GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI BERDASARKAN ASPEK KESIAPAN BELAJAR MURID DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Dian Fitriani1. Fatihatunnisa Ridha Rahman 2. Anti Dhamayanti Fauzi3. Anisa Umu Salamah4. Asep Saefullah5 1,2,3,4Pendidikan Profesi Guru. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Banten Indonesia 5Pendidikan Fisika. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Banten. Indonesia 1Email: diaftrian25@gmail. Abstract Perbedaan karakteristik murid menjadi sebuah tantangan bagi guru untuk menentukan suatu metode dan pendekatan yang akan digunakan dalam pembelajaran guna memfasilitasi kebutuhan belajar dari murid, yang terdiri dari kesiapan belajar, profil murid, dan minat. Pembelajaran diferensiasi menjadi salah satu upaya yang dapat menunjang kebutuhan belajar yang beragam dari murid di kelas. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui dampak positif yang dihasilkan dari kegiatan implementasi pembelajaran diferensiasi berdasarkan tingkat kesiapan belajar murid. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah metode deskriftif analitis melalui pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dari hasil observasi di kelas selama kegiatan belajar. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan kesiapan belajar dapat berdampak positif pada diri murid dan guru, yaitu . Setiap murid mengikuti pembelajaran dengan baik. Rasa percaya diri dan motivasi murid meningkat berakibat murid berperan aktif dalam belajar. Guru termotimasi untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengajar. Kata-kata kunci: Pembelajaran diferensiasi, kebutuhan belajar, kesiapan belajar, profil murid, minat eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GENTA MULIA- JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani Pendahuluan Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan sebuah peraturan yang tertera dalam PP Nomor 57 Tahun 2021 mengenai Standar Nasional Pendidikan yaitu AuPendidikan merupakan suatu upaya sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar murid secara independen mengembangkan potensi yang diri agar memiliki kekuatan rohani, pengelolaan diri, budi pekerti, berkarakter, intelektual, serta keahlian bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy (Septa et al. , 2. Pendidikan berperan penting dalam perkembangan dan manifestasi setiap perseorangan. Pendidikan menjadi instrumen bagi pencapaian kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia (Wulandari. Kegiatan belajar dan mengajar menjadi komponen penting dalam proses Kegiatan belajar dan mengajar merupakan suatu siklus yang dimulai dengan memetakan standar kecakapan, merencanakan aktivitas pembelajaran, serta melaksanakan asesmen untuk mengevaluasi pembelajaran agar murid mencapai kecakapan yang telah diinginkan (Kemendikbud, 2022. ) Kesuksesan proses belajar murid dipengaruhi oleh beragam faktor yang berasal dari internal dan eksternal murid. Setiap faktor berkontribusi sesuai dengan bagian dan harapan yang akan diraih pada proses belajar (Restiani, 2. Adapun faktor internal meliputi bakat, motivasi, kesiapan dan cara belajar. Sementara faktor eksternal salah satunya berasal dari lingkungan sekolah yaitu kurikulum, teknik mengajar, anggota sekolah, peraturan sekolah serta sarana dan prasarana (Salsabila. Sejatinya setiap murid di dalam kelas tentu memiliki karakteristik yang beragam, maka dengan perbedaan karakteristik satu sama lain menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh guru. Berbagai keputusan dan upaya yang telah dikerjakan oleh para pendidik, tentu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar para murid, serta dengan harapan mereka dapat sukses dalam kegiatan belajar. Masing-masing murid mempunyai pengetahuan dan kesiapan yang berbeda saat menerima materi pelajaran di kelas (Kamal. Murid memiliki jenjang kecakapan berbeda saat menyerap dan menguasai materi yang diberikan oleh guru , yakni terdapat murid yang cepat belajar, sedang dan lambat laun (Ediyanto, 2. Adanya banyak perbedaan setiap murid, tentu perlu adanya upaya yang Salah satu upaya yang dapat menangani keperluan belajar dari murid yang beragam saat proses belajar adalah melalui penyusunan serta GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani pelaksanaan pembelajaran yang dapat memfasilitasi keperluan belajar murid yang sesuai dengan karakteristiknya, yakni dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran diferensiasi merupakan suatu metode siklus menyelidiki murid dan menaggapi belajarnya berlandaskan perbedaan (Sintia , 2. Pembelajaran diferensiasi merupakan strategi pembelajaran yang diberikan oleh guru di kelas, yaitu guna memperoleh konten, membangun pengetahuan, mengembangkan produk hasil pembelajaran, dan proses menilai sehingga setiap murid dengan kecakapan yang beragam mampu belajar dengan efektif (Suwartiningsih, 2. Strategi pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dengan menyesuaikan profil belajar, kesiapan belajar dan minat murid dalam meningkatkan hasil belajar (Herwina, 2. Strategi pembelajaran diferensiasi diharapkan mampu menciptakan kegiatan belajar dan mengajar yang efektif, memberikan murid kebebasan dalam mendapatkan hak-haknya dalam belajar, serta memfasilitasi kebutuhan belajar murid untuk mengembangkan kemampuannya. Berlandaskan paparan yang telah disampaikan, maka penulis melakukan sebuah kajian tentang implementasi pembelajaran diferensiasi berdasarkan aspek belajar murid di kelas. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak positif yang muncul dari diri murid dan guru saat implementasi kegiatan pembelajaran diferensiasi di kelas. Metode Artikel ini menggunakan kajian kualitatif, suatu penelitian yang lakukan untuk mngamati suatu objek yang alami. Penulis berperan menjadi instrument kunci, pengumpulan data dilaksanakan secara gabungan, dan data dianalisis secara induktif. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif (Prasanti. Metode yang digunakan akan menggambarkan suatu kejadian yang telah berlangsung dan menganalisis arti dari fenomena yang terjadi (Sopianti, 2. Kajian implementasi pembelajaran diferensiasi dilaksanakan di salah satu sekolah menengah atas negeri di Provinsi Banten, data dikumpulkan saat kegiatan pembelajaran materi Keseimbangan dan Perubahan Lingkungan Hidup di kelas X. Implementasi strategi diferensiasi ini makai model pembelajaran berbasi masalah atau biasa disebut Problem Based Learning (PBL), menurut Junaidi (Junaidi, 2. yang terdiri dari lima fase yaitu: . memberikan suatu masalah kepada murid, . membagi murid ke dalam GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani beberapa kelompok untuk melakukan penyelidikan, . membimbing murid dalam penyelidikan, . mengemukakan hasil penyelidikan, . melakukan analisis dan evaluasi hasil pemecahan masalah. Hasil dan Pembahasan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Materi Keimbangan dan Perubahan Lingkungan Hidup Kelas X Pemetaan Kebutuhan Belajar Murid Pemetaan kebutuhan belajar murid berlandaskan profil belajar merupakan suatu aktivitas yang dikerjakan oleh guru untuk mengetahui secara jelas terkait gambaran murid yang dididiknya di kelas. Seorang guru amat dianjurkan untuk membuat profil dari muridnya sesuai dengan tujuan pembelajaran di kelas. Menurut Swandewi . menyatakan bahwa pemetaan kebutuhan belajar murid bermaksud untuk memberi peluang kepada murid agar mampu belajar secara efektif, juga sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran diferensiasi yang tepat di kelas. Penulis memetakan kebutuhan belajar murid berlandaskan jenjang kesiapan belajar murid, pemetaan ini bertujuan untuk memodifikasi tingkat kesulitan dalam proses penyerapan dan pemahaman materi Kegiatan awal pemetaan kesiapan belajar dilakukan dengan merancang serta melaksanakan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif terhadap Adapun kegiatannya, yaitu . melakukan observasi dengan memakai angket. melakukan analisis nilai hasil tes akhir yang diberikan saat kegiatan belajar sebelumnya, berdasarkan hasil analis diperoleh tiga kelompok belajar sesuai dengan jenjang kesiapan belajar. Hasil kelompok belajar disajikan dalam table di bawah ini: Tabel 1. Hasil Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar Murid Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Murid dengan Murid dengan Murid kesiapan belajar baru kesiapan belajar kesiapan belajar yang sedang berkembang telah mahir Merancang Pembelajaran diferensiasi Hasil pemetaan kebutuhan belajar murid menjadi dasar bagi guru saat merancang pembelajaran diferensiasi yang disesuaikan berdasarkan hasil GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani pemetaan tingkat kesiapan belajar murid yang dilakukan sebelumnya. Terdapat tiga strategi ketika merancang modul pembelajaran diferensiasi. Strategi pertama terkait dengan konten, yakni topik pelajaran yang diberikan kepada murid. Guru berkewajiban memberikan topik pelajaran yang perlu dikuasai oleh murid. Topik yang dipilih merupakan topik pelajaran yang kontekstual berkaitan erat dengan lingkungan hidup murid, hal ini agar kegiatan belajar lebih bermakna sehingga murid termotivasi untuk memahami, mempelajari dan menerapkannya di kehidupan mereka sebagai anggota keluarga atau masyarakat. Topik pelajaran yang diberikan pada kajian adalah tentang AuKeseimbangan dan Perubahan lingkungan hidupAy, topik ini menarik karena ini menyangkut hubungan antara makhluk hidup dengn lingkungan, diharapkan materi ini dapat mengembangkan keterampilan murid dalam menjaga lingkungan serta memecahkan permasalahan terkait dengan lingkungan. Strategi kedua yaitu terkait proses, mengarah kepada cara murid dalam memahami dan menginterpretasikan materi pelajaran. Adapun proses belajar yang dilaksanakan pada kajian ini adalah . membangun akhlak mulia: akhlak terhadap alam dan lingkungan. Murid yang menguasai materi harus berakhlak baik terhadap lingkungan, ini ditunjukan dengan sikap yang santun, serta mampu memelihara lingkungan agar lestari, tidak merusak dan mencemari lingkungan yang mengakibatkan lingkungan berubah (Hasnawati, 2. Mengembangkan keterampilan bernalar kritis dan kreatif: murid mampu merefleksi pemikiran dan proses berpikir dalam mengambil keputusan dan mencari solusi permasalahan. Maka agar dapat menunjang perkembangan keterampilan tersebut menggunakan model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL), karena tujuan model ini yaitu mengembangkan keterampilan dalam menginterpretasikan ide dan gagasan dari permasalahan yang disajikan, dapat memotivasi diri untuk belajar secara mandiri dan aktif, serta melatih berpikir kritis dalam membuat keputusan dan mencari alternatif solusi suatu permasalahan (Junaidi, 2. belajar mandiri: murid yang telah menguasai topik pelajaran, dapat belajar secara mandiri untuk menyelesaikan tugas belajar. Pada artikel ini, belajar mandiri dilakukan oleh murid yang memiliki kemampuan belajar yang telah mahir, guru akan memotivasi murid agar belajar secara mandiri untuk menyelesaikan permasalahan dalam LKPD serta memberikan pengayaan di akhir kegiatan . Teknik Scaffolding merupakan merupakan suatu strategi pembelajaran, guru memberikan dukungan secara penuh dan dibimbing secara perlahan hingga murid mencapai kemandirian belajar (Sopianti. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani 2. , teknik ini berlaku bagi murid yang memiliki kesiapan belajar baru dan sedang berkembang. Strategi ketiga yaitu produk, menampilkan karya atau hasil unjuk kerja kepada guru. Karya yang ditampilkan dapat berupa esai, persentasi, rekaman atau video, semua itu ditunjukan sebagai hasil pemahaman dan pekerjaan dari proses mempelajari materi pembelajaran. Guru memotivasi murid untuk mempresentasikan hasil diskusi yang telah mereka lakukan. Strategi pembelajaran ini dapat terlaksana dengan memenungkan kebutuhan belajar dan karakteristik dari murid. Melaksanakan Pembelajaran Berdiferensiasi Beberapa kegiatan yang dilakukan saat mempraktikan pembelajaran Pertama menyusun modul ajar. Modul ajar merupakan instrument pembelajaran yang dirancang berdasarkan kurikulum yang digunakan agar sesuai dengan tujuan dan mencapai kecakapan yang telah Modul ajar yang telah dirancang oleh peneliti sudah disesuaikan dengan hasil pemetaan kebutuhan belajar murid. Maulida . menyatakan bahwa seorang guru harus memperhatikan beberapa kriteria sebelum menyusun modul ajar, yaitu harus dikondisikan dengan kebutuhan murid, modul ajar bersifat esensial, menantang, relevan, kontekstual, menarik, bermakna serta saling berkaitan sesuai fase belajar Kedua melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan. Saat proses pelaksanaan murid dibagi ke dalam tiga kelompok belajar, yakni: kelompok murid dengan kesiapan belajar yang baru berkembang. kelompok murid dengan kesiapan belajar sedang berkembang. kelompok murid dengan kesiapan belajar yang telah mahir. Kelompok dibentuk berdasarkan hasil analisis nilai akhir kegiatan belajar Ketiga kelompok ini diberikan pendekatan yang berbeda karena perlu disesuaikan dengan kriteria kesiapan belajarnya. Kelompok murid dengan kesiapan belajar baru berkembang (Gambar . diberikan dukungan secara intensif oleh guru, serta LKPD yang diditugaskan dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan dasar serta link video, artikel guna membantu murid dalam menyelesaikan tugas di lembar kerja. Kelompok murid dengan kesiapan belajar sedang berkembang (Gambar . diberikan bimbingan pada sebagian kegiatannya, serta lembar kerja yang ditugaskan dilengkapi beberapa pendukung dan pertanyaan-pertanyaan pada tingkat kesulitan sedang. Kelompok murid dengan kesiapan belajar telah mahir (Gambar . diberikan motivasi oleh guru untuk melakukan GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani belajar secara mandiri dan guru akan membimbing jika diminta oleh murid, lembar kerja yang diberikan berisi penugasan dan pertanyaan Berikut adalah foto kegiatan implementasi pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan tingkat kesiapan belajar murid. Gambar 1. Kelompok murid dengan kesiapan belajar baru berkembang Gambar 2. Kelompok murid dengan kesiapan belajar sedang berkembang GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani Gambar 3. Kelompok murid dengan kesiapan belajar yang telah mahir Model pembelajaran yang dipakai saat implementasi pembelajaran diferensiasi adalah model Pembelajaran Berasis Masalah, model pembelajaran ini terbukti dapat menstimulus murid untuk mengeksplorasi kemampuan berfikirnya dalam menyelidiki dan menemukan solusi dari masalah yang diberikan saat kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran berbasis masalah terdiri atas lima fase, seperti yang tertulis di dalam alur kegiatan yang telah dirancang oleh guru dalam modul ajar di Tabel 2. Tabel 2. Kegiatan Inti Pembelajaran Kegiatan Inti Fase 1: Orientasi murid kepada masalah A Murid dipandu oleh guru untuk mengidentifikasi dan mengamati video pembelajaran terkait perubahan A Murid dibimbing oleh guru untuk mengamati suatu permasalahan yang disajikan dalam gambar: A Murid memunculkan pertanyaan: A Apakah masalah yang terjadi pada gambar tersebut? A Apa yang menjadi penyebab kondisi pada gambar Fase 2: Mengorganisasikan murid Guru membimbing pesera didik dalam membentuk kelompok belajar. : Murid dibagi kedalam 3 kelompok yang terdiri dari: A Kelompok 1 murid dengan kesiapan belajar baru Waktu 15 menit 5 menit GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani A Kelompok 2 murid dengan kesiapan belajar yang sedang berkembang. A Kelompok 3 murid dengan kesiapan belajar yang telah Fase 3: Membimbing penyelidikan Kelompok 1 murid dengan kesiapan belajar yang baru A Murid penugasan di LKPD yang dilengkapi link modul Biologi, video dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu dalam menyelesaikan tugas di LKPD, serta dibimbing secara penuh oleh guru. Kelompok 2 murid dengan kesiapan belajar yang sedang berkembang A Murid mengerjakan LKPD yang dilengkapi dengan link modul Biologi, video dan pertanyaan-pertanyaan 20 menit yang dapat membantu dalam menyelesaikan tugas di LKPD, serta guru membimbing Sebagian kegiatan. Kelompok 3 murid dengan kesiapan belajar yang telah A Murid dimotivasi oleh guru untuk belajar dan mengerjakan LKPD secara mandiri melalui studi literatur: artikel, jurnal, atau video, serta guru membimbing jika diminta oleh murid. Fase 4: Mengembangkan dan Mempresentasikan hasil penyelidikan A Murid menjawab pertanyaan dalam LKPD dan menyajikan dalam bentuk laporan tertulis. A Beberapa mempresentasikan laporan hasil diskusi (LKPD) di 15 menit depan kelas. A Murid yang lain memperhatikan persentasi yang sedang berlangsung dengan seksama Fase 5: Melakukan analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah A Murid dibimbing oleh guru melakukan analisis terhadap pemecahan masalah yang telah ditemukan. A Mendiskusikan memperhtikan pertanyaan-pertanyaan pada LKPD. 10 menit A Murid distimulus untuk menyimpulkan: GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani Kegiatan Evaluasi dan Refleksi Refleksi merupakan kegiatan yang patut dilakukan untuk memperbaiki kualitas kinerja yang telah dilakukan. Refleksi yang telah dilakukan hasil dari proses evaluasi Fase perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Jika guru ingin melaksakan pembelajaran diferensiasi secara efektif, maka guru harus melakukan pemetaan kebutuhan belajar muridnya. Pemetaan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan murid yang beragam. Hasil pemetaan dapat menjadi acuan bagi guru untuk merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik murid. Guru perlu bersikap professional dan berprilaku positif saat menghadapi tantangan dalam implementasi pembelajaran diferensiasi, karena tujuan utama guru adalah mefasilitasi murid dalam meningkatkan potensi serta keterampilan dalam diri murid. Selain guru, murid juga melakukan refleksi dengan diberikan beberapa pertanyaan guna memberikn penilaian dari proses pembelajaran agar menjadi evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang telah terjadi agar tidak diulangi di pembelajaran selanjutnya. Dampak Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Materi Keseimbangan Dan Perubahan Lingkungan Hidup di kelas X Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan pembelajaran diferensiasi menunjukan setiap murid yang memiliki kesiapan belajar yang berbeda dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik, guru memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan LKPD dan setiap LKPD dilengkapi berbagai bentuk literatur berupa video dan artikel yang mendukung seluruh murid dalam peneyelidikan setiap masalah yang disajikan di LKPD. Biasanya murid yang memiliki kesiapan belajar yang baru berkembang cenderung lebih pendiam dan lebih mengandalkan murid yang telah mahir, tetapi dengan pembelajan diferensiasi dan berada dalam kelompok yang sama ternyata motivasi belajar dan rasa percaya yang mereka miliki dapat meningkat, ini terlihat saat mereka mempresentasikan hasil kerja di depan kelas. Pendekatan pembelajaran diferensiasi memotivasi guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam merancang kegiatan pembelajaran. memilih model, metode dan media pembelajaran. guna memfasilitasi kebutuhan belajar murid sesuai dengan kesiapan belajarnya. Selama kegiatan pembelajaran guru dan murid menjalin interaksi yang baik, perbedaan pendekatan yang digunakan oleh guru saat pembelajaran diferensiasi bukan bentuk diskriminasi, tetapi ini sebagai bentuk sikap adil yang dilakukan oleh guru GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Dian Fitriani yang diberikan kepada murid sesuai dengan kesiapan belajar dan karakteristik murid. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat dampak positif yang muncul dari diri guru dan murid saat melaksanakan kegiatan pembelajaran diferensiasi, yaitu . Setiap murid dengan kesiapan belajar yang berbeda dapat mengikuti proses belajar dengan baik. Rasa percaya diri dan motivasi murid meningkat yang mengakibatkan murid berperan aktif saat kegiatan . Guru termotivasi untuk berkreasi dan berinovasi dalam . Terciptanya kerja sama yang adil antara guru dan murid. Daftar Pustaka