Eirene Vol. 10 No. 1, 122-135 (Juni 2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. UKiP Sorong ISSN 2528-1887 e-ISSN 2540-962X UNDERSTANDING THE RELATIONSHIP BETWEEN THEOLOGY AND RELIGION. ETHICS AND PHILOSOPHY MEMAHAMI HUBUNGAN TEOLOGI DENGAN AGAMA. ETIKA DAN FILSAFAT Ricky Donald Montang1* Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong, *Email: rickymontang@ukip. Abstract: This research comprehensively analyzes the dynamic relationship between theology, religion, ethics, and philosophy. Although each is a distinct discipline, their interaction has significantly shaped human civilization and thought. It argues that theology serves as a systematic reflection and doctrinal interpretation of religious experience and belief, providing a conceptual framework for spiritual practice and sacred narratives. It further examines the crucial role of philosophy in shaping and critiquing theological thought, from the formulation of metaphysical arguments about the existence and nature of God, to epistemological challenges to religious knowledge. Finally, it explores how theology and philosophy collectively influence and are influenced by ethics, providing a normative basis for morality, social behavior, and justice, both in the context of revelation and rationality. By elucidating the common thread that binds these four domains, this research aims to enrich our understanding of the complexities, synergies, and tensions that exist in human endeavors to understand the reality, value, and purpose of our existence. Keywords: Relationship. Religion. Ethics. Philosophy Abstract: Riset ini menganalisis secara komprehensif hubungan dinamis antara teologi, agama, etika, dan Meskipun masing-masing merupakan disiplin yang berbeda, interaksi mereka telah membentuk peradaban dan pemikiran manusia secara signifikan. Penelitian ini berargumen bahwa teologi berfungsi sebagai refleksi sistematis dan interpretasi doktrinal atas pengalaman serta keyakinan agama, memberikan kerangka konseptual bagi praktik spiritual dan narasi sakral. Lebih lanjut, studi ini mengkaji peran krusial filsafat dalam membentuk dan mengkritisi pemikiran teologis, dari perumusan argumen metafisika tentang keberadaan dan sifat Tuhan, hingga tantangan epistemologis terhadap pengetahuan keagamaan. Akhirnya, riset ini mengeksplorasi bagaimana teologi dan filsafat secara kolektif memengaruhi dan dipengaruhi oleh etika, menyediakan dasar normatif untuk moralitas, perilaku sosial, dan keadilan, baik dalam konteks wahyu maupun rasionalitas. Dengan menguraikan benang merah yang mengikat keempat ranah ini, penelitian ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman kita tentang kompleksitas, sinergi, dan ketegangan yang ada dalam upaya manusia memahami realitas, nilai, dan tujuan eksistensinya. Kata Kunci: Hubungan. Agama. Etika. Filsafat PENDAHULUAN Agama adalah fenomena universal yang telah membentuk peradaban manusia selama ribuan tahun, memengaruhi budaya, nilai, dan pandangan dunia masyarakat di seluruh dunia. Inti dari banyak tradisi keagamaan adalah teologi, suatu disiplin intelektual yang berupaya secara sistematis mengartikulasikan, memahami, dan menjelaskan keyakinan, doktrin, serta pengalaman spiritual yang mendasarinya. Meskipun seringkali digunakan secara bergantian, hubungan antara teologi dan agama sebenarnya bersifat dinamis dan kompleks, lebih dari sekadar identitas. Agama adalah praktik hidup, tradisi. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi dan seperangkat keyakinan yang dianut oleh suatu komunitas, sementara teologi adalah refleksi kritis dan terorganisir terhadap aspek-aspek tersebut. Riset ini akan menggali hubungan intrinsik antara teologi dan agama, menganalisis bagaimana teologi berperan dalam pembentukan, pemeliharaan, dan interpretasi tradisi keagamaan. Kami akan mengeksplorasi bagaimana teologi memberikan kerangka konseptual bagi narasi sakral, ritual, dan etika keagamaan, serta bagaimana praktik agama itu sendiri menjadi sumber dan konteks bagi pemikiran Sebaliknya, penelitian ini juga akan mempertimbangkan bagaimana perubahan dalam pemahaman teologis dapat memengaruhi praktik dan ekspresi keagamaan, bahkan memicu reformasi atau perpecahan dalam suatu komunitas. Dengan mengkaji interaksi timbal balik ini, riset ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang bagaimana teologi berfungsi sebagai "jantung intelektual" agama, sekaligus bagaimana agama menyediakan "tubuh hidup" yang menghidupkan teologi. Etika, sebagai cabang filsafat yang menyelidiki prinsip-prinsip moral, nilai, dan perilaku yang benar, secara fundamental membentuk cara kita memahami kebaikan, keadilan, dan tanggung jawab. Sementara itu, teologi, sebagai studi sistematis tentang Tuhan, wahyu ilahi, dan keyakinan keagamaan, seringkali dipandang sebagai sumber utama bagi banyak sistem etika, terutama dalam konteks tradisi agama. Interaksi antara kedua disiplin ini telah menjadi subjek diskusi dan perdebatan yang intens sepanjang sejarah, karena keduanya berupaya menjawab pertanyaan fundamental tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Apakah moralitas berasal dari perintah ilahi, ataukah akal budi manusia mampu menemukan prinsip etis secara mandiri? Pertanyaan ini menyoroti kompleksitas dan pentingnya memahami hubungan timbal balik antara teologi dan etika. Riset ini bertujuan untuk menggali hubungan intrinsik dan dinamis antara teologi dan etika. Kami akan mengeksplorasi bagaimana teologi seringkali menyediakan fondasi normatif dan motivasi bagi etika, dengan ajaran tentang sifat ilahi, tujuan penciptaan, dan kehendak Tuhan yang membentuk kode moral. Sebaliknya, penelitian ini juga akan mempertimbangkan bagaimana refleksi etis dapat memengaruhi dan bahkan menantang pemahaman teologis, mendorong reinterpretasi doktrin atau pengembangan respons teologis terhadap isu-isu moral kontemporer. Dengan menganalisis berbagai model interaksiAimulai dari etika yang berbasis wahyu hingga dialog kritis antara akal dan imanAiriset ini berupaya memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang bagaimana teologi dan etika saling melengkapi dan memperkaya dalam membentuk kompas moral individu maupun masyarakat. Secara ringkas, teologi dan filsafat, meskipun berbeda dalam metode dan sumber, seringkali berinteraksi dalam pencarian kebenaran dan makna. Filsafat menyediakan kerangka berpikir kritis bagi teologi, sementara teologi dapat memberikan wawasan dan pertanyaan mendalam yang memperkaya penyelidikan filosofis. Keduanya dapat bekerja sama untuk membantu manusia memahami realitas, baik melalui wahyu maupun akal Teologi berasal dari bahasa Yunani theos (Tuha. dan logos . lmu atau kajia. , jadi secara harfiah berarti "ilmu tentang Tuhan. " Teologi berfokus pada studi tentang Tuhan, wahyu ilahi, keyakinan agama, doktrin, dan praktik keagamaan. Sumber utamanya adalah wahyu . ering kali kitab suc. , tradisi keagamaan, dan pengalaman Tujuannya adalah untuk memahami dan menjelaskan kebenaran-kebenaran iman, serta membimbing kehidupan spiritual dan moral. Teologi bersifat iman-berbasis. Montang at. al : Memahami Hubungan . artinya ia menerima premis-premis tertentu yang bersumber dari wahyu sebagai titik Filsafat berarti "cinta akan kebijaksanaan" . hilos = cinta, sophia = Filsafat menggunakan akal budi . dan penalaran logis untuk menyelidiki pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang keberadaan, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan moralitas. Sumber utamanya adalah pemikiran rasional dan pengalaman Tujuannya adalah untuk mencari kebenaran melalui argumen rasional, analisis konseptual, dan refleksi kritis. Filsafat bersifat rasio-berbasis, artinya ia tidak bergantung pada wahyu atau dogma tertentu. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pustaka atau sering disebut juga studi literatur atau kajian pustaka, adalah salah satu metode penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber tertulis. Sumber-sumber ini bisa berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dokumen historis, majalah, surat kabar, dan sumber relevan lainnya yang sudah dipublikasikan. Metode ini merupakan fondasi penting dalam hampir semua jenis penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun campuran. Secara keseluruhan, metode pustaka adalah langkah fundamental yang krusial dalam penelitian. Ia bukan sekadar mengumpulkan buku, tetapi melibatkan proses sistematis untuk mencari, mengevaluasi, menganalisis, dan menyintesis informasi guna membangun dasar yang kuat bagi suatu penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hal yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah menyangkut hubungan antara teologi dan agama, teologi dan etika serta teologi dan filsafat. Bahasannya adalah sebagai berikut: TEOLOGI DAN AGAMA Dalam bagian ini akan menjelaskan mengenai hubungan dan perbedaan teologi dan agama. Karena itu, perlu sekali untuk memahami bagaimana agama itu dan apa fungsinya bagi kehidupan umat manusia. Definisi Agama Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ajaran, system yang mengatur tata keimanan . dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta Ada beberapa definisi agama menurut beberapa ahli, yaitu: yOmile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Menurut Anthony F. Wallace: Agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan Menurut Sutan Takdir Alisyahbana agama adalah suatu system kelakuan dan perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian member arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya. Hasal Alwi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Agama berasal dari dua kata a artinya tidak dan gama artinya kacau, sehingga agama artinya tidak kacau. Dengan demikian, agama artinya suatu kepercayaan manusia terhadap Allah yang menciptakan alam semesta, yang memberikan firman-Nya sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan supaya manusia menjadi orang yang baik sehingga akhirnya dunia ini tidak Asal-Usul Agama Ada banyak pandangan atau teori dalam hubungannya dengan asal-usul agama, yang bisa menolong dalam membuka wawasan untuk memahami agama lebih baik. Hubungan Dengan Antropologis Dalam hubungan dengan antropologis, asal-mula kepercayaan agama berasal dari Totemisme. Orang-orang primitive pada waktu itu mempercayai bahwa ada suatu hubungan yang sangat erat antar manusia dengan binatang, bahkan menganggap bahwa binatang adalah nenek moyangnya. Mereka juga mempercayai bahwa dalam benda-benda ada sejenis roh pelindung manusia dalam wujud binatang. Mereka inilah yang dijadikan sebagai objek penyembahan, dan dari sinilah muncul agama. Hubungan Dengan Sosiologis Asal-mula agama juga dilihat dalam hubungannya dengan sosiologis, di mana manusia memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan sebagai makhluk Hal ini yang membuat manusia atau masyarakat yang ada merasakan kepuasan atau kebehagiaan, karena ada kehidupan yang rukun dan damai antara satu dengan yang Supaya kehidupan yang seperti ini terus ada dan terjaga dengan baik, maka muncullah agama supaya tidak kacau. Hubungan Dengan Psikologis Menurut Straton dengan teori AukonflikAy nya, mengatakan bahwa awal mula kepercayaan kepada Allah disebabkan oleh adanya konflik dalam diri manusia. Konflik itu disebabkan oleh keberadaan antara baik dan jahat, moral dan amoral, pasif dan aktif, hidup dan mati. Konflik ini membawa dampak sehingga mempengaruhi kejiwaan Dalam kondisi inilah, timbul keinginan dan kerinduan untuk mendapat pertolongan dari yang lebih tinggi, yang lebih berkuasa dari dirinya untuk menyelesaikan konflik yang muncul. Hal inilah yang menyebabkan munculnya agama. Fungsi Agama Ada beberapa fungsi dari agama, yang senantiasa melekat pada agama yang harus disadari dan dipahami dengan baik oleh orang-orang yang beragama, yaitu: Sebagai Edukatif Agama memiliki fungsi sebagai edukatif atau pendidikan. Melalui agama manusia diajarkan akan hukum-hukum yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga hari-hari yang penting dan dirayakan oleh orang-orang yang beragama, dengan tujuan supaya manusia bisa mengikutinya dan akhirnya manusia yang beragama bisa menjadi orang yang baik dalam segala aspek kehidupan sehingga dunia ini tidak kacau. Sebagai Pembaharu Montang at. al : Memahami Hubungan . Agama tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan tetapi juga berfungsi sebagai pembaharu hidup dari manusia yang beragama. Setiap agama pasti memiliki Kitab Suci yang berisi hukum-hukum Tuhan mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan memahami hukum-hukum Tuhan, diharapkan umat Tuhan menyadari akan kehidupannya yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan, dan mau memperbaharui hidupnya secara terus-menerus sehingga hidupnya semakin baik di hadapan Sang Pencipta-Nya. Sebagai Penyelamat Agama memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai penyelamat. Hal ini pasti diakui secara umum oleh umat yang beragama. Fungsi agama sebagai penyelamat, baik kehidupan yang bersifat kekinian maupun yang bersifat keakanan, baik di dunia ini maupun di akhirat. Agama memungkinkan kita untuk memelihara alam semesta ini dengan baik, membangun keluarga yang bahagia, membangun pemerintahan yang baik, membangun hubungan yang baik antara satu dengan yang lain, ini semua keselamatan yang bersifat kekinian atau keselamatan di dunia ini. Sementara keselamatan yang bersifat keakanan atau keselamatan di akhirat, agama mengharuskan kita beriman atau melakukan kehendak Tuhan dalam firman-Nya supaya kita memperoleh keselamatan di Sebagai Pendamai Agama memiliki fungsi sebagai pendamai. Sebagai salah satu alasan mengapa munculnya agama adalah manusia tidak ingin adanya kekacauan, karena itu agama artinya tidak kacau. Pada dasarnya naluri manusia menginginkan suatu kehidupan yang rukun dan damai antara satu dengan yang lain. Agama sangat menolong umat manusia untuk melakukan ajaran-ajaran agamanya sehingga manusia bisa hidup baik dan saleh, tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, menghargai orang lain dan akhirnya tercipta kehidupan yang rukun dan damai, yang membuat tidak kacau. Sebagai Sosial Kontrol Agama juga berfungsi sebagai sosial kontrol dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penganut agama, mereka secara langsung dan tidak langsung mereka terikat dengan ajaran-ajaran yang ada dalam setiap Kitab Suci, yang mengharuskan umat-Nya untuk melakukannya baik secara pribadi maupun secara kelompok. Oleh para penganutnya, agama dianggap sebagai pengawas sosial atau sosial kontrol. Hal ini terlihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi maupun kelompok. Pada waktu umat yang beragama mendengar atau membaca dari Kitab Suci mengenai ajaran-ajaran yang harus dilakukan dan dalam kenyataannya tidak dilakukan atau menyimpang dari ajaran Kitab Suci, maka disinlah fungsi sosial kontrol dari agama. Hubungan Teologi dan Agama Teologi memiliki hubungan yang sangat erat dengan agama, seperti mata uang yang sebelah menyebelah tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ketika berbicara mengenai teologi, maka sesungguhnya kita bicara juga tentang agama, dan ketika kita bicara tentang agama, maka kita juga sedang bicara teologi. I Packer. Fundamentalism and the Word of God (Grand Rapids: Eerdmans, 1. Ricky Donald Montang. Kingdom Driven Life (Gowa: CV. Ruang Tentor, 2. Brian. j Bailey. Pilar-Pilar Iman (Jakarta: Zio Cristian, 2. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Teologi Adalah Doktrin dari Agama Teologi memiliki definisi yang sempit dan juga definisi yang luas. Dalam arti sempit, teologi adalah ajaran tentang Tuhan. Sementara dalam arti luas, teologi adalah ajaran atau doktrin tentang Tuhan dan hubungannya dengan ciptaan-Nya secara khusus Dengan kata lain, teologi adalah semua doktrin atau ajaran yang dijelaskan oleh Kitab Suci. Dengan demikian, kalau teologi adalah semua ajaran dalam Kitab Suci dan semua agama pasti memiliki Kitab Suci, maka teologi adalah ajaran atau doktin dari Teologi Adalah Dasar dari Agama Teologi adalah ajaran atau doktrin dari agama, karena itu agama tanpa teologi maka itu bukan agama, demikian pula sebaliknya teologi tanpa agama tidak ada artinya. Hal ini menunjukkan bahwa ada sutu kaitan yang sangat erat antara teologi dan agama, karena itu bisa dikatakan bahwa teologi adalah dasar dari agama. Teologi mengajarkan Allah yang di puji dan di sembah oleh orang yang beragama, dan adanya agama karena adanya kepercayaan tentang Tuhan. Tanpa ada kepercayaan tentang Tuhan maka tidak mungkin ada agama. Dengan demikian, teologi yang mengajarkan tentang Tuhan merupakan dasar dari agama. Teologi Adalah Subyek dari Agama Teologi dalam arti yang sempit berbicara mengenai ajaran tentang Allah. Dalam agama. Allah dipercayai sebagai Pencipta segala sesuatu, dan karena itu, menjadi subyek dari segala sesuatu. Berbicara mengenai subyek, maka itu berarti berbicara mengenai sumber atau pelaku. Allahlah yang menjadi sumber segala sesuatu dan pelaku segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan sifat-Nya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teologi adalah subyek dari agama. Teologi Adalah Obyek dari Agama Teologi bukan hanya menjdi subyek dari agama, tetapi sekaligus juga menjadi obyek dari agama. Ketika berbicara mengenai teologi, pasti bicara mengenai Allah pencipta dan pemelihara segala sesuatu, karena itu. Dia menjadi obyek dari pujian dan penyembahan umat-Nya. Allah menjadi sasaran dari segala sesuatu yang dilakukan oleh umat-Nya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teologi adalah obyek dari agama. TEOLOGI DAN ETIKA Teologi dan etika memiliki hubungan yang sangat erat, yang sangat sulit dipisahkan satu dengan yang lainnya, walaupun ada juga perbedaannya. Teologi menyadarkan manusia akan pentingnya etika, dan etika juga mengajarkan manusia akan pentingnya teologi. Definisi Etika Kata etika berasal dari kata Yunani ethos atau ethikos. Ethos artinya kebiasaan. Kata ethikos lebih berarti kesusilaan, perasaan batin atau kecenderungan hati dengan mana seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan. Dalam bahasa Latin kata ethos atau ethikos disebut dengan kata mos dan moralitas. Karena itu, etika sering juga diterangkan Montang at. al : Memahami Hubungan . dengan kata moral. Menurut Verkuyl,5 etika dalam bahasa Indonesia disebut kesusilaan. Kata sila dalam bahasa Sansekerta memiliki banyak arti. Norma . , peraturan hidup, perintah. Kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga: sikap, keadaban, siasat batin, perikelakuan, sopan santun. Kata su berart: baik, bagus. Kata ini pertama menunjukkan norma dan menerangkan bahwa norma itu baik. Kedua, menunjukkan sikap terhadap norma itu dan menyatakan bahwa perikelakuan harus sesuai dengan norma. Karena itu kata kesusilaan tepat untuk menyatakan pengertian Etika. Ada beberapa definisi dari para ahli mengenai etika. Menurut Aristoteles ada dua pengertian etika yakni: Terminius Technicus dan Manner and Custom. Terminius Technicus ialah etika dipelajari sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari suatu problema tindakan atau perbuatan manusia. Sedangkan yang kedua yaitu, manner and custom ialah suatu pembahasan etika yang terkait dengan tata cara & adat kebiasaan yang melekat dalam kodrat manusia . n herent in human natur. yang sangat terikat dengan arti Aubaik & burukAy suatu perilaku, tingkah laku atau perbuatan manusia. Hamzah Yakub berkata AuEtika merupakan ilmu yang menyelidiki suatu perbuatan mana yang baik dan buruk serta memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiranAy. Bagi W. Poerwadarwinto AuMenjelaskan etika sebagai ilmu pengetahuan mengenai asas-asas atau dasar-dasar moral dan akhlakAy. Menurut Verkuyl. Etika bergerak pada lapngan kesusilaan, artinya ia bertalian dengan norma-norma yang seharusnya berlaku di situ dan dengan ketaatan batiniah pada norma-norma itu. Dengan demikian, etika adalah norma-norma tentang hal yang baik dan benar, yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada sesamanya sehingga tercipta suatu kehidupan yang rukun dan damai. Jenis-Jenis Etika Ada beberapa jenis atau macam dari etika, yang perlu dipahami dengan baik, sehingga bisa beretika dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Etika Filosofis Kata filosofis dari kata Yunani philos artinya cinta. Sehingga etika filosofis adalah etika yang mengelompokkan perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan moralitas yang dipandang dari sudut filsafat. Etika Teologis Etika Teologis adalah etika yang dibahas sesuai dengan teologi atau ajaran Kristen. Etika ini akan terwujud pada waktu seseorang mengetahu tujuan hidupnya sebagai orang Kristen. Etika teologis memandang perbuatan sebagai suatu tindakan yang berhubungan dengan ketaatan kepada perintah Tuhan, juga diwujudkan sebagai pernyataan kasih dan penyerahan diri kepada Tuhan. Etika Sosiologis Etika sosiologis adalah etika yang membahas mengenai hubungan pribadi seseorang dengan masyarakat atau lingkungan yang ada. Etika ini mengatur bagaimana seseorang berperilaku yang baik dan benar di tengah-tengah masyarakat, keluarga sehingga terbangun suatu hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya. Verkuyl. Etika Kristen: Bagian Umum (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Etika Deskriptif Etika Deskriptif adalah etika yang berfokus pada penilaian terhadap sikap atau perilaku manusia dalam mencapai apa yang diinginkannya dalam hidup. Etika ini secara khusus menyoroti bagaiman perilaku manusia ketika berusaha menggapai sesuatu yang dia inginkan tetapi situasi di sekitar tidak mendukung atu tidak memungkinkan. Etika Normatif Etika Normatif adalah etika yang berusaha untuk menerapkan hasil yang ideal antara norma-norma yang ada dengan kelakuan umat manusia dalam bertindak di dalam kehidupan bermasyarakat. Etika ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu: Etika khusus dan etika umum. Etika khusus adalah etika yang mengatur umat manusia secara khusus hanya pada bidang-bidang tertentu saja. Etika umum adalah etika yang mengatur kehidupan yang bersifat universal tanpa membedakan suku, agama, budaya, bahasa, ras dan siatuasi pada kelompok tertentu. Etika Deontologis Etika Deontologis adalah etika yang berlaku mutlak di dalam kehidupan umat Etika jenis ini harus dilakukan tanpa memperhatikan situasi dan kondisi yang Akibat dari etika ini tidak memperhitungkan untung rugi, namun lebih pada terlaksananya suatu perbuatan baik dalam kehidupan masyarakat. Etika Teleologis Etika Teleologis adalah etika yang menjadi tolok ukur tentang perbuatan yang baik atau buruk dari suatu tindakan. Etika ini menekankan, bagaimana seseorang perlu mempertimbangkan suatu tindakan sebelum melakukannya supaya perbuatan baiknya dapat terwujud. Dalam etika ini, suatu perbuatan yang tujuannya untuk kebaikan, akan selaalu dinilai baik. Fungsi Etika Ada beberapa fungsi etika dalam kehidupan sehari-hari yang sangat penting untuk diketahui dan dilaksanakan dalam kehidupan sebagai umat manusia, sehingga menjadi manusia yang beretika. Sebagai Penuntun Etika memiliki fungsi sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan sehingga menjadi manusia yang beretika yang akhirnya berdampak dalam kehidupan yang rukun dan damai antara satu dengan yang lainnya. Etika memberikan orientasi dalam menuntun umat manusia, bagaimana menjalani hidup yang baik dalam membangun kehidupan yang Etika menuntun umat manusia bagaimana mengambil keputusan dalam situasi yang sulit atau emergency, sehingga bisa membuat keputusan yang bijaksana. Sebagai Filter Etika memiliki fungsi sebagai filter mengenai baik atau buruknya suatu perbuatan. Memfilter baik atau benarnya suatu tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri ataupun orang lain. Dalam kehidupan Kristen, etika berfungsi memfilter apakah hidup ini Stephen Tong. Kerajaan Allah. Gereja &Pelayanan (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. Montang at. al : Memahami Hubungan . berkenan kepada Tuhan atau tidak. Etika memfilter mana yang merupakan keharusan dan mana yang berupa pilihan. Mana yang bersifat wajib dan mana yang bersifat relatif. Sebagai Transformasi Etika memili fungsi mentransformasi manusia supaya hidup semakin baik. Sehingga cara-cara hidup yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku, terus berusaha untuk memperbaikinya sehingga hidup semakin beretika. Hidup yang tadinya tidak baik, tetapi karena memahami etika yang baik dalam kehidupan sehari-hari sehingga mau mentransmormasi diri untuk hidup semakin baik. Hubungan Teologi dan Etika Teologi memiliki hubungan yang erat dengan etika dalam hal-hal tertentu, secara khusus menyangkut norma-norma atau pun perilaku yang harus dilakukan oleh umat Teologi Adalah Etika Berbicara mengenai teologi dalam arti luas, yaitu menunjuk kepada ajaran tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaan-Nya secara khusus manusia maka pastilah berbicara mengenai etika. Walaupun teologi bukan seluruhnya berbicara mengenai etika, tetapi etika adalah bagian dari teologi. Sehingga bisa dikatakan bahwa teologi adalah etika, secara khusus dalam hubungan dengan Allah dan ciptaan-Nya. Etika merupakan salah satu cabang dari ilmu teologi, yaitu teologi praktika. Sehingga bisa dikatakan bahwa teologi adalah etika dalam arti khusus, karena etika adalah salah satu cabang dari ilmu Teologi Adalah Sumber dari Etika Teologi secara luas, berbicara mengenai semua doktrin atau ajaran yang ada dalam Kitab Suci dalam hal ini Alkitab. Sehingga sumber utama teologi adalah Kitab Suci. Kalau teologi bersumber dari Kitab Suci, maka bisa dikatakan juga bahwa teologi adalah sumber dari etika. Hal ini berarti, orang yang belajar teologi pastilah akan belajar juga etika, dan orang yang belajar etika, pasti juga akan belajar sebagai dari teologi. Implikasi Praktis Teologi memiliki hubungan yang sangat erat dengan etika, karena itu memiliki implikasi praktis dalam kehidupan sehari, yang berdampak dalam segala area kehidupan Dimensi Keatas Dalam dimensi ke atas, orang yang belajar teologi dan menerapkan etika dalam kehidupan sehari-hari seharusnya dia semakin takut akan Tuhan dan semakin mengasihi Tuhan dalam kehidupannya setiap hari. Hal ini diwujudkan dalam bentuk ketaatannya terhadap hukum-hukum Tuhan, yang juga akhirnya berdampak pada ibadah dan penyembahannya kepada Tuhan semakin dalam dan akhirnya berkenan kepada Tuhan. Dimensi Kebawah Ricky Donald Montang. Doktrin Tentang Allah (Gowa: CV. Ruang Tentor, 2. Verkuyl. Aku Percaya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 43 215,Ay n. , 215Ae32. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Dalam dimensi ke bawah, orang yang belajat ataupun memahami teologi dengan baik dan benar, membuat dia semakin menjunjung tinggi norm-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari sehingga semakin mengasihi sesamanya manusia, yang diwujudnyatakan dalam bentuk perbuatan baik kepada sesama dengan cara menghormati, menghargai, menolong sehingga tercipta kehidupan yang rukun dan damai antara satu dengan yang lainnya. Inilah tujuannya belajar teologi dan etika, dalam membangun tatanan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Dimensi Kedalam Dalam dimensi ke dalam, teologi dan etika seharus membentuk manusia, menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Karena memahami teologi dan etika dengan baik, sehingga temotivasi untuk membenahi diri sendiri untuk terus maju dan mengembangkan diri, sehingga bisa berkarya dan berkontribusi bagi Sang Pencipta dan bagi orang lain. TEOLOGI DAN FILSAFAT Teologi memiliki hubungan dengan filsafat, dalam hal-hal tertentu walaupun pandangan yang negatif tentang filsafat lebih dominan dari pada yang positifnya. Filsafat di sini akan dilihat dari perspektif Kristen. Definisi Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang terdiri dari dua kata, yaitu: philos artinya cinta dan sophia artinya hikmat atau kebijaksanaan. Sehingga filsafat artinya cinta kebijaksanaan. Karena cinta pada kebijaksanaan sehingga terus mencari dan menemukan kebenaran. Ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles . -322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda. Marcus Tullius Cicero . Ae 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya. Menurut Kattsoff, bahwa pengertian filsafat adalah sebagai berikut1. Filsafat adalah berpikir secara kritis, 2. Filsafat adalah berpikir dalam bentuk yang sistematis. Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut. Filsafat adalah berpikir secara rasional. Filsafat bersifat komprehensif. Aliran-Aliran Filsafat Walaupun filsafat tidak mampu memberikan jawaban yang mutlak, tetapi filsafat bisa memberikan jawaban yang rasional, kritis dan sistematis. Ada beberapa filsuf yang terkenal akan pemikirannya yang besar, yaitu: Aristoteles. Plato. Jacques Derrida. Immanuel Kant, dan Thomas Aquinas. Masing-masing filsuf memiliki pemikian dan cara pandang yang berbeda, oleh sebab itu filsafat sangat menarik untuk dipelajari. Berikut ini 10 aliran filsafat yang mempengaruhi pola pikir manusia. Rasionalisme Aliran filsafat Rasionalisme merupakan aliran yang sangat memegang teguh pada akal atau menjunjung tinggi akal. Bagi aliran ini, akal merupakan alat yang terpenting Ricky Donald Montang. Doktrin Tentang Alkitab (Sorong: Universitas Kristen Papua, 2. Montang at. al : Memahami Hubungan . dalam memperoleh dan menguji suatu pengetahuan. Karena itu, pengetahuan dapat dicari melalui akal dan penemuannya dapat diukur dengan akal pula. Dapat dicari dengan akal artinya menggunakan pemikiran yang logis atau masuk akal. Sementara diukur dengan akal artinya apakah penemuan itu logis atau tidak. Apabila logis maka dapat dipastikan bahwa itu benar, tetapi apabila tidak logis maka itu pasti tidak benar. Empirisme Menurut aliran filsafat Empirisme, dalam menentukan suatu kebenaran perlu ada pembuktian secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Menurut aliran filsafat ini, pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman dan perantaraan indera. Aliran filsafat ini membawa dampak pada bidang hukum dan hak asasi manusia. Positivisme Aliran filsafat Positivisme adalah aliran filsafat yang menjadikan fakta-fakta sebagai dasar kebenaran atau bersifat faktual. Pengetahuan harus bersifat fakta dan obyek dari pengetahuan adalah fakta. Hal ini berarti suatu kebenaran atau pengetahuan bisa dipercayai sebagai suatu kebenaran atau pengetahuan yang valid apabila ada fakta. Apabil tidak ada suatu fakta atau bukti, maka itu bukan suatu kebenaran atau pengetahuan. Kritisisme Aliran filsafat Kritisisme adalah aliran filsafat yang melakukan penyelidikan terhadap rasio beserta batasan-batasannya. Aliran filsafat ini mengkritik pandangan Rasionalisme dan Empirisme, yang mengandalkan akal dan pengalaman dalam menentukan suatu kebenaran. Idealisme Aliran filsafat Idealisme adalah aliran filsafat yang mempercayai bahwa sesuatu yang konkret hanyalah hasil gagasan atau ide pemikiran manusia. Menurut aliran ini, ide atau gagasan merupakan pengetahuan dan kebenaran tertinggi. Dalam mengetahui dan memahami sesuatu, idealisme menggunakan metode dialog, pemikiran dan perenungan atau metode dialektik. Naturalisme Aliran filsafat Naturalisme adalah aliran filsafat dari hasil berlakunya hukum alam Menurut aliran Naturalisme, setiap manusia yang lahir ke bumi membawa tujuan yang baik dan tidak ada seorang pun membawa tujuan yang buruk. Layaknya setiap bayi yang terlahir dalam keadaan suci dan Tuhan telah menganugerahkan berbagai potensi yang dapat berkembang secara alami kepadanya. Kaum Naturalisme menyebut hal itu sebagai kodrat. Untuk mempertahankan kodrat tersebut, maka diperlukan adanya Materialisme Aliran filsafat Materialisme adalah aliran filsafat yang menghakikatkan materi sebagai segalanya. Oleh sebab itu, materialisme menggunakan metafisika. Jenis metafisika yang digunakan tentu saja metafisika materialisme. Materialisme menekankan bahwa faktor-faktor material memiliki keunggulan terhadap spiritual dalam fisiologi, efistemologi, penjelasan histori, dan sebagainya. Menurut Materialisme, pikiran . oh, jiwa, dan kesadara. merupakan materi yang bergerak Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Intuisionisme Aliran filsafat Intuisionisme adalah aliran filsafat yang menganggap intuisi . aluri atau perasaa. sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi adalah aktivitas berpikir yang tidak didasarkan atas penalaran dan tidak bercampur aduk dengan perasaan. Ketika seseorang telah berpikir dengan keras namun ia tak kunjung mendapatkan solusi dari suatu masalah, lalu setelah itu ia menghentikan dan mengistirahatkan pikirannya sejenak, maka pada saat itulah intuisi kerap hadir. Intuisi ada begitu saja secara tiba-tiba. Fenomenalisme Aliran filsafat Fenomenalisme adalah aliran filsafat yang menganggap fenomena . sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Kaum Fenomenalisme menggunakan metode penelitian "a way of looking at Oleh sebab itu, mereka berbeda dengan ahli ilmu positif yang menggunakan metode penelitian berupa mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta menentukan hukum dan teori. Sekularisme Aliran filsafat Sekularisme adalah aliran filsafat yang membebaskan manusia dari hal-hal yang bersifat supernaturalisme atau keagamaan. Dengan kata lain, sekularisme hanya bersifat keduniawian. Sekularisme mengarahkan manusia untuk tidak percaya kepada Tuhan, kitab suci, dan hari akhir. Pada mulanya, sekularisme bukanlah salah satu aliran filsafat, melainkan hanya gerakan protes terhadap bidang sosial dan politik. Fungsi Filsafat Filsafat memiliki fungsi yang positif dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hidup orang Kristen. Membentuk Sifat Kritis Filsafat memiliki fungsi dalam membentuk pemikiran yang kritis pada seseorang. Hal tersebut tentunya sangat berguna untuk diterapkan dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Sehingga ketika menghadapi masalah apapun diharapkan manusia dapat berpikir dengan rasional supaya tidak terjebak oleh segala sifat fanatisme. Membantu Kemampuan Analisis Filsafat berfungsi membantu kemampuan analisis. Berpikir secara filsafat tentunya sangat dibutuhkan oleh para pelajar maupun peneliti. Karena dengan demikian kemampuan dalam menganalisa akan semakin terasah. Sehingga analisa dapat dilakukan dengan kritis dan komprehensif untuk mengatasi berbagai permasalahan ilmiah dalam Pada poin berikut filsafat dilakukan pada konteks pengetahuan yang menomorsatukan kontrol. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa nilai pengetahuan ada karena memiliki fungsi, lain halnya dengan fungsi filsafat yang ada karena nilai yang Menolong Pemecahan Masalah Filsafat berfungsi menolong dalam pemecahan masalah. Ilmu filsafat mengajak manusia supaya berpikir secara bijak dalam mengatasi berbagai persoalan. Dengan menggunakan cara berpikir filsafat maka diharapkan manusia dapat mengidentifikasi Montang at. al : Memahami Hubungan . masalah tersebut dan memudahkannya dalam mendapatkan jawaban. Sehingga masalah dapat dipecahkan tanpa kesulitan. Hubungan Teologi dan Filsafat Millard J. Erickson dalam bukunya memberikan jenis-jenis hubungan antara teologi dan filsafat, yaitu:10 Teologi dan Filsafat Tidak Ada Hubungan Sama Sekali Pendekatan ini sudah terdapat pada masa Tertulianus . , dengan pernyataanya yang terkenal: Apa yang sama antara Atena dengan Yerusalem? Apa yang sama antara akademi dengan gereja? Apa kesamaan antara penganut ajaran sesat dengan orang Kristen? Pendekatan ini menganggap filsafat tidak dapat menyumbangkan apa-apa kepada teologi Kristen. Sebenarnya, keduanya mempunyai sasaran yang berbeda sehingga sangat dianjurkan kepada orang Kristen untuk menjauhi hubungan dan dialog dengan filsafat sama sekali. Teologi Dapat Diuraikan Dengan Jelas Oleh Filsafat Pandangan ini merupakan pendapat dari Augustinus yang merasa bahwa teologi dapat diuraikan dengan jelas oleh filsafat. Augustinus menekankan pentingnya iman serta penerimaan wahyu Alkitab, namun juga menegaskan bahwa filsafat dapat membantu kita memahami teologi Kristen dengan lebih baik. Teologi Kadang-Kadang Diteguhkan oleh Filsafat Ketika teologi Kristen mulai berjumpa dengan kekafiran dan juga agama-agama non Kristen lainnya, maka perlulah ditemukan suatu dasar netral untuk mendirikan kebenaran amanat yang berwibawa. Thomas menemukan landasan netral tersebut di dalam argumentasi Arisoteles yang mendukung adanya Allah. Dalam kasus ini teologi memperoleh kredibilitasnya dari filsafat. Teologi Dapat Dinilai Oleh Filsafat Dari anggapan bahwa teologi dapat dibuktikan oleh filsafat muncullah perkembangan logisnya yaitu bahwa teologi harus dibuktikan oleh filsafat agar dapat Aliran Deisme memutuskan untuk menerima hanya prinsip-prinsip keagamaan yang dapat diuji dan dibuktikan oleh akal. Dalam Beberapa Kasus Tertentu Filsafat Bahkan Memberikan Isi pada Teologi Georg Hegel, misalnya menafsirkan agama Kristen menurut filsafat idealismenya Hasilnya ialah kekristenan yang telah dirasionalisasikan secara menyeluruh. Hegel menganggap kebenaran-kebenaran agama Kristen sebagai sekedar contoh-contoh kebenaran universal, yaitu suatu pola dialektik yang diikuti oleh sejarah. PENUTUP Teologi dan filsafat bisa menjadi sarana mengenal Allah, karena hal ini dapat dipahami dari prinsip-prinsip yang terkandung di dalam kedua hal tersebut. Filsafat dipahami sebagai cinta hikmat atau kebijaksanaan. Hikmat merupakan suatu kebenaran yang diajarkan dalam teologi atau diajarkan dalam Alkitab. Dalam hal ini filsafat selaras Millard J Erickson. Christian Theology (Grand Rapids: Baker Academic, 1. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi dengan teologi, seperti yang dikatakan dalam Amsal 4:6 AuJanganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijagainyaAy. Juga dalam Amsal 1:7 AuTakut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikanAy. Hal ini berarti, berfilsafat yang benar harus terlebih dahulu takut akan Tuhan. DAFTAR PUSTAKA