Pendampingan Musabaqah Tilawatil QurAoan di Taman Pendidikan Al-QurAoan Babul Maghfirah Gunong Kleng. Aceh Barat Ulil Azmi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh mail: ulilazmi363@gmail. Submitted: Mei Reviewed : Juni Accepted : Juni ABSTRAK ABSTRACT Pendampingan Musabaqah Tilawatil QurAoan (MTQ) di TPQ Babul Maghfirah. Aceh Barat, dilakukan untuk membantu persiapan santri dalam menghadapi kompetisi. Penelitian ini pendukung dan penghambat, dan menganalisis Dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan Hasilnya pendampingan mencakup proses seleksi calon peserta, pelatihan dan pembinaan peserta, dan simulasi lomba. Faktor pendukung meliputi antusiasme santri dan dukungan orang tua, sementara keterbatasan waktu dan sarana menjadi penghambat utama. Pendampingan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan prestasi lomba tetapi juga memperdalam hubungan santri Al-QurAoan. Temuan merekomendasikan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk program berkelanjutan. The mentoring program for the Qur'an Recitation Competition (MTQ) at TPQ Babul Maghfirah. West Aceh, was conducted to assist students in preparing for the competition. This study aims to describe the mentoring process, identify supporting and inhibiting factors, and analyze its Using the Participatory Action Research (PAR) method, data was collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that the mentoring program encompasses candidate selection processes, participant training and coaching, and competition simulations. Supporting factors include students' enthusiasm and parental support, while time constraints and limited facilities emerge as primary challenges. This mentoring program is expected not only to enhance competition performance but also to deepen students' connection with the Qur'an. The findings recommend collaboration with local Kata Kunci: Pendampingan MTQ. TPQ Babul Keywords: The Mentoring of MTQ. TPQ Babul Maghfirah. Maghfirah. PENDAHULUAN Al-Qur'an, sebagai kitab suci yang dimuliakan umat Islam, tidak hanya berperan sebagai panduan hidup, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan dan motivasi (Septina et al. , 2. Membaca AlQur'an dengan benar, sesuai dengan kaidah tajwid dan sebagainya, adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim (Laily & Maesurah, 2. Kemampuan ini tidak hanya diperlukan untuk menunjang ibadah, tetapi juga untuk mempertahankan keaslian dan keindahan bacaan Al-QurAoan. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak dan remaja, termasuk di wilayah Aceh Barat, yang Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya menciptakan generasi yang Qurani dan berpegang teguh pada ajaran Islam. Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) sebagai lembaga pendidikan non-formal memegang peran penting dalam mengajarkan Al-QurAoan kepada anak-anak. Salah satu contohnya adalah TPQ Babul Maghfirah di Aceh Barat, yang aktif dalam membina kemampuan membaca Al-QurAoan. Meskipun memiliki potensi besar untuk mencetak qari dan qariah yang berkualitas. TPQ ini masih menghadapi berbagai hambatan, seperti kurangnya tenaga pendamping yang ahli dalam bidang tilawah serta fasilitas yang belum Dampaknya, banyak santri yang belum memiliki kesiapan teknis dan mental ketika mengikuti berbagai perlombaan, khususnya Musabaqah Tilawatil QurAoan. Musabaqah Tilawatil QurAoan (MTQ) pada dasarnya merupakan wadah yang efektif untuk mendorong umat Islam, terutama generasi muda, dalam meningkatkan kemampuan membaca dan memahami AlQur'an (Putra & Al Farabi, 2. Namun, tanpa persiapan yang memadai. MTQ justru dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi para peserta. Di TPQ Babul Maghfirah, banyak santri yang sebenarnya memiliki minat dan bakat dalam bidang tilawah, tetapi belum mendapatkan bimbingan yang intensif. Mereka memerlukan pelatihan teknis terkait tajwid, makhraj, dan seni membaca Al-QurAoan, serta pembinaan mental untuk menghadapi kompetisi. Oleh karena itu, pendampingan dalam persiapan MTQ menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diimplementasikan. Kegiatan pendampingan MTQ ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh TPQ Babul Maghfirah. Dengan pendampingan yang terstruktur dan berkesinambungan, santri tidak hanya akan meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan, tetapi juga memperoleh motivasi dan rasa percaya diri untuk berpartisipasi dalam kompetisi. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi fondasi untuk membangun sistem pembinaan tilawah yang lebih baik di TPQ tersebut. Dalam jangka panjang, diharapkan muncul generasi qari dan qariah yang tidak hanya terampil dalam tilawah, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia serta pemahaman yang mendalam terhadap Al-QurAoan. BAHAN DAN METODE Kegiatan pendampingan dilaksanakan di Taman Pendidikan Al-QurAoan Babul Maghfirah. Gampong Gunong Kleng. Kecamatan Meureubo. Kabupaten Aceh Barat pada tanggal 23 Januari 2025 sampai 18 Februari 2025. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode PAR (Participatory Action Researc. (Rahmat & Mirnawati, 2. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Persiapan dan Perencanaan Tahapan ini terdiri dari mengidentifikasi dan menyeleksi calon peserta yang potensial. Tahapan ini berdasarkan penilaian dewan guru terhadap kemampuan santri dalam beberapa cabang lomba yang Selanjutnya, santri yang terpilih akan dibagi sesuai cabang lomba yang akan diikuti (Purnamayanti et al. , 2. Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 Pelaksanaan Di tahap ini, para calon peserta mengikuti pelatihan sesuai dengan cabang lomba yang diikuti. samping aspek teknis, para calon peserta juga diberikan pendampingan mental dan spiritual sehingga mencapai kesiapan secara komprehensif dalam mengikuti MTQ. Evaluasi Setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan, diadakan semacam geladi untuk meninjau perkembangan dan kelemahan sehingga diusahakan untuk dilakukan perbaikan (Rahman et al. , 2. Selanjutnya, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi (Sugiyono, 2. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan cara reduksi, pemaparan, dan verifikasi data (Arikunto, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil TPQ Babul Maghfirah Taman Pendidikan Al-QurAoan Babul Maghfirah merupakan sebuah Lembaga Pendidikan Al-QurAoan yang berdomisili di Dusun Pondok Geulumbang. Gampong Gunong Kleng. Kecamatan Meureubo. Kabupaten Aceh Barat. TPQ ini terdaftar di Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama dengan nomor statistik 411211050368. TPQ ini awalnya hadir dari sebuah pengajian keluarga hingga mendapat izin operasional pada tahun 2017. Lembaga ini didirikan dan dipimpin oleh Arsyad dan memiliki visi mengader generasi muda qurani yang bertakwa, berakidah lurus, berwawasan, dan bermanfaat untuk umat. Saat ini jumlah pengajar sebanyak enam orang ustaz/ustazah dan santri yang tercatat sekitar 60-70 anak. Kegiatan pembelajaran di TPQ ini dilaksanakan selama enam kali dalam seminggu dan dilaksanakan 30 hingga 21. 10 WIB. Pembelajaran dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan kemampuan anak. Adapun materi pembelajaran yang diterapkan di TPQ ini adalah iqroAo, tausn, nagham, kitAbah, muuAsarah, praktik ibadah, hafalan, dan pengembangan pemahaman beragama . ikih, tauhid dan Kegiatan lain seperti perlombaan juga dilaksanakan guna menumbuhkan partisipasi masyarakat. MTQ sebagai Sarana Dakwah Pengembangan Masyarakat Qurani Berdasarkan catatan historis, tradisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) telah berkembang di Indonesia sejak dekade 1940-an seiring berdirinya JamAoiyyatul Qurra wal Huffaz, sebuah lembaga yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Perkembangan penting terjadi pada tahun 1968 ketika K. Muhammad Dahlan yang menjabat sebagai Menteri Agama dan Pengurus Besar NU, bersama Prof. Ibrahim Hossen memelopori penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional pertama yang dilaksanakan di Ujung Pandang . aat ini Makassa. (Rohman, 2. Musabaqah Tilawatil Quran memiliki peran multidimensional dalam kehidupan umat Islam, baik sebagai media dakwah maupun penguatan spiritual. Sebagai wahana syiar Islam. MTQ menghadirkan pendekatan kreatif melalui seni baca Al-Qur'an yang indah, menjadikan pesan agama lebih menarik dan Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 mudah diterima berbagai kalangan masyarakat (Azwar, 2. Kegiatan ini tidak sekadar kompetisi, tetapi juga berfungsi sebagai motivasi religius yang mendorong peningkatan kualitas interaksi dengan Al-Qur'an, baik dalam aspek tilawah, tahfiz, maupun pemahaman kandungan ayat-ayat suci. MTQ juga menjadi sarana efektif untuk mempererat silaturahmi antar komunitas muslim, sekaligus media pengembangan Al-QurAoan melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif. Dalam konteks yang lebih luas. MTQ turut berperan dalam melestarikan khazanah keislaman seperti ilmu tajwid dan qiraat, sekaligus mengembangkannya dengan metode kontemporer. Jika diamati dengan saksama, ditemukan keunikan dalam berbagai pendekatan dakwah yang dihadirkan melalui kompetisi MTQ. Esensi seluruh cabang perlombaan sebenarnya bersumber dari kandungan Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam. Meskipun setiap kategori lomba menampilkan karakteristik dakwah yang berbeda-beda, perbedaan tersebut hanya terletak pada aspek penyajian dan metode penyampaiannya saja (Ronaldi et al. , 2. Pada hakikatnya, berbagai jenis perlombaan dalam MTQ memiliki tujuan inti yang sama, yaitu menyebarluaskan dan menginternalisasikan nilai-nilai AlQur'an kepada masyarakat luas secara menyeluruh (MustaAoin, 2. Proses Pendampingan MTQ Proses pendampingan dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mempersiapkan peserta agar mampu tampil secara maksimal dalam kompetisi. Kegiatan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelatihan teknis hingga pembinaan mental dan spiritual untuk membangun kepercayaan diri dan ketenangan peserta. Di TPQ Babul Maghfirah secara rutin dilakukan pembinaan MTQ secara umum melalui berbagai kegiatan yang diinternalisasi dalam program pembelajaran sehari-hari, seperti pembelajaran nagham, kitAbah, pengetahuan terkait Al-QurAoan dan ilmu keislaman lainnya, dan pelaksanaan muuAsarah sebagai sarana peningkatan mental santri. Kegiatankegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin tiap pekan sesuai dengan jadwal pembelajaran di TPQ. Dalam kegiatan pendampingan ini, dilakukan pembinaan secara khusus dengan memfokuskan pada peserta yang lebih menonjol dan berpotensi. Proses pendampingan ini dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan terstruktur dan terencana yang melibatkan beberapa pihak terkait. Kegiatan utama yang dilakukan dalam pendampingan ini adalah pelatihan teknis lomba secara mendetail. Peserta dibimbing untuk menguasai berbagai hal terkait lomba yang diikuti. Selain itu, pendampingan juga melibatkan simulasi lomba untuk membiasakan peserta dengan suasana kompetisi yang sebenarnya. Tujuannya tidak hanya untuk meraih prestasi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hubungan peserta dengan Al-QurAoan serta mengimplementasikan nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari (Nasution et al. , 2. Proses ini melibatkan peran aktif pelatih, mentor, pembina, serta dukungan dari keluarga dan masyarakat. Seleksi Calon Peserta Tahapan pertama dalam kegiatan pendampingan ini adalah proses penentuan calon peserta yang akan mengikuti MTQ. Penetapan standar dan mekanisme seleksi yang terstruktur dapat menghasilkan peserta Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 yang lebih siap dalam menghadapi tuntutan materi pelatihan dan pembinaan yang komprehensif (Ma`arif. Selain itu, proses seleksi yang transparan juga akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses yang objektif (Rahmat & Husain, 2. Proses ini diawali dengan mengidentifikasi beberapa santri potensial dengan memperhatikan kemampuan dan legalitasnya. Setelah calon peserta teridentifikasi, dilakukan proses seleksi secara objektif. Proses seleksi tersebut dilaksanakan secara teliti dengan mencermati standar kapasitas cabang lomba yang akan diikuti, seperti tartil, tilawah, hafalan, retorika, dan wawasan Al-QurAoan. Penyeleksian dilakukan dengan ujian membaca Al-QurAoan, tes hafalan Al-QurAoan, dan interview untuk mengetahui wawasan dan pemahaman ajaran Islam, khususnya Al-QurAoan. Calon peserta yang terpilih kemudian diinformasikan dan diarahkan untuk mengikuti pembinaan. Pelatihan dan Pembinaan Peserta Setelah menentukan peserta yang akan mengikuti MTQ, tahap selanjutnya adalah melakukan pelatihan dan pembinaan secara intens. Tahap ini sangat penting karena menjadi penentu utama kesiapan peserta dalam berlomba. Pelatihan dan pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek teknis seperti penguasaan tajwid, pelafalan huruf, dan sebagainya, tetapi juga mencakup pembentukan mental, kedisiplinan, dan religiositas (Lang & Anwar, 2. Sebuah sistem pembinaan yang terencana akan memudahkan peserta dalam memahami materi, meningkatkan kepercayaan diri, dan memunculkan potensi terbaik mereka saat tampil (Sulaiman et al. , 2. Pendekatan individual juga diperlukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan area perbaikan setiap peserta, sehingga pelatihan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta (Efendi & Sholeh, 2. Pada aspek teknis, pelatihan yang dilakukan bertujuan untuk memantapkan skill peserta dalam berbagai cabang lomba yang diikuti, seperti kemampuan membaca, menghafal, dan mencerna kandungan Al-QurAoan. Pada dasarnya, seluruh peserta terpilih telah memiliki dasar kemampuan pada bidang-bidang yang akan diikuti. Kemampuan tersebut diperoleh dari pembinaan berkelanjutan yang diinternalisasi dalam program pembelajaran di TPQ tersebut, seperti nagham, kitAbah, pengetahuan terkait Al-QurAoan dan ilmu keislaman lainnya, dan pelaksanaan muuAsarah. Terkait cabang lomba yang akan diikuti oleh para peserta adalah bacaan Al-QurAoan, hafalan Al-QurAoan, pemahaman Al-QurAoan, syarahan Al-QurAoan, dan kaligrafi Al-QurAoan. Dalam pelatihan teknis ini peserta diberikan pembinaan mendalam yang mencakup beberapa aspek. Untuk cabang bacaan Al-QurAoan, peserta dilatih tajwid, makhraj, faAuah, nagham, suara, latihan napas, penghayatan, dan sebagainya. Untuk cabang hafalan Al-QurAoan, peserta dibina dengan cara murAjaAoah, visualisasi ayat, konsentrasi, soal hafalan, dan sebagainya. Untuk cabang pemahaman Al-QurAoan dilatih dengan teknik diskusi, hafalan, dan tes wawasan Al-QurAoan dan ilmu keislaman. Untuk cabang syarahan Al-QurAoan dibimbing teknik penyampaian, kekompakan, penghayatan, dan sebagainya. Sedangkan cabang kaligrafi Al-QurAoan dilakukan pendampingan terkait kaidah penulisan, keindahan, kerapian, dan Selain kemampuan teknis, juga dilakukan pembinaan terhadap mental dan spiritual peserta dengan cara trans-internalisasi yang menghubungkan kepribadian peserta dengan pembimbing secara langsung Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 (Muhaimin, 2. Persiapan mental menjadi fondasi krusial dalam membekali peserta menghadapi tantangan kompetisi (Raharjo et al. , 2. Para peserta dilatih mengelola stres, mengendalikan emosi, disiplin, tanggung jawab, dan membangun kepercayaan diri. Hal tersebut dilakukan dengan pendekatan secara personal dan dukungan emosional dari orang-orang terdekat. Dalam pembekalan spiritual, peserta diberikan motivasi dari keteladanan hidup, dan ditanamkan kesadaran bahwa kompetisi adalah sarana dakwah dan ibadah. Peserta juga diberikan penguatan nilai-nilai keagamaan, dan digalakkan untuk memperbanyak ibadah, semisal salat, selawat, zikir, doa, dan sebagainya. Dengan pembinaan tersebut, diharapkan dapat mengembangkan ketahanan mental dan spiritual peserta, sehingga siap tampil optimal dengan ketenangan dan keikhlasan sebagai bagian dari perjuangan di jalan Allah dan mencari rida-Nya. Dalam pelaksanaannya, setiap pertemuan dilakukan evaluasi rutin guna memantau progres setiap Hasilnya digunakan untuk menyampaikan feedback dan mempersiapkan perbaikan pada pertemuan Feedback tersebut disampaikan melalui diskusi pasca pelatihan. Dengan adanya evaluasi yang berkesinambungan, peserta dapat mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan mereka secara objektif. Feedback yang diberikan setelah setiap sesi pelatihan juga memungkinkan perbaikan bertahap, baik dalam aspek teknis maupun non teknis (Nur et al. , 2. Proses ini juga menciptakan kebiasaan refleksi diri, sehingga peserta tidak hanya bergantung pada pelatih, tetapi aktif menganalisis performanya sendiri (Wijayanti et al. , 2. Hasilnya, diharapkan mereka dapat terus menyempurnakan penampilan dan menghadapi kompetisi dengan persiapan matang. Simulasi Lomba Setelah dilakukan pelatihan dan pembinaan, menjelang dimulainya lomba dilakukan simulasi dan praktik langsung terhadap para peserta yang akan berkompetisi. Simulasi tersebut berfungsi sebagai uji coba sekaligus pembiasaan bagi peserta sebelum menghadapi kompetisi sesungguhnya (Saputra et al. Dalam simulasi ini, peserta dilatih mengelola demam panggung dan tekanan psikologis, menyesuaikan diri dengan waktu penampilan lomba, menguji konsistensi performa di bawah pengamatan publik, dan sebagainya. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi peserta, tetapi juga memberikan gambaran objektif bagi pelatih untuk menyusun program pembinaan yang lebih tepat sasaran dalam persiapan menuju kompetisi MTQ ke depannya. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendampingan MTQ Pendampingan Musabaqah Tilawatil QurAoan (MTQ) di TPQ Babul Maghfirah didukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah antusiasme tinggi dari para santri yang memiliki minat kuat dalam mengikuti pendampingan. Selain itu, dukungan dari pengurus TPQ dan orang tua santri memberikan motivasi eksternal yang memperkuat semangat belajar. Adanya mentor yang kompeten dalam bidangnya juga menjadi modal utama dalam proses pendampingan. Adapun faktor penghambat proses pendampingan antara lain adalah keterbatasan waktu. Para peserta yang notabene juga merupakan siswa di sekolah formal harus mengelola waktu dengan baik. Hambatan lainnya adalah kurangnya komunikasi dengan pihak terkait dalam menyukseskan proses pelatihan dan pembinaan peserta. Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Volume 5. No. Tahun 2025 Untuk mengatasi hambatan tersebut, diperlukan peningkatan kerja sama dengan pihak terkait, seperti pemerintah Gampong atau organisasi Islam setempat guna penyediaan sarana pelatihan dan pembinaan. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran interaktif, seperti audio-visual dan simulasi MTQ, dapat meningkatkan efektivitas pendampingan. Dengan mengoptimalkan faktor pendukung dan menangani faktor penghambat secara sistematis, pendampingan MTQ di TPQ Babul Maghfirah dapat berjalan lebih efektif dan berdampak positif bagi peningkatan kompetensi santri dan calon peserta secara khusus. KESIMPULAN DAN SARAN Pendampingan MTQ di TPQ Babul Maghfirah Aceh Barat telah berhasil meningkatkan kemampuan dan kesiapan peserta yang akan mengikuti MTQ. Pendampingan tersebut dilakukan dengan beberapa tahapan, yakni seleksi calon peserta, pelatihan dan pembinaan peserta, dan melaksanakan simulasi Faktor pendukung seperti antusiasme santri dan dukungan orang tua berperan penting, meskipun keterbatasan waktu dan sarana tetap menjadi tantangan. Program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan prestasi lomba, tetapi juga memperkuat karakter religius peserta. Untuk keberlanjutan, diperlukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lokal, penyediaan sarana yang memadai, dan pengembangan modul pelatihan terstandar. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan holistik efektif dalam membina generasi Qurani yang kompeten dalam skill maupun akhlak. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada segenap pengurus dan tenaga pengajar di TPQ Babul Maghfirah Gampong Gunong Kleng. Kecamatan Meureubo. Kabupaten Aceh Barat. DAFTAR PUSTAKA