SESAWI Article Histori: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Submited Reviewed Acepted Published : 03/03/2025 : 10/04/2025 : 19/05/2025 : 27/06/2025 SIGNIFIKANSI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENGATASI KRISIS IDENTITAS GENERASI Z Filmon Berek Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar Setia Jakarta filmonberek23@gmail. Abstract This research originates from the issue of an identity crisis experienced by Generation Z, characterized by difficulties in understanding self-identity and moral values due to the influence of popular culture and secularism. Christian Religious Education (PAK) plays a significant role in addressing this challenge by instilling strong spiritual and moral values from an early age. The study aims to analyze PAK's contribution in helping Generation Z build a solid identity through the teaching of spiritual principles and their impact on character development. The method used is qualitative with a literature review approach, involving the analysis of books, journals, and relevant documents. The results show that PAK is effective in shaping students' identities by teaching faith, love, and the truth of God's Word, helping them understand themselves as God's precious creations and strengthening their relationship with Him. Therefore, effective implementation of PAK is essential in forming a generation with character and integrity. Keyword: Christian Religious Education. Crisis of Identity in Generation Z. Character Formation. Relevance of Theology Abstrak Penelitian ini berawal dari permasalahan krisis identitas yang dialami Generasi Z, ditandai dengan kesulitan memahami jati diri dan nilai moral akibat pengaruh budaya populer serta sekularisme. Pendidikan Agama Kristen (PAK) berperan penting dalam mengatasi tantangan ini dengan menanamkan nilai spiritual dan moral yang kuat sejak dini. Penelitian bertujuan menganalisis kontribusi PAK dalam membantu Generasi Z membangun identitas yang kokoh melalui pengajaran prinsip-prinsip spiritual dan dampaknya terhadap karakter. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melibatkan analisis literatur dari buku, jurnal, dan dokumen relevan. Hasil menunjukkan bahwa PAK efektif dalam membangun identitas peserta didik dengan mengajarkan iman, kasih, dan kebenaran Firman Tuhan, membantu mereka mengenal jati diri sebagai ciptaan Allah dan memperkuat hubungan dengan-Nya. Oleh karena itu, implementasi PAK yang baik penting dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas. Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen. Krisis Identitas Generasi Z. Pembentukan Karakter. Relevansi Teologi PENDAHULUAN Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, menghadapi tantangan signifikan dalam hal krisis identitas yang dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi, arus informasi yang tidak terfilter, dan perubahan nilai sosial yang kompleks. Fenomena ini menyebabkan banyak individu dalam generasi ini mengalami kebingungan dalam menemukan jati diri, nilai hidup, dan tujuan yang jelas. Dalam konteks ini, pendidikan agama Kristen memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter yang berakar pada nilai-nilai Kristiani, yang dapat menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi tantangan identitas CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Pendidikan agama Kristen tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan teologis, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter yang berpusat pada prinsip kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Allah. Seperti yang dikemukakan oleh Christian Smith dan Melinda Lundquist Denton dalam karya mereka. Faith plays a significant role in shaping the moral compass and identity development of young individuals when integrated effectively into their educational journey. 1 Pendidikan agama yang terintegrasi dengan baik dapat membantu generasi muda menemukan makna hidup yang berlandaskan iman kepada Kristus serta mengarahkan mereka untuk memahami identitas mereka sebagai ciptaan Allah yang Namun, dalam praktiknya, banyak lembaga pendidikan Kristen menghadapi tantangan dalam mengadaptasi metode pembelajaran yang relevan dengan kondisi generasi Z yang cenderung berpikir kritis, interaktif, dan terpapar budaya digital. Hal ini sejalan dengan pandangan Barna Group yang menyatakan bahwa, "Young generations are seeking authenticity and relational faith experiences rather than mere doctrinal teaching. "2 Oleh karena itu, pendekatan teologis dan praktis yang menyeluruh sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan agama Kristen, termasuk penggunaan teknologi digital yang mendukung pembelajaran interaktif dan pengalaman iman yang mendalam. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi pendidikan agama Kristen dalam mengatasi krisis identitas generasi Z melalui pendekatan teologis dan Fokus utama adalah bagaimana pendidikan berbasis nilai-nilai Kristiani dapat membentuk karakter yang tangguh dan beriman dalam menghadapi tantangan zaman modern, sekaligus menekankan pentingnya pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan dinamika generasi masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode ini dipilih karena sesuai untuk memahami fenomena sosial yang kompleks, seperti krisis identitas yang dialami Generasi Z, melalui eksplorasi mendalam terhadap makna, nilai, dan pengalaman subjektif individu yang terlibat dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan siswa, pendidik, dan pemuka agama yang memiliki keterlibatan langsung dalam proses pendidikan agama Kristen. Selain itu, studi literatur dari berbagai sumber teologis dan pedagogis juga digunakan untuk memperkuat analisis data. Analisis data dilakukan dengan metode tematik, yaitu mengidentifikasi pola dan tema utama yang muncul dari data yang dikumpulkan. Menurut Creswell, metode kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami makna yang diberikan individu terhadap suatu fenomena dalam konteks kehidupan mereka sendiri. Ia menyatakan. Qualitative research is an approach for exploring and understanding the meaning individuals or groups ascribe to a social or human problem. 4 Melalui pendekatan ini, penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk identitas diri yang kuat pada Generasi Z, dengan menekankan nilai-nilai spiritualitas, moralitas, dan komunitas yang sehat dalam kehidupan mereka. Christian Smith and Melinda Lundquist Denton. Soul Searching: The Religious and Spiritual Lives of American Teenagers, 1st ed. (Oxford: Oxford University Press, 2. Barna Group. Gen Z: The Culture. Beliefs and Motivations Shaping the Next Generation, 2nd ed. (New York: Ventura. CA: Barna Group, 2. R Raco. Metode Penelitian Kualitatif, 1st ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. John W. Creswell. Qualitatif Inquiry and Research Design (California: Sage Publications, 1. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Agama Kristen memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan identitas diri, terutama di tengah tantangan krisis identitas yang dihadapi Generasi Z. era modern yang dipenuhi pengaruh globalisasi, media sosial, dan pergeseran nilai. Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi fondasi yang kokoh dalam membantu generasi muda menemukan makna hidup yang berakar pada iman, nilai moral, dan kebenaran Firman Tuhan. Konsep Krisis Identitas Krisis identitas merupakan fenomena psikologis yang diuraikan secara mendalam oleh Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya. Erikson mendefinisikan krisis identitas sebagai periode di mana individu mengalami kebingungan dalam menentukan konsep diri, nilai, dan peran sosial mereka, yang umumnya terjadi pada masa remaja. Menurut Erikson. The adolescent is beset by the need to establish a sense of personal identity and to avoid the dangers of role confusion. 5 Dalam tahap ini, individu bergulat dengan pertanyaan fundamental seperti "Siapakah saya?" dan "Apa tujuan hidup saya?" Dalam konteks teori perkembangan psikososial Erikson, krisis identitas muncul pada tahap kelima, yaitu identity vs. role confusion. Tahap ini terjadi selama masa remaja, di mana individu berusaha menemukan jati diri yang sesuai dengan nilai dan keyakinan pribadi Jika remaja gagal menyelesaikan konflik ini, mereka dapat mengalami kebingungan peran yang berkepanjangan, yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosial mereka di masa dewasa. Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, menghadapi tantangan unik yang memperburuk krisis identitas. Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab krisis identitas dalam generasi ini adalah: Pertama. Pengaruh Media Sosial. Media sosial memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan identitas pada Generasi Z. Platform seperti Instagram. TikTok, dan Snapchat sering kali menampilkan gambaran ideal yang tidak realistis tentang kehidupan. Hal ini dapat menciptakan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar sosial yang tidak selalu mencerminkan kenyataan. Menurut Twenge. Social media creates an environment where teens compare themselves constantly to others, often resulting in feelings of inadequacy and confusion about their self-worth. Kedua. Globalisasi dan Perubahan Budaya. Globalisasi memperkenalkan Generasi Z pada beragam budaya, nilai, dan perspektif yang berbeda. Sementara hal ini dapat memperkaya wawasan, sering kali juga menyebabkan konflik identitas, terutama ketika nilainilai budaya lokal berbenturan dengan nilai global yang diadopsi. Remaja dihadapkan pada dilema dalam memilih antara mempertahankan identitas budaya mereka atau mengadopsi budaya global yang lebih dominan. Ketiga. Minimnya Landasan Nilai yang Kokoh. Minimnya pendidikan berbasis nilai dan spiritualitas yang mendalam juga menjadi faktor penyebab krisis identitas. Pendidikan yang berfokus hanya pada aspek kognitif tanpa memperhatikan pengembangan karakter dan spiritualitas dapat menyebabkan kekosongan dalam pemahaman diri. Smith dan Denton mencatat bahwa. The decline of spiritual engagement among youth correlates with a growing sense of identity confusion and moral Kombinasi dari ketiga faktor ini membuat Generasi Z rentan mengalami krisis identitas yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif, seperti Erik H. Erikson. Identity: Youth and Crisis, 1st ed. (New York: W. Norton, 2. IGen Jean M. Twenge. Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less Happy, 1st ed. (New York: Atria Books, 2. Christian Smith and Melinda Lundquist Denton. Soul Searching: The Religious and Spiritual Lives of American Teenagers, 2nd ed. (Oxford: Oxford University Press, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Pendidikan Agama Kristen (PAK), untuk membantu mereka menemukan makna hidup yang lebih dalam dan memahami identitas mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Pendidikan Agama Kristen (PAK) Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah proses pembelajaran yang berpusat pada Kristus dengan tujuan membentuk karakter dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Definisi ini menekankan bahwa PAK bukan sekadar transfer pengetahuan teologis, tetapi juga transformasi kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Menurut Arthur F. Holmes. Christian education is not merely the communication of biblical knowledge, but the shaping of a Christian worldview and character. 8 Tujuan utama PAK adalah membawa peserta didik kepada pengenalan yang benar akan Allah. Yesus Kristus, dan karya keselamatan-Nya. Hal ini melibatkan pembentukan iman yang kokoh, pertumbuhan dalam kasih, serta hidup dalam kebenaran sesuai dengan Firman Tuhan. Seperti yang dinyatakan dalam Matius 28:19-20. Yesus memerintahkan para murid untuk mengajar dan membimbing bangsa-bangsa agar menjadi murid-Nya dengan mengajarkan segala perintah yang telah Dia Terdapat tiga prinsip dasar yang menjadi fondasi dalam PAK, yaitu iman, kasih, dan kebenaran Firman Tuhan. Pertama. Iman. Iman adalah dasar dari kehidupan Kristen dan merupakan respons manusia terhadap karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Dalam Ibrani 11:1 dinyatakan, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. " PAK berperan dalam menumbuhkan iman yang aktif melalui pengajaran yang berpusat pada Kristus dan Firman Tuhan. Kedua. Kasih. Kasih adalah perintah utama dalam kehidupan Kristen. Yesus sendiri menyatakan dalam Matius 22:37-39 bahwa kasih kepada Allah dan sesama adalah inti dari seluruh hukum Taurat. Kasih dalam PAK diajarkan sebagai bentuk tindakan nyata yang mencerminkan karakter Allah. Lewis menegaskan bahwa. To love at all is to be Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. 10 Ketiga. Kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman Tuhan menjadi dasar dalam pengajaran PAK. Firman Tuhan adalah sumber utama kebenaran yang mengarahkan manusia kepada pengenalan akan Allah yang benar. Dalam Yohanes 17:17. Yesus berdoa, "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran. firman-Mu adalah kebenaran. " Oleh karena itu. PAK harus berlandaskan pada kebenaran Alkitab sebagai pedoman utama dalam mendidik. Pendidikan Agama Kristen yang berpusat pada prinsip iman, kasih, dan kebenaran Firman Tuhan bertujuan tidak hanya mencerdaskan secara intelektual tetapi juga membentuk karakter yang sesuai dengan kehendak Allah. Relevansi PAK dalam Pembentukan Identitas Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting dalam membentuk identitas seseorang, terutama dalam ranah spiritual dan moral. Identitas yang kokoh dibangun melalui pengajaran nilai-nilai yang berlandaskan firman Tuhan. Menurut John Stott. The Bible is GodAos revelation of Himself. His will, and His ways to us. 11 Dengan demikian. PAK berfungsi sebagai sarana untuk memahami kebenaran Allah dan membentuk karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya. Nilai Spiritual dan Moral dalam Membentuk Jati Diri Nilai spiritual yang diajarkan dalam PAK menekankan hubungan pribadi dengan Tuhan melalui doa, penyembahan, dan perenungan firman Tuhan. Praktik-praktik ini tidak hanya memperkuat iman seseorang, tetapi juga membentuk karakter rohani yang mendalam. Arthur F. Holmes. The Idea of a Christian College, 1st ed. (London: Grand Rapids Eedemans, 2. Homrighausen dan Enklar. Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 1. Lewis. Mere Christianity, 1st ed. (New York: HarperOne, 2. John Stott. The Contemporary Christian: Applying GodAos Word to TodayAos World, 1st ed. (Downers Grove: InterVarsity Press, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. membantu individu menghadapi tantangan hidup dengan pengharapan dan keyakinan yang kokoh pada Tuhan. Nilai moral seperti kejujuran, kasih, dan kesabaran diajarkan sebagai wujud nyata dari iman Kristen yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran melatih seseorang untuk hidup dalam kebenaran, kasih mendorong tindakan yang peduli terhadap sesama, dan kesabaran memperkuat kemampuan menghadapi situasi sulit dengan Dalam Amsal 22:6 tertulis, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. " Ayat ini menegaskan pentingnya membimbing generasi muda dengan nilai-nilai rohani dan moral sejak dini, yang akan membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan sesuai dengan kehendak Tuhan. PAK sebagai Media Pengenalan Diri dan Hubungan dengan Tuhan PAK membantu peserta didik mengenal diri mereka sebagai ciptaan Allah yang berharga dan unik. Melalui pengajaran Alkitab, seseorang diajar bahwa ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. , yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki nilai dan martabat yang istimewa di hadapan Tuhan. Pengajaran ini membantu peserta didik untuk memahami bahwa identitas mereka tidak ditentukan oleh pencapaian duniawi, melainkan oleh kebenaran ilahi yang kekal. Selain itu. PAK menekankan pentingnya hubungan dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan dan kebenaran, yang tidak hanya melibatkan pengetahuan intelektual tetapi juga pengalaman pribadi yang mendalam. Seperti yang dinyatakan oleh J. Packer. Knowing God is a matter of personal involvement mind, will, and feeling. Hubungan ini membimbing peserta didik untuk mengembangkan iman yang aktif, dengan melibatkan hati, pikiran, dan tindakan dalam setiap aspek kehidupan. PAK yang berlandaskan pada firman Tuhan tidak hanya membangun aspek kognitif melalui pemahaman doktrin dan prinsip Alkitab, tetapi juga memperkaya kehidupan spiritual dan moral peserta didik. Dengan mengajarkan nilai-nilai seperti kasih, kesabaran, dan integritas. PAK mempersiapkan mereka untuk menjalani hidup yang berintegritas di tengah masyarakat. Pendidikan ini membantu mereka untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mampu menghadapi tantangan hidup dengan dasar iman yang kokoh, serta menjadi agen perubahan positif di lingkungan mereka. Faktor-Faktor Krisis Identitas pada Generasi Z Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi pembentukan identitas mereka. Salah satu tantangan utama adalah krisis identitas yang dipicu oleh kurangnya fondasi spiritual dan nilai moral yang kuat. Selain itu, pengaruh budaya populer dan sekularisme semakin memperumit proses pembentukan jati diri mereka. Kurangnya Fondasi Spiritual dan Nilai Moral Kurangnya fondasi spiritual dan nilai moral dalam kehidupan Generasi Z dapat mengakibatkan kebingungan identitas dan perilaku yang tidak terarah. Pemahaman yang dangkal terhadap prinsip-prinsip moral sering kali berakar pada minimnya pendidikan agama yang mendalam, yang menyebabkan kurangnya pedoman dalam menentukan mana yang benar dan salah. Pendidikan yang berpusat pada nilai spiritual dan moral sangat penting dalam membentuk karakter yang kokoh dan identitas yang stabil. Prinsip-prinsip seperti kasih, kejujuran, dan tanggung jawab, jika diajarkan dengan benar, mampu membantu individu menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana. Seperti yang diungkapkan oleh Dallas Willard, "Spiritual formation in Christ is the process of transformation of the inmost dimension of the human being, the heart, which is the same as the spirit or will. 13 Pernyataan ini menekankan bahwa pembentukan rohani adalah proses yang menyentuh inti terdalam manusia dan membentuk seluruh dimensi kehidupan seseorang. Ketika nilai-nilai ini tertanam Packer. Knowing God, 1st ed. (London: Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 2. Dallas Willard. Renovation of the Heart: Putting on the Character of Christ, 2nd ed. (London: Colorado Springs: NavPress, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. dengan kuat, seseorang akan memiliki prinsip yang jelas dalam membuat keputusan dan bertindak di tengah pengaruh negatif budaya modern. Oleh karena itu, penanaman nilai spiritual yang benar sejak dini sangat penting dalam membangun generasi yang memiliki moralitas yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip kebenaran ilahi. Pengaruh Budaya Populer dan Sekularisme Budaya populer yang mendominasi media sosial dan hiburan modern sering kali mempromosikan nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moral Kristen. Media sosial menjadi wadah penyebaran pandangan hidup yang menitikberatkan pada kebebasan individual tanpa batas, yang dalam banyak kasus mengabaikan nilai kebenaran absolut dan tanggung jawab moral. Fenomena ini diperkuat oleh sekularisme yang cenderung memisahkan kehidupan beretika dari keyakinan akan otoritas ilahi. Sekularisme, sebagaimana dijelaskan oleh Charles Taylor. The modern moral order. seeks to provide a framework for ethical life without reference to the divine. 14 Pernyataan ini menegaskan bahwa sekularisme menempatkan nilai-nilai moral dalam kerangka yang terlepas dari prinsip ilahi, sehingga menyebabkan krisis identitas di kalangan Generasi Z. Generasi Z yang tumbuh dalam lingkungan ini menghadapi tantangan besar dalam membangun identitas yang berlandaskan kebenaran moral yang kokoh. Mereka cenderung mengalami kebingungan dalam mendefinisikan nilai hidup yang benar di tengah paparan budaya populer yang menekankan pencapaian pribadi, kesenangan, dan eksistensi diri di atas prinsip-prinsip spiritual. Krisis identitas yang muncul merupakan dampak langsung dari minimnya pendidikan yang menanamkan fondasi spiritual dan nilai moral yang kokoh. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya menekankan pencapaian intelektual, tetapi juga pembentukan karakter yang berakar pada nilai spiritual yang mendalam. Pendidikan yang berpusat pada nilai kebenaran ilahi dapat membantu Generasi Z mengembangkan perspektif hidup yang seimbang, tangguh, dan bermakna dalam menghadapi tantangan zaman modern. Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Mengatasi Krisis Identitas Dalam dunia modern yang terus berubah dan menantang, krisis identitas telah menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan generasi muda. Krisis ini sering kali muncul dari kebingungan dalam menemukan tujuan hidup, nilai-nilai moral yang terpecah belah, dan tekanan sosial yang intens. Dalam konteks ini, pendidikan agama Kristen muncul sebagai salah satu pendekatan yang efektif dalam membantu siswa menghadapi dan mengatasi krisis Melalui penanaman nilai-nilai spiritual dan moral sejak dini, serta pemahaman yang mendalam tentang identitas mereka dalam Kristus, pendidikan agama Kristen tidak hanya membentuk karakter siswa, tetapi juga memberikan fondasi yang kuat bagi mereka untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan keyakinan dan keberanian. Menanamkan Nilai Spiritual dan Moral Sejak Dini Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Dengan mengenalkan nilai-nilai spiritual dan moral yang berlandaskan Alkitab, anak-anak dapat memiliki dasar yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup dan membangun identitas diri yang sehat. Dalam Amsal 22:6 tertulis, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Menanamkan nilai-nilai moral sejak dini membantu anak memahami konsep kebenaran, kejujuran, kasih, dan pengampunan. Pendidikan agama yang konsisten akan membentuk pola pikir anak yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kristiani. Sebagaimana dijelaskan oleh James W. Fowler dalam bukunya Stages of Faith: The Psychology of Human Charles Taylor. A Secular Age, 1st ed. (Cambridge: Harvard University Press, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Development and the Quest for Meaning, "Perkembangan iman pada anak-anak dimulai dari pengenalan terhadap nilai-nilai yang mereka terima dari lingkungan keluarga dan sekolah, yang kemudian berkembang menjadi keyakinan pribadi yang lebih matang. "15 Selain itu, pendidikan agama juga berfungsi sebagai penuntun moral yang membekali anak dengan keterampilan dalam menghadapi krisis moral di masyarakat. John M. Frame dalam The Doctrine of the Christian Life menyatakan bahwa "pendidikan Kristen harus mencakup pemahaman tentang bagaimana prinsip-prinsip moral Alkitab diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. "16 Dengan demikian, pendidikan agama berperan sebagai fondasi dalam pembentukan identitas anak sejak dini. Membantu Siswa Memahami Identitas Mereka dalam Kristus Salah satu tantangan terbesar dalam perkembangan anak dan remaja adalah pencarian Pendidikan Agama Kristen membantu siswa memahami bahwa identitas mereka tidak ditentukan oleh dunia, tetapi oleh hubungan mereka dengan Kristus. Dalam 2 Korintus 5:17 dikatakan, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Melalui pendidikan agama, siswa diajarkan bahwa mereka berharga di mata Tuhan dan diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:. Hal ini penting dalam membangun rasa percaya diri dan harga diri yang sehat. Packer dalam bukunya Knowing God menulis, "Pengakuan akan identitas kita dalam Kristus adalah kunci untuk memahami nilai sejati kita di dunia ini. "17 Dengan pemahaman ini, siswa dapat lebih mudah menolak tekanan sosial yang bertentangan dengan ajaran iman mereka. Pendidikan agama juga memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana hidup sebagai murid Kristus dalam masyarakat modern. Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship mengungkapkan bahwa "menjadi pengikut Kristus berarti memiliki identitas yang berbeda dari dunia, yaitu dengan hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya. "18 Dengan demikian, siswa yang mendapatkan pendidikan agama yang baik akan memiliki pegangan yang kuat dalam menghadapi perubahan sosial yang dapat mengancam identitas mereka sebagai orang Kristen. Pendidikan Agama Kristen memiliki peran esensial dalam membantu siswa mengatasi krisis identitas dengan menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral sejak dini serta membimbing mereka untuk memahami identitas mereka dalam Kristus. Dengan fondasi yang kuat ini, mereka dapat menjalani hidup dengan keyakinan yang teguh dan prinsip moral yang Implementasi PAK yang Efektif Dalam era digital yang terus berkembang, implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang efektif menjadi semakin penting untuk membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik. Melalui pendekatan pengajaran yang relevan dengan konteks Generasi Z dan dukungan yang kuat dari guru, keluarga, serta komunitas gereja. PAK dapat menjadi sarana yang kuat dalam membimbing anak-anak dan remaja menghadapi tantangan kehidupan. Implementasi PAK yang sukses tidak hanya membantu peserta didik memahami nilai-nilai Kristen, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang memiliki integritas, empati, dan keberanian dalam menjalani hidup mereka. Metode pengajaran yang relevan dengan konteks Generasi Z Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi digital. Mereka terbiasa dengan akses informasi yang cepat dan James W. Fowler. Stages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning, 1st (New York: HarperCollins, 2. John M. Frame. The Doctrine of the Christian Life, 2nd ed. (Phillipsburg: P&R Publishing, 2. Packer. Knowing God. Dietrich Bonhoeffer. The Cost of Discipleship, 1st ed. (New York: Macmillan, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. mudah, serta interaksi melalui layar. Oleh karena itu, metode pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus menyesuaikan diri dengan gaya belajar dan preferensi mereka. Beberapa metode yang efektif meliputi pembelajaran berbasis digital, metode diskusi dan kolaboratif, serta pendekatan storytelling dan visual. Pembelajaran berbasis digital memanfaatkan media seperti video interaktif, podcast, dan aplikasi pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman Generasi Z tentang materi PAK. Tony Reinke dalam bukunya 12 Ways Your Phone Is Changing You menyatakan bahwa "generasi yang tumbuh dengan teknologi digital memiliki gaya belajar yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang lebih interaktif. "19 Mengintegrasikan teknologi dalam pengajaran dapat membuat materi lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Metode diskusi dan kolaboratif, seperti studi kasus dan pemecahan masalah berbasis Alkitab, memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Dengan mengajak siswa untuk berdiskusi dan bekerja sama, mereka dapat menghubungkan prinsip-prinsip Kristen dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikemukakan oleh Parker J. Palmer dalam The Courage to Teach, "Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mengundang siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. "20 Selain itu, pendekatan storytelling dan visual dapat menjadi alat yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Kristen. Menyampaikan kisah Alkitab dengan animasi atau ilustrasi yang menarik dapat meningkatkan daya serap siswa dan membuat mereka lebih tertarik pada Menurut Madeleine L'Engle, "Kisah adalah cara terbaik untuk menyampaikan kebenaran yang mendalam. Dengan menggunakan cerita dan visual yang kuat, guru dapat membantu siswa memahami konsep-konsep agama dengan lebih baik. Peran Guru dalam Implementasi PAK Guru memiliki peran strategis dalam menyampaikan PAK secara efektif. Mereka harus memiliki kompetensi pedagogis dan digital untuk mengintegrasikan teknologi dalam pengajaran dan menjangkau Generasi Z. Selain itu, guru PAK harus menjadi teladan dalam kehidupan iman mereka, memberikan contoh nyata yang dapat diikuti oleh peserta didik. Seperti yang dikatakan oleh John C. Maxwell. Pimpinan adalah tentang pengaruh, dan tidak ada pengaruh yang lebih kuat daripada contoh yang kita berikan. Guru juga harus mampu membuka ruang dialog, menciptakan lingkungan yang mendorong diskusi dan refleksi iman. Generasi Z menghargai keterbukaan dan kesempatan untuk mengekspresikan pandangan mereka, sehingga peran guru dalam memfasilitasi proses ini sangat penting. Dengan membuka ruang untuk pertanyaan dan perdebatan, guru dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang iman mereka. Peran Keluarga dalam Pendidikan Agama Kristen Keluarga merupakan institusi pertama yang membentuk nilai-nilai iman anak. Keluarga dapat mendukung PAK dengan membangun kebiasaan rohani di rumah, seperti waktu doa dan membaca Alkitab bersama. Orang tua yang hidup dalam nilai-nilai Kristen akan menjadi teladan yang nyata bagi anak-anak mereka. Seperti yang dikatakan oleh James Dobson. Anak-anak belajar apa yang mereka lihat di rumah. Selain itu, keluarga juga dapat mengarahkan anak-anak mereka untuk mengakses konten rohani yang mendukung pertumbuhan iman mereka melalui media digital. 22 Penggunaan media digital secara positif dapat membantu anak-anak memahami dan menerapkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan Tony Reinke, 12 Ways Your Phone Is Changing You, 1st ed. (Wheaton: Crossway, 2. Parker J. Palmer. The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a TeacherAos Life (San Francisco: Jossey-Bass, 2. John C Maxwell. The 21 Irrefutable Laws of Leadership: Follow Them and People Will Follow You, 1st ed. (Nashville: Thomas Nelson, 2. James Dobson. The New Dare to Discipline, 1st ed. (Wheaton: Tyndale House Publishers, 2. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. sehari-hari. Keluarga yang aktif terlibat dalam pendidikan agama anak-anak mereka dapat membantu memperkuat fondasi iman mereka. Peran Komunitas Gereja dalam Pendidikan Agama Kristen Gereja sebagai komunitas iman memiliki tanggung jawab untuk mendukung pertumbuhan rohani Generasi Z. Program pemuridan berbasis generasi yang dirancang khusus untuk mereka dapat membantu menjangkau Generasi Z dengan pendekatan yang lebih relevan dan berbasis teknologi. Seperti yang dikemukakan oleh Timothy Keller, "Gereja harus menjadi komunitas yang mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus. 23 Selain itu, gereja juga harus menciptakan lingkungan yang inklusif dan menerima Generasi Z tanpa Media sosial dapat digunakan sebagai alat untuk menjangkau mereka dengan kontenkonten yang membangun iman mereka. Dengan pendekatan yang tepat, gereja dapat menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan rohani Generasi Z. Implementasi PAK yang efektif membutuhkan metode pengajaran yang relevan dengan konteks Generasi Z serta dukungan dari berbagai pihak, yaitu guru, keluarga, dan komunitas gereja. Dengan pendekatan yang tepat. PAK dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan iman peserta didik di era digital ini. Implikasi Praktis Dalam konteks ini. Pendidikan Agama Kristen (PAK) menjadi salah satu instrumen penting dalam membantu generasi Z memahami jati diri mereka yang sejati di dalam Kristus. Pendidikan Agama Kristen tidak hanya membekali pengetahuan teologis, melainkan juga memediasi proses pemulihan identitas yang telah rusak oleh pengaruh dunia yang sekuler dan Maka, penting untuk menelaah lebih lanjut implikasi praktis dari PAK bagi lembaga pendidikan, keluarga, dan gereja sebagai komunitas pendukung utama pertumbuhan iman generasi muda masa kini. Implikasi bagi Lembaga Pendidikan Lembaga pendidikan Kristen memiliki tanggung jawab penting dalam merespons krisis identitas yang dialami generasi Z dengan menyusun kurikulum yang bukan hanya informatif, tetapi juga transformatif dan kontekstual. Kurikulum semacam ini harus membumikan nilainilai kekristenan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik serta menjawab realitas sosial dan psikologis yang dihadapi oleh generasi digital ini. Kurikulum yang kontekstual memperhatikan dinamika budaya, teknologi, dan tantangan aktual yang dihadapi peserta 24 Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan Kristen harus menyentuh totalitas kehidupan dan bukan hanya aspek kognitif semata. Salah satu pendekatan kurikulum kontekstual adalah integrasi nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran, penguasaan diri, dan penghargaan terhadap sesama dalam setiap mata Misalnya, pelajaran sains bisa dikaitkan dengan tanggung jawab sebagai penjaga ciptaan Allah, sementara pelajaran sosial dapat diintegrasikan dengan nilai keadilan dan perdamaian menurut ajaran Kristus. 25 Selain itu, penting pula memasukkan topik-topik kontemporer seperti kesehatan mental, penggunaan media sosial, dan pluralisme agama dari perspektif teologi Kristen yang mendidik dan membentuk karakter. Pendidikan Agama Kristen di sekolah harus mampu menyapa realitas digitalisasi yang melekat pada generasi Z, termasuk dalam cara mengajar. Guru PAK perlu memanfaatkan media digital dan strategi pembelajaran interaktif agar pesan-pesan iman dapat diterima Timothy Keller. The Reason for God: Belief in an Age of Skepticism, 1st ed. (New York: Dutton, 2. Paulus Wiryono. Pendidikan Teologi Dan Konteks Zaman, 1st ed. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2. , 67. Yusak Soleiman. Membangun Kurikulum Pendidikan Kristen Yang Relevan, 1st ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 24. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. dengan lebih efektif dan relevan. 26 Pendidikan yang bersifat hanya transfer pengetahuan teologis, tanpa menyentuh kebutuhan eksistensial peserta didik, berisiko kehilangan daya pengaruhnya dalam pembentukan identitas Kristen yang kokoh. Lebih jauh lagi, pengembangan kurikulum PAK sebaiknya dilakukan melalui dialog antara teologi dan konteks. Sebagaimana ditegaskan oleh Harjanto, pendidikan Kristen harus melakukan refleksi yang kritis terhadap konteks zaman dan menjawabnya dengan landasan biblika dan teologis yang kuat. 27 Dalam hal ini, kurikulum bukan hanya menanamkan hafalan ayat atau dogma, tetapi mengajak peserta didik untuk mengalami Allah secara pribadi dan melihat identitas mereka sebagai ciptaan yang dikasihi, ditebus, dan dipanggil oleh Tuhan. Implikasi bagi Keluarga dan Gereja Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk mengenal Tuhan dan membentuk jati diri mereka sebagai pribadi Kristen. Dalam konteks krisis identitas generasi Z, keluarga harus kembali mengambil peran strategis sebagai komunitas iman yang menanamkan nilai-nilai Kristiani sejak dini. Sayangnya, banyak keluarga Kristen masa kini menyerahkan sepenuhnya tugas pendidikan rohani kepada sekolah atau gereja, padahal peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk spiritualitas anak. Kitab Ulangan 6:6-7 menekankan pentingnya orang tua menanamkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka setiap saat. Prinsip ini masih sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan dalam keluarga-keluarga Kristen modern. Dalam praktiknya, hal ini dapat dilakukan melalui pembacaan Alkitab bersama, doa keluarga, serta percakapan terbuka mengenai nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan Injil. Ketika anak-anak mendapatkan keteladanan iman dari orang tua mereka, maka mereka akan memiliki landasan yang kuat dalam menghadapi pengaruh luar yang merusak. Lebih dari sekadar pengajaran verbal, kesaksian hidup orang tua merupakan bentuk pendidikan yang paling berdampak. Anak-anak generasi Z sangat peka terhadap ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan. Karena itu, pendidikan iman dalam keluarga harus dibangun di atas integritas dan relasi yang sehat. 29 Dalam lingkungan yang penuh kasih, penerimaan, dan kejujuran, anak-anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan mengenal identitas mereka sebagai anak-anak Allah. Selain keluarga, gereja juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat pendidikan iman generasi muda. Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga komunitas pembinaan iman yang kontekstual. Melalui pelayanan anak, remaja, dan pemuda, gereja dapat menjadi wadah untuk pertumbuhan spiritual dan pembentukan karakter Kristen. Namun, gereja harus bersedia berinovasi dalam pendekatannya agar dapat menjangkau generasi Z secara efektif. Kegiatan pelayanan yang bersifat relasional, reflektif, dan aplikatif lebih berpotensi menyentuh hati dan kebutuhan rohani mereka. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran signifikan dalam membantu Generasi Z mengatasi krisis identitas. Melalui pendekatan pengajaran yang relevan dan dukungan dari guru, keluarga, dan komunitas gereja. PAK dapat membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik, memberikan mereka fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan. PAK tidak hanya membantu siswa memahami nilai26 Lina T. Sihombing. AiDigitalisasi Dan Pendidikan Agama Kristen: Tantangan Dan Peluang,An Jurnal Pendidikan Kristen 5, no. : 112. Harjanto. Teologi Kontekstual Dalam Pendidikan, 1st ed. (Bandung: Kalam Hidup, 2. , 88. Maria T. Simanjuntak. Keluarga Kristen Dan Pendidikan Iman Anak, 1st ed. (Jakarta: Penerbit Momentum, 2. , 45. Antonius R. Lumbanraja. Pendidikan Anak Dalam Perspektif Kristen, 1st ed. (Medan: Petra Press, 2. , 52. Dedy S. Tobing. AiPeran Gereja Dalam Pendidikan Iman Remaja,An Jurnal Teologi Praktis 4, no. : 73Ae CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. nilai Kristen, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang memiliki integritas, empati, dan keberanian dalam menjalani hidup mereka. Untuk memperdalam pemahaman tentang signifikansi PAK dalam mengatasi krisis identitas Generasi Z, penelitian selanjutnya dapat mengarahkan perhatian pada beberapa aspek berikut: pertama, mengeksplorasi dampak jangka panjang dari PAK pada perkembangan psikologis dan sosial siswa. kedua, mempelajari efektivitas berbagai metode pengajaran PAK dalam konteks yang berbeda, seperti perkotaan dan pedesaan. dan ketiga, menganalisis peran teknologi digital dalam pengajaran PAK dan bagaimana ini dapat memaksimalkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai Kristen. Selain itu, penelitian dapat juga mempertimbangkan bagaimana PAK dapat menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan budaya yang terus berkembang, serta mengukur tingkat kepuasan siswa dan pengajar terhadap implementasi PAK yang ada. DAFTAR PUSTAKA