleh petani rumbia, pemilik kilang sagu, pengusaha mie sagu, gula sagu dan PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI MELALUI Sumber : Balitbang Riau . Gambar 4. Pola Relasi/Kolaborasi Pengembangan Klaster Inovasi PUD Sagu Riau Peranan ABG C dalam pengembangan klaster inovasi PUD sagu Provinsi Riau secara ringkas ditunjukkan pada Tabel 1. Kebijakan permodalan ditindaklanjuti dengan kemitraan/sistem penanggungjawab adalah Bappeda. Dinas Perkebunan. Badan Ketahanan Pangan. Dinas Perindustrian. Perdagangan. Dinas Koperasi UKM. Perbankan. Kadin dan Perusahaan Swasta. Kebijakan ditindaklanjuti melalui pengaturan tata niaga sagu termasuk harga dengan pelaksana Bappeda. Dinas Perkebunan. Dinas Ketahanan Pangan. Dinas Perindutrian dan Perdagangan. Dinas Koperasi dan UKM. Perbankan. Perusahaan Swasta. Bea Cukai dan Universitas Riau. Kebijakan Teknologi perkebunan rumbia ditindaklanjuti penggunaan bibit unggul dan pemeliharaan yang intensif sehingga produktivitas tinggi dan masa panen lebih pendek, dengan pelaksana Dinas Perkebunan. Balitbang Riau dan Universitas Riau. Teknologi Pasca Panen ditindaklanjuti dengan peningatan mutu dan jenis dengan Dinas Perkebunan. Balitbang Riau dan Universitas Riau. Teknologi pengolahan produk hilir sagu ditindak lanjuti dengan peningkatan mutu, jenis produk olahan dan nilai tambahnya dengan pelaksana Balitbang Riau dan Universitas Riau. Disperindag, dan Kebijakan infrastruktur ditindaklanjuti dengan pengadaan dan/atau perbaikan sarana prasarana dengan pelaksana Bappeda dan PU. IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 85 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI MELALUI Tabel 1. Peranan ABG C dalam Pengembangan Klaster Inovasi Sagu Provinsi Riau Kebijakan Tindaklanjut Kebijakan Pelaksana/ Penanggungjawab Modal Kemitraan. Sistem Bapak Angkat Bappeda. Dinas Yang Membidangai Pertanian. Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Disperindag. Diskop UKM. Perbankan. Perusahaan Swasta Terkait Pasar Pengaturan Tata Niaga Sagu. Bappeda. Dinas Yang Membidangai Termasuk Harga Pertanian. Perkebunan dan Ketahanan Pangan,Diskopperindag. Perusahaan Swasta. Kadin. Bea Cukai. Perguruan Tinggi Teknologi Produksi Peningkatan Produksi Sagu Dinas Yang Membidangai Pertanian. Melalui Penerapan Teknologi Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Usahatani Secara Tepat dan Bappeluh. Lembaga Litbang, pembinaan Secara ber Perguruantinggi Kelanjutan Teknologi Pascapanen Peningkatan Mutu Dan Jenis Dinas Yang Membidangai Pertanian. Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Bappeluh. Lembaga Litbang. Perguruan Tinggi Teknologi Pengolahan Peningkatan mutu dan jenis Lembaga Litbang. Perguruan Tinggi. Produk Hilir Sagu produk olahan sagu . epung Diskopperindag. Perusahaan Swasta sagu, mie sagu, dan gula sag. Infrastruktur Perbaikan Sarana Prasarana Bappeda. Dinas PU Terobosan dan inovasi yang mengembangkan produk hilir sagu dalam rangka mendukung sagu sebagai komoditas unggulan daerah. Perguruan peranan dalam : . pelatihan, pengembangan kapasitas SDM, bantuan teknis, . menghasilkan teknologi, desain produk, strategi pemasaran,. embelajaran kewirausahaan, . pengnisiasi kemitraan. Pemerintah daerah mempunyai peran sebagai regulator untuk dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan berbagai insentif, antara lain kemudahan berusaha, pelayanan satu atap, insentif dan memimpin Seperti Pemerintah Pusat dan Pemerintah 86 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 Provinsi Riau telah mewujudkan berdirinya Science Techno Park (STP) Riau pelayanan riset dan pengembangan, inkubasi dan pelayanan teknis untuk pengusaha pemula berbasis teknologi dengan bidang fokus yang telah ditetapkan yakni sagu, kelapa, nenas dan ikan. Dunia usaha / industri mempunyai peran menyediakan modal ventura, kerjasama riset, memahami perilaku pasar dan Komunitas sebagai pihak pemakai barang dan jasa atau output ekonomi senantiasa menyadari pentingnya memakai produk dalam negeri. PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI Strategi Implementasi Klaster Inovasi Strategi industri sagu didasarkan pada inovasi rantai hulu-hilir melalui sinergitas empat stakeholders utama, yaitu pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat. Rencana implementasi diperkuat dengan strategi klaster. Klaster menjadi alternatif karena memungkinkan sinergitas terjadi secara lebih baik. Klaster inovasi adalah kumpulan yang terdiri dari pemula inovatif . ecil, menengah dan besa. MELALUI lembaga riset dan institusi lainnya yang memiliki keserupaan atau atas dasar karakteristik tertentu dan beroperasi pada sektor dan regional yang sama dan didisain untuk dengan mendorong interaksi secara intensif, sharing fasilitas dan berkontribusi secara efektif dalam proses alih teknologi, jejaring dan penyebaran informasi. Skema Gambar 4. tersebut dibawah ini. Sumber : Direktorat Sistem Inovasi . Gambar 4. Strategi Implementasi Klaster Inovasi PUD Sagu Provinsi Riau Pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu mengembangkan klasterisasi industri ini pada kawasan tertentu sehingga tercipta suasana kawasan hilir industri dengan proses produksi dan pemasaran. Kawasan ini merupakan satu atau kumpulan beberapa sentra produksi/kegiatan investasi sagu yang beraglomerasi di area yang berdekatan. Klasterisasi ditujukan untuk mempermudah evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan kerjasama dalam berbagai aspek Berdasarkan pengembangan klaster inovasi PUD Riau, dilaksanakan di Desa Sei. Tohor Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti dan IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 | 87 PENGEMBANGAN PRODUK SAGU PENDEKATAN KLASTER INOVASI Desa Teluk Pantaian Kecamatan Gaung Anak Serka Kabupaten Indragiri Hilir. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kebijakan pengembangan sagu sebagai produk unggulan daerah, perkebunan dan budidaya sagu, kebijakan tentang perlindungan tentang pemanfaat hasil sagu, kebijakan tentang kelembagaan sagu dan kebijakan tentang keberlanjutan sagu sebagai diperlukan kolaborasi/kemitraan antara akademisi, pelaku usaha . , masyarakat . sagu (ABG C). Fokus pengembangan teknologi produk sagu Provinsi Riau adalah : . Tepung sagu basah menjadi tepung sagu kering, b Mie sagu basah menjadi mie sagu instan, . Tepung sagu menjadi gula sagu cair dan gula sagu bubuk. Pengembangan industri sagu berlanjutan, berupa kegiatan . Pembangunan Pengembangan Kilang Tepung Sagu Kering, . Pelatihan dan Pendampingan Teknologi dan Manajerial, . Penyusunan Peraturan Penetapan Harga Tual Sagu, . Penumbuhan Industri 88 | IPTEKIN VOL. 5 NO. 2 DESEMBER 2019 MELALUI Hilir Turunan Tepung Sagu (Mie Sagu Instan, serta Gula Sagu Cair dan Gula Sagu Bubu. , . Workshop Pengembangan Investasi. Saran Mengingat kilang sagu yang ada di Kabupaten Meranti dan Indragiri Hilir berlokasi persis di sempadan sungai, maka untuk jangka panjang, opsi investasi dengan melakukan upgrade kilang yang ada ini menjadi kurang Oleh sebab itu opsi menghasilkan tepung sagu kering menjadi opsi yang lebih menarik. Opsi memungkinkan investor memilih lokasi yang sesuai dan tidak melanggar ketentuan dan peraturan yang berlaku. Opsi pendirian pabrik baru yang memproses tepung sagu termodifikasi merupakan alternatif solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat. Keberhasilan produk unggulan daerah (PUD) sagu provinsi Riau sangat tergantung kepada : Komitmen semua pihak berkomitmen untuk melaksanakan (MoU) pengembangan yang telah disusun. UCAPAN TERIMA KASIH