Vol. No. December . p-ISSN x-x e-ISSN x-x HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN EFIKASI DIRI PADA DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT MARINIR CILANDAK PASIEN Alesia Rahma Dina*, 2Wanto Sinaga D3 Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mayapada. Jakarta. Indonesia *Email: alessiarahmadina@gmail. Abstrak Kata Kunci Motivasi. Efikasi diri. Diabetes melitus Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara motivasi dan efikasi diri pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak, mengingat pentingnya pemahaman ini untuk optimalisasi manajemen diri penyakit kronis tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi cross-sectional terhadap 35 pasien diabetes melitus, dengan data motivasi dan efikasi diri dikumpulkan melalui instrumen tervalidasi. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman's rho untuk mengevaluasi hubungan antar Hasil analisis menunjukkan korelasi positif yang sangat lemah . s = 0,. dan tidak signifikan . = 0,. antara motivasi dan efikasi diri, mengindikasikan tidak adanya hubungan yang berarti antara kedua variabel pada populasi yang diteliti. Kesimpulannya, tidak ditemukan hubungan signifikan antara motivasi dan efikasi diri pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Temuan ini menekankan kompleksitas manajemen diabetes dan pentingnya pendekatan holistik dalam perawatan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi dengan sampel yang lebih besar, menggunakan desain longitudinal, serta mengeksplorasi faktor-faktor moderator potensial guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika psikologis dalam manajemen diabetes melitus. Abstract Keywords Motivation. Self-efficacy. Diabetes melitus This study aims to examine the relationship between motivation and self-efficacy in diabetes mellitus patients at Marinir Cilandak Hospital, given the importance of this understanding for optimizing self-management of this chronic disease. The methodology employed was a cross-sectional study involving 35 diabetes mellitus patients, with motivation and self-efficacy data collected through validated Statistical analysis utilized Spearman's rho correlation test to evaluate the relationship between variables. The results revealed a very weak positive correlation . s = 0. that was not statistically significant . = 0. between motivation and self-efficacy, indicating no meaningful relationship between these variables in the studied population. In conclusion, no significant relationship was found between motivation and self-efficacy in diabetes mellitus patients at Marinir Cilandak Hospital. These findings emphasize the complexity of diabetes management and the importance of a holistic approach to care. For future research, it is recommended to conduct studies with larger sample sizes, employ longitudinal designs, and explore potential moderating factors to gain a more comprehensive understanding of the psychological dynamics in diabetes mellitus management. * Corresponding author : Alesia Rahma Dina Email Address : alessiarahmadina@gmail. Received : October 20, 2024. Revised : November 03, 2024. Accepted : November 22, 2024. Published : December 01. PENDAHULUAN Diabetes menjadi salah satu ancaman utama bagi kesehatan manusia pada abad ke-21. Menurut World Health Organization (WHO, 2. , jumlah penderita diabetes di atas usia 20 tahun telah mencapai 150 juta orang pada tahun 2000, dengan proyeksi meningkat menjadi 300 juta orang pada tahun 2025 (Sudoyo & Ary W, 2. Komplikasi akut dan vaskuler yang dapat timbul jika diabetes Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x tidak terkontrol meliputi mikroangiopati (Lemone & Burke, 2008. American Diabetes Association (ADA, 2. Menurut American Diabetes Association (ADA), setiap 21 detik satu orang baru didiagnosis dengan diabetes mellitus. Prediksi ADA untuk tahun 2025 adalah terdapat 350 juta individu pengidap diabetes mellitus, dengan setengah populasi dunia yang terkena dampak terbesar berada di negaranegara Asia seperti India. China. Pakistan, dan Indonesia (Yosmar. Almasdy & Rahma, 2. Kejadian diabetes melitus terus meningkat dari tahun ke tahun, seperti yang dilaporkan oleh Federasi Diabetes Internasional pada tahun 2018, yang merupakan tantangan signifikan bagi kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, serta masyarakat. Pada tahun 2021, diperkirakan terdapat 537 juta individu dewasa dalam rentang usia 20-79 tahun yang mengalami diabetes mellitus, dengan prediksi meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2045. Selain itu, 541 juta orang dewasa mengalami gangguan toleransi glukosa (IGT), yang termasuk dalam kategori individu dengan risiko tinggi mengalami diabetes (Ashari et al. , 2. Menurut laporan dari World Health Organization (WHO, 2. , diperkirakan jumlah penyandang diabetes di Indonesia meningkat dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Prediksi ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan jumlah penderita diabetes melitus diperkirakan akan meningkat 2-3 kali lipat pada tahun 2035. Sementara itu. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan kenaikan jumlah penderita diabetes di Indonesia angkanya mencapai 19,5 juta pada 2021 berdasarkan survei dari International Diabetes Foundation (IDF). Indonesia pun menempati peringkat kelima dari negara-negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Prevalensi diabetes di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riskesdas terbaru dilaksanakan pada tahun 2018, dan hasil menunjukan prevelensi diabetes mellitus secara nasional sebesar 2,0% untuk penduduk berusia 15 tahun ke atas. Data dari International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 19,47 juta penderita diabetes di Indonesia, menjadikannya negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak ke-5 di dunia. Prediksi ini menggambarkan eskalasi yang mengkhawatirkan dalam jumlah penderita diabetes di Indonesia, menggaris bawahi urgensi upaya pencegahan dan pengelolaan kondisi ini (IDF, 2. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Kementerian Kesehatan tahun 2018. DKI Jakarta mencatat prevalensi diabetes melitus tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 3,4%. Ini menunjukkan bahwa Jakarta memiliki prevalensi diabetes melitus tertinggi di Indonesia. Keberhasilan pengelolaan diabetes mellitus tergantung motivasi dan kesadaran diri pasien untuk manajemen perawatan diri yang dirancang untuk mengontrol gejala dan menghindari Motivasi merupakan salah satu proses pembentukan efikasi diri selain kognitif, afektif, dan seleksi (Schumacher & Jacksonvill, 2. Motivasi merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri maupun dari luar individu untuk melakukan tugas tertentu guna mencapai suatu tujuan. menjelaskan bahwa motivasi dan efikasi diri dibutuhkan bagi pasien diabetes untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya. Motivasi yang tinggi dalam penerapan efikasi diri pada pasien diabetes dapat berdampak pada peningkatan perawatan diri. Ini juga menjelaskan bahwa pentingnya motivasi pada efikasi diri, karena motivasi yang tinggi akan dapat meningkatkan efikasi diri pasien diabetes melitus dalam perawatan dirinya. Menurut penelitian Mario E. Katuu & Vandri D. Kallo . tentang motivasi dan efikasi diri pada pasien diabetes menunjukkan hasil bahwa individu berkaitan dengan efikasi diri yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut. tingkat motivasi pasien yang rendah mempengaruhi Tingkat efikasi pasien. sehingga manajemen perawatan diri pasien diabetes mellitus tidak dapat berjalan dengan baik. Perbedaan penelitian ini deangan penelitian sebelumnya adalah tempat dan jenis Berdasarkan prevelensi angka kejadian diabetes mellitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak bahwa terdapat 35 populasi dalam 3 bulan terakhir. Peneliti ingin mengidentifikasi motivasi dan Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x efikasi pada pasien-pasien tersebut sebagaimana yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya. Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sebab akibat motivasi dengan efikasi pada pasien-pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang memengaruhi motivasi dan efikasi diri pasien, perawat dan tenaga kesehatan dapat mengembangkan intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan manajemen perawatan diri dan kualitas hidup pasien diabetes mellitus. Melalui penelitian ini diharapkan dapat ditemukan solusi yang lebih efektif dalam meningkatkan Motivasi dan Efikasi diri pasien diabetes melitus. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini meruapakan pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Marinir. Jumlah sampel dalam penelitian ini 35 responden. Analisis yang digunakan uji Chi-square. HASIL Analisa Univariat Karakteristik Responden Tabel 1. Frekuensi Karakteristik Umur Responden Diabetes Melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak Tahun 2024 Karakteristik responden Umur 40-45 tahun 46-50 tahun 51-55 tahun 56-60 tahun 60-65 tahun Total Berdasarkan tabel 4. 1 Penelitian ini melibatkan total 35 responden pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak dari 11 juni-1Juli 2024. Karakteristik responden dapat dijabarkan sebagai berikut: Distribusi Umur Mayoritas responden berada dalam kelompok umur 60-65 tahun, yaitu sebanyak 16 orang . ,7%). Kelompok umur terbanyak kedua adalah 51-55 tahun dengan 8 responden . ,9%), diikuti oleh kelompok umur 56-60 tahun sebanyak 6 orang . ,1%). Kelompok umur 40-45 tahun terdiri dari 4 responden . ,4%), sementara kelompok umur 46-50 tahun memiliki jumlah paling sedikit yaitu 1 orang . ,9%). Distribusi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien diabetes mellitus dalam penelitian ini berusia di atas 50 tahun, dengan konsentrasi tertinggi pada kelompok usia lanjut . -65 tahu. Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x Karakteristik Motivasi Responden Tabel 2. Motivasi Pada Penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak Tahun 2024 Motivasi Kurang Baik Total Berdasarkan tabel 4. 3 menunjukan bahwa 35 responden pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak Mayoritas responden, yaitu 33 orang . ,3%), memiliki tingkat motivasi yang dikategorikan sebagai "Baik". Hanya 2 responden . ,7%) yang memiliki tingkat motivasi yang dikategorikan "Kurang". Proporsi responden dengan motivasi "Baik" yang sangat tinggi . ,3%). Karakteristik Efikasi Diri Responden Tabel 3. Efikasi Diri Penderita Diabetes Mellitus Di Rumah Sakit Marinir Cilandak Tahun 2024 Efikasi Diri Kurang Baik Total Berdasarkan tabel 4. 4 menunjukan 35 responden pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Analisis terhadap variabel efikasi diri menunjukkan hasil: Mayoritas responden, yaitu 33 orang . ,3%), memiliki tingkat efikasi diri yang dikategorikan sebagai "Kurang". Hanya 2 responden . ,7%) yang memiliki tingkat efikasi diri yang dikategorikan "Baik". Proporsi responden dengan efikasi diri "Kurang" yang sangat tinggi . ,3%). Analisa Bivariat Hubungan Motivasi Dengan Efikasi Diri Penderita Diabetes Mellitus Tabel 4. Tabel Hubungan Motivasi dengan Efikasi Diri Pada Pasien Diabetes Mellitus Di Rumah Sakit Marinir Cilandak Tahun 2024 Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x Penelitian ini melibatkan 35 responden pasien diabetes mellitus. Hasil analisis menunjukkan distribusi sebagai berikut: Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,061 antara variabel motivasi dan efikasi diri. Nilai koefisien ini mengindikasikan hubungan positif yang sangat lemah antara kedua Korelasi positif menunjukkan bahwa ada kecenderungan minimal di mana peningkatan motivasi mungkin diikuti oleh peningkatan efikasi diri, atau sebaliknya. Namun, kekuatan hubungan ini sangat lemah dan hampir dapat diabaikan dalam konteks praktis. PEMBAHASAN Hasil uji signifikansi statistik menunjukkan nilai p . wo-taile. sebesar 0,729, yang jauh melebihi ambang batas konvensional alpha 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan antara motivasi dengan efikasi diri pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Beberapa faktor mungkin berkontribusi pada hasil yang tidak signifikan ini yaitu Pertama, ukuran sampel yang relatif kecil (N=. mungkin membatasi kekuatan statistik untuk mendeteksi hubungan yang signifikan, terutama jika efek sebenarnya dalam populasi kecil. Cohen . menekankan pentingnya ukuran sampel yang memadai dalam penelitian korelasional untuk menghindari Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar mungkin diperlukan untuk mengonfirmasi atau membantah temuan ini. Kedua, karakteristik spesifik dari populasi yang diteliti mungkin memengaruhi hasil Pasien di Rumah Sakit Marinir Cilandak memiliki karakteristik unik yang membedakan mereka dari populasi diabetes melitus secara umum. Faktorfaktor seperti latar belakang militer, akses keperawatan Kesehatan, atau variable demografis lainnya yang memoderasi hubungan antara motivasi dengan efikasi diri. Ketiga, konseptualisasi dan pengukuran motivasi dan efikasi diri dalam penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya menangkap kompleksitas konstruk tersebut dalam konteks diabetes melitus. Implikasi dari temuan ini signifikan baik untuk praktik klinis maupun penelitian selanjutnya. Dari perspektif klinis, hasil ini menunjukkan bahwa meningkatkan motivasi pasien mungkin tidak secara otomatis meningkatkan efikasi diri mereka dalam mengelola diabetes, atau sebaliknya. Intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan manajemen diri diabetes mungkin perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain atau pendekatan yang lebih holistik. Misalnya, penelitian oleh Powers et al. menekankan pentingnya pendekatan berbasis tim yang berpusat pada pasien dalam pendidikan dan dukungan manajemen diri diabetes. Lebih lanjut, temuan ini menyoroti kompleksitas manajemen diri diabetes dan pentingnya pendekatan yang dipersonalisasi. Setiap pasien mungkin memiliki kombinasi unik faktor psikologis, sosial, dan fisiologis yang memengaruhi kemampuan mereka untuk mengelola penyakit mereka secara efektif. Pendekatan presisi medicine dalam diabetes care seperti yang diusulkan oleh Fitipaldi et al. , mungkin menawarkan jalan ke depan dalam mengoptimalkan intervensi berdasarkan profil individual pasien. Keterbatasan penelitian ini perlu diakui selain ukuran sampel yang kecil, desain cross-sectional membatasi inferensi kausal. Selain itu, kurangnya informasi tentang karakteristik sampel dan instrumen pengukuran spesifik yang digunakan membatasi generalisasi dan interpretasi mendalam dari temuan. Penelitian masa depan harus mengatasi keterbatasan ini dengan memasukkan sampel yang lebih besar dan lebih representatif, menggunakan instrumen yang divalidasi secara ketat, dan mempertimbangkan desain longitudinal. KESIMPULAN Tidak ditemukan hubungan signifikan antara motivasi dan efikasi diri pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Temuan ini menekankan kompleksitas manajemen diabetes dan pentingnya pendekatan holistik dalam perawatan. Untuk penelitian selanjutnya. Mayapada Nursing Journal Vol. No. December 2024 p-ISSN x-x, e-ISSN x-x disarankan untuk melakukan studi dengan sampel yang lebih besar, menggunakan desain longitudinal, serta mengeksplorasi faktor-faktor moderator potensial guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika psikologis dalam manajemen diabetes melitus. DAFTAR PUSTAKA